Jingga (revisi)

Ini adalah halaman pertama dari novel "Jingga" buatan saya tahun lalu yg mengendap dan butuh revisi terus-menerus. sebelum dilanjutkan saya mau minta review dari kalian ^_^. Baik dari segi cerita maupun teknis.

-------------

 

Jingga

Sindrom sulit melupakan. Aku tidak tahu apa istilah tersebut benar-benar ada atau hanya imajinasi kakak saja, tapi setidaknya itu kata yang lebih menenangkan daripada disebut gila. Melihat sesuatu yang harusnya dilupakan dan membayangkan sesuatu yang harusnya menjadi bayangan. Ini seperti saraf yang terjepit atau semacamnya, aku tidak tahu. Ditambah lagi kehidupan yang penuh kebosanan. Sepertinya aku harus mengubah namanya menjadi sindrom mayat hidup.

“Jingga, kakak pergi ke supermarket, kamu mau ikut?”

“Ti.. dak,” balasku dengan suara bagai tertiup angin.

Ini adalah jurus terbaik untuk mengelak pergi keluar. Wajahnya yang cantik dan pakaian khas metropolitan, dia segalanya. Berjalan bersama hanya membuatku bagai pembantu.

Setidaknya aku bisa hibernasi di sofa empuk ini.

“Kalau gitu, kamu mainlah keluar. Kakak tahu kamu masih memikirkan masa lalu. Tapi itu bikin kamu jadi aneh Ga.”

“Lagian kamu harus bersiap, kelas 11 bukan waktunya untuk lemas-lemasan,” tambahnya.

“Bodoh...”

“apa Ga?”

“E.. engga, hehe,” jawabku kaget.

Hah, dia selalu membicarakan soal sekolah. Aku heran kenapa orang-orang bersemangat masuk kelas 11. Perpindahan kelas, pemilihan jurusan. Semua hal membosankan bergabung jadi satu. Naik kelas adalah titik paling membosankan dalam hidupku. Semua hal baru, guru-guru. Teman.

“Teman, bener, kamu harus cari temen Ga,” tukas kakak.

“...ha?”

Keanehan kakak muncul lagi, sepertinya dia bisa membaca pikiran.

Kakak selalu saja membicarakan hal-hal bodoh. Teman adalah kata pertama yang harus aku lupakan setiap pagi. Kau tahu, air mata buaya, penikungan, dan semacamnya. Teman adalah bentuk terendah dari klasifikasi manusia di muka bumi.

“Atau pacar.”

“Woa! Kakak pergilah sebelum aku menjadi gila,” balasku terperangah.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Jingga (revisi) (2 years 51 weeks ago)
100

Weh, rekor! Kekom 48 jam tanpa kegiatan #Plak
Abaikan kalimat tadi karena saya cuma mau ngomong tapi tidak tahu tempat :v
.
Sesungguhnya, saya tidak tahu mau berkomentar apa. Karena cuplikan yang ditampilkan sedikit sekali sehingga saya tidak dapat cerita, penokohan, konflik, dsb.
Secara teknis, rapi^^
.
Sepertinya itu saja yang bisa saya sampaikan XD (aduh gak guna)
Terus semangat menulis '-')9
Jangan lupa mampir ke gubuk saya :v

Writer ryadhiprasetya
ryadhiprasetya at Jingga (revisi) (2 years 51 weeks ago)

makasih udah mau mampir ^_^