Bintang Kecil

MUNGKINKAH ada sesuatu di sekolah saat malan hari?

Aku membuka pintu dan melangkah memasuki ruang kelas. Cahaya perak rembulan jatuh miring di permukaan meja. Sekotak kapur warna-warni dan beberapa yang putih diletakkan begitu saja dengan tutup separuh terbuka. Di sampingnya, penghapus papan tulis kain birunya bagai dibubuhi bubuk putih. Pelapis meja bermotif batik dengan benang berwarna emas yang sudah sedikit pudar karena cuaca, bergeming bagai tak tersentuh waktu.

Pohon tanjung yang tumbuh di depan jendela—yang sepanjang siang tampak biasa dan tak istimewa, terlihat sedikit menyeramkan dipandang di malam hari. Meskipun cuaca sedikit sembap, perasaan tenteram muncul juga, saat daun-daun bergemerisik disentuh angin, bagai gumam sepasang sahabat yang tertawa bersama. Ah, tapi mereka memang bersahabat, bukan? aku membayangkanmu berkata.

Aku duduk di bangku belakang, di samping deretan nako yang tertutup tirai. Ruangan menjadi gelap setelah pintu kembali ditutup. Hanya ada pendar-pendar cahaya menembus empat buah lubang angin. Aku menyibak kain yang menghalangi, yang membentang dari ujung belakang—dekat papan mading yang bersebelahan dengan peta dunia, hingga pintu depan. Lalu membuka setiap nako, memaksa rembulan memandikan ruangan dengan pendarnya yang hangat dan berwarna keperakan.

Aku tertegun. Suasananya jadi hampir menyerupai siang. Hanya saja, dengan sunyi membuana. Aku ingin menyalakan lampu, tapi pasti ada yang berbeda. Cahaya ini terik, namun tidak menyengat. Dingin, namun tidak membekukan.  

Aku mendengar suara kucing yang mengeong pelan di depan pintu, lalu menemukan Si Puss—kucing hitam liar peliharaan tante kantin, yang memandang curiga padaku. Aku tertawa dan menyambutnya masuk. Bagaimana pun dialah satu-satunya temanku malam ini. Ia mengeong serak tanda meminta kudapan. Akan tetapi, aku tidak membawa apa pun yang bisa dimakannya. Sebagai gantinya, aku biarkan dia mengelus pipinya di kaki, dan getaran manjanya membuatku geli. Aku mengembannya.  

Aku duduk di salah satu bangku dan memandang papan tulis yang kosong. Aku membayangkan keramaian yang baru beberapa jam lalu terjadi di tempat ini, saat matahari masih menyapa dengan binarnya yang hangat. Aku selalu takjub pada benda bulat itu. Ia bisa menghidupkan segala yang hening, mampu membuat segala yang gugur kembali tumbuh. Bahkan saat pendarnya hanya pantulan samar di dinding rembulan, ia tetap menawarkan cahaya bagi bumi yang gelisah. Aku memandang Si Puss yang berbaring di hadapanku. Ia melingkar manja di atas meja.

“Pasti ada yang menarik, bukan?” tanyaku. Aku memandang seisi ruang kelas. Papan tulis itu membisu. Kibaran tirai yang malas, bungkam seribu bahasa. Meja-meja yang berderet 5 x 6 itu tampak kaku dan mati. Satu-satunya jawaban yang kudengar berasal dari kucing hitam yang mengeong manja, itupun karena elusanku.

Aku menengadah.

“Kenangan adalah langit-langit yang sangat indah,” aku mengingat kata-katamu.

Lalu, tetes demi tetes air mata membajiri pipiku. Aku mengusapnya dengan lengan baju. Akan tetapi, sekuat apa pun menahannya, tangisan itu masih saja gugur bagai daun-daun yang telah habis musimnya. Awalnya kesedihan itu hanya tetesan samar yang tak berarti. Namun, lama kelamaan membentuk isak yang deras. Aku mencoba menahannya, tapi percuma. Hidungku jadi basah, dan mataku sembap. Aku pasti terlihat buruk, wajahku pasti merah seperti belum mandi. Aku tertawa lirih karena mengingat hal-hal itu di saat seperti ini. Kamu yang biasanya cerewet soal penampilanku, selalu menyindir gaya berpakaianku, juga menertawakan sifatku yang kelewat ceroboh, sudah tak ada.

Aku menahan sesak di dada, dan menyembunyikan wajah di sandaran lengan. Seolah-olah takut ada yang memergoki, padahal tak ada siapa pun di sini. Aku memandang mawar putih yang telah menguning sudut-sudutnya yang kuletakkan pagi tadi di mejamu. Aku meraihnya dan menghidu baunya yang kini terasa pahit. Aku tak ingin bersedih karena itu akan membuatmu khawatir.

“Elvira,” sebuah suara memanggil namaku, membuyarkan lamunan. Aku memalingkan wajah dan terkejut menemukanmu di sana, berdiri dan tersenyum. Kehangatan yang selalu mengikutimu, kembali menyentuh hatiku. Kau menyuruhku menyanyikan Twinkle Twinkle Little Star.

“Itu ampuh mengatasi sedih,” bisikmu, “Apa kabar?” Alih-alih menjawabnya, aku menangis lebih kencang, meski masih menahan isak.

“Sinkel sinkel likle sar, hou I wander what chu are,” aku berusaha menyanyi, meski, seperti biasa, pengucapanku berantakan. Kau tertawa.

“Ini lirik bahasa Indonesia-nya,” kau tertawa, lalu bernyanyi.  

Bintang kecil gemerlap
temaniku terlelap
jauh di langit sana
kau serupa permata
bintang kecil gemerlap
temaniku terlelap.  

Kau mengambil tempat di sampingku. Matamu memandang jauh, seolah melamunkan sesuatu yang tak lagi tersentuh.

“Ada yang menarik dari ruang kelas di malam hari,” katamu. Tanganmu menyentuh punggung tanganku yang sedari tadi sibuk mengusap air mata. “Kita menamainya kenangan.”

Entah kenapa, tak ada rasa takut meski tahu kau tak benar-benar nyata. Aku tahu kau hanya berpura-pura ada di sini. Entah sebagai muslihat yang memikat, atau hantu yang menguasai masa lalu.

“Kalau dipikir-pikir, kita banyak menghabiskan waktu bersama di sekolah ini, ya?” kau kembali bergumam. “Sejak TK, hingga sekarang hampir lulus SMA. Kira-kira sudah berapa tahun?”

Aku menghitung-hitung, “Empat belas?” Kau mengusap kepalaku, dan tertawa, “Sejak kapan kamu jadi pendiam? Peri yang kukenal itu bawelnya minta ampun.”

Aku hanya tersenyum, tak tahu harus menjawab apa. Air mata yang tadi sudah berhenti kembali menetes. Kali ini lebih hening.

Lalu, yang tersisa hanya isak, juga bisik angin di jendela. Aku memandang ke samping dan mendapati kau masih duduk di sana. Senyum yang menghias wajahmu sudah menghilang, digantikan raut wajah yang sulit kubaca.

Aku jadi terkenang, hanya kau yang memanggilku Peri. “Elf itu peri, kan?” itulah jawabanmu saat aku bertanya. Elvira. Aku ingin menjawab bukan. Elf berbeda dengan Peri. Tapi aku mengurungkan niat. Dan kau juga yang memberitahu namaku berarti bintang—yang membuatmu menyuruhku menyanyikan lagu Twinkle Twinkle Little Star ketika menangis, “Dan bintang-bintang itu akan menuntun kesedihanmu pulang,” kau menunjuk langit, “ke sana.”

Sejak kita masih kecil kau selalu menjagaku.

“Maaf, aku pergi lebih dulu,” katamu. “Aku juga tak tahu kenapa bisa begini. Aku ingin bersamamu. Masih rindu tawamu. Tapi yang kulihat hanya kesedihan, tak ada hal lain yang tersisa dari matamu. Maaf,” kau berkata lirih. “Maaf, kau harus mengalami ini.”

“Ti—“ aku ingin berkata tidak, tapi sudah dipotong kecupmu di kening.

“Dengan mengatakan ini, aku akan jadi sangat egois, tapi aku mencintaimu,” akumu.

“Seharusnya aku ungkapkan ini bertahun-tahun yang lalu. Sebelum semuanya terlambat,” kau tertawa pedih, seolah tak ada yang terjadi. “Manusia itu bodoh, selalu menunda-nunda hal terpenting, lalu menyesalinya. Dan sayangnya aku harus terlahir dan pergi sebagai manusia. Kuharap kau memaafkanku.” Lalu keheningan itu kembali membuana.

Tak ada kamu di manapun, meski mata ini berpaling. Tak ada siapa pun. Hanya kibaran cahaya rembulan yang berjatuhan—tak terlalu terik karena malam telah membawanya tinggi. Aku melemparkan pandang ke lepas jendela dan menemukanmu berdiri di tengah lapangan. Aku berlari menuju pintu. Kakiku tersandung kaki meja, membuat langkahku sedikit goyah. Tapi akhirnya aku berhasil mencapai kusen itu. Seperti yang sudah kuduga, sosokmu telah menghilang bersama daun-daun yang menutupi pandangan. Seolah ada kibasan sayap besar yang membuat mereka berguguran.

Tapi aku tahu, aku tidak sendiri. Aku tahu kau telah meninggalkan hatimu padaku. Aku tahu aku mencintaimu.

*

PASTI ada yang menarik dari ruang kelas di malam hari, bukan?  

Satu demi satu, aku menutup kembali hordin itu. Cahaya keperakan yang sedari tadi menghias ruangan ini perlahan pudar karena tertutup kain yang tak begitu tebal. Aku menengok ke bawah meja dan mengambil buku partitur yang kautinggalkan dua hari lalu di sana. TWINKLE TWINKLE LITTLE STAR—MOZART.

Aku mendekap buku itu lalu membuka halaman pertamanya,  

“Selamat ulang tahun, Elvira, Bintang yang menghias hatiku.”

“Sudah ketemu bukunya?” kata satpam yang berjaga di pos saat aku melewati gerbang.

“Sudah, Pak,” aku mengangkat buku itu, lalu menyeberang. Rumahku hanya berjarak selemparan batu dari sekolah ini. Namun, sebelum membuka pagar, aku menengadah memandang malam dan menemukan satu bintang yang sinarnya lebih terang dari biasanya. Kalau kau di sini, kau akan menjelaskan itu bintang dan rasi apa. Kau selalu bercita-cita menjadi ahli astronomi.

Aku memalingkan wajah karena mataku mulai kembali hangat. Sesampainya di rumah, aku langsung membuka pintu, menguncinya, lalu menaiki undakan, dan memasuki kamar.

Setelah membuka jendela lebar-lebar, aku menggulung kain merah yang menutupi tuts piano.

Twinkle twinkle little star—  

Sampaikah padamu?  

_@_

21 10 2016

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer citapraaa
citapraaa at Bintang Kecil (2 years 19 weeks ago)
70

-