Titik

“Di revisi lagi Mir?” tanyaku pada Mirna yang baru saja pulang dari petualangannya menjumpai dosen pembimbing.

Kenapa aku bilang berpetualang? Karena dosen pembimbing Mirna sangat mobile. Beliau bisa berpindah tempat dalam kurun waktu lima menit. Ingatlah! Jika beliau meminta bertemu di kampus kau harus segera sampai di kampus kurang dari lima menit atau beliau sudah menghilang dan memberitahukan dimana tempat pertemuan berikutnya. Seharusnya aku tidak perlu bertanya karena wajah Mirna sudah sangat menggambarkan apa yang terjadi.

“Kurang lebih.”

“Apalagi?”

“Biasa. Typo, tanda baca.”

“Lagi? Bukannya udah gue bantuin benerin kemarin?”

Mirna hanya mengangkat kedua bahunya sambil menggeleng dan menyerahkan kertas skripsinya.

“Enggak ada coretan nih,” ujarku  sambil membolak-balikkan kertas skripsinya. “Eh? Titik diakhir kalimatnya pada kemana?”

“Gue hapus. Lo tau kan kenapa gue membenci titik.”

“Jangan bilang…” gantungku berharap apa yang aku pikirkan tidak sejalan dengan alasannya membenci titik.

“Iya. Karena dia tidak berseru, dia tidak bertanya tapi dia mengakhiri.”

"..."

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Nine
Nine at Titik (2 years 40 weeks ago)
100

Saya nggak nangkep -_-. EyD udah ada yg komen juga. Untuk ukuran 100 kata, saya rasa paragraf kedua masih bisa diisi dengan hal-hal yang ada kaitannya sama kegalauan Mirna (subjektif sih) dripada dihabisin untuk memberi tahu kebiasaan si dosen. Mohon maaf kalau ada yg kurang berkenan.

Writer kartika demia
kartika demia at Titik (2 years 41 weeks ago)
80

.
Baper -__-
Asem, pengen jitak si Mirna.
.
Koreksi;
.
"Di revisi lagi Mir?”
--> "Direvisi lagi, Mir?"
diakhir--> di akhir

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Titik (2 years 41 weeks ago)
100

SHADIS!

Writer daniswanda
daniswanda at Titik (2 years 41 weeks ago)
80

Dalem nih...tapi saya nggak tau dalemnya dimana haha.
Maap, nggak bisa komen panjang untuk cerita sependek ini. Poinnya aja.