Kepada yang Pertama

“That bastard …”

Sudah beberapa kali aku mengumpat sepanjang jalan. Tidak adacara lain lagi yang terpikir di kepalaku, hanya begini. Bisa jadi otakkusudah  lelah. Lelah dengan hidup, lelah dengan pikiran, lelah dengan angan … lelah dengan kenangan. 

“That bastard …”

Kurasa dialah orang pertama yang bisa membuatku menyumpah sebanyak ini. Dia yang masih menimbulkan rasa sakit hati setiap namanya disebut. Damn you. Akan sampai kapan aku begini? Menyedihkan. 

“That bastard …..” 

I love him.  

Tidak. Itu tadi hanya dalam bayangku saja. Mana berani aku menyebutnya. Dalam mimpi-pun aku tidak berani. Ya .. ya .. aku bohong. Kurasa lagi-lagi .. dia (yang namanya sebaiknya tidak disebut) adalah laki-laki pertama yang muncul dalam mimpiku dan menjadi hero. Jangan tanya lagi siapa heroine-nya, tentu saja aku. 

Dalam mimpi-mimpiku itu, kami tertawa bersama, berlari bersama, menari bersama, bercerita, berangan, segalanya … yang indah. Bukan berarti kami tidak melakukannya di dunia nyata, hanya saja dalam mimpi-mimpi itu, kami tidak terbatasi oleh apapun yang namanya perbedaan. Dan yang pasti .. ada satu hal yang membedakan mimpi itu dengan apa yang terjadi di dunia nyata. CINTA. 

Dia mencintaiku … sebesar aku mencintai dirinya … dalam mimpi-mimpi itu. 

Pertama adalah bagaimana aku menjelaskan keberadaannya dalam hidupku. Segala hal pertama kulewati bersamanya. Pertama kali dalam hidupku, aku melupakan bahwa aku membenci asap rokok dan bola basket. Itu semua karena dia. Pertama kali aku mengenal perasaan jatuh cinta, thanks to him. Pertama kali pula aku tahu rasanya patah hati, damn him. 

 

Tidak pernah terbayangkan bahwa kami bisa terkoneksi satu sama lain. Rasanya seperti menyatukan minyak dengan air. Hanyalah penemuan zat kimia baru yang bisa menjadikannya kenyataan. Dalam kasusku, molekul kimia itu bernama takdir. 

Kali ini biarkan aku mengutuk takdir, is it okay? Fuck you goodamn faith. 

 

-oOo-

 

Dia adalah minyak, yang menyalakan api, membuat baranya semakin membesar. Celotehannya banyak tak sebanding dengan sebanyak kemampuan pada dirinya untuk membuktikan omongannya. Basket adalah belahan jiwanya, tanpa basket dia merasa seperti tidak punya lagi tujuan. Saat bermain basket, rambutnya akan tergerai dan hanya bandana hitam yang menjadi penghalang rambut itu menutupi pandangannya. Tiba di luar lapangan, dia tetap menjadi bintang, karena dia punya yang tidak banyak orang punya. Kehangatan. 

Aku? Air adalah aku. Jika dia menyalakan api, maka aku mematikan api. Jika dia banyak bicara, maka aku banyak mendengar. Aku tidak punya sesuatu bernama belahan jiwa sampai aku bertemu dia. Maka sama seperti dia tanpa basket, aku tanpa dia hanyalah nyawa tanpa jiwa. Baik di tengah kerumunan ataupun di luar kerumunan, aku sama saja. Invisible. Aku merindukan apa yang semua orang perebutkan. Kehangatan.

“You look good in red …” adalah kata-kata pertamanya padaku. Aku masih ingat. Saat itu hari panas terik, aku berjalan membawa setumpuk diktat dan proposal kegiatan dari BEM dan UKM. Dia berani menghentikan langkahku hanya untuk menggodaku. Sialan memang. 

“Kenapa?” ujarku dingin. Aku masih tidak tahu dia siapa. Oke, itu bohong. Meskipun dari jurusan berbeda, fakultas kami sama, angkatan kami sama, bagaimana bisa aku tidak mengenal dia. Huft. 

Dia meringis sebentar, “Berarti bener ya kata anak-anak smooking room ….. Anak BPM seram semua.. hiii.” Mendengar bicaranya aku hanya mendengus dan dia meringis lagi dengan senyum sebelah bibirnya yang … seasimetris itu hingga membuatku terpana sejenak. 

“Jangan bilang sebelum ngerasain sendiri. Emang kapan sih anak BPM berlaku seram? Banyak orang suka bikin asumsi sendiri ….”

“Nah ini… buktinya…”

“WHAT?” salahkanlah hari yang panas terik sehingga membuat emosiku lebih cepat tersulut. 

“Gua cuma sapa dikit, elu udah marah …”

Aku menggelengkan kepala, tidak percaya dengan pembelaannya. “Kalau mau tahu kami kayak apa masuk aja dan rasain sendiri…” dengan itu aku menyelesaikan pertemuan pertama kami. Pertemuan pertama yang kemudian mati-matian aku sesali karena setelah itu …. Segalanya jadi berubah. 

-oOo-

Dia menjadi juniorku di organisasi, membuat kami menjadi dekat. Bukan secara personal tentu saja, hanya secara organisasi. Sebatas itulah aku menggariskan hubungan kami. Sejak saat itu aku tahu, setiap manusia punya banyak sisi yang tidak akan pernah sama setiap kali kita semakin dekat mengenalnya. 

Aku tetap aku yang tidak terlihat. Banyak orang melihatku tapi tidak benar-benar merasakan keberadaanku. Atau merasakan keberadaanku tapi tidak benar-benar melihatku. Dia adalah orang pertama dalam hidupku yang melakukan keduanya. Dia melihatku dan merasakan keberadaanku. Hal ini membuatku tersentuh, memasuki suatu ruangan tanpa tahu pintu keluarnya ada di mana. 

Hal yang dilakukannya sederhana. Tapi segalanya membuatku ingin berteriak menanyakan kepada dunia, ke mana saja dia selama ini hingga baru muncul sekarang. Kadang dia hanya mengajakku makan siang bersama karena dia tidak bisa makan sendirian. Pernah pula dia memintaku pendapatku mengenai masalah perselisihan internal dalam organisasi meskipun kami berdua sama-sama tahu dia lebih baik dalam hal itu ketimbang diriku sendiri.

Dia membuat keberadaanku di dunia seakan penting. Setidaknya aku bermakna. Dia membuatku merasa seperti itu. 

Dialah …. yang pertama membuatku begini. 

Dia adalah laki-laki pertama yang kucintai. 

Sampai tiba saatnya, dunia yang sesungguhnya memanggil kami. Toga yang baru saja dikenakan harus dilepaskan agar pakaian-pakaian kerah putih bisa segera dipakai. Foto kelulusan tinggalah sebuat kenangan tercetak di album masing-masing karena realita memanggil. 

Memisahkan aku dengan cinta pertamaku. 

Tapi tidak denganku dan perasaanku. 

Karena baru kusadari, cinta pertama ini tetap ada. Hanya dia, yang ada di sini. 

Bodoh bukan?

Waktu tidak pernah berhenti meskipun perasaanku berhenti bergerak. Rasanya sama seperti bertahun-tahun lalu ketika tadi dia berbicara untuk pertama kalinya padaku setelah sekian lama kami berpisah, “you loook good in red”

“Thankyou” bisikku lirih. Kugigit lidah menahan tangis. 

Dia memelukku sebentar sebelum kemudian memukul pelan pundakku, “you’d better looking for a seat now before this moment’s started …” dan dia berjalan masuk dengan tegap. Diiringi tepuk tangan, laki-laki yang kucintai masuk ke dalam gereja, melangkah gagah menuju altar. 

Di depan sana dia berdiri menanti pengantinnya. 

Bukan aku. 

Karena aku terlihat bagus dengan balutan merah, bukan putih. Karena pernikahan hari ini bukan milikku dengan dia. Karena selamanya aku hanya akan memandang dari kejauhan. 

-oOo-

“That bastard ….”  Aku menyumpah lagi. Tiada henti. Berjalan dari gedung resepsi sampai rumahku sepertinya bukan keputusan yang baik. Hah. 

“That bastard …..”

“Thankyou for coming in my life even just once.”

Aku berhenti berjalan, menarik napas dalam-dalam, dan menjadi lebih tenang. Selesai sudah sepertinya acara meratap dan mengumpat. Setidaknya ini cukup dijadikan simpanan agar tidak lagi menangisi yang sudah pergi. 

Hal-hal yang terbaik adalah doaku untuk cinta pertamaku dan kehidupannya yang baru. Karena ketika cinta yang kita punya ini tidak lagi menginginkan balasan, maka hanya dengan menatapnya hidup dalam kebahagiaan saja sudah cukup menenangkan. Karena bahkan rasa terimakasih tidak cukup untuk membalas apa yang sudah dia berikan padaku sepanjang kami berhubungan. 

Perasaan, kenangan, dan harapan. 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer vanzoelska
vanzoelska at Kepada yang Pertama (3 years 28 weeks ago)

pengungkapan yg cukup menarikk :D

sijojoz at Kepada yang Pertama (3 years 31 weeks ago)
40

temanya udah sering dipakai sih, tapi cara penggambaran karakternya saya suka.

Writer citapraaa
citapraaa at Kepada yang Pertama (3 years 48 weeks ago)
70

Suka sama "aku terlihat bagus dlm merah, bkn putih"
Meski kisah mrk g terlalu diceritakan.