TRUE SELF

Catatan Pendek: Cerita ini adalah kolaborasi antara Rirant dan Sastrasenja21

~oOo~

Setiap manusia pasti mempunyai sifat tersembunyi dalam dirinya. Tawa dalam duka, jujur dalam dusta, koleris dalam melankolis. Terkadang, manusia mengunci erat sifat aslinya demi suatu tujuan tertentu. Hingga tanpa disadari, sifat itu meronta gaduh. Ia ingin menghirup udara luar, ingin menatap sinar mentari, serta ingin merenungi indahnya rembulan. Hingga tanpa disadari, sifat itu keluar tanpa nyana. Mengalahkan sifat dominan yang telah menjadi topeng hati.

***

Kala itu, aku sedang membeli sate telor puyuh di kantin sekolah. Sate itu terkenal sangat nikmat di lidah, harganya juga sangat terjangkau untuk ukuran anak SD. Di sampingku terlihat laki-laki kecil mengambil satu batang sate lalu merogoh saku celana. Setelah si penjual menunggu cukup lama, ia masih tidak menemukan satu koin uangpun. Sejurus kemudian anak kecil bertampang sayu itu berkata kepadaku yang sedang sibuk memilih jajanan selain sate, "Wahai kawan bertesmak kotak, sudikah dikau meminjami daku koin seratus perak? Daku janji akan mengembalikannya. Peganglah kata-kata daku, Kawan."

Aku menahan ekspresi kaget campur heran. Karena baru kala itulah aku bertemu sosok anak laki-laki yang berbicara sedikit unik. Karena aku tidak tega menolak permintaannya, akhirnya aku mengiyakan saja. Ia tersenyum lebar seraya berkata, "Apresiasi terdalam dari daku untukmu kawanku. Sungguh, daku takkan melupakan kebaikan engkau. Sebelum kelas melanjutkan aktifitas sucinya, sudikah daku menanyakan nama dikau, Kawan?"

"Etto—namaku Riran. Baru kali ini aku ketemu orang seperti kamu. Nama kamu siapa?" tanyaku kepadanya. Kala itu aku tidak tahu siapa namanya.

"Ah, sebut saja daku Pujangga. Namun jikalau dikau penasaran, nama panjang daku ialah Pujangga Ulung—hehehe." Ia cekikikan kecil. Sepertinya ia sangat bangga menyebutkan nama panjangnya. Lalu ia menyantap kembali sate telornya. Akupun menyantap jajanan pilihanku.

“Jangan bercanda dong. Nama aslimu siapa?”

“Daku seringkali berjuluk demikian, Kawan. Sudahlah dikau terima saja,” balasnya lagi. Ia sepertinya bersungguh-sungguh atas namanya itu.

Sejak saat itulah aku berteman akrab dengan Pujangga. Selama aku berkawan dengannya, ia selalu mengucapkan kata-kata puitis, kaya akan makna. Kadang aku sedikit geli dengan ucapannya. Namun seringkali pula aku terkagum-kagum dengan untaian diksinya. Ia tidak mempunyai handphone, namun menghubunginya cukup mudah karena tanpa dihubungipun, ia sering menghampiri rumahku.

Pernah suatu ketika, kedua orangtuaku bertengkar hebat. Ayahku ketahuan menduakan Ibuku. Aku yang notabene anak bungsu yang sangat cengeng menangis sejadi-jadinya kala kedua insan yang aku sayangi bertengkar tak kunjung henti. Kakak tertuaku meluapkan amarahnya ke Ayah, namun ia juga tahu diri untuk tidak kurang ajar kepada Ayah. Sedangkan kakak keduaku hanya menyendiri di kamar. Ia tidak ingin terlibat atau memihak salah satu. Ia sibuk akan dunianya sendiri.

Rumahku bagai neraka yang selalu diselimuti konflik dan ketidaknyamanan. Sifatku yang sebelumnya cerah menjadi redup. Aku seolah tidak ingin mengenal dunia luar, aku menutup diri. Bahkan aku tidak ingin menemui sahabat lamaku, Pujangga. Hingga akhirnya aku hidup dengan Ibu, terpisah oleh Ayah yang pergi entah kemana. Dan terpisah oleh Pujangga.

~Sepuluh Tahun Kemudian~

“Ah, Riran ya?”

Sosok gadis berparas menawan menyapaku tiba-tiba. Aku menjawab sekenanya, “Iya benar, siapa ya?”

“Aku Shinta, ingat nggak? Kita satu sekolah loh dulu waktu SD, malahan satu bangku hehehe.”

Aku memutar kembali memoriku pada waktu aku masih duduk di bangku SD. Samar kuingat ada gadis kecil yang selalu duduk di sampingku. Kala itu ia berambut hitam legam sepanjang punggung. Kulitnya kuning langsat dan wajahnya sangat menarik hati. Kala itu kami memang duduk berdasarkan nomor absen. Dan kebetulan aku duduk dengan Shinta, sosok gadis yang pernah membuatku merasakan jatuh hati untuk pertama kalinya.

 “Ah, Shinta ya?! Inget kok aku, Cuma aku kaget aja lihat kamu yang beda dari waktu SD dulu. Sekarang kamu lebih item ya ketimbang dulu hehehe, (dan terlihat lebih manis)” balasku sedikit tersenyum simpul. Sekarang penampilan Shinta sedikit berubah. Ia mengenakan jilbab berwarna kuning cerah dan kulitnya sedikit lebih gelap dari sebelumnya. Badannya sangat proporsional. Dan parasnya masih terlihat manis—atau bahkan manisnya melebihi ketika SD dulu.

“Ah masa’ iya aku tambah item? Jangan ngeledek ah,” ucap Shinta diikuti tawa kecil. Gawat, sepertinya pipiku memerah karena tak kuasa menahan pesona Shinta.

“Omong-omong, ada perlu apa kamu ke kampusku, Shin?”

“Aku ada kunjungan himpunan di sini. Kamu kuliah di sini ya, Ran?”

“Iya. Ayo kita ngobrol bentar di kantin kampus. Mumpung kuliahku masih sejam lagi nih.”

Aku dan Shinta lalu berjalan menuju kantin kampus. Ukurannya memang tidak cukup luas, namun masih cukup untuk menampung seluruh mahasiswa yang ingin menyantap makanan, atau hanya sekedar nongrong bersama. Aku menoleh kanan dan kiri, lalu kulihat ada bangku kosong yang berjarak tidak jauh dari kasir.

“Kamu mau pesen apa, Shin? Aku traktir deh,”

“Gak perlu repot-repot Ran. Aku bawa minum kok, sama jajan dari rumah nih.”

Shinta mengeluarkan jajanan yang membuatku bernostalgia dengan kehidupan lamaku di SD, yaitu sate telor puyuh dan beberapa jajanan khas SD lainnya. Aku sedikit kaget dengan bawaan Shinta, “Wah sudah lama aku nggak lihat jajan ini. Kamu beli di mana, Shin?”

“Kebetulan aja aku punya usaha sampingan jualan jajan. Aku distribusikan di sekitaran SD. Nih Ran, cobain deh.”

Shinta mengambil sebatang sate telor puyuh dan menyuguhkannya kepadaku. Aku sedikit tersipu malu namun mau. Aku cicipi sate itu, sontak aku bernostalgia dengan seluruh memori kala aku masih berada di jaman SD. Kala aku sebangku dengan Shinta. Kala aku menjalin persahabatan dengan Pujangga—yang aku tidak tahu lagi kabarnya. Dan memori kala kedua orangtuaku bertengkar hingga akhirnya berpisah. Aku termakan lamunan dan mengacuhkan keberadaan Shinta

“Ran, Ran!”

“Ah, iya Shin? Maaf aku tadi ngelamun bentar hehehe.”

“Apanya yang bentar, Ran. Lama loh kamu ngelamunnya tadi hehe,” balas Shinta yang masih saja menebar tawa riuh. Ia menambahkan, “Omong-omong, apa kesibukanmu sekarang, Ran? Masih puitis lagi ndak kayak waktu SD dulu? Kamu menghilang tiba-tiba loh dulu, aku tanyain ke guru SD katanya kamu pindah luar kota,”

“Aku sibuk kuliah dan ngurus himpunan aja kok Shin, kesibukan mahasiswa pada umumnya hehe. Iya ada masalah internal keluarga dulu, jadi terpaksa aku pindah ke Surabaya. Ah, aku dulu puitis? Masa’ sih? Bercanda ya kamu, Shin—hehe,” balasku yang sedikit bingung oleh pertanyaan Shinta. Aku puitis? Seingatku, aku tidak pernah berkata maupun menulis puisi.

“Hehe serupa banget sama kesibukanku. Ohh, aku bener-bener nyariin kamu loh dulu. Tapi Syukur Alhamdulillah aku bisa ketemu kamu lagi. Ah bener kok, kita dulu sering bertukar bait waktu SD. Gaya bicaramu dulu juga sangat puitis. Kamu jago banget kalau urusan merangkai kalimat. Nilai Bahasa Indonesiamu paling bagus kan dulu waktu SD? Aku sedikit kaget sih sekarang gaya bicaramu udah ngga kayak dulu yang puitis banget.”

“Gaya bicaraku dulu puitis? Ah, mungkin yang kamu maksud itu teman kita yang namanya Pujangga ya? Dia dulu satu sekolah juga loh sama kita waktu SD. Aku sahabatan sama dia, tapi sejak aku pindah, aku nggak kontak-kontakan lagi sama dia.”

Shinta mengernyitkan dahinya. Ia tampak bingung mendengar ucapanku. Keheningan menyeruak cukup lama hingga akhirnya ia mulai menyahut perkataanku, “Pujangga? Seingatku nggak ada anak namanya Pujangga di kelas kita tuh.”

‘Apa?’

Sontak tanda tanya besar menghampiriku. Mana mungkin aku berkhayal? Aku yakin betul dengan keberadaan sahabat karibku itu. Meskipun sifat Pujangga sangat antisosial dan hanya suka mengobrol denganku saja, namun aku yakin akan wujud nyatanya. Aku berusaha meyakinkan Shinta atas keberadaan Pujangga, “Dia selalu duduk di bangku paling belakang sebelah kiri, Shin. Masa’ kamu ngga nyadar?”

“Bangku sebelah kiri? Aku ingat betul kok Ran, bangku belakang sebelah kiri selalu kosong. Jangan nakut-nakutin ah.”

~TAMAT~

Curhatan Pendek: Sebenarnya Akun Sastrasenja21 yang ada di kemudiandotcom merupakan akun baru Rirant. Rirant awalnya lupa password jadi ngebuat akun baru dengan nama akun sastrasenja21 (hehehek). Tapi sekarang akun sastrasenja21 akan bergabung sama akun lama. Jadi akhir kata, gomennasaii, etto, arigatogozaimasu!

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer jojon00
jojon00 at TRUE SELF (51 weeks 6 days ago)

Cerita yang mengharukan ya, bagus ceritanya

_________________________________
manekin kedokteran - mikroskop laboratorium binokuler

Writer daniswanda
daniswanda at TRUE SELF (2 years 10 weeks ago)
80

wow, ternyata ada anak-anak SD yg hobi berpuisi ya? pasti pubernya kecepetan..haha.
Anyway, tulisannya enak dibaca dan twist di endingnya cukup mengejutkan. Tapi mungkin cerita tentang masa-masa bersama pujangganya bisa digali lagi lebih dalem biar pas twistnya disajikan, efeknya jadi lebih wah...sekedar input aja dr saya...cheers

Writer rirant
rirant at TRUE SELF (2 years 10 weeks ago)

Mungkin itu namanya pure love, bakat terpendamnya puitis hahahak..
Wah terima kasih bang Daniswanda masukannya, sepertinya akan ada epilog dari cerpen ini berdasarkan masukan2 dari kawan2 kners, terima kasih berkenan mampir :D

Writer ilham damanik
ilham damanik at TRUE SELF (2 years 10 weeks ago)
100

Ah kecewa abang dek, jadi mls komentar nih. #ketipu

Writer rirant
rirant at TRUE SELF (2 years 10 weeks ago)

Ah maaf mengecawakan kak, kalau ada yang kurang kasitau ya kakk hehehek. Baidewai terimakasih komentar dan ratingnya meskipun males komentar :D

Writer hidden pen
hidden pen at TRUE SELF (2 years 10 weeks ago)

Bang ilham emang komen dikit sejak dulu. Harap maklum bwahahaha

Writer rirant
rirant at TRUE SELF (2 years 10 weeks ago)

Wah iyata, kayaknya bang Ilham juga sesepuh sini ya kang Hid hehehek

Writer hidden pen
hidden pen at TRUE SELF (2 years 10 weeks ago)

waahh ane dipanggil kang. Aduh jadi malu :v iya tuh bang ilham sesepuh. Udah tua dia. Bwahaha kabuurr

Writer ilham damanik
ilham damanik at TRUE SELF (2 years 10 weeks ago)

Uda tua, tapi sekarang uda muda. Kemarin baru reinkarnasi soalnya hahaha

Writer rirant
rirant at TRUE SELF (2 years 10 weeks ago)

Kang Hidden: Kalo kaga kang terus apa dong, neng kah? hahahak :D

Kang Ilham: Wah bagi dong ilmu reinkarnasinya kang, pengen jadi muda lagi nih hahahak :D

Writer ilham damanik
ilham damanik at TRUE SELF (2 years 10 weeks ago)

Heh aku mau bagi ilmu reinkarnasi ini ke kamu tapi ada syratnya. Pertama, kamu harus baca cerpen yang baru ku posting. Kedua, kamu komentar. Nah, itu dulu ya, ntar ada lagi syarat yg ketiga. Syarat ketiga inilah yg paling penting, tetapi kamu harus memenuhi syarat pertama dan kedua dulu.

Writer rirant
rirant at TRUE SELF (2 years 10 weeks ago)

Nah saya menanti syarat ketiganya hahahak :p

Writer ilham damanik
ilham damanik at TRUE SELF (2 years 10 weeks ago)

Syarat yg ketiga gampang kok, kamu datang aja ke rumahku bawa ayam hitam sama kembang 7 rupa.

Writer hidden pen
hidden pen at TRUE SELF (2 years 10 weeks ago)

bwahahaha :v hayok rirant. Kita jadikan bang ilham ayam goreng. Pasti lezat :v

Writer rirant
rirant at TRUE SELF (2 years 10 weeks ago)

hahahak kayaknya nanti reinkarnasi lagi bang Ilhamnya :p

Writer hidden pen
hidden pen at TRUE SELF (2 years 10 weeks ago)
90

berasa kayaq curahan sndiri, berasa kayaq menceritakan orang lain atau mungkin berasa mempunyai kpribadian ganda eh ngomong apaan ya :v asyik ceritanya. Ehm ehm

Writer rirant
rirant at TRUE SELF (2 years 10 weeks ago)

Terimakasih kak Hidden berkenan mampir hehehek :D
Wah ini fiksi loh kak hoho, tapi kak Hidden bener untuk tebakan kedua soalnya cerita ini ndak sepenuhnya fiksi hohoho :P
Terimakasih juga ratingnya kak :D

Writer The Smoker
The Smoker at TRUE SELF (2 years 10 weeks ago)
70

Kok bagi saya ini kerasa lempeng ya?
Nggak gimana juga pas endingnya.
Sempet ingat Boddah (atau siapa tepatnya,teman khayalan Kurt). Mungkin karena eksekusinya lempeng juga.

Writer rirant
rirant at TRUE SELF (2 years 10 weeks ago)

Wah lempeng ya, saya yakin ada yang kurang ternyata di endingnya, cerita yang mana itu Kurt ya gan Smoker? baidewai trims udah mampir :D