Speaker

Sarah melotot ke arah layar sejak beberapa menit yang lalu. Matanya terasa semakin perih dan ia kembali mengerjap, lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela di sampingnya. Melihat hijau-hijauan yang ditanam Ayah sejak pertama kali mereka pindah ke rumah ini membuat Sarah merasa lega. Ia bisa mencium bau tanah basah yang masih menguar kuat. Setelah beberapa saat menyejukkan mata, ia merasa lebih baik. Sarah ingin kembali menghadap layar laptopnya, tidak menghiraukan rasa kaku di pundak yang sudah menerjang sejak setengah jam yang lalu.

Ia sedang dikejar.

Jemari Sarah dengan gesitnya berpindah-pindah dari satu tombol huruf ke tombol huruf yang lain, merangkai kata-kata menjadi kalimat, yang akhirnya menjadi serangkaian paragraf, dan tinggal sedikit lagi ia bisa menyelesaikan cerpen pertamanya.

Ya, cerpen, dan ia sedang diburu oleh nafsu untuk menyelesaikan cerpen perdananya itu.

Selama ini Sarah senang menulis cerita, tapi tak pernah satupun ia selesaikan dengan tuntas. Ia selalu meninggalkannya di tengah-tengah, atau langsung melompat ke bagian akhir cerita. Yang itu hanya karena rasa malas lebih kuat dalam merajai segala keinginannya. Tapi Sarah tak ingin seperti itu lagi. Ia mesti berubah. Ia harus menyelesaikan satu cerpen, mengunggahnya ke salah satu situs penulis cerpen nasional, dan mencoba menerima segala saran yang akan ditorehkan para pembaca nanti.

Cita-cita Sarah adalah menjadi penulis, dan ia tidak ingin rasa malas terus-terusan mengusiknya. Ia tidak akan sukses kalau ia lebih mengutamakan menuntaskan game komputer yang sedang ia gandrungi sekarang. Akan lebih baik ia meninggalkan game itu sejenak sekarang dengan alur cerita yang masih menggantung, dengan begitu ia bisa memanfaatkan imajinasinya dalam menyelesaikan akhir cerita game itu sendiri dan menumpahkannya pada tulisan-tulisannya. Tentu saja itu ia lakukan hanya sebagai pemanasan dalam menulis novel-novel maupun cerpen orisinil karyanya nanti.

Sarah sudah tidak sabar!

Jemarinya semakin cepat mengetik, dan kalau Ibu melihatnya, beliau pasti hanya akan berdecak lidah berulang kali dan “memuji” bagaimana Sarah sudah seperti orang kesetanan saja. Daripada menulis cerita yang tidak kunjung diterbitkan, kata beliau, kenapa tidak ikut kompetisi cepat-cepatan mengetik saja? Sarah hanya bisa tersenyum masam jika mengingat ucapan beliau, dan itu membuat Sarah semakin berapi-api dalam menyelesaikan cerpennya.

Saat Sarah sedang menikmati aksi kesetanannya dalam mencapai klimaks cerpen, tiba-tiba terdengar suara speaker dari toko roti yang terletak di blok sebelah rumahnya. “Selamat pagi! Tiga puluh menit lagi toko akan dibuka dan siapkan uang Anda untuk menyantap croissant coklat spesial kami! Hari ini..”

Sarah mendesah. Jemarinya refleks berhenti mengetik dan ia langsung terbayang akan croissant hangat dengan coklat meleleh di dalamnya. Pengumuman itu terdengar kembali saat ia sedang membayangkannya, dan ia mengenal pemilik suara itu sebagai Amanda, teman satu kelasnya di universitas. Amanda dan keluarganya memang memiliki usaha bakeri, dan toko roti mereka adalah yang paling terkenal di kota kecil ini. Semua orang, bahkan para turis yang datang kemari, selalu menantikan toko roti mereka dibuka pada pukul sepuluh pagi di hari Minggu, dimana akan ada lebih banyak roti-roti dan donat-donat yang menggiurkan dijual dengan harga lebih murah lima persen daripada hari-hari biasa.

Keinginan akan croissant coklat mengganggu Sarah, tapi ia menggeleng kuat-kuat dan kembali mengetik. Ia tidak peduli bagaimana perutnya mulai berbunyi, mengingat ia hanya mencomot satu grilled cheese dingin yang ada di kulkas satu jam lalu. Ia mengetik dengan semakin cepat, tidak ingin kehilangan fantasi mengerikan yang mengalir deras di otaknya tentang seorang pencuri yang sedang menghadapi suatu bahaya di penghujung aksinya kini.

Jantung Sarah nyaris melompat ketika ia tiba-tiba mendengar suara berdenging dari speaker toko roti yang begitu keras, membuatnya spontan menutup telinga dan mengumpat. Ia seperti baru saja merasakan bahaya yang ditulisnya untuk pencuri itu! Jantungnya berdegup kencang dan Sarah mendesis kesal. Ia akan mengontak Amanda setelah ini dan mengingatkannya soal speaker yang mengganggu itu.

Suara dengungan itu berhenti dan Sarah menghela napas. Jantungnya sudah berpacu tadi gara-gara tenggelam dalam alur cerita yang semakin menegangkan, saat pencuri si tokoh utama berlari sekuat tenaga dari kejaran anjing pemilik rumah yang dijarahnya, dan anjing itu sepertinya bukan anjing biasa. Suara dengungan barusan membuat Sarah merasa seolah anjing itu melompat keluar dari layar laptop dan menerkamnya.

Hap!

Tapi mana mungkin ada yang seperti itu? Sarah hanya kebanyakan berfantasi. Ia kembali mencondongkan tubuh dan menatap layar laptopnya.

 

AAH!

 

Jantung Sarah sempat berhenti berdetak sekali lagi saat terdengar suara teriakan Amanda di speaker, lalu suara seperti dengungan lebah yang panjang, dan sekali lagi Amanda menjerit.

 

 

 

 

“PERGI!!!”

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Shinichi
Shinichi at Speaker (3 years 17 weeks ago)
80

wah! cerpen ini apik sungguh. minim kesalahan penulisan. mungkin udah sempurna malah. saya salut. berasa udah terampil dalam menulis. pastinya. dan jika ada satu hal yang saya ngerasa kurang cocok, adalah cerpen ini kurang panjang. bukan dipanjangin dari endingnya, melainkan menambah porsi narasi di tubuh cerpen. sekalian mengemban misi mempertahankan judul. saya suka judulnya tentu saja dengan syarat menambah kadar speaker itu di proses perjalanan tokoh utama dalam menyelesaikan tulisannya. kan bisa aja dia udah denger sayup2 suara pengeras suara itu, yg lantas mulai mengusiknya. selama cerita berjalan, pengeras suara tadi makin lama makin dekat, lalu masuk ke soal selera pingin makan itu. jadi tetep dengan isi cerita begini tapi makin erat dengan pemilihan judulnya, alih-alih diubah. kip nulis kalakupand aja. ahak hak hak

Writer wyn
wyn at Speaker (3 years 13 weeks ago)

makasih atas komentarnya! sarannya membantu banget.. sayang saya lagi sibuk kuliah jadi nggak bisa nerusin untuk sementara waktu. semoga di lain waktu bisa lebih baik lagi ^^

sijojoz at Speaker (3 years 22 weeks ago)

kayaknya terkesan buru2. jadi ceritanya kayak melompat2 gitu

Writer wyn
wyn at Speaker (3 years 13 weeks ago)

hehe makasih sudah mampir :D

sijojoz at Speaker (3 years 22 weeks ago)
20

poin dulu

Writer ikhsandi373
ikhsandi373 at Speaker (3 years 23 weeks ago)
50

mungkin judul yang bagus itu "Derita Seorang Penulis", yelah udah kayak dosen penguji sidang aje gua pake sok ngasih judul segala :p

Writer wyn
wyn at Speaker (3 years 23 weeks ago)

Hahah gakpapa, makasih udah kasih saran! :D

Writer Cimeyqirey
Cimeyqirey at Speaker (3 years 23 weeks ago)

betulll aku setujuuuu,, banget tuh judulnya kurang pas..

Writer wyn
wyn at Speaker (3 years 23 weeks ago)

saya pun merasa begitu.. kalo saya ganti judul jadi "Cerpen Pertama" gimana ya, apa pake saran di atas yang "Derita Seorang Penulis"? :DD haha peace!

Writer Dini
Dini at Speaker (3 years 23 weeks ago)
70

hihihi setuju sama vanzoelska, keknya judulnya agak kurang pas :D, hmm kira2 apa ya judul yg pas .... *mikirkeras :D

salam ^^

Writer wyn
wyn at Speaker (3 years 23 weeks ago)

nah yuk mikir judul /lho

Writer vanzoelska
vanzoelska at Speaker (3 years 23 weeks ago)
100

kayak semacam ilusi disetiap problema( terbawa suasana). ini menceritakam orang yang sedang membuat cerita kan? tapi judulnya cuma sedikit terlibat dalam ceritaa. kayak gak maching gitu -_-
salam :)
#Cling ;) hihi

Writer wyn
wyn at Speaker (3 years 23 weeks ago)

haha, iya bingung mau bikin judulnya apa. Makasih udah mampir ya, salam :)