Filosofi Syukur Anak Esema

Rasanya ingin berteriak, tapi kamu urung karena ancaman sendal dan wajan tetangga membuatmu bergidik ketakutan. Kalau bukan karena kesopanan antar manusia, mungkin kamu sudah menjerit seolah jarimu kejepit pintu papan.

Mungkin lebih, karena kamu tahu sakit yang ada sekarang lebih dari sekadar bengkak di ujung jempol. Melainkan di sekujur tubuh. Bermula dari hati yang kian tak kebal mendapat cambukan hidup, hingga akhirnya meradang dan pecah menjadi serpihan-serpihan kecil yang tajamnya melukai telapak kaki.

Serpihan, yang kini tidak hanya bersarang di kaki melainkan sekujur tubuh.

Awalnya kamu terbangun pada Kamis pagi yang retak. Awan-awan bergulung-gulung dengan tidak meratanya, menciptakan beberapa celah tempat cahaya masuk dan menyinari jalan.

Semangat hidupmu mulai koyak, tercabik kenyataan dan ratusan pengikutnya. Sebelum hari Kamis ini, ada tiga hari yang menjadi neraka untukmu. Iya, kamu saja yang merasa begitu. Murid paling malas dan berwajah datar.

Ada tiga hari Try Out, sebuah ajang percobaan untuk menghadapi the big boss! yaitu UN. Tapi, jangankan Try Out, ulangan harian yang merupakan musuh kelas teri saja kamu sering remedial. PR selalu mencontek dan tugas kelompok yang lain hanya menumpang nama.

Jadi, untuk apa lagi kamu hidup?

Mati-matian kamu berjuang, les sana-sini, dari sore sampai malam. Kamu kepayahan, berbulan-bulan sejak pertengahan semester satu kamu sudah sibuk menambah ilmu. Guru-guru memang keparat, tapi kamu sadar bahwa malasmu itu yang paling bangsat.

Untuk ukuran makhluk ceking dengan otak setengah aktifmu itu, belajar adalah hal yang kamu hindari sepulang sekolah. Setidaknya, cukuplah delapan jam duduk sampai pantatmu bisulan karena mendengarkan ceramah guru tua. Tapi kenyataannya tidak: hidup, sekolah, dan lingkungan menuntutmu untuk menimba ilmu lebih keras. Meski tali timbaanmu mulai terkikis bak di ujung tanduk.

Karena itulah, sampai hari Try Out datang tubuhmu mulai kehilangan beberapa kilo lemak, darah dan sebagian kewarasan. Soal-soal buatan tangan besi para guru beredar, kamu duduk setelah berdoa panjang lebar. Semoga malaikat di sisi kiri-kananmu mau membantumu nyontek, amin.

Selebihnya, biarkan kamu dan Tuhanmu yang tahu apa yang terjadi. Tenanglah, para malaikat memberikan contekannya sedikit padamu, “Psst, usaha sendiri. Ingat, ini evaluasi biar guru-guru nanti tahu di mana letak kelemahanmu.” Oh, bukan malaikat Atid yang ngomong, tapi wakasek yang secara sengaja masuk dan memberikan informasi.

Sadar bahwa malaikat tak akan membantumu, kamu mulai berdoa pada setan. Semoga ada dedemit yang merasuki tubuh seorang gadis dan membuat heboh satu sekolah. Setidaknya kalian akan dipaksa libur, atau kamu mau ikut teriak-teriak juga?

Bahasa Indonesia, Kimia, Bahasa Inggris, Fisika, Biologi dan Matematika. Keenamnya kamu lewati dengan susah payah. Otakmu babak belur, ujung-ujungnya kamu mulai korslet dan lupa bagaimana caranya memasang raut sedih-setres-kecewa-benci-kesal-marah-murka dan lain-lain.

Hanya datar yang muncul, bersama tatapan kosong ke depan, kerjaanmu nyaris melamun seharian.

Kamis pagi yang retak itu kamu lewati dengan hiruk-pikuk kota yang baru saja menggeliat bangun. Setelah siap-siap, kamu berangkat sekolah. Baru saja sampai di gerbang, kamu sudah dihadiahi berita yang mencengkeram paru-paru.

Hasil Try Out akan dibagikan hari ini. Oh shit!

Rekahan di dadamu menguar bersama anyir busuk umpatan serta caci-maki. Menggerutu dan menggigiti ujung kuku, pensil, dan harapan. Kamu ketakutan, cemas juga khawatir. Apa yang akan kamu dapatkan? Apakah hasilnya tuntas? Apakah kamu akan berada di garis kuning (di bawah rata-rata nilai kelas) atau tidak?

Jawabannya, hampir keselurahan nilaimu berada di garis bawah yang sewarna pembatas antara masyarakat dan polisi di TKP. Mungkin headline-nya “Harapanku yang Telah Hancur”.

Setelah pembagian nilai Try Out, ada satu rutinitas tambahan setiap berpapasan dengan teman-teman sebayamu. “Nilai matematikamu berapa?”, “Nilai kimia?”, “Tuntas gak Bahasa Indo?”, “Susah fisika, tapi untung nilaiku tuntas.”, “Aku juga tuntas.”, “Eh, ada yang matematikanya dapat 95 lho.”, “Siapa?”

Persetan!!!

Tidakkah mereka memikirkan perasaanmu? Yang sudah berjuang sangat keras—sekeras yang dirimu mampu lakukan. Kau memang malas, keparat pencari alasan tak berkesudahan. Tetapi kamu juga memiliki kesadaran dan tahu, bahwa saat-saat mendekati hari H kamu harus siap bertempur.

Di kelas kamu hanya diam termenung. Tahu bahwa usahamu hanyalah seupil daya yang teman-teman rajinmu lakukan. Nilaimu memang menyedihkan, tapi hidup di dalam tubuhmu sendiri lebih menyakitkan.

Kamu termenung, menggenggam pensil dan menatap lurus ke depan. Berusaha sadar dari palu-palu pahit yang telah menghajarmu. Sekarang teman-temanmu sibuk mengerjakan soal latihan fisika yang entah sejak kapan dibagikan.

Kamu mengangkat soal-soal tersebut, membacanya sekilas dan merasa pernah menemukan yang demikian. Kamu buka bukumu, tapi rumus yang ingin kamu pakai tidak ada. Sadar bahwa soal yang diberikan adalah soal kelas sepuluh. Kamu pun membuka smartphone dan mencarinya di Google.

Loading.

Typing.

Searching.

Loading.

Click.

Error.

404 not found.

Bangke!

Berkali-kali kamu mencobanya lagi tetap tidak berhasil. Mendadak sinyal menguap di bawah panas. Ponselmu benar-benar minta dilempar ke luar jendela.

Saat itu kamu memilih untuk menyerah saja. Habis sudah. Kamu tidak mampu menjawab apa-apa. Fisika memang bidang kelemahanmu.

“Eh, nomor tiga jawabannya apa?”

“30.”

“Yakin?”

Sial, udah nomor tiga aja.

“Udah nomor berapa kamu?”

“Nomor enam. Kenapa?”

“Aku mau nanya nomor tujuh.”

Ngendap sana di neraka nomor tujuh!

Setres. Kamu pun melampiaskannya dengan menenggelamkan diri di bawah lipatan tangan. Sedih, kesal, dan juga marah, entah kenapa kamu sangat kecewa dilahirkan sebagai dirimu yang sekarang. Apakah usahamu benar-benar tidak berharga sama sekali? Apakah otakmu memang hanya segitu saja kemampuannya?

Pulang. Kamu langsung menyeret tas dan sisa kekesalanmu ke luar pintu. Sampai rumah, kamu hanya mengucapkan salam, meletakkan sepatu ke raknya dengan gerakan tidak wajar—setengah melempar dan tidak peduli. Tasmu saja masih tergeletak di lantai.

Kamu masuk ke kamar, melepaskan rok sekolah, kemudian tidur begitu saja sampai kepedihanmu mengendap dan tidak mendesak ke luar.

Sialnya, kamu dibangunkan Mamamu tepat setelah satu jam tertidur. Kamu bergumam kesal, membalikkan badan dan memeluk guling lebih kencang.

“Jemput adekmu pramuka.”

“Gak mau.”

“Di rumah gak ada siapa-siapa selain kamu.”

“Mama?”

“Sibuk ngurus dedekmu, mau kutinggal dengan Sasa?”

Serumah dengan bayi berumur satu bulan yang bisanya cuma makan-berak-nangis, kamu memilih bangkit dengan malas. Masih sangat kesal, seolah dunia sedang berkonspirasi untuk memojokkanmu ke sudut derita.

Di depan gedung SMP adikmu, kamu menunggu. Tapi sampai setengah jam berlalu, dia masih belum muncul. Bangsat! Kamu memaki-maki kembali, benci menunggu dan duduk seperti orang dungu.

Kamu akhirnya pasrah dan memilih menonton kenyataan yang disuguhkan dunia kepadamu. Tukang Bakso, Tukang Gorengan, Penjaja CapCin (Cappucino Cincau KW-sekian), dan bocah-bocah ingusan yang baru pulang eskul.

Sejenak, kaca spionmu menangkap satu bayangan. Bapak-bapak yang menjadi Tukang Bakso. Ia menunggu dengan sabar di depan gerbang, terlihat jemu dan bosan pada hidup. Berkali-kali ia bolak-balik dan mengelap mangkok-mangkoknya. Kadang bahunya turun, diiringi wajah lesu dan desah yang kamu tahu, pasti terasa sangat berat.

“Syukur kamu bisa sekolah tinggi. Dulu nenek-kakekmu cuma sampai SD, makanya miskin.”

Perkataan Mamamu saat kamu mengeluh lelah sekolah terngiang. Mendadak, kamu bergidik ketakutan. Andaikata kamu lulus sekolah dengan nilai pas-pasan, kemudian susah mendapatkan kerja karena semua sudah diembat teman-teman rajinmu. Kamu hanya akan jadi bawahan yang diperbudak di bawah gaji standar. Melakukan hal yang sama setiap hari dan mati dengan bosan.

Kamu tidak mau!

Bagimu, bersyukur itu bukan menikmati apa yang kita miliki dengan ikhlas. Tapi kelegaan dan kesenangan diam-diam saat melihat orang lain lebih menderita daripada dirimu.

“Untung nilaiku tuntas semua.”

“Wah, Bahasa Indonesiaku paling tinggi.”

“Matematikaku di atas garis kuning.”

“Njir, dikit lagi lewat rata-ratanya.”

Mungkin di antara mereka ada yang melihat nilaimu dan diam-diam lega ternyata masih ada yang nilainya lebih busuk di dasar sana. Sekarang kamu yang merasa tertekan. Kamu berada di bawah garis aman, garis yang selama ini kamu damba untuk dilewati. Setidaknya untuk membuktikan bahwa apa yang kamu pelajari di sekolah dan les tidaklah sia-sia.

Paru-parumu kembali koyak, setiap detakan yang jantungmu buat hanya menambah sakit luka yang kembali merekah. Tetes itu pun jatuh, rasanya asin dan meluncur begitu saja ke ujung bibirmu. Cepat-cepat kau tutup helm-mu, berharap cengeng itu tersamarkan kaca gelapnya.

Tepat saat itu terjadi, adikmu keluar dari dalam gerbang. Wajahnya sumringah, dadah-dadah dengan teman sebayanya. Ia begitu bahagia dan hidup. Tangismu semakin menjadi, erat-erat kamu gigit bibir bawahmu supaya tidak berteriak pedih.

Sore kian retak, bersama jingga yang menggelap ke pembaringan barat.

Kamu memilih mengurung diri di dalam kamar. Orang tuamu khawatir, kemudian menanyaimu mau bergabung untuk makan malam atau tidak? Malas, jawabmu. Lalu kembali menyembunyikan wajah di balik bantal.

Setelah salat maghrib kamu menangis kembali. Kesal pada dunia juga dirimu sendiri. Setelah lama reda, kamu keluar kamar. Ke dapur, lalu membuka tudung makan, ada sepotong ikan. Tapi saat memeriksa nasi, benda itu telah ludes tak bersisa.

Pedih menguar ke kedua matamu, seperti mengupas bawang yang tidak ada habis-habisnya. Kamu kelaparan, dan sekarang tak ada yang tersisa untuk dimakan kecuali sepotong tongkol yang durinya besar-besar.

Matamu sudah berair.

“Kalau mau makan, beli keluar.” Mendadak Mamamu muncul dari belakang.

“Sekalian isi bensin motor,” sambungmu menjawab Mama yang tahu kamu tengah meratap di dapur sambil memegang tutup panci.

Setelah mengambil uang cepat-cepat (malu ketahuan nangis) kamu pun pergi. Udara malam amat dingin, tapi masih kalah beku dengan hatimu sekarang. Kamu sibuk menghapus air mata sedari keluar rumah, tahu bahwa hal begini akan diketahui orang banyak. Kamu pun memilih mengisi bensin di tempat remang-remang. Setelah terisi, kamu keliling kompleks sampai air matamu kering dan bisa mampir ke warung yang pencahayaannya terjamin.

Saat pulang, kamu tidak membawa nasi goreng atau gado-gado atau mi ayam atau tahu tek. Hanya dua bungkus indomie rasa original goreng. Entahlah, kamu sendiri bingung kenapa ingin memasak air dan membuat teh manis.

Sambil memakan mi dan menyeruput teh, kamu melamun kembali. Hening dan sendiri, di dapur bersama beberapa cicit tikus yang beradu kawin.

Asin mi masih belum bisa menyamarkan asin yang suka tidak sengaja tercecap bibirmu. Manisnya teh pun sama sekali tidak mampu menutup pahit di dadamu. Kamu hanya duduk menatap sajian makan malammu, prihatin pada gizi yang terkandung di dalamnya tidaklah cukup untuk menghadapi dunia.

Kamu kembali menenggelamkan kepala di bawah lipatan tangan. Menyembunyikan sesenggukan dan merutuki dirimu yang sendiri. Kecewa berat pada usaha berbulan-bulan yang ternyata tidak membanggakan sama sekali.

Kamu benci harus mengejar prestasi, kamu benci harus mengejar nilai. Kamu sebenarnya suka belajar, tapi itu pun belum cukup. Dunia selalu menuntut lebih, menyamaratakan kemampuan setiap individu dan menerapkan kebijakan yang bagi orang-orang lemah sepertimu sangatlah menyesakkan.

Setiap hari kamu makan hati, tidak berdaya bila yang lain sudah pamer nilai. Menjadikanmu objek rasa “syukur” mereka. Kamu ada untuk ditaruh di garis kuning dan disyukurin bersama.

Tangisanmu semakin menyakitkan.

Kamu sudah benci dengan sekolah, tulus dari dasar hatimu yang paling dalam.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at Filosofi Syukur Anak Esema (1 year 29 weeks ago)
100

:)

Writer nusantara
nusantara at Filosofi Syukur Anak Esema (1 year 29 weeks ago)
100

:)

Writer nusantara
nusantara at Filosofi Syukur Anak Esema (1 year 29 weeks ago)

:)

Writer nusantara
nusantara at Filosofi Syukur Anak Esema (2 years 41 weeks ago)
100

SAYA MINTA PAHAMI KEADAAN SAYA, PEMBERITAAN YANG TIDAK BENAR MEMBUAT SAYA TAMPAK BURUK SEGALA-GALANYA.
PADA DASARNYA MASALAHNYA SEDERHANA, SAYA DIINTIP DAN SAYA MEMAKI YANG NGINTIP. ITU HAL WAJAR YANG DILAKUKAN SIAPAPUN KETIKA MERESPON PERISTIWA DI-INTIP.
SEANDAINYA, SEKALI LAGI, SEANDAINYA SEORANG DIN SYAMSUDIN YANG NGINTIP YA PASTI AKAN SAYA MAKI HABIS-HSBISAN. TAPI TIDAK LAMA. HANYA MELUAPKAN KEKESALAN SAJA.
PARA ULAMA MENGAJARKAN TENTANG ZINA MATA, YANG TIDAK BOLEH DILAKUKAN. SAYA BERTAHUN-TAHUN MEMPERTANYAKAN KENAPA MENGINTIP SAYA ITU ORANG DAN TYIDAK MASUK KATEGORI ZINA MATA. ANEH???
SAYA BUKAN ORANG SOK SOLEH, MEMANG BELUM SOLEH. JAUH BANGET. TAPI JANGAN SEGALA-GALA DIGAMBARKAN PENUH KEBURUKAN. BILA SEANDAINYA SEORANG PRESIDEN, INGAT YA SEANDAINYA, BILA SEORANG PRESIDEN PUN SEANDAINYA NGINTIP SAYA YA AKAN SAYA MAKI LAH. HADUH. PUSING SAYA. HAHA.
RUMAH SAYA DIKAMERA DAN KELUARGA SAYA TIDAK PERCAYA. INI KETERLALUAN. YANG NGAMERAIN RUMAH SAYA, MAKSUDNYA.
BILA ADA ULAMA, SEANDAINYA ADA YANG MEMBOLEHKAN DAN MEMBIARKAN HAL ITU YA SUDAH JELAS ULAMA HITAM YANG MUNAFIK. MUNAFIK. BERZINA NAMANYA. ZINA MATA. APAKAH RUMAH SAYA BENAR-BENAR DIKAMERIN ORANG TAK BERTANGGUNG-JAWAB???
MENGAJARKAN JANGAN ZINA MATA TAPI MELAKUKAN ZINA MATA. MEMBODOHI DIRI ITU NAMAYA.
APAKAH RUMAH SAYA BENAR-BENAR DIKAMERAIN ORANG TIDAK BERTANGGUNG-JAWAB UNTUK MEMPERMALUKAN, MENJAHATI, MENZHALAMI???
APAKAH BENAR-BENAR ADA ITU??
S O S
S O S
HELP ME OUT.....
KEADAAN INI MEMBUAT SAYA FRUSTRASI, FRUSTASI, YA BEGITULAH.....

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Filosofi Syukur Anak Esema (1 year 35 weeks ago)

Mas, Mas sehat? Mas gak kenapa-kenapa kan? Mas tidak sedang delirium, halusinasi, atau melampiaskan sesuatu 'kan?

Soalnya capslock semua, dan saya bacanya kayak orang lagi orasi tapi salah tempat :( --bingung

Writer nusantara
nusantara at Filosofi Syukur Anak Esema (2 years 41 weeks ago)
100

jangan marah ya, saya mau komen takut dibilang sok tahu, atau menghina tulisan orang. hehehe. tapi komen saja lah...
ada yang kurang sedikit, soal...
apa ya....
apa ya....
udah gitu aja lah.
hehe.
bagus bangedh..

Writer daniswanda
daniswanda at Filosofi Syukur Anak Esema (3 years 6 weeks ago)
80

Rasa-rasanya saya tau ini gayanya ngikutin siapa. Di awal kayaknya uda sukses sih. Tapi ke belakangnya mulai nggak dapet pengandaiannya. Malah agak ngebingungin.
.
Pemakaian PoV2 juga kurang...apa yah...kayaknya agak kurang pas aja buat cerita ini. Tapi memang saya blum nemu PoV2 yg pas banget sih. Mungkin karena pemakaian "kamu/kau" itu masih janggal buat sayanya. Lebih enak PoV1 atau PoV3 aja.
.
Dah itu aja.
Salam Super

Writer kartika demia
kartika demia at Filosofi Syukur Anak Esema (3 years 6 weeks ago)
90

Udah baca yang sebelumnya dan ini sih, tapi untuk pov-2nya. Hm.. 'narator tak bisa merasakan isi hatimu' . Inget itu aja sih.
Ebi-nya perlu diperhatikan lagi. Kapital untuk mama hanya boleh kapital jika sapaan atau diikuti nama.

Writer The Smoker
The Smoker at Filosofi Syukur Anak Esema (3 years 6 weeks ago)
70

Apa ya...
Nggak kelar sii bacanya,
Tapi baca yg ini meski nggak rampung gw jadi tau apa bedanya tulisan karya lu sama gaya yg lu coba tiru. Makasih udah ngingetin. Bukan masalah berhasil apa nggak sii, tapi balik lagi ke kepuasan lu pas kelar nulis ini : dengan segala bacotan kayak gitu, dan cara melontarkannya juga. Lu puas? Kalo puas, udah kelar berarti.
.
Dan ini yg penting: kalo lu anggap nirunya masih gagal, makanya jangan cuma sungkem doang, kasih no telepon cewek kek, yg bohai, atau kasih jampi2 kek biar bisa melet Vinegar :v
Ngahaha.... :v :v

Writer xenosapien
xenosapien at Filosofi Syukur Anak Esema (3 years 7 weeks ago)
70

Sampai sekarang tulisan yang pake POV orang kedua kayak gini selalu bikin aku merasa seperti dituding atas segala hal yang tidak pernah kulakukan. XD
.
Tapi, cerpen ini sukses bikin aku tersenyum iba dan membacanya sampai selesai (meski tetap rasanya seperti dituduh habis-habisan). ^^7

Writer Grande_Samael
Grande_Samael at Filosofi Syukur Anak Esema (3 years 7 weeks ago)
70

Hahaha ceritanya seperti curhat tapi pakai narasi yang disastrakan. Antara serius dan geli.