Agenda

“Wik!”

“...hngg…”

“WIK!”

Wikana tergeragap, menegakkan punggung, berusaha membuka mata yang sempat terpicing diluar keinginan. Dibenahinya letak kacamata yang melorot. Perlahan bayang-bayang samar dalam pandangannya tersusun menjadi visual rapi; teras, dinding putih, kursi-kursi rotan, pohon rambutan—rumah Pegangsaan Timur nomor 56. Hal pertama yang menyergap pikirannya adalah: pukul berapa.

Ditengoknya jam tangan yang melingkar di tangan kiri. Warna perak, merk Piaget imitasi. Harganya bagus tapi suka mati tiba-tiba dan harus diketuk dulu belakangnya supaya nyala kembali.  Sekarang jam itu kumat dan mendadak tidak mempan diketuk.

Wikana membunyikan gerutuan, lantas menatap pemuda berwajah bundar yang tadi membangunkannya. “Jam berapa nih?”

“Setengah delapan,” Sukarni menyeka peluh yang menitik di dahinya. “Dan ada berita gawat: barusan Tukimin bilang, Bung Karno malarianya kambuh.”

Wikana terlompat berdiri seperti kena setrum, hendak berlari menuju kamar utama. Sukarni menyambar lengan pemuda kurus itu sembari menggelengkan kepala.

“Jangan dramatis gitu dong lu. Inget ini rumah siapa. Ga takut didamprat Bu Fat?”

“Kok bisa tiba-tiba kambuh?”

Sukarni mengangkat bahu. “Lagian elu sih. Orang punya penyakit dipaksa kerja melulu.”

“Trus ini gimana dong?”

“Tadi sih dia udah minum obat. Berdoa aja ga makin parah.”

Bunyi bel sepeda mengalihkan kedua pemuda bingung tersebut dari percakapannya. Serempak mereka berjalan ke tepi teras hendak melihat siapa yang datang. Tidak sulit mengenali figur itu; garis rambut kelewat mundur, badan kurus-jangkung, punggung melengkung—Adam. Jarak dari pintu gerbang hingga teras rumah cukup jauh namun sepeda itu meluncur tanpa makan banyak waktu, mengisyaratkan bahwa pengendaranya sedang tergesa.

Adam menghentikan sepeda tepat di depan teras, membiarkan benda itu tergeletak rebah di tanah, kemudian berlari menghampiri kawan-kawannya.

“Wik, gue abis dari Ikada.” Ujar Adam singkat dalam jeda sengalan napasnya.

“Piknik?” sahut Sukarni asal.

“Banyak Kempeitai*.” Adam menukas lagi.

“Piknik sama Kempeitai? Akrab lu sekarang?” Sukarni, masih gagal memberi kontribusi berarti.

“Ikada ditutup!”

Sukarni beralih menatap Wikana sekarang, menggelengkan kepala dengan sikap dramatis. “Temen lu, tuh. Baru piknik gitu aja pamer. Pake tutup-tutup Ikada segala, dikira lapangan punya buyut dia kali ya?”

“Elu kurang makan sayur ya, Suk?” sambar Adam, dongkol.

“Diemin aja, emang gitu anaknya.” Wikana melerai dua oknum kurang tidur itu sekenanya, kemudian melanjutkan, “Beneran itu, Ikada ditutup?”

Adam menjebloskan pantat ke kursi rotan. Ia mengeluarkan sapu tangan dari saku kemudian mengelap wajah yang basah oleh keringat. “Kayaknya ada yang bocorin agenda. Atau kita ketipu mata-mata. Pokoknya Ikada nggak bisa diakses. Kita harus pindah lokasi, yang jauh aja lah sekalian biar nggak ketauan lagi. Mana ya? Yogya?”

Wikana menggeleng. “Gak bisa, Dam. Bung Karno malarianya kumat.”

“Serius?” Adam terbelalak, lantas sewot. “Elu sih Wik, maksa-maksa doi begadang bikin teks. Udah tau orangnya punya penyakit!”

“Tuh, kan. Persis kan ama omongan gue,” Sukarni menambahkan.

Wikana menghela napas, pasrah. “Ya jadi ini gimana dong…?”

Ketiganya diam mencari solusi. Dua yang berdiri kini turut duduk di kursi-kursi rotan. Mereka bertiga hanya segelintir dari yang semalam terlibat rapat ruwet di rumah Laksamana Maeda. Sebelum subuh Wikana dan Sukarni mengantar Bung Karno dan belum beranjak sama sekali. Yang lain pulang sekadar untuk sarapan dan cuci muka dengan janji akan kembali bertemu pukul sepuluh pagi demi agenda terbaik dalam hidup berbangsa.

Agenda merdeka. Di Ikada. Dengan Bung Karno dan Bung Hatta. Sebagai hentakan pamungkas untuk sekian banyak agresi yang selama tiga setengah abad telah menguras banyak darah dan airmata.

“Jadi…,” Sukarni menggaruk dagunya.

Ada bunyi cicak bergaung di dinding.

“…gak jadi merdeka hari ini, nih?”

Ketiganya tertunduk menatap sepatu masing-masing.

“Abis mau gimana lagi. Kecuali elu mau gantiin Bung Karno, ya silakan Suk,” sahut Adam.

“Itu teks proklamasi bisa diedit kali, ya. Coret dikit. Sukarno sama Sukarni sebelas dua belas. Belagak kembar aja, Suk.” Wikana, stres.

“Bukan kembar,” Sukarni menyahut dengan lagak pongah. “Gue bayi, dia ari-ari. Dibesarkan oleh orangtua yang berbeda aja.”

“Bagusan ari-arinya ya daripada bayinya. Emak lu dulu ngidam apa? Arak Nu Er Hong?”

“Gak sih, ciu aja.”

ANYWAY,” Adam memotong percakapan kurang berfaedah tersebut, sadar bahwa ada ratusan ribu rakyat sedang ketar-ketir di sekitaran Ikada, “…Bung Karno kudu dikasih tau.”

Sukarni menoleh. “Bahwa dia ari-ari gue?”

“BAHWA KITA GAK JADI MERDEKA!”

Sukarni mencibir. “Temen lu tuh, Wik. Baru maen ama Kempeitai sebentar aja ngomongnya udah teriak-teriak gitu kaya yang paling bener.”

Adam meletakkan mukanya di kedua telapak tangan, putus asa. Sukarni berdiri mencari Tukimin sang abdi rumah tangga untuk bertanya apakah Bung Karno sedang bisa diganggu dan Wikana, pencetus utama penculikan ke Rengasdengklok sekaligus yang paling terburu-buru ingin merdeka dari semuanya, berusaha berdamai dengan kemungkinan bahwa keinginannya tidak terwujud hari ini.

Tenang, ujarnya pada diri sendiri, Jepang akan angkat kaki. Dan Belanda masih jauh.

 

*

 

Pukul delapan lewat lima.

Bung Karno berbaring meriang di ranjangnya, berselimut, dengan bantal ditinggikan agar lebih nyaman menatap tiga pemuda gendeng yang telah membuatnya menempuh Jakarta-Rengasdengklok-Jakarta dalam waktu singkat. Berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah kehadiran tiga anak ini selalu disertai dengan nasib naas buat dia, dan sebab itulah kali ini sang calon proklamator tidak menyambut dengan gegap gempita.

Adam membuka percakapan dengan, “Bung keliatannya segeran, ya. Istirahatnya enak?”

“Lumayan sampai kalian masuk barusan,” Bung Karno jutek. “Ada apaan lagi?”

Wikana yang ditunjuk paksa sebagai pembicara berdeham diplomatis. “Kami—ehem—mau… ngngngngasih tau…,” ia menelan ludah. “….ngngngngng…”

“Belanda keburu dateng lagi kalo kamu dengung terus gitu, Wik.”

Wikana menghela napas. “Hng.. Itu… Hari ini acaranya—ngngnggak jadi.”

“…..”

“…..”

“…..”

“…..”

“…………..Wik,” Bung Karno memijit dahinya sendiri. “Kamu kalo mau becanda entar aja kali, yah. Saya meriang bener ini.”

“Tapi, serius, Bung. Acaranya batal,” Wikana meringis. “Lain kali aja lah, toh Jepang juga udah pasti kalah.”

“Saya harap kamu gak lupa ya bahwa kamu nyulik saya dan Hatta ke Rengasdengklok kemarin itu supaya saya mau proklamasi cepet-cepet.”

“Iya, Bung, itu khilaf. Maklum lah, anak muda. Suka buru-buru, hehehe. Padahal merdeka mah bisa kapan aja, kan?”

“Terus semaleman gue disuruh ngarang pidato BUAT APAAN, JAMBU?!” hardik Bung Karno, murka.

“Bung, Bung, istighfar,” Adam berusaha menenangkan.

“Iya Bung, inget anak istri,” Sukarni menambahkan dengan tidak perlu.

“Ini lagi, ngomongin istri! Istri saya subuh-subuh jait spanduk soto itu buat apaan, coba?!”

Sukarni menambahkan minyak dengan, “Istri yang mana, Bung?”

“KELUAR LU BERTIGA!”

Ketiga pemuda terbirit-birit keluar dari kamar tersebut, ngeri salah dikenali sebagai bahaya oleh pasukan kemanan Bung Karno dan mati dengan tidak jumawa. Mereka bertukar pandang putus asa, sama yakin bahwa Bung Karno akan tetap berangkat ke Ikada tanpa mengacuhkan insiden barusan. Selebihnya hanya ada dua kemungkinan. Satu, Bung Karno ditangkap Kempeitai atau dua, Bung Karno berhasil pulang dengan selamat lalu memanggang mereka bertiga. Yang mana pun tidak mengindikasikan terwujudnya agenda sesuai rencana.

Mereka kembali ke teras. Sukarni mengusulkan agar mereka berkemas sekarang juga dan mengasingkan diri ke Rengasdengklok. Adam mengelap kilap jidatnya dan menyuruh pemuda bundar itu banyak-banyak mengasup zat besi. Wikana abai pada semua itu dan mulai berpikir taktis. Membatalkan agenda jelas bukan pilihan. 

Lucu betapa takdir memaksa keinginannya untuk terkabul justru saat ia mulai belajar mengikhlaskan.

Ia mendorong penopang kacamata di hidung dengan telunjuk. “Suk, elu kudu ke rumah Bung Hatta sekarang. Kasih tau semua yang di sana, ada Kempeitai di Ikada.”

“Siap, bos.”

“Terus suruh mereka ke sini.”

“Mereka siapa nih? Kempeitai?”

“Elu, Dam,” Wikana melanjutkan, ogah peduli. “Jemput temen-temen di Menteng dan ajak mereka bawa massa ke sini. Kita proklamasi di sini. Biarin itu Kempeitai gue yang urus.”

Dalam hitungan detik Sukarni dan Adam telah menyerbu sepeda masing-masing kemudian hengkang. Wikana bergegas menuju gerbang, menemui pengawal keamanan rumah. Meminjam sepeda sekaligus mengamanatkan satu perintah.

“...bambu, Pak. Runcingin dulu biar gampang. Tolong ya, Pak. Kita kudu merdeka sekarang.”

Lantas ia sendiri enyah dari rumah itu.

 

*

 

Dua puluh menit menjelang pukul sepuluh.

Pegangsaan Timur Nomor 56 disesaki orang. Bung Hatta dan gerombolan pemuda pejuang kemerdekaan telah berkumpul di dalam, sedangkan halaman dipenuhi rakyat yang jumlahnya masih terus bertambah.  Prajurit PETA berjaga di pintu gerbang. Para pemuda memersiapkan peralatan pengeras suara yang dibutuhkan. Bung Karno telah diberitahu mengenai perubahan tempat dan kini sedang bersiap di kamarnya, dibantu Ibu Fatmawati.

Wikana belum juga kelihatan.

“Jangan-jangan dia ngajak ribut Kempeitai sendirian?” Chaerul, salah satu pemuda, menyodorkan pengandaian.

“Ya enggak lah. Dia culun tapi gak bego, kali,” sahut Sukarni enteng sembari mendirikan stan mikrofon.

“Atau dia diculik Kempeitai?” satu lagi kemungkinan, kali ini dari pemuda bernama Hanafi.

“Kempeitai juga gak bego,” Sukarni memasang mikrofon lalu mengetuk-ngetuknya, mencobai bunyi. “Buat apaan anak ceking begitu? Masuk kamp kerja dua hari juga lewat. Tes, tes, tes satu dua tiga... Ih, suara gue cempreng ya kalo dikerasin.”

“Kata Bung Iwa, Bung Bardjo juga belom dateng,” ujar Chaerul.

“Nah, itu. Pacaran kali dia sama Wikana,” seloroh Sukarni.

“Suk…”

“Gue dari dulu emang udah curiga ama mereka berdua. Deket banget, kalo ngobrol suka minggir sendiri, bisik-bisik. Ada apa-apanya pasti.”

“Suuuk…”

“Skandal kemerdekaan banget nggak, sih? Hubungan cinta terlarang lintas generasi, kisah romantis pertama dalam sejarah negara—“

“Suk, itu mikrofon masih nyala.”

“….Ups.”

Sepuluh menit menjelang pelaksanaan agenda. Sukarni dijauhkan dari mikrofon dan diberi tugas membuatkan teh di dapur. Wikana dan Bung Bardjo yang sempat buron akhirnya muncul juga, terburu-buru menerobos kerumunan orang untuk segera bergabung dengan lainnya di dalam. Wikana disambut oleh kawan-kawannya dengan ekspresi lega-curiga. Beberapa memberi tepukan punggung dan pujian betapa baik cara Wikana mengatasi krisis yang muncul. Wikana berterimakasih seadanya lantas bertanya,

“Kok orang-orang ngeliatin guenya gitu banget, ya? Kayak yang curiga gitu. Kenapa, ya?”

“Perasaan lu aja, kali. Eh, abis darimana ama Bung Bardjo?”

“Doi pernah cerita punya kenalan orang dalem Kaigun**. Tadi minta tolong sama dia buat beresin Kempeitai biar gak kesini-sini.”

“Ooooh…,” kerumunan pemuda melirik Sukarni dengan hostilitas tinggi.

“Jadi ini udah siap semua?” Wikana mengedarkan pandang ke sekeliling. Segala hal nampak telah pada tempatnya. Semua orang, yang tua dan yang muda, yang pejuang, yang semalam urun debat di rumah Laksamana Maeda, telah hadir dan nampak gembira. Mereka berada di menit terakhir penjajahan dan hidup untuk menyaksikannya. Hadir sebagai penutup perjuangan para pendahulu sekaligus pelopor bagi yang akan datang.

Bung Karno dan Ibu Fatmawati muncul dari balik pintu. Bung Karno menjabat tangan semua yang berdiri di teras rumahnya, mengacuhkan gigil malaria, demi berdiri berdampingan dengan Bung Hatta. Sesuai rencana.

Dan tepat pukul sepuluh, dimulailah agenda terbaik dalam hidup berbangsa.

Semua orang di teras itu kurang tidur, lelah setelah mengalami berbagai perselisihan, terutama perkara Rengasdengklok. Rakyat di pekarangan itu nyaris cerai berai jiwanya setelah kena hardik Kempeitai di Ikada pagi tadi. Detik itu pula, di kota-kota lain, orang menanti di sisi radio dengan harap cemas.

Mereka belum lagi tahu apa yang akan terjadi setelah hari ini. Tetapi perkataan ini….

 

“Proklamasi:

“Kami bangsa Indonesia dengan ini menyataken kemerdekaan Indonesia.

“Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggaraken dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

“Jakarta, hari tujuh belas bulan delapan tahun nol-lima.

“Atas Nama Bangsa Indonesia,

“Soekarno-Hatta.”

 

….berhasil menghantarkan senyum sampai ke mata.

Semua orang akan hafal gugus kalimat itu, kata per kata, sampai ke gelegar lagu ucapannya.

Wikana, Sukarni dan Adam berdiri berdampingan di sudut teras, mengkhidmati prosesi pengibaran bendera merah-putih pada tiang bambu. Wikana mencari dengan mata dan menemukan Suhud, si petugas keamanan yang ia titipi amanat tadi, kemudian mengacungkan jempol. Ia bisa melihat mata pria itu berkilau-kaca. Matanya sendiri juga mungkin agak basah, tapi peduli apa.

“...Wik?” Sukarni memanggil, berbisik.

“Hem?”

“Dam…?”

“Ya?”

“Ari-ari gue keren, ya?”

Ketiganya menguik, tertawa tertahan dibawah lirikan tak senang beberapa orang. Tawa itu berubah menjadi senyum puas penuh terima kasih pada satu sama lain, lalu berakhir dengan tepukan di bahu.

Dan jahitan spanduk soto itu bergerak perlahan menuju puncak tiang, didampingi hormat dari tangan yang tua maupun muda. Diiringi nyanyian khidmat dari semua hadirin yang ada.

Nyanyian itu, merampas dada.

 

…Indonesia Raya, merdeka, merdeka.

Hiduplah, Indonesia Raya…

 

***

*) Kempeitai = polisi Jepang

**) Kaigun = angkatan laut Jepang

 

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Saraldin
Saraldin at Agenda (2 years 2 weeks ago)
90

Mikrofonnya nyala, Suk hahahahahahahaha.
Gaya ngomong orang-orang ini gak cocok sama masanya, tapi kalau pun diubah kayaknya malah ngurangin elemen komedinya. Terus aku gak tahu apa di masa itu homoseksualitas udah diketahui sama bangsa Indon. Gimanapun ini bagus dan menghibur.

Writer silence86
silence86 at Agenda (2 years 9 weeks ago)
90

Wah, dibuat komedi gini sejarah baru terasa nikmatnya, maksudnya enak dipantengin lama-lama walopun panjang. Dan bener banget, bagian terakhir feelnya dapet. Sukses terus!

Writer etikawdywt
etikawdywt at Agenda (2 years 14 weeks ago)
90

Andai buku sejarah semenarik ini, ga akan aku tumpuk dia di kardus bareng buku fisika, kimia, dan teman-temannya *malah curhat* :v
Komedinya dapet, disebut gila karna ketawa sendiri walau gak sampe ngakak. Terharu pas bagian akhir, bener-bener kerasa nasionalismenya. Aaa... pokoknya suka.

Writer The Smoker
The Smoker at Agenda (2 years 16 weeks ago)
90

Haha, Why so serious?
*nganut komen vinegar

Writer yangnulis
yangnulis at Agenda (2 years 25 weeks ago)
100

wih keren asli.
komedinya bikin heppy dan ngakak abis. kayaknya tokoh wikana terlihat keren di sini ya. kasian sukarni jadi bahan bully. tapi songong juga sih dia. xaxaxa

salam kenal kakak. baca dan kritisi cerpen aku juga dong http://www.kemudian.com/node/277794
masih perdana lho....

Writer citapraaa
citapraaa at Agenda (2 years 27 weeks ago)
100

ini keren :D lucu :D pas pertama baca aku terharu bagian akhirnya.. terlepas dari sejarah yang kurang sesuai

Writer moon eye
moon eye at Agenda (2 years 27 weeks ago)
100

hai azkashabrina :)
/prok prok prok *tepoek tangan*
keren dan soeka sama ide tjeritanja :D
.
djadi, seperti inikah seharusnja tjerita ber-genre sedjarah itoe?
seharoesnja saja konsoeltasi doeloe dengan dirimoe sebeloem menoelis :D
komedinja djuga bikin senyoem-senyoem sendiri. ternjata Boeng Karno.... hehehe.
.
djadi, tjoekoep sekian dan semoga berkenan :)
semangat :D

Writer vinegar
vinegar at Agenda (2 years 27 weeks ago)
90

Hihi, why so serious?? :)

Writer nycto28
nycto28 at Agenda (2 years 28 weeks ago)
90

Selamat! Anda berhasil membuat saya rela berkomentar meski sudah dini hari! Dan saya ingin mengatakan --> Selamat!! Cerpenmu keren!! Saya tertawa! Saya terhibur!
Kalau yang lain pada bilang merasa terganggu dikarenakan penggunaan gue-elo atau bahasa yang terlalu gaul, saya malah merasa di sana lah letak santainya. Ini komedi, jadi bagi saya sah-sah saja. Saya masih ingat pelajaran sejarah yang ini dan ketawa-ketiwi sendiri pas ngebayangin peristiwa sakral itu bisa jadi menghibur. Terutama yang ini -->
“Jadi…,” Sukarni menggaruk dagunya.

Ada bunyi cicak bergaung di dinding.

“…gak jadi merdeka hari ini, nih?”

Sumpah, asli, saya ngakak!
Memang ada beberapa humor yang agak dipaksakan, yang ari-ari itu misalnya tapi overall humornya dapet. Sejarahnya juga. Two thumbs up for you!

Writer rian
rian at Agenda (2 years 28 weeks ago)
80

Paling ketawa pas bagian Sukarni bilang, "Istri yang mana, Bung?" tapi selebihnya saya biasa aja. Ini dari dialog-dialognya aja memang udah menghibur sih, kocak, meskipun--mungkin karena ini tantangan--enggak selucu celetukan-celetukan di tikungan atau di pakaian pesta. Buat saya humor di sini dipaksakan.

Tapi selamat udah menyelesaikan tantangan! Cerpen saya aja belum jadi. Mudah-mudahan bisa keburu sama deadlinenya besok.
Maaf kalau enggak berkenan

Writer azkashabrina
azkashabrina at Agenda (2 years 28 weeks ago)

Betulan berarti, saya lebih lucu kalau nggak usaha, entah kenapa kok bisa begitu hahaha. Giliran mau nulis cerita romans malah nyeletuk lucu, giliran nulis komedi malah gagal. Hahaha.
.
Makasih udah mampir dan semangat! Semoga keburu supaya nggak digigit Thiya... Hehehe :p

Writer Shinichi
Shinichi at Agenda (2 years 28 weeks ago)
100

ini keren!
saya spiklesss
ahak hak hak.

Writer azkashabrina
azkashabrina at Agenda (2 years 28 weeks ago)

Yah, jangan spikles lah baang, justru saya nunggu komentar panjang darimu kayak di lapak yang lain-lain... hehehe

Writer niNEFOur
niNEFOur at Agenda (2 years 28 weeks ago)
100

saya kasi poin, udah itu aja, gak ada yg lain.. :D

Writer azkashabrina
azkashabrina at Agenda (2 years 28 weeks ago)

Makasih udah mampir... :)

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Agenda (2 years 28 weeks ago)
100

Ah, idenya kocak banget! Suka :D Cuman, kok saya kurang sreg sama dialog yg modern banget, jadinya nuansa tahun 45 nya jadi pudar ;( Tapi lucu kok, hehe. Soal ari-ari, bung karno kena malaria, poking ttg poligami, dll. Untung endingnya enggak lucu, tapi khidmat dan bikin haru. Itu saya sukaa banget, soalnya menurut saya enggak semua momen pantes buat dilucuin, hehe.
Sekian dari saya.
Hormat, grak! *salute*

Writer azkashabrina
azkashabrina at Agenda (2 years 28 weeks ago)

meheheheh. sebenernya bung karno kena malaria itu justru fakta loh bukan bagian dari becandaan saya. beliau emang demam pagi itu, jam 8 bangun minum obat, tidur, bangun lagi menjelang proklamasi jam 10 lalu pulang dan tidur lagi.

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Agenda (2 years 28 weeks ago)

Ooh ya ampuun!
Ternyata oh ternyata, kirain becandaan ^^v

Writer Zarra14
Zarra14 at Agenda (2 years 28 weeks ago)
100

Saya bingung mau komentar apa selain bilang ceritanya keren. Sejarah dapet, komedinya juga dapet meski untuk saya belum terlalu nyentil. Soal gaya bahasa, meski kurang cocok, tapi justru itu yang mengentalkan komedinya. Top story. Semangat menulis terus :)

Writer azkashabrina
azkashabrina at Agenda (2 years 28 weeks ago)

Terima kasih, Zarra. Saya akan belajar lagi biar bisa bikin yang lebih, kok :) Kamu juga, semangat!

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Agenda (2 years 28 weeks ago)
90

azka... azka... keren banget sih, dalam sehari postingannya udah loncat sampai tiga tab X) hihiw. salut.
.
meskipun banyak terjadi "penyimpangan" dalam cerita ini, tapi sedikitnya pasti dirimu mencari tahu dulu sebelum menggarapnya. saya rasa itu patut diapresiasi (karena saya sendiri malesan, haha). mudah2an ke depannya dirimu bisa lebih maju lagi dalam meriset, ya, hehehe.
.
ada protes soal gaya bahasa. kalau tujuan penulisannya emang untuk kepentingan yang serius, itu wajar. karena konteksnya kita sedang belajar, maka gaya bahasa yang gaul dan lebih bersesuaian dengan masa kini ketimbang masa itu, saya justru melihatnya sebagai kelebihan. saya kira kebanyakan anak muda zaman sekarang awam dengan sejarah, maka cerita sejarah dengan gaya kekinian seperti ini sedikitnya merupakan upaya untuk mengakrabkan mereka (atau kita? haha) pada sejarah, apalagi peristiwa yang diambil merupakan momen yang sangat penting bagi bangsa kita, yang menentukan nasib kita sebagaimana adanya kini (yang kayaknya masih belum bener2 merdeka sih, hehehe).
.
seperti pada cerita2mu sebelumnya, ekspektasi saya bakal ada yang bikin cekakak-cekikik di cerita ini. memang ada. misalnya sewaktu Sukarni nyeletuk, "Istri yang mana, Bung?" (meski selanjutnya alcyon mengklarifikasi kalau waktu itu Bung Karno belum punya banyak istri), dan secara keseluruhannya, gayamu tetap kocak. tapi, sepanjang pembacaan saya cenderung merasa datar sih. saya juga heran, kenapa rasanya kok enggak senyentil yang sebelum2nya. apa karena saya sempat membaca komentar alcyon sebelum membaca cerita ini, dan ternyata itu ada pengaruhnya, atau karena hal2 lain. maaf, ya, enggak bisa jelasin, saya enggak paham cara melucu yang baik dan benar sih, hehehe. tapi adakalanya saya merasa kalau kelucuan itu sampai taraf tertentu bisa jadi enggak lagi terasa mengena.
.
sedikit tentang penulisan (dari kbbi)
merk -> merek
naas -> nahas
memersiapkan -> mempersiapkan?
.
maaf, ya, bisanya cuman nyampein kesan aja, enggak mampu kasih masukan, hehehe. mudah2an masukan dari yang lain bisa diterapkan untuk karya2 yang berikutnya ya :D
.
apakah dirimu pembaca buku2nya adhitya mulya?

Writer azkashabrina
azkashabrina at Agenda (2 years 28 weeks ago)

mbak day... mbak day... ini karena orang-orang pada murah hati banget ngasih nilainya... padahal tulisannya banyak kekurangan banget... hehe.
.
Iya, saya emang harus banget bertahan riset yang menyeluruh. Saya juga termasuk nggak betahan soalnya orangnya, dan kalo udah banyak tab kebuka gara-gara googling, langsung pusing. Hahaha. Persoalan bahasa, yah, preferensi mungkin ya. Saya sih jujur, pakai bahasa begini gara-gara gak sanggup kalau harus formal... hahaha...
.
Naaah... apa mungkin karena saya biasanya nggak diharuskan untuk berkomedi, ya? Kali ini karena harus, saya jadi mikir dan usaha banget bikin yang lucu. Sedangkan biasanya celetukan-celetukan itu munculnya begitu aja tanpa dipikir dulu (ini juga mungkin gak baik sih, hehe). Ternyata beda banget berusaha nulis lucu dengan 'gak sengaja kecetus kalimat konyol di kepala pas nulis sesuatu yang dimau serius'. Kalo Tikungan sih saya emang lagi koplak pas bikinnya, jadi memang semi-niat bercanda. Heheh.
.
Makasih koreksinya. Buat 'mempersiapkan' itu saya keburu nyaman ama 'memersiapkan' (versi KBBI terdahulu, cetakan ketiga kalau nggak salah) eh tapi trus KBBI-nya direvisi. Sebel. Hahaha. Harus biasa menggunakan yang bener, nih.
.
Dan iya, cuma adhitya mulya satu-satunya referensi tulisan komedi saya, hahahaha. Ketauan deh.

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Agenda (2 years 28 weeks ago)

pantesan pas baca saya kebayang2 sama si om itu XD
pernah baca pidi baiq dan arry risaf arisandi ga? kalau saya kena juga sih sama mereka untuk humor2an, barangkali dirimu juga atau berminat nambah referensi....
ga paham soal nulis lucu tapi sepakat kadang saya merasa itu intuitif atau perlu spontanitas, meski kalau mau belajar ada juga formula2nya, ya, hehehe.

Writer azkashabrina
azkashabrina at Agenda (2 years 28 weeks ago)

lhoooo, saya ini warganegara Republik The Panasdalam Serikat! hahaha... tapi kalo bukunya pidibaiq sih belom baca. akan, sih. arry risaf arisandi nanti saya cari ah, buat belajar juga ~

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Agenda (2 years 28 weeks ago)

walaaah berarti situ kenal sama si jono dong? kalo ketemu titip salam ya, sori dah lama ga ikutan nongkrong di sapoy, kemarin lagi rame banget sama delegasi KAA soalnyah #pret
arry risaf tuh buku yang terkenalnya Drop Out, semoga beruntung masih bisa menemukannya atau mudah2an dicetak ulang kayak punyanya adhitya mulya hehe. yang XX juga bagus sih.
yuk mawriiii.....

Writer Liesl
Liesl at Agenda (2 years 28 weeks ago)
80

Saya bukan penggemar sejarah Indo *karna dapet jelek terus dulu pas ulangan* jadi ngga merasa ini lancang gimana gitu sih..

Komedinya dapet, bikin nyengir2 :D

Kritik saya cuman yang di bagian
"Sebagai hentakan pamungkas untuk sekian banyak agresi yang selama tiga setengah abad telah menguras banyak darah dan airmata."
Sebenarnya 3,5 abad itu kurang tepat. Karena 3,5 abad itu dihitung dari kedatangan Portugis ke Indonesia. Dan awalnya ga ada perbudakan atau apa kan, mereka pure ke Indo cuma untuk berdagang. Jadi sebenarnya perkataan bahwa kita 3,5 abad dijajah itu berlebihan kalau menurut saya hehe..

Writer azkashabrina
azkashabrina at Agenda (2 years 28 weeks ago)

Ah, terima kasih koreksinya! Kurang hati-hati berarti saya nih kalo bikin narasi. Itu bikinnya memang, jujur, nggak dipikir dulu.
.
Terima kasih ya udah mampir :)

Writer ilham damanik
ilham damanik at Agenda (2 years 28 weeks ago)
80

Halo :)
Komedinya dapet kok, kalo soal bahasa elu-gue itu sih aku nilainya seperti bunga-bunga yang mewarnai cerita aja, namanya juga komedi. Gitu kalo menurutku.
Sejarahnya juga terasa kental bgt pas diujung cerita.
Jadi, untuk keseluruhan udah Oke kok, gaya penceritaannya juga Oke. Cuma ntah kenapa menurutku soul nya kurang, (mungkin) kamu terlalu fokus pada komedi jadi jiwa-jiwa kemerdakaan itu agak terasa hambar, gak wah gitu.
Segitu aja, semoga berkenan ya :)

Writer azkashabrina
azkashabrina at Agenda (2 years 28 weeks ago)

Hai, Ilham. Iya saya bikin proses kemerdekaan ini jadi terlalu mudah, ya. Betul, terlalu mikirin komedinya. Makasih kritiknya dan makasih udah mampir yaa.

Writer Hikaru Xifos
Hikaru Xifos at Agenda (2 years 28 weeks ago)
80

saya bingung mau komentar apa.. sebagian besar kritik yg mau saya sampaikan udah diberikan oleh penulis lain..

bagi saya ini mirip history-fiction.. hahaha.. komedinya udah dapat dan bisa bikin saya senyum2 gaje.. kesan history jg dapat, walau saya kurang suka bung Karno jd terlihat konyol di cerita ini..

untuk gaya bahasa udah banyak dikomentari sama yg lain, saya setuju aja.. agak terlalu gaul.

Writer azkashabrina
azkashabrina at Agenda (2 years 28 weeks ago)

Gaya bahasa, sudah jadi catatan utama. Makasih ya udah mampir dan maaf sekali untuk bagian yang kurang berkenan :) syukurlaaah minimal bisa senyum bacanya... hehe...

Writer Nine
Nine at Agenda (2 years 28 weeks ago)
100

Saya membacanya merinding. Ini narasinya jempolan (y) BANGET!
.
Saya jadi lebih dekat sama peristiwa ini, jadi lebih intens-lah. Dibanding pas baca di buku teks sejarah dari esempe--esema. Poin penuh untuk sejarah dan narasinya, narasi yang kocak tapi mendalam. (Y)
.
Dari segi komedi, saya datar aja. Ngak ada yang bikin saya mesem, apalagi ketawa? Bukan karena tidak suka peristiwa penting ini diramu lawak, cuman kurang ngeh sama dialog komedi alal-ala Jakarta (saya orang Sulawesi Tenggara)
.
Masih ada kesalahan penempatan "di" sebagai kata depan:
-diluar
-dimulai
-dibawah
(Koreksi kalau saya salah kaprah)
.
Terlepas dari itu semua, cerita ini benar "Beautiful",
Menyentuh hati, merinding tengkuk bulu berdiri. Hehehe
.
Terima kasih banyak sudah menulis ini,
Sekian dari saya,
Mohon maaaaaappp bingiitttzzz kalo ada kata yang kurang berkenan.
.
Salam olahraga bung/madam (y)

Writer azkashabrina
azkashabrina at Agenda (2 years 28 weeks ago)

Ga usah pake bung/madam... Panggil aja Azka.. :) Wah berarti catatannya, saya harus belajar bikin komedi yang lebih universal ya. Oke dicatat.
.
Untuk diluar dan dibawah itu saya yang silap... memang harusnya dipisah karena menunjukkan tempat. Terima kasih koreksinya. Tapi kalo 'dimulai', setahu saya sih memang seharusnya disambung.
.
Terima kasih banyak udah mampir, senang sekali cerita ini disukai :')

Writer Nine
Nine at Agenda (2 years 28 weeks ago)

Sama2 Mba Azka :)
.
Di sini saya memang agak2 bingung, dimulai itu kata kerja atau kata penunjuk waktu sesuatu akan dilaksanakan... -_-

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Agenda (2 years 28 weeks ago)

"mulai" itu statusnya verba (kata kerja) dan partikel (kata depan, kata sambung, kata seru, kata sandang, ucapan salam) kalau menurut kbbi

Writer Nine
Nine at Agenda (2 years 28 weeks ago)

Hooooohhh??? Mkasih mba DYH atas pencerahannya, :)

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Agenda (2 years 28 weeks ago)
90

Oke, aku gak akan melihat ini sebagai sebuah cerita sejarah beneran. Mungkin fiksi... eh? Yah.... semacam itulah. kalau sejarah beneran kan, pasti serius banget...
.
Dan komentar pertama saya adalah....
KYAAAA!!!! LUCU BINGIITTSSS!!!
Aku jadi makin iri sama Kakak :D
Entah kenapa, kedodolan tokohnya benar-benar terasa. Dialognya juga gokil-gokil. Intinya, aku benar-benar terhibur sama cerpen ini.
.
Cuma itu, seperti Kata Kak Alycon. Agak terganggu juga dengan bahasa informal dan kekacauan sejarah yang terjadi. But, who's care? Aku udah kepelet lagi sama cerita kakak. Mwehehehe :D
.
Aku senang deh, di tantanganku ternyata banyak juga yang merespon. Huhuhu T_T <---nangis terharu.
.
Untuk Kakak, terus semangat menulis ya :D
Tetap berkarya (y)

Writer azkashabrina
azkashabrina at Agenda (2 years 28 weeks ago)

Syukurlah kekurangannya bisa termaafkan. Sori yaaa kalo sejarahnya kurang kental, nanti saya belajar lagi deh. Jangan iri dong Thiya, kita kan punya kelebihan masing-masing, hehe. Saya menikmati kok proses 'ditantang' ini. Dan ga sabar nunggu cerita-cerita yang lainnya juga :)

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Agenda (2 years 28 weeks ago)

Yap! Kelebihan kakak ada pada dialog yang kocak dan kuat.
Hakakaka :D Terhibur aja sama dialog tokohnya....
Btw.... kok yang baru post mereka yang kena tag komedi ya? Apa itu cuma kebetulan semata? Mbak Benmi mencurigai hal ini lho.... Hakakaka :D

Writer azkashabrina
azkashabrina at Agenda (2 years 28 weeks ago)

Hehehe... Kalo aku sih gara-gara emang lagi gabut aja makanya cepet....
.
...nggak deng, bukan gabut... mangkir dari tugas lebih tepat. Haahahaha...

Writer kemalbarca
kemalbarca at Agenda (2 years 28 weeks ago)
80

awalnya agak kurang sreg sejarah indonesia yang penting dibikin parodi, tapi harus kuakui, aku suka bacanya dan nyengir disana sini #gaknasionalis
sama seperti keluhan yang lain, percakapannya terlalu gaul untuk jaman dulu
aku juga bingung sih gimana bikin komedi yang bertema sejarah, kayaknya ribet banget
tapi overall menurutku yang ini udah bagus :D

Writer azkashabrina
azkashabrina at Agenda (2 years 28 weeks ago)

*meringis* huhu iya emang ini fakta yang saya angkat agak terlalu lancang sih. syukur deh kalo Bung Kemal bisa nyengir :D makasih ya udah mampir..

Writer arsenal mania
arsenal mania at Agenda (2 years 28 weeks ago)
100

ini keren meeen!!
ahahahaha serius, butuh nyali sama mental buat berani bikin hal semacam ini.
...
sebenernya saia juga setuju dengan penggunaan bahasa. lebih keren andai gaya bahasa yang dipakai ya gaya bahasa 45. maksud saia: gaya bahasa 45 plus parodi sejarah mungkin akan bikin cerita ini manteb. memang sih saia ngerti pasti susah dan butuh waktu lama untuk nyari referensinya (referensi untuk sejarah aja butuh waktu kan?), dan itu cuma saran. begini pun saia sudah bisa menikmati gimana lucunya perintilan sejarah dalam bentuk komedi (meski saia nggak begitu nyaho tentang penulisan komedi).
.
yap, saia puas.
#respect
:)
cheers

Writer azkashabrina
azkashabrina at Agenda (2 years 28 weeks ago)

Sebenernya saya emang ngeri mau ngepostnya... tapi berhubung udah jadi dan ga yakin sempet kalo harus bikin baru lagi jadi yah dinekatin aja hehe.
.
sarannya saya catet dengan senang hati. lain kali saya coba. makasih banyak udah mampir yaa Bung Senal :)

Writer latophia
latophia at Agenda (2 years 28 weeks ago)
2550

Ini agak kurang ajar sih bikin sejarah sakral jadi ancur gini, tapi saya ketawa bacanya (jadinya entah mana yg lbh kurang ajar) :D
.
bagiannya sukarni tuh paling bikin gemes-gemes pengen jitakin... :'D

Writer azkashabrina
azkashabrina at Agenda (2 years 28 weeks ago)

.....saya mau bilang makasih tp sekaligus juga maaf ya udah bikin kamu kurang ajar. hahaha :D

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Agenda (2 years 28 weeks ago)

Oke nitip jejak dulu. Nanti ya komentarnya (masih di sekolah gak konsen untuk membaca cerita secara seksama hiks T_T)
Btw, untuk memisahkan antar tag biar gak nyambung itu menggunkana koma (,)
Mudahan bisa diperbaiki segera. Supaya mudah melacaknya.

Writer benmi
benmi at Agenda (2 years 28 weeks ago)
60

Ceritanya ngalir.. bagus.. cuma.. saya merasa bumbu komedi disini sengaja dipaksakan dalam sejarah. Apalagi ini sejarah indonesia. Yg jelas banyak rekaman sana sini tentang peristiwa itu sendiri. Jd bahasa yang dipakai oleh sang penulis terasa kurang tepat. Mmg susah sih mencampuradukkan sejarah dg komedi. Mesti pintar2 nyari celah.. biar ceritanya ttp mengandung sejarah itu sendiri.. tanpa merusak penceritaan tokoh yang ada. Tp disini saya merasa krg sreg aja.. krn penulis rasanya membuat seolah2 tokoh2 penting itu jd pelawak.
Anw.. ceritanya lumayan lucu.. secara sistematik urutan sejarah jg ga salah. Tp secara nilai sejarah.. saya merasa agak kurang sreg. Itu aja sih komentnya... maap kalo ga berkenan..

Writer azkashabrina
azkashabrina at Agenda (2 years 28 weeks ago)

iya itu sejarah-komedi sakit kepala juga bikinnya huhu. Sebetulnya justru karena sejarah ini banyak yang tau makanya bisa dijadiin parodi... tapi karena sayanya masih belajar, jadinya kurang pas.
.
Berkenan kok, makasih yaa :)

Writer benmi
benmi at Agenda (2 years 28 weeks ago)

Iya... saya tau penderitaannya.. wkwkwk...secara saya sama dpt sejarah komedi jg.. n menurutku susah... sakit kepala jg... py ini malah bagus.. saya malah komedinya ga dpt.. untung ga baca sdri karya kita.. plgn saya kasi nilai 5.. gr2 komedinya ga bagus.. ditmpt saya.. wkwkwkkw... tp syukur yg mampir masi baek2 kasi nilainya... kyknya saya terlalu perfeksionis..
Pdhl sdri masi dlm tahap belajar jg... anw... tantangan thiya mmg pembelajaran habis..