Tidak Percaya

Aku tidak tahu seramnya pocong di mana, juga kuntilanak. Menuruku yang satu hanyalah bungkus permen melompat-lompat, dan satunya lagi adalah wanita lusuh yang jarang sekali mandi.

Sering teman-teman, cerita-cerita horor di internet, dan film hantu di Indonesia membawa-bawa pocong atau kuntilanak, variasi lainnya ialah suster ngesot (yang lebih tidak seram karena dia hanya bisa bergerak dengan kecepatan setara siput bunting).

“Tahu gak?”

Aku mendongak dari karton yang sedang kuwarnai. “Apa?”

“Rumah kamu itu angker lho.”

Aku menghembuskan napas lelah dan kembali ke gambar. Kerja kelompok kali ini harus selesai secepatnya, tak ada lagi waktu besok dan waktu untuk menggosipi rumahku.

“Eh, eh, kalo gak salah, dulu rumah itu dikontrak, kan?” Tiba-tiba teman menggambarku melepaskan spidol warna di tangannya dan ikut bergosip. Bagus, kerja tambahan untukku.

“Iya!” Maya—yang memulai gosip tadi—langsung menyambut antusias.

“Seorang mahasiswi.”

“Nah, nah, terus, katanya dia bunuh diri.”

“Gantung diri, ya?”

“Ho-oh.”

“Masalah apa?”

“Entah. Tapi, kalau kata anak tetangga rumah itu, dia setres karena hamil di luar nikah. Pacarnya gak mau tanggung jawab. Makanya ...”

Klise, tetapi kupingku tak berhenti mendengar. “Anak tetangga mana?”

Maya dan Ratih—cewek satunya—menoleh ke arahku. “Mbak I’in.”

 

****

Tak terasa hari telah senja, sayup-sayup suara mengaji terdengar di setiap kompleks. Aku mengeluarkan sepedaku dari dalam pagar rumah Maya. Ratih menunggu jemputan karena rumahnya yang paling jauh di antara kami bertiga.

“Pulang dulu ya.” Aku melambaikan tangan. Mereka membalas.

Sepedaku melaju di tengah lengangnya jalanan. Hanya ada suara ngaji di kejauhan, diiringi suara kayuhan sepedaku dan kicauan burung yang hendak pulang. Mamaku selalu bilang, bila ada suara kicauan burung—bukan yang merdu, tetapi yang mirip suara menjerit namun  serak—di malam hari, di atas atap rumah seseorang, berarti itu sebuah pertanda. Bisa jadi ada sesuatu yang buruk terjadi di rumah itu.

Dan aku tidak percaya.

“Fiya!” teriak seseorang. Mendadak kucengkeram kedua rem sepedaku. Hampir saja tubuhku terjungkal ke depan. Aku menoleh ke belakang, di sana ada seorang wanita berdaster putih halus dengan rambut hitam yang panjang terurai. Mbak I’in. Ia baru saja keluar dari sebuah warung kecil.

“Tumben belanja di sini?”

“Pengen liatin anaknya Bu Lilis.”

“Ngeliatin Tatang?” Aku tidak mengerti apa bagusnya bocah ingusan bertubuh dekil yang sering mencuri mangga di rumahku itu.

“Bukan, anak kedua Bu Lilis.”

“Sejak kapan?” Aku terkejut—setengah antusias.

“Makanya, jangan sok sibuk. Udah dua bulan.”

“Oh.” Pasti acara selamatannya, akikah atau apapun itu kulewatkan begitu saja terbuka di atas meja, seperti undangan-undangan sebelumnya.

“Boleh numpang?” Mbak I’in nyengir, sudah kuduga.

“Lain kali, kalau ngerumpi jangan lama-lama.”

 

****

Mbak I’in tidak membiarkanku diam sedikit pun. Ia terus merecokiku dengan berbagai pertanyaan. Habis darimana? Kerja kelompok di rumah teman. Teman mana? Itu, si Maya. Maya yang kurus-tinggi itu? Iya.

“Dia, kan, tinggalnya di Paus Ujung. Gak ngerasa kejauhan?”

“Enggak.”

Hening, Mbak I’in sepertinya tidak mood lagi mengajakku ngobrol. Beberapa menit kemudian, sampailah aku di sebuah pohon mangga yang cukup rimbun. Halaman depan rumahku. Mbak I’in pun turun.

Kami berpisah. Aku segera masuk ke dalam rumah menenteng sepedaku, suara adzan berkumandang.

Begitulah, rumahku terkenal di lingkungan kompleks karena keangkerannya. Bahkan, dua belas tahun yang lalu saat pertama kali dibeli. Mama berani bersumpah kalau ia melihat seseorang memasak di dapur, padahal hanya ia sendiri di rumah. Belum lagi dengan wangi bunga melati dan pekikan suara burung di malam hari.

Aku tetap tidak percaya. Menurutku, semakin dipercayai, hal-hal begitu akan semakin mengikuti. Seperti ketakutan alam bawah sadar yang secara tidak sengaja diwujudkan oleh indra-indra kita sendiri.

Kalau dipikir-pikir, rumahku memang mendukung imajinasi-imajinasi seperti itu. Dinding-dindingnya tebal, kadang terasa lembab dan dingin. Pencahayaan kurang karena begitu minimnya sekat yang mengarah ke arah cahaya matahari langsung.

Dan kamarku yang katanya paling suram di rumah ini. Maya cerita, jika di kamar inilah mahasiswi itu mengakhiri hidupnya. Aku dapat membayangkan palang kayu di balik langit-langit itu dijadikannya tempat mengikat tali gantung, kemudian menjerat lehernya dan ... sudahlah.

Sering aku protes ke Papa untuk minta ganti kamar. Tetapi ia bilang jika kamar lain rusak, ada yang bocor atapnya, belum dikeramik, belum dicat, dan belum dibersihkan. Biaya renovasi adalah isu yang belum terselesaikan sampai sekarang.

Akhirnya, aku menyerah dan tetap berbaring di atas kasur. Dinding-dinding kamar yang tebal kadang membuatku merasa terkurung. Apalagi jendela kamarku menghadap langsung ke pohon mangga yang jaraknya beberapa meter itu.

Aku tidak percaya pocong, tidak percaya kuntilanak, tidak juga percaya cerita-cerita seram Mama, Maya dan gosip kompleks Tidak percaya pada hantu lompat-lompat yang menunggui pohon mangga, juga wanita lusuh penghuni kamar.

 

****

Malam semakin larut. Hanya ada terdengar lirih suara motor di kejauhan sana. Aku menggantung kelambu yang melingkupi tempat tidurku. Lalu mematikan lampu dan masuk ke dalamnya.

Lucu, benar-benar lucu. Sekarang aku merasa merinding, entah kenapa, jantungku berdegup kencang tanpa alasan. Teringat olehku teriakan Mama saat aku bermain boneka, ia buru-buru mengambilku dan menghempaskan rumah-rumahan yang tersusun dari kerucut, balok, dan kubus kayu. Ia bergumam bahwa balok-balok itu menyusun dirinya sendiri.

Belum lagi gayung yang melayang begitu saja saat aku mandi. Aku tidak tahu sebabnya apa, terus saja menatap benda itu dan bertepuk tangan dengan girang. Mengira ada satu keajaiban sihir seperti yang kutonton dalam kartun hari Minggu.

Semakin besar, apalagi setelah menonton film horor pertamaku. Aku benar-benar ketakutan mengingatnya lagi. Benda-benda itu tidak melayang dengan sendirinya, tetapi ada sesuatu, sesuatu yang menggerakkannya. Sesuatu ...

Mendadak ada suara kicau burung di langit. Begitu nyaring dan serak seolah tenggorokan mereka mengerut layu. Rasa-rasanya, kicau itu ada di atas atap rumahku.

Tidak, aku tidak percaya.

Kupejamkan mata, memilih untuk tidak memikirkan apa-apa. Deru napasku mulai tenang, keluar dan masuk dengan teratur. Tetapi, kenapa napasku seperti menggema? Saat aku menarik, suara menarik napas itu terulang sama seperti saat membuangnya. Seolah ada orang lain yang bernapas di dekatku. Siapa?

Tidak, aku tidak percaya.

Iya, aku tidak percaya. Ini semua hanya imajinasi. Kemudian aku membuka mata, menatap sekitar kasurku yang tidak ada apa-apa. Tetapi napas-lain itu masih terdengar, mungkin suara angin. Angin yang berhembus lewat ventilasi di atas jendela.

Kembali tidur, kujauhkan tumpukan baju di ujung kakiku ke sudut kasur.

Tunggu. Sejak kapan ada...

Aku memang tidak rapi, pakaian kotorku suka berserakan dimana-mana, tetapi sejak kapan ada tumpukan baju di kasurku? Ah, aku mungkin lupa saja pernah menaruhnya di sana.

Risih, aku bangkit duduk untuk membuang tumpukan baju itu keluar dari kelambu. Baru saja tanganku hendak menggapainya, sepasang bola mata putih terbuka dan menatapku hampa. Aku membatu. Kamarku gelap, benarkah ini tumpukan baju? Sekilas mirip, hanya saja ... bola mata itu terus menatapku, diikuti satu sengiran di mulutnya yang dipenuhi deretan gigi-gigi tajam. Rambut hitamnya menjuntai seperti milik Mbak I’in, bergerak-gerak seolah itu tangan dan kakinya.

Ia akan menangkap tanganku.

Buru-buru aku keluar dari kelambu, menyebabkan satu tali gantungnya putus. Membuka kamar, dan menghambur ke tempat orangtuaku tidur.

****

“Katanya pohon mangga itu ada pocongnya.”

“Kalau gak salah, ada kuntilanak di kamar Fiya.”

Aku diam, tidak membantah.

“Ya, kamu pernah lihat hantu gak sih? Kok gak pernah cerita hantu.”

Maya dan Ratih menatapku. Haruskah kujawab?

“Tidak pernah.”

Aku tetap tidak percaya. Tidak, aku tidak mau percaya. Sampai kapan pun. Yang melompat-lompat itu tidak seram, yang jarang mandi juga, begitu pula yang tanpa badan dan hanya bisa menggelinding mengotori wajahnya.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at Tidak Percaya (2 years 33 weeks ago)
100

saya ada horor yang sangat horor. nanti saya buat yang sangat horor.

Writer Wanderer
Wanderer at Tidak Percaya (3 years 6 weeks ago)
80

Numpang lewat aja, soalnya kangen sama yang punya cerita. Sudah baca dari lama tapi baru komen dan kurang lebih komentarnya senada dengan yang di bawah-bawah. Coba diendapkan lagi ^.^

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Tidak Percaya (3 years 1 week ago)

Saya kangen juga sama yang kasih komen >///<
Aduh mbak, novel-novelnya di lapak sebelah makin ciamik. Sayang susah mampir karena lagi di pedalaman (ingat kecepatan internet 24kb/s).
Iya, pengendapan kurang lama. Jadi hasilnya juga masih belum memuaskan.
Makasih ya sudah mampir dan sudi baca^^

Writer latophia
latophia at Tidak Percaya (3 years 6 weeks ago)
80

Ga ada twist, horor dan komedinya juga kurang berasa...
Menurutku sih ga memenuhi ekspektasi karya Thiya deh...
.
Maaf kalau kritiknya kejam yak... aku masih ngefans karyamu kok ^^

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Tidak Percaya (3 years 1 week ago)

Gak papa, udah biasa dikejemin kok. Santai, semua masukan saya tampung. Wkwkw, ekspektasi karya Thiya, aduh duh, susah kalau di-ekspektasi duluan >_< #Lah
Makasih ya Kak Latophia

Writer hidden pen
hidden pen at Tidak Percaya (3 years 7 weeks ago)
100

Selamat atas kelulusanmu #eh

Baru bangun tidur, iseng iseng buka cerita eh ada thiyakk, pa kabar #eh

Mungkin umm aku titip vote aja dech.

Lucu koq thiyaakk. Bagian hantu dan makhluk halus nya. Itu loh itu #nunjuknunjuk ah udahlah

Cring ilaaanngg.

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Tidak Percaya (3 years 1 week ago)

Makasih atas ucapannya Kak Hidden :D
Baik, baik, kabar saya baik kok.
Makasih atas komentarnya.
Jangan ngilang terus dong XD
Ayo sini, kita main bareng lagi kayak dulu.

Writer The Smoker
The Smoker at Tidak Percaya (3 years 7 weeks ago)

*tebarmenyan*gakmaukomen*

Writer Nine
Nine at Tidak Percaya (3 years 7 weeks ago)
100

Suka sama paragraf di awal-awal. Istilah2 lain yang kamu buat untuk para makhluk halus itu segar. Bikin nyengir. Dari segi komedi, tak ada yang bikin ngakak, tpi cukup merata untuk yang bikin saya menyunggingkan senyum.
.
Dari segi horor. Pancingannya sudah mantap. Cuma entah kenapa masih datar saat kemunculan si setan. Mungkin kurang dipancing? Klo boleh saran sih, masukkan lebih banyak unsur2 horor lokal yang familier di telinga pembaca. Salah satunya bunyi burung serak sudah ada di sini. Yang lainnya, bayangan pohon yang diam walau si pohon sedang diterpa angin. Bunyi-bunyi makhluk ganjil yang kalau jauh berarti ia dekat, kalau terdengar dekat berarti ia jauh. Ya, gitu2 lah. Lebih dipancing lagi, biar pas kemunculan makhluk halus lebih nendang horornya. Mungkin sih, ahahahahah, saya juga bukan tipe2 yg suka nulis horor.
.
Overall, ini tetep asik. Ngalir. Dan narasimu makin halus sahaja. Sip. O ya, bagian ending juga kurang nih. Ahahahaha.
.
Sekian, salam olahraga

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Tidak Percaya (3 years 1 week ago)

Makasih kak Nine, iya, pancingannya kurang kena. Sepertinya kurang eksplorasi lagi.
Terima kasih sudah mau baca.
Salam pramuka.

Writer daniswanda
daniswanda at Tidak Percaya (3 years 7 weeks ago)
80

Kalo di saya komedi sama horornya juga kurang mas Tia. Endingnya kuga nggak klimaks. Padahal cara bertuturnya uda enak. Sayang sekali. Apakah ini hasil dikejar-kejar deadline juga?

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Tidak Percaya (3 years 1 week ago)

Iya Mbak Wanda, memang lempeng cerpennya. Saya nyerah gimana mau menghasilkan adegan horornya. Masih banyak yang harus diperbaiki lagi.
Terima kasih ya

Writer kartika demia
kartika demia at Tidak Percaya (3 years 7 weeks ago)
100

.
Komedinya kurang Tia, horornya udah bikin merinding sih ^^
.
menghembus--> mengembus
berhembus--> berembus
darimana--> dari mana
.
Hanya ada terdengar lirih suara motor di kejauhan sana. --> 'ada' bikin gak enak itu yak
.
Sengir untuk hidung
Cengir untuk mulut

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Tidak Percaya (3 years 1 week ago)

Makasih Mbak Demia atas pemberitahuannya, iya, saya masih suka khilaf kata. Baru tahu tentang sengir dan cengir.
Kata 'ada' itu kayaknya, bawaan bahasa daerah sini. Haha, makasih sekali lagi ya, untuk tantangannya :)