PERKARA BESAR

Pada suatu hari hiduplah seorang manusia yang sangat dermawan sekali. Harta kekayaannya sama sekali tidak banyak. Akan tetapi sifat dermawannya menjadikan ia terlihat seperti orang yang berpunya. Sifatnya yang dermawan adalah warisan ayahnya. Ia meneladani kedermawanan ayahnya.

Ia adalah adalah seorang pria berusia 25 tahun. Ia berjuang hidup dari waktu ke waktu untuk bertahan hidup dari jerat kebodohan. Ia pun belajar dengan segiat mungkin walau rasanya tak mungkin ada harapan yang akan menemuinya di masa yang akan datang. Tetapi dia berusaha untuk tidak kehilangan keyakinan. Ia berusaha untuk tetap percaya kepada karunia Allah. Ia tak pernah mau dan tak ingin patah semangat. Ia selalu mencari jalan dan cahaya di gelapnya jalan yang ia tapaki.

Ia adalah seorang mahasiswa yang berjuang keras untuk menggapai cita-citanya seorang diri. Ia belajar apa saja dan di mana saja demi tercapainya cita-citanya yang mulia. Ia bangun pagi-pagi benar dan ia habiskan waktu paginya untuk membaca buku hingga matahari terbit bersinar. Dia pun mengetahui dengan pasti bahwa membaca adalah pintu gerbang menuju ilmu pengetahuan. Ia sama sekali tidak pernah meninggalkan kegiatan baca membaca sebab ia tahu persis bahwa buku bacaan akan menjadikan orang yang tidak tahu menjadi tahu.

Di pagi yang buta itu ia duduk di bawah temaram lampu yang menyala di atasnya. Ia duduk di dalam kamar kecil yang sudah ia tempati selama bertahun-tahun. Ia sama sekali tidak tahu akan seberapa lama lagi ia akan menempati kamar tersebut. Kelak kamar tersebut akan menjadi kenangan untuknya. Bila ia telah lulus maka ia pun akan meninggalkan kamar tersebut sepertimana ia meninggalkan teman-teman sekolahnya dahulu.

Dia sangat berduka sekali harus meninggalkan teman-temannya untuk pergi dan merantau di kota orang. Sebab dia tahu. Dia mesti melakukannya demi kehidupan yang lebih baik. Demi kehidupan yang jauh lebih baik maka ia pun harus mengambil keputusan untuk meninggalkan kota tercintanya menuju kota yang sangat asing sekali.

Ia pergi ke kota yang asing tersebut untuk menunaikan dan meraih cita-citanya yang telah lama ia idam-idamkan. Tak banyak yang ia minta. Ia hanya ingin menjadi seorang penulis. Terlalu banyak kata-kata yang telah ia tumpahkan akan tetapi banyaknya waktu yang terbuang sia-sia jauh lebih banyak lagi.

Ia menyadari dengan pasti bahwa untuk menjadi seorang penulis maka dia harus mendedikasikan seluruh hidupnya untuk sebuah tulisan. Dia mesti menulis setiap kali ia menemukan kesempatan. Kesempatan tidak selalu datang dua kali.

Selain itu ia pun sadar akan hal yang lain yang juga tak kalah lebih penting. Ia pun mesti banyak-banyak membaca. Untuk menjadi seorang penulis maka ia pun mesti menyediakan waktu yang bagus untuk membaca beberapa tulisan.

Pada suatu siang ketika ia duduk di bangku kelas. Seorang kawan bertanya banyak hal kepadanya. Kawan tersebut bertanya dengan serius kepadanya. Kawan itu menanyakan tentang cita-citanya. Ia menjawab dengan penuh keyakinan bahwa cita-citanya adalah menjadi seorang penulis. Ia berkata bahwa cita-citanya hanya menjadi seorang penulis.

Seketika itu juga sang kawan langsung mengkerutkan keningnya. Ia pun merasa heran melihat sang kawan mengkerutkan kening. Sang kawan tersebut berkata bahwa menjadi seorang penulis adalah perkara besar.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer ryandachna
ryandachna at PERKARA BESAR (11 weeks 3 days ago)
40

Cerpen ini terkesan seperti draft pertama. Kalau memang iya masih perlu disunting. Ada kalimat yang sebenarnya frase, ada juga yang boros (pengulangan kalimat sebelumnya tapi dengan kata-kata yang berbeda), dan ada paragraf yang entah apa fungsinya di cerita ini. Perlu banyak latihan lagi. Congrats on finishing your story, though.

Writer lokideautorin
lokideautorin at PERKARA BESAR (9 weeks 1 day ago)

terima kasih atas masukkannya.

Writer liandydy
liandydy at PERKARA BESAR (28 weeks 15 hours ago)
90

lik this :)

Writer lokideautorin
lokideautorin at PERKARA BESAR (21 weeks 2 days ago)

thanks :)

Writer duvernoy
duvernoy at PERKARA BESAR (28 weeks 3 days ago)
90

Melihat gaya tulisannya... Hm... Ini refleksi dan ungkapan hati penulis kah? Well, impian orang berbeda-beda dan tiap orang berhak mengemukakan pendapatnya masing-masing.

Dengan membaca cerpen ini kalau saya berada di dalamnya... Yah, saya ingin agak mengingatkan untuk tidak hanya membaca saja. Saya orang yang seperti ini. Hobi membaca sejak kecil. Tapi hanya membaca. Saya membaca cara memasak steak tapi saya hanya terus buat telor dadar dan tidak mempraktikkan cara memasak steak (maap saia lapar; serius sekali bahasa tulisan ini hahah). Dan saya jadi agak terisolasi dari dunia luar (ini sampai sekarang). Saya mungkin punya banyak pengetahuan tapi susah membaginya dengan orang lain karena kemampuan berkomunikasi saya kurang, dan itu disebabkan karena saya jarang meluangkan waktu untuk bersosialisasi. Hanya mengingatkan saja, untuk orang dengan deskripsi di atas, ini bukan menghakimi, hanya saran, komunikasi, interaksi, dan sosialisasi yang baik itu penting, sangat penting.

Dan endingnya cukup bisa ditebak sih, dengan banyaknya orang yang meragukan profesi-profesi yang tidak pasti masa depannya seperti penulis. Well, menurut saya itu nggak masalah selama yang kerja enjoy dengan yang dilakukan dan kondisi yang akan dihadapi. Karena jadi penulis bukan hal yang mudah, dan itu yang membuat saya give up dan meletakkan kegiatan tulis-menulis cukup sekadar hobi. Namun... Yah komen ini udah panjang banget (bandingkan dengan komen di bawah ahaha) aduh jadi curhat kayaknya udah deh maap kepanjangan tulisan kakak menggugah soalnya XD

Writer lokideautorin
lokideautorin at PERKARA BESAR (21 weeks 2 days ago)

Aku membaca setiap kata yang kamu tuliskan. Aku sangat berterima kasih sekali kepada kamu yang telah meluangkan waktu untuk membaca cerpenku dan menuliskan komen.

berkat komen kamu, aku kembali tergugah untuk menulis.

Writer cinta44
cinta44 at PERKARA BESAR (31 weeks 5 days ago)
70

cerpen anda bagus dan aku suka

______________________________________
Hipnoterapi nampaknya bisa jadi cara jitu mengendalikan emosi yang meledak-ledak

Writer lokideautorin
lokideautorin at PERKARA BESAR (21 weeks 2 days ago)

terima kasih