When Your Little Brother Have a Girlfriend -01

So, what’s the plan? You wanna wait ‘til she bends over and make a fart sound?”

Aku menghela napas. “Fa, gue cuma pengen liat gimana wujud ceweknya adek gue. Bukan nyari kelemahannya,” tanggapku tanpa mengalihkan pandangan dari Dion dan Sandra—dua sejoli yang duduk beberapa meja dari kami.

“Sama aja,” lirih Alfa.

Aku mengernyit, kali ini terpaksa menoleh ke arahnya. “Sama darimananya?”

“Ya sama aja. Intinya sekarang loe lagi nge-stalk mereka kan?!” Alfa mengangkat kedua bahunya seraya menyeruput cairan hijau kental—entah minuman apa yang tadi dipesan olehnya—dari dalam gelasnya. Eww!

Aku memutar bola mataku, kemudian kembali menyembunyikan wajah di balik menu kafe untuk memantau dua target tadi. Sekarang mereka tampak sedang menertawakan sesuatu.

“Ckck… Dian… Dian…. Siapa suruh kepo buka-buka hape orang? Jadi masalah kan? Jadi penasaran kan?” lirih Alfa lagi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, terdengar prihatin.

Aku meremas menu kafe di tanganku kuat-kuat, berusaha menahan diri untuk tidak menggampar cowok di depanku ini.

Okeh. Mungkin dia benar, mungkin ini memang salahku. Ini semua memang berawal dari kekepoanku sendiri (tapi demi Tuhan aku tidak akan mengakui ini di depan Alfa. Aku benci melihatnya bangga dan sok-sokan karena dia benar akan sesuatu!). Yah, sebenarnya bukannya aku sengaja buka-buka ponsel-nya Dion juga sih. Aku cuma mau melihat foto-foto Dion dan teman sekelasnya waktu liburan ke Bukit Batas minggu lalu kok!

Kemudian, tiba-tiba saja aku melihat ada foto Dion berdua sama cewek dan…..Voila! Alhasil, dari galeri aku pun beralih ke aplikasi lain. Dan tebak apa? Aku malah menemukan kalimat menggelikan semacam ini:

`Jangan lupa sikat gigi sebelum tidur ya Sayang. Besok aku jemput di rumah, kita malam mingguan di kafe XXX. Met bobo. Love you!`

Dan balasan yang tidak kalah menggelikan macam ini:

`Iya Dion sayang. Besok sore aku tunggu di rumah. Met bobo juga ya. Love you too!`

Setelah membacanya, aku langsung sakit kepala. Maksudku, Dion bahkan tidak menyikat giginya sendiri sebelum tidur! Kenapa sekarang dia malah sok-sokan mengingatkan orang lain?!

Aku pun menyelidiki identitas cewek itu lebih dalam lagi—dari ponsel Dion maksudku. Dan dari hasil penyelidikanku, cewek di foto yang bernama Sandra itu positif ceweknya Dion. Ini gawat! Aku tidak tahu sejak kapan, yang jelas ini kode merah bagiku. Aku membesarkan dan mendidik Dion hingga sekarang bukan buat pacaran dan cinta-cintaan!

Untungnya aku berhasil menahan diri untuk tidak langsung melabrak Sandra, dan memilih berunding dulu dengan Alfa, satu-satunya konsultan gadungan yang kukenal (Well, sebenarnya dia tetanggaku—lebih tepatnya lagi tetangga yang selalu numpang makan di rumahku). Alfa bilang aku tidak boleh bertindak gegabah—entah apa maksudnya—jadi aku mengubah planningku dari ‘melabrak’ jadi ‘mengintai’.

Sayangnya, Alfa tidak membantu sama sekali. Kerjaannya dari tadi hanya menggerutu, menggumam, menyindir, dan me-me menyebalkan lainnya yang pantas diberi penghargaan berupa hantaman keras di kepala—dengan buku menu di tanganku ini misalnya.

“Hmm… I hear watching a movie is more fun than stalking,” gumam Alfa, memecah lamunanku.

See? Aku mendengus keras. Oh, Tuhan! Kenapa tadi aku kepikiran buat ngajak dia ke sini sih? Dia ganggu banget, sumpah!

“Bisa diem gak, Fa? Gue gak bisa denger mereka nih!”

“Kayak kalo gue diem bakal kedengeran aja, Di,” sahutnya. “Lagian, emang kenapa sih kalo Dion punya cewek? Wajar dong! Malah bagus, artinya dia bukan gay.”

“Fa!” seruku seraya mendeliknya tajam. Aku bahkan tanpa sadar memukul meja, saking gemesnya.

Aku melirik sekilas ke arah dua target—yang untungnya tampak tidak terganggu dengan kegaduhan kecil yang kubuat tadi. “Kalo loe bosen, sana pulang! Jangan ganggu! Gue sendiri aja juga gak papa kok!” kataku, kali ini dengan suara yang lebih pelan.

Alfa menghela napas. “Okay. Okay. Gue bakal pulang kalo loe kasih gue satu alasan aja, kenapa Dion punya cewek jadi big deal banget buat loe?”

Aku mengerutkan dahi ke arahnya. “Loe seriusan nanya?” tanyaku balik, membuat Alfa spontan mengangkat kedua alis tebalnya.

Aku membenarkan posisi kacamata hitamku—yang kupakai dalam rangka menyamar. “Alfa, Dion itu masih sekolah! Dia masih muda! Pacaran masih terlalu dini buat dia! Kalo mereka putus gimana? Dion bakalan sakit hati, terus gak mau makan, gak mau belajar. Terus sekolahnya gimana? Nilainya pasti anjlok! Terus dia gak bisa masuk perguruan tinggi favorit, gak bisa dapat kerjaan yang bagus juga! Masa depannya bisa hancur, Fa!”

Alfa spontan tertawa mendengar jawabanku. “Ya ampun, Di! Paranoid banget sih! Loe kebanyakan nonton sinetron sama baca novel teenlit deh!”

“Ssshh! Alfa!!” tegurku, takut tawanya menarik perhatian mereka. “Paranoid? Yeah, maybe?! Look, gue cuma gak mau adek gue dimakan predator macam Sandra. Coba liat!” aku mengedikkan daguku ke arah target, membuat Alfa berbalik untuk melihat mereka. “Dari caranya menyaruk rambutnya ke atas, cara dia melipat kakinya, cara dia ketawa—Ah gue yakin banget seratus persen, cewek itu pasti psikopat cinta, Fa!!”

Mendengar itu, Alfa tertawa semakin keras. Dia bahkan sampai memegangi perutnya, butiran air pun mulai keluar dari sudut matanya. Ha. Sebegitu lucunya ya? Aku kan beneran khawatir! Coba nanti aku colok matanya pakai garpu, apa dia masih bisa ketawa?

“Sumpah, Di! Loe kayak bang Rhoma deh, dangdut banget!” ucapnya setelah berhasil mengendalikan tawanya.

Aku memijat pelipisku yang mulai berdenyut. “Pengemis Cinta. Rhoma Irama gak punya lagu dangdut yang judulnya Psikopat Cinta.“

Alfa hampir tertawa lagi, tapi aku segera melotot ke arahnya. “Okeh. Pengemis cinta, psikopat cinta, whatever!” Alfa menyeka air matanya, “Anyway, menurut gue sindrom brother complex loe ini udah keterlaluan.”

What? Brother complex? Gue gak—“

“Dengerin dulu!” potong Alfa, gemes. “Dion itu udah delapan belas tahun kali, Di! Dia udah gede, udah bisa bedain salah dan benar, udah bisa nyelesein problemnya sendiri. Loe udah lebih dari cukup mengurus kehidupannya selama ini. Kalo loe ikut campur terus, kapan dia mandiri?”

“Tapi kan—“

“Nah, terus sekarang dengan loe tau Dion punya pacar, loe mau apa? Melarang mereka? Nyuruh Dion mutusin? Yang ada loe malah dibenci kali, Di, sama Dion!”

Aku terdiam, mencoba merenungkan semua yang dikatakan Alfa. Ah, lagi-lagi Alfa benar. Sekarang Dion udah gede, bukan balita berumur tiga tahun lagi. Dia sudah bisa mengurus dirinya sendiri. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali menyiapkan sarapan untuknya—karena dia sudah bisa masak sendiri.

Oh my, kapan Dion berubahnya sih? Kok dia sekarang tiba-tiba udah gede? Padahal rasanya baru kemarin dia nangis-nangis minta temenin ke kamar mandi….

So, what’s next?” tanya Alfa tiba-tiba, membuatku tersadar dari lamunan.

Aku mengernyit, “Apanya?”

“Loe masih mau nge-stalk mereka? Atau loe mau nyamperin mereka? Atau kita out dari sini? Pick one!”

Aku melirik Dion dan Sandra sekilas, mereka masih asyik bercengkrama. “Well, yang jelas gue belum siap buat nyamperin mereka,” sahutku sembari mengangkat bahu. Kemudian aku menatap Alfa prihatin. “Tapi gue tahu, loe udah bosen banget kan di sini?” tanyaku. Aku mengedik ke arah pintu keluar sambil tersenyum.

Yess!” seru Alfa kegirangan. Dia berdiri dan menyambar tanganku, “Come on! Gue kenalin sama nasi goreng paling enak di kota ini! Gue traktir!”

Aku tertawa seraya berdiri mengikuti Alfa. Namun sebelum kami keluar, aku melihat sekali lagi ke arah Dion. Anak itu sedang tersenyum pada cewek di depannya, senyum yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Alfa terdengar menghela napasnya. “Tenang, Di! Sekalipun mereka putus dan Dion patah hati, gue yakin kok Dion gak bakal ngelakuin hal-hal yang bisa ngecewain loe. Serius deh!” ucap Alfa sok bijak, sebelum akhirnya kembali menarik tanganku dan menyeretku keluar dari kafe ini.

Read previous post:  
Read next post:  
90

poin :)

enak sekali dibaca

Makasih kak hehe ^^

80

Ceritanya ngalirnya enak :)

hehee, makasih banyak kak ^^

80

Walau mmg kesannya tokoh2 lebi muda dr umurnya.. bukan cuma satu tokoh.. tp smua tokohnya jiwa abg.. tp berhubung komedi ya dimaafkan... anw.. kyknya ada kalimat yg bhs inggrisnya berkesan aneh...i hear watching a movie is more fun than stalking. I heard mgkn lebih cocok..
Sori kl salah.. n kl ada koment yg ga berkenan.. salam

Hehee.. Makasih udh mau repot2 baca dan komen kak. ^^
Kyanya emang yg nulis yg belum dewasa, makanya tulisannya jdi gitu kak.. Huehehee
Iya ya kak? Soalnya itu aku ngutip quote dari film.. Hwkwkwkwk >w<

70

Di sini lebih terasa sindromnya :)
lucu, "cairan hijau kental" itu green tea ya? hihi

Iya kak. Soalnya emang dsni konfliknya berawal. Hehe ^^
Bisa greentea, bisa juga jus alpukat.. Huehehee~~

90

Cerita remaja yang manis. Eh, tapi adeknya sudah 18 tahun? Aku malah dapat kesan kalau si kakak ini masih 16 dan adeknya 14 :O
Mungkin aku saja yang oleng :v

Makasih udh repot2 baca dan komen kak ^^
Nah masalah umur dan tingkah laku, aku nokomen. Mgkn malah penulisnya yg oleng. Hwkwkwkwk >w< salam.

80

ini menarik, kekhawatiran seorang kakak terhadap adiknya, tapi sepertinya lebih dari itu ^^
hanya ada satu yang membuatku bimbang, berapa umur tokoh utama dan temannya itu?
rasanya mereka seperti anak SMA dari tingkah laku dan gaya bicaranya, sementara adiknya sudah 18 tahun yang bisa dikatakan berada di kelas 12, atau memang orang-orang yang sudah beralih dari status remaja ke arah dewasa seperti itu?

Salam kenal. Makasih banyak udh baca dan komen kak ^^
Usia kakak sma temannya itu 25 tahun, mereka sudah kerja dan sebagainya. Sebenarnya aku kepikiran juga menulis informasi ini, tapi entah kenapa akhirnya malah lupa dan gak masuk kdlm tulisan. Maaf, maaf. Hhuu :"
Kalo masalah tingkah laku remaja skrg, aku gak tau juga kak. Tapi cerita ini emg kubuat sengaja biar si adik lebih dewasa dri kakaknya.. Hehehee ;;)

70

Ceritanya keren nih, dari awal udah menarik
Saya mau komentarin cerita lebih spesifik tapi ilmu saya masih dangkal
Tapi secara awam buat saya sih bagus, jadi pengen baca cerita selanjutnya

Syukur banget kalo kakak suka ceritanya. Hehe
Makasih byk ya udh baca dan kasih komentar ^^ salam kenal~

80

Wogh, Dasar brother complex! wkwkwkwk

Saya ngekeh terus sepanjang acara nge-stalk Dion. Slice of life-nya dapet. Terus sampe ke akhir, saya jadi penasaran....

Kayaknya si MC sama Alfa ini OTP yah? Well, ditunggu kelanjutannya~

Syukur deh kalo kakak suka ceritanya.. Hehehe~ ^^
OTP gak yaahh?? Ahahaha.. Liat nanti deh kelanjutannya gimana, semoga secepatnya.. >w<
Anyway makasih byk sdh baca dan komen kak... ;;)

90

Salam :)
Dr judulnya menggemaskan. Pas baca, asyik. Berharap bisa baca kelanjutannya. Semangat!

Makasih banyak kak ^^
Semangat juga. Hehee

Lanjut! Lanjut! Lanjut! *pasang banner dan ikat kepala* XD

Doain aja ya biar sambungannya cepat kelar. Khekhe ^^

60

Kapan kakak kecilmu memiliki teman wanita, hmm bagus dan asyik ceritanya. Begitu pula judulnya dan kukira isinya berbahasa inggris, ternyata cuma 2 3 patah kalimat aja, nampaknya cuma pemanis aja bahasa inggris ini. Oohh kenapa genre #iseng ? Apa maksudnya? Dan kalo tanda (#) digunakan untuk misah genre, akan lebih baik jika pakai koma (,) aje. Nanti ada koq pemisah (|) . Ehm akhir kata. #kabuurr

Makasih udah baca dan komen kak. Hehe ^^
Yep, cuma pemanis. Soalnya aku suka banget kalimat sarkastis dlm bentuk bhs inggris, entah kenapa lebih berasa. Pdhl aku sendiri gak terlalu bisa bhs inggris. Huehehee
Masalah genre, krna aku msh baru jdi gak ngerti gmna sistem nulisnya. Tapi mksh sarannya kak. Salam. >_<

80

Salam :)
Kesan pertama saya sih, dari penulisan udah rapi. Tapi, di akhir kisah reaksi saya adalah: "That's it?" Apa ya, kurang berkesan sih untuk bangunan konfliknya. Mungkin karena emang inti konfliknya bukan ini ya? Saya kira dari judul yang ada angkanya, ini masih berlanjut. *cek tag* Oh iya masih bersambung. Semoga selanjutnya lebih nendang lg, salam.

Salam kenal :)
Iya kak, aku emang lemah bikin konflik, selalu stuck. Makanya jatuhnya agak maksa dan kurang greget juga. :(
Amiin. insyaAllah nanti ada sambungannya kok, dan semoga menurut kakak lebih nendang ya ^^
Makasih banyak udah mau repot2 baca dan komen. Salam.