Spirit Conductor: Chapter 1

CHAPTER 1 – SEORANG PEMUDA DARI DESA BADRIL

Benua Tiramikal membentang luas berjuta-juta kilometer, namun diisi dengan kondisi tanah yang kering. Rumput dan dedaunan pohon di sekitar pemukiman sudah kuning entah sejak berapa ratus tahun yang lalu. Desa-desa yang dijadikan pemukiman penduduk biasa, karena menjadi pilar untuk menyokong bahan pangan nasional, biasanya dibedakan menjadi beberapa tingkat tergantung kualitas hijau tanahnya. Ini berbeda dengan desa petarung, yang biasanya diisi oleh para pendekar, petualang, dan tentara bayaran. Khusus di benua Tiramikal, tingkat desa petarung dibedakan dari seberapa kering tanahnya. Karena kondisi lingkungan Tiramikal yang kering memicu perkembangan monster yang menjadi sumber daya para petarung.

Desa petarung tingkat ketiga, tingkat terendah, biasanya terletak tak jauh dari tempat tandus namun tak jauh pula dari sumber air. Beberapa monster tingkat rendah hidup di sekitar pemukiman namun biasanya tak berbahaya untuk penduduk kecuali monster khusus seperti Singa Raja Gunung, Beruang Bulu Besi dan monster rank tiga lainnya yang jarang ditemui. Dari desa-desa ini kemudian akan mengirim putra-putri mereka dengan talenta bertarung terbaik untuk dikirim ke desa tingkat selanjutnya. Di sana, mereka akan memasuki sekolah-sekolah bela diri, unit militer, dan instansi lainnya yang akan membantu perkembangan dan status sosial mereka.

Bisa dikatakan, ketika para pemuda melangkahkan kaki mereka ke dalam gerbang desa petarung tingkat kedua ini, maka jati diri mereka akan terbentuk. Jika memasuki sekolah ternama, maka status mereka akan naik. Jika mendapatkan posisi di serikat dengan kekuatan yang kuat, maka orang lain akan berpikir dua kali sebelum mengganggu mereka. Masa ini adalah pijakan pertama mereka yang akan menjadi fondasi untuk menentukan nasib mereka untuk melangkah ke desa petarung selanjutnya. Banyak para pemuda bermimpi untuk menjadi sepuh di sekolah tingkat atas, atau menjadi jendral yang memimpin ratusan ribu prajurit, dan bahkan menjadi petualang yang akan menaklukkan tujuh benua. Benih-benih hasrat ini akan di tanam di tanah desa tingkat kedua, entah nanti akan tumbuh dan berbuah, tergantung dari tekad dan keberuntungan masing-masing.

Dan lima belas tahun yang lalu, di desa tingkat ketiga yang dijuluki Desa Badril, lahir seorang anak laki-laki.

Tak ada yang tahu ketika ia meneriakkan tangisan pertama, guntur dan halilintar berwarna merah pekat menyambut di awan gelap malam itu. Ia adalah anak satu-satunya seorang sepuh di sekolah Hatim Malakas, sebuah sekolah petarung kualitas menengah. Bertahun-tahun berlalu dan ia tumbuh menjadi pemuda yang tampan dengan perawakan standar pemuda desa. Lahir sebagai anak sepuh dari sekolah petarung secara otomatis menaikkan derajatnya di mata masyarakat desa itu. Namun, sayangnya, orang-orang hanya melihatnya sebagai sampah yang tak memiliki talenta sama sekali.

“Bocah benalu! Bapaknya sudah capek-capek kesana kemari tukar ramuan tingkat tinggi jatah bulanannya dari sekolah Malakas, cuma untuk ramuan tingkat rendah untuk dia. Tapi masih aja nyangkut di level 3, bah!”

“Bapaknya dulu pas masih muda juara kebanggaan desa, tapi anaknya bawa sial! Kalau ramuan bulanannya gak dikasih ke anaknya, mungkin sepuh sudah naik ke desa tingkat pertama sejak dulu!”

“Hehe, tenang kawan-kawan. Semua orang kan punya talenta masing-masing. Itu takdir. Manusia mana kuasa? Jangan salahin Tuan Muda Yashura yang punya talenta buat jadi petani. Hehe.”

Komplain dan ejekan dilontarkan keras dan jelas untuk di dengar keluarga Yashura, terutama kepada tuan muda yang talenta petarungnya ‘nyangkut’ di level 3 pada usia ke lima belas. Kalau saja si sepuh ada di situ dan mendengar anaknya direndahkan, maka ratusan orang akan kehilangan semua gigi mereka dihajar olehnya. Bahkan mungkin ada yang mati dihajar habis-habisan olehnya. Tapi sayang ia sedang dalam misi penting untuk sekolahnya, dan tak bisa kembali ke desa untuk pertemuan penting yang menyangkut nasib anaknya. Ini membuat orang-orang yang iri menjadi liar tak terkendali melampiaskan kekesalan mereka.

Itu adalah pertemuan pertunangan yang sudah ditetapkan lima belas tahun yang lalu oleh kepala keluarga masing-masing. Keluarga Yashura akan menerima rombongan keluarga Malikh dari sisi si gadis. Banyak orang yang datang untuk melihat gadis yang katanya merupakan gadis tercantik di Desa Badril, dan kejeniusannya menyamai talenta dari keturunan ningrat desa-desa tingkat kedua... seorang gadis yang sudah menapaki level 8 di usia lima belas, dan sudah bersiap untuk mengambil tes untuk kelas Archer!

“Cowoknya sekelas ampas kelapa, tapi ceweknya sudah jadi mutiara! Ck, ck ck... kok bisa itu loh.”

“Kepala keluarga Malikh sudah tua, matanya jadi picek gak bisa ngebedain yang berlian sama batu kerikil! Kalau begini enak di keluarga Yashura!”

“Ssshhh! Orangnya tau situ ngomong begitu bisa dipenggal ntar!”

“Cewek itu umur lima belas sudah masuk level 8. Padahal lahir dari desa pinggiran seperti ini, tanpa bantuan ramuan khusus seperti anak-anak dari keluarga kaya. Lebih lagi, katanya dia sudah berani ambil tes buat jadi Archer? Padahal yang level 10 saja masih kesusahan!”

“Jangan salah! Ane dengar keluarga Malikh dapat harta karun bulan lalu! Pil buat tambah exp, scroll agility sama dexterity! Jelaslah, kalau yang punya AGI sama DEX tinggi, ambil tes Archer di level 8 bukan masalah!”

“Cih, masih aja dibodohin gitu? Mana ada orang-orang dari keluarga Malikh yang kuat nembus dungeon untuk cari harta karun? Nih, aku kasih tau ya, dua tahun lalu si cewek dari keluarga Malikh pergi ke seminar yang di adain sekolah Tiramikal Center khusus buat anak-anak jenius...”

“Tiramikal Center? Sekolah tingkat atas yang ada di sepuluh besar sekolah terbaik itu? Ck, ck, gak nyangka ada anak dari Desa Badril yang bisa ke sana.”

“Denger dulu, bukan cuma itu aja, katanya cewek Malikh ini cakepnya bukan main! Banyak tuan muda dari keluarga-keluarga ningrat di seminar itu yang naksir cuma sekali lirik. Terus, kabarnya, tuan muda keluarga Blackwood berhasil deketin cewek itu, tapi gak bisa maju gara-gara si cewek ternyata sudah dijodohin sejak lahir! Konon kabarnya keluarga Blackwood terus-terusan kirim ‘hadiah’ buat goyahin kepala keluarga Malikh tapi gak berhasil. Scroll agility sama scroll dexterity sudah jelas hadiah dari Blackwood untuk menangin si cewek.”

“Halah! Situ hati-hati kalau ngegosip, Sepuh Yashura, si bapak yang anaknya ditunangin ini, tempramennya sensitif bukan main! Kabarnya bulan lalu beliau sudah naik level jadi level 46, biar pun situ kesenggol ntar bisa dirawat inap tiga bulan situ!”

“Gak percaya? Lihat nanti kalau rombongan Malikh datang, pasti ada orang Blackwood di situ. Kalau gak ada, nih, potong telingaku!”

Orang-orang yang datang sibuk sendiri menyebar rumor atau mencemooh pertunangan ini. Walau pun tak ada dari mereka yang di izinkan masuk dan hanya berkumpul di sekitar gerbang seperti orang-orang yang berunjuk rasa, tak ada dari mereka yang mau bersikap sopan. Generasi muda dari keluarga Yashura saat ini sama sekali tak membuahkan bibit jenius. Bahkan, pewaris utama Yashura, dengan perkembangan level yang sangat lamban membuat orang-orang melihat mereka dengan sebelah mata.

Ini sama sekali berbeda ketika mereka menyikapi generasi Yashura sebelumnya.

Tak ada yang berani berkata macam-macam jika Sepuh Jhuro Yashura ada di situ.

Jhuro Yashura, diumur enam belas tahun, lulus tes menjadi Blackfang Swordsman. Harus diketahui kelas Blackfang Swordsman adalah sebuah kelas unik, yang hanya bisa didapatkan oleh satu orang saja. Setiap kelas unik memberikan skill set berbeda daripada kelas biasa. Hal ini tentu berlaku pada Jhuro Yashura. Jhuro memperlihatkan keganasan skill set Blackfang Swordsman di Turnamen Emas Tiramikal di usia delapan belas tahun, dan menggaet posisi juara tiga tahun itu.

Saat itu benua Tiramikal langsung mengenal nama Pendekar Pedang Hitam yang lahir dari rakyat jelata: Jhuro Yashura.

Kemudian, di usia dua puluh tahun, ia memutuskan untuk menjadi pengajar di sekolah Hatim Malakas. Ia diterima, dan menjadi pengajar termuda di sejarah beribu-ribu tahun sekolah tersebut. Pada usia dua puluh tujuh tahun ia naik dan mendapatkan gelar Sepuh Jhuro Yashura, dan menikah dengan salah satu muridnya satu tahun kemudian. Di usia ketiga puluh tahun, ia dikaruniai seorang putra, yang diberi nama Shira Yashura. Keluarga Yashura saat itu sangat berharap melihat lahirnya pendekar hebat untuk kedua kalinya...

Namun yang mereka dapatkan dari harapan itu hanyalah rasa masam.

Tuan Muda Shira ternyata tak diberkahi oleh surga seperti ayahnya. Tumbuh dengan atribut biasa, tak termotivasi untuk mengembangi dirinya, selalu menghibur diri membaca sejarah para pahlawan di masa lalu.

Di setiap waktu ia nampak sibuk dengan pikirannya sendiri. Jika disuruh latihan berpedang, ia selalu mengeluh pedang latihan yang digunakannya terlalu berat untuk diayunkan. Mayoritas sepuh di keluarga Yashura menyalahkan kekurangan motivasinya ketika melihat ia tak berkembang sama sekali. Hampir semua dari mereka ingin mengganti posisi Shira sebagai pewaris utama keluarga yang akan menggantikan Kepala Keluarga Yashura di masa mendatang. Mereka juga menyarankan untuk membatalkan pernikahan Shira dengan gadis jenius dari keluarga Malikh untuk menghindari gosip yang tidak jelas di masa mendatang. Tapi Kepala Keluarga Yashura adalah kakak dari Jhuro Yashura, kepala mereka sama-sama diisi penuh dengan batu.

“Kalian semua ngaku sepuh tapi gak ngotak! Gak punya mata! Shira jelas-jelas kiriman dari surga untuk keluarga Yashura tapi kalian menyikapi mutiara seperti upil hidung, bah!” begitu omelan Kepala Keluarga Yashura setiap kali para sepuh mengeluarkan pendapat mereka di perkumpulan keluarga. “Tau apa kalian tentang potensi Shira, hah?! Sekarang mungkin dia masih level 3, tapi lihat ntar kalau dia sudah dewasa. Semua makhluk hidup di bawah langit bakal berlutut di hadapannya! Hahaha!”

***

“Tuan Muda Shira? Tadi saya lihat dia sedang membaca buku di perpustakaan,” kata seorang pelayan ketika ditanyai oleh ajudan keluarga, Yulong.

“Duh, tadi aku sudah cari bolak-balik di perpustakaan, tapi gak ada sama sekali! Rombongan keluarga Malikh hampir tiba, tapi orang yang harusnya nyambut tamu malah keluyuran entah kemana. Duh! Duh!”

Yulong melangkahkan kaki tergesa-gesa sambil menoleh kesana-kemari, mengintip ke setiap ruangan mencari Shira. Kepala Keluarga Yashura sudah memberikan perintah kepadanya untuk mempersiapkan Shira menyambut tamu satu jam yang lalu. Tapi ia tak menemukan pemuda itu sejak tadi. Tentu saja raut wajah panik terpampang jelas di wajahnya.

“Tuan Muda pasti menyadari kalau dia harus yang paling pertama menyambut tamu. Ah, kalau dilihat dari kepribadiannya yang penyendiri, sudah pasti dia bakal merasa tersiksa! Mudahan aja dia gak kabur...”

Di bukit tak jauh dari kediaman keluarga Yashura, seorang pemuda berbaring santai di bawah naungan pohon rindang. Ia menyelipkan kedua tangannya di belakang kepala sebagai bantal, wajahnya di tutupi buku biografi tentang pahlawan “Pendekar Pedang Bermata Satu”. Di saat ia santai menikmati angin sepoi di bukit itu, kediaman Yashura ricuh mencari keberadaannya.

Tapi ia tidak peduli sama sekali. Ia tahu tentang pernikahannya yang ditetapkan dengan gadis jenius Malikh sejak dulu namun tak pernah memikirkannya, sampai-sampai ia tidak tahu tentang rombongan keluarga Malikh yang akan datang bertamu hari ini. Padahal kabar tentang rombongan itu semua orang di desa Badril sudah tahu. Semua orang kecuali orang yang akan ditamui.

“Woi, bocah! Kamu masih santai di sini?” Suara macho membangunkan Shira dari setengah tidur.

“Huh?”

“Tunanganmu datang bertamu, apa gak ada yang kasih tau?”

Shira hanya menggeleng pelan sambil mengusap-usap matanya.

“Cepat cuci muka dan ganti baju yang bagus! Aku sudah melihat si cewek tunanganmu barusan. Hehe, bocah, bisa dibilang kamu orang yang paling beruntung di desa ini. Belum pernah ketemu kan sebelumnya?”

Pria yang berbicara dengan Shira tak lain adalah arwah yang menempel padanya semenjak satu tahun yang lalu. Seorang pria paruh baya yang tubuhnya sudah menjadi transparan, mengenakan baju kulit petualang yang kualitasnya tak pernah Shira lihat sebelumnya. Roh itu dulunya semasa hidup adalah seorang petualang level tinggi yang pernah menghantam benua Tiramikal dengan kejayaan. Bisa dibilang ia adalah salah satu pahlawan yang namanya tak akan terhapus sejarah. Tapi ketika ia memperkenalkan diri untuk pertama kalinya kepada Shira, ia menyebut dirinya dengan julukan “Arwah Baik Hati”.

Satu tahun belakangan ini, ia dengan senang hati mengajarkan teknik-teknik dan skill pasif miliknya kepada Shira. Bisa dibilang dia adalah guru Shira. Walau mereka berdua tak mengakuinya sama sekali. Biar pun skill-skill yang diajarkan adalah teknik tingkat rendah dan tak berharga baginya, untuk petarung di desa tingkat ketiga, ajaran arwah itu adalah harta karun.

Ia mengajarkan Shira tentang footwork dan gaya bertarung acak yang mengandalkan intuisi, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan gaya bertarung keluarga Yashura. Namun Shira tak pernah menyangkal ajaran arwah ini. Ia memang masih petarung level 3 tapi kecakapan dan ketajaman pikirannya jauh melebihi remaja rata-rata. Ia tahu gaya bertarung ini sangat mengalir dan selalu bisa mengubah jalannya pertarungan jarak dekat.

Shira menganalisa, jika ia menggunakan footwork dan style acak seperti ini, akan banyak kesempatan untuknya menghindari serangan musuh dan melakukan counter-attack akan menjadi lebih mudah. Di pertarungan jarak dekat, dengan tingkat dodge dan counter-attack yang tinggi, menggunakan senjata yang lebih pendek dari musuh tak akan menjadi masalah. Simpelnya bisa dibilang menggunakan kekuatan musuh untuk membuka celah menyerang. Ini adalah gaya bertarung yang cocok untuknya karena ia terlalu malas mengayunkan style pedang berat yang sudah menjadi tradisi keluarganya.

“Bocah ini, gerakan kakinya semakin lama semakin simpel, tapi jelas terasa berbahaya! Pemahamannya terlalu tajam sampai-sampai terlihat natural. Apa dia mempelajari konsep ‘Water Flowing Style’ sambil tidur barusan?” ujar Arwah Baik Hati kepada dirinya sendiri ketika melihat punggung Shira yang berjalan kembali menuruni bukit. “Walaupun saat ini skill pasif tingkat rendah untuknya, tetap saja ‘Water Flowing Style’ itu skill pasif unik yang memiliki tingkat kesulitan tinggi untuk dipelajari. Tapi dia sudah mencapai level 2 untuk skill itu bulan lalu, barangkali tahun depan bakal naik ke level 3. Ck, ck, anak ini adalah yang mereka sebut jenius di antara jenius. Lebih lagi aura tingkat tinggi yang keluar dari tubuhnya, hmm, Orang-orang sampah di desa ini mana bisa mengenali aura mengerikan itu kecuali secara ajaib level mereka melompat naik ke level 70. Barangkali... tingkat perkembangannya yang lambat itu kompensasi untuk talentanya yang seperti monster.”

“Ah. Kalau saja perkembangan bocah ini seperti rata-rata anak biasa, dia bakal membuat semua orang di generasinya menunduk! Heh! Aku ingin melihat apa dia bisa menembus skill ‘Water Flowing Style’ ke level 5.

“Kalau dia bisa melewatinya, bakal ada kesempatannya untuk melewatiku ke level 10 terus sampai titik evolusi ke ‘Liquid Dragon Flowing Style’ yang legendaris itu. Hmmm.”

Arwah itu mengelus-elus dagunya dengan senyuman lebar terpampang jelas di wajahnya seperti orang bodoh. Matanya berbinar-binar. Pandangannya masih tak lepas dari arah Shira yang berjalan menjauh.

“Terus pas perkembanganmu sudah matang, hehehe, bocah... akan kuambil alih badanmu. Hehehe. Dengan talenta jenius dan aura misterius seperti itu prestasiku bakal lebih hebat ketimbang aku masih hidup dulu. Hehehe... hehehe...”

***

Read previous post:  
Read next post:  
Writer widhyyana
widhyyana at Spirit Conductor: Chapter 1 (22 weeks 2 days ago)
90

mantepp dah

Writer NodiX
NodiX at Spirit Conductor: Chapter 1 (21 weeks 4 days ago)

okok makasi dah mampir

Writer NodiX
NodiX at Spirit Conductor: Chapter 1 (23 weeks 23 hours ago)

lanjutannya ada di sini:
http://gilegati.blogspot.com/p/spirit-conductor.html

mau post chapter lain tapi poin gk sanggup