Diary Afina

23 September

Aku punya adik lain!

Aku benar-benar baru mengetahuinya. Nenek memperkenalkannya padaku hari ini, seorang anak lelaki yang sopan. Namanya Rangga, umurnya 16 tahun, hanya 2 tahun lebih muda dariku. Dia tersenyum padaku tadi, aku senang sekali!  Semoga dia tidak membenciku. Semoga aku bisa akrab dengannya. Karena mulai hari ini, dia akan tinggal bersamaku dan Yudha di rumah kami.

 

6 Oktober

Sudah 2 minggu Rangga tinggal bersama kami. Dia benar-benar anak yang baik. Aku bersyukur dugaanku salah. Karena Kupikir mungkin dia tidak akan menyukaiku seperti Yudha, atau tidak mau terlalu dekat denganku. Apalagi karena semua yang ada di rumah ini sepertinya berbicara hal buruk tentangnya. Nenek juga tidak terlalu menyukainya. Aku tahu itu, karena sikapnya pada Rangga dingin sekali. Bagaimanapun, hubungan ibunya dengan ayah sama sekali tidak direstui nenek kami…

 

28 Oktober

Hari ini seperti biasa Yudha tidak mengacuhkanku. Tapi mau bagaimana lagi ya? Aku tidak bisa apa-apa. Yudha benci pada orang manja sih, tentu saja pada orang yang bahkan tidak bisa berjalan sendiri, dia tidak akan suka. Walau begitu, hari ini menyenangkan sekali. Rangga menemaniku pergi mengelilingi komplek perumahan dengan mendorong kursi rodaku.  Rasanya sudah cukup lama sejak terakhir kali ada yang mengajakku jalan-jalan. Kurasa Rangga juga lebih baik tidak berada di rumah terlalu sering. Semakin dia jauh dari rumah, semakin baik. Jadi dia tidak perlu mendengar cibiran para pelayan yang bicara buruk padanya, yang mereka katakan bahkan saat Rangga berada di dekat mereka.

 

1 November

Yudha bertengkar dengan Rangga!

Aku sedikit telat sewaktu mendengar keributan di ruang tamu, jadi aku tidak tahu penyebabnya. Mungkin Yudha memang tidak terlihat punya inisiatif untuk akrab dengan Rangga, tapi aku sama sekali tidak menyangka Yudha akan semarah itu pada Rangga. Apa dia benci pada Yudha? Benci pada anak dari wanita yang sudah merebut ayahnya? Tapi kupikir bukan begitu. Yudha tidak akan berpikiran sesempit itu untuk membuat alasan membenci seseorang. Apalagi meski berbeda ibu, mereka tetap bersaudara. Kalau padaku, bukan hal aneh dia membenciku.

Kuharap mereka tidak bertengkar lagi. semoga mereka bisa cepat berbaikan…

 

25 November

Aku sudah terbiasa soal Yudha yang memasang wajah tidak senang saat lewat didekatku. Kupikir aku juga salah, karena sebagai kakak, meski hanya kakak tiri, aku sama sekali tidak bisa bersikap sebagai seorang kakak buatnya. Tapi hari ini, Rangga minta maaf padaku, Karena Rangga pikir itu salahnya Yudha bersikap begitu, soalnya sebelumnya mereka bertengkar hebat. Jadi kuberitahu saja pada Rangga kalau Yudha memang tidak menyukaiku sejak dulu, bagaimana ia bilang padaku kalau aku orang yang terlalu dimanja, bagaimana aku membiarkan nenek berpikir kalau aku orang yang harus dikurung untuk kebaikanku, bagaimana aku seperti burung dalam sangkar  yang hanya jadi pajangan di rumah besar tanpa berusaha untuk bebas…

Selama ini aku selalu berpikir kata-kata Yudha benar, dan alasan-alasan itu sudah cukup untuk membuatnya membenciku. Itu sebabnya aku agak takut Rangga akan ikut menjauhiku karena alasan yang sama. Tapi ternyata tidak. Rangga sama sekali tidak bilang kalau dia akan membenciku dengan alasan-alasan itu. dia malah bilang kalau dia akan selalu membantuku. Dia bilang dia akan selalu mendukungku apapun yang terjadi.

Ibu… Meski sekarang kau tidak lagi ada disisiku, aku bersyukur sekali punya Rangga sebagai adikku yang menggantikan tempatmu sekarang.

 

31 Desember.

Hari ini Putra kembali dari Jogja setelah sekian lama. Dia datang kerumah dengan membawa banyak oleh-oleh, terutama pia. Dia benar-benar tahu apa yang kusuka! Ha ha.

Sayang sekali Rangga masih belum pulang. Dia memang bilang akan pulang telat hari ini, jadi kurasa tidak bisa mengenalkannya pada Putra. Tapi, aku yakin Putra sudah tahu tentang Rangga. Jadi, kurasa tidak perlu terlalu membahasnya. Daripada itu, kurasa aku hanya akan membahas soal masalah hadiah yang kubeli untuk ultah Yudha tannggal 4 januari nanti. Aku tidak mungkin menyerahkannya langsung padanya, jadi setiap tahun aku hanya menitipkannya pada Putra. Karena Putra cukup dekat dengan Yudha. Mungkin terlalu cepat, tapi semoga dia senang.

Selamat ulang tahun Yudha!

 

2 Februari

Tahun ini sama sekali tidak ada perubahan juga. Yudha masih tetap bersikap dingin padaku. Dan sepertinya setelah pertengkaran mereka yang lalu, ia juga bersikap acuh pada Rangga. Aku minta maaf pada Rangga soal sikap Yudha  itu. Kuharap Rangga tidak membenci Yudha meski dia bersikap seperti itu selama ini padanya. Karena aku tahu Yudha baik. Dia hanya punya alasan untuk tidak menyukaiku, dan mungkin Rangga, juga Nenek. Lebih tepatnya, dia memang tidak suka tinggal di rumah ini. Bagaimanapun, neneklah yang membuatnya tertahan dirumah ini meski sebenarnya dia lebih ingin untuk ikut ibunya daripada tetap tinggal dengan kami di rumah ini.

Kurasa dari pada aku, dia jauh lebih tertekan dirumah ini. Dia hanya bisa bertemu sesekali dengan ibunya setelah ayah bercerai dengan ibunya itu. Aku mungkin tidak bisa bertemu dengan ibu lagi karena ibuku sudah meninggal. Tapi ibu Yudha  masih hidup. Seharusnya mereka bisa bersama lebih lama…

 

20 Mei

Hari ini aku dan Rangga kepergok nenek kelur rumah. Padahal saat itu dia hanya menemaniku yang membujuknya untuk pergi beli camilan di supermarket. Dia menyalahkan Rangga sudah membawaku keluar rumah diam-diam. Kalau Yudha tidak menginterupsi nenek yang memarahi Rangga, kalau dia tidak bilang, ‘aku capek dengar omelan nenek!’ pada nenek, kurasa nenek masih akan terus memarahi Rangga.

Kurasa Yudha benar. Aku memang terlalu dimanja, akibatnya, Rangga pun kena imbasnya.

Rangga, maafkan aku…

 

3 Juli

Baru keluar dari rumah sakit. Rasanya lega sekali. tidak ada lagi jarum infus yang menusuk tanganku, tidak ada bau obat disinfektan lagi yang tercium. Akhirnya aku kembali!

Hari ini juga aku melihat Yudha setelah lama di rumah sakit. Dia memang menjengukku dan menjagaku selama beberapa hari, tapi dia tidak bicara denganku dan hanya duduk di sudut ruangan dalam diam. Rasanya aku kangen sekali padanya.

 

13 Agustus

Tahun ini pun ternyata ada lagi! 2 tangkai bunga mawar pink tergeletak di mejaku pagi ini. Tidak ada kartu ucapan lagi, seperti tahun-tahun sebelumnya, jadi aku masih tidak tahu dari siapa itu. Apa nenek? Atau salah satu pelayan? Rangga sepertinya tidak mungkin. Ini sudah terjadi sejak 4 tahun yang lalu, sebelum Rangga ke rumah ini. Waktu kukatakan pada Rangga, aku terkejut karena dia bilang kalau sejak 2 tahun yang lalu, ibunya pun mendapat buket bunga yang sama, tanpa nama pengirim. Kira-kira siapa? Apa ayah? Entah dimana dia sekarang.

Ah, tapi tidak masalah. Ibu, setangkai bunga ini akan ku letakkan di makam ibu. Karena berkat kau, di hari ini, 19 tahun yang lalu aku lahir dengan selamat, meski sebagai gantinya, aku tidak pernah bisa melihatmu…

 

14 Agustus

Hari ini Yudha bicara padaku! 2 hari yang penuh kejutan di bulan Juli. Meski Rangga sepertinya tidak senang dengan gaya bicara Yudha. Yah, dia memang berkomentar dengan wajah dingin soal kenapa aku begitu memperhatikan bunga mawar yang diberi oleh orang yang aku bahkan tidak tahu siapa. Memang dia benar, tapi kurasa tidak apa dia bertanya begitu. Bukannya aku juga mau mengasihani diriku sendiri, tapi kurasa aku ingin ada orang yang peduli padaku, sedikit saja, meski itu hanya sekedar pertanyaan ‘kau baik-baik saja?’ yang ditujukan padaku. Karena itu, bunga mawar itu, meski aku tidak tahu siapa yang memberikannya padaku, sangat berarti bagiku. Karena aku tahu di sini ada yang peduli padaku.

 

16 September

Hari ini ulang tahun Rangga. Putra dan Rina, adiknya datang berkunjung. Kebetulan sekali! kami membuat pesta kecil-kecilan. Sudah kuduga, Putra bisa cepat akrab dengan Rangga. Sifat bossy Putra tertutupi oleh sikap Rangga yang mudah mengalah. Dan Bagaimanapun, mereka seumuran. Sayangnya kali ini Yudha yang tidak ada. Padahal biasanya dia akan senang sekali kalau Putra datang…

 

4 November

Lagi-lagi aku pingsan tadi pagi. Seperti biasa, dokter bilang untuk tidak memforsir diri. Padahal aku hanya ingin keluar untuk merawat kebun bunga ibu di belakang rumah. Sekali lagi, nenekku menyalahkan Rangga yang menurutnya lalai menjagaku. Walau aku tidak tahu itu sampai Yudha datang dan memarahiku sewaktu aku mencoba pergi mencari Rangga. Dia bilang gara-gara akulah Rangga dimarahi, jadi lebih baik aku tidak usah menambah runyam masalah dengan melakukan hal yang tidak perlu.

Dia bilang aku tidak tahu apa-apa. Dia bilang aku terlalu bergantung pada Rangga. Dia bilang gara-gara akulah Rangga tertahan dirumah ini. Dia bilang kalau sama sepertiku, ibu Rangga pun punya tubuh yang lemah, tapi gara-gara nenek mengancam ibunya, Rangga setuju untuk pindah kerumah ini meninggalkan ibunya dan aku dengan seenaknya memanfaatkannya untuk memenuhi semua keinginan egoisku.

Aku tidak menyangkal itu, kurasa Yudha benar.

Yudha selalu benar.

 

9 Maret

Sudah  hari ke-7 di rumah sakit. Sejak yang terakhir,  3 bulan aku tidak melakukan  apa-apa untuk bisa ditulis. Penyakitku terus terusan kambuh, dan nenek jadi panik. Mungkin sebaiknya aku tidak memforsir diri seperti katanya. Bagaimanapun, aku tidak mau membuat Rangga cemas karena selama ini dia yang merawatku siang malam. Tapi, saat kubilang jangan khawatirkan aku, dia hanya tersenyum…

 

24 Juni

Keadaanku benar-benar memburuk. Bahkan untuk menegakkan badanpun sulit. Rangga selalu memberiku semangat. Syukurlah ada Rangga di sini. Yudha juga kadang-kadang datang bersama nenek. Meski dia tidak bicara sama sekali, paling tidak dia menyempatkan datang. Aku senang sekali.

 

3 oktober

Ayah datang menjenguk. Aku tetap pura-pura tidur saat dia dan Rangga bicara. Mereka bicara soal ibu Rangga dan aku. Tapi, kurasa saat ini aku tidak bisa menemuinya. Aku masih sedikit terpukul waktu dia pergi dari rumah tanpa mengatakan apa-apa, tiba-tiba saja.

Ada dimana ayah waktu aku membutuhkan ayah?

Apa yang ayah lakukan waktu aku membutuhkan ayah?

Kenapa ayah tidak pulang walau aku mencoba menghubungi telepon ayah yang tak pernah tersambung?

Apa bagi ayah aku adalah beban makanya ayah tidak senang berada di rumah?

Apa karena ada aku, Yudha dan ibu Risa makanya ayah lebih memilih meninggalkan rumah?

Apa ayah sebegitu tidak sukanya dengan ibu risa hanya karena dia wanita yang dipilihkan nenek untuk jadi ibuku yang kedua?

Aku selalu mempertanyakan itu selama ini. Tapi aku sudah tahu jawabannya sejak Rangga datang kerumah 2 tahun yang lalu.

Ayah pergi saat Ibu risa mengandung Yudha karena wanita lain yang ayah cintai melahirkan bukan?

Itu sebabnya setelah yudha berumur 7 tahun, ayah kembali pada kami dan menceraikan ibu Risa, lalu meminta nenek untuk merawat Yudha.

Tapi apa ayah tahu? Yudha sangat menyayangi ibunya, seperti aku menyanyangi ibu. Meski dia hidup mewah dan berkecukupan dirumah kita, dia tidak bisa mendapatkan apa yang harusnya dia dapatkan. Ayah sama sekali tidak melakukan apapun untuk Yudha. Kalau ayah pikir apa yang ayah lakukan benar, tolong temui dia dan bersikaplah selayaknya seorang ayah.

 

2 Februari

Aku terbangun hari ini setelah sekian lama tidur. Keadaanku sama  sekali tidak berubah, malah aku merasa semakin parah. Apa sudah tidak ada harapan untuk sembuh? Sepertinya waktuku memang sudah hampir habis… 

 

16 maret

Kurasa waktuku sudah benar-benar hampir habis. Sekarang ini aku bahkan susah payah untuk memegang pena. Banyak kenangan berkelebatan di benakku. Ibu, kau terutama. Apa aku akhirnya bisa bertemu denganmu?

 

20 maret

Mungkin ini terakhir kalinya aku bisa menulis. Banyak hal yang semakin jelas dan jelas kuingat. Tapi kurasa aku tidak punya beban. Kecuali tentang Yudha dan Rangga.

Yudha, aku selalu berharap bisa bicara denganmu untuk menyampaikan banyak hal dengan akrab, seperti bagaimana aku bicara dengan Rangga. Tapi sekarang, yang ingin kusampaikan padamu hanya satu. Aku tahu apa yang kau pikir aku tak tahu. Tentang kau, tentang ayah, tentang nenek, tentang Rangga dan ibunya, aku tahu semua itu. selama ini kau selalu menyalahkan ayah dan nenek. Ayah yang sudah dengan terpaksa menikah dengan ibu Risa setelah ibu meninggal sewaktu melahirkanku meski ayah sudah menemukan orang lain sebagai pengganti ibu. Nenek yang menjodohkan ayah dengan ibu Risa untuk membuat ayah meninggalkan orang yang ia cintai. Ayah yang sudah dengan seenaknya muncul dan menghilang meninggalkan ibu Risa begitu saja lalu menceraikannya dan menghilang lagi. Nenek yang begitu keras kepala tidak merestui hubungan ayah dengan orang yang dicintainya… Kalau rantai hubungan itu tidak terjadi, ibumu, ibu Risa tidak akan menderita.

Aku juga tahu tentang ibu Rangga. Aku tahu betapa ia menderita sendirian tanpa Rangga disisinya. Aku tahu bagaimana beban Rangga untuk tetap bertahan di rumah kita dengan semua perlakuan tidak adil nenek padanya. Aku tahu sekali bagaimana nenek mencoba untuk mengancam ibunya untuk membuat Rangga datang ke rumah ini hanya agar ayah kembali kerumah. Aku tahu semua itu. tapi, kurasa aku juga tidak bisa minta maaf untuk itu meski aku berharap aku bisa….

Rangga, aku selalu berharap untuk bisa minta maaf padamu. Maaf karena aku tidak pernah bisa menjadi kakak yang layak untuk dihormati. Maaf karena aku hanya bisa terus-terusan merepotkanmu.  Maaf karena aku tidak bisa melakukan apapun untukmu padahal kau selalu mendukungku dan menyemangatiku.  Aku juga minta maaf karena tidak bisa membuatmu dan Yudha berhubungan baik layaknya saudara. 

Selama ini, bahkan padaku kau selalu mengalah. Karena itu, Setelah ini, jika aku tidak ada lagi, semoga kau bisa memilih untuk memutuskan apa yang sebenarnya kau inginkan. Kau berhak memilih dimana kau seharusnya berada, Rangga.

Aku sangat menyayangimu dan Yudha sebagai adikku. Selama ini aku berharap kita semua bisa bersama, saling berhadapan dan bicara layaknya keluarga. Tapi, kurasa aku tidak bisa. Sebagai seorang kakak, aku gagal untuk memenuhi harapan Kalian, kan?

Aku benar-benar minta maaf Yudha, Rangga.

Tapi diatas semua itu, aku sungguh bersyukur punya adik-adik yang kuat seperti kalian. Karena itu, atas semua hal yang pernah kalian lakukan padaku, aku benar-benar menghargainya, meski itu hanya sepatah kata dukungan.

Terima kasih…

***

 

Kututup diari bersampul pink itu perlahan. Lembaran kertas diari itu agak mengembang dan kumal di beberapa sisi. Tidak diragukan lagi Afina terkadang menangis saat menulis di buku diarinya itu.

Afina Riany Handoyo, gadis cantik berambut panjang hitam yang fotonya sekarang kutatap di depanku. Senyum lebar diwajahnya yang lembut sudah cukup untuk mendeskripsikan betapa ia adalah seorang gadis yang tegar dan kuat. Cukup kuat untuk tidak pernah menangis didepanku, sedingin apapun sikap dan kata-kata yang kutujukan padanya. Meski semua hal di sekitarnya cukup untuk membuatnya membenci banyak hal termasuk aku, tapi dia tetap menjalani semuanya tanpa berusaha menyalahkan siapa-siapa kecuali dirinya sendiri.

Kuselipkan foto Afina ke dalam diarinya. Lalu, masih dengan diari pink miliknya ditanganku, aku membalikkan badanku dan membuka pintu mobil. Kubawa buku itu bersamaku keluar dari mobil yang sudah kumatikan mesinnya dan memasuki pekarangan pemakaman.

Sampai 2 hari yang lalu, aku masih  melihatnya di sana, terbaring lemah di tempat tidur di satu ruangan di rumah sakit. Meski dengan keadaan seperti itu, dia masih sempat tersenyum padaku hanya karena melihatku datang menjenguknya bersama nenek. Aku bahkan tidak bicara padanya dan hal itu mungkin yang paling kusesali. Karena saat itu adalah terakhir kalinya aku punya kesempatan untuk bicara padanya.

Sekarang aku menatapnya lagi. Alih-alih tubuh lemahnya yang terbaring di tempat tidur, aku hanya menatap gundukan tanah yang masih baru dengan nisan bertuliskan namanya.

“Aku tidak tahu kau akan kemari, Yudha.”

Aku menoleh saat mendengar suara itu. Dibelakangku, Rangga tampak berjalan kearahku. Seperti biasa, dia selalu menunjukkan ekspresi tenang di wajahnya dalam situasi apapun, bahkan saat aku pertama kali berteriak padanya. Meski hari ini wajahnya terlihat agak lelah dan matanya terlihat lebih sayu.

“Apa kau akan bilang kalau aku seharusnya tidak pantas ada disini?” aku bergumam pelan.

“Tidak. Untuk apa?” ia balas bertanya. Tapi aku merasa tidak bisa menjawabnya. Dan kurasa ia sendiri tidak butuh jawaban.

Kulihat dia membungkuk di sisi nisan dan menundukkan kepalanya, mendoakan kakak lain ibu kami itu. Tanpa harus melihat apa yang ia lakukan hari ini pun, aku tahu dia tulus menyayangi kakak kami itu, meski aku tidak mengerti alasannya. Alasan Kenapa dia lebih memilih untuk menjaga Afina dari pada ibunya sendiri, meski dia sendiri sadar sekali bahwa nenek dan semua orang di rumah itu membencinya. Dia lebih memilih menuruti kata-kata nenek hanya dengan sedikit ancaman untuk datang ke rumah kami dan meninggalkan ibunya, sementara disana ada aku, Yudha Pratama Handoyo, yang berusaha untuk pergi dari rumah itu untuk bisa tinggal bersama ibuku. Aku tidak mengerti alasannya melakukan itu dan itu sebabnya aku merasa marah padanya.

 “Sekarang kau tidak punya alasan untuk tetap tinggal karena satu-satunya orang yang peduli padamu sudah tidak ada lagi.” ucapku lagi dengan suara pelan, “kau, akhirnya bisa memilih apa yang sebenarnya kau inginkan sekarang, bukan?”

Alih-alih menjawab pertanyaanku, dia melirik buku kecil bersampul pink bermotif bunga mawar ditanganku.

“… Jadi, kau sudah membacanya ya?” tanyanya tanpa menatapku.

“Aku menemukannya di atas meja waktu membereskan kamarnya.” Jawabku jujur, “Melihat ekspresimu, kau juga sepertinya sudah membacanya.”

“Yah…” ia bergumam pelan masih dengan tatapan terarah ke nisan di depannya, “… begitulah.”

Selama beberapa saat, kami terdiam. Meski sudah tiga tahun berlalu sejak kami pertama kali saling berhadapan, ini pertama kalinya kami saling bicara banyak. Aku selalu menghindarinya, seperti bagaimana aku menghindari Afina.

“Sampai tadi, aku masih ragu menyapamu. Kupikir kau tidak akan mengacuhkanku seperti biasa. Tapi sepertinya hari ini tidak ya.” Rangga mulai memecahkan keheningan yang terjadi diantara kami. Aku tidak menjawab, karena aku kurang lebih paham apa yang dia maksudkan. Terutama saat ia menyambung, “kupikir kau membenciku.”

“Kenapa aku harus membencimu?” tanggapku cepat, pelan, dan setegar yang bisa kulakukan.

“Aku kan anak dari wanita yang sudah merebut ayah kalian.”

Kutatap punggung Rangga yang duduk berjongkok di sampingku. Dia masih tidak menatapku, dan aku tidak melihat ekspresinya saat mengatakan hal barusan. Tapi aku bisa mendengar kegetiran dalam suaranya.

“Aku bahkan tidak pernah menganggap dia seorang ‘ayah’.”

“Hmm, memang seperti yang dikatakan Afina rupanya.” Katanya lagi, “dia benar-benar memperhatikanmu, kau tahu?”

Afina, aku merasa aku cukup tahu banyak tentangnya. Dia anak pertama ayah kami dari istrinya yang pertama. Ibunya meninggal setelah melahirkannya. Setahun setelah itu, ia menjalin hubungan dengan wanita dari kalangan yang nenek kami bilang ‘kumuh’. Meski berusaha meyakinkan nenek bahwa ia sudah memilih wanita itu, nenek tidak merestui hubungan mereka. Dan untuk menghancurkan hubungan antara ayah dengan wanita itu, nenek menjodohkan ayah dengan ibuku. Yang tidak diketahui nenek kami adalah, bahwa saat itu wanita itu tengah mengandung. Setelah setahun pernikahan ayah dan ibuku, ibuku mengandung aku dalam rahimnya. Dan saat itu juga, ayah meninggalkan rumah.

Aku sangat jarang bertemu dengan ayah kami itu. Aku bahkan tidak merasa bahwa aku punya keterikatan hubungan dengannya. Yang kumiliki hanya ibuku, dan aku sangat menyayanginya. Dia korban dari keluarga ini. Meski dia sendiri juga tidak benar-benar mencintai orang yang menikah dengannya, dia harus tetap memerankan peran seorang istri dari anak tunggal keluarga ‘Handoyo’ yang terpandang. Itu sebabnya aku membenci nenek yang menjodohkan ibuku pada ayah, membenci ayah yang kemudian dengan sepihak menceraikan ibu dan membuatku tetap tertahan di rumah itu.

Meski selama ini aku memikirkan hal itu, semua kebencianku pada keluarga Handoyo, aku sama sekali tidak bisa menyalahkan beberapa orang yang terhubung dalam rantai rusak yang disebut keluarga itu. Aku tidak membenci Rangga. Sebaliknya, sama seperti Afina, aku merasa  kasihan pada mereka.

“…. Aku tahu kalau caraku salah selama ini.” Aku bergumam pelan dengan menatap kosong ke depanku. “Aku secara sepihak melakukan hal yang menurutku perlu kulakukan untuk membuatnya jadi lebih kuat.”

Tidak ada tanggapan dari Rangga kecuali suara gumaman pelannya. Tapi aku tahu dia mendengarkanku.

“Sejak awal aku memang agak sebal dengannya karena tidak pernah melawan nenek. Dia selalu berusaha kuat didepanku, tidak pernah mengeluh soal ayah yang bahkan membiarkannya begitu saja. Dia bahkan tidak pernah protes atas apapun yang terjadi. Aku tidak suka sikapnya itu. Tapi, aku tidak pernah berpikir bahwa dia pernah bersalah padaku sampai aku harus tidak menyukainya.”

Dulu aku selalu berpikir untuk membuatnya marah sesekali. Tapi aku selalu gagal dan malah membuatnya berpikir bahwa sikapku begitu dingin padanya karena aku tidak menyukainya. Lama-kelamaan aku sebal padanya dan semakin malas membuatnya marah, meninggalkannya dengan hanya mengacuhkannya begitu saja.

“Tanpa melakukan apapun, kau tahu dia orang yang kuat.”

“… Ya,” jawabku, “… Itu sebabnya aku ingin dia sesekali menunjukkan sisi dirinya yang lemah padaku.”

Aku menatap kosong gundukan tanah yang masih baru di depan kami. Sudah terlambat kalau kukatakan alasan kenapa aku bersikap begitu dingin padanya sekarang. Meeski aku berada ‘didepannya’, dia tidak akan mendengarnya.

“Aku hanya tidak tahan dengan sikap tegarnya di depanku. Aku ingin dia memarahiku, membentakku, melampiaskan semua yang ia pendam sendirian selama ini. Tapi aku tidak pernah berhasil membuatnya melakukan itu semua, apapun yang kulakukan, sedingin apapun sikapku padanya….”

“Huh?”

Tiba-tiba saja Rangga sekarang menoleh kearahku dengan wajah menahan tawa. Cengiran tertahan di wajahnya itu agak sedikit mengesalkan. Apalagi sebelumnya aku mengatakan sesuatu yang tidak pernah kupikirkan akan kukatakan didepannya. Aku jadi mulai merasa malu sendiri.

“Begitu? Jadi… selama ini sebenarnya sikap kerasmu itu, adalah semua bentuk perhatianmu padanya?”

“A, apa?” aku berucap defensif, “Apa salah?”

Dan jawabanku itu hanya membuat tawanya mulai meledak.

“Jadi begitu?” ucapnya disela-sela tawanya, “Jadi kau bersikap dingin padanya, membentaknya, hanya agar dia memarahimu?”

Aku meringis dan mulai memalingkan wajahku darinya.

“Kalau begitu, apa jangan-jangan kau sebenarnya menghindar dariku, membuang muka, dan menatapku dengan galak juga dengan niat yang sama?”

“Kalau kau… sedikit beda kasusnya.” Aku mencoba membalasnya dengan nada sedikit menantang. Meski secara resminya dia kakakku, dia hanya satu tahun lebih tua dariku. Jadi sekarang kutatap dia lurus-lurus dimatanya tanpa mencoba menghindarinya, seperti yang selama ini kulakukan.

“Kupikir kalau aku juga memperlakukanmu seperti mereka, kau akan membenci rumah itu dan pulang pada ibumu.”

Didepanku, Rangga balas menatapku. Dia, seperti biasa menatap kalem pada siapapun lawan bicaranya. Jujur kukatakan, bahkan sejak pertama kali melihatnya, aku sudah merasa aku tidak akan bisa melawan orang yang sikapnya bagai air mengalir itu. Apalagi dia punya dasar bela diri yang bagus. Tapi, meski dengan kelebihannya itu, alih-alih membalas makianku 3 tahun yang lalu, dia hanya berdiri didepanku, menatapku tak bergeming dengan tatapannya yang dalam. Ia tidak melakukan apa-apa, membalas kata-kataku saja tidak, apalagi sampai memukul. Aku  hanya meneriakinya secara sepihak tanpa benar-benar mengerti seperti apa posisinya yang terjepit saat itu.

“Jadi, sebenarnya apa alasan yang membuatmu datang di rumah itu? Kenapa kau lebih memilih menjaga Afina daripada ibumu sendiri? Kenapa meski kau tahu kau tidak akan diterima dengan baik dirumah itu, kau tetap bertahan disana?”

Rangga tidak segera menjawab pertanyaanku. Arah tatapannya sekarang beralih kembali ke arah nisan Afina.

“… Waktu aku memutuskan datang kerumah itu, aku sama sekali tidak ada niat untuk mengabaikan ibuku. Hanya saja, aku tidak bisa sabar dengan keputusan yang diambil ayah. Apa kau tahu? Sebenarnya sampai saat ini, ayah kita itu tinggal bersama ibuku.”

Mungkin kata-katanya itu adalah pernyataan mengejutkan yang sudah bisa kuduga.  Meski aku tetap saja agak kaget. Apalagi dengan apa yang ia katakan selanjutnya.

“Sewaktu nenek menemukan tempat tinggal kami, ayah kebetulan sedang pergi dan hanya aku dan ibu yang ada dirumah. Nenek mengancam ibuku bahwa ia akan membawaku pergi jika ia tidak memberi tahu dimana ayah. Dia pikir dengan membawaku, ibu akan kehilangan tempat berpijak dan jatuh dalam keputus asaan. Dan memang benar.” Rangga tampak tersenyum pahit.

 “Dalam usahanya menghindari nenek, kami hidup berpindah-pindah, sampai kemudian  nenek menemukan kami lagi. Waktu itu, ayah mencoba meyakinkan aku bahwa ia sedang berusaha untuk membujuk nenek agar kami semua bisa diterima oleh nenek. Sampai waktu yang diberi nenek habis, ayah tetap belum memutuskan apa-apa. dan waktu nenek datang kembali, aku mendengar apa yang dikatakan nenek ; Umur Afina, hanya tinggal 3 tahun lagi.”

Rangga terdiam kemudian, memutuskan sejenak ceritanya padaku. Dia tampak menghela nafas panjang, seakan mencoba membuang segala rasa sesak dari beban yang tertahan dalam dirinya.

“Aku… tahu kalau aku punya saudara lain dari 2 ibu yang berbeda. Tentang Afina, juga kau. Dan aku tahu tentang situasi kalian juga. Saat itu, kupikir bahwa meski hidupku dan ibuku dikejar-kejar oleh sesuatu yang tidak ingin kami hadapi, aku terlalu curang untuk dibandingkan dengan kalian karena ayah bersamaku. Karena itu, waktu mendengar tentang keadaan Afina, aku merasa marah pada ayah. Kenapa dia tidak mendampingi Afina? Kenapa dia mengabaikan anak-anaknya yang lain? Kenapa dia dengan egoisnya pergi dan hanya memihak kami, padahal disana ada orang-orang yang membutuhkannya juga? Aku mengkonfrontasinya tentang hal itu,  dan melihatnya tidak bisa memutuskan apa-apa, aku merasa bahwa aku harus melakukan sesuatu. Paling tidak, untuk Afina…”

“… Karena itukah kau menyetujui untuk dibawa kemari oleh nenek?” tanyaku memastikan. Saat itu, ia kembali menoleh kearah ku dan tersenyum tipis.

“Aku tidak bisa memilih siapa orangtuaku, sama seperti mereka tidak bisa memilih seperti apa anak yang akan mereka miliki.” Ucapnya tenang, yang dalam kata-katanya yang kalem, bisa kudengar ketegasan di dalamnya.

 “Itu sebabnya, kesalahan apapun yang mereka buat, aku ingin coba untuk menanggung tanggung jawab itu juga. Paling tidak aku ingin menunjukkan… bahwa aku menghargai mereka atas segala pilihan yang mereka ambil, demi memberiku kesempatan untuk terlahir ke dunia.”

Kupalingkan wajahku darinya. Kata-katanya yang sarat makna itu begitu dalam meresap dalam benak dan sanubariku. Ia kuat dan tegar, dan itu sama sekali tidak dibuat-buat. Aku tidak punya alasan untuk tidak menyukainya, dan itu sebabnya, aku sama sekali tidak bisa membencinya. Sebaliknya, rasa hormatku padanya yang selama ini selalu kupendam didalam hatiku sekarang semakin membesar.

Mungkin sesungguhnya, aku selalu bersyukur dia datang ketengah-tengah kami di rumah itu. Karena  berkatnyalah Afina bisa lebih bersemangat menjalani hari-harinya yang terkekang. Berkatnyalah Afina bisa menikmati sisa-sisa hidupnya dengan dukungan orang yang benar-benar peduli padanya. Dan berkatnyalah, Afina bisa bertahan hingga saat ini. Karena aku, meski aku berada didekatnya, aku tidak bisa memberikan dukungan yang berarti untuk kakak kami itu. Aku tidak mencoba bersikap baik padanya, dan aku selalu menyakitinya.

Kalaupun ada yang bisa kulakukan untuknya sekarang, mungkin hanya dengan bersikap  lebih jujur. Baik pada diriku sendiri, nenek, maupun pada Rangga.

“… Tentang… yang ditulis Afina di bagian akhir,” Aku memulai lagi setelah menarik nafas dalam, “Aku ingin paling tidak memenuhi apa yang dia minta. Karena itu…”

Ia berpaling padaku saat aku kembali menyambung dengan salah tingkah, “Apa kau bisa memaafkanku atas semua hal yang sudah kulakukan? Bi, bisakah mulai sekarang kita… berhubungan layaknya… keluarga?”

Jujur saja, aku agak sungkan mengatakan langsung tentang ini padanya. Bagaimanapun, aku meninggalkan kesan yang buruk dimatanya. Aku bertengkar padanya karena rasa egoisku, aku menghindarinya,  dan bahkan tidak pernah bicara baik-baik dengannya. Ingatanku tentang hal-hal buruk yang kulakukan padanya itu membuatku merasa semakin canggung padanya.

“Jadi,” ucapnya kalem tanpa kekikukkan yang kurasakan sekarang,  “apa kau akan memanggilku kakak mulai sekarang?”

Segera saja rasa sungkanku padanya hilang dan aku berucap kesal menanggapinya. “Aku hanya satu tahun lebih muda darimu, jangan sok tua!”

Senyum Rangga melebar dan berubah menjadi tawa yang sama sekali tidak ia coba sembunyikan. Aku mulai merasa bodoh saat memikirkan betapa banyak keberanian yang harus kukumpulkan untuk mengatakan kata-kataku tadi, hanya untuk melihatnya tertawa seperti itu didepanku.

“Berhenti tertawa. Aku serius tahu!”

“Iya, maaf deh, maaf.” Tanggapnya sambil berhenti tertawa. Saat itu, diwajahnya tertinggal seulas senyum tipis dan ia menatapku dengan sorot mata seorang ‘kakak’.

“Aku sama sekali tidak keberatan kok.”

Ucapannya kembali membuatku membuang muka, mencoba menyembunyikan wajahku yang dipenuhi rasa sesal dan… mungkin malu.

Rangga kemudian meluruskan badannya dan berdiri, sementara aku kembali menatap nisan yang berukiran nama kakak tiri kami itu.  Bisa akrab dengan Rangga mungkin hal yang diinginkannya dariku. Meski terlambat. Sangat terlambat.

“Hei, Yudha.”

Aku menoleh tepat saat Rangga melempar sesuatu padaku. Begitu aku menangkapnya, bisa kulihat jelas apa yang barusan di lemparnya itu: 2 tangkai bunga mawar dengan pita putih terikat rapi ditangkainya.

 “Ibuku,” ucapnya  masih dengan mempertahankan senyum lembutnya diwajahnya, “Selalu senang setiap kali mendapat bunga itu di hari ulang tahunnya, seperti Afina.”

“Terima kasih.” Sambungnya sebelum memutar badannya dan berbalik pergi. Aku terteggun sesaat, sebelum akhirnya menghela nafas saat menatap bunga mawar yang diberikannya padaku itu. Bunga mawar yang sama dengan yang selalu kuletakkan di meja Afina setiap hari ulang tahunnya dan bunga yang sama dalam buket bunga yang selalu kukirimkan untuk Risna Suganda, ibu Rangga, dua wanita yang kuhormati dari lubuk hati terdalam, yang selalu kuperhatikan dari jauh tanpa benar-benar mendapat kesempatan untuk bicara baik-baik dengan mereka, setelah ibu kandungku.  

Entah sejak kapan Rangga tahu tentang hal ini. Padahal aku yakin aku tidak pernah meninggalkan jejak setiap aku mengirimkan bunga itu. Tapi sekarang kurasa sudah tidak ada gunanya lagi menyembunyikan hal itu, jadi aku kembali menatap nisan Afina dan berjongkok di samping gundukan tanah.

Kuangkat bunga mawar ditanganku dan kuletakkan di depan nisannya. Kutatap dalam-dalam nama yang terukir di nisan itu untuk yang terakhir kalinya hari ini.

Hari dimana aku seharusnya bisa mengatakan kalimat ini tidak pernah datang, dan hari dimana aku tidak bisa melihatmu lagi, datang begitu cepat meski secara jujur kukatakan bahwa aku tidak siap.

Rasa penyesalan di hatiku hanya bisa menyebar lebih dalam, dan semua hal tentangmu melekat di depan mataku, bertebar, menyebar bagai kelopak mawar yang berhamburan tertiup angin di hadapanku.

“Afina, di diarimu, kau bilang aku benar. Aku selalu benar. Dan di catatanmu yang terakhir, kau bilang kau tahu, kau tahu semuanya. Tapi, kau salah tentang satu hal.”

Meski kurasa tidak ada gunanya mengatakan hal ini sekarang, saat ia tidak lagi berada disini dan tidak lagi bisa mendengarku, tapi aku akan meralat satu hal. Karena, meski kau tahu banyak secara garis besar semua hubungan kita, kau tidak tahu satu hal yang sebenarnya tentangku.

 “Aku tidak pernah membencimu, kak.” 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer azura_caelestis
azura_caelestis at Diary Afina (3 years 38 weeks ago)
80

Pertama, saya suka dengan kekonsistenan dan kegigihannya. Cerita ini cukup panjang. Tapi, ditulis dengan cukup rapi.
Kedua, saya suka pembukaannya, ceritanya bisa dibilang sedikit ribet di masalah relasi. Dan awalnya, saya sedikit menebak-nebak, siapakah Yudha. Rangga mungkin sudah dipetakan di kalimat pertama dalam diari milih Afina, tapi Yudha, saya sedikit bingung, saya kira ini cerita suka-sukaan antar remaja. Hehehe... eh, ternyata hubungan di antara ketiganya lebih kompleks dan menyentuh daripada itu.

Alur cerita yang kamu pilih sangat unik, saya suka. Kamu tidak langsung memetakan masalahnya, tapi membuat pembaca ikut masuk, dan harus memilah-milah benang masalah tersebut. Memang sedikit membingungkan, tapi kalau menurut saya, cerita keluarga yang sehari-hari ini menjadi terasa menantang.

Mungkin saran sedikit dari saya. Dari panjangnya cerita, di awal, saya rasa dengan peletakan banyaknya narasi dari diari Afina, secara tidak langsung membuat pembaca ciut dan takut merasa jenuh. Mungkin kamu bisa menyelinginya dengan dialog. Karena di bagian belakang, saya rasa part dialog antara Yudha dan Rangga terasa sangat bermain, berbeda dengan kata-kata sedih Afina yang sedih dan statis. Mungkin kalau dikombinasikan keduanya menjadi cerita berseling bakal menjadi lebih menarik.

Overall, saya merasa terhibur. Terus menulis ya :)

Writer QueSera
QueSera at Diary Afina (3 years 38 weeks ago)

Pertama-tama makasih banyak sudah mampir :D
Saya baru sadar kalau di bagian awal banyak yang terasa kurang 'dijelaskan', soalnya karena kita sendiri yang nulis, kita jadi nggak sadar apa yang kurang karena kita sudah tahu alur cerita kita....
Terus karena relasi mereka dari sananya sudah ribet, saya sendiri sampai bingung tepatnya mau gimana menjelaskannya lebih rinci (^^"). Takutnya malah jadi panjang dari yang seharusnya, soalnya saya niatnya memang cuma mau bikin cerita pendek.
Dapat masukan dan saran begini jadi membuat saya termotivasi memperbaiki kualitas tulisan saya.
Sekali lagi terima kasih :D

Writer skybridgerie
skybridgerie at Diary Afina (3 years 38 weeks ago)
80

ending nya..

Writer QueSera
QueSera at Diary Afina (3 years 38 weeks ago)

ha ha, kenapa dgn endingnya kk? Apa terasa menggantung? ^^

Writer suwokotumdex
suwokotumdex at Diary Afina (3 years 39 weeks ago)

nyimak wae...

Writer QueSera
QueSera at Diary Afina (3 years 38 weeks ago)

Makasih udah mampir ^^

Writer gxuihaemuhita
gxuihaemuhita at Diary Afina (3 years 39 weeks ago)

Onnit Labs Alpha Nootro brain review supplement is an intense nootropic stack to give Nootro brain trial enhanced fixations levels. It is among the finest nootropics that helps the client to support their memory, center, vitality levels, disposition and subjective capacities. Alpha Nootro brain audits say it is an immaculate mind promoter that contains the mixed drink of different settled nootropic supplements. It contains all the fixings in a flawless amount
http://circlehealthclub.com/nootro-brain-review/
http://page2rss.com/c0b000c85c9c0ad1a2d5c5c7e0759d60
https://www.facebook.com/pages/Optimum-ketone-Trial/1618535545091582
https://www.facebook.com/pages/Optimum-Ketone-Side-effects/1608135399465895
https://ketoneoptimumtrial.wordpress.com/2015/06/17/ketone-optimum/
http://nootrobraintrial.tumblr.com/
https://nootrobraintrial.wordpress.com/2015/06/20/hello-world/
https://www.facebook.com/pages/Nootro-Brain/659193990881058
https://www.facebook.com/pages/Nootro-Brain-Trial/1590309967900789