De and Ji

I thought I Saw you out there Crying, I thought I Heard you call my name_ Maroon 5-Lost Stars.



Terima kasih atas kenangan itu, kini aku mampu hidup dalam kenangan cinta itu.



           Senyumnya merekah, kedua matanya menikmati pagi yang keluar dari tirai yang tersikap di sisi ranjangnya, kedua kakinya menyentuh lantai kayu bersalur halus. Jemarinya mendekap erat cangkir berisi coklat panas. Tubuhnya yang terduduk di sisi ranjang begitu enggan beranjak dari sana, dia tak begitu ingin membuka lebar tirai itu. Dia menghela napas. Bibirnya mencicipi coklat panas dengan hati-hati dan tersenyum kemudian, "coklat yang sebenarnya pahit, mengapa semanis ini?" Gumamnya, menyesapi coklat yang membasahi bibirnya. "Coklat ini seperti kamu, cinta pertama yang pahit namun memberiku sebuah kenangan manis" Dia kembali tersenyum.
  


          Kini ruangannya penuh dengan music yang mengalun dari ponsel yang terhubung dengan sound system besar, mengeluarkan lagu milik Maroon 5 dengan lost star nya mampu memecahkan gendang telinga penghuni kamar itu, namun pemilik kamar tidur itu serasa menikmati setiap detail lirik lagu itu. Dia menggumamkan kata ah agak panjang, seolah di menyadari sesuatu kenapa lagu itu kini berbunyi secara otomatis. "Ternyata sudah pukul 9 pagi" Dia kembali menikmati coklatnya. "Yang aku tau, saat aku mencintaimu adalah aku yang sangat terluka, karena aku terjebak sebagai orang yang mencintaimu” Dia menghirup aroma coklat yang keluar dari dalam cangkir. Batinnya menggumamkan sebuah kalimat. Dia yang sangat mencinta maka dia juga yang akan merasakan luka parah dibanding dengan dia yang di cinta. “dan, terluka atau tidak itu keputusanku, Dewa” Dia menekankan sebuah nama di sana. “mari kita nikmati masa gila kita”. Matanya melihat ke satu sisi sudut kamarnya, seakan ada seorang pria yang berdiri di sana menikmati pagi dari balik jendela kaca besar yang tertutup tirai di sana.
       


          Senyumnya kembali mengembang ke arah Pria yang sedang menggenggam sebuah cangkir yang mengepulkan uap, seolah ada sesuatu yang panas di dalamnya. Dia kini mendengar pria itu berucap, hanya dia yang mampu mendengar suara pria itu, dan hanya dia yang mampu mendiskripsikan pria yang saat ini bersamanya itu. “kau masih mencintaiku, Jihan? Walau kau tau, kau akan di bilang sakit karena aku?” Katanya.
Jihan tersenyum lebar. “mereka yang berucap, bukan aku”. Jihan menghela napas, lagi. Jihan begitu tenang memandangi Pria itu.

 


          Kini dia beranjak dari duduknya, langkah kaki jenjangnya yang terbalut piyama membuat lantai kayu itu berderik, namun dia tak memperdulikan suara itu. Dia melewati pria yang  bernamakan Dewa. Langkahnya melewati ranjangnya yang begitu berantakan, kakinya berhenti di depan sebuah meja kerja yang membelakangi ranjangnya. Meja kayu berwarna putih bersih itu sangat berantakan, penuh dengan foto-foto seorang pria yang sedang memeluknya erat. Tangannya terulur meraih sebuah foto pria yang mengenakan sebuah jas hitam dengan menggenggam seikat bunga krisan di atas dada. “seandainya kau tak di dalam peti mati itu, apa kau akan tetap bersamaku?” matanya menatap foto itu dengan sendu, “hem? Jawab aku!” nadanya meninggi.  “Apa benar aku gila?” rahangnya mengeras, salah satu tangannya menggenggam erat cangkir, aura kemarahan memenuhi ruangan itu. “Bajingan! Kau yang membuatku Gila!” PRAAANGGGG!!! Cangkir itu membentur keras ke arah dinding, sekarang dinding berwarna pink rose kini berubah menjadi coklat. Jihan merakup wajahnya, dia jatuh terduduk, bibirnya gemetar, dia kini mampu mendengar gemuruh giginya sendiri. Napasnya menderu. Jihan memejamkan kedua matanya, tubuhnya terkulai lemas di atas lantai kayu. Samar-samar kedua matanya menemukan pria bernama Dewa itu masih berdiri di sana sedang menatapnya. Jihan membaca gerakan bibir Dewa seolah mengatakan pada Jihan. Kau menyedihkan, Ji.



       Jihan mengerjap, perhatiannya beralih ke arah secarik kertas di atas lantai kayu, berada di dekat kaki tempat tidurnya. “ah~” kembali dia menggumam. “benar, aku memang gila karenamu, De”. Seakan otaknya mulai bekerja kembali, serabut-serabut sarafnya mengirim sebuah informasi memori ke dalam otaknya tentang hal yang tertulis dalam secarik kertas itu. Lagu Lost Star yang terus berulang, membuatnya semakin terpuruk dengan rambut panjangnya yang menutupi sebagian wajahnya, kini dia meringkuk persis seperti janin.



                     Nn. Jihan : Diagnosa Medis : Skizofrenia Katatonik

              —Please see me reaching out for someone i can't see, Take my hand let's see where we wake up temorrow—
             —Don’t you dare let our best memories bring you sorrow—But are we all lost stars, trying to light up the dark?__

###

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer daniswanda
daniswanda at De and Ji (3 years 22 weeks ago)
100

Materinya agak berat ini ya hehe. Tapi bagus kok penulisannya. Gue baru ngeh di bbrp paragraf terakhir tentang cerita ini. Secara overall gue suka cara penulisan adegannya. Suasananya dapet.

Cheers

Writer atitha_suwito
atitha_suwito at De and Ji (3 years 22 weeks ago)

Makasih kk #senyumgigi :D sering mampir dan tinggalin jejak yaa kk .. :)