Menuju Temaram Part 1

Raungan Khas & Pertemuan

Jalan malam yang gelap dan berdebu, menandakan gersangnya terminal disiang tadi, Putri menduduki bangku di tempat gelap dan berdebu itu. Sesaat setelah tamparan keras mengguncang hatinya saat menjelang malam, ia mencoba melupakan sesuatu yang besar dan mengganjal keras dihatinya, pipinya yang putih dan mulus, seketika berubah menjadi merah dan berlukis telapak tangan yang besar. Telapak tangan yang dulu pernah menghidupinya hingga ia masuk sekolah di sebuah universitas. Ayah kandungnya sudah tiada sejak ia dalam kandungan, Ibunyapun pergi dan tinggal di negeri orang, satu satunya yang mau menampungnya hanyalah neneknya yang sudah dianggap sebagai ibunya sendiri

"Nenek seandainya kau masih disini, mungkin aku tidak akan tertekan seperti ini". Bisiknya dalam hati, tak terhelakan, air dari matanya yang sayup itu pun jatuh dipipinya.

Berharap ada seorang lelaki yang mampu mengusap dan menghapus air matanya, mampu membuatnya tersenyum, dan mampu menjaga air bening itu agar tak lagi terlihat.

Rasa perih itu terasa, namum bukan di pipi, tidak bukan disana, namun ada dalam relungnya, relung hatinya, dalamnya dalam sedalam laut, yang pernah terhiasi dengan cahaya lampu yang terang dan berkelap kelip, namun kini lampu itu padam, seperti api yang disiram air, padam sepadam padamnya.

Wajah cantik nan elok itu kini nanar menatap kusam sepatu yang dipakainya. Sudah tiga jam ia duduk diatas bangku kusam itu, menyadari apa kesalahannya, walaupun sepele, namun ayah angkatnya tetap tak mau menahu apa yang sudah ia perbuat, kesalahan itu terbang diotak dan pikirannya, jenuh dirinya untuk membayangkan kesalahan yang diperbuatnya, hatinya bagai dicengkram kuat oleh seribu duri, jiwanya seperti ditampar dan dicabik oleh seekor elang, saat ia mengingat apa yang telah dilakukan lelaki yang selama ini dia banggakan, matanya kini menurunkan air, air yang dulu ia pernah keluarkan juga saat datang dipemakaman neneknya dan pemakaman seorang lelaki yang dulu pernah dia miliki, yang dulu pernah membuat hari-harinya berwarna, yang pernah membuatnya tertawa. Kini air itu turun lagi membasahi hidungnya yang kecil namun mancung, mata yang putih itu kini berwarna merah.

"Putri, ada apa ??, kenapa diterminal malam malam begini? Dan mengapa kau menangis ?"
Suara laki-laki yang pernah ia dengar mendengung ditelinganya, ternyata tanpa dia sadari telah berdiri seorang lelaki berbadan tegap berjaket kulit dengan wajah hitam manis, mengenakan jaket kulit, dan menenteng sebatang kretek yang sedang dihisapnya
"Andi?, kau disini?"jawab putri sembari mengusap air bening yang baru saja turun dari matanya.
"Pulanglah put! Kau tidak lihat ini malam, sudah larut pula, dan hampir tengah malam!, untung aku yang datang. Jika orang lain dan berniat jahat bagaimana?!" seru lelaki berjaket kulit itu, seraya mengusir putri dari terminal.
Andi Patirangi, itulah nama yang dikenal Putri dari bangku SMA, terkenal dengan keganasannya namun tidak untuk seorang gadis cantik yang pelembut dan periang itu.
"Aku tak mau! Biar saja orang jahat membawaku dan meminta tebusan pada orang tua ku, aku ingin lihat, lebih penting mana aku atau cangkir itu!" cangkir?, oh ya cangkir, terlintas lagi bayangan cangkir tua dan butut itu, menghampiri dan menghimpit dada putri, hatinya bagai tertikam belati berkarat saat bayangan cangkir yang telah berserakan dilantai rumahnya itu menghampirinya, air matanya kembali menetes.
"Seenaknya kau bilang begitu, apa yang berada dipikiranmu, apa kau tak pernah memikirkan bagaimana perasaan orang tuamu jika tau kau dibawa orang tak bertanggung jawab?!!"
"Biarkan saja aku tak peduli!!"
Putri berbicara sambil mengusap air matanya yang sudah terlalu banyak jatuh
"Kalau kau tetap tak ingin pulang, baiklah lebih baik kau ikut denganku, aku tak habis pikir jika kau diculik disini!"

Aku tak habis pikir jika kau diculik disini ??, disini?, diterminal ini?, ucap putri dihatinya, sepertinya ada yang mondar mandir di halaman hati Putri. Andi?, apa dia tulus mengucapkan itu?. Pikirannya rancu karna tamparan keras dari ayah angkatnya dan ucapan andi barusan, putri terdiam sejenak sambil berpikir apa dia mengkhawatirkanku ? Atau mungkin apa karena aku terlalu GeeR...

"Hey!, kenapa melamun?, mau tidak?"
Desak Andi membangunkan putri dalam lamunannya.
"Iya, tapi mau kemana?"
"Ikut saja, nanti kau akan tau sendiri!"
Perkataan lelaki itu dingin, tangan kasarnya menggenggam erat pergelangan tangan putri yang halus dan menariknya untuk segera pergi dari terminal itu.
"Aw!!, pelan pelan, sakit!!"
Andi berhenti sejenak dan menengok kebelakang karna teriakan Putri. Tenyata tarikan dari tangan Andi membuat Putri memekik.
"Maaf, aku tak biasa menggenggam dan menarik tangan perempuan." ucap lelaki itu dingin, dan kembali mengeloyor pergi menuju roda dua warna merah hitam yang setia menemaninya kemanapun dia pergi, ya kuda besi dengan striping bertuliskan Jupiter MX 135cc yang setia dan tak tergantikan di hatinya, siap membawa dia dan wanita satu sekolahnya dulu.
"Pakai ini!, jalanan akan terasa dingin, apalagi ini sudah jam setengah sebelas malam! Maaf, bila tak sewangi rambutmu, tapi ini cukup untuk menghangatkan tubuhmu, cepat pakai!" Wangi?, apa benar yang dikatakannya?, rambutku wangi? Ucap Putri dalam hati, Putri bagaikan terbang saat lelaki itu seperti memuji dirinya.
"Hei!, apalagi yang kau tunggu, cepat pakai!"
Putri dibangunkan lagi dari lamunannya oleh teriakkan dari mulut Andi, Putri menurut saja apa yang dikatakan Andi, dan benar, sekarang ada yang duduk manis dihalaman hatinya. Tamparan yang mendarat dipipinya, tak lagi ia hiraukan, yg sekarang ada dalam hatinya adalah kata kata yang terlontar manis dari mulut lelaki yang dulu pernah satu sekolah dengannya.

Putri tak henti memeluk tubuh Andi dengan erat, saat lelaki itu memutar grip gas motor nya, raungan knalpot, membuat panas para pengendara yang bersamaan dengannya dijalanan saat itu. Mengganjal, lembut, dan kenyal terasa dipunggung nya, perlahan tapi pasti putaran grip gas itu ia naikan, dingin terasa ditubuh nya tergantikan oleh pelukan erat dari wanita yang sedang diboncengnya, perlahan lagi ia kendurkan tangan kanannya, memainkan rem dikaki kanannya.
"SELAMAT DATANG DI STM/SMEA WALANG JAYA"
Terpampang jelas disamping kirinya tulisan besar diatas pagar sekolah swasta.

"Pelan pelan, Aku takut!!" Tiba tiba terdengar suara putri memanggilnya dan menuntut untuk menurunkan grip gas nya, serentak dengan beradu suara bising knalpotnya dengan suara bising bibir knalpot dua langkah yang berada jauh dibelakangnya,

Suara apa ini??!, terlalu bising untuk suara knalpot, terlalu sadis untuk didengar, dan membuat tuli telinga, bisik lelaki itu dalam hati.

Sekejap suara itu dengan cepat menghilang, lalu kembali lagi. Manusia macam apa yang bisa membuat suara bising semacam ini!.

"Tutup telingamu putri, bila kau tak kuat mendengar suara bising ini, jika aku bisa aku sudah menutup kedua telingaku dari tadi" suara andi samar samar beradu dengan suara bising itu, tiba tiba tangan putri yang lembut dan putih itu mendekap telinga Andi seakan tak merelakan telinga andi mendengar suara bising itu. Andi pun terdiam sejenak, merasakan dekapan halus telapak tangan putri pada telinganya, membuat dia geli, dan perasaan yang tak pernah ia rasakan.
"Hei!, apa yang kau lakukan, aku bilang tutup telingamu bukan telingaku!"
"Sudahlah, aku cuma tidak ingin kau menjadi tuli karna suara ini"
"Utamakan dahulu dirimu baru orang lain!!" Ucap Andi yg berlawanan arah dengan instingnya.
"Tenanglah Andi, aku sudah memakai pemutar musik ditelingaku, walaupun suara itu masih terdengar namun suara itu samar samar, dibandingkan dengan telinga kosong tanpa penutup"
"Hah??, sejak kapan kau memakai itu??"
"Sejak dari pertama" suasana jadi semakin cair karna ada suara bising dan meributkan itu, sekelebat Andi melihat kaca spion motornya, matanya terbelalak saat melihat motor dua langkah yang selama ini dicarinya.

"RX KING??!!, dasar brengsek!!" Kuda besi dua langkah itu disejajarkan posisinya oleh Andi.
"Jaman apa ini?!, masih ada motor seperti itu!!" Terbesit di hatinya memaki motor tua itu.
"Woy bajingan!!, matiin mesin motor lu!, lu pikir cuma lu yang punya kuping!!" Tiba-tiba Putri memaki pengendara motor bermesin dua langkah itu. Sesaat setelah Putri melontarkan cacian dari mulutnya, pengendara RX King itu menengok kearah Putri. Kacamata, jaket levis, topi pet, celana ketat, pantaufel, dan sebuah baf dikenakan oleh pengendara itu untuk menutup mulutnya.
"Hei?!!, lu gak denger apa yang dia omongin!! Matiin mesin motor lu!!" Andi kembali memaki setelah pengendara itu menengok kearah putri. Tapi ada hal yang aneh, dari pengendara ini, posturnya yg tak terlalu tinggi dan tak terlalu pendek, seperti familiar dimatanya.
"Minggir kawan!!". Suara itu membuat putri dan andi kebingungan, suara itu mereka hafal, nada bicaranya mereka kenal, namun siapa pengendara ini.
"Minggir kewarung itu!" Ucap pengendara yang suaranya familiar ditelinga mereka. Andi menuruti ajakan pengendara itu untuk menepi disebuah kedai tua. Sampai di kedai itu pengendara tersebut membuka topi, kacamata dan sebuah masker yang menutupi setengah kepala hingga kelehernya. Rambut gaya mohawk, mata sayu, kulit sawo matang, hidung yang kecil namun mancung, bibirnya yang tipis, dan berdiri gagah dihadapan Andi dan Putri.

"Tresno??!!" Andi memanggil sambil terkejut dan terheran-heran, sedang putri terdiam karna terlalu kaget melihat orang yang telah meninggal enam tahun yang lalu karna kecelakaan dengan motor RX King-nya yang terpanting saat beradu kecepatan dengan bebuyutannya. Kini berdiri gagah dan tersenyum dihadapan mereka berdua.
"Maaf kalau aku mengagetkan kalian berdua, aku hanya rindu suasana kota priuk ini". Pria berjaket levis itu berucap.
"Tapi....".
"Udahlah nanti aku ceritain. Untuk sekarang aku gak mau ada orang yang tau kalo aku masih ada disini, cukup kalian berdua aja". Belum selesai Andi melontarkan kata kata yang keluar dari mulutnya, sudah digunting terlebih dahulu oleh pria itu. PLAK!!! Sontak dan tiba-tiba Putri menampar keras pria itu.
"Tresno.... Kemana saja kau, apa yang ada dalam pikiranmu itu! Semua orang telah merasa kehilangan dirimu, tapi sekarang tiba-tiba kau datang!! Apa maumu?!!"
Tresno diam setelah mendapat tamparan keras dari putri.
"Sudahlah put!, dulu kau menangisi dia berbulan bulan, sekarang setelah dia datang, kau tampar dia!". Belaan Andi membuat Tresno bergidik.
"Kenapa aku ini, benar apa yang diucap putri, hanya karna rindu kota yang keras ini, aku akan menyakiti hati semua orang lagi, aku memang bodoh!!!" Teriakkan tresno dalam hatinya kencang namun tak dapat didengar siapapun tak terkecuali Andi dan Putri.
"Kalo memang kembalinya aku tak bisa diterima, aku akan pergi, tapi apa boleh aku bermalam dikota halamanku sendiri, hari ini saja, besok siang aku akan pergi". Tresno berseru sambil menyalakan sebatang kretek'a.
"Enggak Tres, kau tak perlu pergi kami semua rindu padamu.
Tak usah pergi lagi, kalo tak mau pulang kerumahmu, tinggal dikontrakan ku, mungkin lebih baik". Suara Andi pelan namun jelas. Putri pun menatap jelas lelaki berjaket levis yang dulu pernah membuatnya tertawa-tawa, ceria, bahkan jatuh cinta. Seperti tak percaya tatapan matanya itu. Apa benar ini dia??!.....

BERSAMBUNG.......

Dikritik ya kawan2 butuh bantuan kalian. Makasih

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nia agustin
nia agustin at Menuju Temaram Part 1 (2 years 49 weeks ago)

lagi baca nih pas tengah malem bikin merinding dan bikin susah tidur kebayang bayang

Informasi Harga Jual Forklift Diesel Surabaya di forkliftindonesia.com

Writer mario00
mario00 at Menuju Temaram Part 1 (3 years 31 weeks ago)

Wah serem nih baca cerita ini, tapi cerita ini bisa dibikin lebih serem lagi

www.Venuekita.com |www.Jualcincinemas.com