How to Ruin Your Bestfriend's Crush -02

Aku sudah mengenal Albert hampir seumur hidup. Dan sejauh yang aku ingat, dia memang selalu menggangguku. Dia selalu terlibat dalam apapun yang kulakukan, kemudian mengacaukannya. Se-la-lu. Awalnya aku kesal sih, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya lama-kelamaan, aku pun terbiasa.
Namun walau begitu, kami tidak pernah sekalipun punya masalah yang berhubungan dengan kaum hawa. Alasannya simpel: tipe kami berbeda. Kalau masalah wanita, aku cenderung melihat kepribadiannya. Sedangkan Albert? Jangan ditanya! He’s obviously into dynamite-body!
Jadi, terkutuklah Ivanna karena punya kepribadian menarik dan body bak gitar Spanyol. Terkutuklah dia karena terlibat dengan kami berdua.
Sudah lima hari berlalu sejak Albert membuat rencana tidak senonoh itu. Dan selama itu pula setiap bertemu Ivanna, aku akan menerima saran-saran aneh tentang `memberi perhatian lebih ke pasangan` dan lain sebagainya. Sepertinya di mata Ivanna saat ini, aku sudah jadi sosok jahat yang mengabaikan pacarku sendiri.
Argh! Sialan Albert! Bukannya menaikkan namaku, anak itu malah menjatuhkan dan menginjaknya!!
Karena sudah tidak tahan lagi, di hari keenam aku pun mulai menyusun rencana. Setelah berhasil mengajak Ivanna makan siang bersama—tanpa Albert tentu saja, aku pun membulatkan tekad untuk mengatakan semuanya. Se-mu-a-nya.
Permainan Albert ini harus segera diakhiri. Masa bodo dengan perasaanku! Ini demi kebaikan Ivanna. Aku tidak bisa membiarkannya terlibat dengan Albert lebih jauh lagi.
“Albert menipumu,” ucapku mantap.
“Aku tahu,” balas Ivanna cepat, kelewat cepat malahan.
Aku pun mengerjap, bingung.
“Soal hubungan kalian kan maksudnya? Ya, aku tahu kok! Tenang aja…” sambungnya kemudian.
Aku spontan menepuk dahiku sendiri. Ya ampun!
“Aku bukan gay! KAMI bukan gay!!” seruku. “Dan Albert benci fashion, juga drama musikal! Ini semua… Cuma akting yang dibuat Albert… Untuk mendapatkan kepercayaan darimu… Supaya dia bisa tidur denganmu…” jelasku putus-putus, mencoba menahan sabar.
Ivanna terdiam sejenak. “Okay, I get it!” ucap Ivanna akhirnya.
Aku menghela napas lega, “Finally….”
“Kamu cemburu kan?”
Baiklah. Dia masih tidak paham.
“Gini deh, E…” lirihnya sembari meremas kedua pundakku. “Kalo kamu mau menghabiskan waktu bersama Albert, bilang aja sama dia. Dia pasti ngerti kok!”
Aaaargh!!!
Ternyata virus gay yang ditanamkan Albert sudah meracuni pikiran Ivanna lebih dari yang aku bayangkan. Okeh. Aku butuh plan B!
Di lain kesempatan, aku pun membuntuti Albert ke tempat janjiannya dengan Ivanna.
“Aku gak tahan lagi! Rasa cemburunya membunuhku!”
Aku—yang sedang mengintip dari balik salah satu pilar di kafe ini—memutar bola mataku. Aku baru tahu kalau Albert pintar akting! Rasa cemburu apanya? Dasar licik!
“Einstein peduli sama kamu, Alb! Sangat…” lirih Ivanna. Tangannya bahkan sudah meraih tangan Albert.
“Aku gak yakin bisa balik ke rumah malam ini. Aku butuh waktu…” lirih Albert, pura-pura memelas.
Albert dan Ivanna saling bertatapan sejenak. Detik berikutnya, Ivanna tiba-tiba melontarkan ide gila. “Well, gimana kalo kamu nginep di rumahku malam ini? Kita bisa bikin pajamas party kecil-kecilan!”
“Really?”
Ivanna menggangguk.
“Oh, Ivanna, cuma kamu yang bisa ngertiin aku saat ini…” balas Albert.
Syukurlah! Keputusanku untuk membuntuti mereka hari ini benar-benar tepat. Telat sehari saja, Ivanna pasti sudah jadi santapan Albert!
Aku menarik napas dalam sebelum akhirnya keluar dari persembunyian untuk menghampiri mereka.
“Albert,” sapaku, membuat Albert dan Ivanna spontan menoleh ke arahku. “Gue mau ngomong sesuatu sama loe.”
Albert tersenyum miring. “Nothing you can say is going to change anything,” lirihnya percaya diri.
Oh ya?
Aku membalas senyuman Albert sekilas, kemudian melihat ke sekeliling. Okeh, pengunjung kafe ini sudah penuh. Now or never, E!
“GUE SAYANG SAMA COWOK INI, DAN GUE GAK AKAN MEMBUANG-BUANG WAKTU LAGI DALAM HIDUP GUE BUAT MENYANGKALNYA!” ucapku nyaring, senyaring-nyaringnya hingga seluruh pengunjung di kafe ini bisa mendengarku.
Aku pun mengeluarkan kotak cincin dari dalam saku jaketku dan membukanya. “Alb, please be with me for the rest of our life…” lirihku sambil berlutut di depan Albert, menatap matanya langsung.
Albert mengerjap di tempat duduknya, kelihatan takjub dengan apa yang baru saja kulakukan—sepertinya rencanaku ini benar-benar di luar dugaannya. Sementara itu, para pengunjung kafe yang lain sudah ribut bisik-bisik membahas adegan menjijikkan ini. Tentu saja dalam hati aku bersumpah tidak akan pernah ke kafe ini lagi seumur hidupku.
Selama beberapa saat, aku dan Albert masih bertatapan. Keheningan pun terjadi sampai akhirnya Ivanna tiba-tiba berdeham keras.
“Okay. Aku balik duluan ya! Aku yakin kalian butuh waktu buat bicara berdua,” ucapnya sembari meraih tas dan beranjak dari kursi. “Goodluck!” serunya menyemangati sebelum akhirnya menghilang di balik pintu masuk.
Sepeninggal Ivanna, aku pun langsung duduk di depan Albert. Aku tersenyum puas ke arahnya sambil membentuk huruf V dengan kedua jari tanganku.
Albert mengabaikan pose kemenanganku dan malah meraih kotak cincin yang baru saja kuletakkan di atas meja. “Nice attack, by the way,” Albert mengakui.
***
Keesokan harinya, aku dan Albert gencatan senjata. Kami pun akhirnya sepakat untuk memanggil Ivanna ke apartemen kami. Bukan, bukan untuk ditiduri ramai-ramai, tapi untuk menjelaskan kesalahpahaman ini. Dan di sinilah kami, bertiga duduk di ruang tengah apartemen—dengan posisi aku dan Albert bersebelahan, sedangkan Ivanna di seberang kami.
Aku sengaja tidak menyiapkan air minum—karena terakhir kali seorang betina berkunjung ke tempat tinggal kami, Albert basah kuyup dan lantai penuh dengan pecahan kaca. Maksudku, aku yakin ini tidak akan berakhir baik, tapi setidaknya aku tidak perlu repot membersihkan lantai nantinya.
“Semua tentang aku dan Einstein pasangan gay adalah bohong,” ucap Albert memulai.
Ivanna menyipitkan matanya sambil menahan senyum, jelas masih tidak percaya.
“Seriously,” Albert meyakinkan lagi.
Karena Ivanna masih belum merubah ekspresinya, aku pun menegaskan sekali lagi. “We’re not gay.”
“Semua ini salahku,” tambah Albert kemudian.
“Ya, semua ini salahnya,” sambungku, membuat Albert memberiku lirikan tajam.
“Well, Einstein pikir kamu cute, jadi aku iseng menjahilinya,” balas Albert.
Aku pura-pura tidak terusik dengan kalimat terakhir Albert dan lebih memilih fokus pada Ivanna. Kali ini wanita itu mengerutkan keningnya, tampak mulai membuka diri untuk menerima informasi penting ini.
“Tunggu, tunggu!” seru Ivanna. Matanya mengerjap beberapa kali dengan imutnya. “Jadi, kamu menghabiskan waktu denganku hanya untuk membuat Einstein cemburu?” tanyanya pada Albert.
“God, no!” sanggah Albert cepat. Matanya melirik ke blouse Ivanna yang berleher rendah. “Aku menghabiskan waktu denganmu karena ingin menyentuh Sarah dan Bianca,” jelasnya kemudian, membuat Ivanna spontan mendekap dadanya.
Aku sendiri langsung mengalihkan pandangan ke arah lain, salah tingkah. Sialan, Albert! Baru kali ini aku menemui seseorang yang memberikan nama pada sepasang payudara. Laki-laki yang satu ini memang kelewat kreatif!
Tiba-tiba Ivanna berdiri. “Brengsek! Teganya kalian mempermainkanku!” bentaknya geram.
“Uhm, sebenarnya kami sudah jujur dari awal kok, tapi kamu aja yang tetap gak percaya,” ucap Albert, semakin memperburuk keadaan. Uh! Kenapa dia gak bisa tutup mulut sih? Biarkan wanita itu pergi dengan damai!
Tentu saja, mendengar itu Ivanna semakin naik pitam. Wanita itu seperti mencari-cari sesuatu untuk dilempar ke arah Albert—dan kemungkinan besar ke arahku juga, namun dia tidak menemukannya (sepertinya tidak menyediakan minum di atas meja adalah pilihan yang tepat). Jadi, akhirnya dia hanya menatap tajam kami berdua sambil berdecak nyaring, sebelum akhirnya berjalan menuju pintu depan dengan langkah yang sangat tidak santai.
“Sorry!” seruku, agak terlambat karena Ivanna sudah keburu membanting pintu depan keras-keras.
Aku meratapi kepergian Ivanna tanpa bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menghela napas pasrah. Albert? Tentu saja dia sama sekali tidak menunjukkan rasa menyesal. Sebaliknya, dia malah mengatakan hal lain yang sangat tidak berhubungan dengan semua ini.
“Oh iya, E! Red wine!” serunya tiba-tiba.
“Apanya?” tanyaku judes.
“Jawaban dari proyek gue minggu ini, bahan pewarnaan alami pengganti haematoxylin-eosin adalah red wine!”
Argh! Whatever!
***

Read previous post:  
23
points
(1300 words) posted by torii94 3 years 21 weeks ago
57.5
Tags: Cerita | Cerita Pendek | komedi | bersambung | CERPEN | Kehidupan | komedi
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

Anjrit!
Ane nggak bisa tidur abis baca ni cerita.

Apa jangan-jangan aku juga.....

70

Suka ama ceritanya, tpi mungkin karena paragrafnya rapet saya jdi agak lama menyelesaikan ceritanya.. hehe.. *agak lelah, dikit2 berenti* jdi gak langsung beres.. but, nice work

90

Kocak bangetlah ini.
Coba deh dibikin proyek yang agak panjang, pasti jadinya oke banget.
Soal cerita.. no complaint deh, karena saya asli suka.
.
Trus karakternya yah... Si Albert, ganteng yang brengsek, huh? Tipe kayak gini memang nggak bagus kalau nyata, tapi kalau di tulisan, karakter kayak gini oke banget. role-nya dia kuat. Apalagi dia jenius yah? Nilai plus deh. Trus si Einsten.. hmm... biasa. Tapi dia protagonis yang "njeplak"nya kocaklah. Tambah bagus sih karena pake PoV 1.
.
Oke, sekarang soal edit-mengedit nih... Saran aja supaya yang membaca nggak begitu lelah, masing2 paragraf mending dipisahin satu spasi deh. :) Kata asing diubah jadi miring ya. Ah, itu aja. Maaf, panjang. Makasih sudah posting kocak~

Keep writing~ ^^

Whoaaa seneng banget deh ada yg suka sama tulisanku ini kak >w< tengkyuuuhh~~
Nanti deh aku coba bikin tulisan yg panjang. Soalnya aku msh belajar, jdi takut belum bisa jaga alur spya ttp konsisten. Hehe ^^
Makasih juga udh mampir, komen, dan kasih saran kak. Semangat!!! ^^

90

Wow,seneng liat kamu bisa apdet lagi!
Semangat!

Makasih sudah mampir kak ^^