Prim Aux 1

Anthill adalah sebutan peradaban baru manusia bumi jauh di masa depan.

Semua berawal dari perkembangan teknologi di 2065, menjadikan harga material robot semakin murah. Perdagangan robot secara umum pun dilegalkan. Memberi kesempatan bagi semua individu untuk memiliki robot yang bisa menggantikan tugas mereka.

Ada banyak kontroversi mengenai penggunaan robot dan dampak buruknya bagi manusia. Namun mengingat robot saat itu adalah komoditi yang paling dicari di pasaran, pemerintah pun menutup mata.

Walau kemudian, robot yang semula diperuntukkan sebagai penolong beralih tugas. Mereka oleh beberapa oknum digunakan untuk kejahatan. Pembunuhan dan penjarahan terjadi di mana-mana. Awalnya hanya meliputi lingkungan kecil dan menjadi persoalan pemerintah daerah. Namun dengan cepat berkembang menjadi skala yang lebih besar. Tidak membutuhkan waktu lama bagi negara-negara untuk saling menyalahkan dan perangpun meletus.

Selama World War III, para pemimpin dunia bekerja keras menyelesaikan persoalan perang. Ego tinggi masing-masing pihak membuat perjanjian damai tidak berjalan mulus. Tiga tahun berlalu dan konfliks kian memburuk. Rapat ketiga puluh para wakil negara di PBB akhirnya menemukan titik terang dan satu kesepakatanpun diumumkan.

Anthill pertama kali digagas oleh PBB, yakni adanya fasilitas bunker bawah tanah dengan tingkat keamanan maksimum. Tempat ini memiliki status quo atau bebas dari bahaya perang. Fasilitas ini diperuntukkan bagi para ilmuwan, wanita dan anak-anak untuk melindungi SDM yang ada. Tapi tiga bulan setelah beroperasi, fasilitas ini dibuka untuk umum tanpa memandang kewarganegaraan.

Proyek bunker sangat diminati saat itu. Terbukti sebulan sesudah hari pembukaan, fasilitas yang bisa menampung 500 juta penduduk itu sempat ditutup karena penuh. Pembangunan bunker dinilai lamban oleh beberapa pihak, dan akhirnya usulan mengenai Megatown diterima oleh PBB. Pembangunan gedung pencakar langit dan terluas di dunia yang bisa menampung tiga miliar jiwa.

Setahun setelah Megatown selesai, pergerakan penduduk masal kemudian terjadi di semua negara. Warga pergi meninggalkan tanah mereka dengan berbagai alasan. Beberapa tampak frustasi dan lelah tentang perang yang tak kunjung selesai; sisanya kecewa karena negara tak bisa lagi menjamin keselamatan hidup mereka dan keluarga.

Perang secara otomatis berakhir dua puluh tahun kemudian, menyisakan banyak negara adidaya dalam kebangkrutan akibat biaya perang. Sementara di daerah konfliks parah seperti kawasan Timur Tengah dan Asia, negara-negara tersebut secara hukum dibubarkan karena tidak memiliki rakyat.

Dan kini, lima tahun setelahnya bumi tidak lagi terbagi-bagi menjadi yang namanya negara. Peradaban barupun dimulai di fasilitas Anthill. Pengungsian membuat populasi disini berkembang signifikan. Bukan hanya ilmuwan, wanita dan anak-anak tapi meliputi semua ras memutuskan menetap.

Perang meninggalkan luka bagi yang selamat. Tak ingin ada lagi perang, manusia disana sepakat akan satu hal. Peraturan dalam Ant Hill adalah mutlak dan yang melanggar akan dibuang. Persetujuan itu lalu dicatat dan diatur dalam program kesatuan yang bernama Sistem.

Seratus tahun kemudian, manusia hidup aman di kawasan ini. Walau populasi sekarang jauh lebih sedikit jika dibandingkan saat Anthill pertama kalinya pada War World III. Namun tingkat intelegen penduduknya menjadi beberapa kali jauh lebih baik dibanding dulu. Pemilihan sifat-sifat unggul dari induk wanita dan pria membuat keturunan yang dihasilkan kualitasnya meningkat setiap tahun.

Sistem menyebutnya pemilihan Cetakan Gen. Walau begitu, tidak semua orang dipilih oleh Sistem untuk program ini. Hanya mereka yang sejak kecil diberi label Undefined setiap tahunnya beruntung bisa mengikuti upacara pemilihan pasangan. Tak banyak yang mengetahui informasi tetang para Undefined, biodata mereka termasuk kelas Classified yang tidak bisa sembarang diakses.

Selain label undefined, manusia juga terbagi menjadi label I, II, dan III sesuai dengan bawaan DNA mereka. Hal ini untuk memudahkan sistem memilihkan pasangan pembuahan mereka nantinya. Walau untuk label I, II, dan III ini pemilihan pasangan tidak bersifat mutlak, berbeda dengan label undefined.

Selain Undefined, Label I, II, dan III, hampir 3/4 manusia yang tinggal di Anthill tidak diberi label atau unknown. Informasi tentang mereka beredar bebas di Sistem dan bisa diakses oleh siapapun.

***

Gedung Megatown

Saat ini di pagi hari waktu Anthill, sebuah robot berbentuk kumbang kecil terbang menarik korden merah di dalam sebuah kamar berukuran 4x4.

"Fix, jangan lakukan itu. Biarkan aku tidur lima menit lagi."
Gadis berambut panjang itu membalikkan badannya. Punggungnya yang kecil berbalut daster tampak tersinari matahari.

Libiamo, libiamo ne'lieti calici che la bellezza infiora.
E la fuggevol ora s'inebrii a volutta.

"Mm.. a-ku bangun..."

Libiam ne'dolci fremiti che suscita l'amore,
Poiche quell'ochio al core onnipotente va.

Tapi kumbang itu masih saja memutar lagu Brindisi Libiamo saat ia melihat tuannya tak beranjak sedikitpun dari kasur.

"Akh..."
Teriakku kesal saat lemparan bantalku gagal mengenai Fix yang bermanuver cepat.

Libiamo, amore, amor fra i calici piu caldi baci avra

"Ya terserahmu sajalah, Amore."

Aku mengucek mataku sebentar dan bangkit dari kasur, "Amore."

Kukecup serangga kecil yang tengah terbang rendah di sebelahku.

Fix adalah hasil kreasiku saat umur 14 tahun. Robot kumbang badak yang seperti hewan aslinya yakni bisa membawa beban 850 kali berat badannya sendiri. Dengan bobot 456 gram, dia juga sanggup bermanuver cepat yakni 3,6 mil/detik atau 20 kali lebih cepat dari kecepatan suara.

Walau begitu aku menyesal menanamkan speaker dan subwoofers padanya. Dengan jangkauan suara 110 dB - 198 dB, Fix bisa memainkan lagu pengantar tidur terbaik dan juga suara yang bisa membunuh setiap orang yang mendengarnya.

"Prim Aux, bukankah seharusnya dirimu menggunakan pakaian biasa hari ini? Jadwal hari ini adalah Fieldtrip."

"Ah, aku lupa lagi."

Aku kembali membuka lemari setelah Fix mengingatkanku tadi. Sambil melepas pakaian seragamku, mataku sibuk menjelajah mencari baju yang bisa kukenakan.

"Sulit dipercaya bahwa IQ-mu 390."

"Aku juga sulit mempercayai bahwa ciptaanku kini berbalik mengataiku."

Aku sudah berganti baju dan segera beranjak keluar dari kamar. Kompleks Dormitory menggunakan sensor pengenal tubuh untuk memasuki semua pintu : pintu kamar pribadi, pintu kamar asrama, dan pos penjagaan asrama.

Kurang tidur membuat langkahku berasa mengambang. Ditambah lagi dengan suasana sepi disini. Jangan menanyakan tentang siapa tetanggaku atau jumlah penghuni disini, terus terang saja kami tidak saling bersahabat satu dan yang lainnya. Terkecuali untuk kepentingan penelitian bersama, kesibukan sebagai jenius membuat kami menghabiskan waktu lebih banyak di laboratorium masing-masing.

Setibanya di depan lift, aku tak henti-hentinya menguap. Menunggu disaat berada di lantai 400 dengan kapasitas lift tunggal yang terbatas membuatmu ingin berganti tempat tinggal.

"Undefined selalu berada di tempat khusus. Kami tidak bisa merubah peraturan."
Dan itu yang setiap kali kudengar saat mengajukan pemindahan pada Sistem.

Orang-orang selalu menganggap Undefined spesial. Tapi menurutku selain kami jenius, kami tidak se-spesial itu. Kami tidak boleh sembarang bergerak, Sistem bahkan membatasi siapa saja orang yang boleh kami temui. Dan seperti yang diketahui, semua Undefined menikah sesuai dengan kalkulasi Sistem.

Sangat mengherankan karena selama ini tidak ada Undefined yang protes mengenai pernikahan ini.

Sistem melakukan tugasnya dengan baik. Mencatat data yang berbentuk ekspresi, level hormon dan emosi saat kami saling berinteraksi. Dari data itu, Sistem lalu mengkalkulasi dan menghitung kecocokan. Hitungan itu kemudian dibandingkan dengan yang lain. Interaksi yang menghasilkan nilai terbesar itulah yang lalu dipercaya Sistem untuk menjodohkan Undefined.

Data dari tubuh Undefined pada akhirnya memberitahu Sistem semuanya. Trik dari perjodohan sempura dari kalkulasi angka dan data yang akurat. Pada akhirnya, cinta yang diagungkan pada masa lalu bisa dipecahkan secara data angka.

"Prim, kau tidak mau masuk?"

Pertanyaan Fix menarikku balik dari imajinasiku.

Aku bahkan tidak sempat mendengar suara operator robot tentang pintu lift yang sudah terbuka lebar di depanku. Melangkah masuk, perlahan aku telah dibawa menuruni gedung ini.
***

Di kelas tepatnya di lantai 210, kami sudah berkumpul lagi. Para Undefined seumurku. Jumlahnya tepat 20 orang dan hari ini kami akan melangkah keluar dari gedung utama Anthill untuk pertama kalinya.

"Aku tidak menginginkan hal ini. Tapi mereka mengatakan ini keharusan."

"Para undefined sebelum kita tampaknya gila."

"Menginginkan interaksi dengan label I, II, dan III masih masuk akal. Tapi untuk apa kita bertemu manusia biasa?"

"Aku ngantuk karena mengerjakan rumus, lagipula apa yang bisa dipelajari dari kaum Unknown, huff..."

Exited...

Tadinya kupikir ada satu orang setidaknya yang menunjukkan kegembiraan atas perjalanan ini. Empati untuk para senior yang menginginkan perjalanan ini. Sayangnya mereka telah lulus dan tak akan pernah menginjakkan kaki keluar dari Megatown.

"Minggir."

Panas membuat barisan tampak semerawut. Murid-murid cowok saling mendorong -- desak-desakan mencoba menjadi yang pertama masuk ke dalam kendaraan. Pembimbing kami Professor Skuidword tampak kewalahan mengatasinya, namun akhirnya semua murid masuk dalam mini bus. Professor pun menutup buku absensinya dan ikut masuk. Pria berperawakan tinggi kurus itu lalu duduk di depan di sebelah kemudi.

Aku menjadi murid yang terakhir masuk, dan tampaknya semua bangku di depan telah terisi. Hanya satu kursi paling belakang sebelah jendela yang tersisa.

Tidak ada pilihan lain akupun duduk disamping murid yang merupakan musuh bebuyutanku.

"Bangunkan aku kalau sudah sampai," pesanku pada Fix dan aku menutup mataku.
***

"Prim... Prim... Prim..."

Aku terbangun dan membuka mataku pelan.

Fix di depanku tampak berputar-putar sementara tempat duduk di sekelilingku telah kosong.

"Dimana yang lain?" Tanyaku sambil menggosok mataku.

"Professor berkata tugas hari ini adalah interaksi dan pengamatan terhadap kaum unknown. Buat jurnal atau makalah dari itu. Tadi sebelum kita berhenti, Billy menembakku dengan cairan aneh yang membuat speakerku rusak untuk sementara waktu. Untungnya aku bisa memperbaiki sistemku sendiri."

"Oh ya? Berapa lama itu?"
Aku menatap Fix.

"Baiklah, aku membutuhkan waktu setengah hari untuk itu dan kau Prim, waktumu tinggal setengah hari juga untuk tugas tadi."

Setelah Fix menyelesaikan perkataannya, aku baru tersadar suasana di luar jendelaku sudah mulai memerah. "Hampir senja, aku mesti buru-buru..."

Panik, aku berlari keluar dari minibus dan ...

"Akh..."

Teriakku kesakitan setelah lututku terpleset lalu jatuh mengenai sesuatu yang tajam di permukaan tanah.

Batu.

Telapak tangan kutepuk bergantian sambil menyapu -- permukaan yang kiri dan yang kanan. Membersihkan mereka dari kerikil dan pasir yang menempel. Aku pernah melihat mereka di lab, tapi belum pernah melihatnya langsung dalam jumlah yang sebanyak ini. Rasanya sedikit takjub.

Ini bagaikan tersesat di dimensi lain.
Berada di luar Megatown.
Menginjak tanah bumi.

Tapi bagaimana ini? Tak terlihat satupun ladang bercocok tanam di sekitar sini.

Semenit lalu aku masih terpukau dengan pemandangan disekeliling, tapi sekarang aku sudah cukup sadar atas situasiku sendiri.

Di kananku padang gersang dan tandus landai menurun penuh dengan kerikil. Di arah berlawanan pemandangan sama dari atas bukit.

Para petani... dimana kau bisa menemukan mereka untuk tugasmu saat ini Prim? Tempat ini tidak terlihat subur untuk ditanami.

Baru saja aku akan melihat ke Fix mengajukan pertanyaan atau bahkan menyuruhnya membawaku terbang ke daerah yang lebih subur.

"Fix?"
Tanyaku khawatir setelah melihat robot itu terbang berguling-guling dan terjatuh.

"Maaf Prim, aku lenggah tadi. Cairan itu berisi virus yang juga merusak DNA. Saat sadar, aku sudah kehilangan separuh dari informasiku juga 90 persen dari sumber dayaku. Aku tidak dapat menggunakan GPS maupun membawamu terbang."

"Kita akan membalas Billy nanti. Hmm... bagaimana sekarang? Aku tidak bisa mendaki diantara tebing curam dan bebatuan. Baiklah, mari kita turun dulu dari sini dan lihat apa yang bisa diperbuat nanti."

Otakku berpikir keras sambil berjalan membelakangi bukit. Menyusuri jalan yang bahkan tak mulus untuk disebut jalanan. Susunan bebatuan kecil yang terhampar asal-asalan. Naik turun dan kadang curam tak stabil membuatku beberapa kali terpleset jatuh lalu meluncur bersama mereka para batu.

Bukan hanya lututku yang berdarah, telapak tanganku juga perih karena ssmpat tergores tadi. Hari ini untuk pertama kalinya selama 19 tahun aku begitu takut terkena infeksi karena lukaku lagi-lagi bercampur dengan pasir. Rasanya kesal sendiri karena tak membawa perlengkapan medis tadi.

Jenius membuat kau tidak memerlukan orang lain, dan membuatmu enggan menolong orang lain.

Cibiran dari kritikus majalah terkenal itu tiba-tiba saja terlintas di kepalaku. Situasiku saat ini membuatku membenarkan semua perkataannya. Tidak ada satu pun dari sembilan belas orang tadi yang membangunkanku.

Teman?
Persaingan ilmu, kepintaran dan bakat membuat semuanya berlomba menjadi terhebat. Dan aku si nomor satu ini mengetahui bahwa banyak yang menungguku terjatuh dari posisi itu.

"Kyaaaaaaa..."

Teriakku kaget saat pundakku tiba-tiba diremas oleh sesuatu.

Sedetik lalu aku masih berpikir mengenai resiko kepintaranku, namun saat ini aku terjatuh -- duduk bersama kerikil-kerikil. Sementara Fix yang tadi duduk pundakku tak tampak lagi.

Ia pasti langsung terbang entah kemana. DNA-ku yang tertanam didalamnya membuat reaksi kaget kami sama berlebihannya.

"Kamu terluka?"

Tiba-tiba saja dari belakang muncul sesosok pria. Dari penampilannya yang coklat eksotis terlihat ia berasal dari ras Mediteranian bercampur Kaukasoid.

Dia berdiri di hadapanku dan menurunkan keranjang di punggungnya. Sisa matahari senja di belakangku menyinarinya. Wajah pria itu kini terlihat jelas.

"Kau siapa?"
Tanyaku sambil mengamati setiap detail dari tubuhnya. "Matamu? Heterochomia? Cacat gen?"

Mendengar komentarku pria itu tersenyum, "Namaku Assam dan mataku hmmm... bukankah mereka cacat yang indah?"

Aku mengangguk. Walau secara ilmiah kelainan iris yang dialaminya berarti cacat gen tapi kedua bola matanya memang sangat indah. Yang sebelah kiri tampak coklat tua kemerahan layaknya pohon Kouyou di musim gugur. Sementara yang satunya lagi hijau terang dengan lingkaran warna biru dan kuning bercampur di dalamnya.

"Kau terluka?"

Aku menggeleng, menarik pandangan mataku darinya. Dan dengan percaya dirinya aku bangkit berdiri.
"Bruk..."
Walau akhirnya gagal dan sekali lagi aku terjatuh dengan kerasnya. Kini bukan saja gagal terlihat keren tapi aku membuatnya memiliki alasan untuk menertawakanku.

"Hahaha... aku sudah dewasa dan luka ini hanya soal kecil."

Harga diriku membuatku tertawa lebih dulu darinya.

"Benarkah? Tapi apa sebaiknya yang itu tetap harus diobati? Aku memiliki obat di keranjangku."

Kukira ia akan menertawaiku keras tapi mendengar nada suaranya yang tampak khawatir membuatku langsung terdiam.

Sikapnya mencairkan hati kerasku. Hatiku berubah menjadi sedikit melankonis. Membuatku merasa beruntung memiliki darah di lututku saat ini.

Aku mengetahui pasti sebuah senyum perlahan merekah di ujung bibirku.

Hanya lima detik, lalu kulihat Fix terbang rendah menujuku.

Robot itu melirik padaku dan Assam.

Aku langsung mengubah ekspresiku, menggeleng cepat berbisik dengan bahasa isyarat pelan memberitahunya bahwa ini tak seperti yang dia pikirkan sebelum Fix mengataiku.

Bukannya aku senang ada orang asing yang perhatiaan padaku, ini semata-mata karena paling tidak ada alkohol untuk membersihkan lukaku.

Sesudah berbisik pada Fix yang menempel di punggung tanganku, tanpa sengaja aku melihat isi dari keranjang yang sudah terbuka.

Ehm... tapi bukankah mereka hanya setumpuk dedaunan?

Aku lalu melirik Assam bermaksud meminta penjelasan, tapi pria itu malah terbahak sambil menutupi mulutnya.

"Kataku obat, tapi sepertinya kita memiliki pengertian berbeda mengenai obat..."

Bukannya lanjut menjelaskan, Assam malah menjulurkan jemarinya menuju wajahku.

"Eh..."

Telunjuknya sempat menekan pelan lembut di antara alisku yang mengerut. Aksinya itu membuatku spontan menjauh.

"Kebiasaanmu berpikir seperti itu bisa membuat kerutan di wajahmu yang cantik."

Mendengar perkataannya wajahku seketika memanas.

Walau aku sering mendengarkan pujian seperti itu, tapi kata cantik tadi terasa berbeda saat dia yang mengucapkannya. Belum lagi pandangan matanya itu.

"Sebentar..."

Assam tampak mengeluarkan mortar dan palu mini dari kantong bajunya. Ia juga membongkar tumpukkan daunnya dan memilih beberapa daun hijau yang panjangnya hampir setelapak tangan.

"Fix..."

"Binahong atau Bassela rubra linn, daunnya berbentuk jantung dengan ujung tepian lemas, berkhasiat untuk mengobati luka jatuh. Pernah digunakan prajurit yang terluka saat perang Vietnam di tahun 1950."

"Hahaha... Robotmu tampaknya lebih pintar darimu."
Assam tertawa setelah Fix menyelesaikan penjelasannya. "Dan..."

Daun yang telah ditumbuk tadi dituangkannya pada telapak tangan -- membekapnya pada lututku.

"Sakit?"

Aku tidak menjawab pertanyaannya itu dan hanya menatapnya. Mataku benar-benar dimanjakan oleh raut wajahnya. Mulai dari alis, mata, dan hidungnya hingga bibirnya.

Assam tampak serius saat meratakan daun yang disebutnya obat. Lalu ekspresinya berubah lebih lembut saat ia meniupi lututku.

"Baiklah, sudah selesai."

Sesudah mengatakannya, pemuda itu bangkit berdiri. Mengangkat kembali ransel keranjangnya tampak akan segera pergi.

"Eh..."

Aku tidak menyadarinya, tapi tanganku tengah menggenggam pergelangan kaki pria itu.

Aku menahan kakinya kuat.

Sadar akan kelakuanku yang memalukan, kutundukkan kepalaku ke bawah menyesalinya.

...
...

"Ehem..."

Sebuah suara batuk menyadarkanku.

Bukankah aku sudah melepas peganganku beberapa menit yang lalu.

"Eeeehem..."

Batuknya sekali lagi dan kali ini terdengar sangat dibuat-buat.

Aksinya terasa lucu dan sejenak aku melupakan rasa maluku.

Namun sebelum aku sempat tertawa, bibirku menutup sendirinya saat melihat bayangan lengannya. Telapak tangan Assam sudah terjulur menungguku.

Kemudian aku dengan bantuannya kembali bangkit berdiri.

"Prim Aux... namaku Prim Aux. Kau bisa memanggilku Prim. Dan dia Fix..."

Kataku pelan sambil menatap wajahnya.

Bersambung

Read previous post:  
Read next post:  
Writer Wanderer
Wanderer at Prim Aux 1 (2 years 47 weeks ago)
80

Gaya penceritaannya ringan, enak dibaca, membuat saya bisa santai membacanya di samping topik Sci-fi yang biasanya bikin saya mengerutkan dahi.
-
Sama seperti yang lain, di awal saya merasa seperti membaca artikel, alih-alih cerita. Lebih natural bila disisipkan di dalam ceritanya, misal sebagai narasi si tokoh 'Aku' atau melalui dialog-dialog.
-
Di awal sampai tengah, paragrafnya masih cukup padat. Mulai tengah ke akhir, saya perhatikan terjadi kerenggangan menjadi paragraf-paragraf singkat yang sebetulnya bisa disatukan. Kalau menurut saya, bila bisa dipadatkan akan jadi lebih efektif dan nyaman dibaca (selera pribadi, sih).
Misalnya bagian ini:
'Batuknya sekali lagi dan kali ini terdengar sangat dibuat-buat.

Aksinya terasa lucu dan sejenak aku melupakan rasa maluku.

Namun sebelum aku sempat tertawa, bibirku menutup sendirinya saat melihat bayangan lengannya. Telapak tangan Assam sudah terjulur menungguku.

Kemudian aku dengan bantuannya kembali bangkit berdiri.'

Karena masih berkoherensi antar kalimatnya, kalimat-kalimat di atas bisa disatukan menjadi satu paragraf utuh.

'Jenius membuat kau tidak memerlukan orang lain, dan membuatmu enggan menolong orang lain' <-- Kurang setuju dengan ini sih, menurut saya dari ceritamu bukan hanya kejeniusan yang menyebabkan individualitas dari para penduduk Anthill, tapi dari cara hidup mereka yang terkotak-kotak.

Rasanya tadi menemukan typo seperti 'Exited' harusnya 'Excited', "tingkat intelegen" harusnya "tingkat intelegensi" dan lainnya bila ada.

Secara keseluruhan, saya menikmati membaca ceritanya.

Maaf juga bila komentarnya kurang berkenan. Salam :)

Writer rian
rian at Prim Aux 1 (2 years 47 weeks ago)
70

Enak dibaca ini, Mbak. Tapi seperti komentar yang lain, bagian awal, bisakah diceritakan dengan cara disisipkan dalam cerita? Bagian pembukaan yang Prim bangun tidur itu juga kayaknya udah tergolong klise, apa enggak sebaiknya dipilih scene lain yang bisa menyampaikan profil Prim tanpa harus ada adegan bangun tidur (mungkin bisa diceritakan pas Prim di dalam bis. Ceritakan pengamatannya tentang teman-temannya, keadaan di perjalanan, dari sana background tentang anthill mungkin bisa disisipin).

Penggunaan efek suara macam "Kyaaa" "Bruk", dan lain sebagainya ngejadiin cerita ini kekanak-kanakan, tapi ini selera pribadi.

Selebihnya enak dibaca. Salam kenal ulang, Mbak Ben. Sekian.

Writer rian
rian at Prim Aux 1 (2 years 47 weeks ago)

Enak dibaca ini, Mbak. Tapi seperti komentar yang lain, bagian awal, bisakah diceritakan dengan cara disisipkan dalam cerita? Bagian pembukaan yang Prim bangun tidur itu juga kayaknya udah tergolong klise, apa enggak sebaiknya dipilih scene lain yang bisa menyampaikan profil Prim tanpa harus ada adegan bangun tidur (mungkin bisa diceritakan pas Prim di dalam bis. Ceritakan pengamatannya tentang teman-temannya, keadaan di perjalanan, dari sana background tentang anthill mungkin bisa disisipin).

Penggunaan efek suara macam "Kyaaa" "Bruk", dan lain sebagainya ngejadiin cerita ini kekanak-kanakan, tapi ini selera pribadi.

Selebihnya enak dibaca. Salam kenal ulang, Mbak Ben. Sekian.

Writer Zhang he
Zhang he at Prim Aux 1 (2 years 47 weeks ago)
90

Wooo... sci-fi.
Jujurnya aku pribadi kurang suka baca bagian awal cerita ini. Berasa seperti lagi dikuliahin tentang sejarah, dan jujur aku langsung skip ke bagian cerita. Latar belakang ceritanya udah kuat dan terbentuk, cuma aku lebih suka kalau penjelasannya pelan-pelan disisipkan dalam cerita. Jadi pembaca bisa pelan-pelan mempelajari apa yang terjadi sambil ceritanya terus jalan, bukan langsung disuguhin seabrek di awal. Tapi ini cuma opiniku aja.

Untuk jalan ceritanya sendiri bagus. Tapi aku sih kurang ngerti kalau disuruh diskusi secara "Science"nya. Yang penting buatku enak dibaca ^_^

Writer ichii06
ichii06 at Prim Aux 1 (2 years 47 weeks ago)
80

Woooow, saya baca ini dari td siang dan.. Saya selalu kagum sm yang sanggup nulis sci-fi. Keren!
Saya paling suka bagian percakapan Kit dan Prim di pagi hari, cute. :D
Sistemnya hebat banget, sampai tau pergerakan elektron, berarti smpai laju blood stream dan curah jantung, sistem bisa mengetahuinya dengan baik. Wooow! #ternganga #heboh sendiri
Salaaaam kenaaal, kak. XD

Writer hidden pen
hidden pen at Prim Aux 1 (2 years 47 weeks ago)
100

jadi Prim Aux itu nama manusia ya, kupikir optimus prime #plaakk, ketika mendengar world at war sempat berpikir kalo cerita ini bahas perang dengan senjata laser dan mempertahankan hidup, tapi ternyata aku salah, karena menceritakan setelah perang dan dampaknya hehe . Aku sangat suka cerita ini, terutama bagian deskripsi gedung, ras, sistem dankumbang itu si fix. Cuma ada yang ganjal ketika berbicara tingkat gedung. Nggak salah 400 lantai, wow mega town. Kurang masuk akal sih, mungkin 150 lantai lebh masuk akal dan tingginya pas dengan atmosfer. Hehe sekian dari saya. Kabuurr

Writer benmi
benmi at Prim Aux 1 (2 years 47 weeks ago)

Hahhahaha... komentnya jd bikin ak buka rahasia perusahaan. Tinggi gedung 400an.. itu dibangunnya oleh robot. Trus mmg sengaja menempatkan kaum undefined, para jenius dilantai atas.. supaya meraka susah kabur. Di cerita berikutnya ntar dijelaskan lebih lanjut.. betapa cerdiknya sistem mengatur para manusia tapi manusia tidak merasa mrk diatur

Writer hidden pen
hidden pen at Prim Aux 1 (2 years 47 weeks ago)

seharusnya kusensor...uhk uhk maaf lupa :v berikutnya sensor dech ^_^

Writer benmi
benmi at Prim Aux 1 (2 years 47 weeks ago)

Gpp.. ini jg lagi mikir... saking canggihnya... mau nyari kelemahan sistemnya itu sulit banget. Ngebayangin 24 jam diawasi, dari kondisi luar badan n didalamnya. Termasuk hormon dan pergerakan elektron dikepala. Itu gmn caranya ya buat nge-trik sistem... bagai tikus dalam lab dipasangi pendeteksi kebohongan, pembaca saraf2 otak dan jg bisa mendengar percakapan. Canggih... kira2 ada ide?

Writer hidden pen
hidden pen at Prim Aux 1 (2 years 47 weeks ago)

Glek... Jujur ane juga agak bingung gitu jika dimintai saran hihi... Tempo dulu bang hadjri pernah mengatakan tentang rekayasa genetik, sepertinya pembahasan itu masih tersimpan di forum Scifi lover. Tetapi kebanyakan membahas tentang menciptakan manusia campuran dengan sel hewan. Tidak ada salahnya jika terapkan rekayasa genetik, kan, jika di dunia nyata ada jenis rekayasa yang seperti kloning. Misalnya hewan yang tingkah laku sama dengan anjing yang udah mati. Atau bagaimana jika neuron di samakan dengan DNA . Jadi mengatur trik system seperti merekayasa DNA, naah bagaimana? Ehm maaf bila tidak berkenan hehe