Spirit Conductor: Chapter 2

CHAPTER 2 – KELAS TERUNIK GENERASI INI

“Mengapa kau tak merasakannya? Aku masih menunggu...”

Suara serak seorang tua misterius terkadang terngiang di kepalanya ketika ia memejamkan mata. Shira selalu memperhatikan kata-kata orang tua yang berlalu di kepalanya walau pun yang ia dengar tak masuk akal sama sekali.

“Aku masih menunggu... sungai dan gunung masih menunggu... langit dan surga masih menunggu...”

“Lautan diam menunggu... awan pun diam menunggu...”

Semenjak kecil, Shira tahu bahwa dirinya berbeda dengan orang lain. Awalnya suara itu membuatnya takut dan menghantui mimpinya.

Lambat laun ia mengerti ada sesuatu di dalam dirinya yang ingin berkomunikasi dengannya. Walau suara itu terdengar putus asa mengeluh tanpa henti, terkadang orang tua itu berbicara tentang suatu petunjuk tentang Shira. Bertahun-tahun menyimak suara tersebut membuatnya mengerti satu atau dua hal tentang keganjilan yang menemaninya. Tapi hari ini ia tak mendapatkan apa yang ingin ia dengar. Ia hanya mendesah dalam hati, lalu membuka pelan matanya.

“Dek Shira, sudah selesai melamunnya?”

Sebuah suara lembut menyapanya saat ia terbangun ke dunia nyata. Shira melihat tubuhnya yang kurus dan wajahnya yang tampan seperti anak kecil terpantul di cermin di hadapannya. Ia sedang duduk di sebuah kursi kayu dengan ornamen singa lambang keluarga Yashura, dan seorang wanita muda tiga tahun lebih tua darinya sedang menyisir rambutnya yang sudah diberi minyak.

“Hihi, Dek Shira sudah gede. Sebentar lagi mau nikah beneran. Jadi deg-degan. Hihihi.”

Shira diam mendengar godaan itu, mimik mukanya bahkan tak berubah. Ia memang biasa terlihat dingin tapi hubungannya dengan Mila Yashura, kakak sepupunya cukup dekat semenjak mereka kecil.

Sekarang remaja ini hampir menjadi dewasa. Hari ini ia akan bertemu dengan calon istrinya untuk pertama kali. Semua orang di Desa Badril tahu gadis yang dijanjikan kepada Shira adalah mutiara terbaik di desa ini. Dan tanggal pernikahan sudah lama ditetapkan yaitu saat pemuda itu, secara tradisi, resmi menjadi pria dewasa saat berumur enam belas tahun. Mila tak henti-hentinya senyam-senyum sendiri semenjak kemarin karena saking bahagianya.

Jadi sebentar lagi aku akan menikah? Shira mendesah dalam hati ketika mendapati waktu cepat berlalu semenjak ia tahu bahwa suatu hari ia akan dinikahkan dengan seorang gadis dari keluarga Malikh. Ia mendengar banyak hal bagus tentang gadis itu. Dan ia mendengar pula banyak pemuda yang iri bukan main kepadanya. Semua orang mengatakan Shira adalah orang yang beruntung. Padahal dalam hatinya, dicarikan jodoh saja sudah untung baginya. Ia adalah tipe orang yang terlalu malas dan terlalu malu untuk mencari jodoh sendiri. Jika ia lahir di keluarga biasa dan status biasa di desa itu, kemungkinan besar ia akan hidup seorang diri sampai tua nanti.

Tetapi kemudian kegugupan lugu yang membuatnya tak nyaman sejak tadi kini berubah menjadi perasaan tak enak yang membuat merinding ketika mendengar suara Arwah Baik Hati memperingatinya tentang suatu hal.

“Aku mendengar satu dua hal gosip tentang cewekmu barusan. Bocah, hati-hati. Barangkali ntar ada orang yang cari masalah.”

Sekilas Shira memandangi arwah yang mengambang itu sebelum ia pergi menembus dinding. Dahi pemuda itu mengerut. Ada sesuatu yang salah? Awalnya ia tidak begitu peduli dengan sedikit masalah tentang hal-hal sepele seperti ini. Jika memang benar ada orang yang mencari masalah dengannya, maka ia dengan mudah menghiraukannya. Satu dua jam kemudian ia sudah lupa kalau ada orang yang mengganggunya.

Tapi kini, ia melihat wajah sepupunya yang berseri-seri. Perasaannya semakin menjadi tak nyaman.

Ada yang salah? Siapa yang berani buat masalah di saat-saat seperti ini?

“Dek Shira? Ada apa?”

Mila menyadari mimik wajah Shira yang berubah. Keraguan tergambar di matanya. Jarang-jarang ada suatu hal yang bisa mengubah ekspresi dingin di wajah anak itu.

“Gak ada.” Ia menjawab singkat sambil menggeleng-geleng.

Mila saling menekan kedua bibirnya mendengar jawaban Shira. Ia sudah lama mengenal adik sepupunya itu. Tidak sulit untuk menebak jika ada sesuatu yang membebani pikirinya dengan sekali pandang di wajahnya. Tapi Mila tak memaksanya untuk berbicara kali ini. Ia kembali memasang wajah berseri sambil membantu Shira mengenakan baju hitam tradisional keluarga Yashura yang sering digunakan untuk hari besar atau pesta lainnya.

“Hmm. Gak kerasa kamu sudah tinggi sekarang. Aku gak nyangka Dek Shira bakal jadi seganteng ini. Hihi.”

Tak lama kemudian, mereka mendengar suara pintu diketuk. Yulong berdiri di ambang pintu sambil memegang sebuah kotak dengan kedua tangannya.

“Permisi Tuan Muda Shira, Nyonya Muda Mila. Kiriman ramuan dari Tuan Jhuro untuk minggu ini sudah datang.”

“Oh, ramuan buat Dek Shira? Wah, banyak sekali!”

“Total lima belas botol ‘Lesser Elixir of Experience’ yang ditukar oleh Tuan Jhuro dari tiga botol ramuan tingkat atas. Sangat efektif untuk tenaga dalam yang masih dalam perkembangan seperti Tuan Muda Shira.”

Mila menerima kotak itu dengan senyum ceria.

“Apa rombongan keluarga Malikh sudah tiba?”

“Iya. Sekarang mereka sedang ada di pintu gerbang. Tapi akan ada jeda sekitar sepuluh menit sebelum mereka masuk sesuai dengan tradisi.”

 

Benar saja. Shira dan Mila sudah merasakan suara keramaian dan musik dari arah gerbang kediaman keluarga Yashura. Mila langsung bergegas membuka kotak ramuan di tangannya dan mengeluarkan botol ‘Lesser Elixir of Experience’ yang berisi cairan kental berwarna hijau.

“Cepat! Segera minum semuanya. Kamu harus terlihat sebaik mungkin!”

Shira tak menolak. Ia segera menegak botol demi botol.

Mila baru tiga bulan lulus tes pengambilan kelas. Ia adalah seorang Specialist. Kelas support yang khusus mengelola informasi dan masalah trivial dalam pertarungan. Dan pada umumnya, Specialist adalah kelas khusus yang bisa melihat status dan atribut orang lain.

Dan alis Mila mengerut melihat proses level Shira yang tak ada kemajuan walau sudah meminum sepuluh botol ramuan lebih.

‘Apa dia benar-benar cacat?’ Sebuah keraguan yang mengerikan terlintas di benaknya, cukup mengerikan sampai ia menjadi panik dalam hati. Mila sudah sering mendengar rumor tentang adik sepupunya yang cacat dan tak bisa naik level lagi. Jantungnya berdebar-debar.

“Dek Shira, aku punya beberapa scroll strength yang gak dipakai. Mau baca?” tanya Mila segera setelah Shira menegak semua botol ramuannya. Dia mengeluarkan dua gulungan ‘Scroll of Strength’ dari mystic bagnya. Mystic bag yang ia gunakan adalah kualitas rendah, tapi cukup mahal untuk ukuran keluarga kecil seperti keluarga Yashura. Di dalamnya terdapat ruangan buatan sebesar tiga kali tiga meter, sudah bisa dibilang besar untuk keperluan sehari-hari tapi tak mencukupi untuk keperluan berpetualang.

“Nng,” Shira menggeleng mendengar tawaran itu. Ia tahu seberapa mahal harga ‘Scroll of Strength’, yang bisa menambah atribut strength hanya dalam hitungan menit setelah membacanya. “Lebih baik buku biografi tentang Saint Doctor, atau dongeng tentang harta karun Blondie. Apa Mbak Mila punya? Aku lagi butuh.”

Senyum segar Mila berubah menjadi masam mendengar itu. Awalnya, Mila memiliki dua mystic bag. Tapi satu sudah ia jual karena tabungannya tak cukup untuk membeli ‘Scroll of Strength’. Dan Shira langsung menolaknya. Sebenarnya ia tak terlalu ambil hati jika adiknya itu menolak. Ia tahu Shira adalah pribadi yang dingin dan keras kepala.

Tapi ketika mendengar permintaan tentang buku biografi dan buku dongeng, hatinya mengeras. Ia sudah lama menentang Shira membaca buku-buku seperti itu. Jika membaca sekilas untuk menghilangkan bosan tak apa-apa. Tapi jika menjadi rutinitas, efeknya sama seperti membaca ‘Scroll of Wisdom’.

“Sudah kubilang berhenti membaca buku-buku seperti itu!” Suara Mila tegas tak lagi terdengar manis. Raut wajahnya terlihat kesal. “Jika kamu menambah atribut wisdom dengan membaca buku-buku itu, maka tak ada ruang untuk membaca scroll atribut yang lain! Kamu gak ingin berakhir menjadi Specialist sepertiku, kan? Sini, biar kuperiksa statusmu.”

Mila sudah menjadi Specialist level 11 di usia tujuh belas. Perkembangan seperti itu sudah bisa dibilang jenius. Biasanya orang-orang bisa lulus tes pengambilan kelas pada umur dua puluh tahun dan ketika memiliki level 10. Tapi Specialist adalah kelas support. Kemunculan jenius dalam kelas ini tak seheboh jenius untuk kelas petarung.

“Status Window!”

Cincin di jemarinya menyala ketika Mila melambaikan tangannya ke arah Shira dan menggunakan skill ‘Status Window’, skill umum Specialist untuk membaca status dan atribut orang lain. Biasanya, jika Specialist menggunakan skill ini untuk seseorang dengan level yang jauh berada di atasnya, maka akan banyak informasi yang tertutup. Tapi jika ia menggunakan untuk seseorang untuk level di bawahnya, maka skill ini akan menjadi lebih efektif.

Mila memicingkan matanya ketika cahaya kuning perlahan-lahan membentuk huruf di hadapannya.

 

Shira Yashura

NOVICE [ORDINARY CLASS LVL 3: 48% EXP]

STRENGTH: 4          AGILITY: 16              DEXTERITY: 8

INTELLIGENCE: 10   WISDOM: 22         ENDURANCE: 5

---------------------------------------------------------------------------------------

HIT POINT: 102

DAMAGE: 12-17

DEFENSE: 5

ATTACK SPEED RATING: 25

CRITICAL ATTACK RATING: 15% chance / 150% damage

DODGE CHANCE: 15%-60%

MAGIC RESISTANCE: 0%

POISON RESISTANCE: 0%

ELEMENTAL RESISTANCE: 35% / 0% / -15% / 0% (FIRE / WATER / LIGHTNING / WIND)

ELEMENTAL AFFINITY: WATER

 

Mila tercengang. Matanya melebar dan mulutnya terbuka untuk beberapa saat, kemudian matanya menjadi tajam lagi.

“Hah! Lihat! Wisdomnya lima kali lipat dari pada strength. Nanti harus bilang apa aku kepada Paman Jhuro?” omel gadis itu sambil menginjak-injak pelan lantai.

Shira hanya mengangkat bahunya.

“Haha, kalian nempel sekali seperti biasanya,” suara tawa berat terdengar dan seorang pria berbadan besar serta berwajah kasar datang dengan senyum di wajahnya. “Kalau orang luar lihat nanti bisa nyangka kalian yang bakal menikah. Hahaha.”

Pria berwajah kasar itu tentu saja adalah ayah Mila, Kepala Keluarga Yashura saat ini. Walau pun rupanya seperti bandit tapi ia adalah orang yang sangat ramah dan lembut kepada orang-orang yang di dekatnya.

“Ayah, lihat keponakanmu ini! Dia baca buku gak jelas mulu, kalau begini terus dia bakal jadi kelas support sepertiku!”

“Oh, yang bener?” Ayah Mila tak pernah lagi mengecek status Shira semenjak dua tahun yang lalu. Mungkin ia terlalu teledor kepada calon pewaris kepala keluarga ini, karena ia terlalu percaya pada ramuan yang dikirim oleh Jhuro setiap minggu.

“Wisdomnya 22 tapi strengthnya cuma 4! Bagaimana jadinya nanti kalau dia ambil tes Swordsman?!”

Senyum di wajahnya menghilang saat wajah Ayah Mila berubah menjadi serius. Ia tentu saja mendengar kabar kalau Shira sering menghabiskan waktu di perpustakaan tapi ia tak tahu bahwa akan muncul masalah seserius ini.

Tapi wajah seriusnya hanya bertahan sebentar saja. Ia kembali tertawa terbahak-bahak.

“Hahaha, Mila, ngomong apa kamu! Shira masih level 3, nanti juga strengthnya lompat kalau deket-deket level 10. Santai, santai!” Pria paruh baya itu kemudian menepuk-nepuk pundak Shira. “Shira, cepet pergi ke halaman buat sambut tunanganmu. Hehe, kamu belum pernah ketemu, kan?”

“Mn.” Shira lalu berjalan keluar ruangan itu meninggalkan Mila dan ayahnya.

“Haahhhh,” Ayah Mila melepaskan napas panjang sambil menggeleng-geleng. “Mila, kamu baru cek statusnya, kan? Coba ayah lihat.”

Mila masih menyimpan data status Shira di cincin miliknya. Di saat cincin itu menyala, muncul cahaya yang membentuk layar dan tulisan. Ia kemudian mendorong layar itu seperti ia mendorong angin, dan cahaya layar tersebut bergerak ke arah Ayah Mila.

“Ini...” sebuah ekspresi kecewa dan takjub bercampur di wajah kasar pria itu. Ia tak tahu harus berkata apa.

“Betul, kan? Wisdomnya ketinggian?”

Ayah Mila melihat ke arah anak gadisnya, kemudian terpaku kembali ke layar status dengan senyum aneh di wajahnya. “Memang betul wisdomnya lebih tinggi dari pada yang lain. Tapi ini, dodgenya malah jadi variasi, dia juga sudah dapet elemental affinity di level 3.”

“Memangnya kenapa kalau status dodgenya aneh? Memang kenapa kalau dia sudah punya elemental affinity? Kalau ujung-ujungnya dia dapat kelas support, orang-orang malah semakin menjadi-jadi bully dia! Sejak dulu aku selalu berbicara untuknya melawan orang-orang sialan itu, tapi kenapa sampai sekarang dia gak pernah punya pendirian? Jadi kesal benar aku dibuatnya, hmph!”

Ayahnya hanya menggeleng-geleng mendengar komplain gadis dengan wajah cemberut.

“Tapi bagus kan, dia sudah dapet water elemental,” kata pria itu sambil tersenyum. Ada cahaya harapan terlintas di wajahnya yang terlihat kecewa itu.

“Memang aneh sekali dia sudah punya elemental affinity sebelum ambil kelas. Baru pertama kali juga aku tahu yang seperti itu.”

“Hehe, wajar lah kamu gak tau yang seperti itu. Ayahnya Shira pas muda juga kasusnya sama. Dia dapet poison affinity pas level 8 dulu.”

“Eh?”

“Kata orang biasanya, petarung yang dapet elemental affinity sebelum ambil kelas itu ciri-ciri dari mereka yang bakal dapet kelas unik. Si Jhuro juga sama, dia dapet kelas unik Swordsman yang ahli racik ramuan racun ke pedangnya. Ini jarang kejadiannya, jadi wajar kamu gak tau.”

“Itu berarti...”

Ayahnya mengangguk. “Kemungkinan Shira buat dapet kelas unik nanti sudah sangat besar. Biar kelas support sekali pun, orang-orang gak bakal berani bully seenaknya. Selama Jhuro dapet back-ingan dari sekolah Hatim Malakas, dan ngeliat kalau bakalan ada dua kelas unik di keluarga kita, barangkali status kita bakalan sederajat dengan keluarga dari desa tingkat kedua nantinya. Ayah yakin Shira bakalan bisa mimpin keluarga kita di masa depan.”

Jantung Mila berdebar-debar mendengar ucapan ayahnya dengan penuh harapan dan antisipasi.

“Memang sayang kalau dia cuma dapet kelas support. Ayah juga gak tau dia bakal dapet kelas unik seperti apa. Specialist? Summoner? Alchemist? Kalau dilihat dari water affinitynya barang kali dia dapet Healer,” Ayah Mila mendesah napas panjang lagi. “Tapi apa boleh buat. Perkembangan untuk kelas unik itu sensitif sekali. Lebih baik kita gak ikut campur terlalu banyak. Biar dia yang pilih jalannya sendiri. Kalau nggak gitu bisa gagal dia dapet kelas unik.”

“Iya, Mila juga kebawa emosi tadi. Mila selalu sedih ngelihat orang lain ngebully dia karena kelihatan lemah semenjak kecil.”

Wajah Mila merunduk ke bawah, khawatir dan lega bercampur membuat sinar di matanya terlihat aneh. Ia kemudian melihat ke arah gerbang keluarga besar Yashura. Menikah dengan gadis jenius dan akan menjadi kelas unik nantinya...

Gadis itu kemudian tersenyum membayangkan bagaimana jadinya masa depan Shira.

“Huh?”

Mila dan ayahnya terkejut ketika layar ‘Status Window’ tiba-tiba bergerak dengan cepat dan melayang di udara. Secara logika, layar itu tidak akan bisa bertahan jika tidak ada energi yang menopangnya. Tapi layar ‘Status Window’ itu melayang di udara. Beberapa saat kemudian, ia menghilang.

“Apaan barusan?” Wajah Mila dipenuhi ekspresi bingung.

“Gak tau juga,” jawab ayahnya. “Mending kita juga buruan nyambut tamu. Sebentar lagi musiknya selesai.”

Ayah dan anak itu kemudian berjalan ke luar ruangan.

Mereka tak tahu, di ruangan itu sebenarnya orang lain yang berdiri, namun kakinya mengambang tak menyentuh lantai. Ia adalah orang yang mengambil layar ‘Status Window’ dari tangan Ayah Mila. Tubuhnya transparan dan manusia biasa tak bisa melihat dan menyadari kehadirannya.

“Heeehhh, ternyata dodgenya sudah naik drastis. Sepertinya dia bisa menguasai ‘Water Flowing Style’ lebih efektif daripada yang kukira. Terus water elemental affinity... kelas unik? Omong kosong macem apa itu? Entah kenapa standar orang-orang di jaman ini semua sudah turun drastis. Sekarang mereka yang dapet kelas unik ditakutin seperti dewa perang. Padahal dulu pas aku masih hidup orang yang ngandelin kelas unik doang cuma bisa hidup sebatas satpam.”

“Water affinity ini, pertanda... Kalau dipikir-pikir lagi, semua orang yang berhasil naikin ‘Water Flowing Style’ ke level di atas 5 semuanya punya water elemental affinity. Kalau memang begitu, aku sekarang yakin dia bisa nembus level itu. Tapi karena dia sudah pelajari skill ini sejak awal, elemental affinitynya langsung berubah jadi water. Beda sama orang-orang seperti aku... ini pertanda... pertanda...”

Mata Arwah Baik Hati langsung bersinar penuh harapan dan semangat setiap kali ia memikirkan ini.

“Hehe... ‘Liquid Dragon Flowing Style’... I am coming!!!”

***

Keluarga Yashura terdiri dari lebih dari ratusan rumah, dengan anggota kira-kira seribu rakyat biasa dan sekitar seratus petarung. Para petarung biasanya memiliki status tinggi di keluarga. Posisi teratas adalah para Dewan Keluarga dan Kepala keluarga yang mengatur dan memiliki wewenang tertinggi dalam pengambilan keputusan dan penyaluran sumber daya di keluarga. Kepala Keluarga tentu saja Ayah Mila, Shuro Yashura, yang merupakan level 38 Swordsman. Kemudian untuk Dewan Keluarga terdiri dari kakek dan nenek dari dua generasi yang lalu, rata-rata lebih dari enam puluh tahunan dan semuanya memiliki level di atas tiga puluhan.

Beberapa dari mereka bahkan sudah melampaui level 40 dan mendapatkan promosi kelas ke tier-2. Mereka adalah Dewan Besar yang terdiri dari tiga orang.

Gharu Yashura, level 41 tier-2 Swordsman.

Tilang Yashura, level 43 tier-2 Alchemist.

Dan terakhir adalah Dewan Besar termuda dan terkuat di keluarga; Jhuro Yashura, level 46 Blackfang Swordsman.

Jhuro Yashura, meski pun memiliki jabatan tinggi di keluarga, namun bisa dibilang itu hanyalah gelar belaka. Ia jarang ikut campur dengan urusan keluarga. Tapi, dalam perkembangan keluarga beberapa tahun ini setelah mengalami kemunduran semenjak tiga puluh tahun yang lalu, Jhuro Yashura memiliki peran besar. Ia membuka koneksi luar untuk keluarga dengan mengandalkan posisinya sebagai sepuh di sekolah Hatim Malakas. Keberadaannya yang cukup ditakuti dan diakui di benua Tiramikal pula yang membuat bisnis keluarga yang di beberapa sektor pasar jarang diganggu oleh orang luar.

Dan Jhuro Yashura pula alasan terbesar mengapa ada ratusan rombongan di depan gerbang keluarga Yashura datang hari ini. Ia dan ayah si gadis Malikh adalah saudara seperjuangan semenjak mereka muda dan pergi ke dunia luar untuk mencari pengalaman. Kemudian anak mereka lahir di saat yang hampir bersamaan. Seorang anak laki-laki dan perempuan. Dua saudara seperjuangan itu kemudian bertekad untuk menyatukan dua keluarga melalui pernikahan anak mereka. Dan saudara seperjuangan Jhuro itu adalah Kepala Keluarga Malikh yang menjabat saat ini. Bisa dibilang hubungan mereka sangat erat sampai-sampai banyak orang yang mengeluh tak puas.

Tapi sekarang ini Jhuro sedang keluar untuk misi sekolahnya. Ia tak bisa hadir menyambut tamu dari Keluarga Malikh.

Karena itu hanya dua dari tiga Dewan Besar yang hadir untuk menunggu rombongan yang berhenti di depan gerbang. Mereka adalah Gharu dan Tilang Yashura, kakek dan nenek yang sudah mencapai usia delapan puluh tahun mendampingi Shira di samping mereka. Di belakang mereka bertiga, ratusan anggota keluarga datang pula untuk menyambut tamu.

Shuro Yashura, sang kepala keluarga, datang beberapa saat kemudian dan mengambil posisi di antara Gharu dan Shira. Wajah kasarnya terhiasi senyum tak alami yang terlihat seperti seorang penjahat melihat mangsanya. Itu adalah raut muka khas yang selalu ia berikan kepada orang lain di luar keluarganya. Ia tak bisa memperbaikinya.

Mila menyelip di antara anggota keluarga yang lain, kemudian muncul tepat di belakang Shira.

“Shira, jangan gugup. Usahakan jaga kegantenganmu semaksimal mungkin di depan cewekmu.”

Wajah Shira tetap datar melihat ke depan. Tak terpengaruh ucapan Mila dari belakang.

Semua keluarga Yashura yang hadir berdiri diam di halaman keluarga melihat keluar, di mana rombongan berada. Bagian terdepan rombongan itu adalah orang-orang yang berpakaian penuh warna dan sedang memainkan pertunjukan musik. Kemudian di belakang mereka ada kereta kuda yang dijaga oleh enam pengawal. Di belakang mereka lagi, ada ratusan tamu entah dari keluarga Malikh atau kenalan kedua keluarga.

“Lihat kereta kuda itu. Mewahnya bukan main! Heh, aku gak tau Malikh bisa beli kereta kuda seperti itu, cuma buat acara seperti ini.”

“Sepertinya Kepala Keluarga Malikh memang niat tetepin pertunangan ini. Ngotot benar dia, katanya hampir semua Dewan Keluarga Malikh gak puas sama keputusannya.”

“Iya, iya. Aku juga denger banyak anggota keluarga Malikh yang gak puas harta karun mereka dicemplungin ke jamban bareng bocah cacat itu. Ah, mending nikah sama aku aja ceweknya!”

“Loh, bukannya itu kereta kuda dari desa tingkat dua? Hmm... kelihatan mirip seperti kereta kudanya keluarga Blackwood...”

“Heehhh... pantesan mewah. Minjem toh. Haha, kirain...”

“Yang bener? Jadi kabar Blackwood mau nikung pertunangan itu...”

“Hush! Sudah jangan kebanyakan gosip!”

Tak lama kemudian, musik mereda dan para pemusik membungkuk ke arah keluarga Yashura dan orang-orang yang menonton di luar. Suara tepuk tangan meriah dan siulan menyambut, lalu para pemusik itu berjalan ke arah belakang rombongan.

Kemudian, di saat para pemusik mundur, enam pengawal dan kereta kuda kemudian maju ke arah gerbang untuk memimpin rombongan.

Riuh pikuk berhenti. Semua orang kemudian diam menunggu tuan putri Malikh yang konon dikagumi ribuan pemuda desa itu untuk memberkahi mereka dengan kecantikannya.

Kereta kuda itu lalu berhenti tepat di depan gerbang. Dan seorang pengawal membuka pintu kereta...

Kaki seseorang keluar dari kereta. Ia tak terburu-buru. Di saat itu, raut muka semua orang berubah. Orang-orang yang menonton melihat dengan wajah ingin tahu. Dan wajah keluarga Yashura hampir semua mengerutkan dahi.

Karena yang keluar dari kereta itu bukanlah si gadis Malikh. Melainkan seorang pemuda berwajah arogan dan berbaju mewah. Semua orang yang melihat walau sekilas tahu pemuda itu datang dari keluarga ningrat.

Setelah turun, ia menawarkan tangannya ke arah kereta. Kemudian tangan seorang wanita muda yang lembut terlihat memegang tangan pemuda itu membantunya turun.

Dan mereka semua kemudian melihat gadis keluar dari kereta itu. Bibirnya tipis dan proporsi wajahnya yang putih membuatnya terlihat elegan seperti mutiara kelas atas. Pinggangnya yang langsing dan pinggulnya yang elok membuat gadis cantik lain di sekitarnya terlihat seperti gadis desa. Lalu dadanya yang terisi penuh membuat pandangan pria tak bisa terlepas dari situ. Usianya masih lima belas tahun tapi ia memancarkan aura seorang wanita dewasa karena wajahnya yang dingin tanpa ekspresi. Ia mengenakan gaun merah dengan hiasan bermacam-macam warna, tetapi nampak tak serasi dengan air mukanya.

Wajah gadis itu lebih dingin dari pada raut muka yang biasanya ada di wajah Shira. Jika Shira dingin karena di matanya terlihat malas berinteraksi dengan orang lain, maka gadis ini memiliki aura dingin yang berbeda. Saat ia melihat pemuda itu, ia tak melihat manusia. Saat ia melihat orang-orang yang menonton, ia tak melihat kumpulan manusia. Saat ia melihat ke arah keluarga Yashura, ke arah Shira... ia seperti melihat ke arah udara.

Gadis itu memancarkan aura seorang ratu yang melihat ke arah rakyat jelata.

Orang lain tak cukup penting untuk mendapatkan perhatiannya.

“Ck, mentang lebih cakep dikit dari pada aku, sombongnya bukan main,” gerutu Mila melihat gadis itu. Ia sudah mendengar kabar gadis tercantik di desa ini dan sempat melihatnya dari kejauhan. Tapi ia tak menyangka tatapan dingin seperti itu muncul dan membuatnya kesal bukan main. “Lagian, cowok itu siapanya? Jangan bilang dia berani bawa pacar ke sini, hmph! Cari mati!”

Shira mendengar omelan kakak sepupunya. Ia melihat ke arah tunangannya, ada reaksi sekilas di matanya melihat gadis itu, kemudian matanya kembali seperti semua. Mata yang melihat malas seperti ikan mati. Lalu ia menoleh ke arah pemuda yang menolong tunangannya turun dari kereta kuda. Kedua alisnya naik sedikit.

Jadi orang ini yang akan membuat masalah?

Ia melihat pemuda itu bersikap gentleman kepada tunangannya. Tapi ia tak merasa cemburu karena baru pertama kali ia bertemu tunangannya. Dengan gerakan kepala yang lembut, ia menoleh melihat sekitarnya. Dewan Besar di sebelahnya mengerutkan alis. Senyum Shuro Yashura sudah menghilang dan wajahnya kembali menjadi kasar seperti bandit.

Semua keluarga Yashura terdiam melihat pemuda dan gadis turun dari kereta yang sama. Mereka tahu pemuda ini bukanlah anggota keluarga Malikh.

Dada mereka sesak, mencoba untuk menahan rasa malu. Mereka tak bisa seenaknya mengucapkan sumpah serapah yang menyangkut di tenggorokan mereka karena mereka tahu pemuda itu adalah seorang ningrat yang tak bisa dibuat marah dengan mudah.

Mereka terdiam melihat ke arah kepala keluarga mereka dari belakang. Tangan mengepal keras pria paruh baya itu bergetar karena ia menahan diri dari hasratnya menghajar seorang pemuda kurang ajar yang menyentuh kulit tunangan keponakannya di depan ratusan orang yang menonton.

Jika pemuda itu tak ingin mencari masalah, lalu apa tujuannya datang kemari?

Dan lalu, dengan senyum enteng di wajahnya, pemuda itu menawarkan lengannya untuk digandeng. Gadis Malikh itu tak menolak.

“Bhela, apa maksudnya ini?!” raungan Shuro meledak melihat dua muda-mudi itu terlihat bersikap intim di hadapannya. “Siapa anak itu? Jangan kurang ajar kamu! Tunanganmu itu Shira, apa maksudnya kamu gandeng tangan orang lain?”

Air muka Shuro sudah terbakar habis-habisan. Di depan adegan tunangan keponakannya menggandeng tangan pemuda lain, di depan ratusan penduduk desa yang menonton, ia sama sekali tak memiliki wajah lagi untuk menjadi kepala keluarga yang disegani di Desa Badril.

“Salam kepada Kepala Keluarga Yashura!” Pemuda di samping Bhela Malikh yang menjawab dengan senyum meledek dan nada sarkastik yang disengaja. “Akhirnya Tuan Muda Blackwood ini bisa melihat kehebatan Yashura dari dekat. Adik Bhela sudah sering kali menceritakan banyak hal tentang keluarga Yashura kepada Tuan Muda ini.”

“Jadi kamu dari Blackwood? Ada urusan apa kamu datang kemari?”

Shuro Yashura tak ingin berbasa-basi. Raut wajahnya menghitam dan matanya menatap murka, ia sama sekali tak menyembunyikan hasrat membunuhnya. Hampir semua orang gemetar melihat ekspresi wajahnya, terutama anggota keluarga Yashura. Para pengawal kereta mulai bersiap dengan pedang yang menggantung di pinggang mereka.  Mereka tahu Jhuro Yashura terkenal dengan tempramennya yang buruk, dan kelihatannya si kakak juga tak kalah buruknya.

“Kepala Keluarga Yashura, mengapa harus dibawa emosi? Kami datang dengan maksud baik.”

Melihat Shuro hampir tak bisa menahan tatapan arogan dan senyum meledek pemuda Blackwood ini, Tilang Yashura maju dua langkah. Nenek yang merupakan salah satu anggota Dewan Besar ini, tahu jika semakin lama Shuro menghadapi provokasi Blackwood, maka situasi sudah tak akan bisa terkendali lagi.

“Tuan Muda Blackwood, kami dari keluarga Yashura sangat merasa terhormat bila Anda sempat menghabiskan waktu untuk mengunjungi keluarga kami yang sederhana ini,” ucapan nenek itu pelan dan merendah. “Jika di lain kesempatan Anda datang untuk berkunjung, tentu kami akan lebih bisa menjamu Anda dengan lebih baik. Tapi sekarang bukanlah waktu yang tepat. Dan juga, maaf saja, kami merasa sekarang Anda datang dengan cara yang tidak tepat pula. Kami dari keluarga Yashura bertanya-tanya tentang maksud baik yang Anda katakan barusan?”

Tuan Muda Blackwood tak langsung menjawab. Ia tertawa sesaat. Tak ada yang mengerti mengapa ia tertawa. Wajah anggota keluarga Yashura semakin menjadi-jadi. Sekarang mereka bahkan mulai membenci keluarga Malikh karena telah membawa anak ningrat kurang ajar ini ke pintu gerbang mereka.

Melihat pemuda di sampingnya menertawai keluarga Yashura, Bhela Malikh tak berkata apa-apa. Ekspresinya tetap dingin. Ia tak membuka mulut untuk menjelaskan situasi atau pun ia ikut meledek Yashura.

Jika dilihat baik-baik, gadis itu tak benar-benar menggandeng tangan pemuda kaya di sebelahnya. Bisa dibilang itu hanyalah sentuhan kulit semata. Di matanya yang dingin, bisa terlihat kalau dia juga mulai terlihat kesal. Bukan karena masalah Yashura atau sikap Tuan Muda Blackwood, tetapi karena ia merasa datang ke sini adalah hal yang sia-sia. Ia kesal karena dipaksa datang dan membuang-buang waktunya.

Bahkan ia beberapa hari yang lalu ia juga disuruh untuk ‘akrab’ dengan Tuan Muda Blackwood oleh beberapa Dewan Keluarga Malikh. Sikapnya waktu itu kurang lebih sama seperti Shira, sikap tak acuh membuatnya menerima perintah itu begitu saja.

Padahal, jika ia enggan, ia bisa melapor kepada ayahnya. Jika ayahnya, Kepala Keluarga Malikh, tahu maksud sebenarnya untuk kunjungan rombongan ini ke keluarga Yashura, barangkali ia sudah mengamuk dan menghajar para Dewan Keluarga itu. Beberapa tahun belakangan ini ia mulai merasa malu jika bertemu dengan Jhuro sahabatnya. Ia tak tahan bila ada anggota keluarganya yang berniat tak baik terhadap keluarga Yashura.

Tawa Tuan Muda Blackwood masih di situ. Barangkali ia merasa terhibur melihat rakyat jelata di depannya akan segera ia sentil dan robohkan. Sejak awal ia sudah melihat kunjungan ini sebagai guyonan. Bahkan pertunangan ini adalah guyon terbesar yang membuat perut dan pipinya sakit karena ia tertawa terbahak-bahak sampai guling-guling di lantai.

Gadis jenius dinikahkan dengan sampah dari keluarga rendahan?

Sampai-sampai nenek moyang Blackwood pun ikut tertawa melihat Tuhan membuat panggung guyon seperti ini.

*

“Oh, Sepuh dari keluarga Yashura, maafkan Tuan Muda yang tak sopan ini,” katanya pelan, membungkuk, namun tak mengambil usaha untuk melenyapkan senyum menjengkelkan di wajahnya. “Tuan Muda datang kemari setelah mendengar kabar Tuan Muda Yashura yang tak bisa naik ke level 4 belakangan ini. Jangan khawatir, Tuan Muda ini punya solusi untuk itu. Bagaimana jika Tuan Muda Yashura bertamu ke keluarga Blackwood dan bertemu dengan Alchemist kami? Barangkali beliau bisa menyembuhkan cacat yang diderita Tuan Muda Yashura.”

Mendengar itu alis Mila mengerut dan matanya semakin tajam. Pemuda ningrat ini ternyata hanyalah salah satu dari bully yang terus menerus datang untuk merendahkan adik sepupunya semata hanya untuk membuktikan superioritas mereka. Amarah yang ditahan di dadanya mulai merangkak naik ke tenggorokan, dan ia mengeluarkan raungan yang meledak jelas untuk didengar ratusan orang di situ.

“Adikku cacat? Kalau kamu sebut adikku cacat, terus harus aku sebut apa kamu? Benalu sepertimu cuma bisa nyusu dan ngandelin keluargamu aja! Hah! Gak malu? Kalau dibandingkan kamu dan adikku Shira, hah—masih untung kamu kalau punya kualifikasi buat dibandingkan sama adikku, sampah!”

Mila sudah lama dikenal sebagai gadis yang cantik namun berlidah pedas. Pengalamannya membela Shira saat dibully semenjak kecil membuatnya mengembangkan kemampuan sumpah serapahnya. Setiap kali ada yang mengejek adik sepupunya, maka ia akan lepas kendali. Tapi tak ada yang menyangka bila dia berani melakukannya di depan Tuan Muda dari desa tingkat dua.

Jika di hari biasa, orang-orang tua keluarga Yashura akan mencoba menghentikan mulut gadis itu. Karena orang yang disumpahi datang dari keluarga ningrat di desa tingkat kedua. Tapi hari ini mereka semua diam. Tak sedikit yang mengangguk-angguk mendengar sumpah serapah gadis itu. Terutama Shuro Yashura. Ada senyum puas di wajahnya. Untuk pertama kalinya ia bangga melihat anak gadisnya berani mencari masalah. Ia pun meyakinkan dirinya, apa pun konsekuensi nantinya karena telah menyumpahi Tuan Muda arogan ini, ia akan melindungi Mila. Baginya, gadis itu sudah melakukan hal yang benar!

Tuan Muda Blackwood hanya tertawa kecil mendengar itu.

“Heh, apa iya? Tuan Muda ini tidak tahu kalau Tuan Muda Yashura sehebat itu. Kalau begitu, biarkan Tuan Muda ini melihat seberapa hebat Tuan Muda Yashura dalam duel satu lawan satu. Hehe, bagaimana? Biarkan orang lain membandingkan kami berdua? Tuan Muda ini kira dia punya kualifikasi untuk dibandingkan dengan kehebatan Tuan Muda Yashura.”

“Bah! Beraninya duel sama yang lebih muda. Itu bukan duel namanya, tapi bully! Orang-orang sepertimu itu yang mereka sebut sampah! Beraninya bully yang lemah, tapi ngejilat di depan yang kuat!”

Napas Mila Yashura sudah menjadi berat karena melepas amarah yang ditahan sejak tadi. Kemudian ia memicingkan mata sambil melototi Bhela Malikh yang menggandeng tangan Tuan Muda Blackwood.

“Kalian semua, ingat baik-baik nama Shira Yashura,” teriaknya untuk di dengar semua orang. “Hari ini mungkin kalian melihat dia sebagai cacat yang masih di level 3! Tapi lihat lima tahun kemudian, gak ada satu pun dari kalian yang layak disandingkan dengannya!

“Aku tahu tujuan Tuan Muda Sampah ini datang kemari. Dia mau nyuri tunangan adikku tepat di depan hidung kami pakai logika kalau adikku gak pantas untuk cewek jenius seperti dia. Kalau begitu maumu, ambil! Gak perlu basa-basi buat bantu adikku pakai Alchemist segala. Ambil lacur itu! Ambil! Shira gak butuh!”

Semua orang terkejut mendengar sumpah serapah gadis yang nampak lugu seperti Mila semakin menjadi-jadi. Terutama Bhela, yang disebut lacur olehnya.

Tatapan mata Bhela berubah setelah itu. Namun tidak menjadi benci. Ekspresinya masih dingin tapi ia hanya bisa mendesah dalam hati. Sejak awal ia tahu rencana Blackwood untuk menekan ayahnya agar membatalkan pertunangan dengan seorang pemuda Yashura yang sejak awal tak pernah ia temui. Dan ketika Dewan Keluarga meyakinkannya untuk datang kemari, ia pun tahu masalah akan datang kemudian.

Di dalam hatinya, ia hanya berharap masalah tak akan berkembang terlalu besar. Karena ia tak bisa melakukan sesuatu tentang itu.

“Nyonya Muda, apakah Anda tidak berlebihan mengotori nama Dik Bhela?” senyum menjengkelkan Tuan Muda Blackwood itu sudah hilang, wajahnya kini serius. “Boleh saja jika Anda merasa kalau Tuan Muda Yashura lebih baik daripada yang lain. Tapi sampai merendahkan orang lain sampai sebegitunya, apa begini cara keluarga Yashura memperlakukan tamunya?”

“Hmph! Manusia arogan sepertimu pura-pura jadi domba padahal serigala gak tau malu! Merendahkan orang lain sampai sebegitunya kamu bilang? Bah! Bukannya itu tujuanmu datang kemari? Di sini gak ada orang tolol yang bakalan telen rencana busukmu! Kalau kamu mau ambil lacur itu, silahkan! Tapi gak perlu jadi udang yang sembunyi di balik batu.”

“Tapi kuberitahu satu hal. Bukan Shira yang gak pantes untuk cewek itu, tapi cewek itu yang gak pantes buat Shira. Kalian semua yang bully Shira dari ujung sana sampai ujung situ, tunggu baik-baik. Lima tahun ke depan, kalau Shira gak bisa dapet kelas unik, aku bakal potong telingaku! Tapi kalau dia betulan jadi kelas unik, gak ada satu pun dari kalian yang pantes ngejilat kakinya! Bahkan buat lacur itu, gak pantes jadi istrinya!”

Suasana hening di setiap kali Mila mengambil jeda untuk menarik napas di sela-sela teriakannya. Tak ada yang membalas kata-kata kasar Mila. Bahkan Shira, orang yang disebut-sebut, hanya bisa terdiam di situ dengan ekspresi hampa di wajahnya.

“Kepala Keluarga, tak apa-apa membiarkan anak Anda berbicara seperti itu?” bisik Gharu Yashura yang berdiri di sebelah Shuro.

“Gak apa-apa, biarin dia lepas uneg-unegnya,” kata Shuro Yashura pelan. “Kalau keluarga kita gak melawan setelah diperlakukan seperti ini, apa kita bakalan punya muka di desa setelah hari ini? Lagian, gak ada dari kita yang punya jabatan di keluarga yang bisa seenaknya melepas amarah seperti itu. Yang hanya kita bisa lakukan cuma minjem suara Mila buat melawan bocah Blackwood sialan itu.”

“Tapi anak Anda seperti sudah kelewatan menyinggung Malikh dan Blackwood sekaligus!”

Gharu menekan suaranya agar tak didengar orang lain. Shuro terdiam sesaat.

“Kalau ada masalah yang datang besok-besok, biar aku yang nanggung kesalahan anakku. Tapi ingat, seberapa kali pun kita menyinggung Malikh dan Blackwood hari ini, itu tidak seberapa dengan perlakuan mereka pada kita. Keluarga Yashura hampir kehilangan muka pas dua bocah itu saling gandengan tangan di depan gerbang kita!”

Ketika mendengar Kepala Keluarganya, kakek itu hanya mendesah sambil menggeleng-geleng kepalanya.

Dan lalu, tak lama kemudian, setelah memberikan kesempatan untuk penonton menelan teriakan Mila, bisik-bisik menyatu menjadi bising.

“Shira yang masih level 3 itu bakalan dapet kelas unik, bah! Aku aja yang lebih bertalenta cuma dapet kelas biasa.”

“Itu si Mila sebenernya cewek cakep, banyak cowok yang naksir. Tapi kalau sudah ngebacot pedesnya bukan main! Duh!”

“Bukan cuma pedes bacotannya, ngayal lagi!”

“Tapi apa sedikit masuk akal? Itu Shira bapaknya dapet kelas unik, terkenal juga. Siapa tau anaknya juga bisa dapet kelas unik.”

“Iya, bener, bener. Gak mustahil juga.”

Tuan Muda Blackwood hanya menyeringai dalam hati mendengar obrolan itu.

“Kepala Keluarga Yashura, Tuan Muda ini tak mengapa jika dia diteriaki dengan kata-kata kasar. Tetapi jika Adik Bhela yang tak bersalah juga ikut dikatai dengan kata yang tak pantas, saya tanya sekali lagi; apakah begini Keluarga Yashura memperlakukan tamunya?”

“Memang benar kalau anakku keterlaluan mengatai Bhela barusan,” kata Shuro pelan. “Karena tujuan keluarga Malikh awalnya datang kemari untuk bertamu, maka kami dari keluarga Yashura memohon maaf. Tapi permintaan maaf kami hanya tulus untuk mereka yang berniat baik bertamu datang kemari. Untuk yang mempunyai kepentingan lain, kami mohon untuk meninggalkan tempat ini. Kunjungan ini seharusnya untuk mempererat tali silaturahmi kedua keluarga, bukan merusaknya karena kehadiran pihak ketiga.”

Tuan Muda Blackwood mendapat sindiran Shuro. Tapi ia hanya tersenyum.

“Tidak apa-apa. Bila pihak Yashura sudah meminta maaf, Tuan Muda yakin Adik Bhela tidak akan mengambil hati akan kejadian barusan. Tetapi bagaimana dengan Tuan Muda ini? Nyonya Muda tadi mengatakan kalau Tuan Muda ini tidak pantas untuk dibandingkan dengan Tuan Muda Yashura. Apa benar begitu? Tuan Muda ini yakin banyak dari hadirin yang bertanya-tanya demikian. Mengingat begitu banyak rumor dan berita tentang Tuan Muda Yashura.”

Tuan Muda Blackwood berhenti sejenak. Banyak dari penonton yang mengangguk-angguk mendengar ucapannya.

Kemudian pandangannya mengunci ke arah Shira Yashura.

“Tuan Muda Yashura, bagaimana pendapat Anda? Bisakah Tuan Muda ini disandingkan dengan Anda?”

Shira terlihat tak niat menjawab. Ekspresinya tetap datar dan dingin.

“Ayolah, banyak hadirin yang bertanya-tanya sebagaimana istimewanya Tuan Muda Yashura yang bakal mendapat kelas unik di masa mendatang. Tuan Muda, bagaimana kalau kita duel, hmm?”

“Masih ngotot juga kamu—“

Shuro menggerakkan tangannya ke arah Mila, memberikan sinyal untuk tak ikut campur lebih.

“Kami keluarga Yashura minta maaf kepada Tuan Muda Blackwood,” kata pria paruh baya itu serius. “Saat ini Shira Yashura masih belum siap berpartisipasi dalam duel, terlebih dengan seseorang yang mempunyai level jauh lebih tinggi darinya.”

Shuro Yashura mengerti tujuan Blackwood datang kemari. Tuan Muda mereka akan mengajak duel Shira, dan kemudian mengalahkannya dan mengklaim dia lebih baik daripada Shira. Itu akan memberikan tekanan kepada Kepala Keluarga Malikh yang masih niat mempertahankan pertunangan kedua keluarga ini.

Orang bodoh pun tahu mengalahkan seseorang dengan level kecil dalam duel tidak berarti apa-apa. Tapi posisi Blackwood untuk merebut Bhela dari keluarga Yashura tinggal selangkah lagi sampai-sampai mereka hanya membutuhkan alasan sepele untuk menggerakkan hati keluarga Malikh.

Saat ini hampir semua Dewan Keluarga Malikh sangat berterima kasih atas ‘bantuan’ yang diberikan Blackwood. Dan bila sampai semua Dewan Keluarga memiliki opini yang sama, bahkan mereka bisa menggulingkan Kepala Keluarga menjadi anggota keluarga biasa.

Itulah yang dipikirkan Shuro. Ia yakin adiknya bakal marah besar bercampur haru jika melihat posisi temannya sebagai kepala keluarga hampir digulingkan hanya karena menjaga janji mereka beberapa tahun yang lalu.

Tapi keluarga besar dari desa tingkat dua seperti Blackwood tak peduli akan hal seperti itu. Mereka sudah yakin bahwa gadis desa Badril bernama Bhela Malikh adalah sebuah mutiara berharga dan siap bermain kotor untuk mengklaimnya.

“Oh, apa Anda mengatakan kalau keluarga Yashura tidak berani menerima duel ini?” tanya Tuan Muda Blackwood dengan seringai yang menjengkelkan di wajahnya.

“Kami gak menjamu tamu sambil melakukan duel. Itu barbar namanya.”

“Kalau begitu bagaimana kalau duelnya dilakukan dalam waktu satu tahun. Tuan Muda ini yakin Tuan Muda Yashura sudah ‘berkembang’ saat itu.”

“Kami mohon untuk tidak membahas masalah ini lagi. Jika gak ada keperluan lain pihak Blackwood bisa meninggalkan tempat ini.”

Sepertinya Shuro sudah kehabisan kesabarannya. Keriput di dahinya sudah terlihat jelas dari biasanya.

“Haha, keluarga dari desa tingkat tiga berani mengusir keluarga ningrat dari desa tingkat dua. Tuan Muda bertanya-tanya bagaimana reputasi Tuan Jhuro Yashuro ke depannya setelah ini.”

“Jika keluarga Malikh masih berniat untuk bertamu, kami mempersiapkan penjamuan dan akan menjadwalkan pesta nanti malam. Silahkan masuk kalau begitu.”

Shuro sudah tak ingin menghiraukan Blackwood lagi.

*

“Shuro! Aku mohon tunggu sebentar!”

Sebuah suara tua terdengar kemudian. Seorang kakek tua berjubah biru dan memegang tongkat jalan muncul dari rombongan Malikh.

Ia adalah Tarin Malikh, salah satu Dewan Besar Keluarga Malikh.

“Kek Tarin, mau tunggu apa lagi? Kami sudah mempersiapkan makanan di dalam. Mengapa rombongan gak segera disuruh masuk semua? Aku yakin mereka semua sedang lapar sekarang.”

“Shuro, aku tahu janji ayah Bhela dan adikmu beberapa tahun yang lalu. Dan kami semua anggota keluarga Malikh pun sebenarnya ingin menghargai perjanjian tersebut. Tapi ya Shuro, melihat kondisi Shira belakangan ini membuat kami khawatir tentang masa depan Bhela. Takutnya Shira gak bakal bisa mengikuti perkembangan Bhela, dan kalau dia tertinggal jauh, apa gak bakal reputasi Yashura kena batunya juga nanti? Kami hanya ingin melihat perkembangan Shira. Kenapa harus menolak duel Tuan Muda Blackwood?”

“Hehe, Kek Tarin, gak perlu khawatir. Bukannya anakku bilang Shira bakal dapet kelas unik nanti? Itu gak bohong loh. Sembilan puluh sembilan persen aku jamin! Jadi gak perlu basa-basi lagi, ayo kita makan-makan dulu. Keburu dingin nanti!”

Tak ada keluarga Malikh yang bergerak mendengar ajakan Shuro Yashura. Tuan Muda Blackwood bahkan tak menyembunyikan dengusan meledeknya. Tarin Malikh hanya tersenyum masam di dekatnya.

“Shuro, aku tahu kamu yakin sekali sama Shira. Tapi aku khawatir kalau punya kelas unik saja gak bakal cukup...”

Shuro mengerutkan alisnya mendengar itu. Dua Dewan Besar Yashura juga melakukan hal yang sama di wajah mereka.

“Kalau memang begitu kejadiannya, bukankah Tuan Muda Blackwood juga gak pantas sama Bhela?”

“Setidaknya mereka mau membayar mahal biaya perkembangan Bhela.”

Tarin Malikh tak menyembunyikan fakta kalau mereka sudah disogok oleh Blackwood!

“Kakek bangke! Kalau situ datang kemari untuk menjilat Tuan Muda sampah itu, mending enyah dari sini!”

Suara teriakan Mila masih tak terbendung lagi. Shuro hanya tersenyum aneh mendengar itu, ia tak membentak anaknya karena tak sopan kepada orang yang lebih tua. Karena di dalam hatinya ia juga ingin berteriak demikian. Tapi karena ia adalah muka dari keluarga Yashura, lidahnya harus hati-hati berkata.

“Hah! Aku gak tau kenapa Yashura masih sombong mempertahankan anak sampah seperti itu,” Dewan Besar Malikh itu sudah tak bisa menahan amarahnya lagi. “Mau dua atau sepuluh kelas unik di keluargamu pun gak bakal bisa sederajat dengan keluarga Malikh sekarang!”

Tarin kemudian menyuruh seseorang untuk membawa panah untuk diberikan kepada Bhela.

“Sini, biar kuperlihatkan kepada kalian, tentang bagaimana perbedaan antara tanah dan langit! Bhela, lakukan skill yang baru kamu pelajari waktu itu. Biar baik-baik ini mengerti kalau mereka sudah tak pantas lagi menyederajatkan diri dengan kita!”

Bhela hanya mengangguk sambil menarik empat anak panah sekaligus dari quiver yang dipegangi oleh orang suruhan Tarin.

Gerakan tangan putih yang lembut itu masih sedikit kikuk menaruh empat anak panah dan menariknya sambil mengarahkan ke arah langit. Orang-orang hanya diam dengan memperhatikan gerakan gadis itu dengan teliti.

Ia tak langsung melepaskan jemarinya dari tali panah. Ia menarik napasnya dalam-dalam, dan aliran mana-nya bergerak dan menciptakan cahaya berbeda di empat kepala anak panah itu.

Merah api. Biru air. Kuning listrik. Dan putih angin.

Para petarung dengan pengalaman terkejut melihat itu. Sedang orang-orang biasa hanya memicingkan mata serius karena tak begitu mengerti tentang empat warna itu.

“Apa itu bakalan seperti yang ane kira?”

“Heh, jangan bercanda. Gak mungkin lah...”

Banyak dari mereka yang mulai berbisik-bisik melihat cahaya itu. Mereka punya spekulasi masing-masing, dan saling membantah spekulasi satu sama lain.

Sedang para penonton saling tak percaya tentang skill yang akan dikeluarkan Bhela, gadis itu terus menyalurkan mana-nya ke anak panahnya. Cahaya semakin terang, dan sepertinya masih ada banyak ruang untuk mengeluarkan kekuatan skill yang sesungguhnya.

Beberapa detik kemudian, wajah Bhela terlihat pucat. Keringat bercucuran di keningnya bercampur dengan bedak di wajahnya. Semua orang bisa melihat energi mana gadis itu hampir diserap kering oleh skill anak panah dengan empat warna itu.

“Blooming... Four Color... Flower Shot!” bisik Bhela pada dirinya untuk merapal nama skill itu.

Kemudian ia melepaskan jemarinya dari panah. Semua orang bisa merasakan riak energi mana yang ikut terlepas bersamaan dengan skill itu. Seorang petarung yang cukup jeli bisa tahu bahwa riakan mana seperti itu terjadi karena mana yang bocor tak semua di serap oleh Bhela. Itu bisa menjelaskan kalau pengguna belum bisa menguasai skillnya, atau skill itu sendiri terlalu kuat untuk dikendalikan seorang pemanah dengan kekuatan di sekitar level 10.

Anak panah yang di lepaskan Bhela melesat ke arah langit. Kecepatannya jauh lebih pelan daripada anak panah yang dilepaskan dengan cara biasa. Tentu itu karena keempat anak panah itu membawa energi mana dan mendapatkan tekanan. Dan selang satu-dua detik, empat anak panah itu tertelan oleh cahaya yang dibuat oleh mana Bhela.

Itu membuat panah itu berubah wujud seperti siluman:

Warna merah berubah menjadi semburan api.

Warna biru berubah menjadi tekanan air.

Warna kuning berubah menjadi aliran listrik.

Dan warna putih berubah menjadi tiupan angin.

Pemandangan empat warna itu membuat orang-orang terkejut lagi. Banyak para petarung yang memiliki spekulasi liar sebelumnya hampir melompat mendapati spekulasi mereka benar-benar terjadi.

“Empat... empat element!”

“Cewek itu bisa mengeluarkan empat element! Bukan sulap bukan sihir! Tapi empat element betulan!”

“Dual elemental aja bisa bikin terkenal! Bukannya kalau empat element itu cuma mitos belaka?!”

“Cepet! Cepet! Siapa yang kelasnya Specialist di sini? Coba lihat statusnya!”

Mereka yang memiliki kelas Specialist kemudian dikerumuni orang gerombolan orang-orang yang penasaran. Jangankan untuk mengeluarkan skill ‘Status Window’, bahkan bernapas pun mereka kesusahan.

“Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, jangan buat kekacauan. Baris yang manis. Aku Baront Staterwind datang jauh-jauh dari sekolah Blue Diamond juga penasaran tentang status gadis desa ini. Mengapa kita tidak melihatnya bersama-sama?”

Mendengar nama Baront Staterwind dan sekolah Blue Diamond, seseorang dari kerumunan yang kacau itu berteriak:

“Baront Staterwind! Aku tahu nama Staterwind! Instruktur dari sekolah Blue Diamond, Tier-2 Specialist, kata orang dia sudah level 42!”

“Hah, yang bener?!”

“Oh Tuan Staterwind, apa benar Anda sudah menjadi Tier-2 Specialist? Apa Anda bisa membuat banyak ‘Status Window’ agar kami semua bisa melihat status Bhela Malikh ini?”

“Tentu, tentu! Tapi jangan rusuh, balik ke tempat semula. Aku bakal membuat satu ‘Status Window’ untuk setiap orang yang ada di sini.”

Kemudian cincin yang ada di tangan pria bernama Baront Staterwind itu menyala. Ia tak merapal nama skillnya, menjelaskan ia sudah fasih dan sangat berpengalaman sehingga skill itu sudah menjadi bagian dari instingnya.

Seseorang yang tak perlu merapal nama skill saat mengeluarkannya bisa dibilang adalah seorang ahli!

Tak lama kemudian, cahaya yang membentuk layar muncul di hadapan semua orang. Huruf-hurufnya terbentuk lebih lama daripada ‘Status Window’ biasa, tapi melihat seberapa banyak layar status yang dibuat, orang-orang tak berhenti menjadi takjub melihat kemampuan Staterwind ini.

Hampir tiga puluh detik kemudian, layar-layar itu menjadi komplit dan informasinya pun terlihat jelas:

 

Bhela Malikh

ARCHER OF FOUR COLOR EVERLASTING RAINBOW [ARCHER UNIQUE CLASS LVL 9: 78% EXP]

STRENGTH: 19              AGILITY: 52         DEXTERITY: 71

INTELLIGENCE: 24       WISDOM: 13       ENDURANCE: 21

------------------------------------------------------------------------

HIT POINT: 426

DAMAGE: 87-102

DEFENSE: 12

ATTACK SPEED RATING: 32

CRITICAL ATTACK RATING: 17% chance / 185% damage

DODGE CHANCE: 10%

MAGIC RESISTANCE: -15%

POISON RESISTANCE: -15%

ELEMENTAL RESISTANCE: 20% / 20% / 20% / 20% (FIRE / WATER / LIGHTNING / WIND)

ELEMENTAL AFFINITY: FIRE + WATER + LIGHTNING + WIND

MANA POOL: 125

MANA REGENATION: LOW RATE

MANA TYPE: LIGHT

 

“Empat elemental affinity! Pantes aja!”

“Ampun! Punya dua elemental affinity aja bakalan terkenal. Tiga elemental affinity dijamin jadi pahlawan level tinggi! Tapi kalau empat elemental affinity...”

“Bahkan di benua Soritudh gak ada yang punya empat elemental affinity! Cewek ini cuma satu-satunya! Paling langka!”

Semua orang terkejut dan takjub melihat status Bhela. Termasuk orang-orang dari keluarga Yashura. Bisa terlihat ekspresi aneh di wajah Mila yang mengata-ngatai Bhela tadi. Dewan Besar dan Kepala Keluarga Yashura hanya bisa menyembunyikan wajah mereka sambil tersenyum masam.

Sedangkan Shira masih tetap tenang melihat layar status di hadapannya. Ia bisa merasakan Arwah Baik Hati yang mengintip dari belakangnya.

“Heeehhh, empat element ya... ini baru kedua kalinya aku dengar. Yang pertama sudah lama sekali, itu pun aku baca dan sudah jadi sejarah. Maaf ya bocah, tapi melihat situasinya, kamu gak bakal bisa sederajat sama cewek ini. Sayang sekali, hiisshh! Padahal cakepnya bukan main!”

Shira tak menghiraukan suara Arwah Baik Hati. Ia hanya melihat ke arah layar status itu, kemudian menoleh ke arah Bhela Malikh. Dan ia mendapati gadis itu sedang menatap ke arahnya.

Mereka berdua saling menatap mata masing-masing untuk beberapa saat.

“Jangan mengejarku,” begitulah pesan yang Shira dapat ketika melihat pancaran di mata Bhela.

Lalu suara arogan Tarin Malikh terdengar dan membangunkan mereka.

“Lihat kan? Hmm? Sekarang mau bilang apa? Kok pada diem? Hmmm? Gak pada bacot lagi?”

“Kek Tarin, tidakkah ini cukup? Sepertinya Anda terlalu berlebihan memamerkan kekuatan Adik Bhela,” kata Tuan Muda Blackwood dengan wajah tertekuk.

“Saya minta maaf, Tuan Muda. Tapi kalau gak begini, Yashura sialan itu gak bakal berhenti berkoar dan merendahkan status keluarga Malikh dan juga Tuan Muda!”

Tuan Muda Blackwood pun geram ketika dikatai Mila tadi. Jika Tarin bersikap arogan memamerkan Bhela di depan ratusan penonton, maka biasanya Tuan Muda Blackwood lebih arogan lagi. Ia adalah tipe yang menghambur-hamburkan uang hanya untuk membuat orang lain tahu bahwa dompetnya masih lebih tebal lagi. Tapi khusus hari ini, ia jelas terlihat tak puas melihat sikap semberono Dewan Besar Keluarga Malikh ini.

“Haha, empat elemental affinity, bagus... bagus...” Baront Staterwind berkata pada dirinya sendiri sambil mengelus-elus dagunya dan melihat ke arah Bhela Malikh. “Pantesan Kepala Sekolah menyuruhku datang kemari untuk melihat-lihat. Ternyata dapet koin emas di pinggir jalan. Jadi tentang pertunangan ini, sepertinya Blackwood sudah gak sabaran buat nikung cewek dari keluarga Malikh ini."

Kemudian ia melihat ke arah Shira yang harusnya menjadi tunangan gadis yang menggairahkan suasana ini. Ia terkejut dalam hati melihat pemuda itu masih tenang tak terpengaruh oleh suasana. Lalu ia memperhatikan lagi Shira untuk beberapa saat, dan ia pun tersenyum puas.

“Sebenarnya anak yang namanya Shira ini gak buruk juga,” katanya dalam hati sambil melihat status Shira. “Masih level 3 tapi dapet elemental affinity. Yap, dia bakalan dapet kelas unik nantinya. Terus ngeliat dodgenya, aku yakin dia punya skill pasif yang ngebuat status dodgenya jadi aneh. Tapi aku gak pernah liat skill pasif dari water elemental affinity yang bisa mempengaruhi atribut dodge.”

Ia melihat ke arah Shira lagi dengan lebih teliti.

“Sepertinya, di belakang anak ini ada seorang guru yang berpengalaman. Yang jelas bukan dari Yashura, aku tau Yashura gak bakal bisa dapet skill pasif aneh seperti ini. Barangkali si guru itu tertarik gara-gara ngeliat potensi anak ini? Aku sudah bertahun-tahun menjadi instruktur jadi aku tau ngeliat dari tempramen dan atribut anak ini, bisa dibilang dia jenius yang sebenarnya. Peforma di lapangannya bakal meroket tapi sayang dia gak diberkahi dan levelnya masih macet di level 3. Hmmm, tapi bagaimana pun juga kalau dibandingkan dengan cewek Malikh ini...”

Ia terdiam beberapa saat.

“Kalau si Shira gak pantes sama yang namanya Bhela ini, maka gak ada yang lebih pantes lagi. Blackwood, oh, Blackwood. Hanya karena kalian yang pertama kali mencium wangi bunga, bukan berarti kalian yang punya kebun ini. Aku ingin melihat bagaimana kalian merebut cewek ini. Tunggu sampai Jhuro datang ke kebun itu, hehe. Atau bahkan keluarga lain yang dengar kabar ini. Mencuri cewek dengan kelas terunik generasi ini gak segampang itu, loh.”

***

Read previous post:  
9
points
(2338 words) posted by NodiX 10 weeks 1 day ago
45
Tags: Cerita | Novel | fantasi | arwah | fantasi | Novel | RPG | silat
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer widhyyana
widhyyana at Spirit Conductor: Chapter 2 (9 weeks 2 days ago)
90

Keren sob storynya

Writer NodiX
NodiX at Spirit Conductor: Chapter 2 (8 weeks 4 days ago)

makasi udah mampir

Writer NodiX
NodiX at Spirit Conductor: Chapter 2 (10 weeks 1 day ago)

lanjutannya ada di sini:
http://gilegati.blogspot.com/p/spirit-conductor.html

sudah ada 8 chapter tapi capek ngepost sama mungut poin malem malem begini