When Your Little Brother Have a Girlfriend -02

Keesokan harinya—setelah tadi malam pura-pura tidur untuk menghindar—akhirnya aku bertatap muka juga dengan Dion. Kami bertemu di dapur, dan sebisa mungkin aku tetap menghindarinya.

Jujur, aku masih belum siap. Maksudku, aku tahu tidak ada yang berubah darinya, tapi—mengetahui kalo sekarang dia sudah mengenal cinta dan punya pacar—rasanya jadi beda. Aku tidak kenal sosok Dion tadi malam saat bersama dengan cewek itu, dan sialnya, entah kenapa rasanya sosok itu masih menempel hingga hari ini.

Dan ini membuat keadaan jadi awkward!

Okeh. Dian, dia masih Dion kok! Dia ini Dion! Dion! Dion!

“Kak?” panggil Dion tiba-tiba, membuatku tersadar.

“Ah, y-ya?” tanyaku tergagap.

Dia mengernyit. “Kakak kenapa? Sakit? Kok pucat?” tanya Dion, nadanya khawatir. Bocah itu bahkan repot-repot menghampiri untuk menempelkan punggung tangannya di dahiku, membuatku semakin gelabakan.

Okeh. Ini semakin awkward. Aku kenapa sih? Dia kan cuma Dion versi gede—versi yang baru kusadari dari tadi malam!

Aku berusaha menenangkan diri. Dengan gerakan senatural mungkin, aku meraih tangannya dan tersenyum. “Kakak gak papa kok. Tadi kamu bilang apa?”

“Ah, itu. Aku mau kerja kelompok di rumah Ferdy. Pulangnya agak sore, hm, mungkin juga sampai malam. Jadi aku gak makan siang di rumah,” jelasnya.

Kerja kelompok? Yakin gak nge-date sama Sandra?

Aku berusaha tersenyum semampuku. “Okay.”

Dion pun membalas senyumanku, kemudian berbalik badan untuk mengambil tas ranselnya yang ada di atas meja makan. Namun sebelum dia sempat meraihnya, tangannya tiba-tiba merem mendadak.

That’s it?” tanya Dion seraya berbalik ke arahku lagi. Dahinya berkerut.

“A-apa?”

“Gak ada—`hati-hati ya naik motornya`? Gak ada—`jangan pulang kemalaman`? Atau wejangan-wejangan kakak yang biasanya?”

Dia berusaha menirukan gaya bicaraku saat mengatakan wejangan-wejangan itu. Dan sialnya, sama persis! Apa aku juga terlihat semenyebalkan itu saat mengucapkannya?

Aku menggembungkan kedua pipiku sebelum akhirnya berucap. “Okay. Hati-hati di jalan, jangan pulang kemalaman, dan jangan makan yang aneh-aneh!”

Namun, bukannya puas dengan jawabanku, bocah itu malah mendekat sambil menyipitkan matanya. “Hmm.. Ada yang gak beres! Kakak menyembunyikan sesuatu?” tanyanya penuh selidik.

Spontan aku pun membelalakan mata. “Gak ada kok! Gak ada!” seruku, panik.

“Yakin?” tanyanya, kali ini dengan nada yang lebih dalam.

Aku mengangguk cepat.

Dion semakin menghujaniku dengan tatapan curiga, sementara aku memilih untuk melihat ke langit-langit, berusaha menghindari tatapannya. Sayangnya usahaku ini gagal. Tatapannya seakan menusuk ke seluruh tubuhku. Sial! Aku terpojok!

“Kak…?” lirihnya lagi.

Argh! Screw it!

“KOK KAMU GAK CERITA SIH KALO UDAH PUNYA PACAR??” tanyaku akhirnya, lebih terdengar seperti menjerit.

Selama beberapa saat, keheningan terjadi. Karena tidak kunjung mendapatkan respon, aku pun pelan-pelan mulai mengalihkan pandangan ke arahnya. Alih-alih langsung menjawab, Dion malah tampak mengerjap beberapa kali. Dia pun kemudian meraih kursi makan, duduk, lalu terkekeh sendiri. Melihat itu, aku pun bingung.

Sesaat kemudian, tawanya pun pecah.

“Hmpft… Sumpah, kakak lucu banget! Reaksi kakak lucu banget!!” lirihnya geli.

Okeh. Kenapa akhir-akhir ini orang di sekitarku selalu menertawakanku sih? Tadi malam Alfa, sekarang Dion—memangnya aku lagi stand up comedy?

“Aku tau kok kakak buka-buka hapeku. Aku tau kalo kakak tau aku punya pacar. Dan aku juga tau kalo cewek berkacamata hitam pake jaket denim yang duduk bareng cowok bertopi itu kakak sama Bang Alfa,” jelas Dion kemudian sambil bertopang dagu di meja. Senyum usil pun terpatri di wajahnya.

Kali ini aku yang mengerjap. “What? Kalo kamu tau, terus kenapa—“

“Karena aku tau kakak bakal heboh!” sambar Dion, sama sekali tidak mengindahkan protesku. Aku pun dengan senantiasa langsung manyun.

Dion menghela napasnya. “Kalo aku cerita, kakak pasti bakal heboh soal patah hati, nilai, dan sebagainya. Ya ampun, Kak! Kakak sadar gak sih kalo aku udah delapan belas tahun? Aku udah punya KTP dan SIM, dan tahun depan aku udah mulai kuliah, ngekost sendiri. Aku bisa kok jaga diri,” jelasnya, membuat dahiku berkedut.

Aku pun ikut meraih kursi dan duduk di depannya. “Tapi, Yon, sebelum kamu lulus dan dapat kerja, kamu masih tanggung jawab kakak,” ucapku pelan.

“Iya, kak, tapi apa hubungannya itu dengan aku punya pacar? Apa perasaanku tanggung jawab kakak juga? Gak kan?”

Aku semakin manyun. “Iya sih….”

“Lagian Sandra bukan pacar pertamaku kok! Putus cinta? Patah hati? Aku sudah pernah mengalaminya dan—well, aku udah buktiin kalo teori kakak tentang patah hati bisa bikin nilai anjlok itu salah besar,” jelasnya lagi sembari mengangkat bahu.

Spontan mataku pun terbelalak. “Apa? Jadi ini bukan pertama kalinya??”

“Yep!”

“Jadi udah berapa kali?”

Dion tidak menjawab. Bocah itu malah pura-pura melihat ke arah lain dengan senyum tertahan.

Aku tersandar di kursiku, semakin syok. Kalo sekarang saja menurutku terlalu dini, lalu sebelum ini apa? Kenapa anak jaman sekarang pubernya cepet banget sih?!!

Dion tersenyum, berusaha menenangkanku. “Kak, I’m fine!” tegas Dion. “Aku tau kakak khawatir. Jelaslah! Sejak Mama meninggal dan Papa sibuk kerja, kakak satu-satunya yang mengurus dan menjagaku. Tapi mau sampai kapan?” ucap Dion, suaranya lembut. “Sudah cukup kakak mengurus kehidupanku. Sekarang giliran kakak yang mengurus hidup kakak sendiri.”

Astaga, sejak kapan adik kecilku jadi sedewasa ini? Aku bahkan sudah hampir menangis karena terharu.

“Dion….” lirihku.

Hello, guys! What’s up?” seru Alfa yang tiba-tiba muncul entah dari mana, membuat Dion dan aku menoleh ke arahnya bersamaan. “Aku bawain bakwan buatan bokap. So, makan siang hari ini apa???” tanyanya seraya meletakkan sepiring bakwan di meja dengan wajah tanpa dosa.

Baiklah. Aku lupa kalau di dunia ini masih ada makhluk macam Alfa yang selalu sukses merusak moment penting. Kenapa dia harus datang di saat klimaks gini sih?

Well, aku kira udah cukup sesi buka-bukaannya. Kalo ada apa-apa lagi, tanya aja langsung,” ucap Dion tiba-tiba seraya berdiri dan meraih ranselnya. “Jadi kalian gak perlu stalking lagi kayak tadi malam,” tambahnya kemudian.

Aku menggigit bibirku. Ck, sial! Selain pacaran, sekarang dia pintar menyindir juga rupanya!

“Loh? Mau ke mana, Yon?” tanya Alfa, bingung ketinggalan berita.

“Kerja kelompok, Bang,” jawab Dion. Bocah itu melirikku sekilas sebelum beranjak ke luar dapur. “Ini seriusan kerja kelompok loh kak, by the way!”

Aku mendengus. “Ya ya ya. Kakak percaya!” balasku.

Di tengah aku memperhatikan kepergian Dion, tiba-tiba Alfa menyenggol bahuku.

“Udah? Gitu doang?” tanyanya.

Aku spontan mengerutkan dahi, tidak paham apa maksudnya. Sesaat kemudian barulah aku ingat dengan saran Alfa—tentang memberi kesempatan dan saling terbuka antar-keluarga—saat kami makan nasi goreng tadi malam. Aku pun segera bangkit dari kursiku.

“Dion!” seruku seraya mengejarnya ke ruang tamu. Bocah itu sedang mengikat tali sepatunya. “Kapan-kapan ajak Sandra ke sini. Kenalin sama kakak dan Papa,” usulku sambil tersenyum, membuat Dion ternganga di tempatnya.

Aku tahu Alfa pasti sedang cekikikan di belakang sana menonton adegan ini (aku akan berurusan dengannya nanti), tapi sekarang aku tidak peduli. Aku tetap memasang senyum tertulusku pada Dion. Berusaha meyakinkannya bahwa aku percaya kalau dia akan baik-baik saja tanpa aku.

O-okay. Minggu depan akan kuajak dia ke sini,” sahut Dion kemudian, membuatku lega.

Begitu Dion pergi, Alfa menghampiriku.

Well, well, congratulation! Loe udah berhasil lulus dari sindrom brother complex loe selama ini!! Yeiy!!!” seru Alfa, sama sekali tidak penting.

Aku tertawa hambar menanggapinya. “Thanks!” balasku seadanya.

Aku mengintip ke luar jendela untuk melihat Dion sekali lagi—bocah itu tampak sedang memanaskan mesin motornya. Melihat itu aku pun tersenyum. Dulu dia langsung main pergi saja tanpa melakukannya. Akulah yang selalu menegurnya agar memanaskan mesin dulu sebelum berangkat. Entah nasihatku melekat erat di ingatannya atau itu hanyar sekedar jadi kebiasaan, bagaimanapun ini bagus. Dion bahkan repot-repot memastikan apa lampunya sudah menyala dan tidak lupa meng-klik helmnya erat-erat.

Ah.... Dion kecilku rupanya benar-benar sudah dewasa, sudah bisa menjaga dirinya sendiri. Ke mana saja aku selama ini jadi baru menyadarinya?

Tiba-tiba aku merasakan ada tepukan-tepukan ringan di punggungku. Rupanya itu Alfa yang berusaha menenangkan. Aku pun menoleh ke arahnya begitu sosok Dion dan motornya menghilang dari halaman rumah.

“Nah! Sekarang tinggal urusan kita deh!” serunya, tangannya berpindah untuk merangkul bahuku.

Aku mengernyit. “Urusan kita? Apaan?”

Alfa menghela napasnya, “Ya ampun, Di! Urusan pernikahan kita lah! Emang urusan apa lagi??”

Haa? Apa tadi katanya?

“Kita kan udah pacaran lama. Loe juga udah ngasih lampu ijo ke adek loe buat cinta-cintaan. Sekarang giliran kita—“

“Pacaran? Emang kita pacaran? Sejak kapan?” tanyaku beruntun, tidak terima.

“Loh? Bukannya kita pacaran? Gue kan tiap hari ke rumah loe minta makan, terus tiap malam minggu kita jalan, terus waktu kita di bandara sebelum gue berangkat ke London loe nangis-nangis gak rela sambil meluk gu—Ouch!“

“Loe ngomong apa sih, bego?!” potongku sembari menabok pipinya keras-keras.

Tanpa mempedulikannya mengaduh kesakitan, aku pun melangkah kembali ke dapur—sambil diam-diam menyembunyikan senyumku.

Aku mungkin sudah selesai mengurus Dion, tapi aku lupa masih ada satu cowok lagi yang belum selesai kuurus.

Cowok itu..... Alfa.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
90

tjieh! ahaahaha.
.
imut sekali sampai saya gak tau mau komen apa~

Makasih banyak sudah mampir kak
>w<

80

ceritanya sweet haha

makasih udah mampir dan baca kak ^^ hehee~

80

sweet ceritanya haha

80

Sumpah saya ngakak bacanya.. bayangin ekspresi tokohnya. Simpel tp ngena banget.. hahhahahha...

Makasih banyak kak. >w< huehehee

90

Selamat buat Dian yang lulus dari sindrom brother complex-nya. XD
Selalu berhasil bikin mesem2 dan ngakak sendiri tiap kali baca. Salut sama yang nulis, hehe, fighting! XD
Apa berikutnya cerita Dian sama Alfa?

Yeee!!! *tepuk tangan*
Hihihii.. Makasih kakaa.. Syukur kalo kaka sukaa.. Hehee ^^
Dian sama Alfa? Tauu deeeehh.. Hwkwkwkwkwk >w< *kabuurrr

70

brother complex :)
kenapa semua tokoh di sini tidak sedewasa umurnya? karena ceritanya komedi?

Mgkn krna yg nulis juga gak sedewasa umurnya kak.. Hwkwkwk peace >w< makasih udh komen dan baca kak...

90

ADUH DIAAN, CO CWIT BANGET *senyum-senyum kek orgil*
Suka ceritanya, manis! Tapi kata ((merem)) itu agak nggak enak, kenapa bukan mengerem?

Hwkwkwkwk. Soalnya aku bingung kak yg mana yg biasanya dipakai. Maklum aku msh amatir. Huehehee..
Anyway makasih sarannya kak... ^^

80

Ya ampun, aku gak tau harus syedih ataukah kesem-seman. aku koq merasa dion udah lebih dewasa daripada kakaknya atau gimana. Hkhk dan juga apa ini ? Stand up comedy?, beri tepuk tangan untuk dramanya plok...plok... Hmm genrenya cerpen? Cerbung? Ataukah ini terakhir? Dan sudah ada pembatasnya skarang, hmm bagus ^_^

Makasih banyak kak udh baca dan komen.. Dan syukur deh kalo kakak suka ceritanya.. Hehee ^^
Stand up comedy itu semacam teknik ngelawak gitu deh ka. Kayak bang Raditya Dhika itu lo (maklum aku fans beliau, hihii ^^)
Sementara ini sih terakhir kak. Tapi gak menutup kemungkinan juga sih bakal ada sambungannya lagi.. Hehe >_< fighting!