Chris - Porpik Porpik



PORPIK PORPIK

- Oleh Chris -

untuk Gia dan Iwan: Seandainya kita sama-sama suka menulis :)


[T]inju Gia menghantam udara kosong. Aku berbalik memukul lengannya. Hup! Ia menangkis. Des! Kuayunkan lagi tinjuku. Hup! Masih ditangkisnya juga! Lalu kulihat Iwan berlari menerjang dengan—“Tendangan Maut!—yang mematikan andalannya. Langsung serang dua! Aku berguling ke bagian yang dangkal: pasir menempel di sela-sela rambutku. Buru-buru bangkit, kulancarkan jurus yang kupelajari dari Kitab Pendekar Rajawali menghadapi mereka sekaligus. Pada jurus ketiga belas, mereka menjatuhkan diri ke bagian sungai yang dalam.

“Kau mukulnya kuat kali!” kata Gia begitu muncul ke permukaan.

“Jadi merah-merah tanganku!” susul Iwan sambil menunjukkan tangannya.

“Kalian kan dua. Tanganku cuma satu!”

“Salahmulah kenapa jadi Yoko!” kata mereka serentak.

“Kalau gitu aku jadi Wiro!”

“Enggak boleh. Sekali Yoko, tetap Yoko!” Gia protes.

Aku nyengir saja dan memilih beristirahat. Saat itu Iwan menoleh ke ladang rambung: ke jalan sungai yang tiap sore kami lewati. “Yang lain enggak datang ya?” tanyanya pelan. Aku ikut menoleh. Di atas pepohonan daun-daun bergoyang diembus angin. Kelatak jatuh berderak sesekali. “Kalau Rulih diantar bapaknya semalam ke Tanjung,” imbuhnya. Enak Rulih itu: libur di kota bisa lihat-lihat mobil.

Aku sudah duduk di atas batu, mengambil satu buah manggis mentah—punya Bapa Tua Asli—yang dilempar Gia tadi sebelum kami ke sungai. Kuambil segenggam pasir lalu menaburkannya ke dalam ceruk batu. Sudah ratusan kali kami menggosok-gosokkan manggis di batu itu sampai berceruk di sana-sini. Getah kuning kehijau-hijauan mulai menempel di tanganku. Sesekali kubersihkan dengan mencelupkannya ke dalam air. Di sampingku, Gia melakukan hal yang sama sementara Iwan di batu seberang—yang juga banyak ceruknya.

“Kalau Robi?” tanyaku setelah beberapa menit.

“Di rumah sakit jagain bang Lapna,” jawab Iwan tanpa menoleh.

“Sakit apa rupanya dia?” tanyaku.

“Jatuh dari pola. Hampir mati,” jawab Iwan.

“Kalau mati, berarti hari ini ada dua orang yang dikubur ya!” sambung Gia.

Aku baru sadar kalau hari ini Bolang Pagit akan dikuburkan. Ia meninggal dua hari yang lalu. Siang kemarin aku sempat lihat ke balai desa. Di sana orang-orang mengelilingi peti sambil menari. Di dalam peti Bolang Pagit berbaring pakai pakaian bagus. Bunyi gong, gendang, kucapi, dan sarunai berkumandang. Seseorang ber-didong sambil berlinang air mata.

“Kok bisa jatuh?” tanyaku heran.

Gia menoleh pada Iwan yang sedang membuang sisa-sisa kulit manggis yang menyelip di celah antara buah. “Kata orang, Bang Lapna laga ilmu sama Bolang Pagit.”

Laga ilmu?

“Sore itu dia lagi manjat pola. Dekat sungai ada Bolang Pagit yang lagi mandi. Terus, Bolang itu bikin ilmunya biar kena Bang Lapna. Jatuhlah Bang Lapna dari pola,” tutur Iwan.

“Bolang Pagit ada ilmu?”

“Ada! Makanya dia lebih seratus tahun! Dia ambil darah orang biar enggak mati-mati,” tandas Iwan.

“Ooo… Pantas kalau ada yang ninggal, banyak yang curiga sama dia ya,” sahut Gia yang kini sudah menyelesaikan manggisnya juga.

“Tapi Bolang Pagit mati tuh!” protesku.

“Membal, Yung! Rupanya kan, bang Lapna itu punya ilmu warisan. Bolang Pagit kena ilmunya sendiri. Matilah dia,” jelas Iwan lagi.

Tapi yang kudengar dari beberapa orang, Bolang Pagit meninggal gara-gara komplikasi. Entah mana yang benar. Yang pasti, aku jadi teringat semasa hidupnya, Bolang Pagit sangat baik pada anak-anak. Ia tidak tampak seperti vampir atau drakula. Malahan ia sering memberikan uang: limpul satu-satu orang. Meski rambutnya putih semua, jalannya agak membungkuk, ia masih kuat menggendong anak-anak. Kalau sore-sore, ia duduk-duduk di teras rumahnya. Di kursi rotan sambil menghadap jalan. Bolang Pagit tidak ke ladang tapi ia masih punya beberapa ekor lembu yang—

“Eh! Lembuku!” tiba-tiba aku teringat.

“Di mana kau angon?” tanya Gia.

Tanpa menjawab, aku menceburkan diri ke sungai. Mereka menyusul. Keluar dari sungai, Gia memasukkan manggis yang tersisa ke ember atau keranjang sabun. Perintah mamaknya: kalau mandi harus bawa sabun. Namun sudah sore. Tak sempat lagi. Lalu kami bertiga naik ke pinggir sungai, dekat semacam tiang penjemuran. Sepotong bambu melintang di atasnya: tempat pakaian kami gantungkan.

“Sudah lewat jam lima kayaknya,” kata Iwan memasukkan kaki kirinya ke dalam celananya sambil mendongak ke langit.

Tak lama kemudian kami melewati ladang rambung; area yang dipenuhi semak-semak belukar, pohon-pohon rumbia sepanjang aliran sungai, rumpun bambu, dan rumpun asam cikala, terus menyusuri setapak jalan menuju hilir. Sampai di sana, kami mendaki tanjakan yang sejak dulu sudah dicangkuli menyerupai tangga. Ada satu pohon pola yang tak jauh dari jalan menanjak. Cukup tinggi dan besar. Di atasnya, pada tandannya yang terpotong, tergantung sebuah jeriken 2 liter berwarna putih krem. Siapapun bisa melihat isinya dari luar: terisi hampir penuh air nira yang menetes sedikit demi sedikit dari tandannya. Permukaan potongan itu ditutup dengan sobekan kantongan plastik dan ditahan oleh tali atau karet gelang. Air nira itu tiris dari sana: setetes demi setetes.

“Kalian enggak haus?” tanya Iwan dengan alis tebalnya yang terangkat.

“Nanti aku kemalaman ambil lembuku,” kutolak ide Iwan dengan menambahkan pula kalau yang punya pola itu bisa marah semisal memergoki kami mengambil niranya. Namun pertarungan di sungai tadi memang menguras tenaga. Aku juga sedikit haus.

“Dikit aja,” kata Iwan sambil berjalan mendekati pola.

Gia mengikut di belakangnya.

Dan aku tak punya pilihan.

“Kenapa belum diambil, ya?” gumamku. Biasanya para perpola sudah mengambil jerikennya sesore ini, lalu menggantikannya dengan satu yang kosong, yang akan diambilnya lagi besok pagi-pagi.

“Karena ada orang mati,” jawab Iwan mulai memanjat tangga bambu. “Pantang manjat kalau ada orang mati,” tambahnya lalu terkikik sendiri.

Bolang Pagit pernah bilang begitu. Ia selalu bilang pantang ini, pantang itu, pantang ini-itu. Tapi selain pantangan, ia juga punya banyak cerita. Sekali ia pernah bercerita soal pola. Katanya dulu pola itu adalah seorang perempuan yang tinggal bersama abangnya. Suatu kali si Abang pergi merantau. Si Adik terpaksa merelakannya. Nyatanya si Abang malah suka berjudi sampai terlilit hutang. Mendengar kabar itu dan merasa iba, si Adik pun pergi mencari abangnya. Namun tidak ketemu. Ia pun memanjat pohon dan mulai bernyanyi berharap abangnya mendengar suaranya. Tapi orang yang dicari-cari tidak kunjung muncul. Ia mulai menangis namun tak henti bernyanyi. Dalam nyanyian itu ia bilang rela mengorbankan jiwa raganya agar abangnya terbebas dari hutang dan pulang bersamanya. Lalu tiba-tiba ia berubah menjadi pohon yang sekarang kami sebut pola. Pohon enau: pohon yang hampir semua bagiannya berguna. Jari-jarinya, rambutnya, tubuhnya, air matanya. Makanya tiap kali perpola akan mengambil nira, mereka akan bernyanyi lagu yang konon dulu dinyanyikan perempuan itu. Nyanyian itu bersatu dengan bunyi tandan pola dipukul-pukul dengan bal-balyang bisa terdengar sampai jauh. Por, pik, por, pik. Ada ritmenya: Porpik porpik.

Mengingat cerita itu diceritakan Bolang Pagit, yang ternyata mengambil nyawa orang lain biar bisa hidup lama, aku malah bergidik. Apa arwahnya akan jadi hantu? Lalu gentayangan? Kualihkan pikiranku dengan memperhatikan kaki Iwan dari bawah. Bambu yang jadi tangga itu hanya satu tapi yang paling besar. Di dekat ruasnya, bagian atas, dibuat lubang tempat menjejakkan ujung kaki. Lubang itu tidak cukup menampung satu tapak kaki orang dewasa. Tapi kaki anak-anak bisa muat. Meski begitu, dulu sekali aku pernah coba. Namun baru beberapa ruas kupanjat, kakiku langsung pegal dan gemetar menahan berat badanku.

“Kalian mau?” seru Iwan sesampainya di atas. Aku dan Gia mendongak dan melihatnya memegangi jeriken.

“Kau bawa turunlah!” kata Gia dengan kedua tangannya membentuk corong di mulutnya.

“Buka saja mulutmu!” Iwan membalas.

Lalu Gia memposisikan diri. Ia membuka mulut; Iwan dari atas sana menetes¬kan sedikit demi sedikit nira. Beberapa tetes kena kuping, lalu dahi, lalu dagu. Tetes berikutnya kena bibirnya. Sedikit lagi! Tetesan nira jatuh dari ketinggian lalu berakhir di dalam mulut Gia. Cap, cap, cap. “Manis kali!” sorak Gia. Ia pun meminta diteteskan lagi sampai satu kali ia tersedak karena Iwan meneteskan terlalu banyak.Gia terbatuk-batuk.
Kami malah tertawa.

“Kau mau, Yung?”

Aku mengangguk dan berganti posisi meski sesungguhnya aku lebih suka gula merah yang baru masak. Setelah kurasa cukup, aku mengajak kedua temanku pulang. Iwan pun turun dengan hati-hati.

Butuh seratusan langkah dari sana, agar kami sampai di pertigaan. Perkampungan ada di ujung jalan yang lurus. Satunya ke arah kuburan. Aku yang berjalan paling belakang berhenti untuk menoleh ke sana. Sayup-sayup kami bisa mendengar suara tangisan yang tertiup angin. Semakin lama semakin mengabur digantikan lantunan siaran Sikamoni dari lereng sebelah jalan. Dari sebuah gubuk yang bagian ujungnya mengepulkan asap tipis dan pucuk-pucuk tebu yang lebih tinggi dari atapnya. Embusan pelan napasku disamarkan angin—yang tiba-tiba saja bertiup kencang.

Pepohonan bergoyang. Langit mengungu. Awan hitam berkumpul.

Di langit, gemuruh menggelegar bagai ratusan drum yang digelindingkan.

“Kawani aku ya!” kataku.

“Aku mau ambil jemuran,” tolak Gia.

“Di ladang Nini Suah aja kok,” balasku.

“Jauh itu!” timpal Iwan pula.

“Ish! Waktu kau disuruh mamakmu ngantarkan nasi bapakmu ke ladangmu, kan kukawani kau!” kataku pada Gia. Dan saat itulah, entah karena ikut berduka, hujan pun turun.

“Ya sudah!” kata Gia akhirnya.

“Cepatlah!” balas Iwan.

Kami pun langsung berlari. Hujan mulai membuat basah pakaian kami. Di belakang dapur rumah Darma kami berbelok, melewati kakaknya yang buru-buru mengangkat jemuran, dan masuk ke area kebun dan kandang babi. Dalam sekejap atap-atap rumah basah, daun-daun pun basah, jalan setapak dialiri air kecoklatan. Kaki kami menghunjam di sana. Mencipratkan air ke kiri dan ke kanan. Kupikir orang-orang di pemakaman pasti berlarian menuju rumah masing-masing.

Sesampainya di depan pagar bambu ladang Nina Suah, kudengar lenguhan Rindi di antara riuh suara hujan. Kupacu kakiku lebih cepat. Tahunya Gia tersandung akar-akar pohon yang mencuat ke permukaan tanah. Tempat sabunnya terlempar ke depan bersama isi-isinya. Aku dan Iwan malah tertawa. “Pantang ketawa kalau hujan!” kata Gia agak marah. Petir menggelegar! Kami bertiga tersentak dan serentak tiarap di tanah. Telingaku berdenging. Petirnya sangat kuat—serasa tepat di atas kepalaku. Setelah tenang, aku mendongak ke pohon durian dan perira yang paling tinggi. Mungkin petir tadi menyambar salah satunya, pikirku. Lalu Rindi: Ia tampak ketakutan. Aku segera bangkit, melepaskan tali penambatnya di pohon pepaya. Gia dan Iwan memungut sabun, odol, sikat gigi, dan buah manggis yang berserakan. Kami berempat—dengan Rindi—langsung pulang. Di jalan yang diapit barisan pohon pinang, perbatasan antar ladang, ia ingin berlari. Ekornya terangkat sedikit. Agak menegang. Kami pun harus mengimbanginya. Sambil tetap memegangi talinya, kulihat kuku-kuku Rindi mengilat terkena air hujan. Bulu-bulunya pun sudah basah dan menciptakan corak kecoklatan di bagian punggung dan kiri-kanan perutnya.

Belum dekat kampung, sebuah pelepah pinang jatuh tepat di samping kami.

“Maaak!!” Gia terpekik.

Iwan malah tertawa.

Rindi melompat. Lepas talinya!

“Tangkap! Tangkap!!” aku memekik seperti anak perempuan.

Kami kejar: Gia dan Iwan berusaha mendahului Rindi, aku mengejar-ngejar talinya bagai menguber tikus. Rindi menginjak segalanya: terung, kacang tanah, tebu, dan sebagainya yang entah punya siapa. Ladang siapa ini? Aku harus bilang apa nanti? Namun yang lebih kutakutkan adalah kalau Rindi masuk ke dalam hutan. Sudah berapa jauh ia berlari? Sudah berapa jauh kami dari kampung? Aku tak tahu. Hujan deras membuat penglihatanku berkurang. Sambil terus mengejar, aku berharap Rindi tidak masuk hutan. Jangan sampai kami terpaksa mencarinya malam ini. Soalnya Bolang Pagit baru dikubur. Nanti ada hantu! Makanya aku melompat meraih tali Rindi. Dapat! Tapi aku malah terseret sampai terpelanting. Untung tanahnya basah. Begitu bangkit, aku lihat dalam derasnya guyuran hujan, Gia dan Iwan yang kini dikejar-kejar Rindi. Mereka berpencar. Rindi berhenti, Iwan sudah memanjat pohon kopi, lalu berbalik mengejar Gia di belakangnya. Jangan-jangan Rindi kerasukan…? “Sana, sana! Kejar dia saja!” teriak Gia dari kejauhan yang dibalas Iwan: “Dia saja! Dia saja!”

Langit semakin gelap. Mungkin akhirnya sadar bahwa tadi itu cuma pelepah pinang, Rindi sudah berangsur tenang. “Kalian jangan lari!” aku berseru pada kedua temanku sambil mendekatinya. Begitu dekat, aku gapai kepalanya agar bisa mengelusnya. Pengejaran pun berakhir.

“Gara-gara pinang ini!” umpat Gia sambil menggulung tali.

“Gara-gara nira!” balasku menuduh Iwan.

“Gara-gara Gia manggil mamaknya!” timpal Iwan melompat dari pohon dan serentak membuat kami tergelak melupakan petir.

Rasanya hampir satu jam, barulah kami tiba di kampung. Kami berjalan hati-hati karena sekeliling kami sudah gelap dan hujan masih mengguyur meski tak sederas sebelumnya. Kami berpisah di jalan masuk kampung. Gia dan dan Iwan ke kanan; aku dan Rindi ke kiri. Begitu tiba di kandang, lembuku langsung ke sudut. Kutambat talinya di salah satu tiang lalu mengambil korek api dan minyak tanah. Kugosok-gosokkan kedua tanganku ke dinding rumah yang tidak terkena hujan sebelum menyalakan korek api. Lalu Casss! Api menyambar abu yang kusiram minyak tanah. Derak kayu bakar dilalap api mengimbangi suara hujan. Kutoleh Rindi dan timbul niatku mengelus-elus dahinya. Ia merunduk: suka dibuat begitu. Kuperhatikan matanya berkilat-kilat. Aku tersenyum dan sejenak melupakan bahwa aku juga kehujanan, kelelahan, dan kedinginan. Seperti dia. Kalau sampai tahu, Mamakku mungkin marah. Tapi ia pasti masih di balai desa. Terjebak hujan atau apa. Aku manggut-manggut sendiri dan ingin segera masuk ke rumah dan ganti baju. Saat berbalik, aku tersentak karena melihat Iwan dan Gia sudah di depan kandang dengan bibir pucat gemetaran. “Tempat sabunnya tinggal…” kata mereka hampir bersamaan. – Lau Rempak, Mei 2015.




- kelatak, buah pohon rambung
- perpola, sebutan dalam bahasa Batak Karo untuk orang yang pekerjaannya menyadap air nira
- kucapi, kecapi (alat musik budaya Batak Karo)
- sarunai, sejenis seruling (alat musik budaya Batak Karo)
- didong, berdidong (bahasa Batak Karo) bernyanyi
- limpul, lima puluh rupiah
- asam cikala, kecombrang
- bal-bal, semacam palu yang terbuat dari akar pohon yang digunakan untuk memukul tandan pohon enau untuk merangsang nira agar keluar
- Sikamoni, siaran radio
- perira, (bahasa Batak Karo) petai

Read previous post:  
75
points
(4233 words) posted by Shinichi 5 years 6 weeks ago
83.3333
Tags: Cerita | Cerita Pendek | kehidupan | 2014 | andre | atherside | lepar | shinichi
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Chris - Porpik Porpik (4 years 6 days ago)
90

ampun, bang, setelah baca komentar2 yang ada, saya merasa inferior karena kayaknya kok cuman saya yang kurang bisa nikmatin cerpen ini.
saya bisa ngidentifikasiin yang bagus2 dari cerpen ini, sebagaimana yang lain, sebutlah nuansa nostalgik ala kampung yang bagi sebagian pembaca terasa eksotis, belum lagi pengetahuan akan kebudayaan setempat. itu membuka dunia, makanya bagus sekali.
tapi entah kenapa bagi saya itu sebatas "tahu", enggak menyentuh "rasa".
sebabnya mungkin ada pada diri saya sendiri yang lagi kurang bisa nikmatin fiksi secara umum. dugaan lain, mungkin saya enggak cocok dengan gaya tuturmu, yang rapi sekali padahal. belum lagi kalau yang dirimu ceritakan kental dg nuansa kedaerahan semacam dl cerpen ini, seperti ada dialek khas yang timbul.
namun dl pembacaan saya, narasimu enggak nyeret. pikiran dan perasaan saya seakan terbelah. pikiran saya nangkap apa yang dirimu hendak ceritakan. cerita sebagai cerita. saya bisa nangkap macam pengalaman yang terjadi pada pelaku, entahkah itu keseruan, ketegangan, keanehan, dsb. namun secara perasaan, saya gagal kena sehingga mesti baca lebih dari sekali buat nempelin kesan2 yang lepas saat pembacaan pertama.
sejujurnya, pada sekian cerpenmu yang saya udah baca, kesan saya secara umum seperti itu. walau ada memang sebagiannya yang bagi saya ngena, misal yang Titi Kuning dan yang cacing-nila.
dugaan lain lagi, mungkin sekadar perkara alam penghayatan atau budaya yang berbeda.
mohon maaf kalau enggak berkenan, muhuhu, toh yang lain asyik2 aja. saya harap saya juga bisa merasa seperti itu. tapi kalau saya betul kebawa antusias dg cerpenmu, ngapain juga saya berkomentar seperti ini. peace, hehe.
o ya, coba cek kbbi, "hutang" atau "utang"?

Writer vinegar
vinegar at Chris - Porpik Porpik (4 years 6 days ago)
100

Kok saya jadi terharu ya :'). Buat saya ini kayak rekaman budaya, nilai-nilai kearifan lokalnya dibungkus lebih ringan dari perspektif naif anak-anak. Yang seperti ini ngingetin saya sama buku-buku sastra anak dari nusantara di perpus daerah, ato sekolah² sd (mungkin). Dirimu seolah ngajak saya bertualang ke perkampungan, sungai, perkebunan, hutan, yang belum pernah saya datangi sebelumnya. Serunya saya merasa pernah ada di sana. Sejauh ini saya hanya pernah beberapa kali tersesat di kebon sawit dan karet di daerah Ranto dan kandang babi di Balige. Itupun udah cukup bikin saya berasa masuk ke 'dunia yang lain', sok bolang dan dan sok adventuris #halah. Hihi, jadi curhat.

Mungkin yang bikin saya terharu itu.. cerita ini diambil dari sisi penceritaan yang begitu naif, mungkin saja ini adalah ungkapan rindumu pada masa kecil, pd kampung halaman. Dan kenyataan di sana sudah banyak berubah begitupun masa kanak gak akan kembali. Hiks. Lah, kenapa saya jadi melow gini yak :p.

Bang Shinichi, ini apa ada fitur buat ngoleksi ke cerita favorit?

Writer azkashabrina
azkashabrina at Chris - Porpik Porpik (4 years 2 weeks ago)
100

Bang, cerita ini menyegarkan sekali. Apalagi buat bocah besar di kota macam saya yang setiap pulang kampung pasti jadi norak lihat macam-macam di desa. Tambah lagi, tokoh-tokohnya anak kecil semua, bikin kangen masa kecil... padahal saya belum tua :p
.
Dan yang saya suka lagi adalah, kesan bahwa anak-anak ini kena sial gara-gara melanggar pantangan manjat pola kalau ada orang meninggal. Kenapa saya suka? Karena itu cuma kesan. Padahal kan belum tentu itu sebabnya. Bisa jadi mereka kebetulan sial. Bisa jadi mereka sial gara-gara pulang terlalu sore, terlalu asyik main. Saya sebagai pembaca dikasih ruang mengira-ngira dan memutuskan sendiri, apa sebab yang sebenarnya. Entah dirimu memang kepingin meninggalkan kesan begitu sama pembaca atau nggak, yang jelas saya sukaaa! Hahahaha :D
.
Cuman, entah mungkin ini masalah selera ya bang, saya kurang sreg sama paragrafmu yang tebal-tebal. Buat saya, itu bikin lebih cepet capek baca dan kadang ada poin yang luput kena perhatian. Misal di paragraf yang menceritakan pohon enau itu, saya ngerasa lebih enak kalau bagian itu dipisah paragraf dengan bagian bawahnya yang menceritakan bunyi por pik por pik.
.
Segitu ajalah bang dari saya, semoga berkenan ya :D

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Porpik Porpik (4 years 1 week ago)

makasiy udah mampir lagi :D
paragraf tebal yak? ahak hak hak. saya sukak siy kalo tebel2 #apacobak.

Writer latophia
latophia at Chris - Porpik Porpik (4 years 2 weeks ago)
100

manis sekali cerpennya bang..
.
Minim konflik karena yang menceritakan anak-anak kecil yang polos. Bahkan cerita kematian yang dibumbui ilmu hitam pun ga berasa serem sama sekali. Saya paling suka bagian mereka berdebat setelah mengejar Rindi, senyum-senyum pas Iwan bilang "gara-gara Gia manggil mamaknya." :D
.
Setelah selesai baca juga berasa ada kesan yang tertinggal. Rasanya kek 'nggregel' di ati (maaf bang, saya bingung apa terjemahan bhs. Indonesianya).
.
Saya jg blajar banyak soal EYD nih. Gara-gara lihat kata jeriken dan menghunjam, jadi ngecek ke KBBI. Ternyata bener begitu ya, padahal selama ini saya pikir jerigen dan menghujam yang bener, hwehe.. makasih pencerahannya ya bang..
.
Udah gitu aja sekilas komen dari newbie.
Eh iya, kl boleh tahu, itu kenapa sih manggis mentah digesek ke batu? Buat bikin ceruk di batu apa buat ngupas manggisnya? tapi kan manggisnya masih mentah.. mohon di jawab yg ini ya bang, biar saya bisa pules tidur tanpa penasaran lg nanti malam :)

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Porpik Porpik (4 years 2 weeks ago)

ahahahahaha. manggis mentah ya? :D
dulu, kebiasaan abangmu ini dan temen-temen waktu SD adalah nyolong manggis. pohon manggis itu sulit dipanjat dan kalaupun bisa, sangat berisiko ketahuan sama yang punya pas lagi di atas. makanya, selain kami mencari buahnya (yang udah mateng) tiap pagi di bawah pohonnya, kami juga nakal melempari dengan ranting kayu. memang incarannya yang sudah mateng. tapi kalau yang mentah itu jatuh, selain diperam (itu lama) kami menggosok-gosokkannya di atas batu, biar kulitnya habis dan buahnya bisa dimakan :D Nakal siy. ahak hak hak. namanya jugak anak-anak ;)

Writer latophia
latophia at Chris - Porpik Porpik (4 years 1 week ago)

oooh.. haha saya baca paragraf yg itu sampe bolak balik ga ngerti-ngerti.. kirain sengaja bolongin batunya gitu.. biar kl ditemukan sama arkeolog 1000 taun lg dikira manusia msh berburu dan meramu di abad 20 #opoiki :p

Writer ilham damanik
ilham damanik at Chris - Porpik Porpik (4 years 2 weeks ago)
100

Medan kali bahasanya. Mantap bang :D
Baca cerita ini jadi rindu masa-masa kecil dulu
Salut aku sama abang, ajari napa aku nulis cerpen Bang?
hahaha

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Porpik Porpik (4 years 2 weeks ago)

oh, itu harus :D
kesan lokalnya harus terjaga. ntar malah najong karena ceritanya di sumut oleh penulis yang orang sumut, suku Karo, tapi bahasanya Jekardaaa. ahak hak hak.
ajari? hayoooo gimana ngajarinya selain tuker-tukeran komentar? :D

Writer rian
rian at Chris - Porpik Porpik (4 years 2 weeks ago)
90

Bang, ini ceritanya menghibur sekali. Saya suka sama kepolosan anak-anak ini. Cerpenmu ini mungkin bisa dibandingin sama laskar pelangi. Cuma kalau laskar pelangi berkesan kepingin buat pembaca iba sama tokoh-tokohnya, di sini Penulis jujur menceritakan kisahnya, tanpa pretensi, jadinya, buat saya, lebih tulus. Saya jadi iri sama orang-orang yang besar di kampung.
*
Bagian yang menceritakan Bolang Pagit itu yang menurut saya paling menguatkan kesan kepolosan bocah-bocah itu. Kalau enggak salah dulu ada cerpennya Abang yang bertajuk Senja Pohon Manggus, kan, yang juga tentang orang mati di Lau Rempak. Sama, di cerpen itu juga kerasa kepolosannya. Tapi di sini kan posisinya sebagai selingan (lanturan), dan bagi saya di cerpen penggalan sehari-hari gini itu pas banget, membikin realistis, sekaligus jadi penguat dari bagian klimaks-endingnya.
*
Saya juga suka sama nama-nama orang yang kau selipkan tapi enggak muncul dalam cerita itu, Bang, macam Nini Suah, Darma, Rulih, Lapna, Robi, dll. Terlepas dari apakah mereka fiksi atau beneran ada, itu semakin memperluas dunianya, jadinya makin utuh buat saya.
*
Kalaupun ada yang bisa saya kritik, mungkin itu tentang inti dari cerita ini. Saya enggak bisa ngeliat inti konfliknya apaan. Rindi kah? Bolang Pagit kah? Kan kalau cerpen Dari Kandang Babi itu inti konfliknya jelas: tentang sepak bola. Saya enggak mendapati yang seperti itu di cerpen ini, sehingga ketika sampai di ending saya enggak ngerasakan apa-apa. Tapi mungkin karena ini cerpen penggalan kehidupan sehari-hari (atau istilah kerennya SoL gitu), inti enggak penting amat karena keseharian kan enggak punya inti kecuali keseharian itu sendiri.
*
Mungkin Abang bisa bikin lebih banyak cerita kayak gini terus dikumpul dalam satu buku, bertajuk "Cerita-Cerita Lau Rempak" atau apa gitu. Kan biasanya orang suka buku yang punya unsur-unsur tradisional, mengangkat dunia anak-anak, idealis, polos, inspiratif, dsb.
*
Sekianlah. Moga ini berkenan, ya, Bang. Saya ngerasa berhutang kalau enggak balik komentar panjang-panjang di tulisanmu juga, Bang (meskipun tetep enggak bisa sepanjang dan sekeren dirimu sih). Kip nulis.

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Porpik Porpik (4 years 2 weeks ago)

ahak hak hak. ini saya posting gegara kamunya sempat bilang pengen baca yang kayak Dari Kandang Babi ke Lepar. Porpik Porpik ini udah kelar sejak tahun lalu tapi setelah saya pulkam, saya mencari tambahan informasi lain soal budaya itu. Maklum, banyak yang terlupa. Kita enggak bisa mengandalkan ingatan anak-anak secara penuh. Untungnya orang-orang yang punya informasi itu masih bisa ditanya-tanya demi perbaikan cerita ini. Dan niatnya, lagi-lagi, pengen ada di kumcer.
.
Mumpung engkau telah berkenan mengomentari, ingin jugaklah rasanya diriku cuap-cuap soal cerpen ini. Menulis kisah anak-anak kampung model begini, emang kayaknya udah saya mulai dari Senja Pohon Manggus. Porpik Porpik ini bisa dibilang ter-influence dari sana. Bedanya, dulu tanpa pretensi. Justru yang ini yang punya tujuan "tersembunyi". Tapi memang enggak penting-penting amat. Enggak urgent, istilahnya. Jadinya, wajar ketika engkau dan pembaca yang lain akan merasakan kesan seperti itu. Saya sebagai penulis memang menyadarinya juga, namun tetep, menceritakannya begini (poin saya adalah pengalaman anak-anak itu) adalah misi utama :D
.
Misi lain, yang saya bilang bahwa ini punya pretensi, adalah kenyataan bahwa Bolang Pagit (Bolang itu artinya kakek dan pagit itu artinya pahit) saya posisikan sebagai simbol adat kebudayaan suku Batak Karo (yang sudah lama: umurnya lebih seratus tahun, kata Iwan). Bolang Pagit masih punya "ilmu", yang dicurigai orang-orang kampung yang membuatnya bisa "hidup lama". Seperti yang diceritakan tokoh Yung, bahwa beliau juga punya banyak "pantangan", dan legenda pola itu juga diceritakan olehnya. Namun akhirnya ia mati. Persoalan "besar" inilah yang jadi "misi-sampingan" (karena saya enggak mau pulak ini jadi cerpen soal kebudayaan dan bisa membuatnya berada di rak buku yang salah). Porpik Porpik harusnya "terbaca" lebih "berpesan" tinimbang Senja Pohon Manggus yang lebih kerasa tragedi "kehilangan-nya" sahaja. Ya, 2000an kata ini jelas enggak cukup. Awalnya ini sampe hampir 3000 dan saya masih ngerasa "misi" tersebut enggak tersampaikan. Ada niat bikin novelnya yang tema kematian budaya itu. Tapi mungkin, nanti kalau saya sudah tua. Ahak hak hak. Tapi ide kumcer Cerita-Cerita Lau Rempak itu sangat menarik, Bung :D
.
Soal nama ya? :D Semua nama di cerita ini beneren ada. Orangnya juga ada. Tapi saya cuma meminjam. Bolang Pagit itu masih hidup, Nini Suah (nini itu nenek dan suah itu hilir. aslinya sebutan Nini Suah ini adalah panggilanku, aku beneran, pada nenekku yang rumahnya di hilir desa. makanya dipanggil Nini Suah). btw, ia sudah tua dan sakit-sakitan :(
.
btw, makasiy sudah mampir dan saya senang engkaunya terhibur. sebab seperti yang saya bilang di awal komentar ini. senang rasanya mengetahui ada orang yang menanti tulisanmu yang lalu terhibur karenanya. kip nulis dan kalakupand. ahak hak hak.

Writer kemalbarca
kemalbarca at Chris - Porpik Porpik (4 years 2 weeks ago)
100

seperti biasa ya, ceritanya simpel dengan detail disana sini yang bikin pembaca jadi bisa ngebayangin suasana kampungnya
minim konflik, tapi keren
tingkah para anak kecil ini pun bikin senyum2 sendiri
aahh suka banget, kak shinichi emang jago, minta nomor pin-nya dong! :D
cerita tentang pola itu beneran dari cerita daerah ya? aku suka bacanya :D

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Porpik Porpik (4 years 2 weeks ago)

ahak hak hak. ndak punya PIN, kakak :p
legenda pohon enau itu? oh, rasa-rasanya di daerah lain juga punya masing-masing. di suku Batak Karo, legendanya begitu. tentu saja banyak variasi sana-sini. maklum, kalau diturunkan dengan cara mulut-mulut, pasti nambah bumbu. begitulah :D