Ikatan Takdir

Ding!

 

Pintu besi di hadapanku terbuka sedetik setelah bunyi bel itu berbunyi. Di baliknya, tampak sebuah ruangan kecil yang dapat ditempati oleh tujuh hingga delapan orang. Hanya saja, pada malam ini ruangan itu kosong. Aku dapat melihat pantulan diriku yang berdiri seorang diri sambil menggendong tas di bahu kanan dari dinding metalik itu.

 

Kutekan tombol bertuliskan huruf “G” pada panel di samping pintu. Nyala lampu berwarna jingga melingkari tombol yang kutekan itu, bersamaan dengan tertutupnya daun pintu. Tak lama, aku dapat merasakan sebuah gaya dorong yang seakan-akan membuat tubuhku terasa lebih ringan. Angka yang tercetak di panel digital pun perlahan-lahan berubah, berhitung mundur dari angka “15”, “14”, dan seterusnya.

 

Lelah dan rasa kantuk membuat otakku dengan mudah memerintahkan tubuh ini untuk menutup mata dan bersandar pada dinding lift. Memang melelahkan jika berolahraga setelah jam pulang kantor. Namun, dengan waktu kerja yang padat—enam hari dalam seminggu—aku tak lagi punya cukup waktu untuk berolahraga di luar hari kerja. Meski begitu, tubuh ini rasanya sudah mulai bisa beradaptasi dengan rutinitas seperti ini. Aku berangan-angan, seandainya saja aku bisa kembali ke masa-masa perkuliahan dan tak menyia-nyiakan waktu luangku yang terlampau banyak kala itu.

 

BAM!

 

Aku terperanjat dan sontak membuka mata tatkala mendengar suara yang cukup keras dan merasakan getaran yang cukup hebat di dalam lift ini. Lampu di dalam lift mati seketika, meski hanya beberapa saat sebelum lampu darurat menggantikan cahaya yang sebelumnya padam. Gempa? Aku tidak bisa menebak dengan pasti. Yang dapat kupastikan dengan jelas adalah lift yang semula bergerak turun kini berhenti pada lantai 10, setidaknya itulah angka yang tertera pada panel kontrol di samping pintu. Kucoba menekan tombol untuk membuka pintu, namun pintu tidak terbuka. Lalu, apa yang bisa kulakukan sekarang?

 

Dari panel kontrol, kutemukan sebuah tombol berwarna merah dengan gambar lonceng di tengahnya. Sejak dulu, aku selalu ingin menekan tombol semacam itu di setiap lift yang pernah kunaiki hanya untuk mengetahui apa yang akan terjadi. Mungkin sekarang saat yang tepat untuk menjawab rasa penasaranku itu. Tanpa pikir panjang, kutekan tombol yang berada di urutan paling bawah itu dan bunyi suara bel terdengar lama, seiring dengan seberapa lama kutekan tombol ini. Persis seperti yang ada pada bel-bel rumahan, pikirku. Rasa penasaranku pun bertambah. Apakah semua tombol darurat di setiap lift didesain seperti ini atau tergantung merek liftnya?

 

Berkali-kali kutekan tombol darurat itu, namun yang kudapatkan hanyalah suara bel yang berdering tiada henti. Tidak ada jawaban atau respons apa pun. Sejauh yang kutahu—setidaknya dari beberapa film yang pernah kutonton—tombol darurat seperti ini seharusnya terhubung ke bagian sekuriti atau orang tertentu yang dapat menangani permasalahan di dalam lift. Apa mungkin petugas sekuritinya tertidur dan tidak mendengar sinyal kebingunganku dari sini? Lelah, aku pun mengenyakkan badan ke lantai, bersandar pada dinding sambil terus menekan-nekan tombol ini entah sampai kapan.

 

~ *** ~

 

Wuungg ....

 

Entah sudah berapa menit berselang sejak lift ini mati, tiba-tiba kurasakan lift mulai kembali bergerak turun. Syukurlah! Aku berteriak kegirangan. Ini tandanya aku tak perlu tidur di dalam lift semalaman. Angka yang tertera pada panel kontrol akhirnya berubah menjadi angka “9” dan diikut dengan bunyi ding. Pintu lift pun terbuka.

 

Kulihat tidak ada seorang pun di depan lift. Aneh, padahal sedari awal aku masuk ke dalam lift ini aku hanya menekan tombol “G”—selain tombol darurat, tapi kenapa pintu lift terbuka di lantai 9 kalau tidak ada orang di sana? Meski begitu, yang membuatku lebih terheran-heran lagi adalah adanya objek yang tidak biasa untuk ditempatkan di depan pintu lift. Sebuah urinal.

 

Aku melongok ke luar dan kudapati situasi di luar lift tampak seperti toilet pria. Sejak kapan ada lift di dalam toilet? Dalam dua tahun masa kerjaku di sini, dapat kupastikan bahwa aku pernah mengunjungi semua lantai yang ada di gedung pemerintahan lima belas lantai ini dan tak ada satu pun lantai yang pintu liftnya terhubung langsung dengan toilet. Kalau pun ada, jelas akan diprotes sejak pertama kali pembangunannya, bahkan sejak perancangan gedungnya.

 

Mendadak aku merasakan ada angin dingin bertiup di belakang leherku. Cepat-cepat kutekan tombol untuk menutup pintu, namun pintu lift tak kunjung tertutup. Pada akhirnya kuberanikan diri untuk melangkah keluar. Mungkin cuma perasaanku saja. Mungkin aku salah lihat. Mungkin aku hanya bermimpi. Berbagai kemungkinan itu terlintas di dalam benakku seraya kaki ini melangkah menuju pintu keluar untuk mencari tangga darurat.

 

Ceklek!

 

Gagang pintu keluar di depanku bergerak. Tubuhku pun mendadak lemas. Ya Tuhan, semoga bukan hantu, semoga bukan hantu. Seperti ditancapkan oleh paku ke lantai, aku tak mampu menggerakkan kakiku untuk melangkah ke mana pun meski otakku sudah memerintahkannya untuk bergerak. Atau itu karena otakku juga tidak mampu memproses apa pun saat ini? Pintu itu perlahan terbuka, namun makhluk yang muncul darinya tak seperti apa yang kuduga sebelumnya. Dari balik pintu itu malah terlihat seorang pria yang tak asing memasuki toilet ini.

 

“Lho, Reza, kau di sini rupanya? Kami mencarimu dari tadi. Kenapa handphone-mu tidak aktif?”

 

Aku memiringkan kepala. Aku sungguh tak mengerti apa yang dimaksud pria berkemeja batik ini. “Hah? Mencariku? Untuk apa? Kau sendiri kenapa berada di sini?”

 

Kali ini giliran ia yang mengerutkan dahi. “Kau bercanda ya? Kita kan lagi di resepsinya Anggita—teman kuliah kita di kelas 3-U.”

 

Resepsi? Anggita? Seingatku Anggita menikah tiga tahun yang lalu, beberapa bulan setelah kami semua diwisuda. Aku pun hadir di acara resepsi itu, jadi mana mungkin aku salah ingat. Kurasa temanku ini yang sedang bercanda.

 

“Halah, pakai bengong segala. Ayo, cepat! Sudah ditunggu yang lain buat foto bareng.” Dengan cepat ia menarik pergelangan tanganku dan menyeretku ke arah pintu keluar. Spontan, aku menahan laju seretan itu dengan entakan kaki ke tanah.

 

“Tunggu sebentar! Bagaimana bisa aku ikut foto kalau salah kostum seperti ini?” Memakai pakaian olahraga untuk acara pernikahan? Aku pasti sedang bermimpi.

 

“Kau demam ya, Za?” Sekali lagi ia memandangiku dengan tatapan penuh kebingungan yang disertai dengan rasa iba, walau seharusnya aku yang menatapnya seperti itu. “Kau terlihat normal kok buat difoto di atas panggung.”

 

Aku baru menyadari maksud perkataan temanku itu setelah secara sekilas kulihat pantulan diriku yang mengenakan kemeja batik hijau berlengan pendek dari cermin pada wastafel sebelum diseretnya tubuhku ini keluar dari toilet.

 

~ *** ~

 

Aku mendengar dengan jelas riuh rendah suara keramaian dari balik pintu koridor yang panjang ini. Begitu memasuki ruang aula yang cukup lebar ini, aku mendapati suasana pesta pernikahan terhampar di seluruh penjuru ruangan. Lengkap, mulai dari stan-stan makanan di pinggir ruangan, meja prasmanan tempat makanan utama dihidangkan, grup musik yang menghiasi ruangan ini dengan lantunan melodi dan vokal yang merdu, tak luput pula tamu undangan di berbagai sudut ruangan. Bahkan aku menemukan sekelompok wanita dengan gaun indah mereka yang tengah berpose di depan balok es besar yang membentuk dua buah huruf selagi salah satu teman pria mereka memotret mereka dengan sebuah smartphone di tangan.

 

Ya, aku dapat mengingat suasana ini meski sudah tiga tahun terkubur dalam di ingatanku. Kalau tidak salah, tempat resepsi pernikahan Anggita memang berada di dalam aula sebuah gedung bertingkat di tengah kota. Waktu itu aku pernah salah menaiki lift dan malah tersasar ke acara resepsi pernikahan orang lain yang kebetulan berlangsung di gedung kembar di sebelahnya.

 

Temanku itu membawaku ke pinggir panggung di mana berdiri kedua pengantin yang tengah berfoto bersama sekelompok orang. Aku melihat banyak wajah yang tak asing di sana. Mereka semua adalah teman-teman kuliahku dulu yang kini sudah berpencar ke seluruh penjuru negeri. Seketika muncul perasaan déjà vu dengan semua yang ada di aula ini. Bahkan aku juga yakin bahwa mataku ini melihat sosok Anggita yang berbalut gaun pengantin di atas panggung pelaminan itu. Ini tidak mungkin hanya sebuah mimpi. Semuanya terlihat sangat nyata di hadapanku. Jangan-jangan ... aku kembali ke masa lalu.

 

Hanya ada satu cara untuk memastikan semua ini, pikirku. Setelah melakukan sesi foto bersama—lagi—aku segera berpamitan dengan teman-teman dan bergegas menyeberangi aula ini untuk menemukan pintu menuju koridor panjang. Kubuka pintu itu ....

 

Brukk!

 

Argh! Aku mengerang pelan dalam posisi terperenyak di lantai. Tak kusangka, saat membuka pintu koridor yang menghubungkan aula dengan toilet dan tangga darurat, ada seseorang yang juga berdiri di depan pintu, berlawanan arah denganku dan hendak membuka pintu. Tanpa bisa kukendalikan, tubuhku menubruk sosok yang ada di balik pintu itu hingga kami berdua sama-sama terjatuh ke lantai.

 

Aku bangkit dengan cepat dan baru menyadari bahwa orang yang bertabrakan denganku tadi adalah seorang pria tua berbadan gemuk yang mengenakan pakaian terusan dengan kombinasi warna merah dan kuning.

 

“Maafkan saya, Kek. Saya tidak lihat. Saya terburu-buru.” Setelah kupastikan kakek itu dapat kembali berdiri dengan tegap, aku kembali merunduk dan membantu merapikan barang-barang bawaannya yang telah kubuat jatuh berserakan. Cukup banyak juga barang yang dibawa kakek ini. Mulai dari sebuah tas selempang tak bermotif, Beberapa buah buku dengan berbagai macam ukuran dan memiliki ukiran-ukiran huruf yang tak kumengerti—mirip dengan huruf dalam bahasa Mandarin, Jepang, atau Korea— pada sampul depannya, lalu ada pula segulungan besar benang berwarna merah, sapu tangan, kuas, dan beberapa alat-alat tulis kecil lainnya. Kumasukkan semua benda itu ke dalam tas dan kuserahkan pada pria tua itu.

 

“Terima kasih, Nak.”

 

“Ah, tidak mengapa, Kek. Saya yang salah, kok.” Kakek itu hanya membalas dengan senyuman sebelum akhirnya berlalu begitu saja, membaur dengan keramaian di aula resepsi. Aku sempat terpaku sembari memfokuskan mataku untuk mencari sosok kakek itu yang dengan cepat sekali menghilang. Namun, sedetik kemudian aku jadi teringat bahwa aku pun harus segera pergi. Aku lantas melangkahkan kakiku memasuki toilet dan menuju ke toilet kubikal yang ada di ujung ruangan.

 

Kulihat pintu toilet kubikal itu setengah tertutup. Perlahan, kudorong pintu itu dan kulihat ruang kecil seperti di dalam lift dari balik pintu itu. Setelah semua keanehan yang kualami dalam beberapa menit terakhir ini, aku tak lagi heran dengan apa yang disaksikan oleh mataku saat ini. Tanpa ragu, kulangkahkan kakiku ke dalam kubikal—lift—dan seketika pintu lift menutup dan kemeja batik serta celana panjangku menghilang, berganti menjadi pakaian olahraga seperti yang kukenakan sebelumnya.

 

Klang!

 

Ketika kudapati pakaianku kembali normal, kutemukan pula sebuah gunting yang tiba-tiba saja terjatuh entah dari mana. Kuraih gunting itu dari lantai dan mengamatinya dengan saksama. Gunting itu memiliki mata pisau yang cukup panjang walau kedua lubang tempat jari jempol dan telunjuknya terbilang cukup kecil. Aku sering melihat gunting seperti ini di berbagai tempat cukur rambut pria. Yang menarik dari gunting ini adalah adanya untaian kain tipis pendek—pita—berwarna kuning yang menggantung di salah satu lubangnya. Cukup serasi dengan pegangan yang dilapisi dengan karet berwarna hijau ini, menurutku.

 

Ah, pasti gunting ini milik pria tua itu tadi. Entah bagaimana, gunting ini mungkin tersangkut atau terselip di dalam saku kemejaku. Lalu, gunting ini terbawa olehku ke dalam lift. Ketika pakaianku menghilang dan berganti seperti semula, gunting itu terjatuh di sini. Kira-kira begitulah kesimpulan sementara yang dapat aku buat tentang gunting ini, meski banyak sekali hal yang membuatku bertanya-tanya, seperti bagaimana bisa gunting seperti ini tersangkut di pakaianku? Kalau pakaianku menghilang, kenapa gunting ini tak juga menghilang? Kenapa pula kakek itu membawa sebuah gunting? Atau sebenarnya gunting ini bukan milik kakek itu? Lalu milik siapa? Kenapa bisa ada di sini?

 

Selagi memikirkan pertanyaan-pertanyaan terkait gunting ini, aku sampai terlupa soal tujuan utamaku kembali ke dalam lift ini. Untuk sementara waktu, kusimpan gunting berpita ini di dalam tas olahraga yang entah mengapa bisa kutinggalkan di dalam lift sejak tadi dan mengamati ruangan kecil berukuran luas sekitar tiga meter persegi ini.

 

Sejujurnya, tak ada yang aneh dengan kotak besi ini. Dindingnya terbuat dari bahan metal yang dapat memantulkan cahaya layaknya cermin, dan sepertinya tidak ada ruangan rahasia atau apa pun yang tersembunyi dari balik dinding ini. Di langit-langitnya pun aku hanya menemukan sinar lampu yang berpendar melewati lapisan kaca yang menutupinya. Kalau mengingat pengalamanku dalam menonton banyak film aksi, dari balik kaca itu pasti ada pintu kecil yang bisa dilewati seseorang. Kalau untuk panel kontrolnya sendiri ... tidak ada yang aneh bagiku. Sampai saat ini angka yang tertera di layar masih menunjukkan angka “9”. Hanya saja, kalau tadi tombol untuk menutup pintunya seakan tidak berfungsi, kali ini giliran tombol untuk membuka pintu yang tak memberikan respons apa-apa.

 

Sepertinya aku kembali terjebak di dalam lift ini. Namun, alih-alih menekan tombol darurat, kucoba untuk menekan tombol dengan angka “8” tertera di atasnya. Lift pun menjawab respons dari tombol yang kutekan dengan ditandai oleh nyala lampu pada tombol yang kutekan itu dan sejurus kemudian, lift mulai bergerak turun. Tak lama, pintu pun terbuka. Yak, ke mana gerangan lift ini membawaku kali ini?

 

~ *** ~

 

Rasanya tempat ini tak asing. Intuisiku mengatakan bahwa aku mengenali tempat ini. Meski tidak ada urinal, tapi tempat ini jelas adalah sebuah toilet, dengan tiga pintu dan dua buah wastafel. Persis seperti toilet yang ada di tempat parkir sepeda motor di wilayah kantorku. Dan tebakanku itu berhasil dibuktikan saat kubuka pintu keluar dan kulihat banyak sepeda motor berjajaran, terparkir rapi di sebuah halaman berkanopi.

 

Ini di parkiran? Aku bebas? Sejenak perasaanku menjadi lega karena akhirnya dapat keluar dari lift yang aneh itu dan bergegas menuju kamar indekosku untuk segera merebahkan badan yang lelah ini. Namun, dengan cepat aku menyadari sesuatu. Terang.... Cahaya matahari bersinar terik, persis di atas kepalaku. Bukankah seharusnya sekarang ini sudah malam? Aku berdiam diri sejenak. Di saat itu aku baru menyadari satu hal lagi yang membuktikan bahwa petualanganku belumlah usai. Pakaian dan tas olahraga yang kubawa kembali berubah seperti di lantai 9 tadi.

 

Kali ini tubuhku dibalut oleh kemeja hitam formal,  celana panjang berwarna cokelat muda, serta sepatu pantofel bertali. Jika ditambah dengan tempat parkir sepeda motor yang tidak seramai biasanya, dari semua informasi itu aku menyimpulkan bahwa lift tadi membawaku ke lingkungan kantor di saat hari libur ... di saat aula gedung utama sering dipakai untuk acara resepsi pernikahan.

 

“Ayu & Fandi”

 

Begitulah nama yang tertera pada semua karangan bunga yang berjajar di samping pintu masuk aula. Aku kenal nama itu dan karangan bunga itu menjadi pembenar apa yang ada di pikiranku sejak sepuluh menit yang lalu. Sepertinya lift itu memang membawaku ke masa lalu. Mesin waktu? Tapi kenapa harus ke resepsi pernikahan? Apa alasannya lift itu membawaku ke sini? Begitu banyak pertanyaan yang muncul di benakku dan tak ada cara lain untuk membuktikannya selain kembali ke dalam lift itu dan mencari tahu cara kerjanya.

 

“Hoi, Za!” Sewaktu hendak membuka kembali pintu masuk ke toilet, tiba-tiba aku mendengar sebuah panggilan dengan nada yang besar dan rendah milik seorang pria. “Cuma mengambil di parkiran kan? Kenapa lama sekali?”

 

“Ah, maaf ... mendadak perutku sakit barusan,” jawabku sambil berpura-pura memegangi perut. Kurasa itu alasan yang cukup masuk di akal bila bertemu dengan seseorang di depan toilet. Lagi pula, aku pun belum ingat apa yang seharusnya sedang kulakukan di saat ini—persis di dua tahun yang lalu.

 

“Ya sudahlah. Yang penting kopi partiturnya sudah kau ambil kan?”

 

Layaknya hal yang sering kulihat di film-film barat, sebuah aliran listrik seperti tiba-tiba mengaliri otakku, memberikan sebuah lubang yang membuat gambaran-gambaran yang tersimpan di dasar ingatanku timbul ke permukaan. Kini aku mengerti apa yang ia maksud.

 

“Ini, sudah ada di tas kok,” Kataku sambil menepuk-nepuk tas selempang kecil—yang tadinya berupa tas olahraga—di pinggang kananku. Seharusnya sih lembaran-lembaran partitur yang akan dimainkan sahabatku ini sudah ada di dalam tas. Setidaknya itu yang ada di ingatanku.

 

~ *** ~

 

Kami berjalan menerobos keramaian tamu undangan di aula terbesar yang dimiliki gedung utama kantor pusat instansi tempatku bekerja. Sejujurnya aku ingin sekali mengambil satu atau dua piring dari beberapa stan yang menjajakan makanan di pinggir ruangan. Siapa sih yang tidak lapar setelah berolahraga di pusat kebugaran? Sayangnya, Andi—sahabatku—sudah keburu menarik lengan kemejaku, menyeretku menuju panggung kecil di sudut ruangan. Aku jadi menyesal tidak sempat mengambil makanan di lantai 9 tadi. Aku hanya berharap semoga saja mereka masih menyisakan sepiring kambing guling untukku nanti.

 

“Oh iya, Za. Sebelum kita mulai, aku punya sesuatu untukmu.”

 

Dari dalam tas ransel yang disandarkan pada tembok, Andi mengambil sebuah kotak yang dibungkus dengan kertas putih. Di atasnya terlihat beberapa baris kata yang dituliskan dengan tinta berwarna hitam. Sebuah puisi.

 

“Sewaktu kau mengambil cuti minggu lalu, ada titipan paket dari satpam. Dari bungkusnya sih ditujukan untukmu, Za. Tapi tidak ada nama pengirimnya. Diam-diam ternyata kau punya penggemar rahasia ya?” katanya sambil memukul pelan bahuku dan memasang raut wajah yang berseri-seri sambil menunjukkan padaku sebuah tulisan yang tertera di ujung kotak, bertuliskan: From Your Secret Admirer.

 

Aku tertawa pelan. Tak kusangka aku dapat mengulang kembali momen yang tidak terduga ini. Hari ini adalah kali pertama aku menerima hadiah dari seseorang yang tidak kuketahui sebelumnya. Pakai segala membuat puisi cinta di bungkus kadonya. Sampai dua tahun kemudian pun aku masih belum bisa menebak siapa orang yang memberikanku kado ini. Tebakanku berakhir pada sahabatku ini yang sengaja ingin mengerjaiku, meski pada akhirnya ia pun tak pernah mau mengaku.

 

“Ayo buruan dibuka. Aku penasaran apa isinya. Ngomong-ngomong ... selamat ulang tahun ya!”

 

Topi. Topi dari dalam kotak ini adalah benda yang sering menemaniku kala berolahraga di luar ruangan. Benar-benar kado yang sangat berguna. Siapa lagi kalau bukan Andi yang tahu apa yang benar-benar kubutuhkan? Kubuka sampul putih yang membungkus kotak berukuran 30 x 20 x 10 cm ini perlahan, supaya tidak merobek sampulnya. Kebiasaan lama. Setelah sampul itu terbuka seluruhnya. Aku mendapati sebuah kotak polos berwarna cokelat yang di bagian tengahnya direkatkan oleh semacam plastik perekat tebal. Aku sama sekali tidak ingat bagaimana dulu aku membuka segel plastik ini. Tapi untuk kali ini, aku punya sesuatu yang mungkin bisa digunakan dari dalam tasku—kalau benda itu tak ikut menghilang seperti barang-barang lain di dalam tas olahragaku.

 

Ada! Tanganku berhasil menemukan benda yang kumaksud. Aku menarik keluar gunting berpita dari dalam tasku. Langsung saja kuarahkan sebelah mata pisau gunting itu ke perekat yang membentang di bagian tengah kotak. Tapi, aku merasakan ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang sebelumnya tidak ada pada kotak di tangan kiriku ini. Seutas benang ... benang merah.

 

Benang itu cukup tebal jika dibandingkan dengan benang jahit pada umumnya. Aku bahkan dapat melihat dengan jelas warna kemerahan yang menyala dari benang itu meski itu hanya seutas benang yang tidak berpintal. Benang itu berayun-ayun seiring dengan tiupan angin dari pendingin ruangan yang dipasang di sudut ruangan. Meski dengan mudahnya benang itu terbang tertiup angin, benang itu tak pergi jauh—lebih tepatnya tertahan oleh sesuatu. Kutelusuri benang itu yang ternyata ujungnya terikat pada pergelangan tangan kiri Andi. Sementara ujung yang satunya kulihat menjuntai—menempel—pada tembok di dekat kami. Menembus tembok? Aku tidak begitu yakin, yang jelas ujung benang yang satunya berakhir di tembok itu.

 

“Hoi, kenapa bengong? Ayo cepat dibuka. Kita juga harus segera tampil nih,” kata sahabatku itu seraya merapikan kertas-kertas partiturnya di depan keyboard.

 

“Eh, iya. Maaf.” Sewaktu itu, benang merah ini tidak muncul di hadapanku. Dan entah bagaimana, aku yakin kalau Andi tidak menyadari adanya benang merah yang muncul dengan tiba-tiba dan terikat pada pergelangan tangannya. Sengaja? Atau memang ia tidak dapat melihatnya? Kalau kusapu pandanganku ke seisi aula, aku juga dapat menemukan garis-garis berwarna serupa yang menjuntai dari beberapa pergelangan tangan orang-orang yang kebetulan sedang berada di dekat kami. Sesungguhnya benang apa ini? Dan dari mana mereka berasal?

 

~ *** ~

 

Membawakan lagu di acara pernikahan memang dapat dibilang seperti hobiku saat ini, selain dari berolahraga tentunya. Selain mendapatkan uang bayaran, aku juga dapat terus mengasah kemampuan vokalku yang sebenarnya tidak seberapa bagus ini. Untung saja aku tidak sendirian. Aku ditemani Andi yang mahir bermain piano. Kalaupun—menurutku pribadi—kemampuan bernyanyiku tidak sebanding dengan wedding singer pada umumnya, setidaknya permainan sahabatku itu dapat menutupi kekurangan yang terus kucoba perbaiki sampai dengan saat ini.

 

Selama membawakan empat buah lagu tadi, aku berusaha mengesampingkan fakta bahwa aku dapat melihat benang merah misterius yang hanya dapat kulihat ketika kugenggam gunting misterius yang kutemukan di dalam lift. Ya, ternyata begitu gunting itu kusimpan kembali ke dalam tas, benang-benang merah yang menggantung dari banyak tangan tamu-tamu undangan itu kembali menghilang. Benang merah tak kasat mata. Pantas saja selama ini tidak ada orang yang menyadari keberadaannya. Aku bahkan tidak pernah mendengar hal apa pun soal benang merah ini sebelumnya. Aku menebak, sepertinya setiap benang-benang itu terhubung ke sesuatu. Lantas, yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah: terhubung ke mana? Kenapa ada orang yang terikat dengan benang merah itu dan ada yang tidak? Lalu apa hubungannya dengan gunting yang kutemukan ini?

 

Jika dipikirkan terus, aku tak tahu kapan semua misteri ini akan terjawab. Pertama lift, kemudian mesin waktu, gunting, dan sekarang benang merah. Seakan-akan semua hal yang kutemui dan kualami malam ini terkoneksi satu sama lain.

 

Tunggu ....

 

Terkoneksi ... satu sama lain?

 

Sempat terlintas di benakku sebuah asumsi yang mungkin saja sedikit masuk akal. Tapi, asumsi apa pun juga sebenarnya tidak masalah, toh apa yang kualami sejak tadi tidak ada yang masuk akal.

 

Aku mengambil kembali gunting yang ada di dalam tasku dan menggenggamnya erat. Perlahan, benang-benang merah itu kembali terlihat di depan mataku. Jika asumsiku benar, bisa jadi benang itu menghubungkan seseorang dengan orang yang lain. Namun dalam hal apa? Aku mencoba mengelilingi aula ini, mencari benang yang kedua ujungnya sama-sama berada di ruangan ini. Pertama-tama, aku mencari dari stan makanan yang paling ujung, stan yang menyajikan makanan khas pesta pernikahan: kambing guling. Ya, stan ini yang selalu paling diserbu di setiap acara resepsi pernikahan yang pernah kuhadiri, terutama yang diselenggarakan di dalam gedung. Karena itu, stan ini merupakan stan yang paling ramai dan sangat cocok untuk menjadi titik awal pencarianku ... dan aku bisa sekalian mencicipi hidangan yang disediakan. Aku kelaparan!

 

Satu per satu stan makanan kukunjungi, namun aku baru menemukan yang kucari di meja bundar yang berisi minuman di bagian tengah aula. Benang merah yang kutemukan terikat pada pergelangan tangan seorang pria kurus berkemeja batik yang kira-kira seumuran denganku—mendekati kepala tiga—dan ujung yang satunya terikat pada pergelangan tangan seorang wanita tinggi bergaun kuning yang warnanya sangat serasi dengan rambut ikal kecokelatannya yang pendek sebahu. Kedua orang itu berdiri di dekat meja bundar itu, saling memunggungi. Masing-masing mengambil gelas berisi air dan meminumnya.

 

Aku sama sekali tidak melihat ada sesuatu dari mereka. Tapi, naluriku mengatakan untuk terus memerhatikan kedua orang tersebut. Dalam beberapa menit, keduanya membalikkan badan secara bersamaan. Alhasil, mereka bertubrukan dan gelas berisi air penuh yang dipegang si pria tumpah setengah isinya dan membasahi pakaian mereka berdua. Si pria berulang kali meminta maaf sambil menyodorkan sebuah kain dari sakunya. Saputangan. Melihat kedua orang itu, aku merasa hal itu cukup menggelikan hati. Tak kusangka aku dapat menemukan hal yang sering kulihat di televisi semasa kecil dulu pada dunia nyata. Kurasa hal itu sudah cukup langka di zaman sekarang ini.

 

Setelah melihat kedua orang itu, rasa-rasanya aku mulai mengerti apa fungsi dari benang merah misterius ini. Meski begitu, aku masih belum merasa puas. Masih terlalu banyak pertanyaan yang bermunculan di kepalaku. Hanya saja, bisikan hatiku mengatakan bahwa aku tidak akan menemukan semua jawaban itu di sini. Mungkin ada baiknya untuk kembali ke lift itu dulu sebelum bertindak gegabah. Siapa tahu di lantai berikutnya aku dapat menemukan beberapa petunjuk.

 

~ *** ~

 

Kali ini, lift itu tidak membawaku ke acara resepsi pernikahan. Lift itu membawaku ke sebuah taman yang berada tak jauh dari tempat tinggalku. Untunglah! Bisa bosan rasanya kalau harus mengunjungi suasana yang sama terus menerus, dan aku jauh lebih menyukai suasana yang tenang seperti di tempat ini.

 

Aku berjalan pelan menyusuri lintasan joging yang memutari taman kota ini. Kalau saja aku tahu lift itu akan membawaku ke taman ini, aku tak akan menghabiskan banyak waktu dan tenaga di treadmill tadi sore. Jauh lebih enak berlari di ruangan terbuka, bukan?

 

Aku duduk bersandar pada bangku taman yang kosong di dekat pohon sambil menyapu pandang ke sekitar. Matahari belum begitu naik. Pagi ini taman diramaikan oleh orang-orang yang berjoging memutari taman. Kulihat juga ada satu-dua orang yang berlari sambil membawa anjing peliharaannya. Tapi tak sedikit pula anak-anak muda yang berjalan berpasangan. Aku jadi bertanya-tanya ... mengapa lift itu membawaku kemari?

 

Saat di dalam lift, aku mencari-cari panel rahasia atau suatu kombinasi tombol yang sekiranya dapat mengatur waktu dan tempat yang akan dituju lift mesin waktu itu. Tapi, aku tak berhasil menemukannya. Aku bahkan tak bisa menekan kembali tombol lantai yang sudah kukunjungi, seakan-akan tujuan lift itu sudah diatur sedemikian rupa, dan aku hanya bisa menurut pada aturan main yang telah ditentukan.

 

Aku hanya ingin segera pulang, pintaku dalam hati.

 

“Hei, Reza!” Aku membuka mata yang tanpa kusadari sempat terpejam untuk beberapa saat, tersihir oleh kenyamanan yang disebarkan oleh suasana taman ini. Aku menoleh ke sumber suara dan kulihat seorang wanita berlari sambil melambaikan tangannya. “Kau berlari cepat sekali. Aku sampai tak bisa mengejar.” Wanita itu menghentikan langkahnya di depanku dan kemudian mengambil tempat duduk di sampingku, mengatur napasnya perlahan-lahan.

 

Sarah. Wanita idaman semua pria yang masih membujang di divisi tempatku bekerja. Siapa yang tidak jatuh cinta jika melihat wanita yang manis, rambut panjang bergelombangnya yang sering diikat, dan pandai bernyanyi ini? Dan wanita ini tak lama lagi akan membantu dalam mewarnai roda kehidupanku kelak. Aku sungguh beruntung jika dibandingkan dengan pria-pria lain yang sempat berusaha untuk mendapatkan hatinya.

 

“Kalau tidak salah, kau sendiri kan yang meminta joging bersama untuk persiapan acara lomba lari 10 km di bulan Agustus nanti?” Ini satu-satunya hari di mana kami berjoging bersama, jadi aku tidak mungkin lupa dengan hari ini.

 

“Yah, tapi setidaknya aku sedikit lebih baik ketimbang Andi.” Sarah langsung menoleh ke arah ia datang tadi dan di sana kulihat Andi berjalan gontai dan dengan napas yang terengah-engah.

 

“Huah! Baru tujuh kilo saja ... sudah ngos-ngosan begini.” Kata Andi sambil bertolak pinggang,             mengatur napas. “Kayaknya ... aku tidak jadi ikut deh nanti.”

 

“Wah, jangan begitu dong, Ndi. Kamu pasti sanggup!” kata Sarah seraya menepuk punggung Andi yang tengah merukuk menghadap tanah.

 

Meski di hari ini aku dan Sarah belum mengikat janji, tapi entah mengapa aku merasakan setitik nada kecemburuan di jantungku. Lalu timbullah sebuah pertanyaan yang selama ini belum sempat terlintas di kepalaku. Kami benar berjodoh kan? Aku jadi teringat pada gunting yang ada di saku celana pendekku. Aku merogoh saku hanya sekadar untuk menyentuh gunting yang membuatku dapat melihat benang-benang merah yang transparan.

 

Ada! Aku melihat seutas benang merah yang tergantung di tangan kanan Sarah. Hanya saja ... alih-alih mengikat tanganku, ujung benang Sarah malah terikat di tangan kiri Andi. Kenapa bisa? Aku sepenuhnya yakin bahwa interpretasiku terhadap benang merah itu tidak salah. Benang itu pasti menandakan suatu takdir. Kalau begitu, kenapa benang itu tidak mengikat tanganku dengan Sarah, meski beberapa bulan lagi kami akan menikah?

 

Cekres!

 

Tanpa kusadari aku sudah berdiri di antara Andi dan Sarah. Tanganku memegang gunting di udara selagi benang yang tadinya tergantung di sana kini terbagi dua dan kedua ujung yang terpotong itu sama-sama menyentuh tanah. Perlahan, warna dari benang yang telah terbagi dua itu menggelap. Warna merah terang yang menyilaukan mata dan perasaanku itu berubah pudar hingga menjadi kelabu bagaikan abu bekas pembakaran, seperti ingin menggambarkan panasnya jantungku yang saat ini terbakar oleh rasa kecemburuan.

 

Apa yang sudah kulakukan? Aku tak tahu energi apa yang sempat menggerakkan tubuhku hingga dapat memutuskan untuk memotong benang merah yang mengikat Andi dan Sarah dengan gunting ini tanpa kusadari sedikit pun.

 

“Za, kau melihat apa?” tanya Sarah ketika memerhatikanku yang bergeming dengan mulut yang setengah terbuka dan tatapan yang kosong.

 

Aku tak menjawab. Spontan, kuputar pinggiran topi yang tadinya mengarah ke belakang kepala menjadi ke depan dahi dan dengan cepat kuentakkan kaki ke tanah, membalikkan badan dan berlari menjauhi kedua orang yang kusayangi itu. Aku tak tahu kenapa aku harus berlari. Aku tak tahu apa yang telah merasuki tubuh dan pikiranku. Aku tak tahu apa yang harus kurasakan saat ini. Aku tak tahu apakah aku harus marah, kecewa, atau sedih. Yang aku tahu pasti adalah saat ini dadaku terasa sangat sesak dan berdiam diri saja hanya akan membuat diri ini semakin tak nyaman. Aku berlari hingga tiba di pintu masuk lift yang berbaur dengan salah satu pintu toilet umum di taman. Aku mengenyakkan diri di dinding lift selagi pintu itu bergeser menutup dan menyisakan keheningan yang menemaniku saat ini.

 

Aku terduduk di sudut ruangan, memegangi kepala sambil berteriak keras. Marah ... atau menangis? Aku sudah tak tahu lagi bagaimana menggambarkan perasaan apa yang saat ini tengah bergulat di dalam hati dan pikiranku. Aku tak habis pikir. Jadi, benang merah yang kulihat di tangan kiri Andi pada lantai sebelumnya itu terhubung dengan Sarah. Tapi kenapa? Kenapa harus dengan Andi? Kenapa bukan denganku? Sebenarnya ada apa dengan benang itu? Itu hanya sebuah benang kan? Ataukah itu merupakan sebuah pertanda? Bagaimana pun juga, benang aneh itu memberikan kesan yang tidak enak pada tubuh ini dan telah menghipnosisku hingga tanpa sadar melakukan hal yang sembrono seperti itu. Bagaimana jika apa yang kulakukan tadi berakibat fatal? Walau di benak ini terpikirkan kemungkinan yang sebaliknya, tetap saja perasaanku merasa tak tenang.

 

Aku telah kehilangan persepsiku terhadap waktu. Entah sudah berapa lama aku duduk terdiam di dalam lift yang tak bergerak ini. Berulang kali kucoba mengatur napas, menenangkan diri. Begitu jiwa dan raga ini berhasil kukendalikan kembali seutuhnya, aku beranjak dari lantai dan berdiri menatap panel kontrol. Aku menatap lekat dan lama tombol berangka “6”, sebelum akhirnya memejamkan mata selagi menghela napas panjang. Jika benar lift ini sudah menentukan tujuan dan waktu yang harus kudatangi, aku hanya bisa berharap di lantai berikutnya aku dapat menemukan jawaban yang kubutuhkan. Kutekan tombol itu dengan jari telunjuk hingga lampu berwarna jingga di sekitar tombol menyala. Lift pun bergerak turun menuju lantai berikutnya.

 

~ *** ~

 

Aku tidak mengenal tempat ini. Itulah kalimat pertama yang muncul di benakku ketika keluar dari toilet pria. Kalau sebelum-sebelumnya lift itu selalu membawa ke tempat yang kuketahui, kenapa kali ini sangat berbeda? Apa yang ingin ditunjukkan lift itu padaku kali ini? Aku berjalan sedikit ke arah utara, dan aku sampai di sebuah aula yang tampak lengang. Melihat dari seberapa luas aula ini, aku menebak bahwa saat ini aku berada di sebuah gedung serbaguna.

 

Aku berjalan mengelilingi aula ini, mencari petunjuk. Tidak banyak yang dapat kutemui di aula ini. Kursi-kursi lipat disusun bersandar pada pinggir tembok. Ada empat buah pendingin ruangan besar yang berdiri di masing-masing sudut ruangan. Di sisi ruangan yang berseberangan dengan pintu utama, terdapat semacam platform lebar yang lebih tinggi dibandingkan lantai lain di sekitarnya. Dan di sudut platform itu kulihat seorang lelaki tua yang tengah duduk termangu menatap lantai. Aku mengenali pakaian merah yang ia kenakan itu. Ah, pasti ini maksudnya.

 

“Sepi ...,” kata pria tua itu begitu aku berjalan mendekat kepadanya. “Seharusnya saat ini sedang berlangsung acara pernikahan yang cukup megah, tapi belakangan ini semua jadwal itu menjadi kacau balau,” lanjut pria tua itu tanpa mengalihkan pandangannya dari lantai.

 

Aku mengambil tempat duduk di sampingnya sambil merogoh ke dalam tas olahragaku. “Untunglah saya bertemu Kakek sekarang. Saya menemukan benda ini dan saya rasa ini milik Anda.” Aku mengeluarkan gunting hijau berpita kuning itu dari dalam tas dan sang kakek terperangah tatkala melihat benda yang disodorkan di depannya.

 

Kakek itu membelalakkan mata dan dengan cepat meraih gunting itu dari tanganku, mencermatinya dengan saksama sebelum akhirnya bertanya, “Dari mana kau mendapatkan benda ini?”

 

“Kakek ingat sewaktu kita berpapasan di sebuah acara pernikahan?” jawabku dengan sebuah kalimat pertanyaan. Dari satu kalimat itu, sang kakek mengangguk-anggukkan kepala tanda ia mengingatnya. “Sepertinya gunting ini tersangkut di bajuku. Saya pun baru menyadarinya setelah pergi jauh dan tidak tahu harus ke mana untuk mencari kakek.”

 

“Kau pasti bukan dari dunia ini,” kata sang kakek dengan sorot mata yang bertanya-tanya. “Manusia biasa tidak akan bisa melihatku, apalagi melihat benda-benda yang bukan berasal dari dunia manusia.”

 

Berarti kakek ini bukan manusia biasa? Mendengar penjelasan kakek itu, aku jadi tak tahu harus menjawab seperti apa. “Saya tidak tahu bagaimana menjelaskannya, Kek. Lift yang ada di kantor saya tiba-tiba membawa saya ke masa tiga tahun lalu—masa sewaktu kita berpapasan. Dan setiap kali saya kembali ke lift itu, lift itu membawa saya ke waktu yang berbeda.”

 

Kakek itu memegangi janggut putihnya yang cukup panjang, tampak berpikir. “Mesin waktu ya? Aku tak menyangka di zamanmu sudah ada yang menciptakan mesin waktu. Ah, tapi sudahlah. Yang penting benda berharga ini sudah kembali. Terima kasih ya, Nak.”

 

Sekelebat hatiku merasa agak lega karena telah mengembalikan benda aneh ini. Tapi, bukan hanya masalah mengembalikan benda ini saja yang membuat perasaanku tidak nyaman. “Kek, boleh saya bertanya satu hal? Sebenarnya gunting apa ini, Kek? Saat memegang gunting ini, tiba-tiba saya dapat melihat banyak benang merah yang terikat di pergelangan tangan orang-orang.”

 

“Maksudmu, benang merah seperti ini?” Kakek itu mengeluarkan segulungan tebal benang merah dari dalam tasnya. Aku mengangguk dan kakek itu pun lanjut menjelaskan. “Benang merah ini digunakan untuk mengikat pergelangan tangan pasangan pengantin. Begitu mereka ditakdirkan untuk menikah satu sama lain, aku akan mengikat pergelangan tangan mereka bersama-sama dengan benang merah ini. Tak peduli apakah keduanya saling bermusuhan, berbeda jauh usianya, perbedaan dalam status sosial, atau bahkan terpisahkan oleh jarak yang luas. Asalkan benang merah ini terikat di tangan mereka, pada akhirnya mereka akan bersama-sama.”

 

Rupanya begitu. Sejak awal aku sudah menduga akan kemungkinan itu meski agak ragu karena itu adalah hal yang tak masuk di akal. Takdir setiap orang ditentukan oleh seuntai benang merah? Itu terdengar seperti dongeng yang biasa diceritakan sebagai pengantar tidur untuk anak-anak.

 

“Untuk bisa menentukan siapa-siapa saja yang sudah layak untuk diikatkan benang merah, aku hanya perlu melihat ke daftar pasangan yang ada di kitab ini.” Kakek itu mengeluarkan sebuah buku bersampul kuning dengan ukiran-ukiran huruf berwarna merah di atasnya. “Setelah sepasang kekasih terikat oleh benang merah, apa yang terjadi dalam kehidupan mereka akan memengaruhi benang tersebut. Benang merah ini dapat memanjang, memendek, mengendur, meregang, atau kusut, tetapi ia tidak akan pernah putus. Hanya gunting istimewa inilah yang dapat memutuskan benang tersebut. Tanpa gunting ini, aku tak bisa memutuskan benang dari gulungan besar dan mengikatkannya pada setiap pasangan di penjuru dunia.”

 

Mendengar penjelasan itu, aku jadi tersadar akan sesuatu. “Jadi, selama saya yang membawa gunting ini, Anda tidak dapat melakukan tugas Anda?”

 

Ia pun mengangguk. “Sudah satu tahun belakangan ini aku hanya bisa mengamati pasangan-pasangan yang takdirnya harus tertunda karena benang merah mereka belum terikat. Lihat saja ruangan ini. Sesuai jadwal, di sini seharusnya sedang berlangsung pesta pernikahan yang cukup megah, mempertemukan dua keluarga besar dari suku yang berbeda pulau.”

 

Ya, aku jadi merasa bersalah dengan tidak sengaja membawa benda sakti itu. Tapi, kalau mau salah menyalahkan, akar permasalahan ini semua bermula dari lift itu. Kalau saja lift itu langsung membawaku ke lantai dasar, tentu saat ini aku sudah beristirahat di kamar indekosku dan semua kejadian yang bagaikan bunga tidur ini tak akan terjadi.

 

Memikirkan semua itu, aku jadi teringat akan satu hal yang sangat krusial. “Apa yang terjadi bila benang yang sudah mengikat suatu pasangan diputuskan oleh gunting ini?”

 

Mendengar pertanyaanku itu, Warna muka kakek itu mendadak memudar. Dari situ aku sudah bisa menebak bahwa apa pun jawabannya pasti tidak mengenakkan hati.

 

“Ikatan takdir mereka akan terputus. Selama belum terikat dengan benang merah, pasangan hidup setiap orang masih dapat diubah. Namun, apabila sudah terikat, maka takdir mereka telah ditetapkan. Jika benang merah mereka diputus, itu berarti pasangan tersebut tidak akan bisa bersama dan masing-masing dari mereka tak akan menemukan pengganti pasangan satu sama lain.”

 

Penjelasan yang masuk melalui telinga dan dicerna oleh otakku itu langsung membuat tubuh ini terasa lemas. Aku pun menundukkan kepala dan memeganginya dengan kedua tangan. Aku takut bila kulepaskan pegangan ini, kepala ini akan semakin tertunduk hingga tak sanggup diangkat kembali. Apa yang kutakutkan selama berdiam diri di dalam lift tadi benarlah terjadi. Kutanyakan perihal akibat dari perbuatan yang telah kulakukan di lantai sebelum ini, dan kakek itu menjawab dengan gelengan kepala.

 

“Jangankan memutuskan benang yang sudah terikat ..., dengan membawa guntingku selama satu tahun ini saja, sebenarnya masa depan yang kau tinggali sudah tak lagi sama dengan masa depan yang kauketahui, meski efeknya mungkin tak terlalu nyata terlihat.”

 

“Apa kakek yakin tidak ada acara untuk memperbaikinya?” Aku yakin jika aku bercermin, wajahku saat ini pasti sangatlah tidak keruan. Bingung ..., pusing …, depresi …, dan penyesalan. Mungkin itu kata-kata yang tergambar di wajahku saat ini bilang harus dtuliskan dengan kata-kata. Ini semua salah egoismeku. Kalau saja waktu itu aku bisa mengendalikan emosiku, bukan malah dikendalikan olehnya.

 

“Kalau kau mau menyatukan kembali benang yang telah kauputuskan, sebenarnya aku masih punya satu solusi,” ujar kakek itu sambil mengelus-elus janggutnya.

 

Refleks, aku mendongakkan kepala dan menatap kakek itu dengan penuh harapan. Sebelum sempat bertanya, kakek itu sudah mengambil gulungan benang merah dari dalam tasnya dan memotong ujungnya sehingga mendapatkan seutas benang yang panjangnya kira-kira satu meter dan menyerahkannya padaku.

 

“Benang ini adalah benang merah penentu takdirmu, benang yang akan menjadi pengikat antara dirimu dengan jodohmu kelak. Dengan benang ini, kau bisa menyambungkan kembali benang yang telah kauputuskan. Hanya saja, benang merahmu ini hanya ada satu. Aku tak bisa membuatkan benang lebih dari satu meter untuk setiap orang. Jika kau memilih untuk mengorbankan benang merahmu, kau tak akan bisa bersama dengan jodoh yang telah ditentukan untukmu atau dengan siapa pun.”

 

Aku memandangi seuntai benang yang berada di telapak tanganku ini. Pilihan. Aku benci bila harus membuat pilihan, apalagi jika masing-masing pilihan itu berarti harus mengorbankan sesuatu yang lain. Aku memejamkan mata dan menghela napas panjang, bergulat dengan batinku sendiri. Setengah diri ini berkata bahwa apa yang kulakukan memang salah, dan sudah kewajibanku pula untuk memperbaikinya, tapi setengah diriku yang lain meminta untuk tak usah memedulikan hal itu. Kalau pilihan ini menyangkut masa depanku juga, kenapa aku harus mengorbankan masa depanku demi dua orang yang telah membuatku patah hati?

 

Setelah memikirkan itu semua, pada akhirnya batinku ini sepakat pada satu pilihan. Kugenggam erat benang di tangan itu dan membuka mata. Aku pun beranjak dari posisi duduk dengan tekad yang bulat. “Terima kasih atas solusinya, Kek. Kalau boleh tahu, siapa sebenarnya jodohku, Kek?”

 

Senyuman lebar merekah di bibir kakek itu, berusaha terlihat manis di tengah garis-garis keriput pada wajahnya. “Kau sudah pernah bertemu dengannya. Perempuan itu sudah menambatkan hatinya padamu saat kalian pertama kali bertemu, hanya saja kau belum sempat menyadarinya—sampai saat ini.

 

“Perempuan itu adalah adik sahabatmu. Kalau kau ingin mengejarnya, ikatkanlah benang merahmu di pergelangan tangannya sebelum kau mengucap janji pernikahan di hadapannya. Tapi, kalau kau memilih mengorbankan benang merahmu, kau tidak perlu khawatir. Dia nanti akan dijodohkan dengan pria lain, sesuai dengan nama yang akan menggantikan namamu di dalam kitab ini.”

 

Jadi begitu rupanya. Pantas saja Andi tak mau mengaku soal topi hitam ini. Tanpa sadar, tanganku tiba-tiba tergerak untuk mengambil topi hitam dari dalam tas olahragaku dan senyuman tipis pun merekah dari bibir ini.

 

“Terima kasih atas semuanya, Kek. Saya mohon maaf karena telah membawa pergi gunting berharga milik Anda. Apakah ada yang bisa saya lakukan untuk membantu Anda?”

 

Sang kakek tertawa lebar dan menjawab, “Memang jadi banyak yang harus kulakukan untuk mengejar ketertinggalan selama satu tahun ini. Tapi, tidak masalah, Nak. Kau tak usah pedulikan aku. Aku bisa mengatur jadwal-jadwalku. Paling-paling aku hanya perlu mengorbankan sedikit waktu liburanku.”

 

“Saya tidak menyangka jika seorang dewa—atau malaikat—seperti Anda juga butuh liburan.”

 

“Pekerjaan akhirat itu lumayan membosankan. Makanya sesekali kami menikmati apa yang ada di duniamu ini sekadar untuk mencari sesuatu yang menarik untuk dikerjakan. Setelah semua dapat dikejar kembali, rasanya aku ingin berlibur di sebuah pulau tropis,” jawab sang kakek dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya selagi matanya mengubah arah pandang menuju layar imajinasi di kepalanya. Aku membayangkan apa yang kira-kira tergambar di kepala kakek itu. Sepertinya asyik juga jika mengambil cuti dan berlibur ke pantai.

 

~ *** ~

 

“Pak, bangun, Pak!”

 

Silau. Itulah kata pertama yang muncul dibenakku tatkala badan ini tergugah dan mata ini terbuka, langsung menghadapi terangnya lampu yang menyilaukan mata. Aku memaksakan untuk membuka mata meski kelopak mata ini terasa berat sekali untuk diangkat. Di samping itu, badan ini mulai memberikan sinyal untuk segera meregangkan otot yang spontan kulakukan meski diperhatikan oleh seorang pria berseragam hitam.

 

Tertidur. Sepertinya itu kesimpulan tak terbantahkan yang bisa menjelaskan kenapa aku dibangunkan oleh seorang satpam dalam posisi bersandar di sudut lift. Hanya saja, aku belum menemukan jawaban dari pertanyaan “Kenapa aku bisa tertidur di dalam lift?” yang terlintas di dalam pikiranku.

 

“Semalam liftnya macet, Pak, dan kami baru tahu pagi ini,” jawabnya.

 

Mendengar alasan seperti itu, rasanya aku ingin loncat dan segera menghajar satpam ini. Tapi, apa daya, tubuh ini terasa letih sekali, bahkan untuk bersuara saja rasanya berat sekali meski aku telah tidur semalaman. Tunggu … semalaman? Aku bahkan tidak ingat pada pukul berapa aku mulai tertidur selagi menunggu lift diperbaiki. Apa aku benar-benar tertidur semalaman? Rasa sakit mendadak menyelimuti kepala ini. Jika dikombinasi dengan mata yang terasa berat dan lelah, apa yang kurasakan sekarang ini malah menunjukkan tanda-tanda kekurangan tidur.

 

Aku berjalan menyusuri jalanan beraspal yang basah—seperti baru saja diguyur hujan lebat—ini menuju pintu belakang wilayah kantor pusat salah satu instansi pemerintahan di negara ini, menuju kamar indekosku. Langit masih terlihat biru gelap, matahari belum cukup tinggi untuk mengubah warna langit menjadi lebih terang. Kurasa masih ada cukup waktu sekitar satu hingga dua jam sebelum kegiatan senam Jumat dimulai. Aku mendesah. Masa bodoh dengan senam. Badanku terasa letih sekali. Rasanya ingin membolos saja hari ini. Biar saja gajiku dipotong 5% bulan depan karena membolos satu hari, yang penting tubuhku ini bisa mendapat tidur yang cukup setelah apa yang terjadi semalam.

 

Memangnya … apa yang terjadi semalam? Untuk kesekian kalinya aku mengulangi pertanyaan itu di dalam kepalaku. Aku berusaha menggali memori yang tersimpan di dalam ingatanku, tapi yang bisa ia tunjukkan hanyalah sebatas lift yang macet. Setelah itu, aku tidak dapat mengingat apa-apa. Mencoba mengingat kembali kejadian semalam rasanya seperti berusaha mengingat-ingat mimpi yang dialami ketika tidur. Terkadang mimpi itu begitu jelas dan membekas di ingatan untuk beberapa saat, tapi lebih seringnya mimpi itu hanya dapat kuingat dalam beberapa detik saja. Setelah itu … poof! dan semuanya menghilang dari kepala ini.

 

Sesampainya di kamar, langsung kujatuhkan tubuh ini di atas kasur. Mau mandi, tapi sekarang masih terlalu pagi, terlebih udara di luar begitu dingin. Sepertinya semalam tadi sempat turun hujan lebat. Untung saja hujan itu sudah reda. Kalau tidak, aku bisa terjebak di kantor dan tak jadi membolos. Suasana yang seperti ini memang sempurna untuk dinikmati di atas tempat tidur sambil ditemani secangkir besar teh hangat.

 

~ *** ~

 

“Ke mana saja kau? Kenapa tidak masuk hari ini?”

 

Tanpa menegur sapa atau berbasa-basi terlebih dahulu, orang yang berada di seberang saluran telepon ini langsung menanyakan poin utama yang dengan jelas menerangkan alasan kenapa ada belasan panggilan tak terjawab dan puluhan pesan baru pada tampilan depan layar ponsel pintarku dalam lima jam terakhir. Salah sendiri langsung memilih untuk tidur tanpa memberikan kabar terlebih dahulu. Aku mengutuk diriku sendiri, merasa bodoh.

 

“Maaf, Ndi. Tadi pagi mendadak badanku rasanya kurang fit. Dan kau pasti tak akan percaya kalau kubilang semalam aku tidur di dalam lift kantor.”

 

“Serius, Za?” Nada keheranan dicampur kekhawatiran terdengar dari intonasi suara Andi dari seberang telepon. “Ya sudah, istirahat yang benar, Za. Jangan ke mana-mana! Nanti sore—sepulang kerja—aku dan Sarah bakal menjengukmu dan kau harus menceritakan soal tidur di dalam lift itu. Kau mau dibawakan makanan apa?”

 

“Tidak usah, Ndi. Aku baik-baik saja kok. Kurang tidur saja sepertinya.”

 

Meski kujawab begitu dan kuberikan berbagai macam alasan—bahkan larangan—Andi bukanlah tipikal orang yang mau menurut begitu saja. Kalau sudah begini, tak ada lagi yang bisa kulakukan selain menunggu kedatangan Andi dan Sarah.

 

Andi dan ... Sarah?

 

Mengingat-ingat nama kedua orang terdekatku ini tiba-tiba ada semacam kilatan  yang menyetrum kepingan-kepingan ingatanku. Ada sesuatu di antara mereka berdua yang tak bisa kuingat dengan pasti. Apakah ada hubungannya dengan mimpiku semalam? Rasa penasaran ini membuatku terus memikirkan mereka berdua. Namun, sampai dengan suara ketukan di pintu kamarku terdengar, aku masih belum bisa menemukan hubungan antara mereka berdua dengan kepingan ingatan yang sekilas melintas di kepalaku.

 

Andi dan Sarah berdiri di depan pintu kamarku. Mereka berdua masing-masing membawa sesuatu yang dibungkus dengan kantong plastik di tangan mereka. Andi mengangkat bungkusan berbentuk kotak persegi panjang yang ia bawa sambil merekahkan senyuman lebar. “Ini aku bawakan martabak keju kesukaanmu.” Lain halnya dengan Sarah. Ia malah langsung menempelkan punggung tangannya di dahiku dan setengah terkejut. “Benar dugaanku. Untung saja aku membawa stok obat penurun demam di rumahku.”

 

Saat Sarah menempelkan tangannya di kepalaku, mataku terpaku pada sesuatu yang tak biasa dari tangan Sarah. Pergelangan tangannya ... kenapa ada benang abu-abu yang terikat di sana?

 

Benang ... abu-abu?

 

Seketika itu juga kepalaku diserang oleh puluhan gambar yang tiba-tiba saja mencuat dari dalam ingatanku. Gambaran-gambaran yang dapat meyakinkanku bahwa apa yang terjadi semalam tadi bukanlah hanya sebuah bunga tidur belaka. Mataku kini beralih pada Andi. Ya, benang abu-abu yang sama juga melingkar di tangan kiri Andi. Benang yang seharusnya sampai saat ini masih menyatu dengan benang di tangan Sarah kalau saja tidak kuputuskan lantaran termakan api kecemburuan.

 

“Jadi, bagaimana ceritanya kau bisa sampai tidur di dalam lift?” tanya Andi selagi mulutnya mengunyah potongan martabak yang ia bawa.

 

“Sesuai jadwal, kalau hari Kamis aku biasa menyempatkan diri ke pusat kebugaran di lantai 15. Saat mau turun, tiba-tiba liftnya macet, dan aku terjebak di sana semalaman.” Aku tidak mungkin menceritakan kisah petualanganku yang dibawa ke masa lalu oleh salah satu dari empat lift utama yang berada di gedung tertinggi pada kantor kami. Kalau kuceritakan, yang ada malah aku akan ditertawakan dan cerita itu hanya akan membenarkan deduksi mereka bahwa aku benar-benar sakit dan butuh perawatan lebih.

 

Selagi menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka dan memakan martabak yang sangat enak ini, aku melirik pada seutas benang merah yang entah sejak kapan muncul di telapak tanganku. Aku tak tahu kenapa begitu benang ini muncul aku tak langsung menggunakannya untuk menyambung benang milik Andi dan Sarah. Seharusnya aku tak perlu ragu lagi, toh aku sudah menjatuhkan pilihan semalam tadi. Kakek itu berpesan bahwa aku hanya tinggal menyambung kedua benang di tangan Andi dan Sarah dengan benang merah milikku kan? Lantas, kenapa hal itu belum kulakukan?

 

Aku menampar pipi kiriku dan beralasan bahwa ada nyamuk yang hinggap di sana, walau sebenarnya kulakukan itu hanya untuk meneguhkan keputusan dan janji yang telah kubuat pada diriku sendiri. Selagi mereka berdua melanjutkan membahas gosip yang sedang beredar di kantor, diam-diam kuraih ujung benang Andi dan mengikatnya dengan benang merah milikku. Aku tak tahu bagaimana benang ini harus diikat, jadi aku mengikatnya dengan simpul mati dan meyakinkan diri bahwa simpul itu tak akan mudah terlepas. Selesai dengan benang milik Andi, kuraih ujung benang milik Sarah yang tergeletak begitu dengan kotak martabak yang ada di tengah kami dan melakukan hal yang sama dengan benang milik Andi.

 

Begitu benang merahku telah terikat dengan kedua benang mereka, perlahan-lahan warna benang abu-abu di tangan Andi dan Sarah berubah. Warna benang itu berangsur kembali ke warna merah cerah seperti sedia kala, bermula dari titik yang terputus hingga ujung yang melingkar di pergelangan tangan mereka. Simpul mati yang kuikatkan di tiap ujung benang yang terputus mengendur ... melebur hingga akhirnya menyatu dengan kedua benang lainnya, menjadi satu kesatuan yang utuh seperti tak pernah terputus sebelumnya. Lalu, sedetik kemudian, benang yang mengikat Andi dan Sarah itu bersinar dan menghilang dari pandanganku.

 

Begini sajakah? Aku tak melihat adanya perubahan dari tingkah laku sahabat dan kekasihku ini. Tapi, jika apa yang dikatakan kakek itu benar, aku tak perlu mengkhawatirkan apa-apa lagi. Asalkan kedua teman terdekatku ini dapat hidup berbahagia, aku rela mengorbankan hidupku sepenuhnya.

 

“Za, kau menangis?” Tanya Sarah sembari mengusapkan ibu jarinya di bagian bawah mataku.

 

Aku tidak sadar kalau ada setitik air mata yang jatuh dari mata sebelah kananku. “Eh, tidak. Ini kelilipan debu. Maaf ya, aku belum sempat membersihkan debu di kipas anginku.” Aku beranjak dari posisi duduk bersila dan mengarahkan kipas angin ke sudut kamar yang berbeda sambil menghapus air mata kedua yang juga turun dari sebelah mataku yang lain.

 

~ *** ~

 

I’ve waited so long to say this to you.

If you’re asking do I love you this much, I do.

 

Lagu berjudul “I Do (Cherish You)” yang dipopulerkan oleh seorang penyanyi dari negeri barat itu dilantunkan sekaligus diaransemen ulang oleh Andi dengan jari-jarinya yang begitu lihai menari di atas tuts keyboard. Melihat begitu menjiwainya ia dalam menyanyikan lagu itu, aku tak heran jika para tamu undangan di aula ini menghentikan kegiatannya sejenak untuk menyaksikan penampilan Andi, terlebih lagu itu dinyanyikan khusus untuk wanita di atas panggung pelaminan yang baru saja menjadi istrinya setengah jam yang lalu. Sarah.

 

Tadinya, bila aku yang menikahi Sarah, aku berniat untuk menyanyikan lagu ini untuknya, tapi aku tak mungkin memonopoli lagu pernikahan yang cukup bagus ini seorang diri. Karena itu, aku menyarankan Andi untuk mempelajari beberapa lagu pilihan dariku untuk dinyanyikan pada pesta pernikahannya kelak. Dan Andi pun memilih lagu ini sebagai lagu spesial yang akan ia nyanyikan sendiri untuk sang istrinya tercinta. Benar-benar pilihan yang tepat, aku membatin.

 

Beberapa bulan yang lalu, hubunganku dengan Sarah memang tidak berjalan dengan baik. Aku mempertanyakan apakah itu semua memang telah ditentukan oleh benang merah yang tak terlihat itu? Ataukah itu semua hanya dongeng belaka? Setelah mengalami malam yang sangat aneh itu, seharusnya aku tidak perlu bertanya-tanya lagi. Tapi, karena penasaran, aku pun berulang kali mencoba kembali menaiki lift itu seorang diri sepulang dari jadwal olahraga mingguanku. Alih-alih membawaku kembali ke masa lalu, semenjak saat itu, aku tak pernah mendengar atau mengalami sendiri lift di gedung itu sampai macet kembali. Aku heran, kenapa pada waktu itu aku bisa sampai terjebak di dalam lift ..., terbawa ke masa lalu ..., dan bertemu pria tua pembawa benang merah? Apakah semua yang terjadi itu memang ada maksudnya?

 

Aku menggelengkan kepala, cepat. Buat apa aku memikirkan peristiwa yang sudah lewat itu? Mau dipikirkan sekeras apa pun juga, aku tak akan bisa menemukan jawabannya, yakinku di dalam hati sembari menenggak segelas soda di pinggir aula, memerhatikan sepasang pengantin yang nyaris tidak dapat bersatu karena kecerobohanku di masa lampau.

 

“Aku sudah menduga kau akan mengambil pilihan ini.”

 

Aku memutarkan kepala ke samping ketika di tengah keramaian ini dengan jelas dapat kudengar suara seorang pria bernada rendah di telingaku. Dari arah suara itu, kudapati seorang pria tua berpakaian sangat mencolok ketimbang tamu undangan lainnya yang tengah menyesap minuman berwarna hijau dari gelas bening di tangannya. Janggut putih panjang miliknya itu selalu membekas di dalam ingatanku dan tak pernah bisa lepas dari sosok pria misterius yang telah mengubah kehidupanku setahun ke belakang.

 

“Kakek!” Spontan aku berteriak dan membuat beberapa pasang mata menatap ke arahku. Kalau aku tidak salah ingat, seharusnya tidak ada satu pun yang dapat melihat pria tua ini. Aku berpura-pura menyesap minuman di tanganku sambil bertanya dengan suara yang lebih pelan. “Kakek sedang apa di sini? Kenapa saya bisa melihat Anda?”

 

“Terserah padaku untuk menampakkan diri pada siapa pun yang kumau,” jawab sang kakek sambil terkekeh.

 

“Apa Kakek datang ke sini untuk mengikatkan benang merah pada Andi dan Sarah?”

 

“Tidak,” jawabnya. “Aku kan sudah pernah mengikatnya, walau pada akhirnya kau yang memutuskan benang ikatanku itu kan?” Mendengar jawaban itu, aku jadi kembali teringat pada hari yang terkutuk itu. Untung saja aku tak termakan rasa egoistisku kembali untuk mengabaikan kesalahan yang telah kuperbuat.  Kakek itu pun melanjutkan, “Karena kau sudah memperbaiki ikatan takdir mereka, aku datang ke sini untuk mengikat benang merah pada pasangan lainnya.”

 

“Jadi, siapa pasangan yang beruntung itu, Kek? Apa mereka akan bertemu di ruangan ini?” tanyaku lagi sembari menyesap tegukan terakhir dari minuman di gelasku.

 

Pria tua itu memberikan anggukan kepala, namun tak memberikan jawaban atas kedua pertanyaanku barusan. Ia malah menawariku sesuatu. “Aku bahkan sudah mengikatkan benang merah mereka. Apa kau mau melihatnya?” Tanya Kakek itu sambil menyodorkan gagang gunting berpita miliknya kepadaku.

 

Aku memandang lama gunting di tangan kakek itu. Tanganku hendak meraih gunting itu, tetapi di tengah jalan, tanganku mengambang di udara. Ragu. Aku melirik ke wajah sang kakek dan aku melihat senyuman kecil mengulas di antara garis-garis keriput di wajahnya itu. Dari situ aku tahu bahwa ia telah memercayaiku sepenuhnya. Sekarang pertanyaannya adalah: apakah aku bisa percaya pada diriku sendiri?

 

Kupejamkan mata dan kuraih gunting itu, menggenggamnya erat. Setelah menghela napas panjang, kubuka mata dan aku mengalami kembali apa yang terjadi saat pertama kali kupegang gunting ini di tengah banyak orang. Kulihat banyak benang merah menjuntai di seluruh penjuru ruangan. Benang yang menggantung dengan santai dan tak akan pernah lepas dari tangan setiap orang yang memilikinya. Dan salah satu benang itu terikat pada pergelangan tanganku yang tengah memegang gunting ini. Apa maksudnya ini?

 

Melihat tanda keheranan di wajahku, sang kakek makin memperlebar senyuman di wajahnya dan memberikan penjelasan. “Semua yang terjadi ini adalah sebuah ujian. Kau telah membuat pilihan yang tepat dengan mengorbankan sendiri benang merahmu. Yang Maha Kuasa melihat pengorbananmu itu dan menilai bahwa kau pantas untuk mendapat kesempatan kedua. Karena itu, pada hari ini, aku menjalankan perintah-Nya melalui kitab dan benang merah yang kumiliki ini untuk mengikatmu dengan seorang wanita yang akan menjadi pendamping hidupmu kelak dalam sebuah ikatan takdir.”

 

Lidahku terasa kaku. Sekujur tubuhku terasa seperti kesemutan hingga tak mampu bergerak ataupun berbicara untuk beberapa saat. Setelah otakku dapat mencerna semua informasi ini, spontan kukembalikan gunting di tanganku itu kepada sang kakek. Kini ia yang menjadi terkejut.

 

“Terima kasih atas informasinya, Kek. Tapi kurasa cukup sapai di situ saja. Ada baiknya aku tak mengetahui secara langsung kepada siapa benang merah di tanganku ini tersambung. Biarlah saya sendiri yang mencari wanita itu dan biarlah waktu yang mempertemukan kami kelak. Lagi pula, kalau kita sudah tahu siapa yang akan menjadi pasangan hidup kita nanti, hidup ini tentu jadi tidak asyik lagi. Kisah kita dalam mencari orang tersebutlah yang menjadikan hidup ini penuh warna. Pengalaman dan petualangan itu akan menjadi kenangan berharga dan menjadi saksi dari apa yang telah kita lalui sepanjang hidup ini. Saya tidak ingin menjadi satu-satunya orang yang curang karena telah mengetahui lebih dahulu masa depan saya nantinya.”

 

Mendengar jawabanku barusan, pria tua itu kembali membalas dengan sebuah senyuman di wajahnya. Ia pun memasukkan kembali gunting itu ke dalam tasnya dan berkata, “Kau betul-betul orang yang istimewa. Aku bersyukur bisa bertubrukan denganmu kala itu. Kehilangan gunting istimewaku ini juga menjadi salah satu pengalaman berharga dalam jutaan tahun masa hidupku ini.”

 

Setelah mengucapkan kata “terima kasih,” kakek itu membalikkan badan dan berjalan hingga aku dapat melihatnya menembus tembok aula. Pertemuan dengannya memang menjadi suatu pengalaman berharga dalam hidupku. Aku yang selama ini—tanpa sadar—sering bersikap egoistis ternyata bisa juga berkorban demi orang lain. Pada awalnya aku tak pernah menyangka akan hal tersebut. Tapi, aku yakin memang setiap orang dapat berubah dengan caranya masing-masing.

 

Aku menaruh gelas kosongku di atas sebuah meja persegi panjang pada salah satu stan makanan yang telah ditutup karena sajiannya yang ludes sejak tadi dan menepuk kedua pipiku dengan telapak tangan. Ah, bicara apa aku ini? Sok benar saja! Yang jelas, sekarang aku memiliki suatu pencarian besar dalam hidupku dan sebaiknya aku memfokuskan pikiranku ke sana. Aku memerhatikan pergelangan tanganku, membayangkan adanya seutas benang merah yang terikat di sana. Benang merah yang menyatukanku dengan seseorang dalam suatu ikatan takdir. Tapi, dari mana aku harus mulai mencari?

 

~ *** ~

Fin

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer lokideautorin
lokideautorin at Ikatan Takdir (33 weeks 6 days ago)
60

aku pikir jarak antar paragraft terlalu jauh.

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Ikatan Takdir (33 weeks 4 days ago)

Wah, ga ngerti deh. Di Ms. Word sih pas-pas aja.