Kontrak Darah : Tuan Muda

0 : Kembali

Tujuh puluh dua Jam, Bagimu.

Andai engkau tahu, Itu Selamanya.

Kesendirian di ambang imaji, dinafikan, bahkan sekedar mengecap ari ambang kemanusiaan.

Terhempas lepas ke dasar jurang masa.—Charlie::2005::Kota Sejuta Kenangan::Istana Angin

Ketika pagi menyapa, segera segenap kesibukan kembali menyapa. Seakan ia tidak pernah jengah merayu setiap waktu dalam kehidupan. Tidak. Mungkin aku hanya terlalu melebih-lebihkan perasaan ini. Sepertinya seperti itu, semoga tidak semua hal dalam kehidupanku aku perlakukan seperti ini.

“Pagi. Charlie, aku berangkat lebih dahulu. Semoga hari pertama sekolah baru menyenangkan.” Ujar seorang gadis berseragam putih abu-abu sambil melintas di hadapanku.

Anggap saja dia tidak sedang ada di depanku, gadis dengan perawakan luar biasa itu pun seakan tak terpengaruh dengan sikap dinginku. Mungkin dia memang seperti itu, biar saja. Lagi pula, aku juga sudah tidak asing dengan situasi seperti ini. Karena ini bukan pertama kalinya aku dan dia gencatan senjata.

Tinggal satu atap dengan seorang gadis muda berpenampilan bak super model memang bukan hal mudah. Terlebih, ia begitu senang menebar pesona, sebuah kebiasaan yang selalu ia banggakan. Meskipun demikian, mengapa dia hanya melakukan perbuatan itu kepadaku. Setidaknya, aku sering menyaksikan bahwa begitu banyak anak muda sepantarannya mencoba mendekat. Namun tidak satu pun dari mereka ia hiraukan, seakan hiruk-pikuk dan hingar-bingar para pemuda itu bukanlah sebuah hal.

Maya, lebih tepatnya Mbak Maya. Seperti itulah aku biasa menyapanya, meski ia sebenarnya tidak setuju dengan panggilan itu. Ia selalu mengatakan bahwa ia tidak layak untuk aku sapa Mbak, sebab seorang pelayan tetaplah seorang pelayan. Berulang kali ia mengatakan bahwa keberadaannya di sekitarku tidak lebih dari pengabdian dan kesetiaan pada tanggung jawab.

‘Apa pun yang terjadi nanti, jangan pernah menyerah. Kamu adalah harapan bagi kami semua.’ Ia pernah mengatakan kalimat seperti itu ketika kami sedang berlibur di sebuah pantai. Meski pun ia sering membicarakan hal-hal tidak masuk akal, ia masih saja mengatakan bahwa banyak hal yang belum waktunya untuk aku sentuh. Bahkan dengan gaya bicara humornya ia pernah mengatakan bahwa dia juga termasuk dalam hal itu.

Sebagai seorang lelaki normal, tentu saja aku tidak akan menolak seorang gadis seperti dia. Jika aku pikir-pikir, dari sekian banyak teman wanitaku, ia masih tetap tidak tergantikan. Bahkan mungkin ia pantas disebut sebagai Wanita Super, mungkin juga dia adalah ciptaan edisi terbatas. Sebab rasanya untuk mencari seseorang dengan kapasitas dan kemampuan sepertinya, tentunya merupakan hal sulit. Walau bukan mustahil, sebab pada kenyataannya eksistensi seperti dirinya ada di dekatku.

Tanpa terasa aku sudah cukup lama duduk di kursi meja makan ini, sekarang waktunya bersiap untuk meninggalkan rumah dan menyambut hari baru.

Oh, Iya. Ini adalah hari pertamaku menggunakan seragam putih abu-abu secara resmi. Meski ini bukan hal besar bagiku, namun gadis serumahku itu mengatakan bahwa ini akan menjadi permulaan untukku. Awal untuk mengenal siapa dia sebenarnya, sebab menurutnya sekarang ini sudah waktunya aku mulai belajar tentang situasi dan kondisiku.

Bukannya aku seorang anak yang tidak peka dengan lingkungan sekitarku, dengan sadar aku mengerti bahwa ada begitu banyak ketidakwajaran dengan kehidupanku ini. Bahkan semenjak aku masih anak-anak. Setidaknya, setelah beberapa kejadian menyedihkan di masa lalu, aku sudah mengenal dua orang wanita dengan pamor seperti Maya.

Wanita lain itu, tidak lain adalah seorang wanita paruh baya yang mengatakan padaku bahwa ia berada bersamaku waktu itu juga karena ia memiliki kewajiban dan tanggung jawab seperti Maya. Ia meninggalkan kami berdua setelah aku lulus sekolah dasar. Menurutnya, Maya sudah tidak lagi memerlukan bantuannya untuk mengurusku.

Selain itu, aku juga harus berpindah dari satu kota ke kota lainnya tanpa alasan yang jelas. Ketika itu, wanita paruh baya itu mengatakan bahwa ia harus pindah tugas. Jadi kami berdua harus ikut, karena ia tidak mungkin meninggalkan kami berdua. Bahkan setelah aku hanya tinggal berdua dengan Maya, pun berpindah-pindah tempat tinggal masih seperti biasanya.

Setidaknya, aku baru menempati rumah ini sebulan yang lalu. Meski kali ini kami tidak pindah kota, tetapi kami pindah rumah cukup jauh dari tempat semula kami tinggal. Kemudian, untuk pertama kalinya, Mbak Maya memaksakan kehendaknya padaku. Masuk sekolah tempat aku akan menjalani masa sekolah tiga tahun ke depan adalah keputusan sepihaknya.

Meski sekolah itu bukan sekolah buruk, bahkan termasuk sekolah khusus. Akan tetapi aku tidak tertarik dengan kehidupan penuh peraturan dan norma. Lebih menyenangkan berada di sekolah umum, bukan sekolah khusus seperti tempat tujuanku pagi ini.

---

Setelah berjalan beberapa saat usai turun dari bus, akhirnya aku sampai di gerbang sekolah baruku.

‘Unity Academy’, demikian sebuah plakat terpasang di salah satu sisi pintu gerbang. Sekarang ini aku sedang melintasi jalan menuju auditorium utama sekolah baruku. Hari ini adalah hari pertama sekolah untuk siswa baru. Meski di tempat ini terdapat lebih dari satu tingkat pendidikan, tampaknya masih sepi. Mungkin karena masih baru, atau memang sekolah ini sepi seperti ini di setiap harinya.

Beberapa lama menelusuri lorong ruangan, akhirnya aku sampai juga di depan pintu masuk aula utama kompleks pendidikan terpadu ini. Sepertinya penilaianku salah, pantas saja begitu sepi, sepertinya semua siswa dan siswi sekolah ini berkumpul di aula.

“Selamat datang kami ucapkan kepada seluruh siswa dan siswi baru, baik dari tingkat dasar, pertama dan kedua, bahkan untuk tingkat akhir. Untuk tahun ini, merupakan sebuah masa menantang, mengingat begitu banyaknya siswa dan siswi baru dari luar ekosistem pendidikan terpadu Unity.” Ujar seorang wanita paruh baya yang seketika menyita segenap perhatianku.

Bagaimana tidak, wanita itu begitu akrab dengan ingatanku. Setelah beberapa tahun tidak pernah melihatnya, kini ia berdiri hanya beberapa puluh meter dariku. Disamping itu, Mbak Maya juga berdiri di sisi wanita paruh baya itu. Keduanya terlihat begitu serasi berdampingan.

“Baiklah. Sebagai sebuah pembukaan, kami akan menunjukkan beberapa aksi menarik dari para senior sekolah ini.” Ujar wanita paruh baya itu.

“Maya. Silahkan.” Tukas wanita itu sambil mundur dari podium tempat ia berdiri.

Sejenak kemudian, Mbak Maya sudah berdiri di podium dan memulai kalimatnya. “Hah. Baiklah, semoga kalian terhibur. Namun sebelum hiburan di mulai, kalian semua dipersilahkan untuk menuju gedung sekolah masing-masing, tempat dimana pertunjukkan akan diadakan oleh kakak-kakak kelar kalian masing-masing. Sedangkan untuk siswa dan siswa tingkat atas tetap berada di aula utama ini.”

Setelah Mbak Maya menyelesaikan kalimatnya, begitu banyak siswa dan siswi dengan seragam tertentu memberikan petunjuk kepada para siswa di aula ini. Sedang aku masih berdiri saja di belakan aula sambil memperhatikan wanita paruh baya di belakang Mbak Maya. Aku masih memiliki pertanyaan tentang hal ini, sebaiknya aku segera meminta maaf pada Mbak Maya agar ia bersedia menjelaskan siapa wanita itu sebenarnya. Mengapa ia begitu mirip dengan wanita paruh baya dari ingatanku itu. Setidaknya, setelah tiga tahun berlalu, bagaimana bisa ia masih terlihat sama. Mungkinkah ingatanku memudar? Atau ingatan ini ikut tumbuh dan berkembang seperti layaknya pertumbuhan dan perkembangan seorang manusia?

“Hai! Kamu!” seorang senior berteriak sambil menunjuk padaku.

“Saya?”

“Siapa lagi! Dasar orang buangan tidak tahu diri! Ke sini!” kali ini ia memanggilku dengan nada lebih tinggi. Mbak Maya pun meninggalkan podium, lalu berjalan ke arahku.

Beberapa langkah kemudian, “Charlie. Tidak perlu kamu layani. Ia hanya ingin mengacaukan kamu saja.”

Mbak Maya menepuk pundakku, “Anto. Sebaiknya kamu menjaga kata-katamu. Sebelum aku bertindak lebih jauh.”

Mbak Maya mengatakannya sambil memalingkan wajahnya dariku, dari sudut mata sekilas jelas bahwa tatapan itu untuk pertama kalinya aku lihat. Mungkin ini adalah maksudnya mengatakan bahwa ini hari dimana aku akan memulai kehidupan baru, kehidupanku yang sesungguhnya.

Namun, apa gerangan yang membuat kakak kelas itu sedemikian marahnya padaku. Bahkan aku belum mengenalnya. Inikah kekerasan yang sering aku dengar terjadi di instansi pendidikan elit seperti Akademi Unity ini? Atau mungkin kakak kelas itu memiliki kekesalan padaku, bahkan hari pertama saja aku sudah membuat seorang kakak kelas seperti ini. Semoga saja esok dan lusa juga seterusnya hal seperti ini tidak terjadi.

“Ugh!!!”

Apakah yang barusan terjadi? Aku tidak melihatnya bergeming sedikit pun, tetapi aku dan Mbak Maya terlempar. Seketika semua siswa meninggalkan tengah-tengah aula, dengan perasaan seperti di tendang di perut semua terjadi dengan begitu cepat. Akan tetapi, apa sebenarnya yang sedang terjadi di tempat ini, sekarang ini.

Mbak Maya sepertinya tidak mengalami nasib sepertiku, aku kini bersandar di tembok aula. Eh! Tunggu dulu, bukankah tembok di belakangku ini, tempat aku bersandar sekarang ini jaraknya beberapa meter dari tempat semula aku berdiri? Selain aku tidak melihat apa yang baru saja mengenaiku, bagaimana mungkin aku terlempar sejauh ini?

Selain itu, kakak kelas itu sekarang sedang beradu pukulan dengan Mbak Maya. Gerakan mereka benar-benar tidak masuk akan, cara bertarung mereka hanya bisa terjadi di film saja. Mungkinkah aku sedang bermimpi sekarang ini? Tetapi benda cair yang mengalir di keningku, sekarang terasa di bibir ini begitu nyata. Bahkan anak kecil pun tahu bahwa cairan berwarna merah ini adalah darah.

Meski aku tidak merasakan sakit, tetapi aku belum bisa menjawab bagaimana aku terlempar sampai bersandar di dinding ini. Kemudian bagaimana bisa Mbak Widya dan kakak kelas itu bertarung dengan cara imajiner seperti itu?

Masih dengan segenap pertanyaanku, perlahan pandanganku memudar.

“Charlie. Charlie!.” Suara Mbak Maya memanggilku terdengar bergema pelan, perlahan menghilang dan semuanya menjadi gelap. Sekarang aku benar-benar merasakan bahwa kesadaranku semakin menurun, sepertinya aku membentur tembok aula dengan begitu kerasnya. Mungkin darah di kening dan wajahku adalah darah dari luka karena benturan kepalaku dengan tembok aula. Selain itu, aku juga tidak lagi dapat menggerakkan tubuhku.

1 : Seperti Dahulu

“Uhhh....”

Perlahan aku membuka mata, tubuhku terbaring di atas ranjang, dikelilingi oleh tirai putih. Tepat di sebelah kananku seorang wanita muda lelap sambil duduk dan meletakkan kepalanya tepat menimpa tangan kananku. Hangat pipinya dapat aku rasakan dengan jelas.

Aku berusaha untuk selembut mungkin menarik tanganku, karena aku penasaran dimana aku berada sekarang ini. Akan tetapi sepertinya suaraku barusan, ketika terbangun telah mengusik tidurnya. Memang tidak membuat tidur wanita ini terganggu memang sulit, aku belum pernah berhasil melakukannya. Sekecil apa pun aku membuat suara, ia selalu membuat aku terbangun, itu menyebalkan.

“Charlie. Kamu sudah sadar?” tanya wanita itu sambil menggenggam tanganku lebih erat.

“Ya. Sekarang ini kita sedang ada dimana?”

“Kita di UKS sekolah. Maaf aku terlalu marah, sampai aku lupa bahwa kamu terluka.” Sahut wanita itu dengan mata berbinar.

“Kemudian, bagaimana keributan itu berakhir?”

“Anto mendapat skors karena menyerang kamu seperti itu.”

“Bicara soal keributan itu, sebenarnya tempat apa sekolah ini? Mengapa aku merasa aneh dengan tempat ini. Terutama setelah aku terbangun tadi.”

“Charlie. Bolehkah aku melihat dadamu?” ujar Mbak Maya.

“Silahkan.”

Seketika, mata indah itu berubah menjadi sosok wajah horor, bahkan ia sampai menutup kedua bibir itu dengan jemari etik indahnya. Padahal menurutku, tidak ada masalah apa pun dengan tubuhku, lebih tepatnya aku tidak merasakan ada sakit atau cidera apa pun, meski jika aku ingat kejadian di aula itu seharusnya aku mengalami cidera serius. Namun aku tahu persis wanita ini dapat melihat berbagai hal yang tidak dapat aku lihat, ia sering mengatakan padaku bahwa ia sudah memiliki kemampuan itu semenjak lahir. Dengan kata lain ia memang anak Indigo, memiliki indera ke enam dan lainnya.

Jika saja semua celotehnya merupakan fakta, maka sudah pasti wanita ini memiliki sudut pandang tentang dunia begitu berbeda denganku, terlebih bagi mereka yang memiliki lebih banyak indera sensorik. Meski sesungguhnya setiap manusia memiliki jumlah indera setara, baik sensorik, motorik maupun indera universal. Seperti itulah setiap wanita dekatku berkata.

“Charlie. Maaf aku tidak bisa menjagamu dengan baik, sekarang dan seterusnya aku tidak bisa lagi melakukan semua ini sendiri. Karena itu, mungkin kita akan kedatangan beberapa tamu. Mungkin juga para pemburu akan mendatangi kita.”

“Mengapa?”

“Karena kamu sudah kehilangan rajah penekan radiasi energimu.”

Entahlah, rasanya ucapan Mbak Maya membuatku merasakan keanehan. Mungkinkah aku baru menyadarinya? Mengapa panca inderaku memberikan berbagai informasi dengan intensitas melebihi biasanya? Bahkan perasaan apakan ini?

“Sebelum Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Permaisuri mempercayakan kamu pada kami semua, mereka meletakkan rajah itu untuk mempersulit para pemburu dan semua orang yang ingin mengakhiri eksistensimu. Bahkan untuk semua itu, Yang Mulia Permaisuri akhirnya meninggal. Aku tidak menyangka bahwa rajah jenis pengunci sekelas itu hanya dapat bertahan selama ini, bahkan usiamu masih belum dua dasawarsa. Mungkinkah Yang Mulia Permaisuri melakukan salah kalkulasi dalam membuat rajah itu? Entahlah. Tetapi karena semua ini sudah terjadi, kami pun sudah siap dengan esok.”

“Mbak. Setelah pulang, aku ingin mendapatkan penjelasan untuk semua keanehan dalam diriku ini. Selain itu, aku juga ingin penjelasan mengenai mengapa sistem sensorikku mengalami perubahan drastis.”

Sore itu kami meninggalkan kompleks akademi Unity dengan menjadi pusat perhatian mayoritas penghuni akademi Unity. Masih dengan semua perasaan aneh, aku merasakan berbagai macam perasaan ketika memperhatikan orang-orang. Seperti inikah rasanya memiliki indera sensorik melebihi kebanyakan orang?

Seperti cerita dari beberapa orang dekatku, memiliki sensor lebih terkadang menyebalkan, terlebih ketika pemilik sensor itu tidak dapat mengendalikan sensor itu dengan baik. Meski keuntungan dari memiliki sensor lebih juga banyak, namun jika tidak dapat mengendalikannya maka semua itu hanya akan menjadi malapetaka.

Sepertinya, serangan kakak kelas bernama Anto itu membuat beberapa hal dalam diriku terpengaruh secara besar-besaran. Selain itu, Mbak Maya juga mengatakan bahwa alasannya ia menyerang balik tidak lain karena ia tidak lagi merasakan energi hidupku memancar. Dengan kata lain untuk sesaat energi hidupku meredup hingga level tidak dapat dirasakan oleh pemilik indera keenam sekalipun. Meski aku bertanya, jika Mbak Maya tidak dapat merasakan energi hidupku, lantas bagaimana aku dapat melihat ia bertarung sebelum akhirnya aku kehilangan kesadaran.

Lagi pula, siapa sebenarnya kakak kelas yang menyerangku tadi pagi, dari caranya menyerangku, ia memiliki lebih dari cukup kemampuan untuk membunuhku dalam sekali pukulan. Mengingat, semua semua hal tidak wajar datang silih berganti semenjak pagi tadi, sekarang pun aku tidak lagi memikirkan mengapa dan ada apa dengan semua isi otakku. Mungkinkah aku mengalami gegar otak karena terbentur ke tembok pagi tadi?

---

Akhirnya kami sampai di kediaman kami, setelah memasuki rumah aku segera bergegas menuju kamarku. Mandi dan membersihkan diri adalah hal pertama, tentunya kamar mandi adalah tujuan pertamaku.

Di depan cermin aku berdiri memperhatikan tubuhku, walau sulit untuk di jelaskan, tetapi kini tubuhku berubah drastis. Bentuk dada bidang ini sebelumnya tidak seperti ini, meski aku memang cukup atletis, tetapi perubahan ini masih membuatku terkejut. Mungkinkah selama aku tidak sadarkan diri sesuatu terjadi pada tubuhku? Lagi pula, ke mana semua luka itu pergi? Satu pun bekas luka tidak terlihat di tubuhku. Bahkan beberapa bekas luka menghilang, ini sulit untuk aku jelaskan dengan pengetahuanku sekarang ini.

“Charlie! Apa kau sedang mandi?”

“Ya, Mbak!” sahutku dari kamar mandi.

“Baiklah. Mbak siapkan makan malam, setelah mandi langsung ke dapur ya?!” gadis cantik yang selama ini selalu aku sapa Mbak Maya itu sepertinya masih melakukan kebiasaannya. Gadis cantik dan serba bisa itu sudah bersamaku begitu lama, ia melakukan semua pekerjaan seorang ibu rumah tangga, kecuali menemaniku tidur.

Setelah membersihkan diri dan membalut tubuhku dengan baju, kaki ini pun membawaku menuju dapur tempat Mbak Widya menungguku di meja makan. Ia mengenakan gaun putih dengan motif bunga-bunga di bagian dada dan menggunakan aksesori berupa giwang dan sebuah cincin.

“Mbak. Mau makan malam atau mau ke mana?” tanyaku melihat penampilan tidak biasa dari Mbak Maya.

“Hari ini adalah hari istimewa, karena beberapa saat lagi kita akan kedatangan tamu. Sebagai seorang Bidadari Penjaga, aku harus menjaga penampilanku.” Sahutnya sambil dengan cekatan mengambilkan aku makan malam seperti biasanya. Terkadang aku berfikir bahwa jika wanita ini adalah istriku maka aku akan sangat bahagia. Akan tetapi ia selalu mengatakan bahwa aku harus membuang jauh-jauh pemikiran seperti itu, karena ia tidak lebih dari seorang yang melakukan tugasnya, dan barusan ia menyebut dirinya adalah Bidadari Penjaga.

Mungkinkah beberapa buku tua yang selalu dibawa oleh Mbak Maya ke mana pun kami pindah bukan sekedar karya sastra? Mungkinkah buku-buku itu sejenis dengan buku manual atau buku pegangan milik para prajurit. Jika buku-buku itu merupakan buku sejenis panduan atau manual, maka Bidadari Penjaga adalah salah satu divisi dari sebuah kesatuan militer.

“Charlie, mengapa kamu diam seperti itu?”

“Oh. Aku sedang memikirkan Mbak.”

“Wah. Kamu tidak boleh belajar menjadi seorang flamboyan seperti itu, jika kamu berbicara seperti itu pada seorang Putri, itu bisa menjadi masalah serius untuk kamu.”

“Apa peduliku dengan semua itu?”

“Tentu kamu harus peduli. Kamu adalah seorang pangeran, sikap dan perbuatanmu adalah cerminan kepribadian sebuah kerajaan. Meski untuk saat ini kerajaan hanya sebuah simbol, akan tetapi bagi kalangan bangsawan, semua masih belum berubah.”

“Ah. Sepertinya akan menyebalkan, selain itu....”

“Oh. Mereka akhirnya tiba.” Ujar Mbak Maya sambil melangkah meninggalkanku menuju ruang tamu.

Beberapa saat kemudian ia kembali bersama beberapa orang wanita dan pria, salah satu wanita itu aku kenal dengan pasti. Ia juga ada di aula itu padi tadi, sekarang sepertinya waktu yang tepat untuk mempertanyakan siapa mereka sebenarnya. Semoga mereka tidak sekedar menjawab bahwa mereka adalah Bidadari Penjaga.

“Pangeran.” Sapa wanita yang tadi pagi ada di aula tempat semua keributan itu terjadi.

“Yang Mulia. Perkenalkan, saya adalah Jonah. Saya adalah Komandan Pasukan Khusus Ariadiana, meski sekarang ini semua telah begitu berbeda, saya tetap Komandan Pasukan Khusus Ariadiana.” ujar seorang pria paruh baya.

“Ummm.... Mbak Maya, mengapa begitu banyak orang? Selain itu, mengapa aku merasakan perasaan aneh ini, seakan aku melihat sesuatu yang unik dari mereka.”

“Karena rajah pembatas itu sudah lenyap, maka sekarang ini anda dapat menggunakan semua kemampuan yang telah di segel oleh Yang Mulia Permaisuri.” Sahut wanita paruh baya yang sejak pagi tadi sudah mencuri perhatianku.

“Selamat malam Yang Mulia, saya Aurora. Senang berkenalan dengan anda, saya baru pindah tugas ke Kesatuan Bidadari Penjaga. Sebuah kehormatan dapat melayani anda.” Ujar seorang wanita dengan rok mini dan rambut berwarna tidak biasa itu.

“Nah. Karena selama ini Mbak Maya begitu sulitnya memberikan aku penjelasan, juga termasuk seorang yang mengaku sebagai bibiku, adakah di antara kalian yang bersedia untuk menjelaskan siapa kalian dan siapa aku dengan panggilan Yang Mulia itu?”

“Charlie. Itu adalah maksud dari kedatangan Aurora. Ia mendapatkan tugas khusus itu, selain itu ia juga satu-satunya di antara kami semua yang mendapatkan tugas langsung dari Yang Mulai Raja sebelum beliau meninggal.”

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post