Berbicara Dengan Tuhan

Aku terhenyak disana, menatap kosong benda elektronik yang mewakili mimpiku.

Rasanya seperti Kau mencambuk mati nyawaku, Tuhan.

Entah darimana bulir itu.

Dia seenaknya jatuh, seolah menghempaskan segala mimpi yg kubangun bertahun-tahun.

Pengorbananku terasa hambar, Tuhan.

Mataku menerawang jauh keluar dari bilik, mengikuti arah datangnya sinar senja.

Aku ingat kapan terakhir aku berbicara dengan-Nya.

Dan ini terasa sakit Tuhan.

Mengutuki diri.

Mengasihi diri.

Meragukan diri sendiri.

Mengunci diri, bahkan hati.

Tuhan, Kau tau pengharapanku hanya pada selembar itu.

Dan Kau tau apa yang telah kukorbankan untuk selembar itu?

Kau pun tahu Tuhan, bagaimana hidupku tanpa selembar itu.

Maafkan aku yang menduakan-Mu.

Namun, sungguh bukan maksudku.

Itu hanya penghiburku.

Karena mungkin aku akan gila jika kehilangan itu.

Kau tau betul betapa bahagianya aku hanya dengan selembar itu.

Kumohon jangan menghukumku, lagi.

Ini terlalu menyakitkan, Tuhan.

Aku tahu, aku berasal dari Rahim yang kuat.

Pemilik rahim yg kudiami merasakan sengsara hanya dengan aku sbg penghuninya.

Aku terus bersembunyi di sana tanpa mampu menghapus airmata pemilik rahim itu.

Lalu, apakah karena aku berasal dari rahim kuat itu, Lantas Kau terus memberikan kejutan untukku?

Apa benar aku sama kuatnya demgan rahim itu?

Hingga tangan besar yang membuat pipiku merah terbakar menjadi alasanku lahir di Bumi?

Tuhan, andaikan aku mati,

Sudi kah Kau mengundangku ke Arsy-Mu?

Walau tanpa jamuan sekalipun, Sudikah Kau menjawab tanyaku?.

Sudikah Kau menjadi pendengarku?

Tuhan?

Kau mendengarku?

Bagaimana?

Maukah?

Kurasa, Tidak!

Kini aku hanya menertawakan diriku sendiri.

Mungkin ini salahku yang tak setia Pada-Mu.

Menduakan-Mu.

Memilih yang lain sbg pendangarku.

Dibanding Engkau.

Tanpa sadar aku kehilangan-Mu untuk sesaat.

Lagi, bulir-bulir ini turun tanpa perintah Jatuh menyentuh kedua kaki yang menyentuh lantai kayu bersalur halus ini.

Tuhan, bagaimana jika aku bersama-mu saja?

Agar Kau tak memberiku kejutan, Lagi?

Hem?

Mungkin dengan begitu, Tak kan ada lagi tempat ku bercerita dengan yg lain selain dengan-Mu.

Bagaimana?

Kau menerimaku?
***

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer ilham damanik
ilham damanik at Berbicara Dengan Tuhan (3 years 19 weeks ago)
100

Huh gemeteran nih bacanya, ngena bgt

Writer atitha_suwito
atitha_suwito at Berbicara Dengan Tuhan (3 years 19 weeks ago)

Masa sih kk Ilham? :D makasih deh... sering mampir dan tinggalin jejak yaa kk *salam kenal :D