Momentum

Di balik tembok tanah liat yang disusun setinggi  10 meter ini terdapat air yang volume-nya semakin hari kian meluap, kadang merembes dan rakyat berbondong-bondong membangun lubang-lubang resapan dengan bor karatan sampai ketika terik matahari bersuhu di atas 40 derajat celcius datang dan mengeringkan genangan air, sisanya hanyalah kristal garam yang setiap hari ketebalannya bertambah 0,2 milimeter. Synne mengawasi di sana, di atas puncak tertinggi tumpukan bata tanah liat yang disusun berantakan. Dari sana dia hanya melihat setitik orang-orang berbaju kumal saling bergerak mengeruk garam cokelat itu dan mengeringkannya menggunakan para-para yang berjajar di atas atap. Biasanya burung parkit akan terkecoh tapi tidak untuk itu karena aromanya terlalu amis dan menyengat sehingga burung puti-biru tersebut urung untuk hinggap atau sekadar mengorek-ngorek mencari pakannya yang tersembunyi. Dia melihat burung itu melintas di atas kepalanya dengan bentangan sayap yang hanya berupa garis diikuti beberapa kawanan berwarna sama.

                Di sebelah timur tempatnya duduk hanya ada gelombang tenang air yang mulai biru disinari larik cahaya matahari pagi. Air itu tanpa ujung dan muara, permukaannya hanya berjarak sekitar dua meter dari tempat kakinya bergelantungan di atas tembok, itu berarti tidak lama lagi para pekerja pemilik bahu rendah dan cekungan tajam di pipi akan segera datang dan menumpuk bata-bata olahan masyarakat untuk kembali meninggikan tembok. Entah sampai di mana ujungnya, mungkin hingga menyentuh lapisan atmosfer, stratosfer, ionosfer, tentu saja harus ada ide yang lebih canggih karena meteor saja bisa lebur sebelum sampai bumi, apa lagi bata berbahan tanah liat?

                Pekerja itu dinamakan Gronggel, tidak tahu jenis kelaminnya apa tapi mereka memilik bentuk tubuh tidak normal. Bahunya rendah, matanya besar tanpa kelopak berwarna abu-abu, otot-ototnya seperti pejal—meski Synne tak pernah merasakannya—tapi bisa terlihat dari penampakan kekar karena kerja kasarnya yang tanpa henti. Mereka bukan manusia melainkan monster tanpa hati, alat pemerintah, produk rekayasa genetik. Penampakan brigade mereka hanya terlihat setiap dua kali purnama, saat genangan air asin itu sedang pasang. Sampai detik ini Synne tidak tahu dimana persisnya markas besar mereka, pasti di daerah Bron, Wilem, atau Hepmun, yang berada di lingkaran dinding pertama, kedua atau ketiga. Percaya atau tidak, wilayah daratan tempat Synne hidup dikelilingi dinding yang mewakili tiap daerah. Dinding pertama adalah pusat pemerintahan, dinding kedua khusus untuk para birokrat, dinding ketiga pengusaha kaya dan militer, dinding keempat penempa berlian dan emas, dinding kelima cendikiawan, dinding keenam pemilik lahan pangan, dinding ketujuh kawasan industri, dinding kedelapan dia dan para pekerja kasar—pemahat kayu dan batu. Dinding-dinding itu memiliki tinggi dan bahan yang berbeda-beda, dari beton, batu alam, besi, baja, dan terakhir sampah tanah liat. Sungguh keberuntungan dinding di daerahnya masih berdiri kokoh sampai detik ini, meski beberapa kali bocor dan debit air kadang merembes masuk dan membuat wilayahnya jadi kumuh dan bau bacin.

                Dari sana barisan dinding tampak terpancang rapih membentuk untaian anak tangga karena perbedaan tinggi dan ketebalan. Dulu melintasi dinding-dinding untuk memasuki daerah di dalamnya hanyalah hal mustahil, tapi setelah menemukan jalan kegiatan tersebut jadi rutinitas hariannya. Sebenarnya Synne bukan hanya ingin melintasi dinding-dinding itu dan melihat penampakan berbeda tiap daerah, dia ingin bebas dari CunKludge—negaranya. Dia ingin merasakan pendidikan yang dijalankan oleh belahan dunia lain, itupun kalau memang ada. Karena di CunKludge, pendidikan adalah hal terlarang. Negaranya hanya bagian kecil memiliki batas ketinggian lebih rendah dari permukaan laut. Dulu tempat itu hanya berupa daratan yang menyatu, akibat krisis dan kerusuhan yang terus terjadi tanpa kenal waktu, akhirnya pemerintah benar-benar memberikan batas jelas berupa dinding-dinding yang awalnya dibangun hanya untuk menahan abrasi air laut.

                “Blup.”

                Sebuah benda memantul dari kepala Synne dan anehnya tidak ada tanda-tanda benda itu jatuh dan masuk ke dalam air. Dia mencari-cari, sampai saat pandangannya terpusat pada pria bertubuh jangkung, berambut keemasan, matanya lebih hijau saat tertimpa sinar.

                “Miss Tygrive, aku punya berita bagus,” nama Synne adalah Synne Tygrive, nama temannya itu adalah Jim Gawneth. Synne berusia 17 tahun dan Jim berusia 18 tahun. Synne masih mencari-cari benda yang sempat menyentuh kepalanya.

“Ini Billonda, bola pejal yang bisa melayang melewati dinding-dinding itu,” Jim duduk di samping Synne. Tidak perlu takut, karena dinding itu bisa mendaratkan sebuah pesawat KludgeSky, satu-satunya maskapai di negara CunKludge yang dimiliki oleh pemerintah. Pesawat sejenis Pilatus Porter dilengkapi rentang sayap kurang dari 16 meter. Pemerintah dan beberapa angkatan militer seringkali menjadikan dinding sebagai landasan guna memantau aktivitas warga atau meninjau ketinggian air laut.

                Synne memegangnya. Bola itu berwarna hitam bertekstur mulus. Synne dan Jim seperti satu jiwa. Hanya di depan Jim, Synne bisa melihat gambaran dirinya sendiri. Pendidikan di CunKludge adalah hal langka atau bahkan tidak ada. Hanya di tiga dinding pertama, itupun hanya beberapa orang beruntung. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kemungkinan terjadi penyelewengan, alasan satu-satunya yang menyebabkan wilayah mereka mungkin sampai hancur lebur atau mati akan tetap menjadi tempat kumuh. Tapi Synne dan Jim tidak seperti itu, tidak sepenuhnya patuh terhadap peraturan itu.

                Mereka sering jadi penyusup melewati batas-batas dinding berisi ruang-ruang rahasia yang sengaja dibangun untuk fungsi pengawasan, termasuk jalan menuju puncak tembok itu.

“Pitalite-mu ada yang menawar.”

                Pitalite atau pitalight sebuah lampu buatan dari bahan alga yang didapat Synne dari menyusuri sudut-sudut genangan air laut. Dia memang pandai berenang padahal ketinggian air dari dasar hampir 20 meter.

                “Aku hanya butuh lima keping emas, itu sudah cukup,” Synne memainkan bola yang masih setia digenggamannya.

“Dia bertaruh sepuluh keping emas.”

                Tangan Synne membeku di udara, dia langsung berdiri hampir terjerumus dan terjun menghantam tanah berkerikil di bawah sana kalau saja Jim tidak tangkas menahannya.

“Kau belum mendapatkannya, jangan sampai nasibmu berakhir di sini.”

                Mereka berdua bergerak menyusuri dinding yang memiliki topografi amat curam, menanjak, turun sampai rumpang di beberapa bagian, tapi kaki-kaki itu sudah terlatih. Di dekat rongga bulat tak sempurna, Jim menarik tali besar yang disimpul beberapa bagian, fungsinya untuk menggantung dan menjejak. Synne turun lebih dulu, sekitar dua menit gadis itu sudah sampai di bawah, di sebuah petakan gelap yang sengaja mereka bangun dari kayu lapuk sisa pembakaran, menutupi jalan rahasia ini dari berbagai pasang mata.

“Tak kusangka, kau semakin mahir saja memanjat dan turun dari dinding,” nada suara Jim setengah menyindir, karena Synne tampak menyamai levelnya. Jim menepuk kedua telapaknya yang berdebu di celana parasut hijau busuk.

“Itu tidak akan terjadi kalau bukan karena instruksimu,” Synne menyunggingkan bibir, membuka pintu kayu tanpa engsel.

                Sebenarnya rumah petakan itu satu-satunya hunian berkayu di antara rumah warga yang sama di daerah Plutter. Semua kediaman dibangun dari batu alam berwarna hitam pekat berlainan massa, semuanya berbentuk kotak, jendela kotak, bangunan kotak, cerobong asap kotak, hanya pintu yang dibuat melengkung. Rumah-rumah itu berdiri di atas tanah tandus dan kering, kawasan dengan tipe tanah paling buruk di negara CunKludge karena hanya ditumbuhi tanaman Alder yang persediannya kian menipis akibat ledakan pertumbuhan penduduk. Awalnya mereka hanya menggunakan kayu-kayunya saja, mengulitinya untuk dijadikan bahan bakar saat musim dingin yang merontokkan tulang datang. Tapi akhir-akhir ini, pola pikir masyarakat yang maju menjadikan  pohon-pohon itu kemudian diolah sebagai bahan pangan, daunnya yang lebar dan bergerigi diolah jadi lauk, getahnya dijadikan sirup, sementara kayu-kayunya dijadikan furnitur dan pondasi. Dan yang lebih mencengangkan, baru-baru ini Synne dan Jim berhasil mendulang prestasi dengan mengetahui fakta kulit kayu pohon Alder mengandung salicin, zat anti inflamasi. Awalnya Jim iseng menggosok kulit tangan yang tersengat nyamuk hitam berukuran abnormal seketika kulitnya langsung merah dan bengkak, karena posisi mereka sedang berjongkok di bawah kanopi pohon itu, Jim reflek menggosok kulit kayu ke bagian yang gatal. Jadi penemuan itu terjadi murni karena ketidaksengajaan. Beruntungnya, daerah yang terisolasi itu bisa menutup kemungkinan pemerintah pusat untuk tahu segala gerak mereka. Sejak penemuan itulah membuat peradaban baru di Plutter, peradaban pemahat batu dan pengeruk garam kotor berubah jadi pemahat kayu, pembuat sirup, dan peramu obat. Di tanah litosol mereka menemukan keajaiban baru dari pohon Alder. Sebuah harta yang mungkin saja tak dimiliki para penempa berlian, sampai birokrat.

                Synne dan Jim mendengar sayatan-sayatan gergaji kayu yang sedang membentuk pohon-pohon berkulit hitam kasar itu sebelum akhirnya tiba di sebuah perempatan dan langkahnya memilih arah sebelah kanan, menyusuri jalanan berbatu dan sampai di gerbang berupa pintu besi yang menjulang. Akses keluar masuk tiap-tiap daerah.

“Kau tunggu di sini, aku akan kembali secepat mungkin,” Synne membuat kesepakatan, sebelum pergi dia memberikan sebuah kartu berserat, meninggalkan Jim untuk sementara dan membiarkan pria itu menunggunya beberapa waktu.

                Langkah kaki Synne memang yang terbaik dari para gadis yang dilahirkan di Plutter. Perempuan berambut bergelombang kecokelatan itu memang tidak bisa dikatakan sebagai kaum feminis, dia terlalu lantang dan terang-terangan. Segala langkahnya dilakukan tanpa ragu termasuk menjadi pedagang ilegal. Tidak ada pilihan, Synne dan Jim dihadapkan pada krisis di usia belia mereka, mau tidak mau mereka harus memutar otak untuk membuat rencana menghadapi pemerintahan yang kacau balau. Meski tidak pernah tahu dunia pendidikan yang sebenarnya. Tapi di rumah-rumah, setiap warga wajib memiliki televisi—meskipun di Plutter benda tersebut hasil tukar guling—dari layar itulah mereka belajar satu hal : cara keluar dari negara bernama CunKludge, meskipun setiap detik yang ditayangkan hanyalah potret kepala negara dengan wajah penguasanya yang tak pernah lepas dari pikiran masyarakat. Anehnya masyarakat tetap saja tunduk dan memperlakukannya seperti dewa.

                Synne berjalan, membawa sebuah benda melingkar, modifikasi dari kaca yang tak terpakai. Benda itu tidak terlalu besar, hanya berukuran seperti kepal tangan. Di dalamnya terdapat alga merah yang melayang-layang dalam cairan keruh berupa air yang tercemar limbah di sekitar aliran sungai kecil Plutter. Meski tahu berbahaya, masyarakat tetap saja menggunakannya untuk kebutuhan sehari-hari, karena tidak ada lagi sumber air bersih. Tapi setelah Synne dan Jim berhasil mengolahnya, akhirnya seluruh warga berkongsi untuk merahasiakan gagasan mereka.

“Aku tidak tahu ini yang harus kubawa atau satunya lagi, tapi semoga saja ini yang berfungsi, kalau tidak kita harus kembali lagi melewati dinding-dinding ini.” Dari raut wajah Synne terpancar kesenangan. Gadis itu sedang membayangkan hal-hal spektakuler kalau saja lima keping emas bisa digenggamnya. Tentu saja dengan resiko ketahuan dan hukuman bagi seorang disiden semuanya sama. Dikurung dalam kamp pemerintah atau dibiarkan di atas sekoci melayang-layang oleh ombak dengan aliran air yang tak tahu di mana ujungnya. Itulah hukuman yang berlaku.

“Berikan Pitalite-mu, biar aku saja yang membawanya,” Jim menawarkan diri, maksudnya tidak lain biarkan dia saja yang menanggung risiko yang akan dihadapi kalau saja aktivitas mereka ini terendus negara—tepatnya orang-orang pusat.

“Bukankah kita akan melakukannya bersama-sama?” Synne salah paham, dia menduga kalau Jim ingin menguasai benda itu secara pribadi.

“Maksudku, terlalu beresiko, setelah kita tidak sengaja berpapasan dengan orang-orang pusat waktu itu, pasti mereka jadi lebih siaga.”

                Mereka pernah lolos satu kali setelah menjual sebuah pakaian penahan panas tubuh saat cuaca dingin menukik. Tujuan awal Synne dan Jim memang hanya ingin menolong orang-orang di daerahnya karena setiap musim dingin datang, banyak sekali anak-anak dan orang dewasa merintih kesakitan di dalam rumah-rumah batu tanpa penerangan, maka dia membuat ide dengan mengumpulkan bahan dasar dari beberapa daerah. Tentu mustahil bagi orang-orang biasa bisa keluar masuk gerbang tanpa kartu sintetik, yang hanya dimiliki anggota pemerintahan. Tapi usai kejar-kejaran waktu itu, Synne dan Jim memperoleh keberuntungan dengan menemukan tiga kartu masuk yang bisa membuka gerbang otomatis.

“Kita bergerak bersama,” tukas Synne dengan lantang.

                Jim menghela napas sebelum akhirnya mereka memasang kartu di kolom kecil bagian dari pintu gerbang, setelah terbuka Synne mencondongkan tubuhnya lebih dulu, melewati bagian sempit itu lalu disusul Jim. Terdengar suara desis dari pintu yang kembali menutup.

“Dia ada di Hepmun,  katanya kita menunggu di depan gerbang saja, tapi sebaiknya kau tunggu di Kiloa untuk antisipasi,” jelas Jim sambil terus berjalan di depan Synne yang memanggul tas kulit keriput di punggungnya.

                Hepmun dinding ketiga, daerah yang diisi pengusaha kaya dan anggota militer. Aneh apa yang mereka inginkan dari pesanan sebuah Pitalite mengingat daerah mereka cukup kaya dengan aliran uang, makanan, dan listrik. Satu-satunya tujuan Synne dan Jim membuat benda itu tidak lain adalah untuk membantu penerangan di malam hari karena lima daerah selain tiga yang paling depan, semuanya tidak dialiri listrik dan gelap pada malam hari. Televisi yang mereka miliki pun bertenaga baterai surya, alokasi wajib dari pemerintah karena saat staffnya berpatroli dan televisi warga didapati mati, maka mereka dikenakan denda yang sangat parah.

“Tunggu Jim,” Synne menghentikan langkah Jim di depan gerbang masuk ke Stolson—dinding ke-5. “Pasti ada kekeliruan,” katanya mulai curiga.

“Itu hanya instingmu saja, tidak ada yang aneh. Dia bilang katanya kawasan Hepmun sudah hampir sebulan tidak dialiri listrik, jadi kemarin pegawainya secara langsung meminta padaku,” Jim melakukan hal sama seperti saat memasuki wilayah 7 tadi.

“Namanya Frank,” katanya sambil terus berjalan. Otaknya memang sudah menguasai peta negara itu, dia sudah fasih melihat lokasi sebagai jalan pintas. Semuanya didapat dari alat perekam serupa bola pejal yang dia tunjukkan tadi. Semacam pencitraan jarak dekat. Jim memang cemerlang. Hanya saja sampai detik ini mereka belum tahu jalan keluar untuk pergi dari negara tersebut.

                Keduanya sudah sampai di depan gerbang Hepmun. Synne yang setinggi bahu Jim meliriknya kilas. Jim memegang pundaknya.

“Tunggu di sini, kalau sampai melihat gerak gerik yang mencurigakan kau harus segera lari, jangan meninggalkan jejak apapun,”

“Tapi aku ingin masuk, memastikan pelanggan kita, Jim”

Jim menggeleng pelan.

“Lebih baik aku saja yang memastikannya,”

                Synne mengalah dengan tampang terpaksa, menyerahkan tas kulitnya. Dia berdiri di sana. Dari celah besi yang mulai menutup setelah Jim mengempiskan tubuh, melewatinya, Synne melihat pria itu berlari cukup cepat, menghindari beberapa pasang mata yang menatapnya curiga, sesudah itu gelap. Benda itu sudah menutup sepenuhnya. 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Sakurai
Sakurai at Momentum (3 years 16 weeks ago)

nunggu lanjutan nya aja daahaaaaa

Writer AninditaAyu
AninditaAyu at Momentum (3 years 18 weeks ago)
70

Masuk ke kalimat awal, aku agak pusing bacanya kak. Kalimatnya terlalu panjang menurutku. Apalagi paragraf pertama yang paling menentukan pembaca mau terus lanjut baca atau tidak. Kalimat ini sebaiknya bisa dipisah agar pembaca lebih gampang bacanya.

Terus untuk setiap paragraf baru, kok ada paragraf yang kalimat utamanya menjorok ke dalam dan ada yang tidak ya kak? Apa ada tujuan khusus dibedakan seperti itu?

Lanjutkan ceritanya kak.. ^^

Writer citapraaa
citapraaa at Momentum (3 years 19 weeks ago)
100

masih awal, ya.. komentar selain ceritanya dulu deh.
satu kalimat ada yang terlalu panjang. ada baiknya dipisah menjadi beberapa kalimat. selain jadi kurang jelas yg mana intinya, itu membuat yang baca ngos-ngosan (?). memang ada sih satu kalimat yang panjang, tapi lebih enak kalau dibagi-bagi. apalagi ini scifi, identik dengan penjelasan-penjelasan. mungkin harus disiasati agar menjaga cerita ini tetap cerita, bukan buku teks pelajaran.
untuk kalimatmu yang kepanjangan itu, contohnya di kalimat paling awal.
sekian dulu. maaf kalau salah kata.
semangat menulis *tebar daun*

Writer 2rfp
2rfp at Momentum (3 years 19 weeks ago)
50

Cerita bersambung toh. Mau komentar apa yah... Untuk cerita bersambung saya tidak bisa komentar banyak untuk bab awal. Nunggu lanjutannya aja deh