How to Ruin Your Bestfriend's Crush -01

“Semua penghuni bangunan apartemen berpikir kita pasangan homo.”
Aku meraih kursi dan duduk tepat di samping Albert, menunggu tanggapannya. Namun laki-laki itu tampak tidak peduli dan masih asyik dengan proyek barunya—mencari bahan alami untuk pewarnaan preparat yang bisa dipakai dalam keadaan darurat. Yeah, in case suatu saat ada oncologist* yang terjebak di kutub utara tanpa haematoxylin dan eosin**, katanya. Entah anak ini terlalu kreatif atau memang kurang kerjaan, aku sudah tidak paham lagi.
Big shock, sphagetti sauce doesn’t work as a lymph tissue stain. Next is….soy sauce,” gumamnya kemudian, sama sekali tidak berhubungan dengan pernyataanku tadi.
“Alb, dengerin gue!” bentakku.
Albert menghela napas di sela-sela kesibukannya mengganti preparat. “Kita baru pindah dua minggu, dan gue belum sempat bawa cewek pulang karena proyek baru ini. So, relax! They’ll figure out we’re straight eventually,” tanggapnya santai sembari mengintip melalui lensa objektif. “Lagian, sejak kapan loe peduli sama omongan orang?”
Sudah kuduga dia akan seperti ini!
Aku pun memijat pelipisku yang mulai berdenyut. “Well, sejak gue tahu kalo cewek yang tinggal di seberang kamar kita cute dan asyik diajak ngobrol.”
Mendengar itu, Albert spontan menoleh ke arahku. “Kamar tiga-kosong-satu?” tanyanya, tiba-tiba antusias. Tentu saja segala topik yang berhubungan dengan homosapiens bervagina akan menarik perhatiannya.
Aku mengangguk. “Dan gue jadi gak bisa ngajak dia ngedate karena dia pikir gue gay!” keluhku.
Aku pun teringat dengan peristiwa tadi pagi, saat tidak sengaja bertemu Ivanna (nama penghuni kamar tiga-kosong-satu itu) di lobby. Dia begitu bersemangat menjelaskan di mana tempat makan yang recommended di sekitar bangunan apartemen padaku. Entah kenapa aku merasa ada chemistry di antara kami, dan aku langsung tahu kalau Ivanna adalah tipeku.
Namun, sepertinya masalah chemistry itu hanya imajinasiku saja. Karena begitu aku mengusulkan ide untuk makan siang bersama, tanggapannya benar-benar di luar dugaanku:
“Boleh aja sih. Sekalian kenalin aku sama pacar gantengmu, ya!”
Ada dua hal yang membuat hatiku hancur dari kalimatnya itu. Pertama, dia menyebut Albert pacarku. Dan yang kedua, dia menyebut Albert `ganteng`.
Ah, mengingatnya saja sudah membuatku kesal. Sialan.
Belum selesai aku menggerutu dalam hati, tiba-tiba Albert bergumam dengan wajah datar. “Hm.. If only there was someway to communicate that information to her. Perhaps using… I don’t know, maybe sounds?”
Aku memutar bola mataku. Tentu saja, bukan Albert namanya kalau dia tidak mengeluarkan kalimat-kalimat sarkastis seperti itu. Bukan Albert juga namanya kalau dia tidak mengatakan sesuatu untuk menambah kekesalanku. Dan jangan lupakan wajah datarnya itu—jelas sekali kalau problemku ini tidak menarik perhatiannya! Dia bahkan sudah kembali menekuni mikroskopnya sebelum melanjutkan. “If only the larynx was capable of—
“Gue ngomong kok, tapi dia gak percaya! She side-stepped my lunch invitation!” seruku sebelum dia menyelesaikan kalimat sarkastisnya. Memangnya dia pikir aku bisu!
And a girl would only reject you because she’s worried you might not be interested in her? Hm, cukup masuk akal,” balasnya—masih sarkastis—sambil mengganti preparatnya lagi. “Soy sauce is a no-no. I’ll try the coffee.”
“Kami ngobrol, ketawa-ketawa. Jelas-jelas ada chemistry di antara ka—“
“Itu karena dia pikir loe gay, makanya dia merasa aman ngobrol sama loe,” potong Albert tanpa repot-repot menjaga perasaanku. “Cowok gay gak mungkin flirting sama cewek kan?”
Aku bisa merasakan dahiku berkedut. Jadi sebenarnya dia paham apa masalahnya, tapi menolak untuk peduli. Astaga! Dia ini sahabatku bukan sih?
Aku mendengus. “Baiklah! Salah gue karena punya sahabat yang lebih terobsesi dengan misteri sains daripada kehidupan sosial. Anyway, thanks udah mau dengerin kisah cinta gue yang gak penting ini,” ucapku, menyerah.
Aku pun bangkit dari kursi, bersiap meninggalkannya untuk mengerjakan hal lain yang lebih penting dari proyek Albert—menulis laporan tentang hasil penelitian kami minggu lalu contohnya. Argh! Kenapa sih anak ini tidak bisa fokus? Selesaikan dulu satu penelitian, baru kerjakan yang lain!
Fine!” seru Albert tiba-tiba, membuatku mengerem mendadak tepat di belakang punggungnya. Albert berbalik ke arahku. “Nanti gue coba ngomong ke tiga-kosong-satu kalo kita bukan pasangan homo. Puas?”
Setelah semua kalimat sarkastisnya tadi, aku sama sekali tidak menyangka akan mendengar kalimat tawaran itu keluar dari mulut Albert. Yah, walaupun wajahnya masih datar dan terkesan tidak ikhlas sih, tapi tetap saja aku kaget. Butuh beberapa detik sampai akhirnya aku sadar dan bisa menanggapi.
O-okay… I’m counting on you!”
***
Aku tahu tidak seharusnya aku mengandalkan Albert dalam hal apapun—okeh, kecuali bagian sains dan ilmu pengetahuan lainnya, mungkin aku bisa sepenuhnya memanfaatkan kecerdasannya itu. Tapi masalah cinta? Jelas anak itu bukan pakarnya.
“Tadi pagi gue ketemu lagi sama Ivanna. Anehnya, dia bilang kalian punya rencana belanja bareng di mall sore ini.”
Albert—yang tadinya sibuk dengan kaca pembesar, pinset, dan preparat-entah-apa—spontan menoleh ke arahku. Aku tidak tahu ke mana perginya si-cuek-Albert semalam, yang jelas kali ini dia memberiku perhatian ekstra. Dia bahkan melepas mainan-mainannya itu dan repot-repot menyusulku duduk di sofa.
“Yeah, ada sale besar-besaran hari ini,” tanggapnya sembari meraih paper cup berisi coklat hangat dari atas meja. Laki-laki itu pun kemudian menyeruput minumannya sebelum menambahkan, “Dia bilang gue punya selera fashion yang tinggi.”
Aku mengernyit. “Ngg.. You were supposed to tell her that we’re straight.”
She didn’t believe me, either!” balasnya sambil mengangkat bahu.
Aku mulai curiga, jadi aku memberinya tatapan menyelidik. “Aha! You’re doing this to mess with me, right?!” ujarku mencoba menebak.
Correction!” seru Albert seraya meletakkan coklatnya kembali di atas meja. “Awalnya gue emang mau ngerjain loe, tapi sekarang gue beneran tertarik. Dan ngomong-ngomong, info yang loe kasih tentang tiga-kosong-satu kemarin gak lengkap.”
“Info?” tanyaku sembari menautkan alis.
Albert menghela napasnya, mungkin gemas karena aku tidak langsung paham. “Einstein! Dia bukan cuma cute, tapi juga punya body yang sexy!”
Oh…
Hah? Apa?
Aku mengerjap. “Tunggu, tunggu! Jadi loe mau deketin Ivanna juga? Dengan pura-pura jadi gay dan in a relationship sama gue?”
Albert berdecak lidah sambil mengayunkan telunjuk kanannya ke kiri dan ke kanan. “We’re in a relationship and really unhappy. Komunikasi selalu jadi masalah buat kita, jadi kita selalu berantem,” jawabnya kemudian, membuatku seketika mematung di tempat. “Lalu datanglah Ivanna yang bisa ngertiin gue. Terus kami menghabiskan waktu bersama, hang out bareng, become best-girlfriends, gue curhat masalah kita sama dia—“
I can’t decide if this plan is more despicable or illogical…” lirihku sambil memijat pelipis yang mulai berdenyut.
Albert tidak peduli dengan ucapanku dan tetap melanjutkan. “Then, one night, we get drunk. Usapan di pundak berubah jadi usapan di—yeah, you know. And then, next morning… `Oh God! Gue gak pernah merasa kayak gini sebelumnya sama cewek!`” jelasnya, bahkan sambil mempraktekkan adegan pura-pura terkejutnya itu.
“Loe berencana meniduri cewek yang mau gue pacari? Loe gila!” jeritku.
Albert mengerutkan keningnya. “No! Gue juga mau pacaran sama dia kok!” sanggahnya cepat. “Well, dalam artian gue jadi bisa meniduri dia berkali-ka—“
I saw her first!” potongku.
Albert terkekeh sembari menyandarkan punggungnya, “Loe ngomong gitu karena loe tahu loe bakalan kalah dari gue kan?” tanyanya dengan penuh percaya diri.
Aku sudah hampir meraih bantal untuk menabok wajah sok gantengnya, namun sebuah getaran di atas meja tiba-tiba mengalihkan perhatian kami. Itu ponsel Albert, dan dia pun segera mengambilnya. Oh, aku harap itu bukan Ivanna….
“Baru juga diomongin, it’s her!” seru Albert, membuat harapanku tadi hancur berkeping-keping. “Dia pasti mau konfirmasi tentang rencana kami sore ini,” tambah Albert seraya bangkit dari sofa, bermaksud menerima telepon itu di beranda, seperti biasa.
She’s never gonna fall for it!” seruku.
Albert tersenyum meremehkan. “Well, then, you got nothing to worry about, sweetie!” balasnya sebelum menghilang di pintu beranda.

***

*oncologist: dokter spesialis yang khusus menangani kanker
**haematoxylin-eosin: bahan pewarna untuk preparat agar jaringan dan sel bisa terlihat melalui mikroskop

Read previous post:  
Read next post:  
90

Wah, saya langsung tertarik baca pas baca judulnya ^^
Ini menarik sekali. Saya singkirin dulu soal tata penulisan deh. Karena idenya bagus dan plotnya clear, afterall saya lumayan demen ^^
lanjut baca dulu yah (y)

Makasih ka sdh repot2 baca dan komen. Seneng deh kalo kaka suka. Hehe ^^ ada masukan gak ka?

90

Akhirnya nongol lagi.
Bahasanya pinter banget, sewajarnya otak Albert sm Einstein yang emang jenius. Jadinya mengesankan. Setidaknya gitu menurut saya. Wkwkwk
Dan mereka.. Lucu.
Nunggu lanjutannya. Semangat! XD

Makasih udah repot2 baca dan komen kak ^^ tapi aku takutnya bahasanya terlalu tinggi kak,.. aku aja gak begitu paham sbnrnya. Hwkwkwk
ada saran? :" hehe

50

saya berhenti sebelum kelar..
nggak betah dengan dialognya meski kerasa smart juga. setidaknya menurut saya.
salam

Hahaha. Maaf ka. Soalnya kan ini cerita ttg albert einstein, jdi kesannya harus smart. Tapi kyanya ketinggian yaa. Sorry >_<"
Ada saran gak ka? :"