Menutupi Kemaluan

Haahh..

Tidak ada lagi yang dapat kulakukan, termangu di tempat duduk sembari menikmati angin yang melambai lembut pada rambut. Orang-orang hanya menatap curiga, seakan bertanya. "Sedang apa kau di sini?"

Aku terus mendesah, berusaha membuang rasa pahit. Sepertinya mudah bagiku.

"Rio?"

Aku kaget, tentu saja begitu. Dia muncul mendadak sembari memukul lengan kiriku. Sakit memang, tetapi masih bisa aku tahan.

"Mau apa kau di sini?" Tanyaku kasar.

"Jangan bengong sendirian, nanti kesambet."

"Siang-siang begini tidak ada hantu," Ujarku.

Theo panggilannya, salah seorang teman sebangku yang sedikit jahil terhadapku. Tetapi jika mendesak, aku bisa mencontek ke arahnya. Dia memang teman SMA yang cerdas.

"Ngapain kamu duduk sendirian?"

"Bukan apa-apa," ujarku.

"Masih tetap bau ya?"

Deg... Entah apa exspresiku kini. Theo membahas kemaluan yang berusaha kulupakan. Teman sebaya menjauhiku lantaran kemaluan yang aku alami. Mereka tidak tau rasa bau itu sebenarnya, aku saja kerepotan apalagi yang menciumnya. Syukurlah di antara mereka tidak ada yang pingsan ataupun masuk rumah sakit, lantaran kemaluan ini.

"Jangan bahas itu, aku tidak percaya diri sekarang."

"Kemaluanmu harus kau atasi dong, jangan ragu."

Theo mulai menyemangati, tetapi kemaluan ini sulit dihindari. Sudah seminggu kejadiannya, semenjak kemaluan ini muncul. Teman sebaya menjauhiku, tidak sanggup mendekat. Bahkan Theo selalu memakai masker ketika ngobrol bersamaku, dia memang perhatian. Bahkan selalu berada di sampingku ketika kesusahan melanda, terutama kemaluan ini.

"Kemaluan sulit kuhindari sekarang, sudah satu minggu loh?" Ujarku.

"Gampang itu mah, kenapa gak pake bayclin?"

"Sialan, Bau tidak bisa di samakan dengan pemutih pakaian!"

Aku agak aneh bila dia berkata tidak jelas seperti itu, sangat jauh dari Theo yang kukenal. Selalu bijak setiap berkata.

Namun, Theo sepertinya menyadari kata-katanya tidak jelas. Sepertinya dia tidak kenal menyerah dalam menyemangati seorang teman. Kemaluan sudah kurasakan sedikit terobati oleh candanya.

"Sudahlah, hindari saja kemaluanmu. Saat remaja memang seperti itu. Bau tidak bisa terkontrol."

"Sekarang aku tidak mempermasalahkan bau, Theo." Ujarku.

"Lantas apa?"

"Jangan katakan kemaluan, nanti ada yang salah paham. Hehe."

"Benar juga, kemaluan dan anu memiliki makna sama."

Baiklah, kami berdua sudah menyimpang cukup jauh. Walaupun terkesan menjijikkan membahas anu, kami sangat senang membicarakan hal itu dan membuatnya sebagai guyonan tiap hari.

Pernah dahulu kami membicarakan anu, bahkan mencari cara memutihkan anu. Tetapi sudahlah, tidak penting.

"Jangan di pikirkan, kemaluan itu bukan halangan kita untuk berbaur dengan lingkungan."

Kata-kata Theo sungguh bijak, tidak heran dia siswa cerdas. Sangat berbeda dengan kalimatnya yang tadi. Aku beruntung bisa selalu berada didekatnya, hingga saat ini.

"Baiklah Theo, aku akan mengatasi kemaluan mulai sekarang."

"Begitu dong, hehe." Ujar Theo. "Kamu mau minum apa?"

Aku ditawarin suguhan, dia memang sangat baik. Berbeda denganku yang memiliki aroma busuk. Tidak pernah mentraktirnya ataupun mengajak jalan-jalan sembari nonton bioskop bersama. Hanya jika membahas anu, banyak inspirasi yang bisa kugambarkan mengenai itu. Membuat canda saja yang bisa kulakukan.

"Terserah kamu aja, asal bukan nganu. Theo."

"Haha ada-ada saja. Berikutnya kita tidak usah bahas kemaluan, tetapi anu saja ya."

Theo berlalu sembari menggelengkan kepala. Dia berlalu dengan cepat dan pada akhirnya aku bisa bernafas lega, kemaluan sudah menghilang untuk sementara.

Seandainya ayahmu tidak menanam pohon Jengkol, dan kamu makan buahnya yang ranum. Tidak mungkin kamu akan bau seperti ini.

Syukurlah kamu sedang pilek dan memakai masker itu, jadi wajar saja tidak menyadari kemaluanmu.

Sebagai teman sebangkumu, kemaluan itu akan terus tertutupi. Paling tidak sampai masker tidak kamu perlukan.

Sebagai teman sebangkumu, pengorbanan adakalanya diperlukan demi menjaga kemaluanmu sekarang sampai esok. Membohongi diri sendiri, padahal kamu yang salah.

"Hadeuh, kemaluanku datang." Gumamku.

Theo duduk kembali di sebelahku dan memberi minuman kaleng. Tentu saja kuterima dengan senang hati, sembari mengucapkan terima kasih padanya.

"Masih ingin membahas kemaluan atau nganu?"

Ohok...ohok...

Baru saja meneguk, aku harus memuntahkan sedikit rasa minuman ini. Theo bercanda di saat kurang tepat.

"Lebih enak mana menurutmu?" Tanyaku.

"Bagaimana kalo kemaluan saja."

Aku hanya bisa terdiam seribu bahasa, heran dengan Theo kali ini. Dahulu dia sangat senang membahas anu, bahkan dia yang paling bersemangat bercerita. Mungkin sebaliknya.

Aku hanya menganguk pertanda setuju sembari meneguk minuman kembali.

"Kau sudah tidak perlu lagi berpura-pura, menjadi orang paling bau di kelas. Rio."

Ohok...ohok...

Lagi-lagi aku harus memuntahkan rasa minuman, dia memang gemar bercanda di saat kurang tepat. Namun, serasa aneh ketika melihat Theo. Tatapan kami berdua beradu, sepertinya akan terjadi pembahasan serius. Pikirku.

"Apa maksudmu?" Tanyaku.

Theo melepas maskernya, memperlihatkan hidung serta mulutnya. Selama seminggu dia tidak memperlihatkannya padaku.

"Maaf Rio, kita cukupkan saja untuk hari ini." Ujar Theo.

"Kau?"

Tidak ada apapun di hidungnya, seperti warna merah atau cairan berlendir di sela-sela lubang pernapasan. Aku memiliki segudang pertanyaan untuknya, tetapi kali ini cukup diam saja sembari mendengar apapun Theo ucapkan. Firasatku tidak enak.

"Kamu menutupi kemaluan yang seharusnya menjadi milikku."

"Berpura-pura, cukupkan saja dan menutupi kemaluan. Maksudmu apa?" ujarku.

Theo menghela napas ke arahku, dan spontan saja aku bersiap terganggu dengan bau napasnya. Tetapi napas Theo tidak bau lagi. Aku memang sengaja pura-pura tidak tau, karena aku yakin Theo tidak serius berbicara.

"Semenjak aku makan Jengkol kegemaran Ayah. Aku juga menyadari napas sudah bau jengkol, hingga selalu menutup kemaluan dengan menggunakan masker."

"Lalu?" Ujarku penasaran.

"Kukira aku akan di jauhi teman-teman karena bau ini apalagi kentutku yang serba jengkol, tetapi kamu malah berbohong demi aku." Ujar Theo. "Maafkan aku telah memanfaatkanmu, karena selama ini aku belum sembuh total dari bau jengkol. Jadi kebohonganmu itu menjadi keberuntungan dan teman-teman tidak menjauhiku. "

Perkataannya memang membuatku terkejut dan bercampur kesal. "Jadi selama ini dia sudah tau?" Pikirku.

"Kau orang baik Theo, berbeda denganku. Waktu ujian yang sulit, kamu memberiku contekan dan selalu mentraktirku. Rasanya berbohong seperti ini hanyalah sebagian kecil dari kebaikanmu."

"Aku sudah memanfaatkanmu Rio, jadi aku bukan orang baik. Tetapi kamu rela berkorban demi aku."

Entah jawaban apa lagi yang harus terucap di bibirku. Theo terlihat menundukkan kepalanya, serasa bersalah terhadapku. Kurasa suasana semacam ini seperti drama televisi saja.

"Baiklah, hari ini terdengar sebuah percakapan saling menyalahkan diri sendiri." Ujarku. "Aku memaafkanmu tetapi jika kamu mau menerima syarat, yaitu memberi kesempatan mencontek. Bagaimana?"

Aku memberikannya sebuah jabatan tangan, ketika dia masih menundukkan kepala. Theo nampak tersenyum sembari memberikan balasan jabat tangan. Kedua belahan tangan akhirnya bersatu dan membentuk sebuah ikatan.

"Kau tidak pernah berubah, Rio."

Di kala belahan tangan masih bersatu. Aku memberinya pelukan, sembari menyatukan hati kita berdua.

"Hey Rio, mengapa kau memelukku?" Ujar Theo. "Lepaskan, nanti ada yang salah sangka."

"Bukankah kita normal? Jadi tenang saja dan jangan menutupi kemaluan kita." Ujarku. "Aku akan selalu mengingat dan membalas segala kebaikanmu. Theo."

Aku sangat bahagia mempunyai teman seperti Theo, baik hati walaupun sombong sedikit. Aku memang kesal dimanfaatkan olehnya. Aku berpikir, karena dia pintar dan selalu dapat nilai bagus. Aku memaafkannya.

Aku berharap sedikit lagi memanfaatkan kepintarannya untuk ujian kelulusan nanti. Setidaknya kali ini aku sudah menarik simpatinya

593c1b3c4420b8bd5ab4eab0ab4ad062

p data-p-id=

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at Menutupi Kemaluan (13 weeks 5 days ago)
80

biasa aja,

Writer Namikaze Geofani-chan
Namikaze Geofan... at Menutupi Kemaluan (3 years 10 weeks ago)

Ano,aku....nggak maksud o.o asdfghjkl

Writer Shinichi
Shinichi at Menutupi Kemaluan (3 years 15 weeks ago)
50

untuk ukuran member yg sering mendapatkan masukan dari member lain yg saya yakini punya kemampuan mumpuni, cerpenmu ini enggak banget sama sekali, Bung. khususnya ketika "kemaluan" sudah semakin sering dibicarakan, diulang-ulang dalam dialog, tapi narator masih saja belum menunjukkan itu apa sebenarnya dan mulai menyebutnya sesuai aslinya, di situ kadang saya merasa sedih. metode apaan itu? enggak banget, Bung. dirimu seharusnya wajar bisa lebih baik dari ini.

Writer vanzoelska
vanzoelska at Menutupi Kemaluan (3 years 16 weeks ago)
2550

kak Hiden aku gak ngerti-_- nganunya muter2, nganunya itu ternyata bau jengkol ya? pasti si Rio nganunya orang kaya, masa abis mam jengkol aja langsung pake anu. seorang teman itu kan ga akan memperdulikan tentang kekurangan temannya tau. ih bingung sama nganunya :(
Ahaha jadi keingetan film Super Dede :D

Writer vinegar
vinegar at Menutupi Kemaluan (3 years 16 weeks ago)
40

Hai hidden, tergelitik pengen komen nih saya, boleh ya dikit :v

Saya menemukan banyak sekali kata-kata yang nggak sesuai penempatannya, peruntukannya dan rancu. Entah yang lain menyadari juga atau cuma saya aja. Mungkin perkara pemahaman diksi kita aja yang beda. Misalnya:

-- melambai lembut pada rambut ==> melambai tidak menyentuh rambut, hanya dadah-dadah doang gitu :|. Di saya lebih cocok pakai kata 'membelai rambut dengan lembut'

-- mencontek ke arahnya ==> tidak ada penjelasan apa yang dicontek, jadi kesannya mencontek di sini sama dengan memandang, berbicara, dll.

-- Mereka tidak tau rasa bau itu sebenarnya ==> rasa berkenaan dengan indra pengecap dan bau dengan indra penciuman.. jadi tentunya ini rancu. Maksudnya sebenernya apa sih? #garukkarpet

-- Bau tidak bisa di samakan dengan pemutih pakaian ==> disamakan di kalimat ini seperti sedang menganalogikan bau dengan pemutih pakaian. Padahal maksud Theo sepertinya 'mengatasi'.

-- memuntahkan rasa minuman ==> karena rasa bukan benda jadi tidak bisa dimuntahkan, yang dimuntahkan minumannya aja ya.. hidden ganteng.. nggak usah pake rasa :v

Dan masih banyak yang lain, di paragraf2 selanjutnya. Pemilihan katamu membikin saya susah menuntaskan baca sampe akhir :(

Oya, bagian ini siapa yang ngomong ya?

"Seandainya ayahmu tidak menanam pohon Jengkol, dan kamu makan buahnya yang ranum. Tidak mungkin kamu akan bau seperti ini."

Peralihan pov-nya mendadak dan saya gagal meraba siapa yang sedang bernarasi.

Soal tema 18++ itu tidak terbaca, alias nggak ada. Udah saya cari dimana2 tetep nggak ketemu. Tema cerpen ini menurut saya ya, rasa malu yang dibahasakan jadi kemaluan aja. Obrolannya juga masih wajar, lantaran pake kata 'anu' dan 'kemaluan' nggak lantas membuatnya otomatis jadi berkesan dewasa sih. Kecuali kalau memang bahasannya sengaja ke sana.

Sorry ya, kalo nggak berkenan :)

Writer kukuhniam
kukuhniam at Menutupi Kemaluan (3 years 16 weeks ago)
50

Kadang agak nyambung kadang jadi sampai baca ulang, uda banyak yang ngritik bermanfaat, gitu ajalah bang

Writer Nine
Nine at Menutupi Kemaluan (3 years 16 weeks ago)
100

Bacanya tadi pagi tpi bru bisa komen ni malam, Bang. Dari awal sampai akhir, saya masih bingung dengan apa yang dimaksud "kemaluan" di sini. Entah karena apa, Bang, tapi ada beberapa bagian yang bikin saya kehilangan arah karena topik pembicaraan yang kadang-kadang diselingi dengan "anu" lalu kembali lagi ke "kemaluan". Rasanya seperti muter-muter. Ini kyaknya otak saya yang emang lemot, Bang. T.T
.
Pada bagian plot twistnya, trus terang saya juga bingung. Anu, Bang, saya suka kehilangan arah T.T (perkacapannya).
Beberapa bagian ada yang lumayan bikin nyengir. Karena saya merasa gaya dialog karakternya di saya seperti eksentrik. ^^
.
Udah, itu aja, bang, dari saya. Semoga berkenan ^^

Writer hidden pen
hidden pen at Menutupi Kemaluan (3 years 16 weeks ago)

Halo bang Nine ^^

Hhmm yah emang cerita membingungkan karena dari awal. Penulisnya selalu menutupi bagian bagian tertentu kayaq kemaluan. Beberapa sudah kucoba uraikan maksud kemaluan.

Hingga berputar putar kayaq sirkuit, Agar tidak terjerumus ke anu. Biasalah yang pikirannya agak kotor, mungkin saja cerita ini bakalan jadi ceerita hentai. #bwahaakk #ngeyel

Hhmm yah bang.

Ok makasih bang kunjungannyee. Hadeuh udah lama gk ke sini. Bentar ane mau bersih bersih dulu. ^^

Writer kartika demia
kartika demia at Menutupi Kemaluan (3 years 16 weeks ago)
80

.
Kamu bilang di awal bahwa ini memakai pov campuran, tapi nyatanya apa? Ini cuma pke pov1. Kamu php.
.
Kamu bilang di awal bahwa ini mengandung teenlit, tapi nyatanya apa? Gak da nge-teen2nya. Kamu php.
.
Ini judulnya benar2 menggoda, memikat, menarik dan menjual. Saya menanti2 apa sebenarnya 'kemaluan' disini. Narasi di awal dengan banyak 'kemaluan'nya membuat saya penasaran untuk terus mengikuti.
Iya ini twist. Dapetlah. Tapi kayak kurang apa gitu ya, kurang humor aja sih di akhir. Biar dapetnya twist banget.
.

"Terserah kamu aja, asal bukan nganu. Theo." -->> penggunaan tanda titik sebaiknya diganti dengan koma.-->> "Terserah kamu aja, asal bukan nganu, Theo."

.
"Siang-siang begini tidak ada hantu," Ujarku. -->> tag dialog memakai huruf kecil jika sebelum tanda petik memakai koma (sempat ditegur sama tiffany juga saya) -->> "Siang-siang begini tidak ada hantu," ujarku.
.
mencontek-->> menyontek dari kata dasar sontek, 'S'nya melebur.
.
contekan-->> sontekan. (Cek di kbbi)
.
exspresiku-->> ekspresiku
.
'di' hanya digabung dengan kata kerja. Beberapa kamu ada yang miss.
(di pikirkan, di jauhi
didekatnya, -->> penulisan yang benar: dipikirkan, dijauhi, di dekatnya.)
.

Aku agak aneh bila dia berkata tidak jelas seperti itu, sangat jauh dari Theo yang kukenal. Selalu
bijak setiap berkata. -->> kurang mulus sih saya bacanya. Coba disitu kata 'agak' diganti dengan 'merasa'.
.
Btw selamat telah bebas dari hukuman. Kamu rajin banget nak udah setor aja.
Udah gitu aja, jika ada kata yang menyikat hati saya terima caci.
Jika ada kekurangan mohon ditambahi. Jika ada kelebihan saya bawa pulang, lumayan.

Writer hidden pen
hidden pen at Menutupi Kemaluan (3 years 16 weeks ago)

Biasa aja kali bahasanya, ente mau ngajak berantem rupanya.

Hhmm hokeh akan kujadikan pelajaran untuk ke depannya. Makasih kart.

Oohh contekan dan sontekan? Apaan tuh. KBBI kampret. Sontekan itu pengorek kuping masak dijadikan makna sama dengan contekan. Kammprrett muahaha

Writer kartika demia
kartika demia at Menutupi Kemaluan (3 years 16 weeks ago)

#ngek ngok
:v

Writer hidden pen
hidden pen at Menutupi Kemaluan (3 years 16 weeks ago)

Ehh eehhh :v ente ingin di PHP kan? :v

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Menutupi Kemaluan (3 years 16 weeks ago)
40

Sejujurnya saya tidak paham apa yang ingin disampaikan penulis lewat cerita ini. Kalimat-kalimatnya tidak ada penjelasan pas tentang apa yang diceritakan. Mungkin penggunaan kata yang tak biasa itu (yang menurut saya kurang mendekati apa yang dimaksud), atau ada faktor lain yang membuat saya kurang menikmati cerita ini, dengan pemahaman akan apa yang diceritakan.
.
Tag 18+++ jika dimaksudkan untuk kalangan dewasa dan sejenisnya, tidak masuk.
Tag teenlit, saya rasa kurang masuk juga. Saya tidak menemukan rasa teenlit di sini kecuali karakternya yang anak sekolahan. Kalimat dialognya pun setengah-setengah. Bentuknya tidak baku, seperti layaknya anak sekolah, tapi ada "kamu" dan "aku".
.
Maaf jika tidak berkenan,
salam menulis.

Writer hidden pen
hidden pen at Menutupi Kemaluan (3 years 16 weeks ago)

Uhk uhk

Makasih komennya, sejujurnya saya bingung cerita seperti apa yang dewasa dan tidak masuk seks ataupun pembantaian.

Psstt Z kurang suka katanya :v halah ngeyel :v

Jadinyaa ya gini, pake bahasa amburadul tetapi agak jorok dikit. Hadeuh :v.

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Menutupi Kemaluan (3 years 16 weeks ago)

Kenapa tidak coba idelogi atau agama. Kedua hal itu bisa masuk dewasa jika diolah dengan baik.

Writer hidden pen
hidden pen at Menutupi Kemaluan (3 years 16 weeks ago)

Aku takut jika memasukkan agama di setiap ceritaku. Takut di maki seseorang.

#merapat

Writer The Smoker
The Smoker at Menutupi Kemaluan (3 years 16 weeks ago)
60

Mungkin "aib" kali yak kata yg pas. Tapi ya gw ngerti sii maksudnya bermain di kata2 kemaluan itu, tapi nggak dapet.
.
Untuk eksekusi Eyd, banyak sii yg mesti disambit, penggunaan di, ke, dan tanda titik, koma, dan kapital.
Nanti aja urusan Uwak Kart, kalo dia berkenan singgah dan ngomel2 deh.
Hihi

Writer hidden pen
hidden pen at Menutupi Kemaluan (3 years 16 weeks ago)

Serius bang? EYD sangat bermasalah?

Hadeuh, auk ah gelap. Namanya juga usaha.

#meratap

Writer daniswanda
daniswanda at Menutupi Kemaluan (3 years 16 weeks ago)
70

Aih bang Hidden, kurang 18++ ah.
Tadinya gue ngarep lebih sadis lagi karakternya, mungkin melibatkan hewan atau mayat gitu :p

Writer hidden pen
hidden pen at Menutupi Kemaluan (3 years 16 weeks ago)

Ini kan plot twist :v
Jadi harus tidak sesuai harapan pembaca. #plaaakkk

Pengennya sih gitu tapi ahh bingung nti kalo cerita hewan ama mayat :v