Asal Mula Kesurupan

Mungkin berdiam diri di tempat ini sangat membosankan. Apalagi tidak ada kawan yang bisa diajak bicara.

"Ayo sini!"

"Awas!"

Mereka terlihat sangat senang sekali, ketika berlarian sembari tertawa seperti itu. Salah satu dari mereka mengencingi pohon, dengan cepat kudekati anak itu. Aku mencium aroma kencingnya secara perlahan, agar sari-sari bisa terserap sempurna di dalam tubuhku. Setelah dahaga hilang, aku melihat kembali anak-anak manusia itu.

Aku memang kesepian dan sangat iri pada anak-anak manusia itu, ketika mereka bersama dan bermain dengan jenis yang sama.
Namun aku teringat dengan sesosok manusia di malam hari, saat bulan purnama. Manusia itu seorang pemuda tampan, namun agak kurus. Dia mendekati pohonku sembari membawa makanan lezat. Entah apa yang manusia itu katakan, aku tidak begitu paham dengan bahasa manusia. Kecuali satu manusia yaitu raja Sulaiman.

Kakekku pernah bercerita tentang kehebatan raja Sulaiman, yang mampu mengendalikan angin dan mempunyai tentara dari golongan jin serta manusia.

Karena cerita kakek, aku jadi semakin penasaran dengan keturunan raja Sulaiman. Mungkin saja pemuda malam itu mau mengajakku berteman. Sayang sekali aku tidak boleh berteman dengan manusia, walaupun kita sebenarnya bersaudara. Sama-sama diciptakan oleh tuhan.

Kata kakek juga, manusia sekarang tidak sama dengan raja Sulaiman. Mereka sangat serakah dan berbahaya, apalagi ketika membunuh atau mendirikan bangunan untuk tempat mereka bersenang-senang. Sarang semut, pepohonan dan binatang tidak luput dari kekejaman mereka.

Aku sebenarnya tidak percaya, manusia sekarang serakah dan berbahaya. Makanan melimpah ruah: Tulang, Kotoran, Kencing. Pemuda semalam juga baik hati, dengan memberiku makanan berupa bunga tujuh rupa setiap bulan purnama.
Karena itu aku menganggap manusia sekarang ternyata sama seperti raja Sulaiman. Sangat baik hati.

"Ahh tersangkut!"

Anak-anak itu menatap bola, yang sedari tadi mereka mainkan tersangkut di pohon. Sebagian dari mereka mencoba memanjat, namun tidak mengetahui pohonku begitu licin dan terlihat berbahaya untuk tubuh kecil mereka. Aku mengumpulkan angin di telapak tangan kiri, kemudian menghempaskan ke arah mainan mereka. Aku melihat mereka sangat senang ketika bola itu jatuh, kemudian bermain lagi. Mungkin kesepianku selama ini terobati berkat anak-anak manusia itu, aku ingin berterima kasih pada mereka.

"Udah malam neh, pulang yuk."

Salah satu dari mereka berkata sesuatu, aku tidak tahu maksudnya. Namun aku mengerti saat anak-anak itu meninggalkan tempat ini. Mereka pulang.

Malam telah tiba, aku sangat kesepian di sini. Tetapi bulan purnama telah muncul hari ini, dan aku menantikan kehadirannya. Benar saja, dia datang.

"Tolonglah hamba, berikan rezeki yang banyak serta kekuatan yang hebat. Aku sangat mohon sekali bantuan dari tuan penghuni pohon. Aku telah membawakan sesajian ini khusus untuk anda."

Pemuda itu meletakkan makanan di bawah pohon, tentu saja aku menghirupnya dengan cepat. Jika terlalu lama, Pemuda itu akan meninggalkan tempat ini. Aku ingin mengikuti pemuda baik hati itu, dan membalas jasanya. Tetapi pemuda itu sangat lama di sini, aku sudah kenyang dan bisa menatap wajahnya dengan seksama. Dia memang tampan.

Malam semakin larut, pemuda itu beranjak pergi seakan tidak ingin berlama dan menemaniku sampai anak-anak manusia datang. Aku mengikuti pemuda itu, dan semoga saja aku bisa membalas kebaikan hatinya. Mungkin mencari apa yang pemuda itu suka, karena manusia dan jin sangat berbeda. Baik makanan maupun tempat tinggal.
Semoga saja aku bisa melakukannya.

Pemuda itu melewati sebuah gang, tetapi manusia yang berukuran lebih besar darinya menghadang.

"Hay fulan, mana hutangmu?"

"Aku mohon maaf bang, berikan sedikit waktu lagi."

"Banyak bacot!"

Sungguh aneh ketika Pemuda itu takut dengannya, aku tidak mengerti kenapa harus takut dengan pria itu. Namun ketika pria itu hendak memukul, aku memasuki tubuh pemuda ini. Merasuki pikirannya dan memilih langkah yang tepat untuknya.

"Woaahh, ternyata kau pandai silat rupanya."

Sepertinya aku berhasil menyatukan pikiran dengan pemuda ini, hingga dia mau mengikuti saran dariku untuk menghindar. Gerakan pria yang lebih besar darinya sangat mudah kutebak, serangannya tidak ada satupun mengenai pemuda tampan ini.
Aku memberi saran pada pemuda ini untuk memukul dan dia melakukannya.

"Ammmpppuunnn fulan, Jangan siksa kami!"

"Ya sudah, pergi sana!"

"Waaaaa!"

Mereka sudah meninggalkan pemuda ini, aku bernapas lega karena pemuda ini tidak terluka ataupun tersakiti sedikitpun.

"Wooahh kekuatan apa ini?"

Aku merasa puas ketika pemuda ini sangat senang, dan tidak merasa takut dengan apapun. Nampaknya aku berhasil membalas jasanya, tetapi sepertinya masih belum cukup.

Beberapa bulan telah berlalu...

Aku sudah semakin akrab dengan pemuda bernama Fulan, walaupun kami tidak saling menyapa ataupun mengobrol. Dia selalu memberi makanan dengan meletakkannya di rumahku. Balas jasa terus kulakukan selama Fulan tetap memberi kenyamanan padaku.

Dia sekarang mempunyai tempat yang bagus dan sangat dikagumi oleh para manusia. Aku teringat ketika memungut lembaran berwarna yang aku tahu itu uang, dan memberikannya pada Fulan. Karena dia sangat senang ketika menerima uang, aku terus memungutnya sampai hari ini.
Sepertinya balas jasa terlalu kuat, aku terlalu sering berpisah dari Fulan. Karena sering bepergian dengan burung besi yang bernama pesawat. Aku tidak bisa pergi dan meninggalkan rumah, tetapi aku selalu menunggu kedatangannya dan berhenti memberinya uang agar Fulan tetap di sampingku. Namun tetap saja dia tidak kembali, dan aku selalu kesepian di pohon ini.

"Penghuni pohon, berilah hamba rezeki dan kekuatan yang hebat."

Aku melihat seorang pemuda tampan, mungkin lebih tampan dari Fulan. Namun mengingat kejadian yang sama seperti Fulan, aku sangat marah.

Angin yang semula tenang bagai dedaunan, kini membuktikan keganasannya. Aku menghempaskan pemuda itu beserta sajiannya, kemudian merasuki pikiran pemuda itu. Aku tidak suka ada yang meniru Fulan.

"Aaaarrrrggghhh!"

Pemuda itu kesakitan, wajar saja pikiran kami tidak menyatu lantaran hanya seorang yang cocok. Fulan.

"Aaakkkuuu mooohhhooonn, hentikkaaannn!"

Tetiba saja seluruh manusia terkumpul di sini, aku berpikir mereka juga mau seperti Fulan.

"Jangan-jangan dia dikutuk?"

"Ayo cepat bantu!"

Mereka semua mencoba menghentikkanku, tetapi sia-sia saja. Aku mengambil salah satu senjata mereka yaitu kapak, entah untuk apa mereka membawa kapak.. Aku gerogoti pikiran pemuda ini untuk menyerang mereka dengan senjata itu.

"Arrggghhh!"

Ternyata asyik juga melihat cairan keturunan raja Sulaiman, apalagi warna merah delima yang begitu indah tersirat di baju-baju mereka.

"Aku mohon bang, jaaannggaann!"

Ada seorang wanita menarik lengan baju pemuda ini, namun dia hanya mencari ke sia-siaan. Kapak ini menghujam atas kepala wanita itu, hingga dia tidak berbicara lagi.

DORRRR...

Aku tidak mengerti, mengapa pemuda ini langsung jatuh dan tidak sadarkan diri. Tetapi aku belum kalah, para manusia yang lain kugerogoti pikirannya. Kemudian mengikuti langkah pemuda yang tidak sadarkan diri itu.

DOORRR...

Lagi-lagi pria ini jatuh seperti pemuda itu, aku menggerogoti yang lain dan melakukan hal yang sama. tetap saja hasilnya begitu juga. Aku menggerogoti pikiran pria yang terus melumpuhkan pria lainnya.

"Kyaaaa...aarrrggghh!"

***

Sejak malam itu, tempat ini semakin sepi dari manusia. Apakah aku salah menggerogoti pikiran mereka untuk membunuh. Mungkin saja membunuh bukan sesuatu yang baik, aku melakukan cara yang lain yaitu merasuki pikiran setiap orang. Hanya untuk mencari informasi keberadaan Fulan.

"Tenang Jinny, serahkan pada kami. Akan kutemukan temanmu."

Aku meminta tolong pada jin lainnya, kebetulan aku menemukannya ketika setengah mencari informasi. Aku sangat berterima kasih karena mereka mau membantu, semoga saja Fulan akan ditemukan. Walaupun sebagian para jin hanya merasuki manusia untuk kesenangan mereka, tetapi tidak masalah bagiku.

Sampai suatu ketika ada kabar bahwa Fulan telah menikah di Negeri Paman Sam.

Entah apa itu negeri Paman Sam?

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at Asal Mula Kesurupan (13 weeks 5 days ago)
70

ada sedikit kelucuan, ga banyak

Writer Shinichi
Shinichi at Asal Mula Kesurupan (3 years 6 weeks ago)
90

ngakak karena konyolnya.
ahak hak hak.
hadooohhh...
perbaiki tulisanmu ini, Bang
jangan sampai kayak Radit
ahak hak hak

Writer hidden pen
hidden pen at Asal Mula Kesurupan (3 years 6 weeks ago)

Ane butuh kursus kayanya... ehm

Writer Shinichi
Shinichi at Asal Mula Kesurupan (3 years 6 weeks ago)

sama Naen, Bung
kursus ke dirinya saja
kalian kayak kembar deh
ahak hak hak

Writer Nine
Nine at Asal Mula Kesurupan (3 years 6 weeks ago)

Ahahahahahaha XD

Writer hidden pen
hidden pen at Asal Mula Kesurupan (3 years 6 weeks ago)

Pengen bang shin yg ngajarin

Bang nine sibuk ama wisudanya :v

Writer Shinichi
Shinichi at Asal Mula Kesurupan (3 years 6 weeks ago)

dirimu yakin sanggup diajarin sama saya?
ahak hak hak :p

Writer Arkanezt
Arkanezt at Asal Mula Kesurupan (3 years 9 weeks ago)
80

Ceritanya bagus. Suka sudut pandang dari sisi jinnya, beda dan unik. Di sini malah si jinnya ga ngerti bahasa manusia ya :v

Writer Rieve
Rieve at Asal Mula Kesurupan (3 years 10 weeks ago)
80

Ceritanya khas kultur Indonesia banget, ya. Bagi saya yang pengetahuan tentang menulis masih minim, ceritanya asik-asik aja, sederhana gampang dicerna. Cuma satu, kata sangat dan sekali kayaknya berlebihan kalau dipakai dalam satu kalimat untuk menerangkan kata yang sama. Misalnya "Mereka terlihat sangat senang sekali, ketika berlarian sembari tertawa seperti itu."

Yang paling saya suka ada unsur dark comedy-nya.

Writer hidden pen
hidden pen at Asal Mula Kesurupan (3 years 9 weeks ago)

yahh ehm ehm memang zaman sekarang masih ada kisah pesugihan atau mempercayai hal hal keramat. Bukan hanya di indonesia saja sih. Errr ya kali.

Makasih kedatangannya. Oohh ya . Mmhh padahal yang berlebihan itu kupikir akan memperjelas situasi

Rupanya nggak ya. Hhmm

Writer kartika demia
kartika demia at Asal Mula Kesurupan (3 years 10 weeks ago)
100

.
Ini gak ikut tantangan horkom nih? Gak jelas kamu ikutan pa gak, takut kena goger yaaak..
Idenya asyik, Komedinya kurang tapi, padahal kan untuk keseharian kan kamu udah ngomedi banget yak ^^
.
raja Sulaiman--> rajanya kapital ya, lalu ada beberapa juga kesalahan kapital entah itu teledor ato disengaja, seperti kata pemuda dan Tuhan.
.
"Hay fulan, mana hutangmu?"

"Aku mohon maaf bang, berikan sedikit waktu lagi."
. Sebelum sapaan kasih koma ya sayang ^^
.
Satupun sedikitpun (pun-nya dipisah)

Writer hidden pen
hidden pen at Asal Mula Kesurupan (3 years 10 weeks ago)

Njiirrr apa katamu? Ada apa dgn keseharianku? Kyaaa

Oohh unm. Banyak ya salah. Ah ok . Thanks ya udah mengingatkan.

Ane males cantumin tantangan lantaran gk menang tyuuss :v

Writer daniswanda
daniswanda at Asal Mula Kesurupan (3 years 11 weeks ago)
90

Ceritanya enak dibaca Den. Unik pula. Kenapa nggak ikutan horkomnya Mak Dem?

Yg mengganjal cuma pemilihan judul. Menurut saya rada nggak nyambung sama ceritanya. Itu aja sih. Yang laennya uda sip.

Writer hidden pen
hidden pen at Asal Mula Kesurupan (3 years 11 weeks ago)

Loh, ini kan ane ikutan :v
Cuman gk ane cantumkan tantangan.

Nahh itu dia, karena aku pake sudut pandang jin yg gk ngerti bahasa manusia. Agak susah nyelipin dari mana kata kesurupan. Masa jin ngerti kata kesurupan. Auk ah gelap.

Jadinya nyelipin yg ada hubungannya dengan kesurupan. Macam jin yang menggerogoti pikiran manusia sembari mengendalikan hawa nafsunya. Ya gitu aja dah.

Makasih udah berkunjung :). Tunggu mak dem aja dah utk compang camping eyd :v

Writer kukuhniam
kukuhniam at Asal Mula Kesurupan (3 years 11 weeks ago)
80

Maaf, saya belum tertawa untuk horor comedynya. Mungkin berbeda selera saja kali.
Tapi ceritanya bagus, sudut pandangnya juga berbeda. Dari segi hantunya.
ohya raja Sulaiman (S-nya besar) mungkin tuhan (T-nya sepatutnya besar juga)

Writer hidden pen
hidden pen at Asal Mula Kesurupan (3 years 11 weeks ago)

Ahh gk lucu ya. Hhmm ya sih, selera berbeda. Mungkin harus lebih sadis, seperti mutilasi atau perbanyak adegan mesum.

Ahh ya Tuhan harusnya T besar. Hadeuh aku teledor. Makasih atas peringatan dan kunjungannya. :v