KUARSA

KUARSA

 

Mulanya aku menganggap aku sangatlah tangguh, jantan dengan dua antena indah menjuntai dan otot kekar di sekat perut, tiga kali mengalahkan musuh di atas ring tinju, dan didapuk jadi pemimpin pasukan selatan oleh anak-anak seusiaku. Sungutku juga kuat karena pernah sekali mengeroposkan besi. Sesuai namaku “Kuarsa” yang berarti keras. Dari sekian ratus saudara-saudaraku, hanya namaku yang memiliki makna filosofis. Sungguh impresif.

Tapi sekarang, hanya karena keras kepala, aku jadi terperangkap di celah bawah pintu. Semua hal yang kulakukan adalah untuk mencari Ibu.

Ayah sudah memperingatkan beberapa hal berbahaya, tapi aku mengkal dan menganggap itu cuma gurauan saja. Menjauh dari manusia, menerobos celah-celah kecil, apalagi sampai berpikir untuk masuk ke dalam kamar nomor 7. Tempat keramat.

Untunglah, seorang bocah menggeser pintu. Aku merasa bebas dan bisa kembali merayap. Nyatanya, kaki belakangku diangkat satu. Kepalaku menjungkir, berhadapan langsung dengan mata hitam juga bau pekat dari dua lubang hidung dan mulut seperti gua menganga. Dari sana keluar udara yang hampir membuatku sekarat. Dalam kepalaku yang linglung, aku melihat gigi kuning berbaris. Bagian atas dan bawahnya dieratkan beberapa kali, seperti mesin pencacah dan tubuhku akan dimasukkan ke dalam sana. Tapi orang bodoh mana yang mau memakan makhluk jorok sepertiku?

Aku pasrah diombang ambing, asal kakiku jangan sampai copot satu, seperti nasib Rio yang divonis cacat seumur hidup karena ulah iseng manusia yang menanggalkan keempat kakinya.

"Sayang, gosok gigi dulu sebelum kau tidur!"

Usai suara itu menggema, tubuhku langsung dihempaskan, terpelanting membentur laci kayu dan memantul di lantai. Sialnya, aku mendarat dalam posisi telentang. Ingat salah seorang temanku yang mati beberapa hari lalu dan diarak semut, susah payah aku segera membalikkan tubuh. Meskipun ujungnya sia-sia. Aku bisa bertahan seminggu tanpa kepala—seperti Nora yang wafat kemarin—tapi posisi ini adalah hal paling menyiksa.

Kami baru saja hijrah dari suasana urban kota. Biasanya tempat kami berkeliaran sangatlah mewah dan terjaga. Aku bisa melihat benda bernama mobil jadi semakin kecil di atas gedung. Bercokol di salah satu lis pembatas kaca, ditemani aroma biji kopi yang menguar kemana-mana. Kopi yang berasal dari seorang eksekutif muda berkacamata. Hingga saat dia sadar kalau antena dan lensa mataku bergerak-gerak di depannya. Sebelum aku sempat bergelantungan di dasi, semburan kopi bak air bah menyemprotku sampai membentur kaca. Tapi dialah yang lebih sengsara. Manusia itu lari tunggang langgang sampai menabrak meja, lalu pingsan.

Akibat ulahku yang menampakkan diri di depan manusia, beberapa musuh datang. Musuh paling berbahaya bagi kaum kami bukanlah bangsa kami sendiri, melainkan beberapa manusia berseragam kuning yang akan menyemprot asap beracun. Peperangan besar pun terjadi. Ayah bilang anak pinaknya sudah lama hidup di gedung itu, karena ulahku persembunyian kami jadi terungkap. Kami dibasmi dengan brutal. Aku bisa melihat beberapa teman sepermainan dan saudara-saudaraku meronta, mengejang, tewas sampai binasa dan dikeruk. Mereka pun jadi santapan binatang dan diarak semut.

Setelah itu kami turun kasta.

Kini kami yang masih tersisa, hidup di bangunan rumah susun. Kami senang, karena banyak lokasi lembab, tumpukan baju kotor, dan sisa makanan basi. Tapi tidak semuanya memiliki naluri sama seperti kami. Beberapa di antaranya, apalagi si John dan Rustel—kecoa bule blasteran Jerman dan Amerika—mereka paling pemilih. Mereka suka keju, roti dan cokelat. Jadi setiap kali mereka ingin makan kami perlu berkelana cukup jauh, menyeberangi lorong besar berisiko terinjak di stasiun busway bahkan tergilas di jalan. Di rumah susun kami membangun markas di ujung lantai tujuh.

Aku masih telentang saat kulihat Lira menyembul di atas nakas.

"Sudah kubilang, jangan pernah berkeliaran sendirian!" Dia melompat. Kemampuan itu jarang sekali dimiliki bangsa kami, bahkan seluruh kecoa di dunia. Katanya Lira itu keturunan Saltoblattella montistabularis, dia jenis baru yang ditemukan manusia bernama Mice Picker.

Aku melihat Lira mengambil aba-aba, satu..dua..tiga.. dia melayang dan hap! Menginjak ujung perutku yang berhasil membuatku langsung terbangun dengan rasa mual. "Terimakasih," kataku menahan gejolak rasa perih. Sepertinya duri di kaki Lira membuat perut lunakku lecet.

Lira adalah betina primadona di kalangan kecoa-kecoa jantan yang beranjak dewasa. Dia memiliki sayap berkilap-kilap saat tertimpa cahaya, porsi tubuhnya sangat terjaga. Lira tidak makan lemak, makanan basi, kayu, kertas, atau apapun yang kami anggap sebagai pakan. Dia amat menyukai sayuran hijau sampai pernah terjebak sekali di dalam kulkas. Untung saja daya tahan tubuhnya amat tinggi. Setelah sempat membeku, Lira pun bangun lagi.

Aku masuk ke dalam rumah nomor dua. Di sana ada empat orang yang sedang duduk di atas sofa panjang. Kakiku terus merayap gesit. Kulihat tayangan gambar wajah kecoa di layar tv, di sana disebutkan kalau kami sebagai salah satu penyumbang pemanasan global. Mustahil. Kami makhluk keci,l, bisa disamakan dengan dengan pengurangan pohon di hutan? Channel dipindahkan, aku dan anak lelaki mengerang tidak terima. Dia meneriakkan tokoh kartun. Aku ingat itu serupa ulat daun yang menggeliat-geliat, tokoh tanpa suara.

Kakiku bergerak menggaruk bagian kepala, mataku kembali tertuju pada layar kaca meski fokus kemana-mana. Akhirnya perempuan remaja menoleh saat aku tak sengaja hinggap dipundaknya. Seketika itu juga tubuhku terjungkal dan suasana tentram saat meninton tv berubah ricuh.

"Kecoa! Kecoa! Kecoa jelek! Bau! Busuk!"

Aku terima saat dikatai kecoa, tapi dengan akhiran jelek, bau dan busuk? Aku murka. Otot-otot tubuhku menegang, sayapku mengepak dan kutempeli tubuhku di atas hidung mancungnya. Ujungnya, gadis itu pingsan dan aku kabur setelah sempat digempur buku tipis. Langkah kecil anak laki-laki mengejarku tanpa henti. Setelah menyelinap ke dalam lubang, aku pun berhasil lolos.

"Hey brutus, darimana saja kau? Ayah mencarimu kemana-mana!" Dua kakak lelakiku muncul. Rupa mereka memang paling tampan diantara ratusan anak ayah lainnya. Kami hanya tersisa sepuluh, tapi aku selalu saja bertindak sesuka hati.

"Anak nakal, akibat ulahmu nasib kami jadi terlunta-lunta. Jangan lagi berkeliaran seperti itu, atau kau juga nantinya ikut dimusnahkan oleh manusia," kata Sion, kakakku yang tertua.

"Kau masih terlalu kecil, nanti saja kalau sudah berusia seperti kami. Bentuk dulu otot otot tubuhmu. Setidaknya kau perlu mengalahkan dua puluh pejantan agar bisa berkeliaran diseluruh penjuru gedung. Kecuali memang punya keahlian sepertiku."

Kalimat-kalimat itu hanya kubalas dengan anggukan.

Di depan kami ada seorang wanita muda memeluk buku. Kami bertiga melihat bayangan tubuh kami di alas kakinya yang mengilap. Kulihat kakak menunjukkan senyum muslihat. "Biar kutunjukkan keahlian untuk mengelabui musuh." Tubuh Giant dibuat berdiri dengan dua kaki, dia merayap ke atas sepatu lalu kaki runcingnya menempel di celana sifon. Aku dan Sion berjengit mundur, membatasi diri di belakang tabung tempat sampah.

Kulihat Giant merayap sampai mendarat di area tangan. Mata manusia itu turun, lalu tangannya dikibaskan beberapa kali. Giant bergelayutan di sana, mempertahankan posisi hingga akhirnya dia tersungkur juga. Sungguh kejadian yang amat langka. Biasanya orang-orang langsung histeris melihat makhluk jorok seperti kami, tapi wajah perempuan itu tanpa ekspresi.

Sesuatu dalam diriku menyeruak. Kuputuskan untuk merayap mengikutinya hingga tiba di depan pintu rumah nomor 7—tempat terlarang menurut Ayah—tak menggubris teriakan kakakku sama sekali. Tempat itu sangat bersih. Kulihat perempuan tadi sedang bergumam dengan seekor kucing. Mataku membeliak. Kucing adalah musuh terbesarku selain manusia. Perlahan aku merayap ke atas kabinet. Di sana terdapat stoples-stoples kaca. Aku menajamkan pandanganku dan melangkah semakin dekat.

“Astaga!” Aku terperenyak. Di dalam stoples itu terdapat kecoa-kecoa berbagai warna. Bagian tubuhnya dicerabuti. Sayap, kaki, dan kepala ada di stoples lain. Aku gemetar hebat. Perlahan langkahku bergerak ke bagian stoples berisi kepala kecoa yang menumpuk. Mataku menelusurinya, mengenali wajah-wajah itu satu persatu. Sesuatu menyentakku. Wajah Ibu ada di sana karena aku tahu sungut Ibu selalu dihiasi lipen merah muda dan antenanya yang lentik. Ibu menyebutnya antena anti badai. 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer vinegar
vinegar at KUARSA (3 years 27 weeks ago)
80

Dapat kesan semakin ke belakang, si kuarsa ini semakin ketahuan penakutnya. Satu lagi cerita yang berkisah soal keseharian binatang yang memakai perspektif manusia. Apa sebenernya manusia seperti kita ini memang hatinya sama kaya binatang ya? Ngerti banget soalnya. #abaikan

Writer evaporape
evaporape at KUARSA (3 years 27 weeks ago)

Sebenernya itu endingnya dipotong akibat kepanjangan :D
Wah maaf ya klo belum memuaskan, saya juga bingung kalo pake perspektif kecoa spt apa, belom pernah komunikasi soalnya :D
Terimakasih sudah mau baca karya saya..

Writer vanzoelska
vanzoelska at KUARSA (3 years 27 weeks ago)

keren banget tauuuu :) alur ceritanya jelas kok nyentuh imajinasi banget .keep writting :)

Writer evaporape
evaporape at KUARSA (3 years 27 weeks ago)

Wah.. makasih udah nyempetin buat baca ^_^
Mudah-mudahan bisa lebih bagus lagi ke depannya

Writer rian
rian at KUARSA (3 years 27 weeks ago)
90

Suka! Penulisannya rapi, diksinya pas, pokoknya dari segi kepenulisan saya enggak punya kritikan apapun.

Paling suka paragraf yang menceritakan gimana koloni si kecoak dibasmi manusia, yang terus diakhiri sama "Setelah itu kami turun kasta."

Paling yang mau saya kritik adalah bagian pembukanya, yang dimulai sama penyebutan nama, yang katanya punya arti filosofis, tapi sampai akhir cerita ternyata enggak ngaruh. Endingnya juga datar sih, tapi enggak tau kenapa.

Tapi yang pasti saya terhibur baca cerita ini:)

Salam kenal

Writer evaporape
evaporape at KUARSA (3 years 27 weeks ago)

Ah, jadi terharu.. makasiih banyak ^_^
Makna filosofisnya ya? Tadinya mau dibikin secara tersirat, tapi keasikan sama alur jadi lupa :D
Makasih ya masukannya..

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at KUARSA (3 years 28 weeks ago)
100

mulanya saya pikir, kecoak lagi. lama2 bisa dibikin juga antologi cerpen dg sudut pandang kecoak. tadi saya baru klik "Perjalanan Raya" karya aesop-siapa di Kemudian sini juga, lalu seingat saya ada cerpen jadul Dee Lestari, yang sama2 pakai sudut pandang kecoak. tapi, sebenarnya, baru cerpen ini yang bener2 saya baca, dan saya merasa terhibur. malah sebenarnya ini cerita edukatif yang disampaikan scr humoris. ada pengetahuan tentang kecoak, mulai dari nama latin sampai perilaku makannya. pokoknya serba-serbi kehidupan kecoaklah. duh, kalo masih SD, saya pasti gemes bangjet sama cerpen ini. akhirannya terutama yang menggelikan. saya belum cari tahu sih bedanya sungut dan antena, tapi jangan2 sungut itu juga dinamai sungut khatulistiwa.
keep reading, writing, and appreciating, yak, hehehe.

Writer evaporape
evaporape at KUARSA (3 years 27 weeks ago)

Haha.. kayaknya kecoa bisa jadi trend baru. Iya karya Dee saya juga pernah baca, tapi baru inget pas kaka sebutin. Sebelum nulis ini sih emg riset dulu kecil2an tentang serba-serbi kecoa, cuma masih belum dikembangkan lagi baru sebatas yg umum aja. Jd karena skrg udah ga sd, kurang ngegemesin ya? Haha
Kalo antena yang di atas, kalo sungut ya buat makan si kecoanya, meluncur aja ke google ka, hehe
Makasih kak :D

Writer sastrasenja21
sastrasenja21 at KUARSA (3 years 28 weeks ago)
90

Saya sungguh mengagumi karya anda kawan, jua saya menantikan karya anda selanjutnya. Salam santun.

Writer evaporape
evaporape at KUARSA (3 years 27 weeks ago)

Terimakasih banyak kawan....

Writer Rochmatul_Islamiyah
Rochmatul_Islamiyah at KUARSA (3 years 28 weeks ago)

mantap...

Writer evaporape
evaporape at KUARSA (3 years 27 weeks ago)

Makasiih :D

sijojoz at KUARSA (3 years 28 weeks ago)

alurnya aku suka.

Writer evaporape
evaporape at KUARSA (3 years 27 weeks ago)

Makasiih ya udah nyempetin baca :D

sijojoz at KUARSA (3 years 28 weeks ago)
80

poin

Writer saradinanti
saradinanti at KUARSA (3 years 28 weeks ago)

i scared to imagine kecoa hehe tapi nice idea :)

Writer evaporape
evaporape at KUARSA (3 years 27 weeks ago)

Imajinasiin sesuka hati aja kayaknya :D
Makasiih :D