Nights of Eternal Moon (1.Sang senior)

Pertama kali aku melihatnya, aku terpana tidak tahu harus berbicara apa.

Ini adalah tahun pertamaku di Akademi MeRV. MeRV? Gak usah pakai acara terkejut begitu! Apa aneh bagi cowok pemalas, bodoh, berandalan, dan seperti gak punya masa depan ini bisa melanjutkan pendidikannya di sekolah paling berkelas, bergengsi, elite, mewah, dan super mahal di negeri paling maju di dunia ini. Gak juga. Nama belakangku Trudeau. Itu menjawab semuanya kan?

Sebagai putra tunggal dari pemilik lebih dari sepuluh perusahaan energi nuklir yang tersebar di lima benua, pemilik ribuan lisensi dan paten farmasi yang menguasai hampir 70% pabrik obat-obatan di persekutuan negara-negara maju, pemegang saham terbesar pada beberapa perusahaan perkebunan dan tembakau terbesar di negara-negara dunia ketiga, pemilik ratusan perusahaan transportasi dan peti kemas yang menguasai jalur-jalur perdagangan utama di negeri-negeri seberang lautan, dan pemimpin utama dari klan Trudeau yang katanya, konon, sangat ditakuti dan disegani oleh para mafia dan yakuza di dunia kejahatan dimana klan ini juga memiliki pengaruh dalam mengatur kejahatan-kejahata terorganisir, termasuk salah-satunya bisnis jual beli senjata kepada pihak anarkis, aku bisa dibilang sebagai salah satu anggota keluarga super kaya yang tidak pernah masuk dalam daftar orang-orang kaya di majalah-majalah itu.  

Dan karena nama Trudeau yang melekat pada akte lahirku ini yang membawaku masuk dengan mudah kedalam jajaran akademi paling elite di seluruh dunia.

Dan sebagai akademi yang begitu ternama di negeri ini, mereka memiliki tradisi yang unik sebagai pengganti kegiatan orientasi siswa baru yang sering berakhir pada makar dan pemborosan dana yang tidak jelas. Mereka mengisyaratkan agar para murid tahun kedua di akademi itu menjadi pembimbing pribadi khusus bagi para murid baru. Tujuannya tak lain untuk memperkenalkan akademi yang luasnya hampir menyerupai sebuah kota kecil itu, membimbing dalam penelitian mereka, ikut membantu dan mengawasi tindakan mereka yang mungkin, tidak direstui oleh akademi, dimana para senior ini berhak untuk menghukum sesuai aturan-aturan akademi. Hal yang menurutku, dan mungkin sesuai pada kenyataannya, tetap menyerupai kegiatan orientasi siswa baru dalam jangka waktu yang sangat lama karena dilakukan secara personal.

Akademi yang memilihkan dengan siapa-siapa kamu akan dipantau dan dibimbing, meskipun kebanyakan para senior lebih suka memilih sendiri siapa yang akan jadi junior mereka. Dan tentu saja, para senior cowok lebih menyukai memilih cewek-cewek junior yang cukup menyenangkan untuk dipandang mata. Hal yang tidak berlaku untuk senior cewek yang kebanyakan lebih suka menyerahkan semua urusan tetek bengek itu kepada akademi. Tetapi beberapa senior cewek lebih suka memilih yang satu gender dengan mereka, menghindari junior-junior yang kadang suka ganjen dan demi ketenangan kehidupan akademi mereka selama setahun ke depan.

Bagaimanapun ini semua adalah wajib hukumnya bagi mahasiswa tingkat satu dan dua.

“Atreide?”

Suara penuh keheranan yang keluar dari mulut Alan membuyarkan lamunanku. Aku kembali memandang alokasi kelas untuk para mahasiswa baru dan siapa nama pembimbing mereka nantinya. Aku masih kesulitan mencari namaku saat Evans, sahabatku satunya, membalas ucapan Alan

“Ya? Memangnya kenapa?”

“Senior anak busuk ini adalah Atreide…?!” ujar Alan lagi. “Bagaimana seorang pemalas, berandalan, liar, preman, tukang pukul, sepertimu…” Alan sudah hampir saja merengkuh seragamku kalau saja Evans tidak menengahi mereka. Aku sendiri yang masih bingung dengan apa yang terjadi tidak tahu harus berbuat apa.

“Sudahlah, kasihani Rion. Kurasa dia pantas mendapatkannya,” tukas Evans sembari tertawa ringan.

“T…Tapi… ini… Atreide…”

Aku hanya terdiam mendengar perdebatan dua sahabatku ini. Aku baru satu minggu disini dan tentu saja aku benar-benar tidak tahu siapa nama senior yang akan membimbingku. Aku sendiri heran bagaimana dua anak didepanku ini mengenalnya. Aku sebenarnya juga tidak terlalu peduli dengan urusan senior-junior ini, tapi melihat Alan yang berapi-api membicarakan sosok bernama Atreide ini, aku jadi ikut penasaran juga.

“Apakah dia… suka memukuli junior?” aku tiba-tiba terbayang dosaku di masa lalu yang seorang berandalan dan anak bermasalah selama SMA. Tetapi sejak Komisi Pendidikan mengampuni semua dosa masa laluku berkat pengaruh dari keluarga besar Trudeau dan berkat mereka juga aku diberi kesempatan, dengan beberapa ancaman sanksi apabila aku melanggarnya, untuk melanjutkan pendidikan di Akademi paling bergengsi ini, aku sudah bertobat luar dalam. Aku bersumpah atas nama ayah dan mendiang ibuku, aku tidak akan lagi terjerumus ke jalan kegelapan itu. Meskipun begitu, apa orang-orang Akademi ini mau menerimaku begitu saja itu selalu mengganggu pikiranku. Apalagi mengingat aku berhasil masuk kesini karena lobi, apa si Atreide ini diutus mereka untuk menyiksaku agar aku tidak betah disini?

Mendadak saja Alan dan Evans yang tengah membicarakan tentang si Atreide itu terdiam dan memandangku. Aku menjadi salah tingkah sendiri. Ternyata bukan aku yang mereka lihat hingga terbengong-bengong.

“Rion… Trudeau?”

Aku menoleh ke belakang. Dan saat pertama kali aku melihatnya, aku terpana tidak tahu harus berbicara apa.

“Aku Atreide…, Violet Atreide.”

Demi Tuhan, dia seorang gadis. Dan dia sangat…, bahkan terlalu cantik! Demi para malaikat kematian yang gagal mencabut nyawaku di masa-masa aku bergelut demi harga diri di masa kegelapanku dulu, demi bisnis kotor yang dilakoni oleh Paman dan Ayahku, demi semua kekayaan duniawi yang gak akan dibawa ke kubur, dia seperti seorang bidadari yang ada dalam komik-komik!

Aku berusaha tegap, menampilkan sosok hormat, berusaha tidak tertegun dengan mulut menganga seperti orang bodoh.

“Ngh… nampaknya, aku menjadi seniormu,” kakak tingkat di depanku ini tersenyum. Demi ratusan preman yang pernah aku hajar sampai modar, senyuman yang dihiasi lesung pipi yang sangat manis itu, dia berhasil membekukanku. Dia berhasil menghancurkan pertahananku. Aku seperti orang yang disemprot oleh nitrogen cair hingga membeku dan kemudian hancur berantakan oleh terjangan sebutir peluru. Persis seperti manusia timah di film terminator itu.

“Semoga kita bisa bekerja sama,” dan dia menembakkan satu lagi peluru yang berhasil menghancurkan hatiku menjadi berkeping-keping. Demi hulu ledak nuklir yang diperjual-belikan oleh klan Trudeau dan organisasi teroris padang pasir, aku telah lumat oleh segala hal yang ditampilkan gadis di depanku.

Dia mengangguk lagi memberi hormat, dalam hal ini aku belum bisa berkata apa-apa, dan saat seorang gadis menyapanya dari jauh, dia meminta diri untuk pergi dan memberikan lambaian yang singkat.

Aku merasa menjadi orang paling beruntung di Bumi ini.

Read previous post:  
Read next post:  

bagus... Kaya juga si Rion ini,, gk kebayang gimana hartanya di rumah hehe....bagus deh, saluuuut?!!

Writer cat
cat at Nights of Eternal Moon (1.Sang senior) (3 years 37 weeks ago)
70

Menanti lanjutannya dulu.

Sedikit sekilas info.

Elipsis. "Atreide..." --- seharusnya kalo kalimatnya uda kelar. Titiknya ada 4.

3 elipsis dan 1 tanda titik (.) Yang mengakhiri kalimat.

Practices make perfect

saran yang membangun. terima kasih sudah membaca.