Pengunjung Kamar 315

Kamar 315

 

Aku membaca tulisan di atas secarik kertas yang diberikan atasanku beberapa detik yang lalu. “Kau saja yang pergi,” katanya, meski aku baru saja kembali sementara masih ada dua pegawai lain di ruangan yang sedang bersantai-santai. Jujur saja, aku tidak mau mengeluh. Kalau atasanku yang menyuruhku langsung, aku sudah dapat menduga siapa yang akan kutemui nanti. Orang yang sama, yang sudah datang ke hotel ini tiga kali dalam sebulan terakhir.

 

Aku merapikan pakaian seragamku—berupa rompi dengan berdominan warna merah yang menutupi kemeja lengan panjang berwarna putih—sebelum mengetuk pintu kamar berbahan kayu dengan pelat yang bertuliskan angka “315” tertempel sejajar di depan mataku.

 

Tok, tok, tok...

 

Ketukan tiga kali pada pintu kamar pengunjung sudah merupakan standar di hotel ini. Aku tidak begitu tahu apakah di hotel lain pun mempunyai standar yang sama. Aku tidak ambil pusing. Asalkan aku mengikuti arahan atasanku sewaktu pelatihan dulu, kurasa tidak akan ada masalah.

 

Hanya berselang—mungkin—empat detik, kudengar suara kunci berputar di dalam lubang kunci. Dua kali, dan sedetik kemudian, pintu kamar itu pun terbuka. Dari balik pintu itu kutemukan kau berdiri, masih berambut ikal pendek berwarna hitam kecokelatan yang serasi dengan warna kulitmu yang juga agak kecokelatan seperti habis berjemur. Kau mengenakan gaun pendek berwarna kuning kejingga-jinggaan yang begitu pas dengan postur tubuhmu yang tak terlalu kecil. Mungkin itu gaun pesanan, seperti yang biasa dipakai oleh para selebriti yang kulihat di televisi. Meski sudah di dalam kamar, kau masih mengenakan sepatu berhak yang cukup tinggi. Padahal, tanpa sepatu yang menjadi tumpuan di kakimu itu pun kau sudah sedikit lebih tinggi dariku.

 

Kuperhatikan sekali lagi, kau tak banyak berubah sejak pertama kali kita bertemu. Kau selalu membuka pintu dengan ekspresi wajah yang tak ceria. Cukup wajar sih kalau mengingat alasan kenapa kau berulang kali datang ke hotel ini. Untuk malam ini pun aku mengasumsikan kau datang dengan membawa masalah yang sama.

“Ada yang bisa saya bantu, nyonya?”

 

Prosedur, prosedur... Aku mengulangi kata “sakti” itu di kepalaku. Pengalaman setelah tiga kali bertemu denganmu sesungguhnya sudah cukup meyakinkanku bahwa aku tak perlu melemparkan pertanyaan dalam buku pedomanku itu lagi. Apa yang kau inginkan setiap kali memanggil layanan kamar tidak pernah berubah. Tapi, setidaknya dengan melontarkan pertanyaan itu aku bisa menghilangkan kecanggungan yang muncul meski hanya beberapa detik tadi. Lagi pula, aku harus mengikuti prosedur yang sudah diajarkan padaku jika ingin tetap bekerja di hotel ini.

 

Tanpa menjawab apa-apa, dengan cepat kau menarik kerah kemeja putihku, menyeretku melewati pintu yang saat ini tengah bergerak menutup karena dorongan salah satu kakiku. Dalam sekejap suara bedebam pun terdengar cukup keras. Kurasa aku mendorongnya terlalu kuat. Tapi, aku sudah tak peduli dengan suara pintu itu karena kini pikiranku terfokus pada wanita yang tengah melahap bibirku dengan penuh hasrat. Kau memainkan lidahmu di dalam mulutku selagi kau menendang sepatu hak tinggimu ke sisi lain ruangan sehingga tinggi badan kita tak lagi terpaut jauh. Kau melingkarkan kedua lenganmu di leherku dengan kedua mata yang terpejam. Aku pasrah dengan apa yang kauinginkan dariku. Lagi pula, apa yang kauminta setiap malam selalu sama.

 

Kedua tanganmu kini beralih melepaskan kancing-kancing rompiku dan membiarkannya jatuh tergeletak begitu saja di lantai sementara kedua tanganmu sudah menyusuri bagian dalam kemejaku. Kurasakan hangatnya sentuhan kulitmu itu, menggerayangi sekujur tubuhku. Aku mencoba membalas, namun tiba-tiba kau berhenti... sesaat sebelum mendorong jauh kepalaku dan menundukkan kepala.

 

Kau menghela napas panjang lalu mendongakkan kepala. “Malam ini aku hanya ingin mengobrol.”

 

Kau berjalan pelan menuju kursi di sudut ruangan, bersebelahan dengan sebuah meja kecil dan jendela yang tertutupi oleh gorden cokelat. Kau mengambil sebatang rokok dari sebungkus penuh rokok yang ada di meja, menyalakannya dan duduk di kursi.

 

“Aku boleh merokok di kamar kan?” katamu setelah mengembuskan asap pertama.

 

“Seharusnya tidak,” kataku sambil menunjuk pada tulisan yang tertempel pada pintu kamar. “Sebaiknya kubuka jendelanya.” Aku menyibakkan gorden ke masing-masing sisi dan mengikatnya di sana. Kugeser pintu jendela persegi ini dan seketika itu angin malam berembus masuk ke dalam ruangan, menerbangkan sekumpulan asap yang mengudara dari ujung rokok di tanganmu.

 

“Akhirnya hari ini datang juga.” Kau menggeser sebuah map—yang di dalamnya terdapat selembar kertas berukuran folio—di atas meja mendekat, memutarnya sehingga dapat kubaca ketika berdiri di depan meja. Kertas itu memuat semacam perjanjian yang membutuhkan tanda persetujuan dari dua pihak, dengan salah sisinya sudah ditandatangani.

 

“Ia meminta bercerai darimu?” tanyaku tanpa mengalihkan pandangan dari surat perjanjian itu.

 

“Ya, seperti yang pernah kauperkirakan tempo lalu.” Kau kembali menghisap rokokmu sebelum mengetuk-ngetukkan ujungnya di pinggir jendela, membiarkan sisa pembakarannya terbang bersamaan dengan angin.

 

“Lalu, kenapa belum kautandatangani? Bukankah ini sesuai dengan harapanmu?” tanyaku seraya mengambil dua langkah menuju tempat tidur dan menduduki ujungnya.

 

“Dan membiarkannya menikahi perempuan tak berdosa itu?” Kau memberi jeda sejenak sebelum menjawab sendiri pertanyaanmu barusan. “Aku kasihan padanya.”

 

“Kau terlalu baik.” Pada kasus perselingkuhan biasa, sang pihak yang merasa terkhianati biasanya menjadi lebih egois dan sama sekali tak memiliki rasa empati pada pihak ketiga yang telah membuat retak hubungannya. Setidaknya itu yang selalu ada di pemikiranku selama ini.

 

“Suamikulah yang bermasalah. Pernah suatu kali aku menyaksikan secara langsung suamiku sedang bercinta dengan asisten rumah tangga kami,” katamu dengan santai sambil menghisap rokok yang sudah habis setengah batang.

 

“Dan kau diam saja?” tanyaku dengan intonasi yang agak meninggi, setengah tidak percaya.

 

“Kupecat perempuan itu. Apa kau tidak ingat saat pertama kali aku bermalam di hotel ini?”

 

“Tentu aku ingat.” Bagaimana mungkin tidak? Itu pertama kalinya aku menerima permintaan layanan kamar yang tidak biasa dalam dua tahun sejak aku pertama kali bekerja di hotel ini. “Tapi kau tak mungkin menerimanya begitu saja kan? Kau pasti punya rasa dendam atau benci pada suamimu.”

 

“Tidak logis jika aku marah padanya sementara aku sendiri tidur denganmu tanpa sepengetahuan dia.” Kau mengembuskan asap terakhir dan menekan-nekan ujung rokok yang sudah habis itu pada kisi-kisi jendela sebelum membuangnya ke luar jendela. Kau beranjak dari kursi dan berpindah ke sampingku. Kau merebahkan badanmu di kasur sementara kedua matamu menatap lurus ke langit-langit kamar. “Sekarang aku tidak tahu mau berbuat apa.”

 

“Aku mungkin bukan pemberi saran yang baik, tapi kurasa kautandatangani saja surat perceraian itu. Kau pantas mendapat lelaki yang lebih baik.”

 

“Kau berkata begitu bukan untuk merayuku kan?” Kita berdua tergelak saat kau mengucapkan itu. “Jangan sampai kau menyukaiku. Aku terlalu tua untukmu yang bahkan belum ‘berkepala tiga.’”

 

Harus kuakui, bagi wanita yang sudah di akhir umur empat puluhan, kau masih saja terlihat menawan. Kulitmu yang mulus, postur tubuh yang masih ideal, kurasa semua itu sepadan dengan seberapa banyak perawatan tubuh yang pastinya sudah kaulalui. Tak pernah terbersit sedikit pun di benakku bila aku menikahimu. Aku takkan sanggup membiayai semua keperluan duniawimu itu.

 

“Ah, aku baru ingat!” Kau berlonjak dari tempat tidur dan bergegas membuka pintu lemari pendingin kecil yang terletak di bawah meja televisi. Kau meraih sebuah botol dari dalamnya dan mengangkatnya tinggi—memamerkannya padaku. “Aku sempat membeli ini sebelum kemari.”

 

Spontan, aku berdiri dan menawarkan diri. “Biarkan aku yang—“ Belum selesai aku berbicara, kau sudah menyodorkan botol anggur bersumbat itu. Aku mengambil rompiku yang tergeletak di lantai dan merogoh ke dalam salah satu sakunya untuk mengambil sebuah pembuka botol anggur lipat yang selalu kubawa ke mana pun saat sedang bekerja. Kubuka gabus penyumbat di ujung botol dan menuangkan isinya ke dalam salah satu gelas yang ada di atas meja.

 

“Tuang juga untukmu. Aku beli untuk kita minum berdua.”

 

Aku menggeleng. “Tidak. Aku tidak biasa minum minuman beralkohol.” Sudah berulang kali rekan kerjaku menawariku saat mereka sedang minum-minum di waktu senggang, namun aku memang tak pernah tertarik untuk meminum minuman semacam itu.

 

“Sudah, kaucoba saja. Anggur yang kubeli ini tidak terlalu kuat kok.” Kau menggeser gelas anggur di depanmu itu mendekat padaku, memintaku untuk meminum isinya. “Sedikit saja,” kaubilang. Aku pun meraih gelas itu dan menyesap sedikit air yang berwarna merah pekat itu. Aku dapat merasakan rasa manis yang aneh menyebar di seluruh lidahku. Aku langsung meletakkan kembali gelas itu di atas meja dan menyesal karena telah meminumnya, tetapi kau malah tertawa saat melihat ekspresiku.

 

“Jadi, apa sudah kauputuskan?” tanyaku, mengubah topik.

 

Kau menghela napas. “Entahlah,” jawabmu singkat sebelum meneguk anggur di tanganmu., menyisakan sedikit noda pewarna bibir di ujung gelas itu. “Aku berharap dengan datang ke sini, aku dapat menemukan solusi—atau paling tidak bisa melupakannya sejenak.” Kau menengadahkan kepala dan memandang langit-langit. Aku tak bisa menebak apakah kau sedang berpikir, atau hanya ingin merehatkan kepala sejenak dari pikiran yang menumpuk di kepalamu itu.

 

“Kalau kalian bercerai, bagaimana dengan pembagian harta kalian? Anak?”

 

Mendengar pertanyaanku, kau mengembalikan kepalamu ke posisi semula dan kembali meneguk anggur di gelasmu itu. “Ah, kalau soal itu aku tak perlu pusing. Anakku sudah dewasa. Ia bisa mengurus dirinya sendiri. Soal harta? Lebih dari setengah harta kami menggunakan namaku. Lagi pula, selama ini akulah yang selalu bekerja keras.”

 

Penghasilan yang lebih besar dari suami? Aku tak sempat menanyakan apa pekerjaanmu dan sepertinya itu tak penting untuk dibahas saat ini. “Kalau begitu suamimu itu bodoh jika memilih untuk meninggalkanmu,” komentarku setelah otakku menerima penjelasan yang tidak logis ini.

 

“Karena itu aku tak tega membiarkan perempuan itu termakan bujuk rayu suamiku.”

 

“Tapi kau juga tak bisa membiarkan dirimu dimanfaatkan begitu saja!” Tanpa kusadari aku sudah berdiri dengan kedua kaki. Entah apa yang merasukiku sehingga mudah terbawa perasaan. Apa aku memang memiliki perasaan terhadapmu?

 

Kau juga ikut berdiri. Kau melingkarkan kedua lenganmu di tubuhku selagi kepalamu bersandar pada bahu kananku. “Sudahlah, tak usah kaupikirkan. Bukan kau yang harus membuat pilihan.”

 

Aku menghela napas. Kau benar. Untuk apa aku ikut campur dengan urusanmu? Aku kan hanya seorang pelayan yang sedang memenuhi panggilan layanan kamar dari seorang pengunjung hotel. Aku kembali terduduk di pinggir tempat tidur dan merebahkan tubuhku di atasnya. Kau pun ikut berbaring di sampingku, mengistirahatkan kepalamu di atas dadaku.

 

“Sepertinya, bagaimanapun juga aku memang harus menandatangani surat itu.”

 

“Atau...” Suaraku menggantung ketika solusi yang satu ini melintas di benakku. Aku tahu ini bukan solusi yang baik, tapi opsi ini juga bisa menjadi pereda segala permasalahan. “Kau bisa membunuhnya. Dengan begitu tidak ada lagi yang akan menjadi korban bujuk rayu yang keluar dari mulut suamimu itu.”

 

Dapat kurasakan kepalamu bergetar di atas tubuhku. Kau tertawa. “Kau pasti bercanda. Aku takkan sanggup melakukan itu. Seperti yang kaubilang tadi... aku terlalu baik.”

 

“Baiklah, aku menyerah. Maafkan aku jika malam ini aku tak bisa memberikan solusi atas permasalahanmu,” kataku dengan mata yang lurus menatap ke langit-langit kamar. Namun, dalam sekejap apa yang ada di hadapanku bukan lagi langit-langit kamar, melainkan wajahmu yang terasa begitu dekat denganku.

 

“Ah, aku kan tak pernah bilang kalau layanan kamar yang kuinginkan malam ini hanya menjadi pendengar curahan hatiku saja.” Setelah mengatakan itu, kau menciumku dengan lembut. Aku dapat merasakan manis dari anggur yang kauminum tadi di permukaan bibir dan lidahmu. Selagi pikiranku dibawa terbang oleh sentuhan lembutmu di bibirku, aku tak begitu menyadari bahwa tanganmu sudah melepas semua kancing kemejaku. Telapak tanganmu yang hangat kini kembali menari-nari di atas tubuhku. Malam itu kau tak mengucapkan apa-apa lagi sampai akhirnya kau pun terlelap dalam dekapanku di malam yang cukup dingin ini.

 

~ *** ~

 

Aku terbangun dan menyadari bahwa sinar matahari sudah menembus jendela kamar. Perlu sekitar sepuluh detik sebelum aku akhirnya tersadar bahwa aku tidak pernah menutup lagi jendela itu semalam, dan... aku kesiangan! Seharusnya aku segera kembali ketika panggilan layanan kamar yang diminta telah terpenuhi, bukannya malah ikut tertidur di kamar pengunjung. Semoga saja atasanku tidak marah, aku berdoa dalam hati selagi terburu-buru bangkit dari tempat tidur dan menyambar seluruh pakaianku yang berserakan di lantai.

 

Selagi mengenakan kembali pakaian seragamku, aku menyadari satu hal... kau sudah tidak lagi berada di kamar. Semua barang-barangmu sudah tidak ada, bahkan botol anggur yang kauminum semalam pun juga sudah menghilang dari atas meja. Yang tersisa di sana hanyalah gelas yang masih meninggalkan sedikit anggur di dalamnya dan surat perceraian yang sudah kautandatangani. Aku tidak begitu mengerti mengapa kau meninggalkan surat yang penting ini di sini, tapi satu hal yang kutahu pasti... kau takkan kembali lagi ke hotel ini.

 

~ *** ~

Fin

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Ginekologi
Ginekologi at Pengunjung Kamar 315 (1 year 3 days ago)

Belum baca sih. Kebanyakan. Jadi agak gimana gitu

Tapi, kalau baca dari judul. Sepertinya aku udah tahu ceritanya. Kayaknya cerita dewasa bukannya? Hehehehehe. Sorry kalau salah.

Bolehlah, sejauhnya tsnya suka bercerita virtual yang super panjang. Ok. Saya dukung mimin yang nulis ginian.

Writer Kuro_kaze@akiba
Kuro_kaze@akiba at Pengunjung Kamar 315 (1 year 7 weeks ago)
60

Wow, saya suka sekali dengan genre cerita seperti ini.
(maksudnya bukan genre cerita yang 'dewasa' ya :p)
Cerita yang membawa unsur dilemma itu selalu berhasil menarik perhatian saya. Love it!
Keep writing!

xoxo

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Pengunjung Kamar 315 (1 year 7 weeks ago)

Ah, makasih udah mampir~~

Writer 2rfp
2rfp at Pengunjung Kamar 315 (1 year 8 weeks ago)
70

menurut saya, ya hanya saya saja. detailnya terlalu dijelaskan. masih bisa dirampingkan dan dipadatkan. jujur penjelasan berlebihan yang tak perlu dan tak penting itu cukup mengganggu mood baca dan temponya. selebihnya bagus, tapi ada satu pertanyaan jika permintaan layanan kamarnya begitu menarik kenapa bosmu atau dua temanmu itu tak mau? :D

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Pengunjung Kamar 315 (1 year 8 weeks ago)

Karena pada kedatangan sebelum-sebelumnya si tokoh "kau" meminta untuk dilayani oleh pelayan kamar yang sudah pernah melayaninya aewaktu pertama kali datang, bos dan rekan kerjanya yang lain tidak bisa menilak meski si "aku" menceritakan layanan kamar macam apa yang diminta si "kau".
Tapi kurasa itu penjelasan yang berlebihan dan tidak penting.
Hehehehe... :D

Writer hidden pen
hidden pen at Pengunjung Kamar 315 (1 year 9 weeks ago)
100

Hy kk rusty :v

Weeww gk tau komen apa... numpang spam aja :v

Kabbuurrr

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Pengunjung Kamar 315 (1 year 9 weeks ago)

Heyyaa...
Udah mampir aja syukur.
Kecom sekarang kok sepi banget ya? -,-

Writer hidden pen
hidden pen at Pengunjung Kamar 315 (1 year 9 weeks ago)

Mungkin lagi sibuk kk,
Pernah gabung di grup LINE nggak?

Biasanya kalo gak ada di kecom, mereka pada curhat di grup LINE :v

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Pengunjung Kamar 315 (1 year 9 weeks ago)

Aku ga pakai LINE, berat sih. xD
Tahunya grup Facebook, tapi itu pun sepi banget.

Writer Armila_astofa
Armila_astofa at Pengunjung Kamar 315 (1 year 10 weeks ago)
100

Suka. Saya sampe merasa jadi tokoh si pria. Sedih. Kok jadi si cowo yañg sedih.