Fall of Chateau ~~5

(5)

Anastasia duduk terdiam memandangi langit-langit balairung kaca dari singgasananya. Dari sana Anastasia dapat melihat indahnya purnama merah yang memancar menerangi langit malam. Belum lagi taburan beribu bintang yang sesekali dihiasi bintang-bintang jatuh diantaranya. Pemandangan yang indah, sangat sempurna, seandainya saja adiknya tidak datang membawa berita yang begitu pelik.

Alicia tengah menunduk memberi hormat di depannya. Adik manisnya membawa kabar yang benar-benar tidak dia duga. Dia perlu waktu untuk mencerna semua informasi ini. Pikirannya masih terfokus kepada Ritual Bulan Merah yang sebenarnya akan diselenggarakan segera setelah rombongan Daisius menyelesaikan Upacara Perjalanan Suci. Tetapi kabar adanya penyerangan di rute rombongan dan pengkhianatan Daisius yang membawa lari Kitab Agung Memoria, benda yang paling disakralkan di seluruh Le Chateau de Phantasm itu, membuatnya tidak bisa berkomentar. Dia harus meminta waktu sebelum mengambil tindakan. Dia harus bersikap tenang sebagaimana seorang ratu.

Anastasia bisa melihat bagaimana sang Adik menundukkan muka dengan wajah diantara penyesalan dan amarah. Amarah yang mungkin muncul karena tindakan para manusia yang begitu dia benci yang telah berani membuat kekacauan di negeri ini. Penyesalan yang terbesit karena tidak berhasil mengamankan jalannya Upacara Perjalanan Suci, sesuatu yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya, serta menangkap pemimpin mereka, Daisius, dari pelariannya setelah mencuri Memoria. Anastasia bisa maklum kalau sang adik merasa begitu bersalah atas kecerobohannya.

“Manusia hina itu telah dengan liciknya, melarikan diri dari penghakimanku, dan menuju negeri manusia sambil membawa Memoria, kitab kita yang paling sacral! Aku hampir saja membunuhnya dengan rapier kalau saja dia tidak berhasil menangkisnya dengan mantera-mantera licik seorang summoning scholar!” ujar Alicia begitu geram.

Anastasia masih saja terdiam. Dia kembali memandang balairung tanpa memedulikan perkataan adiknya. Dia kembali berfikir. Peristiwa ini terlalu mendadak. Terlalu tidak diduga. Anastasia, dalam hati terdalamnya, masih belum bisa percaya Daisius, manusia yang sudah dikenalnya hampir setahun sejak kedatangan mereka di negeri ini, tega melakukan semua ini. Anastasia sebenarnya masih tidak mau mengakui Daisius mencuri kitab mereka dan membawanya lari ke dunia manusia.

Peristiwa ini terlalu aneh bagi Anastasia. Terlalu mencurigakan untuk seorang pria tua yang telah mencuri kitab, mengkhianati kepercayaan yang diberikan kepadanya, dan meninggalkan keluarga dan rakyat yang dia sayangi untuk menuju ke negeri manusia yang saat ini masih diselimuti kecamuk peperangan, hanya demi seonggok kumpulan kertas berdebu. Apa manfaatnya bagi pria itu? Dia seorang manusia, cukup sulit mempelajari Bahasa kuno Elveos yang tertulis dalam kitab itu. Dengan kata lain, dia tidak akan bisa menggunakannya dengan mudah untuk jangka waktu dekat. Tapi Anastasia tidak memungkiri kalau Daisius punya potensi membaca Kitab Memoria dan membawa keburukan bagi dirinya dan negerinya.

Lebih banyaknya ketidakmungkinan ketimbang kemungkinan dari tindakan Daisius membawa kecurigaan Anastasia kepada si adik sendiri. Ratu curiga Alicia sengaja membuat scenario semua ini agar kaum manusia dipersalahkan dan akhirnya diusir dari negeri ini. Alicia punya peluang terbesar dalam melakukannya dan dia punya kesempatan untuk itu.

Tapi sisi lain dari pikirannya menolak kemungkinan itu. Alicia adalah adik yang setia. Selama sepuluh milenia memerintah bersamanya, Anastasia tidak mendapati satupun ketidakjujuran dan rasa tidak terima dengan semua keputusannya. Semua kebijakan Sang Ratu selalu dipatuhi oleh Alicia dan dia begitu loyal. Tidak satupun terbesit dalam otaknya keinginan mengkhianati sang Kakak, mengungguli sang Kakak, maupun menjatuhkan sang Kakak, meskipun kekuatan mereka setara dan seandainya Alicia mau, mereka bisa berebut kekuasaan dan saling membunuh.

“Kakak, aku menunggu perintahmu untuk mengirim pasukan kita dibawah perintahku untuk memburu si pengkhianat itu. Melakukan tindakan yang sudah seharusnya kita lakukan sejak mereka datang ke negeri ini, menemukan si pengkhianat, membunuhnya, dan mengusir para manusia yang sudah mencoba menghancurkan negeri kita!”

Anastasia tersenyum melihat semangat sang adik. Tapi dia tahu dia tidak boleh tergesa-gesa sebelum semuanya cukup jelas.

“Alicia, aku tahu tindakanmu sangat baik. Tapi aku tidak ingin tergesa-gesa. Terlalu cepat menyimpulkan kalau Daisius ada di balik ini semua.”

Tiba-tiba saja Anastasia bisa melihat sikap ketidaksetujuan dari adiknya. Raut muka sang adik yang tiba-tiba berubah. Sorot mata yang dikenal Anastasia mendadak berubah menjadi sorot yang tidak pernah dia tahu. Gadis didepannya seperti makhluk lain. Seperti bukan adiknya.

Alicia berdiri dari sikap hormat yang penuh khidmatnya, melangkah maju kearah singgasana tempat kakaknya duduk sembari berkata setengah berteriak, melupakan semua tata krama antara Sang Ratu dengan Penasihatnya.

“Maafkan aku, mungkin telingaku yang salah mendengar, ataukah yang telah terjadi bahwa kakakku yang bersamaku selama sepuluh ribu tahun tiba-tiba saja di hari ini tidak mempercayai apa yang telah kukabarkan?”

Anastasia tersenyum berusaha untuk memahami sikap tidak terima si adik. Dia berusaha untuk tidak termakan emosi Alicia yang meluap-luap. Dia mencoba untuk menenangkan amarah Alicia. Mengembalikannya ke seorang sosok yang dikenalnya sebagai seorang adik yang penurut dan murah senyum.

“Aku selalu mempercayai adikku satu-satunya,” Anastasia berdiri berhadapan dengan sang adik. “Tetapi kita sebagai pemimpin yang adil, setidaknya harus melakukan investigasi yang menyeluruh dan tidak membuat kesimpulan yang mendadak atas apa yang terjadi. Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan seluruh manusia yang tinggal di negeri ini atas semua tindakan Daisius, kalau seandainya dia benar-benar melakukannya, seakan-akan semuanya terlibat dalam tindakan pria ini.”

“Mendadak?” Anastasia mendengar sang adik kembali berteriak tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut kakaknya.

“APA MAKSUD KAKAK DENGAN MENDADAK??!”

Gadis itu menatap sang kakak dengan mendelik, “Setelah semuanya terjadi di depan mataku? Seorang pengkhianat…, manusia pengkhianat, yang membunuhi pasukan kita, menodai upacara suci kita, mencuri benda milik kita yang paling berharga, dan melarikan diri dari penghakimanku dengan begitu liciknya, tepat di depan mataku sendiri…, dan kau mengatakan aku hendak membuat kesimpulan yang mendadak?!”

Sang kakak tidak mampu berkata-kata saat Alicia kembali berucap lagi, “MENGAPA KAKAK BISA MENGAMBIL KESIMPULAN SEPERTI ITU DARI ADIKMU SENDIRI?! APA KAKAK SUDAH SEBEGITU MERAGUKAN APA YANG KULIHAT?!”

Anastasia merasa kesabarannya menipis meski dia menanggapi ucapan kasar Alicia kembali dengan senyuman.

“Aku katakan sekali lagi, tentu saja, aku tidak pernah meragukanmu…”

“Kalau kau tidak meragukan adikmu satu-satunya ini…, BERIKAN AKU PERINTAH UNTUK MENGEJAR MEREKA, KAKAK!!”

“Cukup!!!” Anastasia merasa dia sudah tidak mampu lagi untuk bersabar. Ucapan keras Alicia membuatnya sangat ingin membantah.

“Jangan berfikir picik seperti itu, kumohon…!” Anastasia mencoba berbicara santun kepada Alicia, “Kau terlihat lebih mengikuti emosimu, kebencianmu, dalam mengambil tindakanmu itu tanpa berusaha untuk bertindak selayaknya seorang pemimpin…, melakukan investigasi menyeluruh dan mencari bukti-bukti yang dapat memperkuat tindakan kita!”

Ucapan Anastasia tentang mengikuti emosi dan kebencian membuat gadis didepan sang Ratu itu terlihat tidak bisa menahan amarahnya lebih jauh lagi. Aura Constantia yang penuh amarah terlihat mencuat dari tubuhnya. Sebuah bentuk rapier yang melayang di udara mulai terbentuk dari kekosongan dan seakan hendak terarah langsung ke tempat Anastasia berdiri. Belum selesai keterkejutan Anastasia melihat sebetapa jauh tindakan adiknya itu, Alicia kembali membantah ucapannya.

 “Kakak sendiri, apa Kakak juga yakin tidak sedang mengikuti emosi ketika mengatakan hal seperti ini kepadaku? Apa Kakak tidak sedang dipenuhi rasa kasihan Kakak yang begitu berlebihan kepada kaum hina itu sehingga mengabaikan mata dan kepala adiknya sendiri yang benar-benar mengetahui manusia itu saat dia sedang beraksi tepat didepannya? Mengapa Kakak begitu pilih kasih kepada mereka? Sungguh, Kak…! KAU BENAR-BENAR TELAH KEHILANGAN KEPERCAYAAN KEPADA ADIKMU SENDIRI! KINI KAU LEBIH PERCAYA… PARA MANUSIA ITU… KETIMBANG AKU!!”

Alicia seperti menjadi bukan dirinya sendiri ketika mengucapkan kata-kata yang penuh kekasaran itu kepada kakak yang sangat disayanginya. Tidak pernah sampai saat ini, dirinya berkata seperti itu kepada Kakaknya. Dia sendiri sebenarnya terkejut, sampai sejauh inikah dia bersikap?

Tapi tiba-tiba saja Alicia merasakan sesuatu yang begitu kuat menekan tubuhnya kebawah. Sebuah himpitan yang membuatnya hampir jatuh terduduk. Dia melihat ke arah sang kakak. Dia bisa merasakan tatapan Anastasia yang tak pernah sedingin itu sejak mereka bersama. Alicia melihat aura emas Titania memancar dari sang Ratu. Alicia merasakan luapan aura Titania membuat kekuatan Constantia yang dilepaskannya bukan tandingan kekuatan gadis didepannya. Sebagaimana yang sudah ditetapkan Bapa Ahura, kekuatan sang adik takkan bisa berada di atas sang kakak. Begitu aura Titania memenuhi ruangan itu, aura sang adik langsung memudar dengan cepat. Alicia semakin jatuh terduduk dan hampir bersujud kepada sang kakak karena tekanan kekuatan Titania yang luar biasa.

“Selama sepuluh ribu tahun kita bersama, Alicia. Kakak tidak pernah merasakan kekecewaan yang begitu dalam kepadamu…,” sang kakak berujar. Nada suaranya yang kini tidak selembut sebelumnya membuat Alicia mendongak menatapnya. Dia bisa melihat mata emas yang indah itu mulai berkaca-kaca. Kakak yang dicintainya melebihi apapun di dunia ini telah menangis.

“Kakak… kakak sangat kecewa…, sangat sedih melihat bagaimana kamu sekarang. Betapa dirimu yang saat ini begitu berubah dari yang telah Kakak kenal dulu…”

“Itu karena kakak yang lebih dulu berubah…, mempercayai manusia…,” ingin Alicia berucap seperti itu kepada Anastasia. Tapi melihat air mata yang mengalir di wajah sang Kakak, gadis itu cuma bisa menunduk. Entah kenapa dia tiba-tiba merasa ikut bersedih melihat gadis didepannya menangis.

Dia sebenarnya merasa sangat bersalah telah membuat kakaknya menjadi seperti ini. Tetapi amarah telah menutupi semuanya. Sikap pilih kasih kakaknya yang lebih mendahulukan manusia itu ketimbang dirinya, telah membuatnya merasa angkuh untuk menyadari dirinyalah penyebab kakaknya menjadi seperti ini.

Alicia tidak mendengar lagi suara sang kakak. Sang ratu sepertinya sudah tidak tahu harus berkata apa lagi. Alicia melihat sang ratu menutup wajahnya. Dia bisa merasakan tangan sang kakak yang berusaha keras menyembunyikan air mata. Rambut emas yang indah itu digerainya guna menutupi mata yang terus berkaca-kaca. Alicia merasakan tekanan aura Titania yang sudah sangat berkurang. Dia bisa saja berdiri, melepaskan amarahnya. Tetapi sikap diam sang kakak membuat dia memilih untuk ikut diam.

Keheningan bisa terasa begitu lama. Hanya sesekali terdengar sesengguk tangis yang berusaha ditahan. Sang adik melihat kakaknya tampak tidak sudi melihat ke arahnya. Gadis di depannya memilih untuk memandang purnama merah yang kini sudah berada di atas balairung kastil yang terbuat dari kaca-kaca bening. Seharusnya mereka berdua memulai Ritual Bulan Merah. Seharusnya mereka berdua mengucap rasa syukur kepada Bapa Ahura dengan prosesi upacara suci yang begitu megah, agung, dan sakral. Seharusnya ini menjadi malam yang luar biasa bagi seluruh penduduk Chateau. Tetapi, ritual yang menjadi tradisi setiap tahun, setelah sepuluh ribu tahun selalu dirayakan, tidak berlaku untuk tahun ini. Segala beban masalah itu, ditambah dengan sikap sang adik yang begitu menentangnya, mungkin telah membuat Anastasia tidak bisa berpaling menatap Alicia.

Alicia sendiri memilih berdiri. Dia tidak mengucap sepatah-katapun kepada sang kakak. Dia tidak menangis sebagaimana kakaknya. Dia berusaha memendam semua kepedihan dan kesedihan dengan amarah dan kekecewaan atas sikap sang kakak. Dia melangkahkan kaki, dia ingin pergi, menjauh dari Anastasia. Hingga saat ini, dia tidak ingin melihat wajah sang kakak. Masih tanpa berkata apa-apa, dia meninggalkan ruangan singgasana itu, meninggalkan Anastasia dalam tangisnya seorang diri.

Alicia dan Anastasia sama-sama tahu, mungkin inilah titik awal dari perpecahan mereka.

***

Read previous post:  
38
points
(1862 words) posted by alcyon 4 years 12 weeks ago
76
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fantasi | Le Château de Phantasm
Read next post:  
Writer dede
dede at Fall of Chateau ~~5 (3 years 6 weeks ago)
90

Anastasia kenal manusia brp lama?
Disini keterangannya, hampir setahun kenal daisius. Nah, di chapter sebelum ini, dlm sudut pandang daisius, mereka sudah 15 tahun di chateau. Mana yg benar...
Ini latar belakang dr kolab lcdp yg dulu dibuat itu? Saya ngikutin dari awal sampe chapter 20an

Writer Rochmatul_Islamiyah
Rochmatul_Islamiyah at Fall of Chateau ~~5 (3 years 37 weeks ago)

waduh.. aku belum baca yg sebelumnya jadi ga faham ceritanya