Pamor (2)

2. Pembagian Pamor
(Karya Jannu A. Bordineo)

SAKTI MELANGKAH CEPAT menapaki anak-anak tangga menuju perguruan. Sesekali dia mendongak, berusaha melihat letak matahari di balik rindangnya pepohonan yang menaungi jalan. Kemudian dia mempercepat langkahnya dengan melompati beberapa anak tangga sekaligus. Beberapa kali tapak kakinya nyaris tergelincir, dan beberapa kali pula dia mengingatkan dirinya sendiri untuk memelankan langkah dan berhati-hati dengan lumut yang menempel di anak tangga yang terbuat dari batu gunung.

Sampai di puncak, tidak terlihat lagi orang di luar perguruan. Sakti yakin tidak terlambat. Hanya saja murid lain datang lebih awal. Sakti langsung masuk melalui gerbang utama yang dijaga oleh dua orang murid tingkat lanjut.

“Pagi, Kang!” salam Sakti tanpa menghentikan langkahnya.

“Pagi,” jawab salah seorang di antaranya setelah melihat Sakti sekilas.

Secara keseluruhan, Perguruan Naga berbentuk persegi panjang—memanjang dari timur ke barat, dengan pagar bata setinggi dua tombak memisahkannya dari lingkungan luar. Ada tiga gerbang, dan gerbang utama terletak di sebelah utara. Satu-satunya sisi yang tidak ada gerbangnya adalah di sebelah barat.

Dua bangunan utama adalah keputraan dan keputrian, tempat tinggal para murid.

Keputraan adalah asrama putra, merupakan bangunan terbesar di Perguruan Naga. Bentuknya berupa rumah panjang yang memanjang hampir sepanjang pagar timur. Keputraan juga merupakan bangunan paling timur—hanya berjarak satu tombak dari pagar timur. Bagian selatan keputran adalah Asrama Guru, tempat tinggal para empu.

Keputrian kebalikan dari keputraan. Bangunannya tidak sebesar keputraan, tetapi lebih tertutup. Ada pagar tambahan yang menutup keputrian. Pagar ini dikenal sebagai ‘pagar penghalang mata’ lantaran pagar ini selalu menutupi pandangan mata setiap orang yang melihat ke arah Keputrian, bahkan jika melihat dari tempat tinggi sekalipun. Konon, pagar ini ditanami sirep pelindung sejak pertama kali didirikan. Gerbang kecil di pagar ini adalah satu-satunya pintu masuk ke dalam lingkungan Keputrian.

Tepat di balik gerbang utama, berdiri Menara Naga yang dikelilingi lapangan dan menjadi semacam alun-alun di dalam lingkungan perguruan. Menara ini berupa dua menara kembar yang bersisian dari timur ke barat. Kedua menara terbuat dari batu berukirkan naga yang melilit dari dasar hingga puncak. Dan di masing-masing puncaknya ada rongga tempat penjaga menara mengawasi laut. Ada sebuah gong di menara sebelah timur, yang akan dipukul tiga kali oleh penjaga menara apabila ada kapal dagang yang terlihat menuju Nyiurmelambailambai di siang hari. Jika kapal datang di malam hari, gong baru akan dipukul esok paginya. Akan tetapi, apabila gong dipukul terus-menerus, tidak peduli siang ataupun malam, itu menandakan akan adanya bahaya yang mengancam.

Di masing-masing puncak Menara Naga juga ada lampu minyak yang akan dinyalakan oleh penjaga menara sebelum matahari tenggelam hingga matahari terbit. Cahaya lampu ini bisa dilihat dari tempat yang sangat jauh di tengah laut sehingga bertindak sebagai pemandu bagi perahu nelayan dan kapal dagang yang akan menuju Nyiurmelambailambai di kegelapan malam hari. Lantaran jumlah lampunya ada dua, maka cahayanya sering terlihat seperti sepasang mata yang menyala-nyala di kegelapan malam. Konon, sebelum ada Menara Naga, mata Naga Lesus-lah yang sering terlihat dari kejauhan di tengah laut dan membimbing Empu Nadi, Empu Kartam dan Empu Suro menemukan Nyiurmelambailambai.

Lalu, di pinggir selatan lapangan ada bangunan besar tanpa dinding, yaitu Balairung. Di selatannya lagi adalah Balai Ketua—tempat kerja sekaligus tempat tinggal ketua perguruan.

Bangunan lain di perguruan—Besalen, Perpustakaan, Balai Pengobatan, Gudang Senjata, Lumbung dan lain sebagainya—tersebar di semua penjuru perguruan.

Semua bangunan itu berbentuk panggung, bertiang tinggi ataupun rendah. Sebenarnya, tidak hanya di Perguruan Naga dijumpai bangunan berbentuk panggung, tetapi di seluruh Nyiurmelambailambai. Dari rumah-rumahnya hingga gudang di pelabuhan, semua berbentuk panggung.

Lingkungan Perguruan Naga begitu asri dengan banyaknya pepohonan di sana-sini. Tempat paling banyak pohonnya adalah di sebelah selatan perguruan, dekat pagar selatan. Di sana pepohonan tumbuh berselang-seling dengan pondok-pondok berbentuk persegi. Pondok-pondok ini dinamai pondok ajar, tempat para empu mengajar—tentunya selain pelajaran ilmu silat dan ilmu lain yang membutuhkan penerapan langsung.

Ke salah satu pondok di sanalah Sakti menujukan langkahnya.

Sakti tidak memintas lapangan yang penuh murid tingkat awal tahun pertama yang sedang latihan silat gabungan. Dia tidak ingin mengganggu perhatian adik-adik seperguruannya. Dan yang lebih penting, dia menghindari tatapan iri mereka. Namun, kehadirannya terlanjur terlihat sejak dari gerbang utama. Sakti risih menjadi sasaran tatapan iri adik-adik seperguruannya, iri karena tahu kakak seperguruannya hari ini akan mendapatkan pamor pertamanya. Baru setelah Empu Kusuma menghardik murid-murid yang bandel, Sakti terbebas dari tatapan-tatapan itu.

Ternyata Sakti datang paling akhir. Awalnya dia mengira Subo belum datang lantaran dia tidak melihat Bagong di luar perguruan.

“Kau pikir aku akan membuat masalah di hari sepenting ini?” tanya Subo, tahu Sakti tidak menyangka dirinya datang tanpa Bagong.

Sakti mengangkat bahu. “Siapa tahu?”

Di hari biasa, Subo selalu datang bersama Bagong. Sementara Subo belajar di dalam perguruan, kerbau kesayangannya itu ditinggal begitu saja di luar, berkeliaran merusak tanaman pangan milik perguruan.

Di dalam pondok sudah ada tujuh anak, dan bersama Sakti menjadi delapan anak yang semuanya diampu oleh empu yang sama. Kedelapan murid ini terbagi dalam dua kelompok: Kelompok Sakti—yang dipimpin oleh Sakti, dan Kelompok Surya—sering disebut Kelompok Kancil karena pemimpinnya yang bernama Surya berbadan kecil, sekaligus untuk membedakan dengan Surya satunya.

Belum lama Sakti duduk, Empu Gani yang menjadi pengampu mereka datang. Empu Gani membawa buntelan berwarna merah.

Tanpa berbasa-basi, Empu Gani langsung menghampar bawaannya. Tidak hanya keris, ada juga badik, yang semuanya memesona anak-anak yang memandangnya.

Awalnya hanya keris—beserta cundrik, yaitu ragam keris yang berukuran kecil yang penggunaannya marak di kalangan wanita—yang dibagikan oleh Perguruan Naga, dan hari pembagiannya disebut ‘hari pembagian keris’. Lalu, atas saran dan juga permintaan dari beberapa murid, perguruan juga membagikan badik untuk menambah pilihan. Karena keris dan badik sama-sama berpamor bilahnya, maka hari pembagiannya serta-merta berganti menjadi ‘hari pembagian pamor’. Kata pamor sendiri sering digunakan untuk menyebut senjata yang bilahnya berpamor semacam keris dan badik.

Pembagian pamor ini adalah tanda kelulusan murid Perguruan Naga dalam menjalani pendidikan tahap awal. Setelah ini, mereka bebas memilih bidang ilmu yang mau didalami atau bahkan meninggalkan perguruan sekalipun. Karenanya, senjata pamor yang dibagikan tidak hanya menjadi penanda kelulusan, tetapi juga sebagai pegangan.

“Aku tidak akan membiarkan kalian memilih sendiri pamor yang kalian inginkan,” Empu Gani berkata sambil menggulung kembali bawaannya, sekaligus mengakhiri kekaguman murid-muridnya.

Beberapa anak, termasuk Sakti dan Subo, mendesah kecewa. Tiap keris dan tiap badik pembagian memang serupa satu sama lain. Akan tetapi, itu hanya pada warangka dan hulunya. Empu Supardi yang membuat senjata-senjata itu tak pernah membuat pamor khusus untuk pembagian. Jadi pamor pada bilah keris dan badik yang dibagikan terbentuk secara alami, dan tentu saja guratannya tidak ada yang sama.

Sekarang, keputusan sang empu memupus harapan mereka untuk memilih sendiri guratan pamor yang disukai.

“Tidak perlu menyesali keputusanku.” Empu Gani mencoba menghibur murid-muridnya. “Semua pamor sama saja. Yang membedakan adalah pengguna dan tujuan penggunaannya.”

“Tapi, Empu,” sahut Sitok, “kalau Empu saya tikam menggunakan keris buatan saya sendiri atau dengan Keris Pusar Samudra pasti hasilnya berbeda.”

“Ah, tetap sama saja.” Empu Gani mencondongkan tubuhnya ke depan dan memelotot. “Sama-sama akan mati,” lanjutnya disertai tawa yang terkekeh-kekeh.

Tidak ada yang tertawa mendengar guyonan itu selain Empu Gani sendiri. Sementara Sitok sedikit dongkol karena merasa dipermainkan.

“Sudahlah, sebutkan saja jenis senjata yang kalian inginkan,” kata Empu Gani setelah tawanya reda. Lalu Empu Gani memanggil muridnya satu per satu.

2. Pembagian Pamor

SAKTI MELANGKAH CEPAT menapaki anak-anak tangga menuju perguruan. Sesekali dia mendongak, berusaha melihat letak matahari di balik rindangnya pepohonan yang menaungi jalan. Kemudian dia mempercepat langkahnya dengan melompati beberapa anak tangga sekaligus. Beberapa kali tapak kakinya nyaris tergelincir, dan beberapa kali pula dia mengingatkan dirinya sendiri untuk memelankan langkah dan berhati-hati dengan lumut yang menempel di anak tangga yang terbuat dari batu gunung.

Sampai di puncak, tidak terlihat lagi orang di luar perguruan. Sakti yakin tidak terlambat. Hanya saja murid lain datang lebih awal. Sakti langsung masuk melalui gerbang utama yang dijaga oleh dua orang murid tingkat lanjut.

“Pagi, Kang!” salam Sakti tanpa menghentikan langkahnya.

“Pagi,” jawab salah seorang di antaranya setelah melihat Sakti sekilas.

Secara keseluruhan, Perguruan Naga berbentuk persegi panjang—memanjang dari timur ke barat, dengan pagar bata setinggi dua tombak memisahkannya dari lingkungan luar. Ada tiga gerbang, dan gerbang utama terletak di sebelah utara. Satu-satunya sisi yang tidak ada gerbangnya adalah di sebelah barat.

Dua bangunan utama adalah keputraan dan keputrian, tempat tinggal para murid.

Keputraan adalah asrama putra, merupakan bangunan terbesar di Perguruan Naga. Bentuknya berupa rumah panjang yang memanjang hampir sepanjang pagar timur. Keputraan juga merupakan bangunan paling timur—hanya berjarak satu tombak dari pagar timur. Bagian selatan keputran adalah Asrama Guru, tempat tinggal para empu.

Keputrian kebalikan dari keputraan. Bangunannya tidak sebesar keputraan, tetapi lebih tertutup. Ada pagar tambahan yang menutup keputrian. Pagar ini dikenal sebagai ‘pagar penghalang mata’ lantaran pagar ini selalu menutupi pandangan mata setiap orang yang melihat ke arah Keputrian, bahkan jika melihat dari tempat tinggi sekalipun. Konon, pagar ini ditanami sirep pelindung sejak pertama kali didirikan. Gerbang kecil di pagar ini adalah satu-satunya pintu masuk ke dalam lingkungan Keputrian.

Tepat di balik gerbang utama, berdiri Menara Naga yang dikelilingi lapangan dan menjadi semacam alun-alun di dalam lingkungan perguruan. Menara ini berupa dua menara kembar yang bersisian dari timur ke barat. Kedua menara terbuat dari batu berukirkan naga yang melilit dari dasar hingga puncak. Dan di masing-masing puncaknya ada rongga tempat penjaga menara mengawasi laut. Ada sebuah gong di menara sebelah timur, yang akan dipukul tiga kali oleh penjaga menara apabila ada kapal dagang yang terlihat menuju Nyiurmelambailambai di siang hari. Jika kapal datang di malam hari, gong baru akan dipukul esok paginya. Akan tetapi, apabila gong dipukul terus-menerus, tidak peduli siang ataupun malam, itu menandakan akan adanya bahaya yang mengancam.

Di masing-masing puncak Menara Naga juga ada lampu minyak yang akan dinyalakan oleh penjaga menara sebelum matahari tenggelam hingga matahari terbit. Cahaya lampu ini bisa dilihat dari tempat yang sangat jauh di tengah laut sehingga bertindak sebagai pemandu bagi perahu nelayan dan kapal dagang yang akan menuju Nyiurmelambailambai di kegelapan malam hari. Lantaran jumlah lampunya ada dua, maka cahayanya sering terlihat seperti sepasang mata yang menyala-nyala di kegelapan malam. Konon, sebelum ada Menara Naga, mata Naga Lesus-lah yang sering terlihat dari kejauhan di tengah laut dan membimbing Empu Nadi, Empu Kartam dan Empu Suro menemukan Nyiurmelambailambai.

Lalu, di pinggir selatan lapangan ada bangunan besar tanpa dinding, yaitu Balairung. Di selatannya lagi adalah Balai Ketua—tempat kerja sekaligus tempat tinggal ketua perguruan.

Bangunan lain di perguruan—Besalen, Perpustakaan, Balai Pengobatan, Gudang Senjata, Lumbung dan lain sebagainya—tersebar di semua penjuru perguruan.

Semua bangunan itu berbentuk panggung, bertiang tinggi ataupun rendah. Sebenarnya, tidak hanya di Perguruan Naga dijumpai bangunan berbentuk panggung, tetapi di seluruh Nyiurmelambailambai. Dari rumah-rumahnya hingga gudang di pelabuhan, semua berbentuk panggung.

Lingkungan Perguruan Naga begitu asri dengan banyaknya pepohonan di sana-sini. Tempat paling banyak pohonnya adalah di sebelah selatan perguruan, dekat pagar selatan. Di sana pepohonan tumbuh berselang-seling dengan pondok-pondok berbentuk persegi. Pondok-pondok ini dinamai pondok ajar, tempat para empu mengajar—tentunya selain pelajaran ilmu silat dan ilmu lain yang membutuhkan penerapan langsung.

Ke salah satu pondok di sanalah Sakti menujukan langkahnya.

Sakti tidak memintas lapangan yang penuh murid tingkat awal tahun pertama yang sedang latihan silat gabungan. Dia tidak ingin mengganggu perhatian adik-adik seperguruannya. Dan yang lebih penting, dia menghindari tatapan iri mereka. Namun, kehadirannya terlanjur terlihat sejak dari gerbang utama. Sakti risih menjadi sasaran tatapan iri adik-adik seperguruannya, iri karena tahu kakak seperguruannya hari ini akan mendapatkan pamor pertamanya. Baru setelah Empu Kusuma menghardik murid-murid yang bandel, Sakti terbebas dari tatapan-tatapan itu.

Ternyata Sakti datang paling akhir. Awalnya dia mengira Subo belum datang lantaran dia tidak melihat Bagong di luar perguruan.

“Kau pikir aku akan membuat masalah di hari sepenting ini?” tanya Subo, tahu Sakti tidak menyangka dirinya datang tanpa Bagong.

Sakti mengangkat bahu. “Siapa tahu?”

Di hari biasa, Subo selalu datang bersama Bagong. Sementara Subo belajar di dalam perguruan, kerbau kesayangannya itu ditinggal begitu saja di luar, berkeliaran merusak tanaman pangan milik perguruan.

Di dalam pondok sudah ada tujuh anak, dan bersama Sakti menjadi delapan anak yang semuanya diampu oleh empu yang sama. Kedelapan murid ini terbagi dalam dua kelompok: Kelompok Sakti—yang dipimpin oleh Sakti, dan Kelompok Surya—sering disebut Kelompok Kancil karena pemimpinnya yang bernama Surya berbadan kecil, sekaligus untuk membedakan dengan Surya satunya.

Belum lama Sakti duduk, Empu Gani yang menjadi pengampu mereka datang. Empu Gani membawa buntelan berwarna merah.

Tanpa berbasa-basi, Empu Gani langsung menghampar bawaannya. Tidak hanya keris, ada juga badik, yang semuanya memesona anak-anak yang memandangnya.

Awalnya hanya keris—beserta cundrik, yaitu ragam keris yang berukuran kecil yang penggunaannya marak di kalangan wanita—yang dibagikan oleh Perguruan Naga, dan hari pembagiannya disebut ‘hari pembagian keris’. Lalu, atas saran dan juga permintaan dari beberapa murid, perguruan juga membagikan badik untuk menambah pilihan. Karena keris dan badik sama-sama berpamor bilahnya, maka hari pembagiannya serta-merta berganti menjadi ‘hari pembagian pamor’. Kata pamor sendiri sering digunakan untuk menyebut senjata yang bilahnya berpamor semacam keris dan badik.

Pembagian pamor ini adalah tanda kelulusan murid Perguruan Naga dalam menjalani pendidikan tahap awal. Setelah ini, mereka bebas memilih bidang ilmu yang mau didalami atau bahkan meninggalkan perguruan sekalipun. Karenanya, senjata pamor yang dibagikan tidak hanya menjadi penanda kelulusan, tetapi juga sebagai pegangan.

“Aku tidak akan membiarkan kalian memilih sendiri pamor yang kalian inginkan,” Empu Gani berkata sambil menggulung kembali bawaannya, sekaligus mengakhiri kekaguman murid-muridnya.

Beberapa anak, termasuk Sakti dan Subo, mendesah kecewa. Tiap keris dan tiap badik pembagian memang serupa satu sama lain. Akan tetapi, itu hanya pada warangka dan hulunya. Empu Supardi yang membuat senjata-senjata itu tak pernah membuat pamor khusus untuk pembagian. Jadi pamor pada bilah keris dan badik yang dibagikan terbentuk secara alami, dan tentu saja guratannya tidak ada yang sama.

Sekarang, keputusan sang empu memupus harapan mereka untuk memilih sendiri guratan pamor yang disukai.

“Tidak perlu menyesali keputusanku.” Empu Gani mencoba menghibur murid-muridnya. “Semua pamor sama saja. Yang membedakan adalah pengguna dan tujuan penggunaannya.”

“Tapi, Empu,” sahut Sitok, “kalau Empu saya tikam menggunakan keris buatan saya sendiri atau dengan Keris Pusar Samudra pasti hasilnya berbeda.”

“Ah, tetap sama saja.” Empu Gani mencondongkan tubuhnya ke depan dan memelotot. “Sama-sama akan mati,” lanjutnya disertai tawa yang terkekeh-kekeh.

Tidak ada yang tertawa mendengar guyonan itu selain Empu Gani sendiri. Sementara Sitok sedikit dongkol karena merasa dipermainkan.

“Sudahlah, sebutkan saja jenis senjata yang kalian inginkan,” kata Empu Gani setelah tawanya reda. Lalu Empu Gani memanggil muridnya satu per satu.

https://www.wattpad.com/story/87196805-pamor

Read previous post:  
0
points
(3757 words) posted by Misterious J 21 weeks 5 days ago
Tags: Cerita | Novel | fantasi | Badik | Bordineo | keris | pusaka | silat
Read next post:  
Writer cinta44
cinta44 at Pamor (2) (7 weeks 3 days ago)
70

Awalnya gak paham apa itu pamor dan setelah membaca cerpen ini sampai tuntas akhirnya masih gak paham juga hahaha

______________________________________
Hipnoterapi nampaknya bisa jadi cara jitu mengendalikan emosi yang meledak-ledak

Writer embun88
embun88 at Pamor (2) (17 weeks 3 days ago)

Benar-benar bagus cerita ini

________________________________________
Percayakan pada Perusahaan Cargo Surabaya yaitu SRA Cargo untuk urusan pengiriman barang / dokumen Anda