Ter... Tu... Kar?! - Part 2

Pagi ini adalah hari pertamaku sebagai siswa kelas 3 di semester kedua. Tapi aku harus memulainya dengan sebagai bukan diriku, melainkan sebagai Tasya. Sangat aneh sekali rasanya aku datang kesekolah mengenakan rok, bukan celana panjang seperti biasanya. Di semester 2 kelas 3 ini kelas akan di urutkan sesuai hasil Try Out menjelang Unas yang dilaksanakan sebelum liburan semester kemarin. Mereka yang mendapat nilai tinggi akan di kumpulkan bersama yang nilainya tinggi, dan yang nilainya rendah akan dikumpulkan dengan yang bernilai rendah. Sehingga sekolah akan memberikan porsi belajar yang berbeda.

Segera kucari nama Anastasya Amelia Putri, tak lamapun sudah aku temukan nama itu. Karena nama itu termasuk dalam kelas 3 IPS 1, mereka yang di masukkan di kelas 3 IPS 1 tergolong mendapatkan nilai tinggi di Try Out kemarin. Pintar juga ini anak batinku. Yang jadi masalah adalah, sebelumnya aku kelas IPA, dan aku sama sekali nggak paham pelajaran anak IPS. Mesti bagaimana aku?

Masih dalam situasi kalut tentang pelajaran nanti tiba-tiba ada suara yang memanggil. “Oooi Sya… maen basket dulu yok bentar,” aku kenal dengan suara yang memanggil ini. Dia adalah Citra, teman Tasya di ekskul basket. Yang jadi masalah aku nggak bisa main basket sama sekali. Lagi-lagi masalah yang tidak bisa aku tangani datang. Meskipun sekarang aku dalam tubuh Tasya tapi aku tetap aku. Aku tetap enggak tau apa yang harus dilakukan waktu main basket. Passing sering meleset, dribble saja juga nggak bisa. Aku golongan anak yang enggak bagus olahraganya. Ujian praktik renangku sebelumnya hanya diberi nilai pas oleh guru olahraga hanya karena kasihan.

Aku berfikir alasan apa yang akan aku pakai untuk menolak ajakan Citra. “Ahh… Cit… E… Gue lagi mules… jadi ga ikutan dulu ya. A… a…kuu… ke toilet dulu ya,” ah betapa klasiknya alasanku. Selain itu akupun langsung lari ke toilet yang kebetulan ada di dekat papan pengumuman tadi. Namun karena kebiasaan sebagai cowok, aku malah masuk ke toilet cowok. Kontan saja beberapa siswa yang ada di dalam nampak kaget ketika aku masuk toilet cowok. Ada yang teriak, ada yang tidak sengaja terjepit, karena buru-buru menaikkan celana. Dengan segera saja aku keluar, sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dan daripada terjadi hal-hal yang tak bisa kuatasi lagi. Aku segerakan menuju ke kelas.

Sesampainya di kelas 3 IPS 1 kulihat sekeliling dahulu. “Orang di kelas ini yang aku kenal hanya Ari, Bakti, dan… Bella,” dalam hati aku seperti kegirangan ketika aku mengetahui sekelas dengan Bella. Walau aku sekarang dalam tubuh Tasya.

“Ah… kamu di kelas ini juga ya Sya…!” Sapa Bella yang menyadari kedatanganku.

“Haa… ha ha iya, Bell,” Aku menjawabnya dengan gembira.

“Hmm… dah lama ga sekelas nih Sya, terakhir kelas 6 SD dulu. Sebangku sama gue yuk, masih kosong nih sebelah gue,” Bella mengajakku untuk sebangku dengannya.

“JACKPOOOOOT,” teriakku dalam hati. Walaupun penderitaanku cukup banyak sejak pulang dari kemah. Namun dengan dapat sebangku di kelas dengan Bella, serasa penderitaan sejak kemarin hilang semua dalam sekejap mata.

Karena aku sama sekali enggak paham segala pelajaran jurusan IPS. Maka selama pelajaran kuhabiskan waktuku dengan bengong ataupun curi-curi pandang ke Bella.

***

Jam istirahat siangpun tiba. Aku hendak ke kantin untuk membeli makan siang. Sebenarnya aku hendak mengajak makan bersama Bella. Namun entah kenapa aku masih malu setengah mati, walau sekarang aku dalam tubuh Tasya. Aku jadi ingat, sejak pagi aku belum bertemu Tasya sama sekali.

“Beh… hebat broo! enggak tau gue kalo lo maen basketnya keren juga,”

“Ia beneran ga nyangka, Gua kira lu cuman bisa ngumpet di kelas nyalain laptop dan nyetel kartun doang, sering-sering kayak gini dong!”

“Haha, oke lah! Tapi sori yah guenya cepet capek, ga bagus banget stamina gua” Terdengar suara tubuhku, yang di dalamnya pasti sebenarnya adalah Tasya.

Ah, ini anak memang panjang umur banget, barusan kupikirin. Tapi, entah kenapa sepertinya seorang Tito tapi di dalamnya Tasya lebih populer daripada yang didalamnya diriku, aku sepertinya jadi sedikit iri dalam hal ini. Sepertinya Tasya tidak mengalami masalah apapun ketika menggantikanku saat ini.

Disaat aku masih melihat Tasya dan yang lainnya bermain basket tiba-tiba ada yang memanggil, “Heei Sya! Sini lo, ikut gua!” Kutengok belakangku, dan yang memanggil barusan adalah Tere.

“Ada yang perlu gue omongin!” Imbuh Tere sambil menarik tanganku. Karena tak mengerti apa yang terjadi akupun menurut saja dan ikut bersama Tere. Tere menarikku sampai ke gedung tempat ruangan-ruangan ekskul berada.

Bagian belakang gedung ruangan eksul cukup sepi ketika diluar jam pulang sekolah, ketika terpikir akan hal itu pikiranku menjadi tidak enak. Dan benar perasaan itu menjadi kenyataan saat baru saja aku berbelok sampai belakang gedung eksul mengikuti Tere. Tiba-tiba muncul Tedi Tongos dari balik belakang gedung, dan tanpa basa-basi Tedi melayangkan pukulannya yang terkenal akan kesakitannya itu ke perutku.

“Bukkk!”

Sakit, sangat sakit sekali perut ini ketika kepalan tangan Tedi itu bersarang di perutku. Rasa sakit ini serasa menjalar sampai keseluruh tubuh ini, sampai membuat kedua kaki ini melemah dan tak mampu berdiri. Karena kaki yang melemas membuatku berlutut sambil terus memegangi perut yang masih sakit.

“Hoooi kenapa ga ngelawan! Biasanyakan lu banyak omong Sya, cuman omong doang ya!” Hardik Tere dengan gaya suara angkuh. Aku benar-benar tak tahu apa yang sebenarnya yang membuat mereka hendak memukuliku, karena itu aku tidak menjawab hardikan Tere dengan kata apapun.

Terepun kembali mendekat. Dia menjambak rambutku sambil berbicara tepat di depan wajah, “Udah sadar ga! Kan udah gua suruh buat jauhin Dion, tapi lu waktu kemah kemarin masih aja.” Jadi masalah perebutan cowok ya. Selesai mencerca tepat di depan wajah ini, dengan masih menjambak rambutku dibenturkannya kepalaku ke dinding. Belum reda sakit yang ada di perut, sekarang bertambah lagi rasa sakit yang muncul di dahi. Semakin lemas saja rasanya tubuh ini karena rasa sakit yang luar biasa.

“Dah Ted… lu pukulin aja dia beberapa kali lagi, abis itu lu nikmatin juga boleh dah nih anak. Gua pingin liat mukanya tambah bonyok lagi,” perintah Tere menyuruh Tedi.

“Ted lo…” Belum selesai aku berbicara kepalan tangan Tedi menghantam kepalaku. Membuatku tersungkur ke tanah. Rasa sakit ini hampir membuatku kehilangan kesadaran.

“Woooi apa yang kalian lakuin...!” Tiba-tiba terdengar seperti suara Tasya.

“Ngapain lo bocah culun ke sini! Jangan ganggu kami To!” Kata Tedi mengintimidasi Tasya.

“Hoo... weei culun! Jangan-jangan lu ada rasa sama ini anak, tapi urusan lu entaran aja. Dan sekarang pergi ga usah ikut campur!” Terepun juga ikut menghardik Tasya.

“Ahh bodo amat!“ Teriak Tasya sambil mengarahkan tangannya untuk memukul kepala Tedi. “Buk,” namun Tedi tak bergeming sedikitpun. Tedi hanya tersenyum ke arah Tasya disusul dengan ejekan, “Cuman segitu? Seratus kali lu pukul gua terima kok! Hahaha.”

Disaat tedi masih tertawa terbahak-bahak, kulihat Tasya dengan segera menendang daerah vital Tedi. Seketika itupula tawa Tedi berubah menjadi jerit dan tangisan sekeras-kerasnya. Tedipun lanngsung bertekuk-lutut sambil memegangi perutnya. Terbayang sekali olehku pasti sakitnya tendangan yang dilancarkan Tasya tadi.

“Heh jangan serang itunya dong! Kalo gitu jelas kalahnya!” Tere marah karena pionnya untuk memukul kalah dalam waktu sekejab.

“Halah lu juga sama aja kok, buat hajar Tasya aja pake ngajak Tedi!” Tasya balik menjawab dengan nada memarahi Tere. “Dah sekarang lu pergi ga! Tedi dah tumbang, klo lo mau, gua bisa aja bonyokin lo sekarang juga!” Ancam Tasya.

“Cih… ,“ setelah membuang ludah tanpa memperhatikan keadaan Tedi, Tere langsung berbalik dan meninggalkan tempat.

“Dan elu, mau sampai kapan rebahan di situ?” Tanya Tasya kepadaku dengan tegas.

“Apapun itu makasih ya,” aku berterima-kasih ke Tasya atas pertolongannya.

“Ah, ga usah dipikirin,” jawabnya dengan enteng.

Kami berduapun meninggalkan Tedi yang masih tengkurap sambil memegangi perutnya. Sambil berjalan di belakang Tasya, aku mulai penasaran penyebab sebenarnya Tasya dan Tere bertengkar.

“Sya, kenapa emang lu sama Tere berantem? Masalah Cowok?” Tanyaku.

“Yah gitu dah, sori jadi ngebawa elu...” jawabnya singkat.

Sesaat setelah itu aku menjadi tertawa kecil karena terpikir olehku, bahwa sebenarnya yang asli cowok adalah aku, namun justru aku yang diselamatkan oleh Tasya yang sekarang di dalam tubuhku.

“Kenapa lu ketawa?” Tanya Tasya yang penasaran.

“Habisnya kalau dipikir-pikir aneh juga ya, yang sebenernya cowok itu gua, tapi malah gua yang diselametin,” jawabku dengan tersenyum.

“Ah… gitu? Habisnya elo jadi cowok lembek amat sih, tadi awalnya aku mau diem aja waktu elu diajak sama Tere. Tapi liat elo kayak enggak bisa ngelawan, yah akhirnya gue maju.”

“Yah, makasih dah.”

 Dari ini aku mulai sadar untuk seorang cewek, Tasya adalah cewek yang kuat. Kurasa dia sering sekali mengalami hal-hal seperti tadi. Bukan hanya masalah antar cewek di sekolah, namun juga kalau kuingat semalam sewaktu pulang ke rumah Tasya. Saat aku tiba di sana tak ada satu orangpun di rumahnya. Yang aku tahu dari teman-temanku yang lain orang tua Tasya telah bercerai, dan Tasya ikut dengan ibunya. Sehingga kusimpulkan bahwa Tasya hanya hidup dengan ibunya saja.

Kalau ingat ibunya, aku jadi penasaran. Sebenarnya ibunya Tasya itu kerjanya apa? Saat aku tiba di rumahnya malam-malam ibunya tidak ada di rumahnya, dan kulihat baru pulang saat aku akan berangkat ke sekolah.

“Anu… Sya, kalau boleh tau sebenarnya ibumu itu kerjanya apa? Ketika malam dia nggak ada, dan baru balik dah pagi banget.”

Seketika itu Tasya langsung terhenti dari langkahnya. Dan langsung merundukkan kepalanya. Saat itu aku mulai menduga bahwa ibunya Tasya bekerja sebagai penghibur malam, sehingga beliau selalu pulang pagi-pagi. Dengan keadaan orang tua yang bercerai, ibu yang bekerja sebagai penghibur malam, dan keadaan beberapa teman di sekolah yang tidak menyenangkan. Kurasa aku mulai mengerti kenapa dia begitu kuat.

“Anu… maaf Sya, seharusnya gua enggak nanyain itu,” Akupun segera meminta maaf untuk mengembalikan suasana.

Tapi seketika itu juga dia langsung menaikan wajahnya dan bertanya, “Buat apa minta maaf?”

“ Yah itu tadi, nanyain kerjanya ibu lo, jadinya lo langsung gitu,” jawabku dengan kebingungan.

“Oh… jangan-jangan elu kira ibu gua kerjanya yang enggak-enggak gitu? Yah santai aja dia cuman kerja di minimarket 24 jam dan kebagian di jadwal jaganya malam,” jawaban Tasya itu sedikit membuka senyumku.

Aku jadi terpikir “apa akan baik-baik saja pertukaran peranku dengan Tasya ini?” Dengan pikiran seperti itu kuberanikan untuk menanyainya, “Sya, lu lancar-lancar aja ngejalanin jadi gua?”

 

“Hmm… kalau dibilang baik sih jauh, bener-bener nggak enak banget nih tubuhmu, gampang capek kalo olahraga, bener-bener dah stamina lo payah, belum lagi pelajaran-pelajaran anak IPA, bener-bener out  dah gua, mana pukulan lo juga ga kuat! Kayaknya emang elu pas jadi cewek aja,” cerca Tasya.

“Jangan gitu dong! Emangnya elu ga mau balik ke tubuh asal lo?” Aku langsung mengomentari cercaannya.

“Lha emang sekarang mau gimana?” Setelah pertanyaan itu kembali terulang, kami berduapun menjadi terdiam sejenak.

Aku jadi terpikir jika kita terus menyembunyikan hal ini, kurasa tak aka nada kemajuan sedikitpun tentang pertukaran tubuh kami. “Sya, gimana kalo kita coba beritahu problem kita ini ke temen yang menurut lo bisa dipercaya, ini solusi sementara dari gua, jadinya masalah kita tetep selesai, dan rahasia kita juga tetep aman,” tawarku.

Sejenak dari kesunyian yang sempat menghampiri kami berdua dia langsung menatapku dengan wajahku.

 

Bersambung...

Read previous post:  
31
points
(2210 words) posted by lost_boy 3 years 38 weeks ago
51.6667
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | cinta | fiksi | komedi
Read next post:  
Writer fibifa
fibifa at Ter... Tu... Kar?! - Part 2 (3 years 29 weeks ago)

Kerenn.....lanjut chapter 3 yaa kalo bisa

Writer dikut
dikut at Ter... Tu... Kar?! - Part 2 (3 years 31 weeks ago)
50

Bagi para penulis
share juga yuk cerpen/puisi/cerbung kalian di http://tempatnulis.com/

di tunggu ya.

Writer akuma89
akuma89 at Ter... Tu... Kar?! - Part 2 (3 years 32 weeks ago)
80

Tetep menarik di chapter 2 ini.
Dipertahankan ya.
^.^

Writer shinagakari
shinagakari at Ter... Tu... Kar?! - Part 2 (3 years 33 weeks ago)
50

mirip drama korea :)

Writer lost_boy
lost_boy at Ter... Tu... Kar?! - Part 2 (3 years 32 weeks ago)

haha... padahal yang bikin ga pernah nonton korea-koreaan

setelah di baca lagi ternyata ada beberapa typo...
sori dah...