Jam Sibuk

Jika orang-orang memulai pagi dengan sarapan, sebuah kota besar memulainya dengan jam sibuk. Dua kali dalam sehari kecuali akhir pekan dan libur, jalanan penuh dengan kendaraan-kendaraan para warga yang berkomutasi menuju aktivitasnya masing-masing. Mobil-mobil, bus-bus, kendaraan-kendaraan umum berbaris seperti semut. Motor-motor merayap di pinggiran, sela-sela, bahkan di ruang sempit antara satu mobil dengan yang di depannya. Deru mesin, asap knalpot, gerah dan terik matahari mengisi udara di setiap pagi. Tak lupa alunan bising klakson mewarnai dinamika kehidupan di awal hari.
 
Di sisi kiri jalan, trotoar pun tak kalah meriah dari jalan raya. Para pejalan kaki hilir mudik menuju tujuan masing-masing. Ada yang berjalan santai menikmati sinar matahari. Ada yang terbagi konsentrasinya antara arah jalan dan layar ponsel. Ada yang harus merelakan ruang geraknya diserobot oleh pedagang kaki lima, atau harus rebutan dengan pengendara motor yang tak tahu malu menyerobot jalurnya. Namun jangan lupakan mereka yang berdiri sabar menghadap jalan, baik di trotoar maupun di dalam halte, berharap mendapatkan tumpangan dari angkutan umum. Bermandikan peluh, mencemaskan waktu, bernafaskan polusi udara, mereka adalah para pahlawan kota yang berjuang untuk tidak menjadi bagian dari kesemrawutan lalu lintas.
 
Diriku bisa dibilang bagian dari mereka. Duduk manis di ruas bangku paling belakang sebuah angkutan umum yang sudah penuh. Saling berdempetan dengan penumpang lain, menghirup nafas yang dikeluarkan orang lain, dan satu-satunya hal yang bisa menghiburku adalah angin segar yang berhembus melalui kaca jendela yang terbuka di belakangku, itupun hanya sesekali jika tidak dibajak asap knalpot bus kumal yang seharusnya tak lulus uji emisi.
 
Sangat gerah sekali di dalam sini. Semua ruas bangku terisi penuh mulai dari sebelah supir, di depan pintu samping, hingga bagian paling belakang. Tak ada sisa ruang untuk seekor semut sekalipun. Namun yang bikin sesak hati adalah fakta bahwa mobil ini belum bergerak sama sekali sejak lima belas menit yang lalu. Aku sampai bosan melihat gedung Lembaga Pemasyarakatan dengan pagar kawat tipis dan cat kuningnya yang pudar. Jika ini adalah layar sentuh sebuah ponsel pintar, ingin sekali jariku menggeser latar belakang displaynya dengan gambar lain.
 
Berbicara tentang ponsel pintar, meski belum terlalu murah, itu sudah bukan barang mewah lagi. Di sini saja aku melihat sebagian besar penumpang mengeluarkan ponselnya masing-masing. Menatap layarnya dengan pandangan serius dan memainkannya. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan tapi yang pasti orang-orang ini seperti masuk ke dunianya sendiri-sendiri. Bisa itu chatting, browsing, bermain game, atau mungkin selfie. Jujur saja, bukan berarti aku tidak punya. Hanya saja, mengeluarkan barang mahal di tempat umum bukanlah gayaku. Bukan cuma sekedar alasan keamanan, aku hanya merasa tak nyaman saja. Lebih tenang melihat pemandangan sambil memikirkan sesuatu.
 
***
 
Menit demi menit berlalu tetapi mobil hanya bergerak beberapa meter dari posisi sebelumnya. Kesabaran mulai menipis, suasana semakin gerah, dan situasi semakin mengesalkan ketika udara kabin pengap ini terisi oleh suara tangis bayi. Adalah seorang ibu yang sejak awal duduk di seberangku. Anak bayi yang digendongnya tiba-tiba menangis, mungkin lapar setelah bangun tidur. Anehnya, ketika aku dan penumpang lain terganggu, sang ibu bergeming menatap jendela belakang mobil. Ia seperti tak mempedulikan kondisi anaknya.
 
Tak berselang lama, tangis sang bayi semakin keras. Para penumpang semakin terganggu. Kekesalan terlihat di raut wajah mereka. Seorang karyawati bank menurunkan ponselnya lalu menegur sang ibu yang duduk di sebelahnya.
 
Ibu tersebut merespon. Ia menoleh ke arah wanita pekerja itu kemudian ke anaknya seperti baru menyadari. Kami semua merasa lega walau tangisan belum berhenti dan kembali ke aktivitas masing-masing. Setidaknya satu faktor pengganggu  akan berkurang.
 
Aku memperhatikan ibu yang tampak berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah itu menatap wajah anaknya yang menangis selama beberapa saat tanpa bertindak apapun. Tidak seperti ibu lain yang berusaha menenangkannya dengan menggoyang-goyangkan tubuh si bayi sambil menghiburnya. Yang ia lakukan hanya melihatnya dingin dan melotot padanya. Aku merasakan ada yang ganjil padanya. Apa dia marah pada anaknya?
 
Sang ibu kemudian membuka mulutnya dan aku terkejut. Sesuatu yang tidak tampak seperti lidah manusia menjulur keluar. Sebuah benda menyerupai belalai hitam, panjang, dan berlendir, sangat menjijikan. Ujungnya kemudian menempel di seluruh wajah si bayi dan membekapnya.
 
Jantungku berdebar kencang, napasku tertahan, keringat dingin mengucur saat aku menyaksikan pemandangan yang luar biasa tak wajar ini. Dan satu hal lain yang tak bisa kupercaya adalah tak ada seorang pun yang menyaksikan kejadian ini. Semua perhatian mereka dialihkan ke arah lain seperti ponsel atau melihat ke pemandangan luar. Bahkan sebelahku pun tidur pulas. Berarti hanya aku sendiri yang melihatnya?
 
Aku tak bisa mencegah pandanganku yang kembali melihat ke depan. Sang bayi berhenti menangis dan sang ibu melepaskan belalainya hingga wajah si balita tak terlihat lagi kecuali sebuah lubang gelap, kosong tak berdasar.
 
Saat itu yang terlintas dalam pikiranku adalah bagaimana caranya untuk bisa keluar dari angkot penuh sesak ini.
 
Tamat

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer hidden pen
hidden pen at Jam Sibuk (3 years 47 weeks ago)
100

kayanya kejadian ini pernah dialami silvercorolla. Uhk uhk becanda piis. Umm akhirnya selalu mendebarkan seperti biasa . Umm ngomong-ngomong belalai ibu itu kayaq gajahkah . Ehm ehm aduh ngomong apa coba. Imajinasiku seakan diuji di sini hi hi Kabuurrr

Writer vinegar
vinegar at Jam Sibuk (4 years 3 weeks ago)
60

Lima paragraf, satu segmen penuh deskripsi namun saya tetep gak tahu siapa 'aku', laki ato perempuan, dari mana mau ke mana. Mungkin karena narasinya hanya berputar2 pada deskripsi suasana biar dapet gambaran 'jam sibuk' for the sake of judul. Beberapa kalimat seperti kerasa dipanjang-panjangkan malah. Saya ngarepnya horor psikisnya lebih banyak dan gak kentang gitu :|. Siapa tahu dia lagi delusional karena semalem habis pesta ganja ato adiktif metafetamin, gitu #halah.

Maaf kalo gak memuaskan komennya. Keep writing :)

Writer WidhartaOfficial
WidhartaOfficial at Jam Sibuk (4 years 4 weeks ago)
100

Cerita bagus dan bener-bener serem, tapi judulnya jauh banget dari pokoknya

Salam

Writer azura_caelestis
azura_caelestis at Jam Sibuk (4 years 4 weeks ago)
60

Halo, salam kenal. Saya numpang mampir membaca.
Penulisannya cukup rapi dan mengalir. Hanya saja mungkin terlalu banyak narasi yang mendominasi. Idenya keren untuk plot twistnya, tapi menurut saya sedikit tiba-tiba dan diakhiri begitu saja. Pembaca rasanya seperti terkaget sebentar, lalu efek kaget tersebut sekejap langsung hilang.

Mungkin di bagian awalnya, bisa diselingi beberapa dialog, atau mungkin dari awal bisa langsung menyinggung sikap seluruh penghuni angkot, ketimbang mengambil sudut besar dari jalan raya, kesannya seperti bertele-tele di sub-bab pertama.

Dan untuk akhirnya, saya sedikit berharap kamu menyinggung tentang kelanjutan dari penampakan menyeramkan tersebut. Tidak hanya terkaget, mungkin bisa bikin heboh satu penghuni angkot. Sehingga konflik yang sudah dicapai di plot twistnya tidak menguap begitu saja.

Terus menulis :)

Writer silvercorolla
silvercorolla at Jam Sibuk (4 years 4 weeks ago)

Salam kenal juga, gaya menulisku memang narasi deskriptif jadi jgn heran jika narasi mendominasi.

Kaget sebentar? Memang aku sengaja membuat cerita horor seperti ini. Creepypasta like huh?

Aku ga bisa bikin dialog. Aku merasa ga nyaman memasukkan banyak dialog dalam ceritaku.

Terima kasih atas idenya, tapi mungkin jika klimaks dari cerita ini kulanjutkan, itu akan menjadi cerita yg lain lagi dan bakal jadi sangat panjang nantinya.

Writer suwokotumdex
suwokotumdex at Jam Sibuk (4 years 4 weeks ago)
10

Tak Simak...

Writer Nine
Nine at Jam Sibuk (4 years 5 weeks ago)
100

Ada sejumlah kata yang perlu ditulis italic:
*chatting
*browsing
*selfie
*[display]-nya
.
kata:
nafas, bernafaskan <-- harusnya ditulis napas (cek kbbi)
.
Penggambaran latar di awal cerpen ini menarik. Memberikan gambaran yang jelas di imajinasi saya tentang latar kejadiannya. Hanya saja dengan deskripsi yang bertele-tele begini, kamu membuat tempo cerita menjadi lambat. Tapi cara berceritamu menarik, membuat saya tahan untuk baca sampai pada konfliknya.
.
Konfliknya tidak terduga dan cukup menyeramkan. Menurut saya, lebih banyak deskripsi tentang latar cerita daripada deskripsi konfliknya--bagaimana si ibu menjilat bayinya. Di bagian itu saya berharap diceritakan lebih panjang lagi.
.
Itu saja dari saya. Mohon maaf kalau ada kata yang kurang berkenan. Semua komentar saya di atas subjektif.
.
Sekian,
Salam olahraga (y)

Writer silvercorolla
silvercorolla at Jam Sibuk (4 years 4 weeks ago)

really, aku kalau ga diserang rasa malas udah kucetak miring itu semua istilah. dan aku ga punya kbbi. kamusku hanya google translate dan TvTropes.

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Jam Sibuk (4 years 5 weeks ago)
100

O.o spikles. Mingkem. Bingung mau ngomong apa. Itu...
.
.
Oke, saya mau berkomentar saja. Ehem ehem. Di awal, kejadian yang terjadi terlalu bertele-tele. Tidak jelas cerita ini mau dibawa ke mana, malah saya sempat berpikir kalau tulisan ini hanyalah opini si penulis tentang kesemrawutan kota di jam sibuk.
.
Kalimat-kalimat yang kakak gunakan simpel dan mudah dipahami. Jadi, sangat enak untuk membayangkan segala macam tindakan di dalam cerita. Sampai akhir... saya masih menunggu-nunggu apa gerangan yang akan terjadi.
Dan... wow! Saya benar-benar terkejut dengan ending yang tidak terdua itu. Keren. Plot twist yang tidak terduga. Tapi, rasanga keterlaluan banget kalau penghuni angkot lainnya tidak sadar. Tapi, syudahlah. Saya puas dengan cerpen ini karena endingnya benar-benar mengagetkan saya.
.
Salam kenal Kak :)
Terus semangat menulis ya :D

Writer silvercorolla
silvercorolla at Jam Sibuk (4 years 4 weeks ago)

makasih
well, ya begitulah. aku juga bingung kenapa penumpang lain ga sadar ya?