-

Read previous post:  
45
points
(0 words) posted by rian 3 years 29 weeks ago
75
Tags: Cerita | Drama | kehidupan | Bunga-bunga Dinding
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer latophia
latophia at - (3 years 12 weeks ago)
2550

Gegara cerpen terakhir udah ngilang jadi saya nyasar kesini :3
Gaya ceritanya rian sih saya selalu suka, tapi saya ga suka Lida-nya (hahah subyektif sekali sih... jadi abaikan saja :3)

Writer rian
rian at - (3 years 11 weeks ago)

Makasih latophia

Writer vinegar
vinegar at - (3 years 24 weeks ago)

Rian, line aktif ga tuh?

Writer rian
rian at - (3 years 23 weeks ago)

Enggak

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at - (3 years 26 weeks ago)
100

Udah dari kapan sih baca, tapi tetep aja pas dibaca ulang ceritanya masih asik. Suka sih, khas Rian banget.
Sudahlah, komen saya mah, beda-beda-tipis sama yang lain.
Makasih untuk cerpennya :)

^beneran spikles dianya XD

Writer rian
rian at - (3 years 24 weeks ago)

Makasih, Thiya:)

Writer Nine
Nine at - (3 years 27 weeks ago)
100

Ahahahaha, ini kok kayak diserahin ke pembaca pas sudah hampir 90% jadian si Hanim dan Lida? (spekulasi saya). Maunya di eksekusi aja sampai akhir, biar plong (walau sebenarnya dengan ending—kalau emang ini sudah ending—begini, diriku ngak ada protes).
Oke, yang saya keluhkan di bagian satu itu udah ketemu di sini, pas di besment. Seru dialognya. Bikin haha-hihi. Lebih enak di bagian dua kalau boleh bilang. Soalnya yang saya cari emang pas lagi intim-intimnya XD
.
Ini pasti udah banyak yang bilang, tapi saya bilang juga deh biar afdol. Saya jadi ingat “Dean” oleh d.a.y.e.u.h. Walau di sini ngak dibahas spesifik menyoal pribadi Hanim maupun Lida, tapi dari lenggak-lenggoknya, mereka ngingetin saya ama Dean dan Zahra. Tapi tetep lah, saya dapat sensasi yang lain pas ngebacanya. Sebenarnya saya penasaran sih, apaiya cewek-cewek yang pinter di esema itu, pas masuk cerpen, harus dibikin jadi judes? Harus kayak jaga-jaga jarak sama si cowok? Just saying. XD
.
Asoy dibaca. Udah itu aja keknya, saya ngak tempe mau ngomen apa lagi. XD
.
Salam Olahraga

Writer rian
rian at - (3 years 24 weeks ago)

Makasih udah komentar, Bang Nine. Hanim dan Lida enggak jadian, seenggaknya enggak dalam waktu dekat ini, sejauh yang bisa saya lihat sebagai narator.

Sifatnya Lida terasa stereotipikal, atau udah keliatan kayak cewek betulan (maksudnya, terasa hidup enggak)?

Writer Nine
Nine at - (3 years 24 weeks ago)

Kalau si Lida, kesan yang saya dapat itu, di satu sisi dia udah kelihatan natural, tapi di sisi lain sifatnya itu klise. Masuk akal nggak? XD
.
Apa ya, mungkin karena pengaruh tontonan (atau bacaan) saya dulu waktu masih ababil dan sering nemu tipikal2 cewek kyak si Lida itu, brad. Jadinya dia yaaaa, kyak udah umum gitu.

Writer The Smoker
The Smoker at - (3 years 29 weeks ago)
80

Jadi inget Dean dan Zahra-nya Dayeuh soal belajar bareng itu.
Enak sii, tapi nggak ada emosi apa-apa pas kelar baca (kayak kaka cinta sama mbak dhira)
Di bagian 1 ada paragraf yg bagi saya kerasa naif : "Ya, memang dia bukan tipe cowok idaman Lida seperti yang ada di majalah punya Kak Kita." Dan " Cowok itu tidak seperti cewek. Kalau cewek kan selalu rapi dan cantik dan manis dan rajin dan patuh sama orangtua. Di mata Lida, kata cowok bersinonim dengan bajingan, dan penyusah." jadi terasa klise karena timpang dengan apa ya, entahlah. Karakter penceritaannya atau apa, Entah, maaf gak bisa jelasin.
Itu aja, bingung juga Mau komen apa.

Writer rian
rian at - (3 years 28 weeks ago)

Iya, sedikit terinspirasi sama novel itu. Tapi saya harap gayanya enggak sama.

Tokohnya emang sedikit terlalu kekanak-kanakan, ya? Masih belum bisa nemuin titik seimbang supaya tokohnya tetep keliatan kayak remaja tanpa harus jadi naif.

Makasih udah komentar, Bang Smoker

Writer Wanderer
Wanderer at - (3 years 29 weeks ago)
90

Setuju dengan citapraaa, belum bisa menentukan karakter Hanimnya sama atau enggak dengan cerita sebelumnya. Mungkin karena latarnya tidak berkait, atau saya belum merasakan kekhasan yang kuat pada karakter Hanim.
Yang ini saya suka pokoknya. Hehe. Enggak menemukan yang mengganjal. Sempat merasa datar ketika baca di tengah, tapi memang saya selalu mendapat kesan begitu setiap baca cerita SoL teenlit. Jempol buat ending-nya, sederhana tapi manis :D

Writer rian
rian at - (3 years 28 weeks ago)

Makasih udah meninggalkan jejak, Wanderer:D

Writer Shinichi
Shinichi at - (3 years 29 weeks ago)
100

yap. ini sayang dipenggal jadi 2. tp saya suka banget. khasnya dapet. sebagai fragmen, ala fragmen, ini berkelaslah. udah layak dijual, Bung. lanjutkan. ahak hak hak

Writer rian
rian at - (3 years 28 weeks ago)

Makasih, Bang:D

Writer citapraaa
citapraaa at - (3 years 29 weeks ago)
100

ga tau mau komentar apa~
karena romance jadi suka sih -_-
ga tau Hanim-nya beda atau enggak._. karena latarnya beda jadi kerasa beda kali ya
sebenernya sayang kalo dibagi 2 gini, biar gampang bacanya sih ya ._.
terus kayak biasa, latar dan orang-orang lainnya diterangin seakan pembaca udah akrab sama mereka. kesannya gitu sih ._. ga ada bagus / jelek.
dan saya penasaran kenapa penulisnya hobi bercerita dari sudut pandang lawan jenis. mungkin mau melihat diri sendiri seperti apa ._.
tapi si Lida ini kalah sama pertahanannya sendiri ya ha ha. di situ kerasa khas remajanya, romancenya.
sekian.
.
tapi saya curiga si Ana-nya nguping

Writer rian
rian at - (3 years 28 weeks ago)

Iya, saya juga curiga Ananya nguping

Ini terlalu biasa-biasa sampai nggak tau mau komentar apa, ya?

Ya udah. Makasih udah ninggalin jejak:D