Pamor - 1. Kapal Datang

Karya Jannu A. Bordineo

PERAHU BERCADIK ITU bergoyang pelan mengikuti irama ombak. Sakti mendongak saat merasakan ayunan yang lebih keras, dia melihat arah datangnya ombak. Ketinggian ombak naik seiring naiknya matahari. Tanpa merisaukan ombak yang meninggi, dia kembali meneruskan kegiatannya, mengeluarkan ikan-ikan yang terperangkap dalam bubu yang berbentuk kotak.

Sakti menegakkan bubu itu pada sisi yang terdapat lubang untuk mengeluarkan ikan. Kemudian dia menguncangkan bubu itu, memaksa ikan-ikan yang terperangkap di dalamnya berjatuhan, melewati lubang dan berakhir di keranjang dari bambu di bawahnya. Sakti mengaitkan penutup keranjang untuk mencegah ikan melompat keluar.

Setelah itu Sakti mengikatkan bubu tersebut ke badan perahu. Di saat yang sama, sebuah suara embusan napas dan kecipak air terdengar di samping perahu.

“Bagaimana?” tanya Sakti pada orang yang baru menyembul. Itu adalah Konda, temannya yang memiliki bubu tadi.

“Hilang,” jawab Konda dengan napas yang masih tersengal-sengal. Dia naik ke dalam perahu dengan bertumpu pada salah satu sisi perahu. Berkat cadik di kanan-kirinya, perahu kecil itu hanya oleng sedikit.

Konda menyelam dengan tetap memakai seluar, yang kini basah kuyub. Lalu dia memakai baju tanpa menunggu badannya kering. Tak lupa dia menyelipkan badik kecil miliknya di pinggang. Sakti terus memerhatikan senjata berpamor milik temannya itu sampai Konda menyembunyikannya di balik baju.

“Mungkin pemberatnya terlalu ringan terus terbawa arus,” kata Sakti.

“Ah, tidak mungkin. Pemberatnya sama beratnya dengan pemberat bubu ini.” Konda menunjuk sebongkah batu di dalam bubu. Di keempat sudut bubu itu memang ada batu yang berguna sebagai pemberat agar bubu bisa tenggelam. Batu-batu itu juga berperan sebagai jangkar agar bubu tetap di tempatnya.

“Tidak mungkin bukan, dicuri orang?”

“Dicuri sih tidak, salah ambil mungkin.” Konda mengangkat bahu.

Di Nyiurmelambailambai—desa sekaligus pulau yang mereka tempati—hampir semua nelayan punya bubu. Dan tempat terbaik memasangnya adalah di Gusung Cincin, tempat mereka berada saat ini. Gusung Cincin adalah gusung karang yang berbentuk lingkaran. Di sebelah dalam Gusung Cincin adalah lubuk yang sangat dalam, sementara sebelah luarnya adalah hamparan terumbu karang yang kaya akan hasil laut, tempat paling cocok memasang bubu.

Tempat ini berada di utara Nyiurmelambailambai, tepat di muka pelabuhan. Karena gusung karang sangat berbahaya bagi kapal, maka dipasang tiang berbendera merah di empat penjuru Gusung Cincin.

“Sekarang bagaimana?” Sakti tidak melihat penyesalan dalam diri Konda. Sakti pikir, itu karena Konda pandai membuat alat perangkap ikan dari bambu tersebut.

“Kita pulang.”

Sakti melepaskan ikatan perahu pada galah pancang sekaligus mencabutnya. Dia meletakkan galah di dalam perahu dan mengambil dayung.

“Tidak perlu,” larang Konda. “Kita gunakan tenaga angin.”

Sakti mengangkat bahu. “Terserahlah.” Sakti mengikut saja. Walau bagaimanapun Konda lebih berpengalaman dari dirinya soal pelayaran.

Di usianya yang baru lima belas tahun, setahun lebih tua dari Sakti, Konda telah menjelma menjadi pelaut ulung. Seluruh bandar besar di Nusantara pernah disinggahinya, sebelum akhirnya tiba dan menetap di Nyiurmelambailambai dua tahun yang lalu.

Konda mengikatkan kain layar yang tersimpan di perahu pada galah. Dia menggunakan galah itu sebagai tiang. Setelah selesai, dia mendirikan tiang itu dengan dibantu Sakti. Sekarang perahu mereka melaju mantap. Keduanya tinggal duduk santai sembari menikmati semilir angin laut.

“Ada lagi kapal yang datang,” kata Konda sambil menunjuk arah kanan agak ke belakang dari perahu, arah barat laut. “Dermaga Nyiurmelambailambai semakin penuh sesak. Bapakmu pasti kerja lembur lagi.”

Bapaknya Sakti adalah Syahbandar Nyiurmelambailambai.

“Tidak untuk hari ini,” kata Sakti. Dia melihat ke arah yang ditunjuk Konda. Kapal yang datang itu masih berupa titik hitam besar di cakrawala. “Kira-kira dari mana datangnya?”

“Bisa dari mana saja. Bisa dari Nusantara, bisa juga dari Atas Angin[1].” Konda melihat kapal itu sekali lagi, lalu mendesah dan berkata, “Makin hari bandar Nyiurmelambailambai makin ramai. Mungkin saat ini adalah masa kejayaan Nyiurmelambailambai sebagai negeri bandar.”

“Boleh jadi. Tapi aku tidak berpikir demikian. Aku berharap kita bisa berkembang lagi dan mempertahankan keadaan bagus ini selama mungkin.”

“Roda kehidupan berputar terus,” Konda menanggapi. “Adakalanya kita berada di atas, adakalanya pula kita berada di bawah.”

“Di bawah sekalipun jangan sampai jatuh ke dalam keterpurukan. Tidak ada salahnya bukan, kita berusaha untuk mempertahankan kedudukan kita?”

Konda diam saja, dan itu artinya dia sependapat.

Sekarang mereka sudah dekat dengan pelabuhan. Perhatian Konda terpusat pada kemudi, sedangkan Sakti membantu mengarahkan perahu dengan dayung. Konda membiarkan perahu melewati dermaga Nyiurmelambailambai yang dibangun menjorok ke laut. Dermaga itu khusus untuk kapal-kapal besar saja, utamanya kapal dagang.

Konda mengarahkan perahu ke pantai di sebelah kanan dermaga. Pantai di kanan dermaga ini diperuntukkan bagi nelayan untuk melabuhkan perahunya, dan juga menjadi galangan rakyat, tempat penduduk desa membuat atau memperbaiki perahu. Sementara itu, pantai di kiri dermaga adalah galangan utama. Walau kedudukannya sebagai galangan utama, tidak pernah ada kapal yang dibangun di sini. Semua kapal dagang milik Nyiurmelambailambai dibeli dari daerah lain di Nusantara. Galangan utama ini hanyalah prasarana yang diberikan Nyiurmelambailambai kepada kapal dagang yang singgah apabila membutuhkan perbaikan. Tentunya juragan kapal yang menyediakan sendiri tukang dan kayunya.

Konda membiarkan perahu terus melaju sampai dikandaskan pasir. Setelah menggulung layar, Konda dan Sakti mendorong perahu naik ke daratan. Perahu itu bergabung dengan perahu lainnya yang berbaris rapi di sepanjang pantai seperti ikan asin di jemuran.

Pohon kelapa banyak tumbuh di sepanjang pantai berpasir putih itu. Sebagian besar tumbuh condong ke laut. Kelapa-kelapa ini berayun-ayun jika terkena embusan angin. Dari kejauhan, di tengah laut, kelapa-kelapa ini seperti melambai-lambaikan dedaunannya, seakan-akan mengundang singgah para pelaut yang melihatnya. Itulah yang mendatangkan nama Nyiurmelambailambai bagi desa bandar ini beserta pulau tempatnya berada.

Konda meraih keranjang ikan. Dua ekor ikan kakap merah berukuran besar diberikannya kepada Sakti. Sakti sempat menolak, tapi Konda memaksa.

Mereka berjalan menjauhi pantai, melewati jalan setapak. Kecuali di dekat bandar yang penuh sesak dengan bangunan, hanya ada beberapa pondok di dekat pantai. Pemukiman utama Nyiurmelambailambai berada di tengah pulau dan di sekitar pelabuhan.

“Besok, kau pilih apa?” tanya Konda di sela-sela langkah kakinya.

“Tentu saja keris,” jawab Sakti. “Kalau kau?”

“Sama.”

“Jadi, setelah punya dua senjata berpamor, apakah kau akan menggunakan keduanya, bersama badikmu?” Sakti menunjuk pinggang Konda.

“Aku tidak segila itu, kesana kemari dengan pinggang penuh senjata. Keris yang akan kudapatkan nanti akan kusimpan, sebagai kenang-kenangan.”

“Oh….”

Konda sadar jawaban yang dia berikan tidak seperti yang Sakti harapkan. Dia langsung menyergah, “Jangan-jangan kau sendiri yang mau membawa keris barumu kesana kemari?”

“Eh, tidak, tidak.” Sakti gelagapan.

Konda tersenyum. Dia tahu, tabiat murid-murid yang baru mendapat senjata berpamor pertamanya. Mereka akan wara-wiri dengan keris atau badik terselit mencolok di bagian depan pinggang, dengan bangga memamerkan pamor barunya tanpa mengindahkan bahwa cara penempatan seperti itu, sesuai adat Nyiurmelambailambai, berarti sedang bersiaga—entah itu mau berperang atau mau bertarung satu lawan satu.

“Cuma kau dan Subo yang heboh dengan pembagian pamor,” kata Konda.

“Tidak cuma aku dan Subo yang menantikan hari pembagian pamor,” Sakti membela diri, “tetapi semua murid tingkat awal yang akan lulus, kecuali kau dan Sitok.”

Di Nyiurmelambailambai, seorang anak baru diizinkan memiliki senjata berpamor setelah menempuh pendidikan tingkat awal di Perguruan Naga atau berusia tidak kurang dari empat belas tahun—usia rata-rata seorang murid lulus dari tingkat awal. Karenanya, wajar jika semua murid tingkat awal menantikan hari pembagian pamor.

Namun, Sitok dan Konda lain daripada yang lain lantaran tidak menaruh perhatian berlebih pada hari pembagian pamor. Konda sudah punya badik yang bilahnya berpamor, yang dia miliki sejak sebelum menetap di Nyiurmelambailambai. Sementara Sitok, karena pekerjaan bapaknya sebagai pandai besi membuatnya biasa bersinggungan dengan berbagai macam senjata dan peralatan logam lainnya. Bahkan, kalau mau, Sitok bisa membuat sendiri senjata berpamor.

Konda tidak membalas perkataan Sakti. Mereka berjalan dalam diam hingga sampai di persimpangan.

Sakti mengangkat ikan yang ditentengnya. “Terima kasih,” katanya. Sakti berjalan terus ke arah pelabuhan. Sementara Konda mengikuti belokan yang mengarah ke desa.

***

Jauh dari pelabuhan, di tengah-tengah pulau Nyiurmelambailambai, tanahnya berbukit-bukit. Ada tiga bukit yang terlihat mencolok, yang jauh lebih tinggi daripada bukit lainnya. Ketiga bukit itu lerengnya saling menyatu, membentuk barisan dari utara ke selatan. Bukit terbesar dan tertinggi adalah Bukit Naga dan terletak paling utara. Disusul Bukit Besar di selatannya. Lalu, Bukit Kecil yang paling selatan.

Di puncak Bukit Naga berdiri Perguruan Naga, tempat penduduk desa belajar berbagai macam ilmu, mulai dari ilmu silat sampai ilmu perbintangan. Banyak pula perantau dari berbagai daerah di Nusantara yang belajar di sana, dan tidak sedikit yang akhirnya menetap seperti Konda. Para pelaut dari luar Nusantara yang singgah juga sering ikut menimba ilmu di perguruan ini, sembari menunggu angin yang akan membawa mereka pulang kembali ke negeri asalnya.

Konon, di Bukit Naga dulunya berkuasa sembilan naga yang menunggui delapan penjuru mata angin dan satu naga sebagai pusatnya. Lalu, Empu Nadi, salah seorang pendiri Perguruan Naga, mengalahkan kesembilan naga tersebut dengan Keris Pusar Samudra yang termasyhur. Setelah itu, perguruan mulai dibangun di puncak Bukit Naga.

Sementara itu, Bukit Besar dan Bukit Kecil permukaannya ditumbuhi alang-alang dengan sedikit pohon yang menyebar acak dari puncak hingga lereng bukit. Kedua bukit ini dijadikan padang gembala oleh penduduk desa. Kalau siang begini banyak anak gembala di sana. Mereka biasanya berteduh di bawah pohon sembari mengawasi gembalaannya. Dan saat sore tiba suasana akan semakin ramai oleh banyaknya anak-anak lain yang datang bermain di tempat itu.

Di antara sekian banyak anak gembala, ada seorang yang selalu berteduh di bawah pohon ketapang yang tumbuh di puncak Bukit Besar. Badannya bongsor sehingga tidak ada anak gembala lain yang berani mengganggu gugat tempatnya berteduh. Dia selalu ditemani Bagong, kerbau peliharaannya yang hitam besar. Anak itu bernama Surya, tetapi oleh teman sepermainannya sering dipanggil Subo—Surya Kebo—karena badannya yang besar, juga karena kedekatannya dengan kerbau kesayangannya itu.

Siang ini Subo tidak sendiri. Dia mengajak Sitok yang nantinya akan diserahi susu sapi yang dia perah untuk dijual ke pasar pelabuhan. Awalnya Sitok tidak mau diajak lantaran dia mau ikut dengan Konda. Baru setelah Subo mengiming-imingi akan memberinya bagian susu sapi tersendiri di luar upah menjualkan, Sitok mau ikut dengannya.

Namun, sampai matahari mulai bergeser ke barat, Subo tak kunjung bergerak dari punggung Bagong. Malahan pemuda berbadan besar itu tiduran di atas kerbaunya.

Sitok mulai gelisah. Dia berjalan mondar-mandir di bawah pohon itu.

“Oi, Subo, mau menunggu sampai berapa lama lagi?” tanya Sitok.

Subo bangkit dari tiduran, lalu duduk bersila. “Sabar,” jawabnya singkat.

“Sabar?” ulang Sitok. “Kau membuang-buang waktuku.”

“Memang kau mau memerah panas-panas begini?”

“Seperti ini kau bilang panas?”

“Ya.” Tapi Subo lekas-lekas meralat jawabannya karena ragu, sebab Sitok terbiasa dengan suhu panas penyepuhan besi. “Eh ... tidak, tidak.”

“Kau ini perjaka atau perawan, takut panas?”

Subo terpancing dengan olok-olokan Sitok. Dia melompat turun. “Baiklah, kau yang meminta,” katanya sembari menunjuk Sitok. “Bawa pasunya,” lanjutnya sambil berjalan menuruni puncak bukit sisi barat. Bagong membuntuti di belakangnya.

Sitok tersenyum lebar lantaran pancingannya berhasil. Dia langsung mengambil pasu dan membopongnya, lalu berjalan cepat dan hati-hati menyusul Subo. Saat itu Sitok melihat kapal di kejauhan, di sebelah barat. Berada di tempat yang tinggi membuat jangkauan pandangannya lebih luas.

“Sepertinya ada yang sangat sibuk hari ini,” ujar Sitok.

“Apa maksudmu?” tanya Subo.

Dan suara mendengung yang menjawab pertanyaan Subo. Dengan serta-merta Subo memandang laut. Suara berdengung itu terdengar tiga kali.

“Menurutmu Sakti akan hadir besok?” tanya Subo lagi.

“Apa kau akan melewatkan pembagian pamor?” Sitok malah bertanya balik.

“Tidak akan.”

“Begitu juga Sakti.”

Mereka sampai di kawanan sapi yang merumput. Ada tiga puluh empat ekor ternak yang digembalakan Subo—Bagong tidak termasuk, karena Subo lebih menganggapnya rekan daripada ternak. Tiga puluh ekor sapi dan empat ekor kerbau. Tidak semua miliknya. Kebanyakan punya orang yang dititipkan kepada Subo untuk digembalakan. Sebagai imbalannya, Subo mendapat jatah satu anak sapi setelah semua sapi betina dewasa beranak.

Subo menghampiri seekor sapi betina gemuk. Setelah mengelus-elus kepala sapi itu untuk menenangkan, Subo berjongkok di bawah perut si sapi, bersiap memerah.

“Kemarikan pasunya!” perintah Subo.

Sitok, yang sedari tadi berdiri mengamati di belakang sapi, memberikan pasu kepada Subo. Setelah itu dia kembali ke tempat semula.

“Sebaiknya kau tidak berdiri di situ,” saran Subo.

“Kenapa?” Penasaran, Sitok malah mencondongkan badannya ke depan.

“Karena ini...” Subo menarik puting susu sapi dengan keras dan tiba-tiba. Sapi yang kaget menyepakkan kaki belakangnya. Sitok yang berada di belakang si sapi kena sepak hingga terpental.

Subo tertawa terpingkal-pingkal melihat Sitok yang dikerjainya jatuh jungkir balik. Dia sampai memegangi perutnya yang terasa sakit karena tertawa. Sementara itu, Sitok bangkit berdiri sambil menyumpah tiada henti. Sebenarnya dia berhasil menangkis sepakan sapi itu sehingga dadanya terselamatkan. Namun, lantaran tenaga sepakan sapi yang terlampau besar, tetap saja dia terpelanting jatuh.

Sitok berjalan mendekat sambil membersihkan pakaiannya. Kekesalannya tercermin jelas di raut wajahnya.

“Kau berniat membunuhku?” gerutu Sitok.

“Santailah kawan. Diseruduk banteng pun kau tidak akan mati ... tapi remuk.”

Subo mengakhiri ucapannya dengan olok-olok yang memancing tawanya sendiri. Kali ini Subo benar-benar lepas kendali. Saking terpingkalnya, dia sampai menggelesot seperti cacing kepanasan.

Berkecak pinggang, Sitok menatap tajam Subo yang masih bergulingan di tanah. Temannya itu masih tertawa. Sitok terus menajap tajam. Sejurus kemudian Subo bangkit, berhenti tertawa, lalu kembali memerah susu. Dia tidak mau, dan tidak ada yang mau, berurusan dengan Sitok saat marah.

Selesai dengan sapi pertama, Subo beralih ke sapi berikutnya hingga pasu yang dibawanya penuh.

Sitok mengambil alih pasu dari Subo. Amarahnya langsung lenyap, berganti senyum semringah di wajahnya. Dia mengambil bagiannya yang ditempatkan di sebuah bumbung yang dibawanya.

Sekarang giliran Sitok untuk menjualkan susu segar itu. Dia langsung pergi meninggalkan Subo begitu saja tanpa pamit ataupun permisi. Dia sama sekali tidak memikirkan temannya itu. Lagi pula, Subo akan di sana sampai sore, sedangkan susu sapi ini harus secepatnya dijual agar mendapatkan harga yang bagus. Semakin segar, semakin mahal.

Dan untuk mendapatkan pembeli yang berkantong tebal, Sitok tahu tempat yang harus dituju.

***

Handoyo sibuk luar biasa hari ini. Sebagai panitera pelabuhan Nyiurmelambailambai, sekaligus Syahbandar-muda, dia harus menggantikan Syahbandar yang berhalangan hadir karena dipanggil rapat dengan para pemimpin desa. Dari sekian banyak hari yang mungkin terjadi, dia menggerutu kenapa harus hari ini menggantikan tugas Syahbandar. Hari di mana pelabuhan Nyiurmelambailambai penuh dengan kapal dagang yang singgah.

Handoyo berjalan ke ujung kiri dermaga, tempat satu-satunya yang tersisa untuk berlabuh, yang sekarang dilabuhi kapal yang baru datang. Sebelumnya dia sedang mencatat aliran barang yang keluar masuk gudang pelabuhan. Namun, urusan itu dia tunda sejenak untuk menarik uang labuh pada kapal yang baru datang. Itu adalah urusan pertama dan utama.

Kapal yang baru datang itu adalah kapal tua yang layarnya sudah sangat lusuh. Anak kapalnya terlihat urakan, membuat Handoyo merasa wajar jika kapal itu tidak terawat. Nakhoda kapal yang berpenampilan lebih beradab turun menghampiri Handoyo.

Sang nakhoda membawa pedang di pinggangnya dan keris terselip di kenditnya. Di kawasan pelabuhan, melihat orang lalu lalang membawa senjata adalah hal biasa. Justru yang menarik adalah cambang bauk lelaki itu yang membuat tampilannya terkesan sangar.

“Kami terpisah dari rombongan, Tuan, jadi kami akan singgah selama beberapa hari menunggu kapal lain,” kata lelaki itu seraya menyerahkan sekantong uang.

Handoyo menerima kantong itu, menghitung jumlah uang yang ada di dalamnya, lalu mencatat jumlahnya yang pas untuk biaya labuh selama lima hari. Nakhoda itu pasti pernah singgah di Nyiurmelambailambai.

“Apa yang Tuan bawa?” tanya Handoyo tanpa basa-basi hingga terdengar sedikit kasar. Dia lelah dan ingin secepatnya menyelesaikan urusan ini.

“Tuak,” jawab sang nakhoda tanpa terganggu gaya bicara Handoyo.

“Tuak?”

Sang nakhoda mengangguk sambil tersenyum. “Hanya tuak. Ada beberapa puluh tong.”

Handoyo mendelik. “Tuan mau membuat teler satu desa dengan tuak sebanyak itu?”

“Untuk tujuan lain.”

“Terserahlah. Itu urusan Tuan. Tapi aku tetap harus memeriksanya.”

“Silakan.”

Handoyo naik ke kapal melalui rampa dari sebilah papan. Kapal itu benar-benar tak terawat. Handoyo sampai harus memerhatikan tiap langkahnya jika tidak ingin terpeleset lumut yang menempel di lantai kapal. Nakhoda kapal berkata jujur. Handoyo menemukan puluhan tong, yang setelah dibuka, memang berisi tuak. Kepalanya puyeng akibat bau menyengat isi tong.

“Berdasarkan hukum bandar Nyiurmelambailambai, muatanmu termasuk barang yang bisa menimbulkan masalah. Jadi….”

“Aku tahu,” tukas sang nakhoda seraya merogoh ke dalam kantong bajunya. “Biaya tambahan,” lanjutnya sambil menyerahkan serenteng uang.

“Penginapan dan segala hal yang Tuan butuhkan ada di pelabuhan. Dan jaga muatan Tuan tetap di dalam kapal!”

“Baik, Tuan.”

Handoyo cepat-cepat turun sebelum bau tuak membuatnya memuntahkan isi perutnya. Dan sang nakhoda mengikutinya dengan pandang mata hingga hilang masuk ke dalam Kesyahbandaran. Senyum simpul terukir di wajah berbulu lelaki itu.

***

Saat Handoyo memasuki Kesyahbandaran, seorang pemuda lewat di depan gedung para pegawai pelabuhan itu sambil membopong sebuah pasu. Sesekali anak lelaki itu berteriak menawarkan barang yang dibawanya. Suaranya nyaring dan berirama unik.

“Suuuuusu!” Begitu dia berteriak.

Pemuda itu terus berjalan sambil meneriakkan dagangannya. Dia menuju Pasar Pelabuhan. Sesekali dia dihentikan oleh orang yang tertarik pada dagangannya. Akan tetapi warga setempat yang menjadi penawarnya urung membeli lantaran harga jual yang ditetapkan pemuda itu terlampau tinggi.

Kala memasuki Pasar Pelabuhan dia ditegur seorang pedagang keturunan arab.

“Nak Sitok,” sapa si pedagang yang telah mengenal Sitok, “itu susu milik Nak Surya, bukan?”

“Enak saja Pak Abu ini.” Sitok mendengus. “Ini milikku sendiri,” dia mengelak.

“Jangan bohong. Aku tahu betul itu pasu milik Surya. Dia menyuruhmu mengantarkan susu itu kepadaku, bukan?”

Sebenarnya Subo memang menyarankan menjual susu itu ke Pak Abu. Namun, Subo tidak melarangnya waktu dia mengatakan akan menjual susu itu kepada siapa pun yang mau membeli dengan harga yang lebih tinggi.

Dan sebelum Sitok menjawab, Pak Abu menambahkan, “Lagi pula Nak Sitok tidak cocok menjual susu. Lebih cocok menjual perkakas besi.”

Walau dirinya memang biasa wara-wiri di pasar menjual peralatan dan senjata buatan bapaknya, Sitok kesal karena merasa perkataan Pak Abu meremehkan dirinya.

“He, janggut kambing,” kata Sitok kasar, “apa hubungannya berdagang dengan cocok-cocokan? Dan apa pula masalahmu kalau susu ini punya Subo?”

“Tidak, tidak. Tidak masalah,” jawab Pak Abu gugup.

“Jaga mulutmu kalau tak mau kubakar jenggotmu.”

Dan sebuah tempelengan mendarat di pipi Sitok.

Sitok terhuyung nyaris terjerembab. Pemuda itu menggeram murka. Orang-orang yang melihat kejadian itu merasa ngeri, takut Sitok mengamuk karena tempelengan itu.

Sitok menghadap orang yang menempeleng dirinya. Dan leher bajunya langsung dicengkeram.

“Mulutmu itu yang perlu dijaga!” hardik seorang gadis yang tengah mencengkeram Sitok.

“Apa-apaan kau ini, Ning?” protes Sitok. Nama gadis itu Ningsih. Gadis yang sebenarnya berwajah manis itu selalu masam mukanya. Gadis itu, dengan kegarangannya, adalah satu dari sedikit orang yang berani menghadapi, bahkan menjinakkan, kemarahan Sitok.

“Kau yang apa-apaan!” Ningsih semakin mempererat cengkeramannya.

“Lepas tidak!” gertak Sitok. Dan tempelengan mendarat lagi di pipinya.

Lalu Ningsih melepaskan cengkeramannya. Mungkin sudah puas menempelengi Sitok.

Sitok langsung mengelus pipinya yang memerah. Nyeri, panas, tentu saja. Gadis-gadis Nyiurmelambailambai tangguh, setangguh para pemudanya. Namun rasa sakit di pipinya mendadak hilang kala melihat seseorang yang ada di belakang Ningsih.

Sebenarnya ada beberapa gadis yang bersama Ningsih. Akan tetapi gadis yang berdiri tepat di belakang Ningsih-lah yang menarik perhatiannya. Wajahnya mirip dengan Ningsih. Namun, berbeda dengan Ningsih yang selalu menampakkan muka masam, gadis itu terlihat lebih ramah.

Sitok menegapkan badannya. Wajahnya berseri-seri. Pasu yang dibawanya seolah-olah berisi kapas, terasa ringan. Pandangannya terpaku pada gadis itu. Lalu, sekelebatan tangan menutupi pandangnya dan mengarah ke dirinya.

Sitok melompat mundur selangkah. Hampir saja tinjuan Ningsih mendarat di matanya.

“Dasar mata keranjang!” tuduh Ningsih.

“Mata keranjang apanya? Aku hanya ingin menyapa Gayatri.”

“Menyapa apanya? Lelaki kurang ajar sepertimu pastilah mau menggoda.”

“Sumpah. Aku tidak….”

“Alah,” potong Ningsih, “tidak usah beralasan. Pergi sana!”

Sikap tubuh Ningsih yang berbahaya tidak memberi pilihan lain bagi Sitok selain menyingkir. Sitok tahu betul Ningsih tidak segan-segan menghajar lelaki mana pun yang membuatnya jengkel, tua ataupun muda. Dan semua lelaki selalu membuat gadis itu jengkel, terutama lelaki kurang ajar yang suka menggoda perempuan. Dan gadis itu akan lebih jengkel lagi kalau yang digoda adalah adiknya, Gayatri.

***

Sitok terus berjalan sambil menjajakan dagangannya dengan teriakan khasnya. Kengototannya memasang harga yang tinggi menyulitkan dirinya sendiri menjual dagangannya. Jika dagangannya sampai tidak laku, mau tidak mau dia akan kembali kepada Pak Abu.

Jadi, Sitok berusaha lebih keras lagi. Teriakannya semakin lantang.

Setengah kawasan pelabuhan sudah Sitok lalui. Kini dia berada di dekat jembatan yang menghubungkan pelabuhan dengan dermaga. Sitok berhenti sejenak. Dia ragu untuk menjajaki setengah lagi kawasan pelabuhan yang menjadi lingkungan pergudangan. Di sana manusianya tidak banyak.

“Hei, Nak!”

Seseorang memanggil Sitok. Pemuda itu menoleh dan mendapati seorang lelaki dengan wajah penuh bulu berjalan di jembatan, dari dermaga menuju dirinya. Sitok sempat kaget melihat penampilan orang yang memanggilnya, apalagi orang itu juga membawa pedang yang menambah sangar penampilannya. Namun, saat menyadari orang itu adalah orang baru, dia tersenyum senang.

“Apa segini cukup untuk mendapatkan semua yang kau jual?” tanya lelaki itu sambil menunjukkan serenteng uang.

Sitok melongo melihat uang sebanyak itu.

“Bagaimana?” lelaki itu bertanya lagi sambil menggoyang-goyangkan uangnya.

Bunyi gemerincing uang membuat Sitok mabuk kepayang. Uang yang ditawarkan lelaki berbulu itu terlalu banyak untuk membeli sepasu susu. Sitok bertanya-tanya dalam hati, lelaki itu seorang pedagang yang kelewat bodoh hingga tidak tahu harga-harga, atau, seorang saudagar yang kelewat kaya hingga tidak masalah menghambur-hamburkan uang?

“Kenapa? Kurang, ya?” tanya lelaki itu mendapati Sitok tak kunjung menjawab.

Sitok menyudahi lamunannya dan menggeleng cepat. “Tidak. Sama sekali tidak.” Sitok menyambar rentengan uang dari tangan lelaki itu secepat seekor elang menyambar anak ayam. Kemudian dia menyerahkan pasu yang dibawanya. “Ini sekalian tempatnya untuk Tuan.”

Sitok buru-buru pergi dari tempat itu, takut si pembeli berubah pikiran. Setelah jauh, baru dia bersorak-sorak kegirangan. Orang-orang sampai menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahnya.

Sementara itu, lelaki berwajah penuh bulu—yang tak lain adalah nakhoda kapal yang sebelumnya berurusan dengan Handoyo—tersenyum tipis untuk ke dua kalinya tatkala melihat tingkah laku Sitok. Lalu pandangannya menyapu seluruh pelabuhan. Dari pasar pelabuhan hingga pergudangan. Pandangannya berhenti di sana.

Lelaki itu melihat para pekerja pelabuhan yang lalu-lalang mengangkuti barang. Kemudian matanya menangkap seseorang yang sedang berdiri menyandar pada dinding samping salah satu gudang sembari menekuri tanah. Para pekerja pelabuhan tidak menyadari kehadiran orang tidak dikenal itu meski tempatnya berdiri sebenarnya tidak terlalu tersembunyi.

Namun, lelaki berbulu itu melihatnya jelas sejelas melihat matahari yang mulai tergelincir ke barat. Dia terus memandangi orang tak dikenal itu, seolah-olah mereka saling menatap tanpa bertemu muka. Sejurus kemudian orang tak dikenal itu menyingkir, meninggalkan si lelaki berbulu yang kini tersenyum lebar.

http://www.lautankata.com/2016/10/novel-pamor-1-kapal-datang.html

https://www.wattpad.com/story/87196805-pamor

Read previous post:  
Read next post:  
Writer embun88
embun88 at Pamor - 1. Kapal Datang (12 weeks 3 days ago)

Cerita yang backgroundnya petualangan di laut emang seru

_______________________________
Percayakan pada Perusahaan Cargo Surabaya yaitu SRA Cargo untuk urusan pengiriman barang / dokumen Anda

Writer avangers
avangers at Pamor - 1. Kapal Datang (13 weeks 2 days ago)

yang bikin cerita ini anak pantai ya hohoho

_________________________________
Kunjungi Rajaprinter.id ketika anda membutuhkan jasa sewa mesin fotocopy jakarta termurah no 1