Pamor (3)

Pamor
Bab: 3. Masalah
Karya Jannu A. Bordineo

SAKTI DAN KETIGA temannya berjalan menuju hutan dengan pamor baru terselip di kendit masing-masing. Sakti, Subo dan Konda memilih keris, sedangkan Sitok memilih badik. Mereka belum melihat seperti apa bilah pamor mereka, dan sepakat untuk melihatnya di tempat yang akan mereka datangi.

Tempat yang mereka tuju berada di selatan Bukit Kecil. Pada mulanya mereka berkumpul di dekat ternak gembalaan Subo. Mereka menunggu di sana sampai anak-anak gembala pada pulang lantaran matahari hampir tenggelam.

Yakin sudah tidak ada yang memerhatikan, mereka mulai bergerak. Bagong ditinggal karena mereka harus bergerak cepat.

Mereka memulai langkah dengan berjalan cepat. Tak lama berselang mereka berlari. Sakti memimpin di depan, Subo paling belakang—ukuran tubuhnya membuat dirinya paling lambat di antara teman-temannya.

Lari mereka terbilang cepat dan nyaris tanpa suara. Bahkan beberapa anak yang masih ada di kedua bukit penggembalaan tidak menyadari ada yang melintas. Meskipun begitu, mereka tidak mau menghadapi kemungkinan menarik perhatiaan anak-anak gembala. Maka dari itu, mereka memilih memutari kaki bukit yang pepohonannya lebih rapat.

Tak butuh waktu lama sampai mereka tiba di kaki Bukit Kecil sebelah selatan. Sebelah selatan ini hampir tidak pernah didatangi anak-anak gembala yang masih belia. Mereka takut lantaran tempat ini adalah pinggir Hutan Besar, hutan yang terkenal sering menyesatkan.

Tanpa ragu Sakti masuk ke dalam hutan diikuti teman-temannya. Tidak terlalu jauh masuk ke dalam hutan, mereka sampai di sebuah telaga.

“Apa-apaan ini?” keluh Sitok. Sementara itu Subo melongo, Sakti dan Konda mengernyitkan alis.

Ramai di sana, di sekitar telaga, ramai oleh murid perguruan yang baru mendapat pamor. Padahal telaga itu biasanya sepi, jarang dikunjungi karena keterpencilan letaknya yang tersembunyi di balik pepohonan di pinggir Hutan Besar

Sakti menyapukan pandangannya ke seluruh tempat itu. Sebagian murid saling mengamati dan mengomentari pamor baru mereka, sebagian lagi mencelupkan bilah pamornya ke dalam telaga.

Sakti tersenyum kering. “Konyol,” katanya. Lalu memandang teman-temannya. “Kalian tidak berpikir untuk melakukan ritual sesat itu, bukan?”

Murid perguruan yang baru mendapatkan pamor banyak yang mencelupkan senjatanya ke dalam telaga ini, berharap mendapatkan tuah dari Keris Pusar Samudra.

Memang, telaga ini erat kaitannya dengan Keris Pusar Samudra. Namanya pun sama, Telaga Pusar Samudra. Menurut cerita, senjata masyhur itu dibuat di tepi telaga ini. Dibuat oleh kakek tua tak dikenal yang tinggal di tepi telaga. Dalam pembuatannya, sang kakek mencelupkan Keris Pusar Samudra ke dalam telaga setelah disepuh dan ditempa. Hal yang patut dipertanyakan karena telaga ini berair asin.

“Tentu saja tidak,” jawab Sitok. “Tidak ada gunanya itu. Medatangkan hukuman saja.”

“Mungkin tidak bagi dia,” Konda menceletuk sambil menunjuk ke depan.

Tahu-tahu Subo sudah berjongkok di pinggir telaga. Kerisnya masih bersemayam di dalam warangka. Namun menilik gelagatnya, dia akan melakukan kegiatan terlarang itu.

“Jangan bodoh!” bentak Sitok seraya menyeret Subo menjahui pinggir telaga.

“Apa-apaan ini?” Subo berontak.

“Jangan permalukan kami dengan melakukan hal bodoh itu!”

“Aku cuma duduk-duduk di sana.”

“Diam kalian berdua!” Sakti menghardik dengan suara tertahan. Lalu Konda memisahkan Sitok dan Subo. “Kalian berdua membuat kita jadi perhatian,” gerutu Sakti.

Benar. Mereka menjadi perhatian walau untuk sesaat. Daya pikat pamor masih lebih besar daripada keributan yang dibuat Sitok dan Subo. Namun mata Sakti menangkap seorang murid dari salah satu kelompok yang terus memerhatikan kelompoknya.

“Apa ada jalan lain?” tanya Sakti. “Untuk menghindari anak-anak ini?”

“Sebenarnya tidak,” jawab Sitok. “Tapi aku bisa memperkirakan letaknya dan lewat jalur baru.”

“Ya, sudah. Ayo!” Sakti berbalik pergi. Sudut matanya melihat pemuda tadi masih memerhatikan kelompoknya.

***

Sitok memimpin jalan menggantikan Sakti. Hanya dia yang tahu tempat tujuan mereka di dalam hutan itu. Berkali-kali dia mengeluh karena jalan setapak yang nyaris tidak kelihatan, penuh sulur dan tanaman merambat dan semak-semak. Dia harus menyibak penutup jalan dengan tangannya karena tidak satu pun dari mereka yang membawa parang, sementara tidak ada yang mau menggunakan pamor barunya untuk merintis jalan.

Kala Konda menawari badiknya untuk digunakan, Sitok menjawab sinis: “Untuk apa tusuk konde?” Dia tahu Konda hanya bermaksud mengolok-olok dirinya.

Sitok juga menggerutu karena Subo seringkali menginjak ranting kering sehingga menimbulkan suara ‘krak’ yang terdengar nyaring di kesunyian hutan.

Segala keluh kesah Sitok menghilang kala hutan di depan mereka berterawang ditembus cahaya, tanda bagian hutan di depan sana kurang lebat. Dia memelankan langkahnya. Beberapa langkah berikutnya dia berhenti.

Mereka telah sampai di pinggir sepetak lahan hutan yang habis ditebang. Tunggul-tunggul pohon masih terlihat. Sementara pohon baru belum tumbuh terlalu tinggi menggantikan pohon lama yang ditebang, rerumputan menguasai lahan itu.

Lahan terbuka itu berubah menjadi padang rumput sementara. Tempat binatang hutan merumput. Mereka bisa melihat tiga ekor rusa—seekor jantan yang tanduknya sudah bercabang-cabang dan dua ekor betina—sedang asyik merumput. Sitok meyakinkan teman-temannya masih banyak lagi rusa di tempat itu yang luput dari pandangan mereka, entah itu karena sedang menderum atau terhalangi rerumputan.

Sitok memasukkan jari telunjuk kanannya ke dalam mulut, kemudian dia mengacungkan jarinya yang telah basah itu ke udara terbuka.

“Bagus. Angin mengarah ke kita,” Sitok berkata dengan suara pelan. “Sekarang kita bagi menjadi dua regu. Aku dan Sakti akan menghalau rusa jantan itu kemari. Kalian berdua,” Sitok menunjuk Subo dan Konda, “bersiap menyambut pejantan itu dengan tikaman pamor kalian.”

“Tumben kau tidak memilih Konda,” Subo memberi tanggapan.

“Diam kau!” geram Sitok. “Di antara kita berempat, hanya aku dan Konda yang telah akrab dengan senjata penikam ini. Kalau kita bersama, kau dan Sakti akan jadi bulan-bulanan rusa jantan itu.”

Subo manggut-manggut, tidak lagi berkata macam-macam.

Sebelum pergi, Sitok memberi pesan lagi, “Ingat, sasaran kita adalah rusa jantan itu. Jika kalian melihat rusa lain, sedekat apa pun jaraknya, abaikan. Berhati-hatilah pada tanduknya!”

Kemudian Sitok dan Sakti mengitari padang rumput. Mereka berjalan berhati-hati sampai di seberang padang. Dari seberang sini, angin berhembus dari arah Sitok dan Sakti. Itu artinya, buruan mereka akan segera mengetahui keberadaan para pemburunya.

Benar saja. Rusa jantan itu menoleh ke arah angin berhembus. Binatang yang mengagumkan itu pasti mencium bau manusia dan menganggapnya sebagai ancaman. Rusa jantan itu mulai berjalan ke arah Konda dan Subo. Dua ekor rusa betina yang ada di dekatnya mengikuti.

Di sisi lain, Konda dan Subo menghunus keris masing-masing begitu melihat si rusa jantan berjalan.

Tiba-tiba saja muncul tiga ekor rusa lainnya dari balik rerumputan. Sama persis seperti yang Sitok katakan. Dan tanpa peringatan rusa-rusa itu berteriak bersahut-sahutan.

Suara rusa-rusa itu begitu nyaring memekakkan telinga. Subo sampai terjungkal karena terkejut. Konda yang lebih sigap langsung membantu Subo berdiri. Tanpa sadar, rusa jantan incaran mereka sudah berdiri di hadapan Subo dan Konda. Lalu, rusa jantan itu memekik sekeras-kerasnya.

Konda dan Subo terkesiap sampai terpaku di tempatnya berdiri. Keduanya tak berkutik dipergoki lebih dahulu oleh buruannya dan diteriaki nyaris di kuping. Bahkan Subo sampai gemetaran saking terkejutnya.

Suara-suara gaduh terdengar di sekeliling Subo dan Konda. Rusa-rusa lainnya mulai berlari kabur. Rusa jantan itu pun terlihat akan berlari juga. Namun Konda dan Subo masih membatu.

Untunglah di saat-saat terakhir Sitok muncul dari balik rerumputan, langsung menghambur ke rusa jantan. Dia berhasil menikamkan badiknya ke rusuk rusa jantan itu dan berharap badiknya cukup panjang untuk menjangkau jantung binatang itu.

Rusa jantan itu mengerang, lalu mendengus kasar. Binatang itu meronta hendak melawan, membuat Sitok melompat mundur tanpa sempat mencabut badiknya. Rusa jantan itu bersiap menyerang balik Sitok yang tanpa senjata.

Dari belakang, Konda yang sudah pulih dari keterkejutan melompat naik ke punggung rusa jantan itu. Dengan sigap dia memegang pangkal tanduk rusa jantan itu dengan tangan kirinya, kemudian menariknya ke belakang. Dengan sendirinya rusa jantan itu mendongak memperlihatkan lehernya. Konda langsung menggorok binatang itu menggunakan kerisnya.

Rusa jantan itu masih sanggup mengibaskan kepalanya. Konda terpelanting jatuh di bawah binatang itu. Hampir saja Konda diinjak-injak jika Sakti tidak menolongnya menyingkir dari tempatnya jatuh.

Rusa jantan itu mulai berlari menjauh.

“Oi, Subo! Jangan diam saja! Cepat kejar rusa itu!” Sitok tahu, saat ini hanya Subo yang bisa menyerang. Dan dia marah lantaran Subo masih terpaku di tempatnya berdiri. “Cepat bergerak, Bodoh!”

Teriakan kedua Sitok yang penuh amarah dan sumpah serapah menyadarkan Subo. Pemuda berbadan besar itu berlari mengejar rusa jantan buruan mereka. Dia berhasil menyusul binatang itu dan menikamkan kerisnya.

Rusa jantan itu belum mau menyerah. Kepalanya diayunkan ke arah Subo, yang langsung melompat mundur menghindari tandukan yang berbahaya. Subo sempat mencabut kerisnya. Sementara itu, rusa jantan buruan mereka sudah semakin jauh.

Sakti berprakarsa mengejar rusa jantan itu. Dia yang tercepat di antara teman-temannya. Dan juga, dia belum menggunakan kerisnya. Ketiga temannya menyusul agak jauh di belakang.

Mereka beruntung. Rusa jantan itu sudah sekarat. Di tepi padang rumput, binatang malang itu melambatkan larinya dan akhirnya berjalan terengah-engah dengan kepala yang terkulai lemah. Beberapa kali terdengar rusa jantan itu terbatuk-batuk. Batuk darah. Rongga dadanya pasti sudah penuh darah dan mengganggu pernapasannya.

Sakti berhenti sejenak di dekat rusa jantan itu. Dia mewaspadai kalau-kalau binatang itu masih mampu menyerang balik. Tangan kanannya menggenggam hulu keris kuat-kuat. Sedikit gemetar oleh luapan semangat. Sakti menghirup udara dalam-dalam, memantapkan hatinya, lalu dia menyerang tepat saat teman-temannya sampai di tempat itu.

Keris milik Sakti menancap telak. Rusa jantan itu tersentak. Dan lari….

https://www.wattpad.com/story/87196805-pamor

Read previous post:  
7
points
(2421 words) posted by Misterious J 15 weeks 6 days ago
35
Tags: Cerita | Novel | fantasi | Badik | Bordineo | keris | pusaka | silat
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer cinta44
cinta44 at Pamor (3) (2 weeks 3 days ago)
70

Akhirnya setelah membaca cemer ketiga ini jadi paham banget mengenai pamor

__________________________________________
Hipnoterapi nampaknya bisa jadi cara jitu mengendalikan emosi yang meledak-ledak

Writer merkuri
merkuri at Pamor (3) (9 weeks 2 days ago)

Menurutku kelanjutan cerita ini masih ada hubungannya dengan cerita sebelumnya hehehe

___________________________________________
Untuk melakukan jual beli saldo atau pengisian paypal balance secara online dan cepat kunjungi => https://triv.co.id/id/home/paypal

Writer embun88
embun88 at Pamor (3) (12 weeks 3 days ago)

cerita yang menarik, oke gw baca kelanjutannya laen waktu

____________________________________
Percayakan pada Perusahaan Cargo Surabaya yaitu SRA Cargo untuk urusan pengiriman barang / dokumen Anda