Si Penyapu Jalanan

Si Penyapu Jalanan

 

“BYURR!!”

Air kubangan melompat tepat sasaran di badannya. Lagi, perempuan itu kembali mengusap baju kumal, meremas sampai kering. Bau asap kendaraan menukik sampai ke paru-paru. Bau basah hujan, berubah jadi bau bacin. Airnya legam menggenangi rumitnya arus lalu lintas. Hari senin. Setidaknya ia bisa pulang membawa sekotak nasi.

Satu dua langkah ia berjalan. Terkungkung dalam peluh. Sayatan di kulit tak dihiraukan, karena ia tahu tak akan reda sekali dua kali diobati. Esoknya, luka gores kembali menghiasi sekujur tubuhnya sampai melepuh diterjang cuaca ekstrem. Ia berdiri, menunggu senja, menunggu lembayung kembali menghias di angkasa, arti kalau hari ini telah ia lewati penuh sukacita.

“Kok mahal sekali? Biasanya juga segitu!” dengan kaca mobil setengah terbuka, lelaki yang tak diketahui rupanya itu melemparkan tiga lembar uang. Ketiganya bergambar patimura, pahlawan yang begitu dipuja-puja bangsa. Angka nominalnya sudah tak jelas, ujungnya seperti habis digerogoti rayap. Tapi wanita itu hanya senyum. Baginya itu bukanlah cacian, melainkan sebuah penghargaan.

Riuh rendah suara kendaraan saling menyeru.

“Ibu..Ibu..” suara parau kembali berdengung. Sang ibu menimang-nimang buah hati yang bertengger dipunggungnya. Kain compang-camping menopang tubuh si kecil. Dengan sabar sang ibu melatih anaknya untuk bertahan.

“Sebentar ya nak..” ungkapnya sabar. Kembali menggoyang-goyangkan punggung yang makin hari makin turun. Tulangnya sudah bergeser. Bobot si kecil membuatnya bungkuk. Setelah didendangkan lagu lawas, di tengah gerimis yang membasuh muka kotornya, sang anak kembali diam, tidur mungkin. Sebelum petang menggurat di khatulistiwa, ia berusaha. Langkahnya dibuat tegar sepanjang pembatas kiri kanan jalan. Menawarkan berita ter-update, menawarkan lembar demi lembar koran yang akan ditukar rupiah, menawarkan arti kemanusiaan.

***

“Kami tahu bagaimana peliknya hidupmu, tapi tetap saja hidup masa lalumu di mata orang pasti sama saja, dicap sebagai mantan napi.” Sudah dua tempat, mengatakan hal sama.

Suwarsih kembali ke gubug reyotnya. Genting hitam dan renggang, rayap disana-sini, rumah itu telah kosong enam bulan lalu. Kini Suwarsih tengah mengandung anak dari suami yang tak tahu kemana rimbanya. Setelah hidupnya terlilit hutang, lelaki itu mungkin memilih berpulang.

“Tak apa nak, rumah ini lebih baik daripada di dalam sel bukan?” Suwarsih mengusap calon anak di perutnya yang melendung. Enam bulan lalu dia dihukum, hanya karena 6 bulir anggur di rumah majikannya Suwarsih membayarnya dengan dikurung 6 bulan di tahanan. Prihatin. Tapi sesungguhnya dia tak ada kuasa untuk membenarkan fakta, karena Suwarsih tahu bahwa tabiatnya saat itu khilaf. Hamil 2 bulan membuatnya sering mual, buah segar sangat mustahil ia beli. Untuk makan saja susah, maka ketika melihat anggur hijau itu bergelantungan di rumah majikan baru, Suwarsih tak dapat menahan diri. Kini reputasinya hancur sudah hanya karena 6 bulir anggur. Suwarsih sebatang kara. Sanak saudara pun jauh di mata. Di tengah hiruk pikuk kota ia kembali membuka mata, bahwa ia harus berusaha tanpa putus asa.

Sampai detik dimana Suwarsih kembali ke kawasan padat penduduk dengan rumah beratapkan plastik, semua orang hanya nyinyir. Tak ada bahkan yang menyapanya, apalagi menawarkan kehidupan lebih baik untuknya. Syukur-syukur kalau ia menyapa dijawab, tak acuh saja, yang sedang mengobrol terus bergunjing, yang sedang menjemur baju malah menutupi wajahnya. Seolah haram melihat ke arah wanita bernama ‘Suwarsih’ yang tengah mengandung 9 bulan.

Lewat warung kopi yang tak pernah sepi pengunjung, Suwarsih mampir. Barangkali ada yang perlu dibantu karena ia tahu siapa pemilik lepau itu, adalah keluarga jauh dari bapaknya.

“Ya sudah, disini saja dulu. Untuk sementara kau gantikan Ramim yang pulang ke kampung. Mana mungkin kami rela membiarkan saudara sedarah sengsara.” Begitulah sambutan Herti sang istri. Harapan Suwarsih tidak begitu tumpul. Setidaknya ia perlu mengumpulkan uang bekal untuk persalinannya di hari kemudian. Ia bekerja keras untuk anaknya yang sudah ditakdirkan lahir dari rahimnya.

Setiap hari, ia pergi pagi pulang malam. Penghasilannya tak seberapa, tapi kerjanya sangat keras. Terlalu diforsir. Seolah mereka sedang menggunakan tenaga robot. Hingga suatu hari, sepasang suami istri itu merajuk padanya.

“Kau kan sudah kami bantu, sekarang giliran kau memberi sumbangsihmu pada kami.” Matanya turun, mendelik ke arah cincin emas di jari manis Suwarsih. “kami banyak hutang, kalau sampai tidak terbayar warung kopi kumuh ini jadi jaminannya. Kau paham ‘kan?”

Seperti dihipnotis, Suwarsih menurut saja. Ia tahu apa konsekuensi kalau sampai warung kopi nan kumuh itu dilimpahkan pada penagih hutang saudaranya, ia akan kena imbas. Tak punya lagi pekerjaan. Kedua orang itulah yang ia miliki.

Hari itu, saat perutnya kontraksi di tengah jalan, tak ada yang mau melirik Suwarsih. Bahkan kedua saudaranya itu melengos saja. Tak acuh. Orang bermobil hitamlah yang membawanya ke rumah sakit, menanggung segala biaya administrasi, tanpa Suwarsih tahu siapa gerangan. Yang pasti setiap hari ia berdoa agar orang itu selalu diberi berkah.

***

Suwarsih berjongkok, mengucek cucian baju ia dan Fahim anak semata wayangnya yang lahir dengan fisik sempurna namun keluarga yang tak lengkap. Sudah lewat dua tahun, sang suami tak tersiar lagi kabarnya. Rasa-rasanya sudah tenggelam dimakan massa. Malam-malam begini Suwarsih tak pernah tidur, memikirkan nasibnya besok sebagai penjaja koran harian. Di musim hujan seperti ini, ia selalu kembali ke rumah dengan baju kotor. Maka Suwarsih mencucinya. Tanpa sinar rembulan, ia duduk di atas dingklik, merenung. Bapak ibunya telah tiada. Ia yatim piatu semenjak kecil. Keluarga mengirimnya ke kota, mempertemukannya dengan lelaki yang tak tahu asal usulnya. Dialah Amir, yang tak jelas dimana keberadaannya sekarang.

“Krek..Kreek..” katrol karatan saling berkeriutan. Menahan beban air yang ditarik ke atas. Satu dua ember air keruh berbau logam dituang ke dalam bak. Suwarsih membilasnya. Tengah malam ia menjejerkan jemuran di para-para yang kosong. Kepalanya linglung, tapi ia tetap menahannya.

Di dalam, Suwarsih terjaga. Mengawasi Fahim yang sudah dua hari sakit panas. Anak itu meringkuk di balik dua lapis selimut yang diambil dari lemari bolong di rumahnya. Suwarsih diam. Mata lamurnya menerawang. Rasanya memang salah melibatkan anak ini ke dalam kerasnya kehidupan. Fahim belum paham apa dan kenapa. Kemarin Fahim ribut ingin sekaleng sarden. Suwarsih tak mampu membelikannya.

Ketika pagi menyingsing, perempuan kuyu itu bersiap. Tulang dahinya sudah menonjol, lemak di bawah kulitnya kian menipis, Suwarsih semakin kurus saja. Ia mengangkat Fahim yang masih belum bangun. Tak mungkin ia meninggalkannya. Setelah mengambil koran edisi hari ini di pengepul, Suwarsih segera menuju pusat kota, tempat orang-orang berkelas itu saling mengejar pagi buta. Di sepanjang pembatas kiri-kanan jalan Suwarsih melangkah, menjajakan koran berbungkus plastik, berharap kemacetan tak kunjung reda. Tapi justru, saat macetlah puncak emosi semua orang ini. Suwarsih harus siap mental. Tak jarang mereka hanya membawa korannya tanpa mengganti dengan uang. Pergi saja saat lampu merah telah berubah. Percuma menjerit, hanya sia-sia. Di hari gerimis, ia tutupi tubuh Fahim dengan plastik transparan. Suwarsih mengambilnya di tempat sampah kering Laundry di kawasan rumahnya.

“Ibu..ibu..” Fahim memanggil-manggil. Dia lapar.

Suwarsih memandang haru ke arah tukang bubur di simpang jalan.

“Sebentar ya nak.. nanti kita beli bubur di sana.”

Dia kembali berjalan. Mendengar klakson saling bersahutan disana-sini Suwarsih agak berlari ke ujung jalan. Satu koran dibayar. Ia tertatih, kepalanya linglung belum makan sejak kemarin.

TIIDT..TIIDT” lagi, suara klakson di mobil yang lain kembali menggema. Suwarsih, terus melangkah. Ia sudah mengantongi recehan di dalam kresek hitam. Setelah dihitung lagi, hasilnya bahkan tak mampu melunasi tunggakannya yang kemarin.

Suwarsih bimbang. Mengakhiri pekerjaan ini sama saja mengakhiri hidupnya. Ia melamun. Di depan masjid tempat ia biasanya singgah, Suwarsih memikirkan masa lalu. Wajahnya kotor, seakan baru saja keluar dari kepulan jelaga. Fahim dipangkunya. Memberikan remah nasi sisa pengajian. Tak ada yang bertanya, semua memandang sama bahwa ia dan anaknya hanyalah peminta-minta. Di kawasan rumah ia dikucilkan, di jalanan ia tak dihiraukan.

Sementara ibunya termenung, Fahim makan tulang ayam tak berdaging itu, mahfum. Anak seusianya manatahu kalau setiap hari ibunya bersusah. Semua hal yang ada dibenak Fahim hanyalah kesenangan semata. Bahkan jalan raya macet nan berdebu pun disulap jadi pematang sawah nan luas. Itulah fantasi anak-anak. Saat klakson saling menyeru disana-sini, mereka mendengarnya bagaikan irama nan merdu. Lalu mobil yang bertumpuk di jalanan, Fahim menggubahnya menjadi sebuah karangan bunga, yang harum, lagi menyegarkan.

Tak mau lagi kelak nasib buruk Suwarsih terulang kembali, menjadi tahanan napi, meski kejahatan yang ia lakukan hanyalah sebesar biji sawi. Suwarsih sadar betul yang bukan haknya memang tak seharusnya ia ambil. Kini Suwarsih hanya ingin seperti ini, bekerja keras demi Fahim. Menatap masa depan yang bahkan sebelumnya tak pernah mau ia impikan. Suwarsih ingin ketika Fahim tahu apa itu kehidupan, maka ia akan menjelaskan. Suwarsih ingin merubahnya, pandangan segala penjuru terhadapnya, pandangan orang terhadap kehidupannya. Agar kelak semua orang sadar bahwa dialah si penyapu jalanan meski perubahannya sendiri malah tak diberikan toleransi oleh para makhluk Tuhan. Disinilah ia berjalan, di atas tapal batas yang tak akan ia lepas.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
sijojoz at Si Penyapu Jalanan (3 years 28 weeks ago)
100

suka dengan temanya, meskipun dikatain basi. alurnya juga mengalir.

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Si Penyapu Jalanan (3 years 43 weeks ago)
60

ga bisa bilang ini cerita "udah biasa" sih. karena walaupun topik yang diangkat "udah biasa", ke"udahbiasa"an itu masih sering kali kita tampik. maksud saya, cerita yang mengangkat kesengsaraan rakyat kecil udah banyak, yang memelintir-lintir perasaan sampai bikin terenyuh dan serba salah. barangkali justru kita perlu lebih banyak membaca cerita semacam itu, atau setidaknya setia mantengin Kejamnya Dunia--kalo masih tayang di TV. walau sama2 mengangkat kesusahan kaum tak berpunya, tapi tiap orang memiliki cerita yang berbeda2. di sisi lain, saya merasa cerpen ini cenderung menyerupai feature.
narasinya nyeret, sip, walau kata om shinichi masih banyak ejaan yang perlu diperbaiki, dan flashback-nya itu sempet ngebingungin sih, hehehe. setelah dibaca bolak-balik baru ngerti :v
keep writing :)

Writer evaporape
evaporape at Si Penyapu Jalanan (3 years 43 weeks ago)

karena ke"biasa"an ini seringkali dilewatkan. Cerpen ini mix dari kisah nyata dan setengah fiksi. makasih kak udah bersedia koreksi suka sama komentarnya :D

Writer MocchaFreim
MocchaFreim at Si Penyapu Jalanan (3 years 43 weeks ago)
90

penulisan katanya ngalir banget, nyantai dibaca tapi penuh makna.

Writer evaporape
evaporape at Si Penyapu Jalanan (3 years 43 weeks ago)

makasih banyak udah baca dan komen,salam kenal :D

Writer Shinichi
Shinichi at Si Penyapu Jalanan (3 years 43 weeks ago)
60

masih perlu banyak belajar soal ejaan.
kip nulis.

Writer evaporape
evaporape at Si Penyapu Jalanan (3 years 43 weeks ago)

Iya nih, masih proses belajar..hehe makasih koreksinya kak :D

Writer mawarhijati
mawarhijati at Si Penyapu Jalanan (3 years 44 weeks ago)
70

Duh, penuturan ceritanya ngalir banget... Suka. :D

Writer evaporape
evaporape at Si Penyapu Jalanan (3 years 43 weeks ago)

wah makasih yaa..:D

Writer nusantara
nusantara at Si Penyapu Jalanan (3 years 44 weeks ago)
100

Ohh Suwarsih..
Ceritanya bagus :D

Writer evaporape
evaporape at Si Penyapu Jalanan (3 years 43 weeks ago)

Terimakasih :D