Dunia Cerita Chapter 3

Ketika ketua mereka di posisi masing-masing dan berhadapan langsung dengan pasukan, dan mendapat pemberitahuan. Seluruh pasukan mundur menuju tempat Panglima sembari menantikan strategy berikutnya.

Kaki dipijakkan di tanah, Monster di hadapan mereka bertiga ditatap dengan penuh keyakinan. Apa yang mereka pikirkan dan inginkan sejak dulu, akan dipertaruhkan semua di sini. Mereka bertiga akan menghadapi pertempuran terakhir.

“Akhirnya giliranku sudah tiba,” ujar Nine sembari merenggangkan kedua tangannya.

“Kapakku pasti bisa membelahnya jadi dua,” ujar Thiya sembari mengayunkan kapaknya di kiri dan kanan.

“Aku mau ke toilet sebentar,” ujar Arsenal.

“Kampreeettttt!”

Mereka berdua teriak serentak ketika Arsenal berucap. Arsenal hanya membalasnya dengan tawa, dia sengaja melakukannya untuk mengurangi ketegangan yang semakin berasa. Mengingat lawannya kali ini adalah Hidden Phoenix sang monster abadi.

“Jangan sampai mati ya,” ujar Arsenal.

“Seranganmu yang paling lemah, Arsenal! Jadi kau yang harus hati-hati.” Ujar Nine.

“Jika ada kapak dan Choper milikku, kita akan menang dengan mudah.”

Jika memperhatikan ucapan Thiya tentang Choper yang selalu di sampingnya, dia harus menarik kata-katanya. Binatang itu ikut serta mundur dengan pasukan Kemudianers dan Kners. Sepertinya Thiya tidak memperhatikan binatangnya sudah pergi, hingga Arsenal dan Nine tidak tega memberitahunya jika Choper sudah tidak ada di sampingnya. Belum lagi Arsenal dan Nine hanya bisa menahan tawa.

“Koq lama sekali ya?” ujar Arsenal.

“Phoenix sepertinya hanya diam saja di sana,” balas Nine.

“Heyy, lihatlah Shin.”

 menunjuk dengan kapaknya, hendak memperlihatkan Shin yang turun dari kudanya. Nampaknya terjadi sesuatu dengannya dan Hidden yang hanya diam saja sembari menggaruk ketiak sayap dengan paruhnya.

“Hooyy Shinichi, cepat serang mereka!”

Shin akhirnya menyalakan pengeras suara ke arah Monsternya, tentunya jika menggunakan pengeras suara dapat membuat siapapun mendengarnya. Arsenal, Nine dan Thiya membuat tawa yang cukup keras. Begitupula dengan pasukan Kemudianers dan Kners yang masih tersisa. Hidden berkelakuan semakin aneh saja dengan terus menggaruk ketiak dan pantatnya, sepertinya sibuk membersihkan diri.

“Ada apa dengannya?” ujar Arsenal.

“Binatang memang selalu seperti itu,” Ujar Nine.

“Hey, Choper tidak seperti itu. Dasar!” Balas Thiya.

Perdebatan kian terdengar di antara Shin dan Monsternya, sampai akhirnya ada cahaya yang semakin terang dan membias angkasa. Nampaknya negosiasi Shin dan Monster panggilannya sudah selesai. Shin diserang.

“T...tunggu Shinichi, ada apa denganmu?!” Ujar Shin.

“Sudah berkali-kali kukatakan, namaku Hidden Phoenix!”

Arsenal terkejut ketika Hidden bisa berbicara, sepengetahuannya Monster selama ini tidak bisa berbicara dan menggeram saja terhadap musuhnya. Nampak Nine dan Thiya juga terkejut.

“Kalian bertiga segera serang Hidden Phoenix!”

Panglima berbicara melalui Telepati, kemudian memberi komando agar segera menyerang.

“Biarkan saja dulu Panglima, karena Hidden masih menyerang majikannya.” Ujar Nine.

“Sasaran kita adalah memusnahkan Hidden Phoenix, aku tahu Shin memang musuh tetapi kita bisa menghukumnya dengan layak, cobalah untuk melindunginya dan bawa dia di hadapanku.”

“Eeerrr baik Panglima,” ujar Nine.

“Sudah kulakukan!”

“Appaaa!”

Arsenal menggendong Shin di tangannya bagaikan tuan putri,  sontak membuat kedua temannya terkejut ketika sang Raja bisa sampai di sini hanya kedipan mata. Shin nampak tidak sadarkan diri.

“Koq bisa dia di sini!” Ujar Thiya.

“Akan kubawa dia ke Panglima, sedangkan kalian urus sisanya.” Ujar Arsenal sembari menunjuk ke arah kanan.

GRRRR!

Hidden Phoenix semakin mendekati mereka bertiga, dia menggeram sembari membuka mulutnya dan memperlihatkan bola api di antara paruhnya.

“Sampai nanti,” ujar Arsenal. “Leap!”

Arsenal mengeluarkan sebuah jurus yang membuatnya bergerak dengan cepat. Jurus yang berasal dari genre Fantasy, membuat pemakainya bisa ke tempat yang dia suka sejauh mata memandang saja. Effect menghindar ataupun muncul secara tiba-tiba di hadapan musuh. Sebenarnya akan sangat ampuh ketika memakai pedang dan menghujamkan secara tiba-tiba ke arah musuh, namun dampaknya terlalu besar karena pemakainya menjadi cepat lelah ketika menggunakan terlalu sering.

“Kalian, kembalikan Shin!”

Hidden Phoenix berucap sembari menyemburkan nafas api miliknya, tepat ke arah dua orang yang bengong melihatnya. Sedangkan Arsenal sedari tadi sudah menghilang dengan seketika.

“Keparat kau Arsenal, Kau enak sendiri!” Ujar Nine dan Thiya secara bersamaan.

*

Arsenal telah tiba dihadapan Panglima seketika, sontak saja Panglima terkejut karena kehadiran Arsenal.

“Lapor Panglima, Raja telah kubawa. Selanjutnya harus diapakan?” ujar Arsenal sembari tersenyum.

“Biarkan aku dan para Healer mengurusnya. Bergabunglah kembali dengan kedua temanmu.”

“Baik, Panglima!”

Arsenal menyerahkan Raja Shin yang digendongnya bagaikan tuan putri, kepada para Healer yang sedari tadi memperhatikan dengan wajah geram. Tatapannya bukan ditunjukan untuk Arsenal, melainkan ke arah Shin.

Arsenal mengucapkan jurus yang barusan digunakan, namun tubuhnya tidak bisa bergerak. Dia terlihat berdiri seakan terbengong dengan situasi pertempuran Hidden dan kedua rekannya.

“Ada apa Arsenal, kenapa belum berangkat?!” Ujar Panglima.

“Eeetttooo...aku kehabisan tenaga, Panglima. Ijinkan aku mengisi tenaga dengan bantuan Healer.”

Arsenal mengajukan mundur sementara, dan Panglima menyanggupinya. Healer menuju ke arah Arsenal lalu memberikan energi penyembuhan, walaupun akan memakan waktu sedikit lebih lama jika melakukan proses pengisian tenaga. Namun lebih baik daripada tidak bisa berbuat apa-apa. Arsenal memperhatikan dua rekannya sibuk menghadapi Hidden. Mereka menghindari serangan Sunray, yaitu jurus komentar pedas level 20 milik Hidden Phoenix. Nine mengeluarkan jurusnya: Breathfire. Namun terlihat tidak berpengaruh, Hidden masih bergerak bebas sembari memberikan komentarnya yang pedas.

Thiya menggunakan jurusnya ketika Hidden masih terbang ke udara : Scorched Earth. Thiya membuat sebuah tanah berapi yang apabila didekati membuat musuh terbakar. Namun sialnya itu tidak berpengaruh jika Hidden Phoenix bisa terbang di angkasa, tetapi Effect penyembuhan jurus dari Thiya dapat membuat luka yang diderita akibat serangan Hidden menjadi hilang tanpa bekas. Jurus yang tidak mempan terhadap Hidden, cukup berguna juga untuk kesembuhan Thiya akibat serangan Monster burung itu. Tetapi rekannya tidak menerima penyembuhan, hingga Nine harus menahan rasa sakit yang dideritanya.

“Yosh...aku sudah terisi kembali, terimakasih Healer.”

Arsenal bangkit dari tempat duduknya, dan mulai melakukan gerakan kuda-kuda. Bersiap masuk ke medan pertempuran.

“Tunggu!”

Arsenal terjatuh dengan muka menghantam tanah,  sembari mengaduh kesakitan. Seseorang yang menghentikan jurusnya begitu mudah, dan memanggilnya dengan perintah yang mendadak membuat Arsenal terpaksa berhenti.

“Ada apa Panglima?” ujar Arsenal.

“Bawalah beberapa minuman energi dan berikan pada temanmu, sepertinya mereka sudah mencapai batasnya. Sebelumnya gunakan jurus khususmu untuk menghalau pandangan Hidden Phoenix.”

Arsenal menganggukkan kepalanya, lalu Healer memberinya beberapa botol energi. Effectnya memberikan penyembuhan dan pengisian energi secara instan, tanpa memerlukan waktu lama. Arsenal melupakan tentang sesuatu pengisian yang instan, tetapi dia menggeleng kepalanya lantas mengambil botol yang diberikan.

“Moonlight Shadow!”

Arsenal mengangkat kedua tangannya sembari menghadap ke arah salah satu satelit Dunia Cerita. Semua yang semula terang dengan langit kehijauan, kini meredup bagaikan malam sudah tiba.  Moonlight Shadow, jurus yang memberikan effect atau pengaruh global yaitu sebuah kegelapan yang membuat musuh buta sementara. Salah satu kekuatan genre Fantasy, sangat ampuh untuk melarikan diri dan sembunyi dari musuh ketika pandangan sudah tertelan kegelapan. Tetapi hanya untuk sementara saja.

“Leap!”

Arsenal tiba secara spontan di belakang Nine, tentu saja itu mengejutkan apalagi kegelapan sudah mendera. Hidden Phoenix yang terus menerus menyemburkan komentar pedasnya tanpa arah, terlihat kebingungan dengan situasi sekarang. Gelap gulita.

“Heyy Arsenal, itu jurusmu ya?” ujar Nine.

“Benar sekali, hebatkan. Sekarang kita mundur dulu dan minumlah ini.”

Arsenal memberikan botol yang dibuat oleh Healer, lalu memegang pundak Nine untuk membantunya mundur. Nine benar-benar terluka parah.

BLAARRR...WHOOAAA!

Thiya terkena serangan asal-asalan milik Hidden, serangan mengarah padanya lalu terlempar cukup jauh akibat kerasnya jurus Hidden Phoenix. Thiya mengaduh kesakitan ketika mukanya menghantam tanah, sembari mematikan api yang hendak membakarnya.

“Hey...hey...hey. Monster yang cukup berisik juga!?” Ujar Arsenal. “Elune Arrow!”

Arsenal melepas pegangannya di pundak Nine, kemudian mengambil salah satu anak panahnya. Dia mengeluarkan api di ujung anak panah lalu mengucapkan sebuah jurus. Elune Arrow, sebuah panah api dari gabungan Genre Cinta dan Elemen. Memberikan Effect mabuk jika terkena tetapi hanya untuk sementara saja. Hidden Phoenix berhenti memberikan komentarnya, terlihat hanya bengong saja. Sesekali dia mengusap kepalanya dengan sayapnya.

“Hahaha, rasakan!” Ujar Arsenal. “Sekarang kita bisa mundur dengan aman.”

Arsenal membantu Thiya yang sedari tadi sibuk menghusap api di tubuhnya, sementara Nine terlihat sudah sehat—tidak nampak luka parahnya. Diapun menuju ke Thiya untuk membantunya.

“Kau tidak apa-apa Thiya?” ujar Arsenal sembari membantunya menghilangkan api.

 “Yeaahh, cukup mengejutkan tadi.”

Thiya meneguk sebuah botol yang diberikan oleh Arsenal, tubuhnya terlihat bercahaya sesaat sama halnya dengan Nine saat meneguk minuman Healer itu. Sekarang Thiya bisa bangkit dan melihat Hidden Phoenix yang masih mengusap kepala dengan sayapnya.

“Kau lumayan hebat juga, Arsenal.” Ujar Thiya.

“Apa maksudmu!” Balas Arsenal sembari geram.” Kau pikir jurusku tidak hebat sama sekali?”

“Sudah...sudah, kita harusnya akur sekarang!” Ujar Nine sembari melerai. “Selanjutnya apa?”

Mereka bertiga terlihat terdiam sejenak, tidak ada ide apapun di antara mereka. Perlahan jurus Moonlight Shadow semakin memudar.

“Nine dan Thiya, selanjutnya giliran kalian. Keluarkan jurus khususmu Thiya dan arahkan ke Phoenix, kemudian jurus khususmu Nine.”

Ada suara Panglima terdengar pada mereka bertiga lewat pikiran, diikuti angukan kepala dari dari Nine dan Thiya. Kegelapan semakin memudar memperlihatkan cahaya yang sudah seharusnya pada waktunya. Arsenal, Nine dan Thiya muncul di hadapan Hidden Phoenix.

“Doom!”

Thiya mengucapkan jurusnya sembari menghentakkan kaki kanannya di tanah, hingga nampak tiang-tiang muncul di dalam tanah. Tiang-tiang itu mengelilingi Hidden Phoenix, seperti mengurungnya di sangkar. Salah satu effect dari genre Horror dan Elemen. Membuat siapa yang terperangkap di dalamnya tidak bisa melakukan apa-apa. Kekuatan sihir apapun apalagi milik musuh, tidak bisa dikeluarkan jika dia sendiri terjebak di dalamnya.

“Elder Dragon Form!”

Nine mengucapkan jurusnya setelah Thiya mengeluarkan Doom miliknya. Namun hal yang aneh terjadi, karena Nine berubah menjadi sesuatu yang mirip Monster. Taring di mulutnya yang panjang dan memekarkan sayap di punggungnya, belum lagi dia mempunyai kaki besar tetapi tangannya sedikit kecil. Efect dari genre Horror dan Scifi dengan tambahan tulang Monster. Penggunanya dapat berubah menjadi sesosok makhluk mengerikan, dengan kemampuan yang lebih besar dari manusia biasa.

“Whooaa...Monster naga?” Ujar Arsenal dan Thiya serempak.

Baru pertama kalinya Arsenal dan Thiya melihat jurus khusus milik Nine, hingga berpikir jurus khusus miliknya tidak seperti ini. Nampaknya sesuatu dirahasiakan oleh Panglima dan Nine terhadap jurus khusus ini.  Ketika Nine menggeram, hal itu semakin membuat Arsenal dan Thiya takut jika di serang teman sendiri.

“Hey, tunggu apa lagi? Ayoo serang Hidden!” Ujar Nine sembari menggeram.

Suara Nineterlihat berat bagaikan kakek-kakek, cukup lucu atau mengerikan jika terdengar. Arsenal dan Thiya tidak memikirkan ini lebih jauh. Mereka akhirnya berduyun-duyun mengeroyok Hidden Phoenix yang terperangkap jurus Thiya.

Arsenal menembakkan anak panah ke tubuh Hidden, namun di tahan dengan kedua sayap berapi milik Hidden. Thiya mendekat sembari mengayunkan kapaknya.

“Frosth Breath!”

Nine mengeluarkan jurusnya, sebuah komentar yang sangat dingin hingga muncul dugaan jurusnya lebih kuat daripada komentar pedas milik Hidden Phoenix. Setelah terkena jurus Nine, nampaklah Hidden Phoenix membeku dan tidak bergerak sama sekali.

“Whoaa, hati-hati Naga! Aku hampir terkena.”

Thiya protes kepada Nine yang terlihat asyik menyemburkan Komentar dinginnya, hingga Thiya harus buru-buru menghindar ketika menyerang Hidden Phoenix dengan kapak.

“Maaf tidak sengaja, akan kugunakan cakarku sekarang!” Ujar Nine.

“Yahooo, Bantai...bantaiiii!”

Arsenal, Nine dan Thiya terus mengeroyok Hidden Phoenix, mereka bertiga terlihat sangat bersemangat. Tidak ada perlawanan apapun dari Hidden, karena dia hanya diam saja. Tanpa mereka duga, Kemudianers dan Kners turut serta Panglima yang memimpin di depan. Mereka semua bagaikan ombak yang siap menerjang saja sembari membantu mengeroyok Phoenix. Di antara mereka ada yang menunggangi binatang milik Thiya, sembari menembak Hidden Phoenix dengan pistol pada kedua tangannya. Dia adalah kopral Hadjri, salah satu pemimpin grup pasukan binatang rekayasa genetik.

Sepertinya Thiya tidak mengetahui binatang kesayangannya ditunggangi seseorang. Para binatang campuran genetik, mencakar tubuh Hidden Phoenix dan para Point menusuknya dengan tombak. Semua terlihat kompak ketika bersama-sama mengeroyok Hidden Phoenix

KEEOOOKKKK...KEEEOOOKKK!

Hidden Phoenix mengerang kesakitan sembari meraung-raung bagaikan hewan sekarat akibat siksaan yang dideritanya, tetapi justru membuat pasukan Kemudianers dan Kners menjadi semakin bersemangat.  Berpikir itu sebagai tandanya Hidden Phoenix sebentar lagi hanya tinggal nama.

“Sedikit lagi teman-teman!” Ujar Panglima. “Terus serang, kita bisa menghancurkannya!”

“Yeeaaahhhh!”

Semua semakin bersemangat menyiksa Hidden Phoenix, ketika Panglima berseru kepada seluruh pasukan. Tubuh Hidden Phoenix yang semula menjadi biru akibat effect jurus dari Ulang, kini berubah menjadi kemerahan kembali. Hidden Phoenix menghempaskan sayapnya hingga seluruh pasukan Kemudianers dan Kners terpental beberapa langkah, termasuk Panglima.

“Celaka, dia masih bisa bangkit!” Ujar Panglima. “Pasukan, Muunndd...”

Panglima terdiam sejenak ketika Hidden Phoenix terus terbang ke atas tanpa menyerang mereka kembali, sepertinya ketakutan jika dikeroyok seperti tadi.

“Heyy, apakah makhluk itu lari?” ujar Arsenal.

“Woohhoo, kita menang!” Ujar Nine.

“Tunggu dulu, kenapa dia ke sana?”

Thiya menunjuk arah tujuan Hidden Phoenix itu pergi, kelihatannya terbang mendekati salah satu satelit alam Dunia Cerita yang berwarna biru.

“Jangan-jangan Hidden Phoenix berniat menggunakan Supernova di sana?!”

Tiba-tiba muncul Shin di tengah-tengah pasukan, membuat semua terkejut ketika kehadirannya di sini. Padahal sedari tadi dia pingsan dan dirawat oleh Healer.

“Apa maksudmu saudaraku?” ujar Panglima.

“Supernova merupakan kekuatan tertinggi Hidden Phoenix,  sebuah komentar paling pedas level 20. Mungkin dia tadi tidak bisa menggunakannya karena kalian mengeroyoknya.” Ujar Shin panjang lebar. “Jika dia menggunakannya di satelit itu berarti dia berniat memusnahkan kita semua dengan menjatuhkan satelit alam ke arah kita”

 

“Semuanya, kerahkan serangan jarak jauh kalian ke arah Hidden Phoenix!” Ujar Panglima.

“Yeeaahhh!”

Tanpa berpikir panjang, Panglima memberi titah kepada sebagian pasukan yang memiliki skill tembakan jarak jauh terus menghajar Hidden Phoenix yang mencoba mendekati Satelit Dunia Cerita. Arsenal termasuk memiliki senjata khusus dengan serangan jarak jauh, dia mengeluarkan jurusnya. Starfall secara beruntun mengarah ke Hidden Phoenix. Serangan jarak jauh memang dapat memberi cukup luka di tubuh Hidden, tetapi tidak bisa membuatnya jatuh dari angkasa.

“Kalian semua akan binasa!” Ujar Hidden Phoenix.

Hidden Phoenix akhirnya mencapai permukaan satelit Dunia Cerita, sembari berteriak ke arah pasukan Kemudianers dan Kners. Semuanya terlihat sangat kecil ketika Hidden Phoenix mencapai ketinggian yang cukup Extream. Beberapa menit kemudian warna satelit alam Dunia Cerita yang semula biru, berubah menjadi kuning kemerahan. Bagaikan buah jeruk yang masak.

“Maafkan aku yang tidak bisa menjatuhkannya,” ujar Arsenal.

“Wooaahh terasa panasnya,” ujar Nine.

“Mungkin ini akhirnya,” ujar Thiya.

Read previous post:  
18
points
(3191 words) posted by hidden pen 3 years 34 weeks ago
60
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fantasi | game | Iseng
Read next post:  
Writer hidden pen
hidden pen at Dunia Cerita Chapter 3 (3 years 32 weeks ago)

@Rirant... Bener bener kcian yak. Muahahaha

@Elska... Silahkan silahkan :v

Writer vanzoelska
vanzoelska at Dunia Cerita Chapter 3 (3 years 33 weeks ago)
100

masih mau lanjut lagi hihi :D

Writer rirant
rirant at Dunia Cerita Chapter 3 (3 years 33 weeks ago)
80

Ijin mampir lagi :D
Hahaha Shin dikhianatii, rasakann kau Shin..