Boneka Kayu

Aku mengintip dari balik jendela. Melihat seorang pria tua gendut sedang memahat sebongkah kayu di dahapannya. Dalam ruangan itu, ada banyak boneka kayu berbentuk tiruan manusia. Dipasangkan pakaian serta perhiasan pelengkapnya. Menjadikan orang tua itu nampak dikelilingi anak-anak asuhnya yang diam duduk mengamati gerak-geriknya.

Aku terbang lebih tinggi, melewati celah sempit ventilasi jendela. Lalu hinggap di atas satu kepala boneka. Mengamatimu yang duduk diam di sana.

Betapa hebatnya manusia yang telah memahatmu. Dari yang berupa sebongkah kayu tak berbentuk menjadi tiruan seorang anak berusia tujuh tahun. Bersama pakaian ala bangsawan dan rambut pirang yang kaku. Kedua matamu menatap lurus ke depan—kepadaku, dicat warna biru cerah yang dipadukan putih dan hitam di sekelilingnya. Serupa mata sungguhan.

Aku ingin memilikimu.

****

Boneka itu kini duduk di hadapanku lagi. Tapi tidak di rumah pria tua tersebut. Selesai membelinya dengan batu yang kusulap menjadi berlian, aku langsung membawa koleksi berhargaku ini ke rumah. Meletakkannya di dalam sebuah lemari kaca, dan membiarkannya menjadi pajangan untuk rumah suramku. Rumah yang kudapatkan dari sepasang suami-istri tamak, di mana mereka berdua mati menggenaskan setelah jiwanya—dengan suka rela--diserahkan padaku.

Kuberi nama boneka itu Pinokio. Yang selalu duduk diam dalam temaram cahaya rumah. Setiap hari, aku hanya duduk di dekatnya. Mengagumi setiap lekuk dan celah yang dibuat pemahat itu di atas tubuhnya.

Oh, betapa sempurnanya dirimu.

Kadang aku mengamatimu lamat-lamat, berharap sepasang mata biru itu berkedip—meski dalam imaji semata. Tapi semakin lama, kekaguman itu hanya menghasilkan sakit. Aku tidak suka benda mati! Aku mau yang hidup. Yang bisa berbicara padaku dan menemani hari-hari gelapku.

Maka kuputuskan untuk mencuri jiwa seorang anak. Awalnya aku berhasil menjebak seorang Ayah yang sudah putus asa dengan ekonomi keluarganya. Kuberikan dia iming-iming harta berlimpah, asal mau memberikan anak laki-laki bungsunya kepadaku sebagai persyaratan.

Pria tua jenggotan berbau alkohol itu mengangguk. Dan di bar yang kumuh penuh begundal mabuk, kami berjabat tangan. Aku menghilang seketika di depannya. Menyisakan sekantong penuh—yang isinya cuma beberapa berlian jelmaan batu hutan—di hadapannya.

Pria itu kegirangan dan merayakannya dengan memesan minuman keras lebih banyak. Keesokan harinya, ia harus tabah melihat pemakaman putra bungsunya yang meninggal akibat sakit mendadak.

Bagus, jiwa anak itu sudah ada di tanganku. Kini saatnya kembali hutan, ke rumah, ke hadapan Pinokio-ku tercinta.

Sesampainya di sana, aku mengeluarkan Pinokio dari kotak kacanya. Seperti menggendong seorang anak sungguhan, aku membawanya penuh kehati-hatian. Mendudukkannya pada kursi kebangganku di depan perapian.

Malam semakin gelap. Api perapian menyala menerangi tubuh Pinokio yang kaku. Lalu kukeluarkan sebutir benda bulat-kecil-bercahaya dari saku lusuhku. Menggenggamnya kuat-kuat hingga remuk saat itu juga. Menjadikannya abu halus bercahaya yang ditaburkan di atas tubuh Pinokio.

Debu-debu itu menyelubunginya. Menyerap masuk ke dalam pori-pori kayunya.  Kepala sayu Pinokio tiba-tiba menegak. Kedua matanya berkedip cepat terlihat takjub ke arahku. Mulutnya terbuka, lidahnya bergerak, kaki-tangannya ke sana-ke mari dengan ragu, ia menoleh ke sekitar, dan berhenti pelan.

Lucu. Hebat. Ini mengagumkan. Kesayanganku, Pinokio milikku hidup.

Serat-serat kayu di atas kulitnya hilang, berganti tekstur halus dan kenyal selayaknya manusia. Pirang rambutnya tampak cerah dan hidup. Biru matanya cemerlang dan bergetar sendu. Pahatan serta lekukan indah itu kini tampak semakin nyata dan menakjubkan.

“Kau ...” Pinokio masih memandangku. Iya, apa, apa sayang? “... siapa?” tanyanya dengan raut polos seperti bocah yang selalu ingin tahu. Ah, betapa aku ingin memelukmu sekarang. Tapi kutahan, karena kutahu Pinokio-ku masih butuh waktu untuk beradaptasi.

“Ayah.” Aku teringat peran pria jenggotan kemaren dalam keluarganya. Ia selalu dipanggil begitu oleh ketiga anaknya. “Aku Ayahmu.”

“Ayah?”

“Ya, yang menyayangi dan mencintaimu.”

****

Pinokio belajar dengan cepat. Dalam sehari, ia sudah bisa berjalan, berlari, dan bermain di pekarangan rumah. Tawa cerianya membahana mengisi hari-hariku. Hidup gelapku tersingsing oleh fajar yang bernama Pinokio.

Pinokio selalu bertanya apa ini, apa itu, kepadaku. Dan kujawab sekedar yang kutahu. Bahwa benda terang di langit itu bernama matahari, yang saat malam digantikan tugasnya oleh bulan. Oh ya, jangan lupakan bintang.

Dan di setiap malam, ketika ia telah tertidur di kamar yang kubersihkan secara khsus. Aku selalu di sampingnya. Memandangnya lama-lama, dan menatap tubuh kecil hidup itu dengan perasaan bangga.

Kuelus pipi putihnya yang agak merah, menyingkap beberapa pirang yang mengganggu wajahnya. Oh Pinokio, betapa aku mencintaimu. Dan kuakhiri ritual setiap malam itu dengan ciuman tulus di keningnya yang lembut.

****

Kadang kudapati Pinokio hanya melamun seharian di balik jendela. Memandangi cerahnya rerumputan dengan wajah bosan. Lalu ia bertanya padaku, apakah ada makhluk lain seperti kita di luar sana?

Jika maksudmu sepasang manusia jelmaan peri hitam dan boneka kayu, hanya ada kita di dunia ini. Tapi aku tidak mau memberitahumu hal tersebut, aku takut Pinokio-ku akan sedih, karena selama ini ia yakin dirinya manusia.

“Ada.” Jawaban itu justru mengkhianatiku. Wajah bosan Pinokio yang lemah dan tak bersemangat itu benar-benar menyedihkan. Aku tidak suka. Aku mau Pinokio yang bahagia!

Maka kuputuskan untuk membawanya ke kota besok. Menemui manusia-manusia yang persis sepertinya. Pinokio bersorak bahagia, ia lalu menghambur dan memelukku dengan erat. Kuelus pirang itu lembut dan menciumi keningnya. Oh Pinokio, betapa aku menyayangimu.

Di kota, Pinokio berkenalan dengan anak-anak lainnya. Awalnya malu-malu, tapi setelah diajak main bola. Pinokio setuju bergabung. Di bawah terik matahari, sekumpulan bocah itu main berhujankan keringat dan kebahagiaan.

“Ayah, aku mau sekolah,” ucap Pinokio usai bermain. Aku menunggunya di bawah sebuah pohon yang teduh.

“Sekolah?”

“Iya. Biar bisa terus main sama mereka.”

Pinokio-ku ingin berada di tengah-tengah manusia. Wajar, mengingat nyawanya adalah nyawa manusia. Bahkan tubuhnya juga menjelma sempurna menyerupai bocah pada umumnya.

Awalnya aku tidak rela, karena itu artinya seharian ia akan pergi dari hidupku. Aku tidak mau membagi Pinokio-ku kepada dunia manusia. Aku menginginkan dia seutuhnya. Tapi ...

“Aku senang main bola. Aku mau main itu terus setiap hari.” Pinokio tersenyum polos. Pirang rambutnya bergerak lembut membingkai wajah manisnya. Bulat safir itu bersinar sangat cantik. Oh Pinokio, tidakkan kau sadar aku begitu terjerat oleh pesonamu.

“Baiklah,” jawabku akhirnya. Mengalah.

“Yeaayy!” Pinokio langsung menghambur dan memelukku. Aku pun balas memeluknya erat sambil menciumi pucuk kepala beserta keningnya.

Lalu kusadari di ujung bola mataku, orang-orang dewasa lain melihat kami secara tidak wajar.

****

Pinokio tumbuh semakin dewasa. Ia beranjak menjadi remaja yang mengagumkan. Begitu tampan nan rupawan. Pahatan sempurna itu telah berkembang menjadi lekuk-lekuk serupa keindahan itu sendiri.

“Pinokio,” panggilku di samping tempat tidurnya.

“Ya Ayah?”

“Bagaimana sekolahmu?”

“Menyenangkan. Semua menyukaiku. Banyak anak-anak perempuan mendekatiku. Kata mereka, aku populer.”

Ugh, demi apa pun takkan kubiarkan perempuan-perempuan itu mengganggumu lagi besok. Mereka tidak boleh sampai mendapatkan perhatian dan cintamu. Tidak boleh. Pinokio hanya milikku seorang.

“Kau suka di dekat mereka?” tanyaku was-was.

“Suka!” jawab Pinokio cepat. Secepat belati yang membelah hatiku.

“Tapi kau masih menyayangi Ayah kan?”

“Tentu saja,” jawabnya tidak kalah cepat. “Ayah adalah orang yang paling kucintai di dunia ini.”

Lega hatiku mendengarnya. Cemas itu lenyap seketika. Sebagai ganti permintaan maaf karena telah salah cemburu padanya, aku menciumi kening Pinokio. Lalu meninggalkannya tidur sendiri.

Waktu begulir. Dari musim panas ke musim gugur. Dari tumpukan salju ke padang penuh bunga. Lalu panas lagi, dan jati meranggaskan daunnya kembali.

Tahun-tahun berlalu. Pinokio tumbuh semakin besar. Semakin gagah dan tampan bak pahatan patung dari surgawi.

Ia mulai sibuk. Bahkan tak jarang, ia tidak pulang beberapa hari akibat urusannya di sekolahnya. Mulai dari festival tahunan, acara musiman, sampai tugas lainnya yang tidak kutahu apa namanya.

Pinokio terasa semakin jauh meninggalkanku. Kadang saat pulang pun, ia hanya tidur di atas ranjangnya. Tidak mau bercerita atau memelukku seperti dulu.

Aku sering curiga jika ia telah jatuh hati ke manusia lain. Tapi Pinokio selalu mengelak. Ia beralasan lelah dan capek jika kumintai penjelasan lebih jauh.

Ingin sebenarnya aku mengikutinya ke dunia manusia, tapi aku tidak bisa sering-sering menyamar menjadi gagak atau kupu-kupu bersayap hitam. Terlalu melelahkan. Lagipula, terik matahari sangat tidak bagus untuk kulit pucatku yang mudah memerah. Bahkan menjaga bentuk manusia—pria 30-an bertampang tegas dan kurus—ini saja sudah lumayan menguras energiku.

Sampai di suatu malam, saat Pinokio sedang belajar di kamarnya. Aku masuk dan duduk di sampingnya. Memandanginya yang serius menulis—apa pun itu—sambil membolak-balikkan buku tebal di hadapannya.

“Pinokio,” panggilku. Rasanya hampa karena ia hanya mengerang pelan untuk menyahutku.

“Bagaimana sekolah?”

“Biasa saja,” jawabnya. Masih sibuk.

“Teman-temanmu tidak ada yang menggangumu?”

“Tidak.”

“Pinokio!” Aku menarik tangannya yang sedang menulis. Menyentaknya agar memandangiku langsung.

“Ayah! Aku sedang belajar, tolong jangan menggangguku.” Ia menghempaskan tanganku. Untuk pertama kalinya, Pinokio menolak sentuhanku.

Bukan hanya hari itu saja. Di hari lain ia juga terus-menerus menghindariku. Semakin lama ia tenggelam ke dunianya bersama manusia. Tidak ada lagi pelukan serta tawa ceria yang mengisi hari-hariku. Fajar yang terang itu telah beranjak terbenam meninggalkan gelap di sisiku.

****

“Pinokio!” Aku menarik tangannnya yang hendak pergi lagi pagi itu.

“Kenapa?”

“Jangan sekolah!”

“Maksudnya, kenapa?” Kilat kecewa terpancar jelas di biru matanya.

Karena kau mulai pergi menjadi milik manusia.

“Turuti saja kata Ayah! Manusia-manusia itu jahat. Sekolah itu tidak lagi berguna untukmu. Tinggal saja di sini.”

“Di sini? Jangan mengurungku! Sekolah itu penting. Guru bilang, bahwa pendidikan itu perlu untuk menghadapi masa depan.”

“Masa depanmu? Buat siapa? Kau mulai dipengaruhi manusia-manusia jahat itu! Hidupmu di dalam rumah ini. Bersama Ayah. Berdua. Se-la-ma-nya.”

“Tapi Ayah, aku ...”

“JANGAN MEMBANTAH!!!” teriakku. Dan untuk pertama kalinya, safir itu bergetar takut dan kaget. Astaga! Aku telah menakuti kesayanganku. Oh tidak.

“Ayah ...” Pinokio tergagap. Gemetar dan gugup. Oh tidak. Tidak. Tidak. Apa yang telah kulakukan terhadap kesayanganku?

“Ma-maaf,” ucapku lembut sambil membelai pipinya. Awalnya Pinokio menolak, berusaha berpaling dan tidak menatapku. Tapi akhirnya luluh juga dan menangis. Ya ampun, apakah aku berteriak senyaring itu sampai menjatuhkan air matanya?

“Ini salah. Salah. Salah.”

Apa yang salah Pinokio?

“Sangat jelas, semua ini salah. Hubungan kita sangat tidak wajar. Kau Ayahku. Tapi cinta dan kasih sayangmu sangat berlebihan untukku.”

Hampir saja aku limbung mendengar pernyataannya. Tidak wajar? Kenapa bisa? Apa yang sudah manusia-manusia katakan itu padamu sampai berubah sejauh ini?

“Hubungan ayah-anak tidak seharusnya begini.”

“Kenapa? Aku mencintaimu, menyayangimu, sama seperti ayah lainnya di dunia ini. Apa yang salah?”

“Salah. Pokoknya, hubungan kita sudah tidak wajar.”

Jadi karena itulah kau terus menghindariku. Karena cinta-kasihku yang tidak wajar?

“Tapi Pinokio. Kau kesayanganku. Aku sangat mencintaimu. Kau segalanya bagiku.”

“Ayah ...” Pinokio terperangah.

Saat dia lengah itulah, aku mendekati jelmaan boneka kayuku itu perlahan. Membungkuk, menyeimbangan wajahku dengannya. Pertama kucium keningnya, pangkal hidungnya, dan ketika aku hampir menyentuh bibirnya, Pinokio mendorongku. Ia mundur sambil berurai air mata ketakutan. Kaget serta syok.

“Pinokio,” panggilku piuh. Kenapa? Kenapa kau tidak lagi mau disentuh olehku?

“Ini sudah keterlaluan Ayah!” Pinokio lari. Gema langkahnya memenuhi lorong.

TIDAK BOLEH!!

Pinokio tidak boleh meninggalkanku. Ia milikku.

Murka. Aku mengeluarkan seluruh kemampuan sihirku. Semua jendela serta pintu rumah kututup. Kukunci. Gorden bergerak menghalangi jalan masuknya sinar matahari. Gelap. Semuanya berubah suram seperti hatiku sekarang.

Mendadak, Pinokio terdiam di tempatnya. Ketakutan serta bingung. Oh, tentu saja. Kesayanganku tak pernah tahu siapa aku sebenarnya—bahkan dirinya sendiri.

“Ayah, a-ap-apa ini? Bagaimana bisa ... siapa Ayah sebenarnya?”

“Aku adalah Ayahmu,” jawabku. Kemudian terbang melesat ke hadapannya yang berdiri gemetar di tengah ruangan.

Lilin-lilin menyala. Perapian hidup seperti malam sebelumnya. Cahaya liar api membuat bayangan kami berdua jatuh bergerak.

“Kau adalah sebuah boneka kayu, sayangku.” Kujelaskan semuanya. Bahwa di tubuh Pinokio bersemayam nyawa seorang anak. Bahwa dia dulu terbuat dari sebongkah kayu, namun terpahat dengan sempurna sampa-sampai membuatku terpesona dan terjerat jatuh dalam keindahannya yang mengikat.

Pinokio terduduk. Jatuh di atas kedua lututnya. Memandangi kedua tangan, tubuh, dan kakinya. Tak percaya jika bagian-bagian mirip manusia itu awalnya adalah kayu.

Aku ikut duduk di hadapannya. Memandanginya. Safir itu telah retak, jatuh berurai air mata ketidakpercayaan.

“Tidak mungkin, aku tidak mungkin sebuah boneka. Ayah! Kau bohong kan? Iya kan?”

Suaranya sungguh menyayat batinku. Tidak sayangku, aku tidak berbohong padamu.

“Pinokio,” panggilku lembut. Berusaha menenangkannya.

“Ayah sudah mengubahku menjadi manusia. Jadi,” Ia mendongak, menatapku dengan sisa retakan di biru matanya. “Biarkan aku hidup seperti manusia pada umumnya. Lepaskan aku.”

Saat itulah retaknya menular ke jantungku yang tak lagi berdetak.

****

Aku duduk kembali di depan tungku perapian. Memandangi nyala api tanpa berpikir atau melamunkan apa-apa. Kosong. Seperti kotak kaca di sebelahnya yang tak lagi terisi.

Pinokio. Betapa aku merindukanmu sekarang. Senyum, tawa, canda, serta cinta-kasihmu kini tak bisa lagi kudapatkan. Apalah aku tanpamu?

Pinokio.

Dunia manusia tidak boleh memilikimu. Kau punyaku seorang. Benar kan? Kuelus pirang kaku yang pucat di pangkuanku. Yang mana tubuhnya tak lagi lembut dan kenyal seperti dulu. Pinokio kini tak bisa lagi bergerak. Ia telah kembali menjadi sebongkah boneka kayu.

Aku memeluknya erat. Rasanya sangat berbeda. Mencium keningnya pun tak lagi manis. Oh Pinokio, apa yang harus kulakukan padamu?

Tapi cat biru di matamu hanya bisu mendiamkanku.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Nine
Nine at Boneka Kayu (3 years 38 weeks ago)
100

Seharusnya pada dialog ini diakhiri tanda seru karena ini adalah puncak dari konfliknya:
“Biarkan aku hidup seperti manusia pada umumnya! Lepaskan aku!”
Ini juga:
*di [dahapannya].
.
Jadi ini rekaan ulang dari cerita “Pinokio”, kan? Yang saya rasa kurang di sini itu, kemampuan—atau mungkin kekurangan—Pinokio yang kalau berbohong hidungnya menjadi panjang. Hal ini mungkin bisa dijadikan salah satu pemicu Pinokio untuk menanyakan siapa sebenarnya dirinya. Jadi bisa saja penulis memberikan kemampuan memanjangkan hidung pada karakter Pinokio dalam cerita ini, yang kemudian hal itu akan membuat Pinokio mulai mempertanyakan jati dirinya.
.
Yang memicu konflik memuncak di sini adalah ketika Pinokio beranjak remaja dan mulai mencari perhatian, kasih sayang, dan lain-lain, pada orang lain. Pada orang-orang di sekitarnya. Bukan lagi mengharap atau bergantung pada perhatian Ayah yang palsu (yang sebenarnya bukan Ayahnya). Setelah perdebatan sengit terjadi—antara Ayah yang tidak ingin melepaskan anaknya beranjak dewasa dan Pinokio yang merasa terkekang—sang Ayah menjadi murka dan mulai menampakkan wujud aslinya. Hal ini yang memicu Pinokio mempertanyakan jati diri Ayahnya, yang kemudian Ayahnya menceritakan semuanya dari awal. Lalu dari cerita itu Pinokio tahu bahwa dia adalah berasal dari boneka kayu. Dari situ konflik mulai memuncak.
.
Dari penuturan saya di atas, saya rasa konflik di sini masih bisa dieksplor lagi. Maksudnya—walaupun cerita ini menggunakan POV 1 sehingga apa yang ada di dalam cerita, pembaca melihatnya dari sudut pandang narator yang terbatas—saat Pinokio mengetahui siapa jati dirinya akan lebih menarik lagi jika pertanyaan-pertanyaan itu muncul dari dalam benaknya sendiri (tidak diberitahu oleh ayahnya). Dari situ penulis bisa mulai bertanya-tanya, apa kira-kira perbedaan “manusia yang dari manusia” dengan “manusia yang dari boneka”. Apakah manusia dari boneka bisa berkeringat seperti manusia pada umumnya? Berak seperti manusia pada umumnya? Capek seperti manusia pada umumnya? Lapar seperti manusia? Merasakan sakit seperti manusia? Karena dari awal, si Ayah hanya memberikan nyawa pada boneka, yang kemudian saya tangkap, hal tersebut (pemberian nyawa pada boneka itu) belum tentu secara keseluruhan merubah boneka itu menjadi manusia yang utuh (yang merasa sakit, mual, pening, lapar, harus berak dan kencing, dll). Berangkat dari sini, penulis bisa membuat hal ini menjadi pertanyaan bagi diri Pinokio (yang tidak memiliki kemampuan seperti manusia yang utuh). Pinokio mulai bertanya-tanya mengapa ia tidak bisa begini seperti yang lain? Mengapa ia tidak bisa begitu seperti yang lain? Sehingga konflik yang ada menjadi lebih kuat: Pinokio yang beranjak remaja mencari jati dirinya, terkekang oleh seorang penyihir/malaikat jahat yang membutuhkan seseorang untuk disayang dan menyayanginya. Bukan hanya sekedar membuat Pinokio mempertanyakan hubungan dirinya dan ayahnya yang kelewat erat. Tapi, ini sekedar pendapat pribadi, sih.
.
Yang saya agak “apa-apa gitu” juga di sini adalah kesan kalau si Ayah itu seperti feminim. Dari membaca batin-membatin si Ayah itu, kesannya dia itu malah seperti seorang Ibu. Sampai-sampai mau lagi mencium bibir anaknya sendiri, apalagi si anak itu laki-laki?! Ampun deh. Jujur pada bagian itu saya merasa geli sendiri. Hentainya kelewat itu! Ahahhahaha. Tapi saya kemudian kembali berpikir begini untuk menenangkan diri: “Ingat, ingat, yang nulis ini Thiya, jadi wajar kalau rada-rada hentai.” Hehehehe
.
Secara keseluruhan saya enjoy aja bacanya. Keluh-kesah Ayah juga terasa. Dan ada kesan kalau cerita ini suasana dan latarnya sudah pas. Tapi ya itu, konfliknya. Berasa datar entah kenapa. Entah kenapa ya, jadi saya juga ngak tahu.
.
Itu saja kayaknya Thiya Rahma yang mirip Lucy Liu. Mohon maaf kalau ada komentar yang kurang berkenan di hatimu, Dinda. Maafkanlah.
.
Salam Olahraga

Writer hidden pen
hidden pen at Boneka Kayu (3 years 38 weeks ago)

gak bang, bukan itu . Ehm (nongol karena ada kata kesukaan) ini menjurus Yaoi aka laki ama laki gitu. sedangkan tia itu t#u### Hihi kabuuurrr

Writer Atre
Atre at Boneka Kayu (3 years 38 weeks ago)
70

Halo Thiya, apa kabar? ^^
Tampaknya sudah banyak yang berpendapat atas cerpenmu ini, tapi biarlah aku menceritakan apa yang terlintas dalam kepalaku ketika membaca cerpen ini. Biar gak dikatakan hanya ingin poin semata.
Pada paragraf paling depan penggunaan "nya" terasa boros.
Pada bagian paragraf anak yang meninggal itu dengan paragraf selanjutnya seperti ada sesuatu. Ibarat nonton film dan ada di bagian orang meninggal, lalu iklan.
Hal yang sama juga aku rasakan saat Pinokio itu hidup dan komentar tokoh ini membuat adegan seru itu tiba-tiba hilang. Ibarat lagi, menonton boneka kayu yang tiba-tiba hidup lalu ada iklan.
Aku juga merasa tokoh utama ini seperti yang lain, lebih mirip perempuan. Tindak-tanduknya lebih ke arah perempuan daripada laki-laki, apalagi seorang ayah.
Maaf jika kurang suka atau mau membalasnya di ceritaku? Silahkan, malah sangat diperbolehkan. ^^

Writer izaddina
izaddina at Boneka Kayu (3 years 39 weeks ago)

pov-nya kek cowok melambai //ditampar
TAPI KAKAK AKU SUKAAA

Writer AninditaAyu
AninditaAyu at Boneka Kayu (3 years 39 weeks ago)
80

Suka sama idenya kak, dari dongeng anak-anak yang diubah jadi kisah thriller.

Di kalimat kedua paragraf pertama, ada kata dahapan. Dahapan apaan ya kak? Maksudnya hadapan kali ya?

Lalu semakin menuju akhir cerita, kok aku semakin merasa si tokoh Ayah ini, lebih mirip Ibu-ibu ya? Posesif banget soalnya >,<

Salam kenal sebelumnya ya kak... :D

Writer vinegar
vinegar at Boneka Kayu (3 years 39 weeks ago)
80

Udah baca kemarin sebenernya, namun karena satu dan lain hal baru sempet komen sekarang. Saya kira dirimu bakal bikin yang berbau realis gitu, tapi tetap setia sama fantasi kayanya yah. Jangan-jangan ini draf roman-thriller yg ga jadi dikirim #ditampol.

Posesifnya udah kerasa memang, perlakuan memaksakan kehendak, mengisolasi, sepertinya semua formulanya ada di Gepetto (eh, apakah ayahnya itu Gepetto atau bukan ya?). Mengenai cinta ayah dan anak ini, entah apakah dirimu sengaja menggiring pembaca pada kesimpulan itu ataukah memang caramu mendeskripsikan hubungan itu yang rada terlalu 'seksi'? Hah. Maksud saya, si Ayah bahkan hendak mencium bibir Pinokio, dan selalu mengatakan hubungan tidak wajar. Saya nggak tahu apakah ada bapak-bapak di luar sana yang mencintai putranya terlalu besar sampai punya hasrat ingin mencium bibirnya :|.

Ataukah masalah sebenarnya ada di karakter Ayah yang terlalu feminin, perasa, sensitif, dan emosional. Sepertinya memang karakter laki-lakinya belum dapat saja sih, malah lebih mirip ibu-ibu kesepian #ditonjok. Masalahnya karena ini fantasi, si Ayah bisa jadi makhluk apa saja, mungkin bukan manusia yang sifat kebapakannya bisa dibayangkan. Jadi rada sulit mengomentari ini karena dalam fantasi apa pun bisa terjadi :).

Terakhir, inner dialognya yang sering meratap-ratap itu loh, wkwkwk..

Selamat ya udah nyelesain tantangan di sela kesibukanmu, jangan kapok :)

Writer rian
rian at Boneka Kayu (3 years 39 weeks ago)
70

Saya enggak tau syarat tantangannya apaan, jadi enggak bisa ngomentarin dari segi itu.

Setuju sama Momod, ini penjabaran konfliknya sekadar di permukaan, enggak bikin saya 'peduli' sama si tokoh utama kita. Mungkin ada hubungannya sama deskripsi penulis yang menurut saya kurang detail (terlalu umum, bahkan seringkali klise), ditambah juga kalimat-kalimat puitis yang menurut saya enggak banget ada di cerita ini.

Saya kira idealnya itu ketika penulis bisa memengaruhi emosi pembaca tanpa secara langsung memanipulasinya lewat kata-kata yang dibikin sedih, tapi mungkin lewat susunan kalimatnya, bangunan suasananya, atau apapunlah. Kayak di ceritanya Day yang "Robot Anjing dan Putri Peri," dia enggak secara langsung menyampaikan temanya yang tentang kesepian itu, tapi lewat unsur-unsur yang enggak secara langsung berhubungan. Baca ceritanya sendiri ajalah biar ngerti:)

Tapi mungkin enggak bijak juga kalau saya ngebandingin cerpen bergenre ini dengan cerpen Dayeuh.

Sekian.

Writer Shinichi
Shinichi at Boneka Kayu (3 years 39 weeks ago)
60

enggak asyik deh. mungkin karena kebawa nama Pinokio. tetep ini idenya enggak asyik. saya melihatnya masalahnya cuma ada di permukaan. penulisnya merasa perlu menunjukkan apa saja yang dilakukan tokoh sepanjang cerita. sementara tema begini, saya pikir enaknya lebih dibawa mikir, dibawa termenung, emosi yang enggak kelihatan "gerakannya". selebihnya saya idem sama dua komentar sebelumnya.
.
btw, pov ini cewek-yang-maksa-biar-enggak-ketauan-cewek. atau apalah itu isi tantangan kalian. pasalnya dia bilang "perhiasan" di awal cerita. enggak lakik banget. ahak hak hak. soal "mencintai" juga. kesannya ya. enggak ada cara lain apa ya?
.
belum okelah ini. kip nulis dan kalakupand sajo

Writer The Smoker
The Smoker at Boneka Kayu (3 years 39 weeks ago)
100

gak nyangka idenya dilarikan ke bentuk seperti ini. apa ini salah satu opsi dari tantangan yg kemarin juga?
kenapa namanya pinokio? orang2 mungkin pasti ingat juga sii, boneka kayu yg bersama bapak2 itu siapa, kan? jadi menurut saya bisa dinamain lain, tapi menyerempet atau sekedar diselipin pengingat ke nama aslinya.. karena untuk nama2 populer itu sudah ada cerita dan kesannya sendiri dalam benak, khususnya saya sii. tapi nggak tau deh yg lain.
penceritaannya runut. saratnya bolehlah: posesif sama pov1 lelaki ya. jadi oke lah.
saya kecewa pas akhir2nya sii (bagian itu yg mau direvisi?) saat si boneka itu menyatakan bahwa hubungan ayah anak itu gak begitu katanya, kan. padahal biarin saja, biar pembaca yg memang udah ada sinyal ke situ di paragrap2 sebelumnya, gak usah diingetin lagi. pasti ada cara lain untuk mencapai titik yg kamu inginkan, gak harus lewat situ. #apasih
dari bagian situ kerasa turun naiknya gak enak. dan untuk ending, bolehlah, walau saya ngarep yg lebih brutal dan tragis. sudah siaga karena ada perapian di situ, malah kirain mau dibakar, ngahahaha..
but anyway, cheerrsss,

Writer hidden pen
hidden pen at Boneka Kayu (3 years 39 weeks ago)
80

di dahapan itu apa yach. Umm ane jujur bahwa jebakan terjadi ketika ane membaca cerita ini piippp. Kupikir si aku ini jadi pedofil yach ehm ehm. Mungkin agak ganjal bila jelaskan perihal si aku yang notabene cewek atao cowk. Kuanggap cowok dech. Sepertinya piipp agak kecepatan alurnya piipp. Dan kali ini tambahan dongeng yang menyedihkan lagi menakutkan darimu. yang ane tangkap di sini sih Kesetiaan yang berlebihan. Hati manusia siapa yang tahu.