Pedang Raja Vampir - Chapter 1

Leraschap, kota di Republik Draavik yang terkenal akan para pelajar dan penemu-penemu ulung. Tengah ramai-ramainya siang itu, meskipun salju tipis menutupi jalanan dan atap-atap bangunan. Apalagi ditambah panggung kampanye dari Partai Republik yang di tengah-tengah plasa komplek pertokoan itu. Menjadikan daerah ini semakin bising.

Dari salah satu toko roti, aku melihat kampanye itu dari kejauhan sembari menunggu roti gandum isi coklat pesananku.

“Tuan, semuanya 10 Glish,” Ucap pelayan toko roti itu dengan membawa sekantung roti gandumku.

“Oh,” aku terkejut karena sebelumnya aku berkonsentrasi melihat kampanye Partai Republik, “Sekalian tambah segelas kopi.”

Tak lama pelayan toko itu meninggalkanku dan kembali membawa segelas kertas kopi panas, “Ditambah kopi jadinya 12 Glish.” Tak lama aku pun langsung menyerahkan uang yang dibutuhkan untuk belanjaanku, dan segera meninggalkan toko roti itu.

Sembari berjalan dan menikmati kopiku sedikit demi sedikit. Aku tetap memandangi panggung kampanye itu. Entah mengapa seseorang di panggung itu aku serasa mengenalnya, namun aku tetap lupa siapa orang itu.

Dari kejauhan terdapat suara wanita yang memanggilku.

“Professor Doyle!” Tegur suara itu.

Aku menoleh ke sumber suaraitu, kulihat ternyata adalah seorang wanita berrambut pirang dengan kacamata ber-frame tebal, Professor Helena Eldern. Dahulu sekali dia pernah menjadi asisten di labku.

“Tak kusangka Professor suka menonton kampanye pemilihan Senat Negara,” kata Professor Eldern sembari melempar senyum kepadaku.

“Ah, enggak, aku hanya tertarik dengan pembawa acara berrambut perak itu, sepertinya mirip dengan seseorang yang aku kenal tapi aku lupa siapa,” jawabku.

“Oh dia… hmm… hei… bukannya dia mirip Nicolas, Adikku yang jadi asisten di labmu Professor Doyle! Oh iya, aku juga baru saja mau ke lab mu, Bagaimana dengan Nicolas?”

“Aku sudah memecatnya empat bulan yang lalu,” kataku sembari beranjak. Walaupun aku memecatnya karena kesalahannya, rasanya tidak menyenangkan sekali bertemu dengan kakaknya dan mengingatnya. Karena ulah Nicolas empat bulan lalu, penelitianku justru mengalami kemunduran.

“Hey… kenapa Nicolas kau pecat?” Sebuah pertanyaan yang membuatku sungkan diucapkan mantan asistenku ini.

Dengan kesal kuhembuskan nafas dan menjawab pertanyaannya, “Sebelumnya maaf, tapi adikmu telah merusak catatan penelitianku dengan menumpahkan botol tinta. Ketika dia sedang bercinta dengan wanita entah dari mana di labku, ketika aku sedang keluar membeli roti gandum. Dan karena itu aku harus memperbaikinya sendiri selama sebulan. Dan itupun juga tidak bisa selengkap sebelumnya.”

Professor Eldern seperti tercengang melihatku. Tanpa berpikir panjang lagi aku langsung meninggalkannya. Namun dia kembali mengejarku dan berjalan di sebelahku.

“Ya, tapi kan, tidak harus dipecat segala!”

“Begini ya, sekitar lima puluh persen dari catatan itu aku dapatkan dari Bagian Terlarang Perpustakaan Kuil Besar Dewa Sephiron. Dan kau pasti tahu berapa lama mengurus izin masuk Bagian Terlarang itu, Dua tahun lamanya. Dan sekalinya kita keluar,kita harus mengurus ulang izin yang baru untuk masuk lagi. Sekarang kau pahamkan?” Dengan nada sedikit jengkel karena mengingat itu. Aku sendiri sedikit bisa melupakan Nicolas karena kesibukanku ini tanpa asisten beberapa bulan ini.

“Emm… aku minta maaf soal perbuatan Nicolas, karena bagaimanapun aku yang telah menawarkannya pada Professor, kalau begitu apa Professor tau di mana Nicolas berada?” Tanyanya sambil berjalan.

“Bukannya dia sudah pulang ke kamar sewamu di sini, atau ke rumah kalian di Desa Groenveld?” Aku justru berbalik keheranan.

“Tidak, dia tidak ada di Groenveld, ini orang tua kami mengirimiku surat yang baru datang kemarin. Dalam surat ini orang tua kami bilang Nicolas tidak pulang ke Groenveld seperti yang biasa dia lakukan. Mereka mencemaskan Nicolas, namun karena tidak tahu alamat lab Professor akhirnya mereka mengirimkan surat ini ke kamar sewaku di sini,” katanya sambil menunjukkan surat dari orang tuanya yang dibawa.

“Sini coba kulihat,” aku menukar kantung roti yang kubawa dengan surat orang tua Professor Eldern. Sembari terus berjalan, kuperhatikan surat itu dengan seksama.

Helena sayang, bagaimana kabarmu? Semoga kamu baik-baik saja di sana.

Helena, apakah Nicolas sedang sangat sibuk sekali sekarang? Biasanya Nicolas pulang setiap dua bulan sekali. Bulan 8 dan bulan 10 lalu Nicolas tidak pulang kesini. Bisakah kau mencari tahu untuk kami bagaimana keadaan Nicolas?

Kami sangat khawatir karena tidak ada kabar darinya akhir-akhir ini.

Sesaat setelah membiarkanku membaca surat dari orang tuanya. Professor Eldern memohon kepadaku, “Prof, bisakah kau membantuku mencari Nicolas? Saya tahu Professor cukup baik dalam hal ini.”

Sejenak diriku berpikir. Di satu sisi aku sibuk dengan penelitianku, tapi di sisi lain aku juga merasa bersalah karena aku memecat Nicolas empat bulan yang lalu. Sembari berpikir kuhabiskan dahulu kopi di gelasku.

“Sebelumnya, apa kau sedang tidak sibuk akhir-akhir ini?” Tanyaku.

 “Ah tidak, penggalian di Gunung Partage sedang dihentikan sekitar sampai pertengahan bulan 2 nanti.”

“Nah bagus, dengan ini kita bisa saling menguntungkan. Selama aku ikut membantu mencari adikmu, kau bantu aku dengan menjadi asistenku sementara di lab, bagaimana?”

“Baiklah, toh aku juga tidak sibuk sampai bulan 2 nanti,” Professor Eldern sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Tentu saja aku sambut tangannya.

Tak terasa perjalanan kami berdua telah sampai di depan gedung tempat labku berada. Gedung sederhana yang memiliki tiga lantai dengan lorong anak tangga di bagian kanan untuk menuju lantai 2 dan 3.

“Apa kau mau mampir ke tempat lamamu ini?” Tanyaku.

“Tentu, sekalian aku ingin melihat seberapa jauh sudah penelitian Professor mengenai bangsa Vampir.”

Langsung saja kami menaiki tangga menuju lantai 2, di mana labku berada. Di depan pintu bertuliskan “Lab. Prof. Eruniel Doyle, yang tidak berkepentingan dilarang masuk,” kami berhenti dan memasukinya. Ruanganku ini tidaklah terlalu besar, banyak buku-buku sejarah berserakan dan sedikit berlapis debu. Kertas-kertas salinan buku-buku penting pun juga berserakan di mana-mana. Botol-botol cairan kimia untuk menguji  dan membersihkan artefak pun bisa dilihat dimana-mana.

“Huah, semakin parah dari pada terakhir aku ke sini, seharusnya Professor segera menikah saja sana, umur Professor sudah kepala 3 lho,” protes Professor Helena.

“Masih 32, lagian aku masih sibuk dengan penelitian ini,” aku sedikit sewot menjawabnya.

“Ya ya ya, jadi sudah sejauh apa memangnya penelitian vampirnya Prof?” Tanya Professor Eldern sambil langsung duduk di sofa yang ada di dekat pintu masuk.

“Sebelum itu apa kau masih ingat asumsi kita ketika terakhir kali masih bekerja di sini?”

“Tentu saja, dari beberapa refrensi yang kita dapat di Perpustakaan Universitas dan di Perpustakaan Negara, vampir adalah makhluk kegelapan seperti halnya dark elf di dunia elf, sehingga mereka takut akan benda-benda suci seperti perak, atau air suci dari kuil-kuil.”

“Hmm… hmm…,” dengungku mengiyakan pernyataan Professor Eldern Sembari membuatkan coklat panas untuknya.

“Tapi, bukannya bisa dibilang semua penelitian ini selalu tidak menemukan kemajuan sedikit pun dari poin ini. Maksudku begini, tidak ada satu pun petunjuk untuk kemajuan penelitian, seperti setiap semua orang yang dianggap tahu sejarahnya, refrensi, atau bahkan artefak mengenai vampir selain itu.”

“Benar sekali, namun itu adalah kondisi pada saat dirimu terakhir di sini!” Sembari mengacungkan sendok yang kugunakan untuk menunjuk Professor Eldern.

“Heh! Bagaimana selanjutnya memangnya Professor?”

“Sebelum itu, selain masalah vampir ini, di dunia ini, apa lagi yang masih menjadi pertanyaan besar bagi kita?” Aku datang sambil menenteng dua gelas coklat panas. Saat itu kulihat Professor Eldern seperti mengerutkan dahinya dan berpikir keras.

“Jawabnya adalah, alasan kenapa tahun kita disebut tahun setelah pembaharuan,” kataku sambil menaruh gelas coklat panas untuknya.

“Iya kau benar Prof! Sampai saat ini kita hanya tahu bahwa pada saat itu manusia di muka dunia erde ini telah diperbaharui hidupnya oleh Dewa Sephiron. Namun diperbaharui dari apa? Kita juga tidak tahu dan seakan lupa. Tapi, memangnya ada hubungannya masalah penamaan tahun ini dengan bangsa vampir?”

Setelah meminum sedikit coklat panas dari gelasku, aku tersenyum dan menjawabnya, “Memang kalau secara sepintas saja tidak nampak hubungannya. Tapi kalau dipikir-pikir ulang bukannya ada kemungkinan bahwa bangsa vampir ini hidup di zaman sebelum pembaharuan ini. Jadi inilah yang mendorongku ke Bagian Terlarang Perpustakaan Kuil Besar Dewa Sephiron. Dan, benar! di sana, tebak apa yang aku temukan?”

 “Tentu saja aku tidak tahu, aku kan tidak ikut,” protes Professor Eldern, “Jadi apa dong yang sudah Professor temukan?”

“Dari beberapa catatan para Pendeta Tertinggi, memang benar, bangsa vampir itu pernah menjadi penghuni muka dunia erde ini. Dalam catatan tersebut diceritakan bahwa pada mulanya Dewa Sephiron menciptakan manusia sebagai penghidup dunia di waktu siang, sementara vampir adalah penghidup dunia di waktu malam, tentunya sebenarnya mereka tidak ada pengaruh apapun dengan air suci. Namun tetap ada sebuah aturan yang diberikan Dewa Sephiron kepada manusia dan vampir, yaitu dilarang untuk memakan daging atau meminum darah manusia bagi vampir. Begitu pula sebaliknya bagi manusia.”

“Jadi kita sebelumnya hidup berdampingan dengan vampir?”

“Yap benar sekali.”

“Tapi, kenapa semua vampir menghilang? masih ada lanjutanya kan?” kulihat Professor Eldern seperti bersemangat melihat kemajuanku ini.

“Tentu saja, menurut catatan yang kutemukan, para vampir pada awalnya tidak sengaja meminum darah manusia yang sedang terluka. Dari ketidak sengajaan itu mereka seperti menemukan makanan terlezat bagi bangsa vampir. Pada awalnya mereka masih bisa menahan karena teringat dengan perintah Dewa Sephiron. Namun karena godaan nafsu yang terus melonjak, mereka akhirnya mulai menjadikan manusia sebagai bagian makanan mereka. Awalnya mereka melakukannya secara sembunyi-sembunyi, namun kemudian mereka menjadi berani dan terang-terangan. Bahkan kondisi terburuk saat itu seakan manusia menjadi ternak bagi para vampir.”

Professor Eldern kulihat sampai menelan ludah ketika ketika mendengar apa yang kututurkan. Aku pun tak heran, karena bagian sejarah dunia ini yang cukup kelam. Bahkan dia sampai tak berkedip untuk beberapa saat ketika mendengar ceritaku ini.

“Tentu saja kondisi ini membuat Dewa Sephiron marah, sehingga mengutus keempat valkyrie-nya, Feurose, Eaulipes, Soultur, Vennlit untuk menghukum bangsa vampir. Melihat bangsanya dibantai oleh keempat valkyrie, Raja Vampir memohon pada Dewa Sephiron agar bangsanya diampuni dan tidak dimusnahkan. Tentunya doa Raja Vampir dikabulkan dengan catatan mereka akan hidup terpisah dengan manusia. Akhirnya daratan ini dibagi menjadi dua. Sebagian untuk bangsa vampir, dan sebagian lain lagi untuk manusia. Bagian keduanya dipisah oleh penghalang yang tak mungkin ditembus oleh peradaban masa itu.”

“Jadi, vampir ini masih ada? Dan berada di bagian dunia yang terpisah dari tempat kita tinggal ini?” Kulihat Professor Eldern begitu bersemangat dengan kemajuan yang telah kucapai ini.

“Tidak, memang setelah itu kehidupan manusia dan vampir sempat kembali normal walaupun terpisah. Tetapi rasa candu dari menikmati daging dan darah manusia masih sangat membekas dalam bangsa vampir. Sehingga mereka berusaha untuk menembus pemisah yang menjadi batas antara wilayah manusia dan wilayah vampir. Mengetahui usaha bangsa vampir ini, membuat Dewa Sephiron kembali marah, dan mengutus kembali keempat valkyrie-nya untuk memusnahkan semua vampir tanpa tersisa. Dan saat itu pula Dewa Sephiron memperbaharui ingatan manusia, semua ingatan tentang vampir dihapus untuk menghilangkan rasa takut bagi manusia.”

“Hebat, benar-benar tak kusangka sudah sejauh ini penelitianmu, tapi tentu saja jika hanya mengandalkan catatan para Pendeta Tertinggi ini, kurasa masih sangatlah kurang untuk bisa diajukan ke Universitas. Yah, masih kurang alat bukti lain yang bisa menjelaskan kenyataan penemuanmu ini.”

“Bagaimana? menarik bukan?” kataku sambil mulai meminum coklatku yang sudah tidak terlalu panas karena terlalu lama bercerita.

“Tentunya, benar-benar menarik sekali. Tapi sebaiknya, sebelum kita memulai semuanya, alangkah baiknya jika ruangan ini dirapikan terlebih dahulu,” kata Professor Eldern sembari bangkit dari tempat duduknya dan melakukan beberapa gerakan peregangan otot.

“Hahaha, kau benar Prof.”

Kami berduapun menghabiskan sisa coklat yang sudah tak terlalu panas di gelas kami, dan segera memulai membersihkan labku ini yang sangat berantakan. Aku mengumpulkan dan menata botol-botol cairan kimiaku. Sementara Professor Eldern membereskan segala kertas-kertas yang berserakan di seluruh labku.

“Prof, apa kau pernah terpikir untuk pindah dari sini?” Kata Professor Eldern sambil melihat beberapa lembar kertas yang dipegangnya.

“Sama sekali tidak, kenapa?”

“Oh, kukira kau sempat terpikir untuk memindah labmu ini, jarang sekali soalnya kulihat Professor mengambil brosur sewa ruangan,” katanya sambil melambaikan beberapa helai kertas.

“Tunggu!” Kataku sambil mendekat ke Professor Eldern. Kuambil dan kuamati brosur-brosur sewa ruangan itu. Namun aku tidak ingat sama sekali pernah mengambil brosur-brosur tersebut. Pada awalnya aku tidak merasa heran dengan brosur itu. Namun tiba-tiba terpikir di kepalaku jika brosur itu bukan aku yang membawa ke ruangan ini, maka yang membawanya pasti hanya Nicolas, wanita yang dibawa Nicolas, dan Professor Eldern sendiri.

“Prof, itu bukan kau yang membawanya kan?” Aku berusaha memastikan.

“Bukan, aku baru saja menemukannya di bawah meja dekat jendela itu,” katanya sembari menunjuk meja tersebut. Ingatku memang itu adalah meja yang biasa dipakai Nicolas untuk bekerja. Kulihat lagi kertas itu bekas debu yang begitu membekas. Serta terdapat bekas tumpahan coklat yang sudah kering. Aku ingat sekitar tiga bulan lalu aku meminum coklat panas dan menumpahkan sedikit di sekitar mejanya Nicolas.

“Ya, kau benar, ini sudah lama sekali ada di bawah meja ini, jadi kemungkinan yang membawa brosur ini adalah Nicolas atau wanita yang bersamanya itu. Kalau begitu ada kemungkinan Nicolas menyewa suatu ruangan di Leraschap.”

“Nicolas ada di Leraschap?!” Sontak Professor Eldern terkejut.

“Hanya anggapanku saja, namun kemungkinannya tetap ada. Sini aku pinjam brosur itu,” Kataku sambil merebut brosur itu dari tangan Professor Eldern. Kemudian aku bergegas mengambil mantelku.

“Mau kemana kau Prof?” Tanya Professor Eldern.

“Aku akan mengecek ruangan-ruangan ini untuk mencari  Nicolas, kau bantu aku melanjutkan membereskan labku ini. Jika sudah selesai namun aku belum kembali dan kau akan pulang, Nanti kau taruh saja kuncinya di bawah keset di luar pintu depan, bisa kan?”

“Tentu, tapi aku mau…” belum selesai Professor Eldern menyelesaikan ucapanya dengan segera aku meninggalkan labku itu.

 

-bersambung...-

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
70

Idenya udah ada tapi deskripsi kurang, apalagi ini fantasi.

Writer lost_boy
lost_boy at Pedang Raja Vampir - Chapter 1 (2 years 17 weeks ago)

baru bales...

abis lama ga bisa OL
hmm... masih kurang ya... ntar chapter 2nya coba kubenerin dah buat deskripsi...