Bernard dan Lil (Beruang dan Monyet Kecil)

“Kau yakin ini tempatnya, Lil?”

 

Pria dengan ukuran tubuh yang membuatnya berkesan mirip beruang itu bertanya, sekedar memastikan.

 

Yang ditanya kontan melancarkan tendangan ke betis si beruang―dengan tingginya itu, hanya sebatas itu yang mampu kakinya capai. “Sudah dari tadi kubilang, bukan! Otakmu tuh otak ikan, ya? Atau udang? Bernard, kau tolol banget sih,” suara nyaring anak kecil menyusul.

 

Tidak sakit, bahkan tidak berasa apa-apa; tendangan itu terlalu ringan dan kecil untuk si beruang.

 

“Hei, kalau selalu ngomong kasar begitu, kau tidak akan tumbuh tinggi, Lil. Dan panggilanmu akan terus ‘Lil’ meski kau sudah tua nanti,” kekehnya yang berlanjut menjadi derai tawa singkat. Jemarinya yang raksasa itu mengacak-acak topi pet yang menutupi rambut pirang kusam anak kecil di sampingnya―saking jauhnya perbedaan tinggi mereka, hanya ujung jemari sang beruang yang bisa menyentuh si bocah.

 

“Jadi, siapa yang akan membuka pintu ini? Aku? Atau kau?” balas si bocah sambil menepis jemari si beruang dari kepalanya dan membetulkan posisi topi petnya. Dari saku kanan jaketnya lantas ia mengeluarkan serenceng benda logam: beragam ukuran peniti, kawat besi, jepit rambut, sampai kunci kecil. “Aku yakin punya yang untuk jenis pintu ini,” imbuhnya sambil memilah-milah, lidahnya menyisiri bagian dalam deretan gigi atasnya bolak-balik—kebiasaannya saat berkonsentrasi.

 

“Tergantung mau dilakukan secara heboh atau tidak, Lil,” balas si beruang untuk pertanyaan si bocah. “Aku sih suka yang heboh,” lanjutnya, ada kesan geli dalam suaranya.

 

“Dan aku tidak,” pungkas si bocah sambil mulai memasukkan sebuah peniti berukuran sedang ke lubang kunci di pintu di hadapan mereka.

 

Si beruang yang dipanggil Bernard hanya angkat bahu. “Kalau aku yang kerjakan, hanya butuh satu detik untuk membuka pintu ini―bahkan mungkin tidak sampai. Kalau kau...” dia menimbang sejenak, “kali ini mungkin lima menit?”

 

“Tiga.”

 

“Baik, baik. Lima,” disusul dengus tawa mengejek saat si bocah memelototinya jengkel. “Orang bebas berpendapat, Lil,” ujarnya membela diri, yang sayangnya, membuat bocah emosian itu akhirnya meledak.

 

“Bisa diam, enggak sih!!!” jengkelnya, spontan merogoh sakunya dan menarik keluar sebuah petasan kecil racikan tangan, menggesek sumbunya di punggung tangan kirinya―tempat selembar logam tipis terikat, dan melemparkannya pada partnernya.

 

“Ups!” ujar si beruang yang lebih karena refleks, menepis peledak kecil itu ke samping dengan tangan kosong. Petasan itu berdentum saat mengenai dinding sisi rumah yang akan mereka susupi malam itu.

 

Bagai tentara dibangunkan dengan bel pagi dan teriakan komandannya, para penghuni di rumah dua lantai yang terpisah dari pemukiman warga lainnya itu serta-merta ricuh.

 

Setelah meniup-niup telapak tangannya yang perih karena baru dipakai untuk menepis petasan, si pria beruang berkata, “Bukan salahku,” lantas mengangkat kedua tangannya seolah dengan begitu ia akan terbukti tak bersalah.

 

Si bocah berdecak, menarik kembali penitinya dari lubang pintu dan memekik kesal diselimuti frustrasi, “Sudahlah, dobrak saja!!” yang sekejap kemudian sang partner telah menggendongnya di satu tangan, lantas menendang terbuka pintu itu dengan satu kaki.

 

“Tuh, kan! Apa kubilang!” tawa bergemuruh dari Bernard, rambut cokelat gelapnya yang pendek berkelebat saat mereka berlari menerobos lorong di dalam. “Cara heboh lebih cocok dengan kita!”

 

Sekonyong-konyong terdengar bunyi senapan.

 

“Atas!” Lil menunjuk. Beberapa pria berderap di susuran tangga yang menuju lantai dua. Salah satu dari mereka memegang senapan yang masih berasap, bau mesiu segera menyeruak ke hidung bocah itu.

 

“Oh, akhirnya ada yang menyambut!” Sang beruang menendang meja kayu besar terdekat hingga pecah berkeping-keping. Dia mengambil bagian terbesar dan berlindung di baliknya seperti perisai.

 

Ia lantas menjejak keras-keras dari bawah tangga, melompati beberapa penyerang sambil menendang beberapa dan menyikut beberapa yang lain. “Aku pasti akan sedih kalau tak ada penyambutan.”

 

Lil merogoh sakunya cekatan, mengeluarkan ketapel modifikasinya. Batang utama yang menjadi poros di tengah dibuat rongga dan diisikan kelereng-kelereng. Dan di ujung bawah rongga itu, terdapat semacam katup yang akan terbuka cukup dengan didorong jari; tempat keluarnya kelereng. Ketapel modifikasi itu ditambah kecekatan tangannya membuat Lil mampu melempar kelereng-kelerengnya dengan cepat.

 

“Angkat dan lepaskan aku!” ujarnya, lebih menyerupai perintah, setelah melepaskan satu kelerengnya yang telak kena tangan penembak tadi hingga senapannya terlempar dan jatuh ke lantai bawah.

 

Bernard mengerti. Ditinggikannya Lil sampai bahu dan dilepaskannya pegangannya. “Jangan sampai tertembak, lho,” lalu teringat satu hal lagi, “jangan sampai jatuh juga seperti yang terakhir kali itu.”

 

Lil merayap naik dengan gerakan persis seperti monyet ke atas pundak pria kekar itu, lantas duduk di atasnya dan menopangkan satu sikunya di atas kepala si beruang sebagai penyeimbang. “Bilang begitu saat kau sudah berani menembak tepat di jantung orang, Pak Polisi.”

 

“Mantan,” ralat sang beruang, dia merebut satu senapan angin dari musuh yang sudah ambruk di belakangnya lalu melompati lima anak tangga sekaligus. “Sekarang aku sudah tidak termasuk mereka lagi, jadi istilahnya mantan, Bocah Tengik,” mengokang senapannya secepat kilat dan menembakkannya ke bahu satu-satunya musuh yang tersisa di lantai dua―sebisa mungkin tidak ingin mengakibatkan luka fatal―tepat saat kelereng Lil berhasil menjatuhkan musuh yang masih setengah sadar meski telah disikut Bernard di belakang tadi.

 

“Fiuh!” Bernard menghela napas sambil menginjak senapan tadi hingga hancur lantas menepuk-nepuk kedua telapak tangannya, matanya memeriksa sekilas dan yakin bahwa semua musuh sudah tak sadarkan diri. “Beres! Yang seperti ini bukan apa-apa buat aku yang hebat ini! Tak ada korban jiwa, itu yang penting!” bangganya sambil mengelus dagunya yang berjambang tipis.

 

“Yeah. Paling ada satu-dua yang gegar otak gara-gara disikut beruang idiot.”

 

“Atau karena kena lemparan kelereng bocah berandal bermulut kasar―duh!” jerit Bernard, mengelus bekas gigitan baru di pundaknya sementara sang pelaku sudah melompat turun dengan mulus seperti kucing ke lantai.

 

Lil menarik ujung kemeja partnernya saat pria itu melangkah ke arah yang berbeda. “Bukan di sana. Kemari, Bernard.”

 

Pria itu balas menatapnya, alisnya bertaut. “Aku yakin ke arah sini. Aku sudah membaca petanya, Lil.”

 

Lil mengangkat satu alis, tampangnya bosan. “Justru karena kau sudah  membaca petanya, Bernard, makanya kita harus ke arah sebaliknya,” pungkasnya sembari berlari kecil, sama sekali tak mendengar protes pria dewasa di belakangnya. “Kau selalu salah mengingat arah, Bernard, dan kau selalu yakin kau benar padahal tidak. Aku masih tidak percaya kau pernah jadi detektif polisi. Partnermu pasti kerepotan mengurusmu,” dengusnya.

 

Lil tidak menyadari, ketika dia menyebut kata partner, langkah Bernard melambat sejenak―benar-benar sejenak―sebelum akhirnya berderap menyusul bocah kecil di depannya, “Nah, anak kecil tidak boleh jalan-jalan sendirian,” tambahnya sambil sekonyong-konyong menggendong Lil dengan mengempitnya di bawah ketiak.

 

“Uwoi! Aku enggak suka―”

 

Namun protes Lil tak pernah berlanjut karena sebutir peluru berdesing tak jauh dari wajahnya, panasnya bahkan membakar sedikit ujung rambut Lil. Dia melihat rekannya refleks melemparkan pisau ke arah penembak di lorong di seberang. Setelahnya, segalanya terasa berputar-putar dengan sangat cepat―ternyata karena mereka berguling―untuk berlindung di balik pintu kamar terdekat.

 

“Oi, Pak Tua, kau tidak apa-apa?” cemas Lil, dia yakin sempat mencium aroma yang mirip besi―darah.

 

Yang dibalas dengusan, “Hah! Jujur, masih lebih mengerikan luka gigitan darimu!” Punggung tangan Bernard meneteskan darah, untungnya hanya luka gores dangkal. “Sial, usia tua ini membuat refleksku buruk! Masih ada dua orang di seberang sana, Lil. Dan salah satunya penembak jitu―mereka takkan keluar dari sarangnya jika peluru mereka belum membuat lubang di tubuh kita,” jelasnya sambil merobek lengan kemejanya dan membebatkan kainnya di lukanya.

 

Lil tahu Bernard terluka karena pria beruang itu melindungi dirinya. Jika saja tadi dia tidak sedang dalam gendongan Bernard, peluru itu mungkin sudah bersarang di batok kepalanya.

 

Lil melirik pria berjanggut yang kini tengah sibuk menyiapkan revolver-nya yang sebelumnya disembunyikan di balik kemeja luarnya. Dari jarak sedekat itu, bocah itu bisa melihat dengan jelas bekas luka gores besar yang melintang dari alis kanan hingga hampir ke telinga si beruang―luka mencolok yang selalu berhasil menarik perhatian Lil, seolah ada yang istimewa dari luka itu, seolah luka itu ada memang untuk dipamerkan.

 

“Bernard, maafkan aku,” ujarnya dengan suara lirih, mirip bisikan. Seandainya telinga Bernard tidak terlatih mendengarkan suara-suara lirih selama dia jadi polisi detektif, pria itu mungkin melewatkan ucapan itu.

 

Tangan Lil yang mungil perlahan meraih lengan berotot pria yang tadi melindunginya dan menggenggamnya erat. Perasaan bersalahnya sekaligus ketakutan akan banyak hal tersampaikan pada Bernard melalui jemari itu.

 

Tersenyum, Bernard melepas topi pet Lil lalu mengacak-acak rambutnya keras, “Kalau setelah dewasa nanti kau punya dada besar dan montok, aku pasti akan memaafkanmu, Lil!”

 

Lil cemberut, bibirnya mengerucut ketika dia memprotes, “Aku cowok. Enggak mungkin punya dada montok!” lantas sekonyong-konyong bangkit dan berdiri tegap sambil membusungkan dadanya, seolah-olah dengan melakukan itu ia bisa meyakinkan semua orang di dunia bahwa dirinya pantas dipandang sebagai seorang pria tulen.

 

Bernard hanya tertawa singkat, tidak ada kesan mencandai ataupun mengejek. “Daripada itu, Lil, kau yakin target kita ada di lorong sebelah sini? Bukan di seberang?”

 

Lil kontan menantap sang beruang, lantas mengangguk mantap. “Ingatanku setajam pisau, Pak Tua. Aku langsung ingat denah rumah ini cukup dengan melihat petanya sekali-dua kali,” yakinnya sambil mengetuk-ngetuk sisi kepalanya dengan telunjuknya.

 

Bernard membalasnya dengan mendengus, “Baiklah, Bocah Sok Tahu. Aku percaya padamu. Dan bisakah kita bekerja sama dengan baik kali ini? Kukira lebih tepat jika kita bergerak terpisah namun tetap terkomando.” Lantas mengulurkan tangannya yang terkepal ke arah Lil.

 

“Kau pegang janjiku, Bernard,” sumpah Lil sambil menubrukkan kepalan kecilnya ke kepalan Bernard penuh semangat. “Aku selalu di pihakmu. Ini janji antarlelaki.”

 

Bernard membalas cengiran Lil. Lantas dengan terburu-buru mengeluarkan kotak kecil berisi lensa kontak. Lil memperhatikan, ternyata rekannya tidak main-main kali ini. Tentu saja, lawan mereka kali ini ada penembak jitu, tidak aneh.

 

“Kurasa masih ada satu penjaga di sisi target, Lil, suasana ini terlalu sunyi jika lebih dari itu. Dan kuyakin dia bersenjata. Kau serius tidak apa menerobos sendirian?” cemas Bernard.

 

Lil sudah bersiap di posisinya, di ambang pintu di seberang Bernard. “Tak masalah. Akan kubebaskan Sang Putri.”

 

“Bagus. Aba-aba dariku,” komando Bernard, kini telah menempel rapat pada dinding di samping pintu. “Go!” pekiknya sambil menarik daun pintu hingga terlepas dari engselnya dan memosisikannya sebagai perisai di depan tubuhnya lantas menerjang keluar.

 

Sekonyong-konyong letupan senjata api terdengar membahana, susul-menyusul dari koridor seberang. Sayang, sebagian besar pelurunya hanya bersarang dengan percuma di kayu tebal berkualitas tinggi yang sebelumnya berupa daun pintu dalam genggaman Bernard.

 

Lil menyusul, dengan gesit dia melompat ke arah sebaliknya dan melesat dengan kecepatan yang mirip hewan liar, bersembunyi di celah-celah tiap kali peluru berdesing. Dia memang tak seperti Bernard, yang bisa menghancurkan pintu dengan sekali tendang, maka dari itu dia terpaksa membuka pintu-pintu untuknya bersembunyi dengan cara orang biasa―memutar kenop. Kekhawatirannya hanya satu, dan itu begitu fatal: bagaimana jika pintu-pintu itu terkunci?

 

Mustahil Lil menghabiskan waktu dengan mencoba membongkar kunci tiap-tiap pintu. Bisa-bisa Bernard yang kini melindunginya dari peluru di koridor seberang makin kesulitan. Belum lagi jika penjaga targetnya muncul dan mulai menembakinya juga.

 

Mendadak terdengar suara berdentum dari arah punggungnya. Spontan Lil menoleh: Bernard tengah berderap lari menuju penyerangnya.

 

“Oh, tidak! Dia mulai nekat! Memangnya dia sebegitu percayanya punggungnya akan aman dari serangan!?” gerutu Lil, kaget sekaligus jengkel. Tapi, memang begitulah Bernard yang dikenalnya. Dan karena itu pulalah, pria itu harus beraksi bersama seseorang, setidaknya untuk melindunginya dari belakang.

 

Dan itulah tugas Lil sekarang.

 

Dan Lil mengerti.

 

Tanpa ragu, Lil merogoh saku dan mengeluarkan beberapa peledak racikan buatannya. Tiga selongsong dikepitnya di antara jemari tangan kanan dan digeseknya sumbunya di selembar logam yang terikat di punggung tangan kirinya.

 

Satu untuk pintu di sisi kiri, satu untuk pintu di sisi kanan, dan yang terakhir untuk pintu di ujung lorong.

 

Bunyi ledakan berturut-turut, asap yang mengepul, dan bau mesiu menyeruak seketika di koridor tempatnya berada. Di antara seluruh kekacauan itu, Lil samar-samar mendengar jeritan wanita.

 

Sang target.

 

Kaki-kaki kecil Lil berderap menuju pintu di sebelah kanan, yang sebagiannya telah hancur terbakar berkat peledak yang dilemparkannya tadi. Dengan mudah dia menerobos masuk. Ia berhadapan dengan seorang pria ceking bermata cembung tengah membidikkan bedil yang sepertinya telah berumur tua ke arahnya. Tak jauh dari pria itu, seorang wanita bergaun malam tengah terikat di sebuah kursi kayu, matanya yang basah dengan air mata tampak memandang liar penuh ketakutan.

 

“Hah! Bocah kecil??” cemooh sang pria ceking.

 

Lil mengabaikannya, namun satu tangannya yang cekatan tetap bersiaga di dekat saku sementara satu tangannya yang lain telah menggenggam erat ketapelnya.

 

“Kami datang untuk menolongmu, Tuan Putri, dan mengembalikanmu ke tunanganmu,” imbuh Lil, datar. Tak ada kesan dia bermanis mulut, namun keseriusan tampak jelas di matanya.

 

“Jangan harap!!” amuk sang penjaga jahat sambil menarik pelatuk senjatanya dengan tangan gemetar. Sebutir peluru dimuntahkan dari moncongnya, arahnya melenceng dan Lil tidak perlu bergerak banyak untuk menghindarinya.

 

Lil segera mengerti bahwa lawannya tidak terbiasa dengan senjata api itu.

 

Lil mendengus, “Payah sekali. Kemampuan menembakmu bahkan jauh di bawah Beruang Tua di sana,” lantas menjulurkan lidah dan mengacungkan jari tengahnya tinggi-tinggi, “kau pasti kalah dariku, Bajingan.”

 

Lantas menjejakkan kakinya kuat-kuat di lantai dan melontarkan tubuhnya ke samping, bersembunyi di balik perapian dingin yang tak pernah dipakai sepanjang musim panas itu. Dari sana, dia menembakkan kelerengnya cepat-cepat ketika lawannya mulai panik menembak membabi-buta.

 

Satu kelerengnya mengenai tangan, senjata sang musuh terlontar jauh. Satu kelereng lagi dibidiknya ke mata musuh.

 

“Maaf, tapi apa boleh buat, ini terpaksa. Hanya sebelah saja kok.”

 

Pria ceking itu menjerit-jerit sambil menggeliat kesakitan, tangannya memegangi sebelah matanya yang mengucurkan darah. Tak  lama kemudian, pria itu tumbang dan tak sadarkan diri.

 

Melihat keadaannya sudah aman, Lil perlahan-lahan mendekati sang sandera. “Tidak apa, aku akan menolongmu,” jelasnya sambil membuka ikatan sang wanita, “tapi kuharap kau tidak akan membuat kami repot saat keluar nanti.” Lil mengakhiri ucapannya dengan seringai mengancam yang membuat bulu kuduk sang wanita merinding.

 

Tak lama kemudian, Lil mendengar suara partnernya, “Oi, Lil, di sana beres?”

 

“Semudah membalikkan telapak tangan.” Ia menyadari bunyi-bunyi letupan senjata sudah berhenti sama sekali, lantas menarik kasar lengan sang wanita hingga keluar kamar. “Aku justru lebih mencemaskanmu. Bisa-bisanya kau berlari mendekati musuh. Apa selain sudah tua, kau juga sudah tidak waras?”

 

Dan ketika sudah berdiri di lorong, Lil spontan memandang ke koridor seberang dan mencari-cari sang partner.

 

Di sanalah Bernard berada: duduk di atas daun pintu yang dibawa-bawanya tadi, sementara di bawah daun pintu itu seorang pria asing berambut merah tertindih.

 

Lil mengernyit, “Uh... kuharap tulang-tulangnya masih utuh. Atau lebih tepatnya... kuharap dia masih hidup.”

 

Perlahan-lahan Bernard bangkit, lantas mengusap sepatu kulitnya yang sedikit berdebu, “Kautahu aku tidak suka mencabut nyawa orang. Dia masih hidup. Aku bahkan yakin nyawanya tidak terancam.”

 

Lil menaikkan alis, “Yah, semoga saja. Aku sih tidak yakin, Bern.”

 

Bernard mencabut pesawat telepon di sisi lorong sambil lalu dan melemparkannya ke arah sang wanita. “Tolong telepon rumah sakit, Nona Cantik,” ujarnya sambil mengerling genit. Yang justru dibalas Lil dengan ekspresi berpura-pura muntah.

 

Pria beruang itu lantas merogoh saku dan mengeluarkan ponselnya sendiri, memencet beberapa nomor dan menunggu respons di seberang.

 

Sang wanita tampak kebingungan. Selama beberapa detik dia hanya mematung tak berguna sampai akhirnya Lil menyadarkannya dengan kata-katanya yang tak pernah dipilah.

 

“Kau tidak dengar apa katanya, hah? Telepon rumah sakit. Sekarang. Kecuali kalau kau lebih suka mempertanggungjawabkan semua ini.”

 

Sambil mengantongi kembali ponselnya, Bernard berkata pada Lil, “Sebentar lagi Paman Philip-mu kemari, Lil.”

 

Mendengar nama itu disebut, serta-merta mata Lil melotot marah. “Satu!” mulainya dengan suara keras, hampir-hampir berteriak, “dia bukan pamanku!”

 

“Dua!” lanjut sang bocah sembari mengacungkan telunjuk dan ibu jarinya tinggi-tinggi—perempuan sang target gemetar dan menutup telinganya sementara Bernard hanya mengangkat bahu, menunjukkan bahwa dia tidak peduli—, “aku membencinya!!! Sangaaaaat membencinya, dan kautahu itu, Bern!”

 

Lalu si bocah menambahkan satu jari lagi, “Tiga!” sergahnya dengan volume suara yang masih sama tingginya.

 

“Aku!” Dia menjejakkan kakinya keras-keras, maju satu langkah ke arah Bernard. “Juga!”—langkah kedua—“Sangat!”—langkah ketiga, kini dirinya hanya terpisah beberapa inci dari Bernard—

 

“Membencimu!!!!!”

 

Tandasnya keras sambil menusukkan jari telunjuknya dalam-dalam ke perut sang beruang, berusaha menunjukkan seberapa kuat kekesalannya pada sang pria raksasa akibat perkatannya barusan—tapi, sayangnya, telunjuknya yang mungil itu hanya bagaikan gigitan nyamuk bagi otot-otot Bernard.

 

Bernard sempat terpaku, sejenak.

 

Sang nona juga berhenti menelepon.

 

Lantas sang beruang tergelak keras. Suaranya yang membahana membuat bangunan dua tingkat itu bergetar samar. Di tengah gelaknya, dia mengacak-acak rambut partner mungilnya—lebih karena refleks dibandingkan disengaja. Dan kelakuannya itu kontan membuat wajah Lil merah padam karena merasa dipermalukan.

 

“Jangan tertawa!” tukasnya sambil menonjok keras perut sang beruang; usaha yang tidak berarti. Namun sang beruang justru tergelak makin keras seolah-olah dia tengah menonton pertunjukan komedi terkocak di dunia.

 

“Kubilang, jangan tertawaaaaaa!!!” namun Lil keras kepala, meski tahu usahanya memukul Bernard sia-sia, dia tetap terus memukul sekuat tenaganya mampu, berkali-kali.

 

Setelah Lil berhenti memukul karena letih dan kepalan tangannya mulai terasa sakit, Bernard menyeringai, “Nyerah?” lantas menyentil sepelan mungkin dahi Lil yang sukses membuat bocah itu terdorong mundur beberapa langkah sembari meringis kesakitan.

 

Mengabaikan teriakan amarah Lil, Bernard berjalan ke pintu utama di lantai bawah setelah mendengar bunyi alarm mobil polisi dan decitan ban-ban di luar. Tampaknya kawan lamanya, Philip, sudah tiba bersama rombongan polisinya yang berisik.

 

“Brengsek kau, Bernard!!!” Itulah yang pertama terlontar dari mulut sang inspektur muda ketika wajah Bernard muncul di ambang pintu yang telah dijebol, tangan si Beruang bersidekap dan sosoknya bersandar malas ke sisi pintu, seringai jahil mewarnai wajahnya.

 

Inspektur Philip adalah seorang perwira bertubuh pendek dan cenderung kurus, penampilan yang secara keseluruhan mengesankan bahwa dia berperawakan kecil. Usianya terpaut hanya beberapa tahun lebih muda dari Bernard. Rambutnya sangat pirang dan mencolok, berbeda dengan Bernard yang cokelat keabu-abuan seperti bulu tikus. Tangannya berkacak pinggang, raut wajahnya penuh kejengkelan dengan kerut-kerut halus di antara kedua alisnya dan bibir yang menekuk tajam ke bawah.

 

“Hai, Philip, rindu padaku?” canda Bernard—cenderung lebih kepada mencemooh.

 

Serta-merta sang inspektur menarik keluar senjata apinya dari pinggangnya. “Minggir, Sialan! Jangan berani-beraninya kau membuatku lebih jengkel dari ini!!!” Beberapa anggota kompi terdepan yang berada tepat di belakangnya segera meniru tindakan sang pimpinan dengan mengacungkan pistolnya masing-masing ke arah Bernard.

 

Cengar-cengir tanpa rasa bersalah, Bernard mengangkat kedua telapak tangannya dan menyingkir dari jalan. “Silakan, maaf rumahnya berantakan,” lirih Bernard, sengaja memicu amarah sang inspektur yang sangat berhasil: Philip mendelik kesal padanya.

 

“Berpencar!” komando Philip pada seluruh anak buahnya yang segera berlarian ke tiap penjuru rumah yang sudah setengah hancur itu. “Tangkap semua pelaku yang ada di rumah ini! Jangan biarkan seorang pun lolos!!!”

 

“Heh, padahal tidak perlu terburu-buru pun tidak masalah, toh semuanya sudah kami buat tidur—dengan paksa,” lirih Bernard dengan nada merendahkan.

 

Inspektur itu mengabaikannya dan berjalan dengan langkah tegap dan tergesa-gesa menuju tangga, mengarahkan kakinya kepada sesosok wanita yang telah dilihatnya sejak pertama memasuki rumah itu. Wanita itu adalah orang yang semestinya dijaga dan dilindunginya beberapa minggu lalu, namun dia gagal dengan sangat memalukan. Apalagi yang menolong wanita itu justru Bernard—orang yang benar-benar dibencinya.

 

“Maafkan saya, Nona Lily. Saya... seharusnya saya tidak melonggarkan penjagaan terhadap calon menantu Perdana Menteri seperti Anda.”

 

Setelah kedatangan pihak kepolisian, sang nona tampak jauh lebih lega ketimbang sewaktu hanya bersama Lil dan Bernard. Selain karena merasa lebih tenang dengan hadirnya Inspektur Philip yang telah dikenalnya, Lily akhirnya bisa merasa bahwa dirinya benar-benar telah terselamatkan.

 

Lily menggeleng, “Tidak. Aku tidak apa-apa, dan itulah yang terpenting, Inspektur,” jelasnya dengan sikap anggun khas putri bangsawannya yang telah kembali setelah sempat lenyap ditelan ketakutan dan teror.

 

“Sekarang, bawalah aku pulang secepatnya ke tempat tunanganku berada. Aku... aku rasa itulah yang terbaik agar tidak terjadi keributan yang lebih dari ini. Aku tidak ingin negara ini menjadi kacau hanya karena aku,” imbuhnya mengiba. Bulir-bulir air tampak menggenang di pelupuk matanya. Lalu sekonyong-konyong wanita itu jatuh terduduk. Tenaga yang telah dipertahankannya sekuat mungkin sedari tadi kini lenyap seketika. Rasanya untuk berdiri saja dia tidak sanggup lagi.

 

“Waduh, waduuuuh...” ujar Lil, berusaha tampak prihatin namun jelas-jelas gagal. “Hei, Pak Inspektur! Gendong nona itu, dong! Itu tugasmu, bukan?” tandasnya sambil menunjuk-nunjuk Philip dengan tidak sopan, cara yang biasa digunakannya saat ingin mengejek sang inspektur.

 

Philip berdecak kesal, “Itu bukan tugas polisi, asal kautahu! Tapi... sudahlah, dasar bocah tidak tahu sopan santun!” lantas dengan enggan mengangkat bahu Lily ke pundaknya... namun batal. Bernard sudah dengan cekatan mengangkat tubuh Lily lebih dulu dan menggendongnya di depan tubuhnya ala tuan putri.

 

“Payah kau, Philip. Begini cara yang benar memperlakukan seorang putri!” lantas tergelak lagi. Sikapnya seolah-olah dia baru saja memenangkan pertarungan hidup-mati melawan Philip. “Sungguh, padahal sudah berpuluh-puluh tahun kita saling kenal, tapi kau tidak juga berubah, Philip—tetap kaku memperlakukan wanita.”

 

Philip hanya mendesis, “Ck!”, tidak mampu membalas kata-kata kurang ajar dari rekan lamanya.

 

“Makanya kau tidak pernah populer dengan wanita. Haaaah... wajah tampanmu itu jadi sia-sia, tahu! Meski, well, aku memang jauh lebih tampan,” lanjut Bernard, mengeluh seolah-olah dirinya peduli. “Atau kalau kau perlu objek untuk latihan, bawa saja bocah tengik di sana untuk jadi partner wanitamu!” disusul gelak tawa lantang khasnya.

 

“Heeeeeeh!!????” kini gantian Lil yang bersuara. “Aku tidak sudi! Aku benci dia, Bernard!!!”

 

“Dan aku juga benci kau, Bocah Sial!!” balas Philip tak mau kalah—jelas-jelas berusaha menyembunyikan wajahnya yang merah padam karena merasa dipermalukan. “Dan aku tidak perlu nasihat maupun latihan apa pun!” tukasnya lantas berjalan ke arah lorong tempat sosok pria ceking bermata cembung yang ditumbangkan Lil berada.

 

“Berakrab-akrab rialah bersama Paman Philip, Lil!” gelak Bernard terdengar dari arah bawah. “Sementara aku akan mengakrabkan diri bersama nona ini!”

 

“Beruang sialan itu dan bocah peliharaannya sama saja! Selalu membuatku naik pitam!” balas Philip di sela-sela langkahnya yang mengentak. “Cepat selesaikan penangkapan seluruh pelaku! Aku ingin cepat-cepat berpisah dari tempat ini dan kedua bajingan itu!” tambahnya dengan suara keras, mengomandoi anak buahnya.

 

Lil berlari sambil melompati para polisi yang berseliweran di sekitarnya, untuk mengejar Beruang Tua yang tengah merayu sang wanita menuju mobil polisi terdekat. Mulutnya mengerucut. Lil tahu Bernard paling hobi merayu wanita dan tidak jarang pula dia melihatnya membawa wanita ke apartemen mereka—wanita yang selalu berbeda tiap kalinya.

 

“Dasar beruang tua mesum!” makinya seraya melepas sebutir kelereng berukuran jumbo dari ketapel modifikasinya, yang sukses membuat Bernard yang baru selesai menurunkan sang putri ke jok belakang mobil itu mengumpat.

 

Sambil menggosok punggungnya yang kini sedikit memerah berkat kelereng jumbo Lil, Bernard mengacungkan ibu jarinya ke arah partnernya dan meringis, “Lumayan.”

 

Lil berkacak pinggang. “Rasakan itu! Jangan pernah meremehkan anak kecil, Pak Tua!!” lantas berbalik arah dan mulai menjauh dengan angkuh, “aku pulang duluan.”

 

Bernard kontan terkejut dan membalasnya, “Pulang? Bukannya sebelum ini kau merengek-rengek minta ditraktir es krim dan hotdog di Taman Berley di dekat persimpangan sana begitu tugas ini selesai?”

 

Tanpa menghentikan langkahnya, Lil hanya menjawab, “Ingat sekarang jam berapa, Bern, tidak ada tukang es krim maupun hotdog di belahan dunia mana pun tengah malam buta begini,” lalu bocah berisik itu pun mendadak hening.

 

Setelah mengucapkan selamat tinggal pada sang wanita dan mengecup jemari lentiknya hanya sebagai formalitas, Bernard segera menyusul partnernya—dengan hanya beberapa langkah besar—lantas tanpa peringatan sekonyong-konyong mengalungkan lengan besarnya di pinggang Lil dan mengangkatnya seperti dia mengangkat Lily sebelumnya.

 

Untuk kemudian menggendongnya ala tuan putri.

 

“Tung—HEI!!”

 

Melihat partner kecilnya panik dan berusaha memberontak dalam gendongannya, Bernard tergelak keras-keras. “Repot memang punya bocah yang cepat ngambek sepertimu! Jangan cemburu gitu dong, kau tetap yang terutama bagiku, Lil,” ditambah kerlingan mata centil, “asalkan nanti kau tumbuh jadi wanita cantik bertubuh seksi,” imbuhnya dengan gerakan tangan yang berkelok menggambarkan lekuk tubuh wanita di udara kosong.

 

Yang segera disusul tamparan dan tonjokan dan cubitan dan tendangan dan sikutan dan gigitan kecil dari monyet kecilnya.

 

Namun tak satu pun dari serangan kecil itu yang mampu menghentikan gelak puas sang Beruang. Dia tahu Lil-nya hanya sedang merajuk dan tidak betul-betul marah—lantaran bocah itu tidak mengeluarkan ketapel maupun peledaknya atau senjatanya yang lain.

 

Serta-merta Lil mengacungkan telunjuknya ke depan mata sang beruang. “Berani-beraninya kau memperlakukanku seperti cewek, Paman Tua! Sebagai hukuman, traktiran es krimnya kuminta tiga scoop dan hotdog-nya yang spesial dengan double cheese dan banyaaaaaak mayones!!!”

 

“Hehe... kuharap perut kecilmu itu tidak sakit setelahnya, Lil. Porsinya terlalu besar, kukira.”

 

“Enggak peduli.”

 

“Kau bisa terjangkit kolesterol nanti. Kau harus diet.”

 

“Akan kupertimbangkan kalau usiaku sudah setua dirimu, Beruang Sial.”

 

“Aku bukan ‘Beruang Sial’, My Cute Little Lil.”

 

“Hentikan panggilan menjijikkan itu, Tua Bangka, bulu kudukku sampai merinding mendengarnya.”

 

“Bisakah kau berhenti memanggilku—sudahlah. Kita baru menyelesaikan misi, aku letih, kau letih. Kita gencatan senjata saja kali ini. Setuju?”

 

Menguap, Lil mengacungkan ibu jarinya tinggi-tinggi, “Hwetuju, Hwern.” Lalu, samar-samar seolah diucapkan dalam tidur, bocah itu bergumam, “Sorry soal luka tanganmu, Bern,” yang membuat Bernard tidak tahan untuk mengusap pelan rambut kusam bocah itu.

 

Dalam beberapa langkah Bernard, Lil sudah tertidur lelap, menggelung nyaman dalam balutan lengan raksasa partnernya yang hangat.

 

“Selamat tidur, Lil.”

 

Sosok mereka seolah melebur dengan malam, meninggalkan kericuhan yang berasal dari rumah hancur lebur yang dipenuhi polisi tak jauh di belakang mereka. Hanya bunyi gemerincing kecil dari peralatan logam di saku Lil yang menemani langkah sunyi Bernard.

 

 

Gie

15.08.2015

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
80

Titip jejak dulu. Ntar malam dijelajahiii.

^_^