-

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at - (2 years 46 weeks ago)
100

Sudah selesai dibaca beberapa hari yang lalu.
Seperti biasa, kalau Rian sih pasti mulus penceritannya. Cuma rasanya, tulisan ini tuh agak kurang dibandingkan tulisan-tulisanmu yang sebelumnya. Mungkin saya di bawah pengaruh ekspektasi.
.
Terus nulis, salam^^

Writer daniswanda
daniswanda at - (2 years 50 weeks ago)
90

Tema tulisannya, seperti biasa, khas Rian. Ringan, sehari-hari dan mengalir mulus. Yang saya tangkep sih cerita ini menggambarkan pengorbanan dan karakter seorang Ibu, bagaimanapun karakter yang ia milikki. Cuma satu sih yg mengganjal; korelasi antara opname dan alzheimer di mata tokoh utama yg tebakan saya masih sekitar SD/SMP. Tapi mungkin cuma hanjal di sayanya aja. Sekian & salam.

Writer dede
dede at - (2 years 50 weeks ago)
80

Ceritanya ringan dan mengalir. Berhubung udah banyak yg komen ttg cerita, saya komen db nya aja. Hehe
Sepertinya perlu riset ttg penyakitnya jg...
Db itu panas tinggi tiba2, bukan pusing dulu. Dan rasanya, kl cuma 2 hari, ga mungkin bisa kedeteksi. Bukan meriang jg deh, kata itu kurang tepat kayaknya.
Trus heran dgn karakter si aku yg bisa makan dgn lahapnya kue enak itu, org sakit db cendrung muntahin hampir semua makanan yg masuk, walaupun enak, krn lambung bermasalah. Jd harusnya d buat dia ga nafsu makan.
Dan ini yg paling saya heran... kok boleh nih dia keluyuran ke toilet sendirian?? Saya dl 4 hari full bed rest dan harus pis n pup d atas kasur saja ato d samping kasur pake pispot... (kebayang jijiknya.... wkkwkwk). Itu aja udah ngos ngosan kehabisan tenaga..(padahal pas masuk, trombo masih di kisaran 110 ribu... harusnya si aku lebih mengenaskan kondisinya daripada saya.... hoho)
Gitu aja deh, maap panjang.

Writer latophia
latophia at - (2 years 50 weeks ago)
2550

Aku tuh selalu kagum dg cara rian nulis cerita sehari-hari yg biasaaa aja jd menarik..
Kurasa aku mirip dg karakter si nida ini, ibuku juga guru, juga galak, juga kaku, saudara jg banyak... sempet benci sama ibu dg kekakuannya, tp pada suatu titik sadar kl ibu punya alasan spt itu, kl dia sibuk, capek, ga pernah punya waktu utk dirinya sendiri... jd skg aku berusaha lbh hangat padanya, mulai bilang kangen, mulai berani meluk... tapi ga pernah terpikir utk menulis ceritanya, haha
...
Walaupun aku kurang puas di endingnya... aku udah mulai berkaca-kaca (ya memang kadang terlalu mellow yak) di bagian ibu tidur di sofa rumah sakit, tapi abis itu biasa aja... gajadi banjir...
...
Oiya, setauku DB itu penyebabnya virus, jd gapake antibiotik
...
Trakhir, kl nida itu rian, coba deh sesekali peluk ibunya... seriuuuusss

Writer rian
rian at - (2 years 50 weeks ago)

Iya, terlalu mellow, terlalu sentimental. Padahal di bayangan saya jadinya enggak bakal gini2 amat.

Menarik? Belum. belum cukup. masih banyak bolong di detail juga

DB enggak pake antibiotik, oh, hahaha. Iya, maaf, saya enggak tau:)

Makasih udah baca dan komentar, Latophia

Writer Shinichi
Shinichi at - (2 years 50 weeks ago)
80

oke, saya akan mencoba jujur kalau kondisi saya rasanya kurang tepat buat berkomentar, Bung. tapi, dari cerita ini ada satu hal yang membuat saya teringat pengalaman pribadi saya. umm... karena ya, orang tua saya juga guru, guru SD. dua-duanya malah. dan soal kertas ulangan itu, enggak pernah saya alami. tapi rapor. ahak hak hak. saya beberapa kali membantu ibu saya mengisi nilai ke rapor siswa. sementara itu, ia sibuk dengan kehidupannya di luar profesinya yang guru :D
.
tapi, ini guru SMA. saya enggak merasakan karakteristik si ibu. atau mungkin seluruhnya. tadi saya katakan bahwa saya kemungkinan besar sedang enggak dalam kondisi baik buat memberikan masukan. saya patut malu pada diri saya sendiri. ahak hak hak. tapi, andai saja ini metropop khas novel romance self-publishing yang tiap hari saya geluti, yang kemudian saya sebut sendiri genrenya dengan istilah "feno" (merujuk pada fenomena), sedikit banyak saya bisa beri masukan. anak-anak wattpad mungkin tahu lebih banyak yang diinginkan pembaca kebanyakan. tapi ini bukan. saya bersyukur di sisi lain. dan melihat kecenderungan kita, sadar atau enggak disadari, adalah menginginkan bacaan yang "bagus" di Kemudian.com ini, yang sedikitnya bisa dinikmati, saya bisa merasakan ketidakpuasan dalam tulisanmu ini.
.
jujur, tulisanmu sudah apik, Bung. dinilai dari caramu menyajikan idemu. kalimat-kalimatmu bagus. pergerakan imajinasimu bagus, terlihat dari hal-hal yang kausertakan dalam narasimu terkait suasana dan pembangunan situasi. semisal itu disebutkan sebagai wawasan (narasi juga berwawasan rasanya), itu sudah menarik dan segar. tapi kenyataan yang harus disadari adalah itu sudah selesai. jadi, dirimu harus bergerak maju ke fase selanjutnya. kalaupun dikau sudah merasa begitu, sudah melangkah ke fase berikutnya yang boleh jadi apa saja, itu bagus. di sini saya hanya menyarankan karena saya pikir dirimu belum beranjak.
.
coba untuk kesempatan berikutnya membuat ide yang enggak kesehari-harian. kasus pembunuhan misalnya. pencurian, perampokan, atau hal-hal gaib, mimpi, dsb. ide ya. kita perlu lihat bagaimana hasilnya. saya yakin, narasimu akan sangat berwarna, melihat bagaimana tulisan-tulisanmu belakangan. hal ini, tentu ada gunanya. saya ada komentar ke tulisan seorang member di sini yang mencoba menulis komedi, yang garing (meskipun garing harusnya enak). sama seperti dirimu, dia juga mencoba mengejar satu hal yang sudah dikerjakannya selama beberapa tulisan. progresnya itu, di sisi lain, saya yakin enggak akan terlihat jika dia terus membuat komedi. maka cobalah yang lain, biar ketika akhirnya menulis komedi lagi, ada kesan "segar", yang pada akhirnya membantu penulis itu lebih menikmati dirinya ketika menulis. ya, Bung. saya merasa dirimu enggak menikmati prosesmu menulis tulisan ini. renggang. cenderung enggak fokus. merata itu, bagusnya di sayur. tulisanmu cobalah dibuat semacam es krim Lady in Black: es krim yang punya pusat rasa, yakni rasa asam di buah yang tenggelam di dasarnya. ini patut dicoba, Bung. saya yakin dirimu bisa. setidaknya itu menjadi warna. dan ketika akhirnya dikau mencoba SoL lagi, saya yakin rasanya akan lebih berkesan, menarik, dan terlebih buat dirimu sendiri, memuaskan.
.
kira-kira itu saja yang bisa saya sampaikan. mohon maaf kalau kurang berkenan, Bung. kip nulis.

Writer rian
rian at - (2 years 50 weeks ago)

Iya, ceritanya rasanya enggak maksimal. Saya ngerasa juga endingnya itu maksa banget buat kelihatan sedih, malah jadi sentimental. Plus penulisnya juga seadanya aja mendalami kehidupan tokohnya jadinya ya begini.

Ada sih beberapa ide yg bukan cerita keseharian. Sebenernya saya juga suka baca horor, dan berencana bikin juga, tapi belum ada "rasa" yg pas buat nuangin itu. Saya suka sama cerita keseharian karena banyak penekanan di karakter, sementara kalau genre2 lain biasanya penekanannya di plot. saya kepingin bisa bikin efek kayak di cerpen2 barat, yg juga tentang keseharian, tapi bisa terasa 'wow' saking detailnya. Rasanya cerpen-cerpen itu semacam bentuk perayaan terhadap kehidupan atau apa gitu, dan itu keren.

Makasih udah komentar panjang, padahal saya sendiri kalau komentar di tulisannya Bang Shinichi cuma bisa pendek:)

Writer Shinichi
Shinichi at - (2 years 50 weeks ago)

ahak hak hak. santai saja, Bung. ywd, kalo belum ada rasa. btw, soal cerpen barat itu, mungkin kayaknya kita harus ikut mengalami juga ya. atau minimal punya kedekatan dengan kisah-kisah begitu dengan tokoh yang bener-bener nyata. ahak hak hak. ah, saya malah pengen muda lagi :D
biar nulis itu sesuka hati dan tabrak sana, tabrak sini. ahak hak hak.

Writer nusantara
nusantara at - (2 years 50 weeks ago)
70

Bagus sih, gaya curhat. Hehe. Tapi menyusun kalimatnya kurang sedikit. Ada beberapa kata yang harus di pangkas. (tapi sbnrnya oke).
Contohnya gini..
Seminggu sudah aku di rumahsakit, opname, sebenarnya tidak gawat-gawat amat tapi petugas puskesmas itu bilang trombositku itu begitu rendah dan harus cepat-cepat dibawa ke rumahsakit, seakan-seakan aku akan mati. Bapak panik. Ia langsung membawaku ke rumahsakit dengan motor. Setelah sampai para perawat menyuruhnya tenang. Lalu dengan segera dokter mengecek trombositku lagi dan ternyata masih diatas 95000. Haha. Aku lega bapak juga.

"Belum begitu parah tapi harus dirawat. Positif DB." Kata dokter kepada bapak. Memang sudah dua hari ini aku pusing-pusing. Malamnya demam. Meriang. Pagi sebelum ke puskesmas aku merasa ingin pingsan. Debi, temanku yang ketika itu ada bersamaku bilang aku terkena demam berdarah. Aku tidak menyangka dia bisa mendiagnosis orang.
-terserah sih mau dibikin gimana yg nulis, itu contoh aja.
-lg blajar jg soalnya. Hehe. Blajar ngasih masukan. Entah bener apa nggak ya gak tahu juga. Hehe.