Sketsa

“Ayah ... tunggu!” kata seorang anak perempuan dengan napas yang tak teratur. Tak jauh di depannya, seorang pria bercelana hitam pendek selutut dan mengenakan kaus kuning tak berlengan menolehkan kepalanya dengan cepat. Ia menatap anak perempuan yang memanggilnya tadi sambil mengangkat kedua kakinya ringan bergantian tanpa berpindah tempat. “Kakiku pegal.”

 

Pria itu pun berhenti lari di tempat dan perlahan melangkah ke arah gadis kecil itu. “Ya sudah, kita istirahat dulu yuk! Bagaimana kalau kita makan mi ayam? Kau mau?” tanya pria itu.

 

Sang anak mengangkat kepalanya sambil menyunggingkan senyum lebar. “Mau! Tapi beli minum dulu ya, Ya. Aku haus.” Kedua ayah dan anak itu akhirnya melanjutkan lintasan joging ini dengan berjalan pelan sambil bergandengan tangan. Meski kedua individu itu sudah menghilang, setidaknya apa yang terjadi di sana tadi terekam pada kertas di atas pangkuanku ini. Meski hanya sebuah sketsa, aku berhasil menangkap sebuah momen yang cukup langka untuk terjadi di hadapanku.

 

Hanya saja ...

 

Tanpa pikir panjang, kurobek sketsa tersebut dari buku gambar. Kuremas-remas, hingga membentuk sebuah gumpalan dan kulemparkan itu ke tempat sampah di seberang jalan. Sayangnya, gumpalan kertas itu mengenai pinggiran tempat sampah sehingga memantul dan jatuh ke tanah, bergabung dengan beberapa gumpalan kertas lain yang sudah berada di sana sebelumnya. Entah sudah berapa kali aku melempar gumpalan kertas ke tempat sampah itu hari ini. Kepalaku terasa buntu sekali untuk mendapatkan sebuah ide, sementara tubuhku juga terlalu malas untuk membuang sampah-sampah itu dengan benar.

 

Kusandarkan punggungku pada bangku panjang ini dan kutengadahkan kepalaku sambil memejamkan mata. Aku dapat mendengar desiran angin yang diikuti dengan gerisik daun-daun pohon di belakangku. Sabtu sore, sepulang dari kantor, aku sering menyempatkan waktu untuk duduk di bangku taman ini. Hawa pepohonan yang rindang dan riuhnya orang-orang yang berlalu lalang di taman ini sering membangkitkan imajinasi di kepalaku untuk membuat sebuah lukisan ringan di dalam buku gambar yang selalu kubawa di dalam tas kerjaku ini. Tapi, entah mengapa hari ini otak dan tanganku tidak membuahkan hasil yang cukup memuaskan.

 

“Hei, Nona!”

 

Aku membuka mata ketika suara itu memanggil tiga kali dan semakin keras di tiap panggilannya. Kutegakkan tubuhku dan kudapati kauberdiri di seberang jalan sambil menatapku. Kau berpakaian serba oranye, mengenakan topi berwarna hijau di kepala, sementara di tangan kiri kaupegang sebuah sapu lidi berukuran besar dan di tangan satunya kaugenggam salah satu dari gumpalan kertas yang gagal kulempar ke dalam tempat sampah hari ini.

 

Oh, tidak!

 

“Anda tahu, kalau di taman ini tidak boleh membuang sampah sembarangan?” kau bertanya dengan nada suara yang agak meninggi. Aku dapat menebak kalau di balik bayangan topi itu, matamu pasti sedang menatap tajam ke arahku saat ini.

 

Aku segera bangkit dari bangku dan berjalan menyeberangi lintasan joging. “Ah, maaf ya, Mas. Nanti saya rapikan deh.”

 

Cepat-cepat kukumpulkan gumpalan-gumpalan kertas yang berserakan di pinggiran tempat sampah ini. Bahkan kusempatkan pula untuk mengejar gumpalan kertas yang sudah berpindah puluhan meter karena tertiup angin. Ah, kalau saja aku tidak malas tadi, aku takkan repot-repot seperti ini. Lagi pula, di taman ini sudah ada tukang bersih-bersihnya kan?

 

“Nah, tinggal itu sampah yang terakhir!” Aku berseru sambil menunjuk ke kertas yang tengah kau pegang itu. Kertas di tanganmu itu sudah tak lagi menggumpal. Kau menatap kertas itu dengan penuh perhatian.

 

“Ini sih bukan sampah. Gambar bagus begini kenapa Anda buang?” Saat kautunjukkan kertas di tanganmu itu, aku menyadari bahwa itu adalah kertas dengan gambar seorang wanita dan seorang anak laki-laki yang tengah memakan roti lapis sambil duduk beralaskan tikar. Itu adalah sketsa yang kubuat sebelum aku menggambar ayah dan anak yang sedang joging sore tadi.

 

“Aku menggambar mata wanitanya terlalu besar, makanya kubuang.” Dengan cepat kurebut kertas itu dari tanganmu dan kulemparkan ke dalam tempat sampah.

 

“Kenapa harus terpaku pada bagian yang kecil ketika sebagian besar lainnya terlihat indah?” Aku terdiam selagi kau mengambil kembali kertas yang kubuang tadi dari tempat sampah. “Menurutku matanya tidak terlalu besar. Lagi pula, di kertas ini Anda tidak hanya menggambar mata. Ada tikar, roti, dan ada dua orang yang sedang tertawa, dan kurasa semuanya bagus ... tidak ada yang salah.”

 

Selagi kau terfokus pada kertas di tangan, tiba-tiba aku menyadari suatu hal dari balik bayang-bayang topi yang kaukenakan. Guratan panjang itu ... hanya satu orang yang kukenal memiliki guratan di pipi itu. “Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Kau tidak terlihat asing.”

 

“Tidak,” jawabmu singkat sebelum menggumpal kembali kertas itu dan memasukkannya ke dalam saku celana panjangmu. “Mungkin Anda salah orang.”

 

“Hei, tunggu sebentar!”

 

Angin sore ini terasa begitu kencang dibanding hari-hari lainnya. Buktinya, topi hijau yang kaukenakan itu dengan mudahnya terbang meninggalkan kepalamu hingga akhirnya aku dapat benar-benar mengenali wajah yang sedari tadi tersembunyi di balik bayang-bayangnya.

 

“Wahyu?”

 

Kau tidak menjawab. Kau hanya menolehkan wajah sedikit ke arahku sebelum pergi mengejar topi yang diterbangkan angin. Memori semasa di sekolah menengah atas dulu kembali bermunculan di kepalaku. Ingatanku kembali pada hari di mana kau memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang kita coba jalani kala itu dan menghilang sehari setelahnya. Sebelum itu, kau sering terlihat murung dan tidak mau menceritakan apa pun padaku. Melihatmu begitu peduli pada gambar yang kubuang tadi, rasanya kini aku tahu semua jawabannya, meski tidak yakin benar. Tapi satu hal yang dapat aku yakini ... sepertinya sketsa yang akan kugambar kali ini menjadi gambar terbaikku hari ini.

 

~ *** ~

Fin

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer ziahnuraisyah
ziahnuraisyah at Sketsa (8 weeks 4 days ago)
70

Endingnya kurang greget.
Tapi overall suka. keren laaah...
terlebih lagi kata-kata ini -> “Kenapa harus terpaku pada bagian yang kecil ketika sebagian besar lainnya terlihat indah?”

Writer Shinichi
Shinichi at Sketsa (8 weeks 6 days ago)
60

Saya mengira cerpen ini ingin membicarakan kesan, seperti dari suasana, keadaan cuaca, musim, juga dialog tokohnya. Namun belum begitu mengesankan. Lalu, penulis membuat catatan pengantar yang mana membuat saya enggak harus berkomentar demikian.

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Sketsa (8 weeks 5 days ago)

Iya juga ya, biasanya sih juga dibikin gitu, tapi otaknya lagi buntu, udah lama ga diasah. xD