My Very Good Girl

Jam menunjukan pukul tujuh malam. Perlahan tamu-tamu mulai berdatangan memenuhi acara yang akan di mulai pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Acara Reuni SMA Cita Bangsa tersebut diadakan di sebuah kafe dengan tema garden party. Nampak sebuah mobil sedan hitam terparkir dan dari mobil tersebut keluar seorang laki-laki dengan kemeja yang digulung hingga siku lengkap dengan celana denim cokelat dan sepatu docmart yang bewarna lebih tua dari celananya.

Pria tersebut berjalan membukakan pintu untuk seseorang yang duduk di sebelahnya. Seorang perempuan turun mengenakan gaun selutut bewarna peach. Rambut lurusnya terurai membuat tampilannya menjadi semakin anggun. Pria tersebut yang akrab disapa Aldo itu menggandeng kekasihnya, Yasmin hingga ke dalam.

Yasmin melihat ke sekeliling dan dengan spontan tangannya melambai ketika melihat beberapa kerumunan wanita yang ia kenali sebagai sahabat-sahabatnya ketika SMA. “Do, aku ke sana sebentar ya?” bisiknya di telinga lelaki yang masih menggandengnya ke arah sebelah kiri.

“Oh, iya. Aku juga mau ke arah belakang deh kayaknya teman-temanku pada ngumpul di sana. Nanti kita saling telepon aja ya kalau sudah mau pulang.”

            Yasmin mengangguk sambil tersenyum. “See You, Sayang.” Ucap Aldo sambil mengecup pipi kanan Yasmin dengan lembut dan penuh perasaan.

☼☼☼

“Yas, gue gak salah lihat kan, Yas? Kok lu bisa jadian sama Aldo sih?” tanya Anggun, salah satu teman SMA Yasmin yang bertanya setengah shock melihat Yasmin pergi ke acara tersebut dengan Aldo.

“Sejak Kapan, Yas jadiannya? Ini kabar tuh kayak gossip artis yang hoax banget, Yas.” Sambung Neyla yang ikut berkumpul.

“Aldo yang waktu SMA gayanya songong kan? Tamu rutinnya guru BP? Yang selengean, kerjaanya telat, nyontek, di skors? Pokoknya yang buruk-buruk deh.” Perjelas Dean.

Yang ditanya hanya mengangguk-angguk dan tesenyum. “Iya.. Iya. Aldo yang itu. Yang dulu pernah dapat julukan preman sekolah. Tapi, dia sekarang udah berubah kok.” Sahut Yasmin meyakinkan.

“Berubah kayak gimana? Udah bisa nyaingin Putra? Pintar, menawan, dan penuh kharisma. Gue aja dulu heran kenapa lu bisa menolak Putra dan sekarang gue lebih heran ketika lu malah pacaran sama preman sekolah!” Dean menggurutu seakan tidak ikhlas ketika tahu Yasmin pacaran dengan Aldo.

“Mantan preman sekolah.” Ralat Yasmin tersenyum ke arah Dean. “Ya mungkin karena aku sama dia satu kampus kali ya? Jadi intensitas ketemunya juga lebih sering. And for the other reason, I don’t know why. Seperti air, mengalir begitu saja tanpa tahu kapan ia bermuara dan kembali menjadi air.” Ucap Yasmin sambil mengambil segelas jus yang ditawarkan pramusaji yang sedang berkeliling.

☼☼☼

“Gila! Ketua Genk preman sekolah pacaran sama si kutu buku? Lu udah ngerusak citra perkumpulan kita, Bro!” Seru Damian sambil menepuk bahu Aldo.

“Loh, emang ada yang salah sama Yasmin?” Tanya Aldo dengan memasang wajah heran.

“Yah, si dia pake nanya ada yang salah. Dia bukan tipe lu, Bro! Lu inget mantan-mantanlu yang bejibun dan semuanya badai-badai. Mulai Rani cewek oriental yang punya dua semangka di dadanya. Terus ada Melodi, si hitam manis yang punya bibir penuh sampe tumpah-tumpah yang bawaannya pengin dicipok setiap hari. Nadla yang badannya empuk, bohay, pakai baju super ketat sampai kancingnya meletek-meletek dengan roknya yang gue rasa rok SDnya terus diwarnain abu-abu. Claris si cewek indo yang matanya belo tapi sexy yang sekarang udah sukses jadi model majalah. Belum lagi cewek-cewek yang hobi digrepe dan rela jadi pacar seminggu lu.” Perjelas Sammy.

“Yasmin juga gak kalah cantik kok sama mereka. dia pintar, baik, ramah, rajin dan perhatian banget sama gue. Bahkan saat kita-kita masih sibuk kuliah, dia sudah akan diwisuda di tahun perkuliahan yang ketiga.”

“Ya itu salahnya. Dia itu cewek baik-baik. Gak cocok buat kita yang calon-calon bajingan kelas kakap. Udah pernah ajakin dia clubbing?” Tanya Damian seolah dengan nada menantang.

Aldo terdiam sambil menggeleng perlahan. Ada sesuatu yang dipikirkannya. Sepertinya sedang mencerna kata-kata yang barusan ia dengar.

Sammy tertawa terbahak sambil memegang perutnya yang merasa terkocok. “Jangan deh! Nanti baru masuk pintunya aja udah langsung anemia tuh cewek.”

☼☼☼

            Reuni yang hampir mirip prom night itu berakhir sekitar jam dua belas malam. Yasmin sudah duduk di sebelah kursi pengemudi yang di sampingnya duduk Aldo sambil mengemudikan mobilnya. “Gimana, Yas? Seru ngobrol sama teman-teman lama?”

            “Seru banget, Do. Apalagi tadi ada Mieka. Kamu ingat, kan? Teman dekatku yang kuliah di Kolombia?”

            Aldo mengangguk. Samar-samar ia menerawang mengingat-ingat Mieka. Tentu saja ia mengenalnya tapi hampir lupa wajahnya. Dulu, Aldo tidak berurusan dengan anak-anak pintar seperti Yasmin, Mieka, Putra, dan teman-teman Yasmin lainnya.

            “Kamu gimana, Do? Seru ngobrol-ngobrolnya?”

            “Seru.” Ucapnya singkat. Ada sesuatu yang mengganjalnya. Seperti ada yang ingin ia utarakan namun sulit untuk dikeluarkan.

            Seraya pemandangan tersebut membuat Yasmin mengamatinya. “Hei, Do. Kok bengong gitu sih? Abis nostalgia sama mantan-mantan ya?” Tanyanya dengan nada bergurau yang membuat Aldo mengerutkan alisnya tak mengerti.

            “Ah, kamu. Mentang-mentang waktu sekolah mantanku banyak. Semenjak sama kamu, aku lupa sama mereka semua, Yas. Aku cuma baru ingat, tadi Damian ngundang aku sama kamu ke acara ulangtahun pacarnya.”

            “Kapan?”

            “Sabtu depan. Tapi, aku gak berniat datang kok.”

            “Loh kenapa? Sabtu depan kita kan gak ada acara, Do. Aku mau kok temenin kamu. Gak enak sama Damian kalau sampai gak datang.”

            “Tapi, Yas.”” Aldo menatap ke arah wanita yang duduk di sebelahnya dengan ragu. “Acaranya di salah satu klub malam, daerah Kemang.”

☼☼☼

            Aldo tak pernah mengira bahwa Yasmin akan bersedia menemaninya ke pesta ulang tahun Stacie, pacar Damian. Malam ini Yasmin tampak anggun dengan gaun hitam selutut yang memiliki tangan terbuka. Aldo berdecak kagum dalam hati bahwa memang pilihannya menjatuhkan hati kepada Yasmin tidak pernah salah.

            Ini pertama kalinya Yasmin menginjakkan kaki di tempat itu. Tempat dengan suara yang membuat detak jantungnya berdegup kencang dan telinganya mengaung sulit untuk mendengar. Untung kali ini Yasmin sudah persiapan makan malam sehingga matanya tidak sakit saat melihat ruangan yang minim pencahayaan dengan lampu warna-warni yang berputar-putar.

            “Are you Ok? If you’re not comfort, we can go back.” Ucap Aldo sambil melirik ke arah Yasmin, memastikan bahwa Yasmin dalam keadaan baik.

            Yasmin mengangguk cepat dan menyunggingkan seulas senyum menandakan dia baik. Tangannya menggenggam erat lengan lelaki yang pergi bersamanya tersebut seolah ia takut terlepas dan kehilangan.

            Di dalam sudah nampak Stacie dan Damian serta Sammy dan juga teman Aldo yang lainnya, yang tak satupun Yasmin kenal. Acara berjalan begitu urakan, menurut Yasmin. Tak ada jadwal yang tersusun rapi layaknya pesta ulangtahun yang biasa ia hadiri. Yasmin duduk di sebuah sofa sementara Aldo asik berbaur dengan teman lamanya. Beberapa wanita menyapanya dan menghampirinya, ada juga yang mengajaknya ke dance floor, dan beberapa ada yang melemparkan senyuman dan pandangan sinis ke aranya. Golongan terakhir pasti adalah para penggemar Aldo yang tak rela Aldo berpacaran dengannya.

            Jam sudah menunjukan pukul dua belas malam dan Yasmin akhirnya memutuskan untuk menghampiri Aldo yang sedang berbincang. “Do, sudah jam dua belas. Aku harus pulang.” Musik yang kencang membuat Aldo sulit untuk mendengar hingga perlu usaha keras untuk Yasmin untuk mengulang kata yang sama berkali-kali. Setelah mendengar, Aldo menganggukan kepala dan mengacungkan sebuah jempol tanda siap untuk pulang.

            “Yas, mau ke mana? Udah mulai anemia kelamaan di sini? Atau vertigo atau jangan-jangan sampai amnesia ya?” Tanya Sammy dengan nada bergurau setengah menghina.

            “Besok pagi dia harus ke kampus ketemu dosen pembimbingnya. Gue anter Yasmin dulu, ya?” Ucap Aldo kepada beberapa rekannya. Setelah berpamitan dengan Stacie, Damian dan teman yang lain, Aldo mengantar Yasmin pulang.

☼☼☼

 

            Setelah sebulan reuni tersebut berlalu, ada yang salah yang dirasa Yasmin dalam diri Aldo. Sejak reuni tersebut, Aldo mulai kembali bertemu teman lamanya, genk preman sekolah. Sabtu malam setelah bertemu Yasmin, Aldo selalu bertemu dengan teman-temannya untuk party hingga pagi.

            Sudah beberapa kali Yasmin tahu Aldo bolos kuliah karena kesiangan. Seperti ada jarak di antara mereka. “Do, kamu tuh kenapa sih? Sejak kamu ketemu lagi sama genk lama kamu, kamu tuh berubah! Jadi tukang bolos kuliah, sering mabok, ngerokok dan jadi tukang bohong! Kamu tuh harusnya ngejauhin mereka, Do!

            “Berubah gimana, Yas? Ya ini aku aslinya kayak gini. Aku suka jadi aku yang kayak gini dan aku juga suka temenan sama mereka. Jadi, kamu gak perlu ngelarang aku untuk temenan sama siapa, karena aku tahu yang terbaik untuk aku!”

            “Tapi, Do, kalau kamu kayak gini terus, semester delapan kamu susah buat wisuda! Kamu kan janji, kalau aku bisa lulus di semster enam, kamu akan lulus juga di semester delapan!”

            “Yas! Kuliah itu ya emang standarnya lulus delapan semester. Kalau lebih, itu ya berarti bonus. Ini hidup, Yas. Jangan terlalu dibawa serius! Nikmatin aja prosesnya.”

            “Nikmatin proses bareng genk tukang mabok, joget-joget di diskotik sampai pagi trus besoknya bolos kuliah, main-main sama cewek nakal, terus nyoba-nyoba sama yang namanya narkotika? Itu yang namanya proses hidup?” Yasmin berbicara dengan nada tinggi dan ditekan hingga matanya mulai berkaca.

            Aldo mulai emosi saat ia mendengar ucapan Yasmin yang terakhir. “Yas, aku lebih kenal teman-teman aku dibanding kamu. Mereka gak sampai main-main sama narkotika, kok! Dan kamu jangan melakukan hal yang bikin aku sampai memilih antara kamu atau teman-teman aku!” Suara Aldo tak kalah tinggi dengan Yasmin. Tangannya mengepal erat karena ada amarah yang ia simpan.

            Yasmin memperhatikan wajah Aldo dengan saksama. Melihat raut wajah Aldo yang masih tergambar jelas dengan emosi yang membara. Menelusuri tiap aliran-aliran kerut yang saling terhubung  membuat wajah tersebut seakan terlihat tegas dengan apa yang barusan ia katakan. “Do, aku gak akan pernah nyuruh kamu milih antara aku atau teman kamu. Karena, tanpa aku suruh seharusnya kamu tahu siapa yang seharusnya kamu pilih dan pertahanin.” Yasmin berlalu meninggalkan Aldo yang masih bergelut dengan amarahnya.

 

Dua minggu kemudian

            Suara telepon berdering berkali-kali. Yasmin sedang asyik memandang langit senja di teras rumahnya. Hal yang biasa ia lakukan setiap sabtu sore ketika menunggu kedatangan Aldo. Tapi setelah kejadian pertengkaran mereka dua minggu lalu, hubungan merreka bak diterpa badai yang tak berkesudahan. Aldo yang beberapa kali meminta maaf, selalu ditolaknya karena Yasmin tahu, Aldo masih belum meninggalkan teman-temannya yang dinilai Yasmin membawa pengaruh negatif.

            “Yasmin, ada telepon dari Mama Aldo!” teriak Ibunya.

            Yasmin segera memasuki rumah dan menerima telepon yang ditujukan untuknya. Setelah perbincangan itu berakhir, raut wajahnya menegang. Ada sesuatu yang ingin dia katakan namun terasa berat terucap. Perlahan air mata mulai membasahi pipinya.

            “Kenapa, sayang?” tanya Ibunya yang mulai khawatir melihat ekspresi anaknya.

            “Aldo, Bu! Aldo ditangkap polisi! Mereka digrebek di rumah Sammy.”

            Tanpa pikir panjang, Yasmin mengendari mobilnya menuju kantor polisi. Di sana sudah terlihat Mama Aldo yangg terlihat lemas dan menangis sementara Papanya yang tengah mondar-mandir dengan wajah amarah yang sepertinya baru meledak. Yasmin dipersilakan untuk menjenguk Aldo di sel tahanan.

            “Yas, kamu datang? Yas maafin aku. Aku berani sumpah, aku gak terlibat dalam kasus ini. Aku Cuma lagi ma...”

            Yasmin tertunduk melihat wajah lelaki yang berada di depannya. “Iya, Do. Aku percaya sama kamu. Aku selalu percaya kamu. Bukannya kita dulu pernah janji untuk saling percaya? Tapi, kamu kayaknya lupa sama janji itu dan janji-janji kita yang lain. Do, aku harus pulang.” Yasmin tertunduk tak berani menatap wajah tersebut lebih dalam. Ia pergi meninggalkan sebuah amplop di sebelah Aldo.

            Aldo mengambil amplop tersebut sambil terus memperhatikan Yasmin yang meninggalkannya semakin jauh. Aldo membuka amplop yang berisi secarik surat dan membacanya dengan perlahan. Sebuah pengumunan yang memberitahukan bahwa Yasmin diterima dan mendapat beasiswa S2 di Oxford University, yang merupakan impian Yasmin sejak dulu.

            Setelah membuka amplop tersebut, Aldo menundukkan kepala menahan air mata untuk tidak jatuh membanjiri dirinya yang terkurung dalam sel penjara. Dia mengingat kejadian dimana sejak bertemu Yasmin, dia mulai berani untuk bermimpi. Berani berjanji untuk menyelesaikann studinya dalam waktu empat tahun. Selain Yasmin, tak pernah ada yang tahu bahwa Aldo memiliki impian untuk bisa melanjutkan studi di Jerman. Karena bermimpi untuk studi di Jerman merupakan hal yang aneh untuk Aldo yang tidak pernah memiliki prestasi baik semasa sekolah.

            Baru sejak bertemu Yasmin, ia mampu meraih IPK di atas tiga. Dan yang membuat hati Aldo lebih sakit, mereka berdua memiliki impian untuk melanjutkan S3 mereka di luar negeri di kampus yang sama. Yasmin berjanji, jika Aldo serius dengan studinya, ia bersedia menunggu untuk melanjutkan S3 bersama. Namun, kini hal tersebut terdengar mustahil. Untuk lulus S1  tepat waktu rasanya sulit. Cukup banyak mata kuliah dengan nilai anjlok yang harus diperbaiki.

 

Sebulan kemudian...

            Yasmin sudah terlihat cantik dengan kebaya dan sanggul yang membuatnya sangat menawan. Highheels yang menopang tubuhnya seakan membuat ia telihat seperti model yang berjalan di catwalk. Si gadis pintar telah menjelma menjadi miss universe dalam satu hari. Kini, ia mengenakan baju kebesarannya yang selalu ia nanti sejak menginjak bangku kuliah.

Baju wisuda lengkap dengan toga yang melingkar di kepalanya seakan melengkapi proses perjuangan kuliahnya untuk mendapat gelar sarjana yang mampu ia selesaikan hanya dalam     waktu tiga tahun. Gelar sebagai lulusan terbaik di kampuspun dengan pasrahnya jatuh ke tangan wanita yang baru berusia dua puluh tahun. Beberapa saudara dan sahabatnya sudah berkumpul membawa beberapa hadiah bunga, cokelat, dan boneka untuk menyambut sang wisudawati.

Semuanya terlihat lengkap di mata Yasmin, namun tidak untuk yang dirasa. Ada seseorang yang ia nanti dan harapkan. Aldo. Sejak kejadian Aldo tertangkap polisi, hubungan mereka seakan berakhirr begitu saja. Meski, Aldo terbukti tidak terlibat dan dikeluarkan dari sel tanpa tuntutan apapun, tetapi kejadian tersebut seakan memisahkan mereka. Yasmin yang hanya terdiam menanti permohonan maaf harus menelan kekecewaan karena Aldo tidak pernah datang.

Setelah acara wisuda selesai, Ibu Yasmin membuat perayaan kecil untuk Yasmin yang dihadiri orang-orang terdekat. Mereka saling bercengkraman memberi ucapan selamat. “Bu, Aku ke halaman belakang dulu ya.”

“Tamunya masih banyak, sayang.”

“Sebentar aja, bu. Aku pusing.”

Ibu mengangguk dan Yasmin berlalu meninggalkan beberapa kerumunan yang berkumpul. Ia duduk di kursi halaman belakang sambil menatap hijaunya rumput dan pepohonan yang selalu Ibu rawat. Ia memandang layar ponselnya berharap ada sebuah nama yang dinanti untuk sekadar mengirimkan pesan ucapan selamat. Lagi-lagi nama Aldo yang ia harapkna.

Happy Graduation for my best graduation girl!”

Suara tersebut membuyarkan lamunan Yasmin. Dengan spontan ia menoleh ke arah suara tersebut. Ini bagaikan mimpi. Ia melihat sosok yang ia harapkan berdiri di dekat pintu sambil membawa sebuket mawar merah muda dan boneka teddy bear. Perasaanya tak karuan. Ia seperti ingin berlari dan menghambur ke lelaki tersebut tapi ada sesuatu yang menahannya. Emosi. Ia marah ketika ingat seharusnya Aldo datang sejak dulu. Sebelum semuanya terasa membeku.

Aldo berjalan menghampiri Yasmin yang masih diam mematung. Kemudian, Aldo mengambil posisi dan duduk di sebelah Yasmin. “Yas, selamat ya. Aku denger kamu jadi lulusan termuda dan terbaik ya? Aku bangga sama kamu.” Aldo menatap Yasmin sambil menyunggingkan seulas senyum yang dibalas ekspresi dinginn dari Yasmin.

“Kamu yang udah bikin aku selalu percaya sama janji-janji kita tapi justru kamu yang ngelupainnya gitu aja demi “Proses hidup” ala kamu dan genk kamu! Kamu yang bikin aku selalu berharap kamu minta maaf atau sekadar say hi buat yakinin kamu itu gak lupa sama aku! Kamu juga yang pergi tanpa kata-kata dan sekarang kamu tiba-tiba dateng lagi bawa bunga sama boneka dan bilang Happy graduation? Do, aku lagi belajar ngelupain kamu dan hampir terbiasa tanpa kamu! Aku mau pergi juga ke London. Tapi, kenapa kamu muncul, Do?” Ucap Yasmin. Perkataanya mengalir begitu saja diiringi air mata yang sudah tak bisa ia bendung. Banyak rasa yang mucul dan meluap bersamaan. Rasa rindu, rasa kesal, rasa sedih dan rasa cinta yang tidak pernah berkurang melengkapi emosinya. “Aku ingin kamu pergi dari sini!”

Aldo tertunduk. Ia tak kuasa harus menatap wajah wanita yang dicintainya dibanjiri air mata yang disebabkan dirinya. “Aku ke sini mau minta maaf. Aku dulu menghilang karena aku ingin introspeksi diri, Yas. Aku sadar kamu selalu percaya sama aku tapi aku justru menyalahgunakan kepercayaan kamu. Setelah kejadian itu, aku semakin sadar bahwa kamu terlalu baik untuk aku dan aku terlalu bajingan untuk cewek sebaik kamu. Kenyataan itu gak pernah berubah meski berjuta kali kamu bilang aku bisa jadi seseorang yang baik buat kamu.”

Perlahan dengan bebas tangan Aldo mengusap air mata yang masih membasahi pipi Yasmin. “Dan jika memang kedatangan aku bikin kamu sedih, aku minta maaf. Setelah introspeksi diripun aku masih menganggap diriku gak tahu diri. Aku masih mencintai kamu dan gak akan pernah menyesal untuk memiliki kamu. Sejak mencintai kamu, aku berani bermimpi meski orang lain nganggep mimpi aku mustahil tapi kamu selalu ada untuk meyakinkanku dengan mimpi-mimpiku. Dan sejak memutuskan untuk mempertahankan kamu, aku semakin berani berjuang untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita, Yas. Tapi aku ngerti rasa sakit hati kamu dengan apa yang udah aku lakuin ke kamu.”

Yasmin tidak bergeming dan masih memalingkan pandangannya ke arah yang lain. Menghindari kontak mata dengan Aldo karena dirinya tahu persis, segala pertahanan dirinya akan runtuh jika menyelami mata lelaki tersebut.

“Yas, I love you and always do.” Aldo bangkit dari duduknya dan meninggalkan sebuah surat di meja dekat mereka. Aldo berjalan ke luar yang diiringi tatapan dingin Yasmin. Setelah memastikan Aldo telah meninggalkan dirinya di halaman belakang, Yasmin membuka kertas tersebut yang berisi keterangan dari kampus bahwa Aldo mengambil semester pendek untuk mengejar ketinggalannya selama ini. Dalam surat tersebut terdapat post it dengan tulisan tangan aldo yang bertuliskan:

            Semangat SP! Lulus semester 7 paling lambat semester 8. Ambil S2 di Jerman. Dan nyusul Yasmin untuk S3 bareng. S3 nanti pokoknya harus WISUDA BARENG biar ke depannya SELALU BARENG! #SEMANGAT

            Setelah membaca surat tersebut, dengan segera Yasmin berdiri dan mencari keberadaan Aldo. Ia mendapatkan Aldo yang sedang berdiri di depan mobilnya yang di parkir di luar pagar. Ada sebuah kelegaan menatap Aldo yang belum pergi.

            “Aldo!”

            Aldo membalikkan wajahnya dan mendapati sesesok wanita yang tidak disangka berlari mencarinya. “Yasmin? Ada apa?”

            “Kamu ambil semester pendek?”

            Aldo tersenyum dan mengangguk dengan perlahan. “Iya. Banyak mata kuliah yang ketinggalan. Tapi menurut perhitungan aku, paling lambat semester delapan aku udah bisa lulus.”

            Yasmin berjalan mendekati Aldo sambil menyerahkan secarik kertas yang Aldo berikan padanya. “Aku gak pernah benar-benar bisa marah sama kamu. Setiap kali aku mencoba, aku semakin sakit. Aku Cuma butuh keyakinan! Bukan untuk ngeyakinin aku, tapi untuk ngeyakinin kamu dengan mimpi-mimpi kamu. Aku janji akan nunggu kamu untuk S3 sama-sama. Kamu janji untuk serius sama mimpi-mimpi kamu?”

            “Janji! Aku akan mengejar semua impian-impianku, sama kamu.”

            Yasmin tersenyum mendengar pernyataan lantang yang dikeluarkan Aldo. Aldo tersenyum dan melangkah maju mendekat Yasmin. Kini mereka begitu dekat hingga tak ada jarak yang mampu memisahkan mereka. Aldo menundukan wajahnya menatap semua mimpinya yang tergambar dalam wajah gadis tersebut. Tangannya dengan tegas melingkari pinggang Yasmin yang sedang memejamkan mata seolah beban yang selama ini ia tahan seakan terangkat. Perlahan wajah mereka saling mendekat dan dan Aldo mendaratkan kecupan manis di bibirr Yasmin. Melumatkan bibirnya dengan lembut dengan bibir Yasmin yang sempat dilanda keraguan. Memeluk tubuhnya dengan erat seakan melampiasakn rindu yang menumpuk dan ingin dibayar sekaligus. Tak ada lagi ragu dan kebimbangan di antara mereka. Kini, yang mereka miliki adalah cinta dan keyakinan untuk menatap mimpi mereka, menjalaninya dengan kesungguhan demi mewujudkan mimpi-mimpi mereka bersama.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer ikhsandi373
ikhsandi373 at My Very Good Girl (9 weeks 3 days ago)
80

Sederhana tapi berasa, itu menurut ane kalo dari segi alur cerita. Mantafff TS

Writer ziahnuraisyah
ziahnuraisyah at My Very Good Girl (8 weeks 4 days ago)

Terima Kasih sudah meluangkan waktu untuk membac :)

Writer Tadaigami Shishō
Tadaigami Shishō at My Very Good Girl (11 weeks 4 days ago)
70

Cerita:
Fiksi nya nggak nahan, menusuk kaum mahasiswa abadi yang masih melawan masyarakat.
Format:
Seperti Shinichi bilang, mungkin salah bagi sebagian orang. Tapi menurutku ini seperti berita dan bukanlah novel karena elemen kronologi kasus (DAFAK)
Bahasa:
Moderate Indonesia, kurang paham sih. Tapi sekelompok kaum punya pendekatan masing-masing.

Writer ziahnuraisyah
ziahnuraisyah at My Very Good Girl (9 weeks 6 days ago)

Terima kasih atas waktu dan masukannya yang berguna untuk saya :p

Writer sabbath
sabbath at My Very Good Girl (11 weeks 1 day ago)

Maksudnya bang Chi dengan kalimat pengiring dialog tu contohnya yang ini:

 

“Yas, gue gak salah lihat kan, Yas? Kok lu bisa jadian sama Aldo sih?” tanya Anggun, salah satu teman SMA Yasmin yang bertanya setengah shock melihat Yasmin pergi ke acara tersebut dengan Aldo.

“Sejak Kapan, Yas jadiannya? Ini kabar tuh kayak gossip artis yang hoax banget, Yas.” Sambung Neyla yang ikut berkumpul.

“Aldo yang waktu SMA gayanya songong kan? Tamu rutinnya guru BP? Yang selengean, kerjaanya telat, nyontek, di skors? Pokoknya yang buruk-buruk deh.” Perjelas Dean.

 

Di atas ada tiga bagian kalimat percakapan. Bagian pertama sudah benar karena kalimat pengiring dialognya diawali dengan huruf kecil yaitu 'tanya Anggun...'.

Bagian kedua dan ketiga salah karena diawali dengan huruf besar (kapital) 'Sambung Nela...' dan 'Perjelas Dean'. Seharusnya diawali dengan huruf kecil.

 

Beberapa saya lihat sudah ada yang benar, tapi masih banyak yang salah. Selain itu, kalau diikuti dengan kalimat seperti itu, seharusnya akhir dialog diakhiri dengan tanda koma, bukan titik (kecuali itu kalimat tanya atau seru).

 

Nah, kalau kalimat berikut ini benar karena kalimat yang mengikuti dialog adalah kalimat yang berdiri sendiri.

 

“Do, sudah jam dua belas. Aku harus pulang.” Musik yang kencang membuat Aldo sulit untuk mendengar hingga perlu usaha keras untuk Yasmin untuk mengulang kata yang sama berkali-kali.

 

Di tulisan manapun, novel atau berita, teknik penulisannya pasti sama. Semoga lebih paham ya.

Writer ziahnuraisyah
ziahnuraisyah at My Very Good Girl (9 weeks 6 days ago)

Terima kasih atas waktu dan masukan yang sangat berguna untuk saya..... :D

Writer Shinichi
Shinichi at My Very Good Girl (11 weeks 1 day ago)

terima kasih, Nona,
karena sudah repot-repot menjelaskan :p

Writer Shinichi
Shinichi at My Very Good Girl (11 weeks 4 days ago)

Sebagian orang bagaimana? Kalimat pengiring dialog, karena masih satu kesatuan utuh dengan dialognya, akan selalu diawali dengan tidak kapital.

Writer Shinichi
Shinichi at My Very Good Girl (12 weeks 2 days ago)
50

Dilihat dari penuturan ceritamu, aku rasa kau sudah banyak latihan menulis. Namun, sepertinya kau masih keliru dengan penulisan pengiring dialog, yang mana hampir semuanya kauawali dengan kapital. Sekadar info, itu salah.

Writer ziahnuraisyah
ziahnuraisyah at My Very Good Girl (9 weeks 6 days ago)

Wah terima kasih atas waktu untuk membaca dan masukan yang sangat berguna. Next, akan saya perbaiki di tulisan berikutnya :)

Writer ziahnuraisyah
ziahnuraisyah at My Very Good Girl (12 weeks 2 days ago)
100

Mohon kesediannya untuk membaca dan memberi komentar yang membangun. Terimakasih.