-

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer vinegar
vinegar at - (3 years 7 weeks ago)
80

Jadi, ini sebenarnya adalah komen yang tertunda karena kemarin2 saya nggak bisa komen di cerita ini. Acces denied katanya.

Baca ini sekilas teringat kembali sama cerpen revisi yang kamu kirimkan itu. Pilihan kata dan ungkapan-ungkapan kamu yang cukup jadul itu semacam ciri khas lain, selain tokoh remaja-berpikiran dewasa seperti yg pernah saya bilang. Ada sesuatu yang tipikal di tokoh2 kamu, Rian. Tokoh remaja pemurung, penyendiri yang lempeng dan nggak neko-neko namun berlatar keluarga yang malfungsi bertemu tokoh cewe yang katakanlah perfect. Kadang ada aksi atau pemikiran tokoh ini yang terkesan meledak di satu scene peristiwa, tapi kembali baik2 saja di akhir cerita. Mungkin di situlah keresahan yang coba kamu narasikan, berulang kali.

Dalam teenlit mungkin tema begini lumayan jarang. Isu seks di kalangan remaja zaman ini memang bukan hal baru, tapi sangat jarang muncul di dalam novel teenlit di rak toko2 buku. Enggak tahu, seakan masih tabu ngomongin gaya hidup remaja yang nyatanya sudah mulai bergeser. Seseorang, tolong kasih tahu saya ya kalau ada yang pernah nemu teenlit begitu. Tipikal teenlit cenderung ngasih gambaran bahwa remaja kita tuh tahunya cinta-cintaan di sekolah, yang naif dan tidak peka sekitar. Namun lagi, Rian.. mungkin ini saya aja sih. Latar sosial tokoh kamu menurut saya berkutat di lingkungan yang itu-itu saja. Aku begini karena orang tuaku begini. Itulah kira-kira yang saya tangkap. Sementara, tentu saja dalam kehidupan nyata tidak melulu seperti itu. Apa ya? Kamu secara halus terjebak dalam paradigma bahwa anak dibentuk oleh tangan orang tuanya. Itu ada benarnya, tapi nggak mutlak begitu juga. Kasihlah sedikit clue tentang interaksi sosial tokohmu di lingkungan yang lain. Selain dengan orang tua, dan tokoh kedua (di sini Lia). Siapa yang mengajak dia main motor, siapa yang mengenalkan musisi2 itu padanya. Ada bagian yang hilang aja di situ.

Jadi kadang kerasa judgmental gitu kalau di saya. Orang tua yang depresi, orang tua yang bercerai, orang tua yang bekerja di luar rumah adalah penyebab. Dunno, tebal banget kerasanya di situ. Walau di narasi kamu seringnya mencoba mengingkari itu lewat tokoh kamu sih.

Soal terjadi interaksi seksual di cerita teenlit saya tidak memandangnya gimana sih, ceritakan apa yang harus diceritakan. Itu aja buat saya mah. Masalah suka nggak suka ya biasa. Semua orang punya perspektif beda, tapi nggak lantas bikin kita tutup mata kalo memang realitanya ada yg begitu. Remaja nggak soal yang indah-indah doang. Yang gelap-gelap buanyaaak.

Itu aja. Saya kurang bisa menilai tulisan dengan baik. Yang di atas cuma kesan pribadi aja. GBU

Writer rian
rian at - (3 years 6 weeks ago)

Lebih dari sekali saya dikasih tau tulisan saya sempit. Tapi memang dari awal saya punya cita2 jadi pengarang yang mencatat kehidupan keseharian, kehidupan domestik orang indonesia kelas menengah. Ngerti sih, mungkin itu dangkal, dan membosankan, dan aneh, dan sok. Dan akhir2 ini saya juga sadar kalau hidup kelas menengah itu ternyata enggak cuma yg kayak saya tulis aja. Dan komentar Mbak Vin jadi pengingat yang baik buat saya akan sisi-sisi yang berbeda itu.

Makasih

Writer pepperony
pepperony at - (3 years 11 weeks ago)
70

Saya suka baca postingan ini, narasinya lancar, tenang dan nggak buru-buru (buru2 ke ending itu masalah pribadi sih emang :v) tapi, endingnya kok ke sana ya? perasaan dr awal nggak ada prolog apa2 kalau mereka akan gitu di endingnya. Cuma ngerasa klo itu nggak perlu aja sih.

salam.

Writer rian
rian at - (3 years 11 weeks ago)

Saya ngerasa "itu" perlu untuk nyampein tema tentang seksualitas remaja. Dan saya bosen sama cerita2 romance yang nggak pernah ngebahas sampai ke akar-akarnya. Tapi, ya, setelah dipikir2 lagi, emang cluenya kurang.

Makasih atas sarannya. Salam juga.

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at - (3 years 12 weeks ago)
100

Di satu sisi, saya suka, sisi lain, saya merasa ada yang ganjel. Bimmbang ._.
.
Saya mau protes karena ada kata-kata makian yang mendadak muncul di akhir,kayak bangsat dan keparat. Habis, sepanjangan cerita bahasa-bahasanya gak ada ngarah kesana sama sekali.
Terus, saya kaget mereka melakukan "itu" di akhir, sama kayak sebelumnya, gak ada clue buat ngarah ke sana. Jadi berasa mendadak gitu, gak terduga tapi meleset /apasih?!/
.
Selebihnya, tetep. Saya selalu suka sama gaya tulisan Rian. Ngalir. Cuma ya, keganjalan saya hanya sedikit bila dibandingkan kenyamanan saat membaca cerpen ini. Udah.
Dih, ketahuan banget yak gak tahu mo ngomong apa? :"

Writer rian
rian at - (3 years 11 weeks ago)

Saya nyelipin "itu" di akhir supaya temanya nyampe, tentang seksualitas remaja. Tapi mungkin enggak erat kaitannya sama bagian-bagian yang lain jadinya enggak nyampe juga.

Masukan ditampung. Makasih.

Writer kartika demia
kartika demia at - (3 years 13 weeks ago)
90

pointnya ketinggalan

Writer kartika demia
kartika demia at - (3 years 13 weeks ago)

ini pake pov3 kan? tapi kenapa rasanya kayak pke pov 1 bacanya.
.
Lalu, beberapa tanda kurung di atas gunanya apa?
.
Trus, konfliknya disini kurang nendang sih menurut saya. Tapi gaya ceritanya mengalir dan enak dibaca. Eh, iya, sebelum kata sapaan, kasih koma Kak.
salam ;-)

Writer rian
rian at - (3 years 11 weeks ago)

Iya, ini POV 3.

Tanda kurung di sana gunanya cuma bumbu narasi aja, karena saya pikir itu bikin narasinya jadi lebih terasa variatif. Iya enggak sih?

Makasih koreksinya. Saya masih kurang jeli.

Writer hidden pen
hidden pen at - (3 years 13 weeks ago)
80

Eenngg, aku jadi sedih.
Err... Kenapa yak, apa yang terjadi? Kenapa mereka...siapa kalian...arrgghhh.

Emosi terasa sih dan menceritakan gimana keadaannya dan keluarga, pa lagi yusuf.

Hobi ya, Hhmm Biasa kalo cowok suka begituan dan ceweek suka gituan( kirain diselipkan film korea, errr ada yak. Ehh mana animee? Waahh boong neh jika ceewk yg suka manga gk suka anime. #plaaakkk)
Namun apa itu? Bali, denpasar... Engg ngingetin ama seseorang tapi sudahlah.

Yapz aku suka neh, apalagi bagian akhirnya. Narasinya asyik menurutku. Hhmm aku jadi iri. #pllaakk

Apa lagi ya, err kkaabbuuurrrr

Writer rian
rian at - (3 years 11 weeks ago)

Makasih, Hidden:)

Writer The Smoker
The Smoker at - (3 years 13 weeks ago)
70

secara keseluruhan masih khasmu sii. Tapi Cerita ini bila dijabarkan: jadian, pacaran, jalan-jalan sebentar, lalu gituan, done. Itu ngga apa2 tapi di cerita ini nggak ada apa ya istilahnya, i do not know, jadi nggak ada yg menarik menurut saya. Narasi yg lumayan asik pun, nggak mbantu.
Keresahan2 yg dipapar baik si cewek yg penyuka seni abeezz, dan si cowok yg hanya suka nonton bokep dan malu 2, hampir nggak kuat juga sii karakternya, kalau boleh bilang nggak jelas, atau terlalu biasa (si cowok): nggak ngefek sifat2 itu dijabarkan di cerita ini (kalo boleh protes sii) maksudnya nggak kerasa aja.
Endingnya mungkin bisa dibilang medioker(?) #kayak cerita elu nggak aja, nyet *slap*
Maaf kalo nggak berkenan

Writer rian
rian at - (3 years 11 weeks ago)

Karakter kurang kuat. Ending medioker. Subjek kurang menarik. Oke, dicatet. Makasih, Bang Smoker:)

Writer Wanderer
Wanderer at - (3 years 13 weeks ago)
80

Saya juga suka. Tapi, agak kecewa, bukan karena 'itu' di akhir, bukan. Sesuatu yang lain, yang hampir selalu saya temui di cerita romansa, dan menyayangkan mengapa itu harus selalu dicantumkan. Kecewa karena itu menjadi stereotipe, yang gak saya sangka akan muncul di ceritamu. Kalau enggak ada itu, dan diganti dengan alasan yang lain, saya ingin kasih poin penuh. Maaf untuk komen saya yang nganu. Abaikan saja.
Sisanya bagus, seperti biasa. Terus semangat menulis.

Writer rian
rian at - (3 years 11 weeks ago)

Kalau boleh tau, "sesuatu" itu yang mana, ya? Padahal saya pikir saya udah cukup jauh menyimpang dari rata2 cerita romansa-remaja.

Makasih udah komentar:)

Writer Shinichi
Shinichi at - (3 years 13 weeks ago)
80

saya suka cerpen ini. apik. terjadi begitu saja. jadi membacanya juga musti lepas begitu saja. yang enggak saya suka cuma penggunaan "cewek itu" yg rasanya terlalu banyak, dan seharusnya mereka enggak melakukan "itu" di akhir cerita. nggak ada alasan penting sih, bung. cuma nggak suka aja. ahak hak hak. kip nulis.

Writer rian
rian at - (3 years 11 weeks ago)

Makasih, Bang:)