Resolution : The Man Behinds Wall (Chapter 1)

Note : Kolaborasi antara rirant dan kemassaputra

***

Atmosfer disini sudah seperti racun. Bau busuk kian hari kian menyengat. Tapi anehnya banyak manusia menganggapnya biasa saja. Walau hampir setiap hari memakan korban.

“Hei burung. Ingatlah, jangan kau sia-siakan sayapmu itu! Tidak semua tempat seperti apa yang kau rasakan saat ini. Disana masih ada manusia-manusia yang waras. Masih berpegang teguh kepada Firman-firman Allah dan sabda Rasul-Nya. Terbanglah ke tempat mereka. Niscaya kau akan mendapatinya seperti taman Firdaus.”

“Benarkah wahai pohon yang bijaksana? Sungguh aku lalai akan hal ini."

Lalu sang burung pun pergi menuju ke arah yang ditunjukan oleh sang pohon. Dengan perasaan penuh penasaran campur bahagia ia mengepakan kedua sayapnya. Setelah sekian lama ia terbang, ia tak kunjung mendapati aroma syurga firdaus. Yang ada hanya atmosfer yang tetap diselimuti bau busuk. Lantas sang burungpun berbelok lagi ke arah dimana ia berjumpa dengan pohon yang bijaksana.

"Wahai pohon. Aku tidak mencium sesuatu pun yang menyenangkan! Apakah kau hendak menggodaku saja?"

Sang pohon tertawa mendengar ucapan burung kecil itu. "Yang seperti itu kau akan menemukannya nanti ketika kau mendengar kumandang adzan dan mereka berbondong-bondong ke rumah Allah untuk melaksanakan shalat berjamaah, lalu ketika seseorang menyedekahkan sebahagian hartanya sedangkan tangan yang satunya tidak mengetahui bahwa ia sedang bersedekah, lalu ketika seorang anak mengasihi kedua orang tuanya, lalu ketika diantara mereka saling menyambung silaturahim, lalu ketika kau mendengar orang-orang yang berdzikir, lalu ketika seseorang menjauhi maksiat, lalu ketika seseorang lebih memilih diam daripada berkata-kata yang tidak bermanfaat. Dimana semua kebaikan seperti itu adalah hal yang hampir mustahil di zaman ini karena dahsyatnya fitnah-fitnah dunia." ucapnya seraya tertawa riuh.

Mendengar ucapan pohon itu, sang burung pun menangis seraya berdo'a memohon ampunan kepada Allah. "Ya Allah, Rabb ku Yang Maha Agung, yang menghidupkan dan mematikan, tiada Tuhan selain Engkau, ampunilah segala dosa-dosa hamba dan masukkanlah hamba diantara hamba-hamba-Mu yang bertaqwa."

Saat itu langit menurunkan hujannya setelah mendengar percakapan kedua hamba Allah itu. Rumput-rumput dibasahi oleh air yang turun dengan lebatnya. Seolah-olah seisi bumi ikut menangis.

Sementara itu, sejauh mata memandang tengah berjajar bangunan-bangunan megah yang menjulang ke angkasa. Di bawahnya sedang berlangsung sandiwara kehidupan yang kolosal. Dimana perilaku hitam dan putih berbaur menjadi kelabu. Sengitnya kehidupan terpancar nyata diantara bangunan-bangunan itu.

***

Fero si setan, begitulah panggilannya. Tidak ada yang mengetahui nama aslinya. Namun sesuai julukannya, Fero adalah sosok pria yang selalu menebar kebencian dan kesedihan dengan perilakunya yang sangat hitam. Perawakannya sangar, mukanya juga garang. Mimik parasnya tersirat penuh kemarahan. Rambutnya gondrong. Di pipi sebelah kanannya terlihat bekas luka sayatan yang cukup panjang. Ia selalu memakai singlet dipadu dengan jeans bolong-bolong serta sandal jepit usang. Rantai besar terkalung di lehernya. Ditambah belati yang tersarung di pinggangnya. Membuat dirinya menjadi momok bagi masyarakat sekitar.

Seperti biasa, malam hari saat ia telah terjaga, Fero si setan langsung menuju warung kopi langganannya berhutang. Entah berapa ratus-ribu rupiah hutang dia kepada si pemilik warung kopi itu. Setelah puas menyantap mie instan dan meminum kopi panas, ia menghisap beberapa batang rokok, setelah itu berdiri bersiap melenggang pergi. Namun tindakannya dihentikan mamang pemilik warung kopi.

“Kang, ba-bayar atuh kang,” ujar mamang sedikit berbisik, telah lama ia mengumpulkan kekuatan untuk mengucapkan kalimat itu.

“Sialan! Lu berani sama gue?!” pekik Fero geram. Si mamang langsung menciut melihat mimik muka beringas Fero.

“Ta-tapi kang, hutang kang Fero sudah banyak. Saya bisa bangkrut lama-lama kang,” ucap si mamang setelah memberanikan diri. Ia tidak berani menatap muka Fero yang terlihat akan murka.

“Heh! Masa bodo lu mau bangkrut apa kaga, bukan masalah gue! Lu mau gue tusuk heh?!”

“Iya ma-maaf kang,”

“Awas lu macem-macem lagi! Gue gak akan segan-segan nusuk jidat lu!”

Pekikan Fero memecahkan keheningan malam. Adegan mengerikan itu menjadi tontonan seluruh pelanggan warung, namun tidak ada yang berani membela maupun bersuara. Setelah puas mengancam dan mencaci-maki si penjaga warung kopi, Fero langsung beranjak pergi.

Fero tidak memusingkan kondisi hutangnya kepada si mamang, ia sudah menganggap dirinya adalah raja di lingkungannya. Ia menganggap orang-orang adalah keroco yang dapat ia singkirkan sewaktu-waktu. Ia pernah hampir menghabisi nyawa pria toko kelontong, untung saja ia berhasil diamankan polisi dan mendekam di penjara selama tiga tahun. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia enggan menginap lagi di penjara, namun ia masih saja tidak mengubah tingkah-laku busuknya.

Malam itu, ia keluyuran tidak jelas. Ia melihat ada minimarket baru di lingkungannya, terbesit keinginan jahat untuk ‘menandai’ minimarket baru itu. Ia langsung berjalan angkuh memasuki pintu minimarket. Si penjaga yang kebetulan wanita terbelalak kaget campur takut karena ada preman mengerikan memasuki minimarket.

Fero melirik kearah vodka dingin yang tersusun rapi di kulkas minimarket. Tanpa pikir panjang, ia langsung mengambil dua botol dan melenggang santai ke pintu keluar. Namun saat ia akan beranjak pergi, penjaga kasir berusaha mencegahnya.

“Mas, bayar dulu minumannya,” ucap penjaga kasir spontan. Dalam lubuk hatinya, ia tidak ingin mendapat masalah di hari pertama ia bekerja, namun ia juga takut dirinya menjadi incaran preman garang itu.

“Bangs*t! Malam ini gue sial mulu. Kayaknya lu orang baru disini ye?!” bentak Fero memasang muka garang. Ia langsung mengambil belati yang ia sarungkan seraya menodongkan ke wajah wanita malang itu. Melihat belati yang terpampang jelas di hadapannya, nyali wanita itu langsung menciut. Ia tidak dapat berkata apa-apa, hanya tertunduk takut.

“Inget! Nama gue Fero, inget itu baik-baik! Lain kali lu salah ngomong dikit aja gue tebas pala lu!”

“A-ampun mas, ma-maafin Dinda,” gumam wanita berparas ayu itu tampak ketakutan, terlihat butir air keluar dari kedua bola matanya hingga membasahi pipi Dinda. Ia sangat ketakutan.

“Oh, jadi nama lu Dinda. Oke gue maafin kali ini! Untung wajah lu lumayan. Kalo kagak, udah gue gorok leher lu daritadi!”

Fero si setan langsung melesat keluar, dari kejauhan terdengar tangisan pilu wanita penjaga kasir semakin membuncah. Meskipun Fero mengerti bahwa wanita itu menangis karena tindakannya, namun ia tidak memusingkan hal tersebut. Sekali lagi, ia bangga dengan kediktatorannya.

Setelah berjalan tidak karuan, akhirnya ia tiba di rumah kosong yang selalu ia jadikan tempat menginap. Ia membuka sebotol vodka seraya meneguknya. Ia menikmati racun yang mengalir di darahnya. Setelah menikmati satu botol penuh, ia langsung tertidur pulas.

***

Pagi berlalu menuju siang, tampak mobil bertuliskan ‘POLISI’ berkeliaran seperti berusaha menemukan seorang buronan. Polisi mendapatkan laporan bahwa kemarin terjadi perampokan di minimarket oleh seorang preman. Laporan itu baru saja diterima dari pemilik minimarket yang baru saja mengetahui kejadian tersebut dari penjaga kasir. Ya, penjaga kasir itu bernama Dinda. Setelah menerima laporan dan bukti rekaman CCTV, dua polisi langsung ditugaskan untuk menangkap tersangka.

"Lapor pak! Menurut informasi penduduk sekitar, tersangka sekarang sedang menempati rumah kosong di Bukit Indah nomor 47, ganti." ujar salah satu anggota polisi dari handy-talky yang tersedia di mobil polisi.

"Laporan saya terima, ganti." balas polisi yang mengendarai mobil tersebut.

"Pak Tommy, Bukit Indah tidak jauh dari sini. Kita langsung menuju lokasi pak. Ciri-ciri tersangka sudah sangat jelas dari bukti CCTV." ucap pengendara kepada polisi yang duduk di sampingnya.

"Siap pak Dani,"

Tommy langsung memutar kendaraannya, sedangkan Dani memeriksa senjatanya barangkali tersangka berusaha kabur atau memberontak. Komplek Bukit Indah tidak jauh dari lokasi mereka berada saat ini, hanya berjarak dua perumahan saja.

Fero masih saja tertidur pulas di ruangan yang ia anggap sebagai kamarnya sendiri. Ruangan itu sangat berantakan. Putung rokok dan botol kosong bekas minuman keras bertebaran dimana-mana. Bau alkohol campur rokok menjadi pewangi alami di ruangan itu.

Tiba-tiba pintu rumah kosong itu didobrak oleh kedua polisi yang sedari tadi mengincar Fero. Sontak Fero terbangun mendengar suara berisik itu. Ia mengambil belati andalannya seraya menuju sumber suara itu.

"Jangan bergerak!" pekik Dani seraya menodongkan pistolnya ketika melihat Fero nyelonong keluar dari kamar.

"Bangs*t!" teriak Fero geram seraya mengangkat belatinya.

"Saudara Fero, jangan memberontak atau kabur! Jatuhkan senjata anda dan ikut kami ke kantor polisi, sekarang!" tambah Tommy tidak kalah geram. Ia juga mengangkat senjatanya, berharap tidak ada perlawanan dari Fero.

Sedangkan Fero hanya terdiam memikirkan langkah terbaik agar terhindar dari polisi-polisi itu.

Dalam benaknya, ia tahu bahwa kartu keberuntungannya sudah habis kali ini. Di sela-sela kegelisahannya itu ia memikirkan segala dampak yang akan dihadapinya di dalam balik tembok penjara. Disanalah ia akan mendapat karma dari setiap perbuatannya selama ini. Kehidupan saling memangsa dan saling jegal, dimana yang terkuat akan menindas yang lemah. Ia tidak ingin kembali ke penjara. Rasa takut Fero membawanya kembali teringat ke kehidupan masa kecilnya yang kelam.

"Fero! Kamu jangan seperti ayahmu kelak ya nak. Ingat pesan ibu!" ucap seorang wanita muda yang ada dalam kilas balik kehidupan masa lalu si Fero. Wajah wanita itu nampak memar-memar. Ia menangis sambil memeluk Fero kecil yang masih berusia sepuluh tahun saat itu.

Ayah Fero dulunya adalah seorang pemabuk berat, gemar berjudi dan main perempuan. Tiap ayahnya pulang ke rumah, pasti ibunya menjadi sasaran empuk untuk dimintai uang. Kalau tidak, ayahnya langsung memukul ibu Fero. Dan pemandangan itu hampir terjadi setiap hari. Fero kecil yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk membela ibunya hanya bisa menangis. Ia kadang hanya bisa menyendiri dan duduk di pojokan dinding kamar.

"Heh anak manja! Banci bener lu nangis daritadi, berisik!" bentak ayah Fero kepada dirinya dengan nada mengejek.

Begitulah kehidupan Fero kecil. Dan ia tumbuh dengan keluarga yang seperti itu. Kekejaman ayahnya kepada ibunya itulah yang mengubah hampir seluruh bagian dirinya. Fero tumbuh menjadi sosok pemuda yang penuh amarah. Padahal ia dulunya adalah anak yang baik dan cerdas.

Fero masih memikirkan jalan keluar sembari mengangkat tangannya perlahan. Sontak ia mengingat nasehat teman sekamarnya ketika ia dipenjara. Seorang pria tinggi besar bertubuh gempal. Wajahnya penuh dengan bekas luka sayatan. "Heh Fero! Kalo elu pengen jadi penjahat sejati, lu harus bisa mengendalikan situasi. Gunakan apapun yang bisa lu gunakan sebagai senjata, apapun itu."

Setelah mengingat pelajaran dari mantan teman sekamarnya, Fero langsung berlari memasuki kamar dan mengunci pintu. Ia menghalangi pintu dengan lemari yang berada dekat dengan pintu kamar. Kedua polisi itu langsung berlari menuju pintu kamar dan berusaha mendobrak, sedangkan Fero berupaya mencari cara agar keluar dari situasi genting ini.

“Ah, ada vodka yang belum gue minum, ada kain bekas juga. Gue bisa buat bom molotov,” pikir Fero seraya terkekeh-kekeh sendiri. Sementara polisi masih berusaha mendobrak pintu kamar tempat Fero bersembunyi.

‘KABOOOM!!’

Terdengar suara ledakan keras dari arah kamar Fero berada. Tommy yang sudah kehabisan akal akhirnya membuang satu peluru untuk membuka pintu yang sepertinya tertahan benda besar. Setelah berhasil mendobrak dan menggeser pintu yang ternyata terhalang lemari pakaian, polisi-polisi itu langsung menyadari ada yang tidak beres di kamar itu. Mereka melihat lubang besar dari sisi kanan kamar.

“Sial, tersangka sepertinya menggunakan bom untuk meledakkan kaca kamar! Kita harus segera mengejar dia!” pekik Tommy terlihat panik.

“Siap pak!”

Kedua polisi itu berlari menuju halaman rumah, namun terlambat, Fero telah mencuri mobil polisi yang mereka gunakan. Dani terlihat kebingungan, sedangkan Tommy yang menjadi pimpinan dalam penyergapan itu terlihat sangat kesal. “Awas kau!” batin Tommy dalam hati.

“Hahaha. Ternyata gue masih lebih pinter dari keroco-keroco itu!” ucap Fero ketika puas membajak mobil dinas yang seharusnya tidak boleh dibajak. Ketangkasan Fero dalam meracik molotov dan membongkar kunci mobil benar-benar cepat. Ia sudah terlatih untuk mencuri dan berbuat kejahatan. Ia sangat puas dengan kemampuannya itu. Namun kemanakah sekarang Fero akan kabur? Ia sepertinya tidak memikirkan hingga sejauh itu.

BERSAMBUNG

Read previous post:  
Read next post:  
70

Bagus ceritanya. Jarang ada cerita yang tokoh utamanya itu buruk prilakunya. Tapi aku masih penasaran, apa hubungannya sama cerita agamis yang di awal??

Terima kasihh :D
Sama prolog yak? Aku sebenernya juga bingung hakhakhak (becanda). Pasti akan terhubung dengan sendirinya setelah cerita mengalir dengan sendirinya juga, semoga benar-benar terhubung hakhak.
betewe terima kasih sudah mampir kemari :D

70

aku suka awalan ceritanya. Dan kata si mecum demia. Ini sangat agamis :v

namun menurutku agak kurang dalam ceritanya. Eengg kayaq belum puas gitu. Dan ini tag novel

fero yg di kejar kejar tagihan, lalu polisi dan penangkapan fero lalu ada alur maju mundur

menurutku terkesan kecepatan alurnya.

hmm menurutku jelasin fero aja, lalu tabiatnya, terus lingkungannya kayaq apa dan tetangganya kayaq gimana apakah mereka baik. Kurasa belum cukup di jelasin hehe .

kurasa kalo dalam segi ketegangannya dan keseruan adegan cerita fero dan polisi. Sangat bagus dan seru loh. Apalagi jika membicarakan pertentangan yang baik dan jahat . Juga kayaq apa ya hasil akhirnya. Aku penasaran hehe. Umm ya ehm hanya itu sekian pendapatku hehe. Kaabuurr

Aku penasaran, siapa atuh si mecum demia itu? Eh jangan kabur dulu, jawab dulu, hakhakhak.
Iya ini tag novel, tapi bingung juga sih antara cerbung dan novel hakhakhak.
Iya juga yak, mungkin kurang diperjelas lagi lingkungan si fero tinggal, mungkin akan di perjelas lagi di lain kesempatan ketika fero pulkam hakhak.
Ah aku kawatir ketegangan antara fero dan polisi kurang, tapi sepertinya cukup tegang yak, syukurlah kalo gitu, betewe jangan kapok mampir lagi yak kang hidden hakhak.

70

.
Ceritanya bersambung ya, saya terpesona dengan prolog di awal. Agamis yg puitis, dan mengalir. (saya gak bisa merangkai kata yang bagus sih :v)
.
Penggunaan awalan 'di' hanya digabung dengan kata kerja.
disini (salah)
.
Sebelum kata sapaan harus dikasih koma, dan sapaan memakai huruf kapital:
“Kang, ba-bayar atuh, Kang,”

"Siap, Pak Dani,"

.
Akhiran: sih, kan, ya, ye dsb harus diawali dengan koma.
“Bangs*t! Malam ini gue sial mulu. Kayaknya lu orang baru disini ye?!”
-->>
"Bangs*t! Malam ini gue sial mulu. Kayaknya lu orang baru di sini, ye?!"

.
“Hahaha. Ternyata gue masih lebih pinter dari keroco-keroco itu!” ucap Fero ketika puas membajak mobil dinas yang seharusnya tidak
boleh dibajak. (kalimat ini menurut saya kurang efektif, apa gunanya menulis 'bajak' dua kali?)

Maaf jika salah. Salam kenal kak! :-D

Terima kasih kak komentarnya dan berkenan mampir :D

Iya ini cerita bersambung dan aku harap kakak senantiasa mengikuti lanjutannya hehe, salam kenal :D