Akhir Adalah Awal

Sebelum nafas terakhirnya meregang Abelard mencoba mengingat bagaimana ia bisa berakhir di tengah kolam darah di tanahnya sendiri. Karobe merongrong tanah di tenggara pondoknya dan ia ikut membasmi mereka bersama Kontraktor-kontraktor, tukang pukul sewaan, yang layanannya ia tukar dengan koin yang ditabung separuh hidupnya.

Ngapain ikut, coba? Kan aku udah bayar mereka?

Mereka di sekitarnya, masih melanjutkan tarian maut dengan para karobe, serangga-serangga sebesar serigala dengan keberingasan induk beruang yang melindungi anaknya.

Ngapain coba?

Tanah di tenggara pondoknya telah dibajak dua musim semi lalu, namun Abelard tidak menanaminya. Niat awal adalah membiarkan tanah tersebut supaya menjadi lebih subur tapi setelah lewat satu musim tanam ia menemukan keluarganya bisa hidup tanpa ia harus mengutak-atik tanah itu. Bukan sesuatu yang sulit setelah dua putri tertuanya mulai bekerja untuk sebuah keluarga pedagang di Situs Le Rand, sebuah kota di utara.

Keluarga-keluarga petani lepas sepertinya biasa melakukan itu dengan putri mereka. Segera setelah mereka berdarah untuk pertama kalinya para gadis akan dibawa ke sebuah keluarga di kota untuk bekerja di sana. Sebenarnya lebih untuk menunjukkan keandalan mereka dalam mengolah rumah tangga kepada pria-pria lajang daripada bekerja untuk mendapatkan uang.

Itu kalau mereka jelek. Kalau cantik mereka tinggal dandan, ketawa-ketiwi dikit kalau diajak ngomong laki-laki dan tunggu dilamar. Tukang goda semua.

Dan begitulah Abelard ingat mengapa ia terbaring bersimbah darah di tanahnya sendiri.

Sara.

Istrinyalah yang meminta Abelard mengolah lagi tanah di tenggara pondok mereka. Sara sedang hamil dan dengan adanya perang di propinsi utara wanita itu kuatir nanti tidak ada yang mau saling tukar hasil panen. Para petani lepas cenderung begitu. Saat damai mereka menanam satu atau dua macam bibit saja. Nanti saat panen mereka akan menukarkan sisa panen mereka dengan petani lepas lain. Tapi ketika ada perang jalanan menjadi berbahaya, tidak ada yang mau membawa hasil panan mereka untuk ditukar hanya untuk dirampok di jalan oleh tentara kelaparan atau bandit yang memanfaatkan kurangnya penjaga jalan.

Tentara kelaparan... tidak berbeda dengan karobe.

Tapi permintaan Sara cukup masuk akal. Yang tidak masuk akal adalah bagaimana serangga yang seharusnya hanya hidup di tanah-tanah jahanam bisa mampir ke ladang Abelard. Ia cukup beruntung menemukan Kontraktor yang menganggur di saat perang. Tapi mengapa ia harus ikut mereka menantang maut? Ia toh tidak tahu apa-apa soal menumpas hewan buas.

Tukang goda semua.

Sara. Mengapa ia harus bergurau begitu dengan para Kontraktor? Abelard ingat dulu wanita itu berkata ia tidak mau lagi harus bekerja di sebuah kedai minum penuh dengan Kontraktor mabuk. Tapi apa yang terjadi semalam? Ke mana tutur kata lembut yang biasa dialunkan ke anak-anak mereka? Ke mana harga dirinya? Mengapa ia tidak pernah memberikan tatapan yang ia beri pada para kontraktor itu kepadanya?

Apakah putri-putriku akan menjadi seperti dia? Jangan sampai mereka menjadi pelayan kedai! Sang Pelindung, kumohon padamu!

Kesadarannya mulai datang dan pergi. Ia melihat wajah Sara tapi yang keluar dari mulutnya bukan kata-kata melainkan jerit kesakitan seekor karobe. Pedang seorang kontraktor menembusnya, kapak yang lain memenggal kepala hitam makhluk itu. Mengapa mereka di sini? Makhluk-makhluk yang hanya mengambil tanpa harus menanam atau menuai. Mengapa mereka di sini?

Wanita itu yang mengundangnya. Ia dengan tawa dan rayuan penuh racunnya.

Saat itulah Abelard menghembuskan nafas terakhirnya.

 

Ketika mereka meletakkan jasad Abelard di kaki Sara, ia kehabisan kata-kata untuk diucapkan. Mulut dibungkamnya dengan tangan, air matanya menetes, dadanya disesaki penyesalan. Percakapannya dengan Abelard sebelum mereka tidur, bisikan-bisikan penuh marah yang muncul dari hati seorang laki-laki yang cemburu, kembali terdengar. Tidakkah ia tahu kalau para Kontraktor memang seperti itu?

Tidakkah kau mendengar kalau aku tidak menanggapi mereka? Aku menegur mereka, Abe!

“Tapi kau menyentuh mereka!” bisik jasad sang suami tanpa membuka mulut.

Mereka menyentuh aku dan tangan mereka kutampar! Apa kau tidak melihatnya?

Yang paling tidak dimengertinya adalah kalaupun semua tuduhan suaminya benar, bahwa ia merayu para Kontraktor, membelai mereka dan mencumbui mereka, apa hubungannya semua itu dengan suaminya jadi harus ikut mereka membasmi karobe? Apa hubungannya?

“Tolong bantu aku menguburnya, tolan. Aku... putra-putranya masih muda,” pinta Sara lirih. Para Kontraktor mengangguk, sebagian tersenyum iba.

“Seharusnya aku biarin kamu tonjok dia tadi waktu dia maksa ikut,” bisik salah satu, tidak sadar kalau Sara bisa mendengar. Rasa sedih dan marah berkobar lebih besar tapi wanita itu memendamnya.

Mengapa kau berubah begitu, Abe?

“Kau akan ke mana, cantik?” tanya seorang Kontraktor ketika Abelard sudah dikubur. “Anak-anakmu belum cukup kuat untuk membantumu di ladang dan ... kami bisa melihat kau sedang mengandung satu lagi. Bila kau mau, bayaran ini...”

Sara risih dipanggil cantik, tapi begitulah para Kontraktor. Dulu ia memanggil mereka dengan sayang. Para pelayan kedai seperti itu.

Sang Pelindung, jangan sampai Helse dan Erina menjadi pelayan kedai. Kumohon padamu!

“Simpan saja, tolan,” Sara memaksa sebuah senyum. “Aku... aku akan ke sebuah situs kurasa. Situs manapun asal bukan Le Rand. Aku akan mampir ke sana sebentar, mencari putri-putriku dan memberitahu mereka berita ini tapi...”

Rasa sedih mencuri kata-kata yang tadi sudah menunggu di ujung lidahnya. Hening berkuasa sesaat ketika para Kontraktor saling bertukar pandang kikuk, anak-anak kecil menangis di kaki ibu mereka, dan satu-satunya penggerak waktu kebingungan membentuk kata-kata baru untuk diujar.

“Biar kubeli saja, tanahmu ini,” kata Kontraktor yang terlihat paling tua memaksa waktu kembali jalan. Rekan-rekannya mengangguk.

“Lumayan kan? Kau punya pegangan uang untuk memulai sebuah usaha atau apalah di situs pilihanmu. Kalau suatu saat kau mau kembali, aku bersedia menjual kembali tanah ini padamu.”

Pria itu mengeluarkan kantong kulit sebesar dua kepalan tangan. Ia mengeluarkan dua tumpuk koin dan meletakkannya di meja. Dua tumpuk koin itu sama sekali tidak sebanding dengan pertanian yang dimiliki Abelard. Namun sebelum Sarah menolak, ia memberikan kantong kulit yang berisi sisa koin yang dimilikinya kepada wanita itu.

Aku bisa membeli dua tanah pertanian dengan koin sebanyak ini.

Jadi akhirnya Sara pergi membawa kedua putra dan apapun yang bisa dimuatnya ke dalam sebuah gerobak. Ia melambaikan tangannya kepada para Kontraktor, merasa aneh karena malah mereka yang tinggal di tanah pertanian yang selama beberapa jam sempat menjadi miliknya dan dia yang pergi.

Melewati tanah tenggara pertanian itu ia dapat melihat hasil kerja para Kontraktor, tumpukan bangkai karobe yang dibiarkan begitu saja. Ia ingat cerita mengenai makhluk-makhluk itu, tidak menanam tidak menuai, hanya merampas dan memakan apa yang telah ditanam manusia. Ia dapat melihat keberingasan mereka di cerita-cerita itu tertulis di wujud mereka bahkan ketika tidak lagi bernyawa. Ujung kaki-kaki yang runcing, mandibula seperti pedang melengkung, dan empat pasang mata hitam tanpa ampun.

Mengapa mereka membenci kita, kalau kita yang memberi mereka makanan?

Bahkan ketika pemandangan itu sudah hilang, Sara tidak menemukan jawabannya.

Read previous post:  
Read next post:  
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.