Nights of Eternal Moon (2. “Aktivitas intim Senior dan Junior adalah….”)

2. “Aktivitas intim Senior dan Junior adalah….”

Namaku adalah Rion Einsbach Trudeau dan ini adalah tahun pertamaku di Akademi MeRV. Sekarang adalah jadwal pertemuan antara Senior dan Junior untuk orientasi siswa baru dan aku sudah berdiri di depan seniorku, Violet Atreide, saat dia sedang mengucapkan sesuatu yang cukup mengganggu pikiranku.

“Intim…?”

Aku ingin bertanya. Tapi bila dilihat dari gelagat cewek didepanku, dia sepertinya sedang berbicara sendiri tanpa menyadari keberadaanku. Saat mendapati aku ada disampingnya, dia begitu terkejut dan wajahnya mendadak bersemu memerah.

“Se…sejak kapan kamu ada disitu?” diapitnya epad yang tadi dibacanya dan bertanya kearahku, saking gugupnya, dengan nada tinggi.

“Anu…, barusan…”, tentu aja aku takkan mengatakan kalau aku sudah cukup lama ada didekatnya untuk mendengarnya mengucapkan kata-kata ‘intim’ itu. Demi menenangkan perasaan sang kakak aku menambahkan lagi, “Maafkan saya terlambat, Senior Atreide.”

Aku bisa melihat sikapnya menjadi tenang kembali dan mulai memberikan senyuman kepadaku. Demi ayahku Edith Einsbach Trudeau yang telah memasukkanku dengan segala cara ke akademi ini dan mempertemukanku dengannya, sungguh kini aku yang merona sejadi-jadinya melihat bagaimana bibir yang tipis itu bertemu, membentuk lengkungan yang indah, dihiasi dengan lesung pipit yang sempurna.

“Gak masalah kok. Aku juga baru disini, mencoba membaca panduan kegiatan kita,” ujarnya sembari kembali membaca epad.

Bukan cowok namanya kalau aku gak curi-curi pandang ke senior di depanku, mumpung ada kesempatan! Aku melihat paras wajahnya. Sungguh! Dia memang cantik. Matanya yang sipit dengan warna hijau zamrud yang begitu dalam, ditambah bibir yang memukau, rambutnya yang panjang, yang menutupi setiap halus wajahnya yang putih dengan rona merah di pipi, menjuntai hingga ke pinggang, warnanya yang keemasan, berombak, semakin indah dengan sebuah headband berwarna biru yang bertengger manis di atas kepalanya. Hatiku berdegup kencang!

Aku melanjutkan aktivitas curi-curi pandangku.

Mataku bergerak ke bawah. Tubuhnya begitu proporsional. Yah, agak susah menjelaskan, terutama karena blazer hitam yang dikenakannya, kemeja putih tertutup pita kupu-kupu yang menjuntai dari leher ke dada, semuanya telah menutupi bagian dadanya sehingga aku kesulitan mengukur berapa ukuran…, ah, Demi Tuhan, apa yang kubicarakan? After all, dia masih terlihat sangat cantik meskipun mengenakan seragam akademi yang sama dengan cewek-cewek yang lain.

Semakin ke bawah, aku bisa menilai seberapa indah kakinya. Kaki yang menjuntai yang tertutup oleh sebuah rok berlipit kelabu berukuran lebih tinggi sedikit dari lutut, dan stocking hitam yang menempel ketat hingga membalut kaki yang tertutup sepatu hitam. Ya, kakinya memiliki proporsi sangat bagus! Tidak terlalu kecil dan juga tidak pendek. Stoking itu juga, bila dipadukan dengan rok tadi semakin mempercantik penampilannya.

“Apa…, ada… yang aneh dengan diriku?”

Suara kak Violet menyadarkanku kalau aku sudah terlalu lama mendeskripsikan dirinya. Aku langsung saja kehilangan suara. Aku seperti seseorang yang terpergok melakukan perbuatan salah dan tidak bisa membela diri. Tidak! Aku harus membela diri. Demi mendiang Ibuku, Elizabeth Patricia Duchan yang meninggal karena melahirkanku, aku harus membela diri! Diamku malah akan membuatku seperti seorang cowok fetisme atau buaya mesum!

“Ngh… anu… itu… seragam… Akademi kita… itu sangat pas… bagus sekali… maksudku… memang sesuai dengan…,” dirimu, “…level sekolah kita yang elit.”

“Oh!” sekarang dia yang malah gantian mengamatiku. Sial! Dia mencurigaiku? Apa dia tahu kalau aku berbohong? Apa dia tahu kalau aku sejak tadi mengamati tubuhnya dan tentunya tidak sebatas seragam yang dikenakannya saja? Tentu saja iya tolol! Gadis secantik dia, pasti banyak mata jelalatan yang memandangnya! Dan tentu saja dia akan mengenali bagaimana tatapan itu! Dan aku baru saja melakukan perbuatan yang hina itu…! Mampus!!!

Kumohon Kak Vio! Jangan menganggapku sebagai cowok mesum. Aku tidak sengaja melakukannya! Salah sendiri kamu cantik!

“Tapi seragam buat cowok juga bagus kok! Dan itu sangat pas denganmu, Rion!”

Aku termangu mendengar apa yang barusan dia ucapkan. Rupanya dari tadi dia tidak mencurigaiku. Dia hanya melihat seragam yang kupakai.

Hufffffhhhhh… aku merasa sangat lega luar biasa. Demi menghindari pikiran-pikiran mesum setelah memandang yang enggak-enggak dari gadis didepanku. Aku memberanikan diri untuk memulai bertanya.

“Jadi, kita bisa mulai dari mana, Senior Atreide?”

“Ngh… sejujurnya ini pengalaman pertamaku menjadi senior. Tahun kemarin, Sarah yang mendampingiku tidak melakukan hal-hal yang ada disini. Aku malah bingung harus memulai darimana,” dia menutup epad-nya putus asa, “tunggu, tidak bisakah kau memanggilku dengan ucapan kakak saja? Kurasa panggilan senior terkesan seperti militer,” tambahnya lagi sambil memohon. Aku mengangguk setuju. Panggilan senior seperti hubungan yang sangat kaku dan terkesan birokratis. Otakku mulai berfikir kira-kira apa panggilan yang cocok dengannya.

Sweetheart? Gila! Apa yang membuat otakmu sampai berfikir sejauh itu, Rion?

Kak Violet? ah… memangnya siapa dirimu? Adik kandung yang selalu dipeluknya sebelum tidur malam? Meskipun sebenarnya juga pengen.

Kak Atreides? Hmmm… kurasa ini yang paling cocok. Memanggil dengan nama keluarga untuk menunjukkan rasa hormat kepada seseorang yang lebih senior!

“Mungkin bisa kita mulai dengan melihat-lihat Akademi ini, Kak Atreide?” aku mencoba memberi ide bagus sekalian menguji nama panggilan yang cocok untuknya.

“Itu ide yang bagus!” ujarnya tersenyum sumringah diikuti aku, hanya saja senyumku untuk menutupi kekosongan otakku yang konslet karena memikirkan senyumnya.

“Kita mulai dari kelas penjurusanmu dulu, oke?”

Aku mengangguk senang. Iyess!!! Akhirnya aku mendapat kesempatan berjalan berdua dengannya! Sejak pertemuan kami seminggu yang lalu, aku sudah membayangkan banyak! Apalagi sejak Alan menceritakan seluk-beluk seniorku – dengan nada penuh kecemburuan – bahwa sudah banyak yang jatuh hati dengan kakak tingkat satu ini dan banyak juga yang berusaha mendekatinya. Tetapi sayang semuanya ditolak,  Ich…ich…ich! Itu pasti sakit.

Ditambahkan, sejak pertama kali si kakak masuk ke MeRV hingga saat ini, belum ada satupun cowok yang berhasil sedekat ini kecuali aku. Camkan ini! Selain aku! Huehuehue… Aku bisa merasakan tatapan penuh kecemburuan dan kedengkian dari semua pejantan yang ada di akademi ini.

Aku bisa melihat mata kalian terbakar! Yeah!!!

“Ah iya… satu lagi,” tiba-tiba si kakak berhenti berjalan dan memandangku, “Kalau tidak keberatan, boleh aku panggil kamu Rion, dan kau boleh memanggilku Kak Violet?”

Aku melongo. Otakku kembali konslet. Aku merasa begitu bahagia. Aku merasa ingin terbang ke Andromeda. Aku hampir tak percaya dengan telingaku?

Jadi, mulai sekarang, dari tujuh ribu pejantan yang di Akademi ini, hanya aku yang bisa memanggilnya dengan nama depannya?

Sebenarnya apa yang kutulis ini?

Read previous post:  
7
points
(995 words) posted by alcyon 3 years 2 weeks ago
35
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fantasi | absurd | Cinta | gakjelas | remaja | sederhana
Read next post:  
Be the first person to continue this post

bagus bangat... Tapi emang ini gk trlalu mesum ya, ? Maksd aku penggambaran Rion tntnag violet. Emang boleh nulis seperti itu?

70

Ah, mungkin saya perlu baca bag pertamanya dulu baru paham , hehehehe ...