(Tipe A)

Tadi, aku mengirimi Alfia pesan singkat: aku sudah jadi perempuan. Ia membalasnya setengah jam kemudian: jadi, dadamu ukuran berapa sekarang? 3x4 meter, balasku segera.

Alfia langsung meneleponku, menyatakan ia bisa membuatkan bra khusus untuk ukuran itu. Cuma perlu satu hari dan uang 300.000 ribu. Maka aku sudah bisa mendapatkan bra ukuran "kurang waras" tersebut. Dasar tukang jahit!

Selebihnya, pembicaraan kami tidak terlalu penting. Ia lebih banyak bicara tentang pekerjaannya. Setelah tamat sekolah, ia memilih menjadi tukang jahit, seperti ibunya. Sementara ayahnya memiliki toko pakaian. Alfia punya cita-cita besar, menjadi perancang busana terkenal, seperti Anna Avantie, Lenny Agusti, atau bahkan Donatella Versace. Nama asing yang jarang kudengar.

"Mungkin kau lebih sering mendengar Sunny Leone, Faye Reagan, Aylar Lie, atau Stoya?"

"Aku malah tidak pernah mendengar nama itu."

"Jangan bohong!" tuntut Alfia.

"Benar. Nama asing yang sering kudengar adalah Shimazaki Haruka, Matsui Jurina, Yamamoto Sayaka, Miyawaki Sakura, Watanabe Mayu, Kojima Haruna, dan Sashihara Rino. Adhy sangat menyukai mereka bahkan sering berandai-andai salah satu dari mereka adalah pacarnya. Bukan hanya itu, ia memiliki koleksi lengkap foto-foto berbikini mereka yang ditaruh di atas plafon kamarnya. Aku harap ia segera sadar dan tidak lagi menghabiskan stok sabun dan tisu negara."

"Kok kedengarannya mereka seperti artis dewasa, ya?"

"Memang, mereka bukan artis dewasa?"

Alfia mengerutkan alis, memicu imajinasiku bergerak dan menempatkannya di ruangan kecil, berjongkok, dan berusaha mengeluarkan sesuatu dari tubuhnya. Kenapa coba imajinasiku pergi ke sana, tidak ke kamar hotel dengan sprai warna pink dengan desahan rendah? Kata Reza, aku terlalu alim sehingga tidak mudah berimajinasi dewasa. Kurasa, Reza memang benar. Aku ini orang alim dan baik, serta lugu. Manusia dengan sedikit dosa.

Entah kenapa setiap kali aku berpikir begitu, rasanya ada yang memakiku di suatu tempat.

"Kau tidak perlu tahu mereka, karena mereka bisa menguras uangmu dengan cepat. Coba bayangkan, untuk satu single saja ada beberapa macam tipe, seperti tipe A, B, C, D, E, dan Theater Edition. Kau juga akan membeli tongkat bersinar dan menggoyangkannya di udara sambil berteriak."

"Kurasa mereka memang menyeramkan, bisa membuat orang-orang bertingkah gila seperti itu."

"Memang benar, jadi jangan pernah mengenal mereka."

Kata-kata yang diucapkan Alfia hampir 3 tahun itu terus kupertahankan. Setiap kali Adhy berusaha mempengaruhi diriku untuk menyukai mereka, aku selalu bertahan. Ketika temanku yang lain, Reza, memberiku kumpulan CD-nya (ia takut ketahuan orang-orang rumah jika memiliki koleksi CD tersebut) aku bertanya isi CD itu.

"Film-film yang dibintangi Yua Aida, Ameri Ichinose, Tina Yuzuki, Aino Kishi, Saori Hara, serta Nona SA dan MO. Coba kau tonton, pasti langsung suka."

Nama-nama asing yang pertama kalinya kudengar. Kenapa coba teman-temanku sangat suka pada yang asing-asing? Tapi, nama-nama yang diberikan Reza kurasa bisa menghentikan Adhy yang terus memaksaku untuk menyukai gadis-gadis berbikini yang gambarnya ia taruh di atas plafon.

Aku pulang dengan ceria sambil membawa koleksi film CD milik Reza. Di tengah jalan aku bertemu Alfia. Ia bertanya apa yang sedang kubawa, kukatakan yang sebenarnya.

"Ini bisa mengehetikan Adhy yang terus memaksaku untuk menyukai mereka," tambahku. Ceria.

Namun reaksi Alfia tidak seperti yang aku harapakan. Ia merampas koleksi CD itu dan membuangnya ke sungai. CD itu tenggelam, sementara "CD" lain yang berwarna putih dengan renda, mengalir mengikuti aliran air. Kurasa seseorang kehilangan itu di hulu sungai saat mencuci pakaian. Tapi, apa peduliku. CD milik Reza tidak bisa kuselamatkan lagi, kecuali kalau aku ingin mati dan terjun ke tengah sungai.

Ketika aku meminta pertanggungjawaban dari Alfia, ia malah memarahiku. "Mereka lebih menakutkan dari mereka!"

"Mereka siapa dan siapa mereka yang kedua?" tanyaku, hampir menangis karena kehilangan koleksi CD itu. "Jangan membuat kalimat yang ambigu begitu, nanti nilaimu rendah. Cobalah menggunakan kalimat yang padat dan jelas, perhatikan juga EyD."

"Emang kita sedang ujian bahasa Indonesia?" teriak Alfia.

Perempuan kalau marah sungguh menakutkan, apalagi sehabis pulang belanja.

"CD-CD itu lebih buruk daripada CD-CD yang dimiliki Adhy, kau tahu itu?"

"Mana aku tahu. Aku kan anak alim, baik, dan lugu." (Kurasa ada yang memakiku).

Perempuan kalau marah sungguh menakutkan, apalagi sehabis pulang belanja. Buktinya, aku ditampar setelah mengatakan itu. Kemudian Alfia membawaku ke rumahnya, memberiku beberapa CD dengan "Tulisan Dewa". Setiap CD pasti ada tulisan 乃木坂46. Apa itu semacam tanda dari sekte tertentu?

Kata Alfia, aku bisa menggunakan itu untuk menghentikan rayuan Adhy. Dan hal itu berhasil, temanku tidak berusaha menyeretku menyukai mereka lagi, tapi rasanya aku malah menjadi seperti Adhy. Dalam suasana dan tingkat berbeda. Atau nama saja yang berbeda, tapi kami sebenarnya sama. Terjangkit virus yang membuat hidupku penuh dengan suara gadis-gadis.

Aku pun tidak sempat mengatakan pada Reza soal CD-nya yang dibuang Alfia ke sungai, karena esok harinya aku mendengar ia kecelakaan motor. Ia meninggal. Adhy pun mengalami kecelakaan motor 40 hari lalu. Meninggal juga. Malam ini adalah malam perpisahan, kata orang desa. Pada hari ke-40, orang yang meninggal akan datang pada keluarga dan orang-orang yang dikenalnya. Mengetuk pintu atau jendela, atau menampakkan diri untuk memberikan ucapan selamat tinggal.

Telepon dengan Alfia sudah berakhir satu jam yang lalu. Jam dinding hampir menunjukkan jam 12. Aku harap Adhy cuma mengetuk jendela kamarku saja, tidak perlu menampakan diri. Tapi, ia memang suka membuatku kesal. Tepat jam 12 malam, aku mendengar suara deru angin di luar kamar, menggetarkan jendela. Lampu tiba-tiba berkedip-kedip sebelum padam. Lalu udara berubah dingin. Samar-samar aku mendengar suara dari arah jendela. Suara yang sering kudengar saat pergi ke rumah Adhy.

"I want you!~ (I want you!~), I need you!~ (I need you!~), I love you!~ (I love you!~), atama no naka~ GANGAN natteru MUSIC~ HEBII ROOTEESHON~"

"Sudah mati masih berusaha menyeretku untuk menyukai mereka!"

"Bukan mereka, tapi AKB48," kata Adhy yang sekonyong-konyong muncul menembus jendela. "Apa kabar, kawan?"

"Menurutmu?"

"Masih suka Nogizaka46."

Setidaknya ia tidak muncul dalam bentuk menyeramkan. Ia masih sama seperti saat pergi dengan motornya, kecuali bentuknya yang putih transparan.

"Kau udah mati," kataku karena Adhy diam saja dan aku teringat dengan film hantu yang bisa mengambil tubuh orang hidup. Aku takut ia akan mengambil tubuhku, lalu menggunakannya untuk melakukan hal-hal yang tidak kuinginkan dengan foto-foto bikini mereka di atas plafon kamarnya. "Pergi ke alammu, aku sudah rela melepasmu pergi."

Tapi Adhy malah melayang-layang di udara, kemudian memotong lehernya dengan tangan, kepalanya lepas, jatuh ke lantai. Membuatku hampir meneriakan nama Ikuta Erika (apa hubungannya coba?).

"Aku tidak bisa pergi," katanya, "sebelum impianku terpenuhi di dunia nyata."

"Tapi, kau kan udah mati."

Adhy yang sudah mengembalikan kepalanya ke posisi semula, menunjukku. "Kau yang akan melakukannya untukku."

"Bagaimana bisa?"

"Bisalah, kau kan sahabatku. Impianmu impianku juga. Begitu sebaliknya."

"Kalau aku nggak mau?"

Adhy memiringkan kepalanya ke kanan, lalu ke kiri, ke kanan lagi, baru kemudian ke depan dan belakang.

"Lagi latihan perengangan otot, Bang?"

"Bukan, tadi ada kerikil nyelip di leherku."

"Itu bukan kerikil, tapi upil, bego."

"Hantu nggak memproduksi upil. Kerikil itu aku dapat setelah menjatuhkan kepalaku tadi."

"Iya, itu. Aku sering buang upil di atas lantai, dan tempat kepalamu jatuh tadi adalah tempat favoritku."

"WELEK!!!"

Singkat kata, Adhy tidak bisa pergi dari dunia ini sebelum mewujudkan 5 impiannya. Lebih tepat, 5 keinginanan terpendamnya. Aku harus mewujudkan itu semua untuknya, karena diriku satu-satunya teman paling dekat yang ia punya, sementara ia tidak bisa meminta bantuan orang-orang yang memiliki hubungan darah.

"Keinginan terpendam pertamamu apa?" tanyaku setelah mengerti situasinya.

"Aku ingin menjadi Satria Baja Hitam."

"Ok," kataku datar, sebelum menarik selimut untuk pergi tidur. Siapa coba yang bisa mengabulkan keinginan bodoh itu.

"Kalau kau nggak mengabulkannya, aku bisa menghantuimu seumur hidup. Aku akan muncul saat kau berada di kamar mandi, saat bermesraan dengan pacarmu, saat malam pertama, atau saat …."

"Ok, ayo berubah menjadi Satria Paha Hitam."

"Satria Baja Hitam."

Gerakan berubah yang diinginkan Adhy sungguh aneh, bukan berpose keren seperti Kotaro Minami, tapi memacu motornya sampai kecepatan 100km/jam baru bisa berubah. Untuk itu, aku harus keluar dari rumah dan pergi ke rumah temanku ini. Di tengah jalan aku baru ingat bahwa motornya adalah Yamaha 80, yang kecepatannya tidak sampai 100km/jam.

"Hei, Adhy, kau sebenarnya mau ngerjain aku kan? MANA BISA BERUBAH KALAU MOTORMU TIDAK SAMPAI 100km/jam."

"Kau yang bodoh. Kalau pun bisa mencapai 100km/jam tetap nggak bakal bisa berubah kecuali di film-film."

Aku anak alim, baik, dan lugu. (Lebih baik dimaki-maki daripada memaki hantu yang tidak bisa kupukuli kepalanya).

"Kalau keinginan pertama nggak bisa dipenuhi, masih ada 4 pilihan lain," kata Adhy kemudian. "Dari 5, harus terpenuhi 3," lanjutnya sambil mengeluarkan kertas dari saku celana.

"Kenapa tidak bilang dari tadi, oon?"

"Keinginan keduaku adalah, mengintip Santi saat mandi. Kurasa itu tugas yang mudah."

Aku anak alim, baik, dan …. persetan!

"Santi yang kau maksud itu … yang tinggal di hulu sungai?" Aku harap Adhy mendengar geraman kemarahan yang kutahan di ujung kerongkongan.

"Siapa lagi yang bernama Santi, kecuali nenek berumur 90 tahun itu."

"Ok, aku selesai. Kau boleh menghantuiku sesukamu. Aku nggak peduli lagi."

"Jangan gitu kawan, ayo bantu aku."

Dan amarahku meledak selama hampir satu jam. Adhy cuma diam, sebelum mengatakan ia akan mencoret keinginan kedua itu dari daftar, kemudian berjanji tiga yang lain cukup normal untuk dilakukan.

"Apa ketiga keinginan itu?" tanyaku lesu.

"Menjadi Sailormoon saat bulan purnama, menikahi Atsuko Maeda, dan menjadi juara keempat sayembara Horor Komedi yang diadakan oleh Bu Guru Demia."

"Ok, aku selesai."

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer daniswanda
daniswanda at (Tipe A) (2 years 51 weeks ago)
80

Salut sama konsistensi tema tulisanmu, El/Nur/lightstick/apapun namamu.
Nggak peduli apapun tantangannya, tetep ada kekhasan shin elqi disini yg bikin pembaca lelaki berdebar2. Tapi sayang konsep tulisanmu kurang terlihat disini. Horkomnya pun nggak nendang. Padahal gue menantikan unsur komedi yang seperti di tato kucing. Sekian dan maap2 kalo menyinggung.

Writer kartika demia
kartika demia at (Tipe A) (2 years 51 weeks ago)
100

Jika orang yang tidak tahu mengenai idol2 di atas, pasti gak dapet efek komedinya. Lah, saya juga bukan pecinta para gadis dengan bikini/rok mini rersebut. Jadi di pembukaan saya gak bisa ketawa lepas.
Tapi gaya berceritamu selalu ngomedi sih.
Tapi menuju akhir udah dapet horkomnya. ^^
Sayang sekali Nur, padahal saya pingin kamu dribble tanpa sensor XD

Writer kukuhniam
kukuhniam at (Tipe A) (2 years 51 weeks ago)
90

Mbois mas, seolah ada part-part lucunya gitu tapi masih ngalir.
Tapi di awal sedikit nggak nyambung. Bukan yang di awal-awal banget sih
sayang, di ending kok saya bahkan nggak nyengir ya

Writer Leo_dominica
Leo_dominica at (Tipe A) (2 years 51 weeks ago)
80

Biarkan aku ngakak untuk sejenak /dor. Aku mau komen apa ya? Ah gak tahu. Cuma gak ngeh di awal-awalnya sih tapi makin bawah-bawah dan bawah ngakak sekaligus rada serem sih. Ngomongin soal hantu dan saya sedang baca ini di tengah malam. Ya jadinya rada horror bayangin adhy dateng ke rumah. Lalu saya lihat jendela saya /untung masih aman/ dan semoga harapan terakhir adhy menjadi kenyataan huahahah /ketawanya gak alim banget/